Saturday, 30 October 2010

SSCQ Pelajaran 6 Kwartal IV 2010

Latar Belakang dan Karakter dalam Perjanjian Lama
Uria: Iman Orang Asing
Pelajaran Ke-Enam Kwartal 4,
30 Oktober—6 Nopember 2010
Diterjemahkan Oleh: Linda Bastian
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian

"Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ulangan 6:05)


Sabbath
30 Oktober
2 Samuel 11 Pendahuluan
Apakah Lebih Mudah untuk Tunduk atau Menolak?

Sudah lama perempuan muda itu tidak datang ke gereja sejak orang-orang tahu apa yang terjadi kepadanya. Dia tahu semua peraturan dan norma-norma. Dia tumbuh dalam keluarga yang baik-baik dan hanya bisa membayangkan berdiri dihadapan majelis gereja: "Peraturan Gereja tentang standar moralitas sangatlah jelas. Standar tersebut harus dipertahankan. Apa yang telah dilakukan perempuan ini tidak dapat diterima. Disiplin harus diterapkan.”
Dia tidak sanggup memandang wajah orang-orang yang penuh dengan tuduhan, gunjingan, atau sindiran. Dia tidak butuh mereka untuk mengatakan kepadanya tentang yang benar atau yang salah. Tidakkah mereka mengerti bahwa dia sudah tahu semuanya? Dia menunduk dan memeluk bayinya yang baru lahir. Bayi ini tidak bersalah. Dia mendengar kegaduhan dan mengangkat wajahnya untuk melihat para penatua gereja yang datang ke arahnya. Hatinya hancur. Tidak dapatkah mereka meninggalkannya sendirian? Sebelum mulutnya terbuka, dia telah diserbu dengan bunga, hadiah, serta berbagai dukungan dan harapan.

Hubungan gelap yang dia nikmati pada malam itu telah mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan

Kita sering dihadapkan pada situasi yang sulit, dimana kita harus memilih salah satu di antara beberapa alternatif, yang satupun tidak ada yang positif. Lebih sering, situasi ini diciptakan oleh kita sendiri.
Raja Daud mendapatkan dirinya dalam situasi seperti itu. Saat itu Israel sedang berperang. Tentara Israel telah menghancurkan bani Amon, dan mereka mengepung Rabba.
Tetapi, Daud tidak bersama tentaranya. Dia ada di istana, dan dari atas sotoh istananya itu dia mengamati seorang wanita cantik yang sedang mandi. Dia menginginkan wanita itu. Kemudian dia mengetahui bahwa wanita itu adalah istri dari salah satu prajurit terbaiknya, Uria orang Het. Dalam sekejap Daud menghempaskan kenyataan itu. Hubungan gelap yang dia nikmati pada malam itu telah mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan.
Sekarang Daud menghadapi dilema. Hukum menuntut hukuman mati bagi keduanya (Imamat 20:10). Lalu Daud mulai dengan siasatnya:
Siasat Pertama: Dia mengirim Uria ke medan perang dan meminta laporan darinya. Lalu ia memerintahkan Uria pulang ke rumahnya. Uria tidak pulang, tapi tidur di gerbang istana Daud.
Siasat Kedua: Daud membuat Uria mabuk dan menyuruhnya pulang. Uria tidak pulang, tapi tidur di gerbang istana Daud.
Siasat Ketiga: Daud menulis sebuah perintah untuk membunuh Uria dan mengutus Uria kembali ke medan pertempuran. Uria terbunuh.
Bertolak belakang dengan Daud, Uria memiliki pendirian sebagai seorang pria yang terhormat dan berkarakter, seorang pria yang memiliki pertimbangan yang jelas tentang yang benar dan yang salah, dan siap untuk melakukan apa yang benar tanpa menghiraukan kesusahan atau pun bujukan. Dan pelajaran pekan ini akan menjelaskan apa artinya menghidupkan iman kita.

Lars Eric Andersson, Lindesberg, Sweden

Minggu
31 OKTOBER
Bukti
Di Setiap Bangsa Kisah Para Rasul 10:34, 35

Kornelius adalah seorang tentara dalam pasukan Romawi. Dia bukan orang Yahudi. Tetapi, pada waktu mengunjungi rumahnya, Petrus menyampaikan pernyataan mendalam tentang sikap Tuhan kepada semua orang: ”Sesungguhnya aku mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran, berkenan kepada-Nya.” (NKJV).
Uria, orang Het adalah contoh non-Yahudi lain yang diterima Tuhan. Hal ini mengajarkan kita, bahwa pengaruh dan pekerjaan Roh Kudus pada hati dan pikiran manusia tidak terbatas pada bangsa tertentu. Allah tertarik dan berusaha untuk menyelamatkan orang-orang dari semua bangsa dan semua lapisan masyarakat, bahkan prajurit dalam angkatan bersenjata.

Langkah menuju kejatuhan itu sangat singkat dan cepat

Orang Het adalah bangsa yang berlokasi di Asia Kecil sekarang. Israel punya banyak hubungan erat dengan mereka – ada yang baik, ada pula yang merusak. Abraham membeli sebidang tanah di Machpelah dari Efron, orang Het, di tempat itulah Sarah istrinya dimakamkan (Kej. 23:10-20). Ini adalah poin yang menarik karena Allah telah berjanji kepada Abraham bahwa kepada keturunannya akan diberikan negeri orang Het. Esau menimbulkan kepedihan hati Ishak ketika ia menikah dengan dua perempuan Het (Kej 26:34, 35).
Allah memerintahkan Israel untuk memusnahkan orang Het dan bangsa-bangsa kafir lainnya (Ul. 20:17). Dia berjanji untuk mengusir mereka keluar dengan cara dasyat. Sayangnya, Israel tidak mengikuti petunjuk-Nya. Bahkan, mereka melakukan sebaliknya. Mereka bercampur dengan orang Het dan menyembah dewa-dewa mereka (Hak. 3:5, 6). Bahkan Salomo menikahi perempuan Het (1 Raja-raja 11:1).
Integritas Uria dan kemerosotan moral Daud meninggalkan sebuah pelajaran yang penting bagi kita. Kesetiaan Uria dan integritas moralnya mengingatkan kita bahwa bukan karena kepintaran, kemampuan, atau posisi kita berkenan kepada Allah. Seringkali seorang Kristen memiliki salah satu atau ketiganya, tetapi tidak menunjukkan perilaku sebagai seorang Kristen. Seringkali orang-orang yang bukan Kristen yang memanifestasikan kebenaran, dan bukan orang-orang yang mengaku percaya.
Langkah menuju kejatuhan itu sangat singkat dan cepat. Keselamatan kita melalui persatuan kita dengan Yesus. Tanpa Dia, kita gagal (Yohanes 15:5).

REAKSI
1. Kesetiaan dan integritas tidak selalu diakui atau dihargai. Bagaimana kurangnya pengakuan ini menyebabkan kita untuk mengabaikan nilai mereka?
2. Mana yang mungkin lebih berguna dalam melayani kehendak Allah: terpisah dari dunia atau terlibat dengan dunia? Jelaskan jawaban Anda.
3. Kapan pemisahan dari dunia bisa direkomendasikan? Bagaimana seorang Kristen terlibat dalam dunia tanpa terjerumus ke berdosa aspek tertentu dari dunia?

Elizabeth Lawrence, Watford, England

Senin
1 Nopember
2 Samuel 11; Amsal 23:6-7; Yeremia 5:1; Yohanes 15:5; Roma 15:4; Galatia 6:7; Efesus 6:10,11; Filipi 4:8 Logos
Keberhasilan dan Tragedi

Titik Terlemah (Efesus 6:10, 11)
Dalam nasehatnya kepada orang Kristen tentang bagaimana setan bekerja untuk menjatuhkan manusia, Paulus mencatat bahwa ada sebuah "metode" dalam rencana jahatnya (Efesus 6:10, 11, NIV). Kisah Daud, Batsyeba, dan Uria orang Het menggambarkan kebenaran ini. Setan menyerang kita pada titik terlemah kita, karena tidak masuk akal bila dia menggoda kita pada titik lain yang tidak mungkin kita respon. Kisah Daud dan Uria mengilustrasikan hal ini dengan merinci konsekuensi yang mengerikan dari salah satu momen kebodohan.

Pencegahan lebih baik daripada kesedihan dan rasa bersalah


Kekuatan Nafsu (2 Samuel 11; 1 Raja-raja 15:5)
Kesetiaan Daud kepada kehendak Allah dan satu cela karakternya disorot dalam 1 Raja-raja 15:5. Pengecualiannya adalah cerita yang penuh drama, gairah, nafsu, bencana, dan kekejaman. Gantinya memimpin pasukan dalam peperangan, Daud tinggal di istananya di Yerusalem. Suatu sore dari istana, ia melihat seorang wanita cantik yang sedang mandi. Kecantikannya membangkitkan hasratnya. Mengetahui siapa dia, lalu mendatangkan dia ke istana di mana ia berzinah dengannya.
Suami Batsyeba dikenal dengan baik oleh Daud. Bahkan, Uria adalah salah satu dari pengawal yang paling Daud terpercaya. Daud sadar bahwa Uria sedang pergi memimpin pasukan dalam pertempuran. Semua itu membuat perilaku Daud bahkan jauh lebih hina.

Siasat Dosa (Gal. 6:7)
Mengetahui bahwa Batsyeba hamil, Daud berusaha untuk menutupi dosanya. Dia memanggil Uria ke Yerusalem, rencananya adalah bahwa Uria akan melakukan hubungan seksual dengan istrinya, sehingga ketika bayinya lahir, Uria akan diakui sebagai ayah bayi tersebut. Tindakan Daud ini cemerlang. Sepertinya ia menganggap Uria penuh nafsu yang sama seperti halnya dirinya. Sudah umum bahwa kita sering menyalahkan orang lain karena keegoisan kita. Namun, Daud salah menilai Uria. Tipu muslihat Daud terbongkar oleh loyalitas dan integritas Uria.
Ketika Uria menolak untuk pergi kepada istrinya, Daud mencoba trik lain. Dia membuat Uria mabuk. Tetapi itu pun tidak berhasil, karena Uria masih tetap jauh dari Batsyeba. Daud berikutnya memutuskan bahwa Uria harus mati. Jadi dia menulis surat kepada Yoab, jenderal tentara Israel, menginstruksikan kepadanya untuk menempatkan Uria di garis depan pertempuran di mana ia kemungkinan besar akan terbunuh. Dan itulah yang terjadi. Itulah kebodohan manusia dalam dosa mereka. Kita lupa bahwa tidak ada yang tersembunyi dari Allah.
Integritas Uria dan perilaku Daud yang tidak berperasaan memerlukan keadilan dan hukuman. Keadilan dan hukuman datang ketika nabi Nathan menentang kejahatan Daud. Daud melewati hukuman mati atas dirinya, oleh karena rahmat Allah. Apa yang menonjol dalam cerita ini adalah karakter Uria. Ia benar-benar adalah pria yang berkenan kepada Allah.

Upah dosa (Rm. 6:23)
Perzinahan Daud dengan Batsyeba membawa dia ke dalam penderitaan yang amat sangat dan menyakitkan, menyebabkan ia kehilangan empat putranya, tidak berhak untuk membangun kaabah, dan meninggalkan warisan yang mengerikan kepada Salomo dan bangsa Israel. Mencegah adalah satu cara yang terbaik untuk menghindari kesedihan dan rasa bersalah, karena kesedihan dan rasa bersalah tidak bisa memutar balik waktu atau membatalkan konsekuensi dari dosa. Untungnya, bagaimanapun, ada pengampunan Allah. Dalam hal ini ada harapan. Kesalahan Daud mejadi peringatan bagi kita dan integritas Uria menjadi inspirasi kita.

Upah kebajikan (Rm. 15:04)
Cerita tentang Uria memiliki pelajaran abadi dan tepat waktu untuk perempuan dan laki-laki dalam setiap zaman. Ada loyalitas dan pengendalian diri pada Uria, sedangkan nafsu Daud yang tidak terkontrol dan kepatuhan Batsyeba adalah dua tindakan paling memalukan dalam Alkitab.
Di dunia kita yang kontemporer dan tidak bermoral, integritas Uria orang Het itu mendorong kita untuk memiliki moral yang murni. SepertiYusuf, Uria menunjukkan bahwa kita dapat memilih untuk tidak terjerumus ke dalam nafsu dan birahi. Tidak ada yang tidak terelakkan dari godaan seksual.
Ketika kita mempelajari kehidupan Daud, kita melihat orang besar yang mencapai hal-hal yang hebat dengan berkat Tuhan. Dia tak tertandingi dalam banyak hal, dan ia disebut "seorang yang berkenan di hati Allah" (Kisah 13:22, NIV). Namun, ada hal yang kontras antara Uria orang Het itu yang memiliki integritas dengan Daud yang mempunyai noda dalam kehidupannya, Uria belum menerima upahnya. Kita tidak bisa meragukan dia tetapi itulah dia, orang asing di Israel, akan disebut pahlawan di antara pahlawan-pahlawan Allah ketika Kristus datang untuk menyatakan milikNya.
Biografi singkat yang diberikan Alkitab tentang Uria mendorong kita untuk menjalani kehidupan yang memuliakan Allah; kehidupan yang tidak didorong oleh nafsu, keserakahan akan kekuasaan, kekayaan, atau hak istimewa, tetapi hidup yang memiliki kerinduan untuk melayani, dan untuk setia kepada Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita. Ada Sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang penyair: "Siapakah prajurit yang berbahagia? Siapakah dia? / Dimana setiap orang dalam barisan ingin menjadi seperti dia?"1 Sebuah petunjuk untuk menjawabnya ditemukan dalam penelitian ini: "Tidak ada batasan untuk menjadi orang yang berguna, selain menempatkan diri, memberi ruang untuk bekerjanya Roh Kudus di dalam hati kita dan menghidupkan kehidupan yang sepenuhnya berkomitmen kepada Tuhan.”2

REAKSI
1. Kita dibentuk oleh pikiran kita (Ams. 23:07, NKJV). Bagaimanakah hal ini bisa menjelaskan tindakan Uria dan Daud?
2. Bagaimana kita bisa menjelaskan sifat alamiah dari dosa Daud?
3. Dengan cara bagaimana pandangan kita terhadap hidup yang kekal mempengaruhi perilaku kita?
4. Bisakah kita benar-benar percaya bahwa berbuat kebaikan adalah upah dari berbuat kebaikan itu sendiri? Jelaskan jawaban Anda.

1. Selected Poetry of William Wordsworth (New York: The Modern Library, 2002), p. 510.
2. The Ministry of Healing, p. 159.

Patrick Boyle, Watford, Hertsfordshire, England

Selasa
2 Nopember
Kesaksian
Sebuah Perubahan Besar Bil. 32:23

Sampai di sini pemeliharaan Allah telah melindungi Daud terhadap semua rencana musuh-musuhnya, dan telah secara langsung menahan serangan Saul. Tetapi pelanggaran Daud telah mengubah hubungan-Nya dengan Allah. Tidak ada kebijakan sanksi untuk dosa. Allah tidak dapat menjalankan kekuasaan-Nya untuk melindungi Daud dari hasil dosanya sebagai mana Ia telah melindungi Daud dari musuhnya, Saul.
Ada perubahan besar dalam diri Daud sendiri. Secara spiritual dia telah hancur oleh menyadari akan dosanya, dan dalam menyadari akibatnya yang tak terkira. Dia merasa dipandang rendah oleh rakyatnya, wibawanyapun berkurang. Sampai saat itu kemakmurannya selalu dikaitkan dengan kesungguhan hatinya dalam mentaati perintah-perintah Tuhan. Tetapi sekarang rakyatnya mengetahui dosanya, hal itu akan menyebabkan rakyatnya lebih bebas berbuat dosa. Otoritasnya dalam rumah tangganya sendiri, dalam hal respek dan ketaatan dari putra-putranya melemah.

“Allah mau agar sejarah kejatuhan Daud untuk menjadi peringatan...”

Perasaan bersalah membuatnya tetap diam pada saat ia seharusnya mengutuk dosa; itu membuat lengannya lemah untuk melaksanakan keadilan di rumahnya. Contoh kejahatan yang dilakukannya sangat berpengaruh terhadap anak-anaknya, dan Tuhan tidak akan menjadi penengah untuk mencegah akibatnya. Dia akan mengizinkan sesuatu terjadi untuk menjadi pelajaran alamiah bagi mereka, dan dengan cara demikian Daud dihukum sangat berat….
“Mereka yang dengan menunjuk contoh dari Daud mencoba untuk mengurangi rasa bersalah dari dosa-dosa mereka sendiri, mereka harus belajar dari catatan Alkitab bahwa melakukan pelanggaran moral itu membuat susah. Meskipun seperti Daud mereka berbalik dari kejahatan mereka, tetapi akibat dosanya, bahkan dalam kehidupan ini, akan ditemukan kepahitan dan kesusahan untuk menanggungnya.”
Allah mau agar sejarah kejatuhan Daud untuk menjadi peringatan bahkan bagi orang-orang yang sangat diberkatiNya dan berkenan di hatiNya untuk tidak merasa kuat dan lalai berjaga-jaga dan berdoa. Dan melalui itu telah terbukti kepada mereka yang dengan rendah hati berusaha untuk mempelajari pelajaran yang dirancang oleh Allah untuk mengajar. Dari generasi ke generasi ribuan generasi telah sedemikian dituntun untuk menyadari bahayanya kuasa penggodaan. Kejatuhan Daud, orang yang sangat dihormati oleh Tuhan, telah membuat mereka tidak percaya diri. Mereka merasa bahwa hanya Tuhan saja yang sanggup menjaga mereka dengan kuasa-Nya melalui iman. Mengetahui bahwa di dalam Tuhan ada kekuatan dan keselamatan, mereka takut untuk melangkah ke daerah Setan. *

REAKSI
Apakah satu-satunya yang dapat menjaga kita dari dosa dan konsekuensinya?
Bagaimana hidup Anda terpengaruh, ketika seperti Daud, Anda sengaja melakukan dosa?

*Patriarchs and Prophets (Sejarah Para Nabi), hal. 723, 724.

Amy Browne, Kent, England.

Rabu
3 Nopember

Ibr. 2:1-4 Bagaimana
Mengalir Dengan Peristiwa

Keberhasilan dan kegagalan dalam hidup tidak terjadi secara kebetulan. "Seperti burung pipit melayang, seperti burung layang-layang terbang, demikianlah kutuk tanpa alasan tidak akan turun" (Amsal 26:2, NKJV). Tidak ada yang hanyut terbawa arus menuju surga; tetapi adalah sangat mudah dan fatal hanyut terbawa arus duniawi. Salah satu pengamatan yang paling bijaksana dalam Alkitab yang menunjuk pada alasan dalam mengabaikan kehancuran rohani (Ibr. 2:3). Yesus jarang mengutarakan orang sebagai orang yang jahat. Dia, bagaimanapun, mengkategorikan mereka sebagai gadis yang bodoh – gadis yang bodoh yang tidak bersiap-siap (Mat 25:1-13); si pembangun yang bodoh yang mebangun di atas pasir (Matius 7:26, 27); dan Orang-orang Galatia yang bodoh (Gal 3:1).
Apakah benar kalau mengatakan bahwa sebagian besar, jika tidak semua dari kita, pada satu waktu atau lainnya telah mengalami kerugian, sakit hati, sakit, dan bahkan bencana, karena kelalaian dan kecerobohan kita sendiri? Sesungguhnya ini adalah akibat kegagalan moral. Sebagaimana yang terjadi pada Daud, saat-saat kecerobohan dapat mengakibatkan penyesalan seumur hidup. Berikut adalah beberapa cara yang dapat mencegah saat-saat seperti itu:

kecerobohan dapat mengakibatkan penyesalan seumur hidup

Belajar Firman Tuhan. Tidak cukup hanya membaca Alkitab saja, kita harus mempraktekkannya juga. Kita harus mempelajari Alkitab dan menerapkannya di dalam kehidupan kita.
Berdoa. Doa kita harus lebih dari hanya sekedar permohonan dan ucapan terima kasih yang dangkal dan terburu-buru. Sewaktu kita berdoa, kita harus mempertimbangkan dengan hati-hati kebutuhan kita dan bagaimana Allah telah memberkati kita. Kita juga harus dengan sungguh-sungguh membiarkan Allah berbicara kepada kita. Seperti para murid Yesus meminta Yesus untuk mengajar mereka cara berdoa (Lukas 11:1), kita juga berkewajiban untuk belajar bagaimana untuk berdoa. Tidak ada berkat lain yang lebih besar dalam hidup ini selain memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Sebagai mana dengan teman-teman kita, demikian juga dengan Tuhan Kita – Persahabatan dengan Tuhan adalah sesuatu yang harus kita bangun dengan mendekatkan diri kita kepada-Nya melalui doa.
Merindukan keselamatan. Keselamatan tidak terjadi secara kebetulan. Allah tidak memaksa kita untuk menerima rahmat-Nya. Kita diselamatkan, sebagian, karena kita ingin diselamatkan. Kita mencari keselamatan, mencarinya, karena kita membutuhkannya. Ini adalah masalah yang paling serius dari semua isu kehidupan. Mencari keselamatan membutuhkan perhatian yang serius setiap hari sepanjang hidup kita.
Mudah sekali bagi seseorang untuk memiliki pandangan yang salah tetang keselamatan, memandang bahwa keselamatan itu hanya sebagai usaha manusia belaka, memandang keselamatan itu sebagai sesuatu yang harus ditempuh tidak dinikmati.
Ganjaran dari sebuah persekutuan dengan Tuhan setiap hari tak ada tandingannya. Persekutuan dengan Dia memberi kita hidup dan meningkatkan kualitas hidup kita.

REAKSI
1. Bagaimana kegiatan-kegiatan seperti menonton televisi, bermain komputer atau chatting yang dilakukan secara rutin bisa merugikan pengalaman hidup seorang Kristen?

Michele Vitry, Watford, England

Kamis
4 Nopember

Pendapat
Etika Situasional Matt. 5:21-28

Ketika Daud mengirimkan Uria ke garis depan medan perang, ia melanggar perintah keenam yaitu "Jangan membunuh". Ini adalah kasus yang terbuka dan tersembunyi. Namun, bagaimana kalau aku membunuh karakter temanku dengan sindiran dan gosip? Aku tidak membunuh siapa pun secara fisik. Aku tidak melanggar kesembilan Hukum Tuhan lainnya, karena semua yang kukatakan mungkin benar. Tetapi, sama saja Aku telah membunuh temanku.
Sekelompok pencuri kendaraan yang masih muda, mencuri kendaraan dan mengendarainya sampai bensinnya habis. Selama menggunakan mobil curian, mereka merusak mobil tersebut dan properti lainnya. Mereka bersalah karena mencuri. Namun, bagaimana jika Anda tinggal di medan perang dan keluarga Anda kelaparan? Dimana satu-satunya harapan hidup adalah dengan mencuri makanan. Apakah ini benar-benar melanggar perintah “Jangan Mencuri?” Apakah situasi dapat mengubah prinsip?

Pembentukan Karakter adalah pekerjaan seumur hidup

Anda sering bekerja lembur, namun Anda tidak mendapat bayaran untuk lembur tersebut. Anda terlibat dalam sebuah proyek misi di gereja dan mem-foto kopi bahan- bahan yang Anda butuhkan untuk itu di kantor tanpa membayar, toh majikan Anda mempunyai hutang terhadap jam kerja ekstra anda. Apakah itu dianggap sebagai mencuri? Atau dianggap lunas?
Keabsolutan Sepuluh Perintah Allah yang tidak menyenangkan bagi masyarakat paska moderen, yang memandang dunia dari perspektif, individualistis pragmatis. Masyarakat ingin kita percaya bahwa tidak ada yang absolut. Jika Uria hidup sesuai dengan apa yang dirasa enak dari pada menghidupkan prinsip, dia mungkin sudah pulang ke Batsyeba dan segalanya akan terlihat "baik-baik saja" bagi Daud. Tapi dia tidak pulang. Dan sebagai akibatnya, ia meninggal. Integritas Uria berlawanan dengan kelemahan Daud.
Ketika Yesus berhotbah di atas bukit, Ia berkhotbah tetang perintah jangan membunuh, Dia memberi arti yang luas tentang membunuh termasuk juga kemarahan (Mat 5:21-26). kata marah,percekcokan , dendam, atau permusuhan tidak punya tempat dalam kehidupan Kristen. Menimbang pedoman Yesus tetang perzinahan, Daud sudah melanggar batas ketika ia hanya melihat Batsyeba dengan nafsu (Mat 5:27-28).
Karakter tidak muncul atau hilang secara tiba-tiba. Pembentukan Karakter adalah pekerjaan seumur hidup.

REASI
Integritas Uria dan kesetiaannya adalah contoh yang jelas bagi kita. Bagaimana kita bisa memiliki integritas yang sama dengannya hari ini?

Audrey Andersson, Lindesberg, Sweden

Jum’at
5 Nopember
Eksplorasi
Daud dan Uria—Sebuat Perbandingan yang Menyedihkan 2 Samuel 11


SIMPULKAN
Pasal 11 dalam 2 Samuel adalah kisah yang menyayat hati. Ini adalah studi yang berlawanan. Seiring dengan rasa tanggung jawab Uria terhadap tugasnya, sangat kontras dengan Daud yang melalaikan tugasnya, kita berfokus pada Misi Uria dan kebutaan Daud terhadap misi. Uria menonjol dalam catatan sebagai pahlawan, namun Daud menjadi penjahat terburuk. Bagaimana kita menuduh lanjutan dari perbuatan Daud yang keji itu? Apa yang akan kita simpulkan jika kita hanya memiliki informasi tetang bab ini saja tetang Daud? Ketika kita mempertimbangkan banyak kontras antara Uria dan Daud, apa pelajaran tentang godaan, integritas, dan pengampunan yang bisa kita pelajari?

PERTIMBANGKAN
• Cari kalimat “sexual scandal and politicians” atau “skandal seksual dan politisi” di internet. Pilih satu atau dua cerita terkini dan membandingkan atau menyamakan dengan skandal Daud dan peristiwa yang terjadi pada Uria.
• Carilah di majalah, yang mungkin Anda bisa menemukan seseorang yang mirip seperti Uria. Jika tidak ada hambatan, cobalah untuk menggambarnya menurut anda tampak seperti bagaimanakah Uria itu?
• Cari di internet, lagu Watson Wayne "It's a Fine Line" Lagu ini berbicara tentang garis yang halus antara yang baik dan yang jahat yang ada dalam banyak pilihan hidup. Dengarkan lagu tersebut, dan tuliskan sebanyak mungkin situasi garis yang halus yang dapat Anda temukan di dalamnya.
• Refleksikan peristiwa dalam hidup Anda ketika, seperti Daud, Anda mencoba untuk menutupi sesuatu yang Anda lakukan. Apakah itu melibatkan korban tak bersalah?
• Bayangkan apa yang akan terjadi kepada Daud dan Uria bila bertemu di surga. Tuliskan dengan 100 kata yang Anda pikirkan kemungkinan mereka akan mengatakan apa terhadap satu sama lain.
• Pikirkan tentang orang-orang dalam berita yang berakting seperti Daud dalam 2 Samuel 11. Tapi bagaimana dengan Uria? Kemungkinan besar, tidak ada yang akan memperingati kebajikan dan integritasnya sampai nanti di surga. Dapatkah Anda menemukan Uria masa kini dan memikirkan cara untuk memperingatinya?

HUBUNGKAN
Untuk mempelajari lebih jauh tentang kehidupan Daud, bacalah 1 Samuel 16 (Daud menjadi raja); 1 Samuel 17 (Daut dan Goliat); 1 Samuel 20 (Daud dan Yonatan); 1 Samuel 25 (Daud dan Abigail); Daud dan nabi Natan (2 Samuel 12). Juga baca Para Nabi dan Raja, pasal 71.
Untuk membaca lebih jauh tentang Daud dan Uria, bukalah website brikut: http://bible.org/seriespage/Daud-and-Uria-2-samuel-115-27.

Victor Brown, Dayton, Ohio, U.S.A

Tuesday, 26 October 2010

SSCQ Pelajaran 5 Kwartal IV 2010

Latar Belakang dan Karakter dalam Perjanjian Lama
Abigail: Bukan Korban Lingkungan
Pelajaran Kelima Kwartal 4,
23—30 Oktober 2010
Diterjemahkan Oleh: Joice dan Fritz Manurung
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian

“Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal” (Amsal 14:33)



Sabbath
23 Oktober
1 Samuel 25:3 Pendahuluan
Abigail

Semampu apakah anda mengatasi keadaan-keadaan yang sulit: teman kerja yang menjengkelkan, pasangan yang keras kepala, kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal, atau bahkan kehilangan seseorang yang kita kasihi? Semuanya begitu mudah untuk diceritakan kepada orang lain tentang apa yang anda pikirkan – atau untuk tidak meneruskan pernikahan anda. Bahkan mungkin akan begitu mudah untuk menyerah akan Allah manakala segala sesuatu tidak berjalan dengan baik. Terkadang kita mendapati diri kita berada dalam keadaan-keadaan yang sulit dimana kita tidak memiliki kendali atasnya, atau tidak dapat meminta untuk menjadi bagian dari situasi tersebut. Kita berdoa dan berharap bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik. Tetapi sepertinya Allah tidak mendengar kita. Kadang-kadang Ia sedang mempersiapkan kita untuk suatu hal, dan tergantung bagaimana kita mengatasi keadaan tersebut, Dia dapat menggunakan kita untuk menyelesaikan perkara-perkara yang besar.

Allah tahu isi hati kita, dan Ia selalu mendengar tangisan kita

Sepertinya Abigail yang tidak memiliki hak untuk memilih suaminya sendiri. Dan malangnya, ia adalah seorang yang “ kasar dan jahat” (I Samuel 25:3), dan barangkali memperlakukannya dengan tidak baik. Namun di tengah-tengah pergumulan yang ia tidak mengerti, ia menunjukkan sikap sabar. Ia melakukan apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup – bahkan sampai kepada tahap untuk menyelamatkan suami dan seluruh isi rumahnya dari Daud dan tentaranya dengan menyerahkan dirinya sendiri di garis depan. Ia memohon agar kesalahan-kesalahan Nabal ditimpakan kepadanya.
Seberapa sering kita menanggung dosa-dosa orang lain? Ia bisa saja membiarkan Nabal menuai akibat-akibat dari segala tindakannya, dan memohon saja kepada Daud untuk mengampuni dirinya dan seisi rumahnya. Namun sebaliknya yang ia lakukan adalah sesuatu yang lebih terhormat. Dan Daud memberkatinya karena hal itu. Ia tidak hanya menyelamatkan hidupnya, hidup Nabal dan hidup isi rumah Nabal tetapi berpaling kepada Allah untuk berperkara dengan suaminya yang jahat.
“‘Hak-Kulah dendam dan pembalasan, pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka’ ” (Ulangan 32:35, NKJV)
Marilah kita belajar dari cerita Abigail. Pertama, Allah tahu isi hati kita, dan Ia selalu mendengar tangisan kita. Ia tahu apa yang kita rasakan di hati kita yang paling dalam. Kedua, Ia membiarkan kita untuk melalui ujian agar kehendak Tuhan jadi dalam kehidupan kita, atau kehidupan orang lain, dan Ia senantiasa bekerja demi kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya. Ketiga, ketika orang-orang melakukan hal-hal yang jahat terhadap engkau, teruslah untuk berbuat baik, bersikap baik, dan berdiam dirilah dan biarkan Tuhan yang bertindak terhadap mereka. Allah adalah adil. Ia mungkin tidak mengatasi satu keadaan sesuai dengan apa yang kita inginkan atau harapkan tetapi Ia akan mengatasi keadaan tersebut. Dan yang lebih penting lagi, Ia akan berperkara dengan orang lain dengan cara sebagaimana Allah berperkara dengannya. Ia sedang berusaha untuk menyelamatkan setiap orang di antara kita.

Larie S. Gray, Silver Spring, Maryland, U.S.A.

Minggu
24 Oktober
Logos
Hikmat atau Kebodohan I Samuel 25;
Yesaya 28:23; 53:12;
Daniel 9:15–19; Matius
15:10; Roma 8:34

Berbeda seperti Malam dan Siang Hari (I Samuel 25)
Tokoh minggu ini adalah Abigail. Cerita mengenai dirinya terdapat di dalam I Samuel 25. Saat membaca cerita ini, kita akan menemukan suatu hal yang sangat bertolak belakang antara Abigail dan Nabal. Dia adalah seorang wanita yang “penuh hikmat,” namun Nabal adalah seorang yang “kasar dan melakukan apa yang jahat” (ayat 3, NKJV). Pada kenyataannya, kita diceritakan bahwa namanya berarti “bodoh” atau “kebodohan.” Marilah kita telaah perbedaan – perbedaan di antara dua individu berikut:

1. Nabal senang mengeluarkan kata-kata kasar, dan ia seringkali mengatakan hal-hal yang tidak benar. Abigail berhati-hati dalam berbicara – mengeluarkan kata-kata yang penuh hikmat.
Yesus berkata dalam Matius 15:11, “ ‘Bukan yang masuk ke mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan’ ” (NRSV). Dan Amsal 23:7 berkata bahwa “seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia” (NKJV). Itu dikarenakan apa yang ada di hati cepat atau lambat akan terpancar dalam kata-kata atau perbuatan. Kebodohan hati Nabal terlihat baik dari perkataan dan perbuatannya. Di samping itu, Abigail memiliki hati yang “berhikmat.” Ia adalah orang yang dihormati, penuh kasih, dan penuh rasa terima kasih; dan ia diberkati oleh karena perkataan dan perbuatan.

Penyembahannya kepada Allah yang memampukannya untuk mengikuti tuntunan Roh Kudus

2. Nabal menolak permohonan Daud yang meminta pertolongannya. Ini adalah suatu keputusan yang semberono dan bodoh. Abigail, di lain pihak, bersikap bijaksana dengan sesegera mungkin menghadap Daud dan memohon pengampunannya, membawakannya segala hal yang dibutuhkannya dan pasukannya.
Ketidakhati-hatian Nabal membawa hidup banyak orang dalam bahaya. Seringkali, keputusan-keputusan yang kita ambil membawa akibat bagi banyak orang, bahkan apabila hal tersebut bukanlah tujuan kita agar hal tersebut terjadi. Pilihan Abigail menuntunnya untuk melakukan campur tangan demi kepentingan orang lain. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri melainkan kepentingan orang lain yang tidak pantas untuk dihukum. Dalam Daniel 9:15-19, Daniel berdoa bagi bangsanya, yang telah berada dalam pembuangan di Babilonia selama bertahun-tahun. Ia berdoa agar murka Allah berlalu dari mereka dan agar pada akhirnya mereka dilepaskan dan dibebaskan untuk kembali ke tanah airnya. Yakobus 5:16 berkata bahwa “doa orang benar sangat besar kuasanya” (NRSV). Doa syafaat adalah salah satu cara di mana kita dapat turut campur demi kepentingan seseorang; dan mungkin doa-doa kita akan menuntun mereka kepada keselamatan.
3. Nabal memiliki hati yang mementingkan diri sendiri dan tidak tahu berterima kasih. Abigail memiliki hati yang murah hati dan bersyukur. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yng memberi dengan sukacita” (II Korintus 9:7, NRSV).
4. Nabal tidak memiliki rasa hormat terhadap Daud – yang merupakan pilihan Allah untuk menjadi penguasa Israel. Ia begitu sombong dan kebodohannya menuntun dirinya kepada kematian. Abigail mengetahui bahwa Daud adalah hamba Allah, yang telah dipilih Allah untuk menjadi penguasa Israel berikutnya. Dia segera diselamatkan dari penderitaan-penderitaannya, dan menjadi ratu dari Raja Daud. Baca Matius 23:12 dan Yehezkiel 21:26.

Hikmat Versus Kebodohan (I Samuel 25:3; Mazmur 110:10; Pengkhotbah 7:25)
Marilah kita perhatikan lebih dalam tentang arti kata hikmat dan bodoh (atau kebodohan) sebagaimana kata-kata tersebut berhubungan dengan cerita kita. Persamaan dari kata-kata bodoh atau kebodohan adalah ketidakbijaksaan dan ketololan. Sebagaimana yang telah kita pelajari sebelumnya, nama Nabal berarti bodoh. Itu juga berarti fasik. Perkataan dan tingkah lakunya yang bodoh merupakan bukti kefasikannya. Baca I Samuel 25:3.
Salomo mencoba untuk mengerti mengapa orang-orang melakukan apa yang mereka lakukan. Ia menulis, “Aku tunjukkan perhatianku /untuk memahami, menyelidiki, dan mencari hikmat dan kesimpulan, serta /untuk mengetahui kefasikan itu kebodohan dan kebebalan itu kegilaan” (Pengkhotbah 7:25, NKJV). Ia menyadari bahwa mereka yang betul-betul bijaksana adalah mereka yang takut dan menurut kepada Allah. Baca Amsal 9:10. Nabal adalah seorang yang bebal, seorang yang bodoh, karena ia tidak takut akan Allah.
Abigail disebut “wanita yang bijak” (I Samuel 25:3, NKJV). Kata bijaksana dalam konteks cerita ini diambil dari bahasa Ibrani sekel yang berarti: “pandai,” “hati-hati,” “berpengetahuan,” “berpengertian,” “berhikmat,” “bijak.” Abigail bijaksana karena ia takut akan Tuhan dan memahami kuasaNya. Ia tahu bahwa Dia satu hari nanti akan meninggikan Daud dan memberikan hukuman kepada semua musuhnya. Penyembahannya kepada Allah yang memampukannya untuk mengikuti tuntunan Roh Kudus dan pergi menemui Daud. Baca I Samuel 25:32. Apabila kita sebagai orang Kristen hendak mengambil pilihan – pilihan yang bijaksana – pilihan untuk melakukan yang benar, untuk melakukan yang baik, dan untuk mengikuti Firman Tuhan – selanjutnya kita pun harus mengikuti teladan Abigail dan takut akan Allah. Karena “takut akan Tuhan merupakan permulaan hikmat” (Mazmur 110:10, NKJV).

REAKSI
1. Pikirkan beberapa pilihan yang telah anda buat? Bagaimana pilihan-pilihan tersebut telah membantu atau mencelakakan orang lain?
2. Pilihan apa yang menyebabkan semua pilihan-pilihan lain yang kita ambil? Ulangan 30:19; Yosua 25:15.
3. Bagaimana Matius 7:24-27 dan 19:16-22 membantu anda untuk mengerti pentingnya mengambil keputusan-keputusan yang benar?

Tresa Beard, Silver Spring, Maryland, U.S.A.


Senin
25 Oktober
Kesaksian
Seorang Wanita Pendamai I Samuel 25:23–31

“ ‘Semua orang berada dalam keadaan duka, dan setiap orang berada dalam keadaan berkekurangan, dan setiap orang merasa tidak puas,’ itu yang dilaporkan kepada Daud, ‘dan ia menjadi kapten atas mereka: dan bersama-sama dengan dia ada sekitar empat ratus orang.” Di sini Daud memiliki kerajaan kecilnya sendiri, dan di dalamnya berlaku peraturan dan disiplin. Namun demikian dalam pengasingannya di atas gunung, ia tetap tidak merasa aman, karena secara terus-menerus ia mendapatkan bukti bahwa sang raja tidak menghapuskan niat untuk membunuhnya.”1

“Abigail …memberikan kepada Allah pujian dan penyembahan.”

“Dengan pasukannya yang juga turut melarikan diri, ia memperoleh sebuah persiapan untuk melibatkan diri dalam pekerjaan dimana Saul, karena keinginannya untuk membunuh dan hatinya yang buta, tidak dapat mengerjakan seluruh pekerjaannya.”2
“Daud dan pasukannya menjadi benteng perlindungan bagi gembala-gembala dan kawanan ternak Nabal; dan sekarang orang kaya ini diminta untuk menyediakan sesuatu dari kelimpahan karena kebebasan yang dia terima demi kepentingan mereka yang telah melakukan pekerjaan yang begitu berharga baginya. Daud dan pasukannya bisa saja menyelamatkan diri mereka sendiri daripada ternak dan para gembala, tetapi mereka tidak melakukan itu. Mereka bertindak jujur. Namun, kebaikan mereka hilang oleh karena Nabal. Jawaban yang ia berikan kepada Daud menunjukkan tabiatnya: ‘Siapakah Daud? dan siapakah putera Isai? Akan ada begitu banyak hamba saat ini yang melepaskan diri dari tuannya. Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?’
“Tanpa bermaksud memegahkan diri atau sombong, tetapi penuh dengan kebijaksanaan dan kasih kepada Allah, Abigail menunjukkan kekuatan atas pengabdiannya terhadap rumah tangganya; dan ia menyatakan secara jelas kepada Daud bahwa tindakan yang tidak berkenan yang dilakukan oleh suaminya adalah tidak yang tidak bijaksana tanpa berpikir dahulu sebagai suatu penghinaan pribadi terhadap diri Daud, melainkan hanya sekedar luapan alamiah dari perasaan tidak bahagia dan memetingkan diri sendiri . . .
“Abigail tidak memuji dirinya sendiri atas tindakannya mengubah Daud dari melakukan hal yang terburu-buru, melainkan memberikan kepada Allah pujian dan penyembahan. Kemudian ia menawarkan perbekalannya yang melimpah sebagai persembahan damai bagi pengikut Daud.”3

REAKSI
Apa yang diajarkan cerita Abigail dan Nabal tentang peranan diplomasi dalam kehidupan seorang Kristen? Bagaimana seseorang dapat meminta satu roh yang jujur, diplomasi yang penuh belas kasihan.
____________
1. Patriarchs and Prophets, hal. 658.
2. Ibid.
3. Ibid., hal. 666.

Ann Stewart, Silver Spring, Maryland, U.S.A.
Selasa
26 Oktober
Bukti
Daud dan Abigail: Latar Belakang Sejarah I Samuel; II Samuel

“Menyusul penolakan Saul, Samuel dipanggil untuk memilih dan melatih seseorang menurut kehendak Allah (I Samuel 13:14), seseorang yang tidak akan menempatkan dirinya di atas hukum Allah melainkan yang akan mematuhi Allah. Pengajaran yang Daud dapatkan, seperti halnya Kristus, terus dilakukan meski ada kecemburuan dan kebencian. Walaupun terkadang Daud jatuh dalam pelanggaran hukum Allah junjung tinggi dan yakini, ia selalu merendahkan hatinya bahwa hukum itulah yang tertinggi.”1

Ia sesegara mungkin dan dengan cara diplomatis memohon pengampunan atas hidup suaminya yang bodoh

Manakala Samuel wafat, Daud “berduka sama dalam dan kasihnya seperti seorang anak yang setia kepada bapa yang ia hormati . . .pada saat perhatian Saul terpusat pada duka atas kematian Samuel, Daud mengambil kesempatan ini untuk mencari satu tempat yang jauh lebih aman; sehingga ia pergi ke padang gurun di Paran.”2
Nabal tinggal di Maon dengan isterinya Abigail. Domba-dombanya terletak di Karmel. “Selama mereka tinggal di padang belantara Ziph dan Maon, sebelum pindah ke En-gedi, Daud dan pasukannya selanjutnya menjadi lebih dekat dengan gembala-gembala Nabal, dan telah meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan baik. Tinggal dekat dengan padang gurun, Nabal secara terus-menerus berhadapan dengan kawanan perampok.”3
Daud mengutus hamba-hambanya untuk meminta makanan dari hamba-hamba Nabal. “Ia telah menjaga ternak-ternak Nabal tanpa meminta bayaran kepada si empunya ternak. Pemilik domba biasanya akan dengan senang hati membalas jasa mereka yang telah menolong mereka dari kehilangan domba-dombanya. Permintaan Daud untuk meminta makanan adalah permintaan yang pantas dan sesuai dengan kebiasaan yang timbul pada waktu itu.”4
Daud tidak pernah mengharapkan balasan seperti yang para hambanya terima. Bermaksud untuk balas dendam, Daud mempersenjatai para hambanya dan bergerak menuju rumah Nabal dengan maksud memusnakan dia dan seluruh isi rumahnya! Ketika Abigail mendengar apa yang telah terjadi, ia menyiapkan makanan bagi Daud dan seluruh hambanya, dan segera menemuinya. Ia sesegara mungkin dan dengan cara diplomatis memohon pengampunan atas hidup suaminya yang bodoh dan seisi rumah mereka.
Daud menyambut nasihat Abigail yang menghentikannya untuk menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah (I Samuel 25:32,33)
____________
1. The SDA Bible Commentary, vol. 2, hal. 449.
2. Patriarchs and Prophets, hal. 664.
3. Ibid., hal. 573, 574.
4. Ibid., hal. 574.

Patience Barnes, Mt. Pleasant, Pennsylvania, U.S.A.

Rabu
27 Oktober

Maz. 52:8;
Yer. 7:23;
Matt. 16:24–26;
1 Tess. 5:17, 18 Bagaimana
Menghadapi Kesulitan

Keadaan-keadaan yang sulit dapat menjadi sesuatu yang melemahkan dan menekan, bahkan bagi seorang Kristen yang teguh sekalipun. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan anda melakukan salah satu dari dua hal berikut: (1) berpegang pada Allah sementara anda menderita dan berdoa meminta jalan keluar bagi permasalahan anda, atau (2) tenggelam semakin dalam dan semakin dalam di dalam keputusasaan.
Keadaan yang dialami Yusuf kelihatan tidak memiliki pengharapan. Kita hanya bisa membayangkan bagaimana perasaan kita setelah saudara-saudaranya menjual dia dalam perbudakan. Pastinya ia merasa sakit hati, tidak tahu apa yang ada di hadapannya atau apakah ia akan memiliki kesempatan bertemu kembali dengan ayahnya. Namun ia bertekad bahwa ia akan percaya kepada Allah, dan patuh kepada semua yang ayahnya pernah ajarkan.

Ia adalah seorang wanita yang dapat digunakan Allah

Selanjutnya ada Esther, Daniel dan ketiga sahabatnya, dan Daniel di goa singa. Setiap orang bertekad untuk patuh kepada Allahnya, bahkan ketika harus menghadapi kematian. Iman mereka telah menolong mereka untuk bangkit di atas keadaaan-keadaan mereka yang menyedihkan; dan Allah menghargai iman seperti itu.
Abigail pun adalah seorang wanita beriman. Ia tidak takut untuk bertindak untuk menyelamatkan hidup orang-orang yang tidak berdosa, walaupun ia nantinya mungkin harus menghadapi murka suaminya. Sebagai akibat dari tindakannya yang berani dan cepat itu, ia mampu menahan Daud untuk melakukan sesuatu yang nantinya akan dia sesali. Ia tidak membiarkan kondisinya mempengaruhi imannya atau mengubah siapa dirinya. Ia adalah seorang wanita yang dapat digunakan Allah; dan ia dipimpin oleh Roh Allah untuk berbicara kepada Daud.
Yesus adalah teladan kita yang sempurna. Dia datang ke bumi untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan bagi pelanggaran-pelanggaran kita (Yesaya 53). Namun demikian, ia bangkit atas segala keadaannya untuk menyelesaikan apa yang menjadi tujuannya datang ke dunia ini. Apa pun keadaan anda, ingatlah Yesus dan laki-laki dan perempuan beriman lainnya dalam Alkitab. Di sini ada beberapa hal yang akan membantu anda bangkit atas segala keadaan anda:
Percayalah kepada Allah (Mazmur 52:8). Ia tahu situasi anda; Ia memiliki jalan keluar.
Berdoalah sebagaimana yang Yakub lakukan (I Tesalonika 5:17,18). Jangalan lepaskan sampai Allah memberkati anda dan menunjukkan kepada anda jalan yang harus anda ambil.
Menurut (Yeremia 7:23). Bertekad apa pun yang terjadi, anda akan menurut kepadaNya dan firmanNya.
Pergilah ke manapun Ia memimpin (Matius 16:24-26). Ia tidak akan pernah meninggalkanmu atau menolakmu.

REAKSI
Temukanlah ayat-ayat lain yang berhubungan dengan setiap butir di atas. Hafalkan satu yang paling mengena bagi anda.

Sarah Stewart, Silver Spring, Maryland, U.S.A.

Kamis
28 Oktober
1 Samuel 25;
Mazmur. 107:19 Pendapat
Wanita Penuh Hikmat

Abigail mewakili semua orang yang tidak membiarkan apa yang terjadi pada mereka membawa mereka lebih menderita. Ia tahu bahwa kebebalan suaminya dapat menyebabkan tidak hanya kematiannya, tetapi juga kematian dari orang-orang yang tidak berdosa. Banyak orang yang membiarkan kebodohan orang lain mempengaruhi mereka dan mereka berbalik mengambil pilihan-pilihan yang salah. Akan tetapi, dalam menanggapi tindakan Nabal yang bodoh, Abigail mengambil keputusan yang bijaksana untuk pergi menghadap Daud dan meminta pengampunan.
Abigail adalah seorang yang berhikmat. Kita dapat melihat kebijaksanaannya. Kita dapat melihat kebijaksanaanya di sepanjang I Samuel 25. Pertama, ia mendengar apa yang harus diceritakan hambanya kepadanya mengenai Nabal dan hamba-hamba Daud. Ia menanggapi dengan bertindak sesegera mungkin. Ia tahu bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Harus ada sesuatu yang dilakukan atau orang-orang yang tidak berdosa akan mati.

Ia tahu bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu

Dalam melakukan pemilihan makanan yang akan diberikan kepada Daud, ia melakukannya dengan terorganisir dan hati-hati. Dalam ia melakukan semua dengan memperhitungkan waktunya. Ia memberikan perintah kepada hamba-hambanya mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dan mereka mengikuti perintahnya dengan hati-hati. Sebagai akibatnya, ia dapat menemui Daud sebelum ia mendapati Nabal. Daud dapat melihat betapa pintar dan bijaksananya wanita ini. Ia mendengarkannya dan menyesali tindakannya.
Ketika Abigail kembali ke rumah setelah bertemu Daud, ia memutuskan untuk menunggu memberitahukan apa yang telah terjadi kepada Nabal sampai besok pagi. Hal itu adalah satu tindakan yang cerdik. Nabal telah melakukan pesta pora dan mabuk-mabukan, dan ia tahu suaminya sedang dalam keadaan tidak sadar. Ia mungkin tidak menyadari betapa serius tindakannya itu jika ia memberitahukan apa yang telah ia lakukan padanya pada malam itu. Ia mungkin saja menertawakannya karena dalam keadaan mabuk atau menanggapinya dengan kemarahan. Lantas ia menunggu sampai besok pagi, ketika ia sedang dalam keadaan sadar. Ia ingin memastikan bahwa ia sepenuhnya sadar akan akibar dari kebodohannya – ia dapat saja kehilangan segalanya termasuk nyawanya.
Abigail juga memahami bahwa Allah akan memberi balasan kepada semua musuh Daud, termasuk Nabal, dan ia begitu bijaksana untuk meminta Daud agar mengingatnya (I Samuel 25:31). Setelah kematian Nabal, Daud benar-benar mengingat Abigail, dan mengambilnya sebagai isterinya.
Kita dapat melihat dalam cerita Abigail bagaiman Allah memperhatikan umat-umatnya. Pada akhirnya Allah melakukan pembalasan untuk Daud atas tingkah laku dan tindakan Nabal yang tidak tahu berterima kasih. Ia juga membebaskan Abigail dari ikatan seorang suami yang memiliki roh kekejaman dan kebodohan.

Kayla D. Beard, Silver Spring, Maryland, U.S.A.

Jum’at
29 Oktober
Eksplorasi
Menjadi Seorang Kristen yang menjadi Pengantara 1 Samuel 25

SIMPULKAN
Abigail menghadapi satu keadaan yang hampir saja mustahil. Bagaimana mungkin ia dapat begitu tenang menghadapi kemarahan dua orang yang nasib dirinya berada dalam genggaman mereka? Daripada menangis dan mengasihani dirinya sendiri, ia memilih untuk menggunakan hikmat untuk mencegah menyebarnya perseteruan yang fatal. Kepeduliannya bagi mereka yang hidup disekelilingnya dan rasa hormat kepada “yang diurapi Allah” menuntun dirinya untuk ikut campur dan menempatkan dirinya di antara Nabal, yang membuat satu keputusan yang bodoh, Daud, yang bereaksi sebelum memikirkan akibat-akibat yang mungkin timbul dari tindakannya.

PERTIMBANGKAN

● Hafalkanlah lagu, “Father, Lead Me Day By Day,” (no. 482 in the Seventh-day Adventist Hymnal). Kapan pun anda merasa putus asa sepanjang minggu yang akan datang, ingatlah bagaimana kata-kata dalam lagu tersebut mempengaruhi anda.
● Buatlah drama tentang cerita Abigail, Daud dan Nabal dengan menggunakan setting keadaan saat ini.
● Mulailah membuat suatu catatan tentang doa syafaat. Catatlah orang-orang yang anda doakan dan jawaban doanya. Bagaimana mendoakan orang lain menolong anda secara spiritual? Mengapa kita perlu menjadi pengantara bagi orang lain manakala mereka memiliki kebebasan untuk mengambil keputusannya sendiri?
● Jadilah pengantara antara dua orang teman yang sedang kesal satu sama lain. Dapatkah anda mengidentifikasi masalah utamanya? Bagaimana mereka dapat mencapai kesepakatan? Mengapa penting untuk tidak berpihak?
● Buatlah sebuah poster dengan nama Abigail sebagai fokusnya. Hiasilah itu dengan ornamen yang mewakili karakter Abigail sebagaimana yang ditunjukkan dalam kehidupannya. Buatlah poster kedua yang mengambarkan nama anda dan karakter yang anda tunjukkan selama ini.
● Pikirkan reaksi Daud, Abigail, dan Nabal. Lakukan reaksi ini kepada situasi dalam kehidupan anda. Betapa mudahnya orang dapat menjadi salam paham? Mengapa kita bereaksi begitu cepat dan negative manakala kita merasa orang sedang memperlakukan kita dengan tidak adil? Sebagai orang Kristen, respon apa yang seharusnya kita tunjukkan kepada mereka yang menzalimi kita?

HUBUNGKAN
Patriarchs and Prophets, hal. 664–668; The SDA Bible Commentary, vol. 2, hal. 1022; Joyce Landorf, He Began With Eve, “Abigail” (Word, 1983).

Deena Bartel-Wagner, Spencerport, New York, U.S.A.

SSCQ Pelajaran 4 Kwartal IV 2010

Latar Belakang dan Karakter dalam Perjanjian Lama
Yonatan: Dilahirkan untuk Kebesaran
Pelajaran Ke-empat Kwartal 4,
16—23 Oktober 2010
Diterjemahkan Oleh: Glenn Simanjuntak
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian

“Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: ‘Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin Tuhan akan bertindak untuk kita, sebab bagi Tuhan tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.’” (I Sam 14:6)


Sabbath
16 Oktober
Amsal 18:24
Pendahuluan
Siapakah Yang Memainkan Babak Kedua?

Di dalam industry per-film-an, banyak kasus yang disidangkan dan kalah hanya untuk memberi kredit bagi nama siapa yang patut ditaruh paling atas. Apakah yang hal ini bagikan kepada kita akan keberadaan manusia? Batman dan Robin, President dan ibu President, Yosua dan Kaleb, Paulus dan Silas, Petrus dan Yohanes. Siapa yang memegang peran utama dan siapakah yang memegang peran pembantu?
Hubungan yang ada antara anak raja dan anak raja lain yang hendak diurapi adalah sesuatu hal yang ada di pikiran manusia berabad-abad. Sebagaimana seorang anak diangkat ke atas tahta kerajaan dan kehormatan, sedangkan anak raja yang lain terus diingatkan bahwa tahta kerajaan tidak akan pernah menjadi bahagian-nya. Tetapi hubungan antara mereka “lebih erat daripada dengan seorang saudara”. Daud dan Yonatan menjadi dekat pada waktu genting dalam hidup mereka. Mereka saling memerlukan satu dengan yang lainnya.

Seorang Sobat mempunyai empat karakter

Untuk memupuk beraneka ragam bunga anggrek, satu lebah harus merayap di atas bunga anggrek untuk mengambil serbuk sari dan nectar. Juga ia harus merayap keluar melewati lubang lainnya. Walaupun demikian, kebutuhan kedua-duanya: bunga dan lebah terpenuhi. Mempunyai arti?
Banyak orang mempunyai satu – atau dua – teman yang sangat dekat di dalam kehidupannya. Akan tetapi, di dalam hidup setiap manusia ada satu kebutuhan untuk dapat membagi pikiran yang ada di dalam. Kita semua memerlukan seseorang yang mengenal kita, juga menyayangi kita.
Seorang Sobat mempunyai empat karakter: tidak mementingkan diri sendiri, loyal, menerima apa adanya, dan memberi kekuatan. Pelit, akan tetapi, bukanlah bagian dari persahabatan yang benar. Anda tidak dapat memaksakan seorang teman, juga memanipulasinya. Ini adalah membagi-bagi satu dengan yang lainnya. Persahabatan tidak menjatuhkan satu dengan lainnya ketika mengalami kesulitan. Ketika keadaan susah melanda teman-teman, saudara ada untuk memberi dukungan. Bahkan, keberadaan saudara untuk menguatkan dan menyenangkan mereka supaya mereka kuat. Mereka bisa menjadi keberadaan mereka sebenarnya ketika saudara berada di sekitarnya. Mereka bisa mengeluarkan isi hati dan saudara mendengar. Mereka bisa bertindak bodoh dan saudara tidak meremehkan mereka.
Apakah persahabatan erat menurut pandangan mata saudara? Dalam persahabatanmu, apakah salah satu lebih dominan dibandingkan yang lainnya? Apakah seseorang darimu bekerja lebih keras supaya persahabatan itu berlangsung? Jika benar, apakah yang lainnya memegang peran sebagai peran pembantu?
Dalam pelajaran kita minggu ini, kita akan melihat karater-karakter penting dalam persahabatan erat yang dapat membentuk watak kehidupan saudara, dan yang lebih penting, menyinarkan persahabatan yang Yesus hendaki dari saudara.

Kevin Gredig, Palmerston North, Selandia Baru

Minggu
17 Oktober

Bukti
Yonatan: Panutan Bagi Semua Umur I Samuel 20:17; II Samuel 1:17, 25, 26

Di samping statusnya sebagai seorang pangeran dan ahli waris dari satu kerajaan, tentu mudah untuk menolak anggapan bahwa dia seorang yang lemah. Ia tahu loyalitasnya terhadap Daud akan mencegah dia menjadi seorang raja (I Sam. 20:31), akan tetapi ia menyerahkan hak yang ada padanya. Hidupnya diselamatkan oleh banyak orang yang loyal padanya setelah ia tidak menurut perintah ayahnya (I Sam. 14:45); dan ia sangat diketahui sebagai seseorang yang “dikasihi” di dalam kebudayaan yang mana kekuatan lebih penting dari perasaan. Dalam mencermati karakternya lebih dekat, dibuktikan bahwa dia tentu adalah seorang panutan bagi manusia di segala zaman.

Kekuatan Yonatan –. . . – lahir karena kasih bagi orang lain

Pentingnya membuat perbedaan antara “seorang yang kasih dan seorang pendekar” tidak berlaku pada Yonatan. Ia memiliki kedua-duanya dalam kekuatan karakternya, tubuh, dan hati. Kebanyakan terbentuk dalam hubungannya dengan Daud. Walaupun kita tahu bahwa laki-laki saling mencium satu sama lainnya di zaman Alkitab (Kej. 29:13; Kel 18:7, Luk 7:38, 45), ada beberapa ayat yang digunakan beberapa orang yang menganggap hubungan Daud dan Yonatan merupakan satu hubungan homoseksual – perbuatan yang dikeji Tuhan (Kel. 22:18; Roma 1:27). Bahasa Ibrani “nashaq” adalah kata “mencium” yang digunakan dalam Perjanjian Lama dan digunakan untuk menunjukkan kasih (Kej. 29:13); perdamaian (Kej 33:4); meninggalkan dan mengambil (Rut 1:14); dan penghormatan (Maz 2:12). Dengan jelas, ciuman antara dua laki-laki diterima dalam zaman Perjanjian Lama dan Baru.
Deskripsi kasih antara Daud dan Yonatan mungkin susah untuk dimengerti dalam keadaan yang didapati dalam Alkitab. Dalam I Samuel 20:17, bahasa Ibrani “ahab” digunakan untuk menguraikan tipe kasih antara kedua laki-laki ini, kemudian diikuti dengan kata “kenapso”, kata yang langsung diartikan kepada diri sendiri*. Kata-kata ini sama dengan yang didapati dalam Imamat 19:18 dan Matius 22:39: “kasihilah (ahab) tetanggamu sebagaimana dirimu sendiri (kenapso).” Artinya jauh dari kasih romantic dan seksual. Kasih yang dibagikan antara Daud dan Yonatan adalah penggenapan perintah Tuhan dalam hukum Lewi dan juga dikumandangkan kembali oleh Yesus sebagai panggilan tertinggi bagi orang percaya.
Kekuatan Yonatan – fisik, rohani, dan emosi – lahir karena kasih bagi orang lain, yang akhirnya menyerahkan dirinya bagi seorang sahabat. Apakah ada bukti lain untuk menunjukkan kedewasaan seseorang?

REAKSI
Bila saudara dihadapkan dengan pertanyaan bahwa hubungan Daud dan Yonatan adalah dukungan Alkitabiah untuk mempraktekan homoseksualitas, apakah tanggapan saudara?

*G.J. Botterweck, H. ringgren, H. Fabry, Editor, “Theological Dictionary of the Old Testament” (Grand Rapids, Mich.: Wm. B. Eerdmans, 1995).

Lindsay Morton, Palmerston North, Selandia Baru


Senin
18 Oktober
1 Sam. 14:6–13, 24–46; 18; 19; 31:1–7; II Sam. 1:5–12; II Raja-Raja 6:8–17 Logos
Sobat Terbaik dan Musuh Terparah


DNA (I Sam. 14:6-13, 24-26)
Yonatan adalah anak raja Saul. Walaupun ada DNA sebagai anak raja, bagaimanapun juga Yonatan menunjukkan dirinya sebagai seorang pahlawan. Dalam I Samuel 14:6-13, 24-46, kita dapati pangeran muda ini berani mempertahankan tanah orang Ibrani dan berani berperang. Dalam waktu ke waktu, Yonatan mendemonstrasikan penurutan terhadap ayahnya, raja Israel. Ia mengikuti ayahnya dalam peperangan, tidak pernah mempertanyakan motif atau perintahnya. Dia adalah seorang anak laki-laki penurut dan jujur.
Sewaktu Pangeran Yonatan muda mulai berteman dengan Daud, mulai kita melihat peperangan kekuasaan dalam dirinya. Hubungan yang tidak pernah terpikirkan timbul. Dikendarai dengan kasih yang sama terhadap Tuhan dan kesenangan untuk berperang, kedua anak muda ini tidak dapat dipisahkan. Bayangkanlah betapa susahnya Raja Saul ketika menemukan sahabat temannya adalah musuh buyutannya? Sudah jelas kalau Saul mempunyai waktu sedikit dengan Daud dan ia mau menggunakan Yonatan sebagai alat untuk menjatuhkan Daud.

Cerita pendek dalam Alkitab ini mempunyai implikasi yang sangat besar

Tetapi hati Yonatan lebih kepada Daud. Kita tidak tahu hal-hal apa yang sama antara mereka berdua, tetapi kita tahu kalau Yonatan mulai meluangkan waktu lebih banyak dalam persahabatannya dengan Daud dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Hal-hal akan penurutan dan loyalitas menjadi nyata dalam kehidupan Yonatan dan keputusan-keputusan yang harus ia hadapi. Apakah dia membela sahabatnya atau membantu ayahnya?
Dalam garis silsilah, Yonatan telah ditunjuk untuk memegang pucuk tahta kerajaan Saul. Tetapi karena ketidak penurutan Saul (I Samuel 13) kepada Samuel, hal tersebut tidak akan terjadi. Kerajaan itu akan diberikan kepada Daud, garis yang menjadi silsilah kelahiran Mesias.

Bahaya (I Sam. 14:24-29; 18-20)
Yonatan tahu akan pikiran jahat ayahnya. Dalam I Samuel 14:24-29, kita baca kalau Yonatan, walaupun hormat terhadap posisi ayahnya dan hubungan genetik yang ada, memilih untuk membuat keputusan sendiri. Dia tidak menunjukkan omelan yang terbuka atau penghinaan, tetapi dia mengambil keputusan sendiri dan menerima omelan ketika pilihannya mempunyai akibat yang tidak baik.
Saul adalah seorang yang berbahaya, banyak berpikir, dan berencana. Sebagaimana kita mempelajari Yonatan, kita lihat “kalau apel tidak jatuh jauh dari pohonnya.” Perhatikan bagaimana Yonatan memilih untuk meninggalkan pasukan perang orang Israel dan menyerang Filistin dengan dirinya sendiri. Dengarkan kesombongannya ketika ia mempertanyakan kepemimpinan ayahnya. Pikirkan bahaya yang Yonatan taruh pada dirinya sendirinya ketika ia memulai hubungan dengan Daud. Dia sama seperti bapaknya. Akan tetapi, sebelum kita menganggap dia sebagai orang yang tidak baik lainnya dalam Akitab, marilah kita mengidentifikasikan penyebab-penyebab yang adalah di belakang perencananya.
Kepala dan hati Yonatan berada di tempat yang benar. Ia sepertinya mengerti kalau ayahnya tidak melakukan pekerjaan yang sebenarnya sebagai seorang raja. Yonatan adalah seorang yang loyal juga mementingkan diri sendiri – bahkan berbahaya bagi seorang muda yang berada di posisinya saat itu. Buku I Samuel menceritakan kemarahan dan kejengkelan Saul terhadap Daud, demikian juga dengan hubungan antara Yonatan dan Daud. Sepertinya Yonatan mempunyai alas an cukup untuk merancang perencanaannya sendiri.
Perebutan kekuasaan antara ayah dan anak meningkat demikian juga tingkat bahaya terhadap Daud. Yonatan menunjukkan warna sebenarnya sebagai seorang pahlawan dalam Alkitab ketika dia menghormati Daud sebagai raja Israel yang diurapi. “janganlah nama Yonatan terhapus dari keturunan Daud, melainkan kiranya Tuhan menuntut balas dari pada musuh-musuh Daud.” (I Samuel 20:16).

Takdir (I Samuel 23; 31:1-7; II Samuel 1)
Kematian Yonatan bukanlah hal yang menggairahkan. Akan tetapi, oleh karena persahabatannya dengan Daud dan janji yang dibuat antara kedua sahabat ini, namanya tetap hidup dalam rumah Daud melalui anaknya, Mefiboset.
Kenangan akan Yonatan ada dalam dua bagian. Yang pertama ketika Daud meratapi kematian Yonatan (II Samuel I), “ ‘Bagaimana pahlawan itu mati…” Daud menangis sebagaimana hatinya sedih atas kematian temannya di medan peperangan.
Kedua, dan hal yang sangat dalam dilihat dalam cerita Mefiboset. Setelah menjadi raja, Daud mau menunjukkan hormat dan terimakasih kepada Yonatan – tradisi ketika seseorang kehilangan seorang sahabat. Ia dengar akan Mefiboset, anak dari Yonatan. Mefiboset telah berumur 5 tahun ketika ia mendengar berita akan kematian ayah dan kakeknya di istana. Berlari ke tempat yang lebih aman dengan anak ini, perawatnya jatuh di atasnya dan melumpuhkan kakinya. Inilah keadaanya sewaktu Daud mendapatinya.
Bayangkan kekhawatiran Mefiboset ketika mendengar kalau Raja Daud mencarinya, seorang keturunan Saul. Juga bayangkan kekagetannya ketika Daud mengundangnya ke istana dan makan di meja raja. Cerita pendek dalam Alkitab ini mempunyai implikasi yang sangat besar. Yonatan telah pergi, tetapi anaknya tetap hidup di istana bersama Daud.
Persahabatan Yonatan dengan Daud menentang pendiktean atas kesetiaan DNA; kelakuannya membuktikan bahwa ia mempunyai pengalaman yang berbahaya, dan yakin akan kemampuan dan pilihannya; dan takdirnya, walaupun jauh dari menjadi seorang raja, tetap menggetar semua zaman dengan satu cerita akan kehormatan dan persahabatan.

REAKSI
1. Dalam cara apakah anda dapat mengidentifikasikan hal-hal Yonatan dalam loyalitas dan kesetiaan? Apakah darah memang lebih tebal dari air pada kisah ini? Jelaskan.
2. Apakah persahabatan yang ada mengatakan akan siapa saudara?

Julene Duerksen-Kapao, Palmerston North, Selandia Baru

Selasa
19 Oktober
Kesaksian
Menjadi alat di tanganNYA I Sam. 13:1-13; 14:6

“Oleh karena dosa Saul dalam korban bakarannya, Tuhan tidak akan memberinya kehormatan untuk menaklukan orang Filistin. Yonatan, anak raja, seorang yang takut akan Tuhan, telah dipilih sebagai satu alat untuk menyelamatkan Israel. Digerakkan oleh tuntunan Maha Kuasa, ia mengusulkan kepada pembawa senjatanya untuk membuat satu penyerangan rahasia di perkemahan musuh ….”1

Dalam pandangan luar, perbuatan mereka gegabah

“Bersama-sama kami meninggalkan perkembahan, supaya tujuan mereka dilawan. Dengan doa sungguh-sungguh kepada Penuntun, mereka setuju akan tanda yang memastikan bagaimana untuk maju …. Mendekati benteng orang Filistin, mereka ditunjukkan dengan pandangan akan musuh mereka, yang berkata sambil mengejek, “Perhatikan, orang-orang Ibrani telah keluar dari lubang-lubang persembunyian mereka,” dan menantang mereka, “Datanglah kemari, dan kita akan menunjukkan satu hal,’ yang berarti mereka akan membunuh kedua orang Israel ini atas keberaniannya. Tantangan ini merupakan satu hal yang Yonatan dan temannya setuju untuk menerima sebagai bukti bahwa Tuhan memberkati usaha mereka. Setelah lewat dari pandangan orang Filistin, dan memilih jalan rahasia dan sulit, pejuang ini sampai di atas bukit yang sebelumnya tidak dapat dicapai, dan tidak dijaga secara ketat. Oleh karena itu mereka telah menerobos perkemahan musuh dan membunuh pengawal, yang kaget dan takut, dan tidak bisa melawan.”2
“Kedua pejuang ini membuktikan kalau mereka maju atas tuntunan dan perintah seorang jendral yang lebih dari manusia. Dalam pandangan luar, perbuatan mereka gegabah, dan bertolak pandang dengan peraturan militer. Tetapi perbuatan Yonatan tidak berdasarkan perbuatan gegabah manusia. Dia tidak bergantung pada dirinya dan prajurit pembawa senjatanya, ia adalah alat yang Tuhan gunakan atas nama bangsa Israel.”3
“Bila kebaikan, kemurnian, kelemah lembutan, kerendahan hati, dan integritas tinggal di dalam hati, ia akan memancar dalam perbuatan, dan karakter tersebut adalah kekuatan yang penuh. Bukan alat, tetapi Pekerja keras yang dengan tanganNya alat itu digunakan, menerima kemuliaan. Hati diisi penuh dengan kasih Penyelemat, setiap hari menerima kasih karunia yang diberikan. Kehidupan menunjukkan kuasa penebusan dari kebenaran tersebut.”4

REAKSI
1. Hal penting apa dari karakter Yonatan yang membuatnya dapat digunakan Tuhan secara efektif?
2. Bila kita dapat mempengaruhi orang lain dan membagi kasih karunia dengan mereka, dimanakah patutnya fokus kita?

1. Conflict and Courage, p. 152.
2. Idem
3. Idem
4. In Heavenly Places, p. 237.

Glenda Higgins, Palmerston North, Selandia Baru

Rabu
20 Oktober

Luk 22:31; Roma 15:4, 5; 2 Kor. 8:9 Bagaimana
Yesus di dalam Yonatan

Dalam kehidupannya, Yonatan member kita satu gambaran akan persahabatan benar, dan dengan melakukan itu, member kita pandangan loyalitas dan dedikasi bagi Dia yang memanggil kita teman-temanNya. Untuk dapat membentuk persahabatan yang bertitik-tengah di Kristus kepada orang lain, dan memancarkan karakter yang Yesus tunjukkan dalam kehidupanNya, kita perlu untuk:
Menyampingkan posisi: I Samuel 18:1-4 mengulang kembali ide bahwa Yonatan mengasihi Daud sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri. Ini menuntun kepada perjanjian antara mereka berdua. Tetapi ebih dari itu, ini menuntun Yonatan untuk memberi jubahnya, pedang, panah, dan ikat pinggang kepada Daud. Yonatan adalah penerus tahta kerajaan yang sah, tetapi dengan member jubah dan senjata kepada Daud, secara symbol ia menunjukkan kalau ia mau menyerahkan haknya supaya Daud dapat dimahkotai. Yesus sendiri menyerahkan posisiNya di sebelah kanan Bapa supaya kita, manusia, dapat diangkat menjadi warga negara kerajaan surga.

Apakah saudara pernah merasakan seperti telah terbebas melewati padang pasir?

Mengambil Tanggung Jawab untuk Satu dengan yang Lainnya: Kita melihat sisi beda dari persahabatan Yonatan dalam I Samuel 19:1-6. Saul sedang berencana untuk membunuh Daud, tetapi Yonatan datang ke Daud, mengambil tanggung jawab dan memohon supaya hidupnya disisakan. Bahkan dalam kehidupan Kristus di dunia, kita melihat pengambilan tanggung jawab Yesus bagi orang lain. Dan pada hari ini, Ia juga mengambil tanggung jawab untuk kita di surge.
Menguatkan Mereka di Padang Belantara: Setelah bebas keluar dari padang belantara Ziph, Daud belajar bahwa Saul mencari untuk membunuhnya. Apakah saudara pernah merasakan seperti telah terbebas melewati padang belantara atau padang pasir? Dan Allah diam dan cobaan dalam hidup sepertinya tidak dapat dipikul lagi? Gambaran ini dapat kita lihat dalam I Samuel 23:15-18 ketika Yonatan melewati hutan belantara untuk mencari dan menguatkan Daud. Suatu pandangan indah yang kita punya akan Kristus dan kekuatanNya untuk kita melalui Kristus dalam saat pencobaan.
Seperti Yonatan, kita perlu mengingatkan mereka di hutan belantara akan karakter iman Kristus dalam membawa janji-janji yang Ia berikan melewati pekabaranNya. Yonatan siap mengambil tanggung jawab, menguatkan, dan menyerahkan haknya untuk seorang sahabat. Yesus melakukan segala sesuatu untuk kita; dan kita dipanggil untuk menunjukkan persahabatan yang sama bagi sesama kita.

REAKSI
Bagaimana karakter Yesus ditunjukkan dalam persahabatan kita dengan orang lain?

Tamar Paul, Palmerston North, Selandia Baru

Kamis
21 Oktober

Pendapat
Sahabat sampai ke kekalan 1 Sam. 13:13, 14; 18:1–4; Yoh 15:13

Bertumbuh sebagai seorang kembar bukanlah hal yang mudah. Ada saat-saat ketika menjadi favorit masyarakat, ditunjukkan akan persamaan dan perbedaan, dan terus-menerus ditunjukkan akan perbedaan karakter. Walaupun demikian, saya tetap mempunyai seorang teman. Sekarang saya hidup jauh dari kembaran saya, saya ingat akan pengaruh kembaran saya dalam hidup saya. Ia selalu memberi kasihnya yang penuh, dengan kemauan hati, dan tidak bersyarat.
Saudara juga mungkin pernah mengenal orang-orang dalam hidup yang saudara rasa sangat dekat, yang mana persahabatan ini mengingatkan kembali akan Yonatan dan kasih yang tidak tertahan dan persahabatannya dengan Daud.

Persahabatan yang benar yang tahan melalui liku-liku hidup sangat jarang

Yonatan adalah seorang pangeran – seorang yang berkuasa, kuat, berani, dan punya tujuan. Ia percaya dan kasih pada Tuhan dan selalu menerima tuntunan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan telah memilih Daud sebagai seorang raja; tetapi Yonatan di samping menimbulkan rasa benci dan amarah kepada Daud, ia menunjukkan loyalitasnya kepada Daud, juga hormat, dan komitmen. Yonatan tertarik pada keberanian Daud dan imannya pada Tuhan. Menyampingkan rasa marah, iri, dan cinta akan kuasa, ia merendahkan dirinya di hadapan Daud – bahkan mengambil tanggung jawab untuk menjaga Daud. Banyak hal yang dapat menghancurkan persahabatan mereka, tetapi kasih yang ia punya terhadap Daud dan penurutan kepada Allah membuat persahabatan lebih erat.
Persahabatan yang benar yang tahan melalui liku-liku hidup sangat jarang. Bahkan yang tahan seumur hidup. Adalah satu hari yang indah ketika Yonatan dan Daud disatukan kembali di surge. Persahabatan ini adalah contoh persahabatan kekal Allah Bapa dengan Yesus Kristus. Persahabatan Allah selalu hadir dan ada bagi kita. Tuhan menunggu untuk mempunyai persahabatan erat dengan saudara. Ia akan tetap loyal dan melindungi saudara dari bahaya dan ketakutan. Merupakan hal yang susah untuk percaya kepada orang lain, karena kerakusan dan kepentingan diri sendiri. Akan tetapi, Yesus mengatakan bagi murid-muridNya, “ ‘Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memerikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.’ “ (Yoh 15:13).
Adalah satu berkat untuk mempunyai satu persahabatan yang melewati berbagai macam cobaan, penuh dengan kasih, percaya, loyalitas, komitmen, hormat, dan kekaguman.

REAKSI
1. Dalam hal apakah Yesus berjuang untuk menjadi bagian dari hidup kita? Mengapa Ia mau kita menjadi temannya yang kekal?
2. Bagaimanakah kita dapat memenuhi peran kita sebagai seorang teman yang benar?
3. Bagaimanakah situs sosial di dunia maya seperti Facebook atau Twitter dapat menolong kita meningkatkan persahabatan yang benar? Bagaimanakah mereka dapat berkerja menentang persahabatan?

Juliana Henry, Palmerston North, Selandia Baru

Jum’at
22 Oktober
Eksplorasi
Lebih Dekat Dari Saudara 1 Samuel 13:1—13; 18:1

SIMPULKAN
Pangeran Yonatan bertemu dengan anak termuda dari keluarga Isai, gembala domba menjadi seorang tentara dalam satu malam, dan sesuatu terjadi. Yonatan adalah juga seorang pahlawan, tetapi hal terbesar yang kedua-duanya punya adalah ketaatan kuat kepada Tuhan. Oleh karena persahabatannya dengan Daud, Yonatan bentrok dengan ayahnya. Ini adalah bukti bagi Saul dan Yonatan bahwa Daud telah ditunjuk untuk berada di atas tahta, tetapi ini tidak menimbulkan rasa iri dalam hati Yonatan seperti yang timbul dalam hati ayahnya. Yonatan dengan rendah hati menerima rencana Tuhan untuk membuat Daud menjadi seorang raja, dan menyokong dan menguatkan Daud dalam masa hidupnya.

PIKIRKAN
- Menulis persahabatan yang paling indah dalam hidup saudara. Ceritakan bagaimana persahabatan ini tumbuh. Apakah saudara pernah memilih antara teman dan hal-hal lain dalam hidup saudara? Bagaimanakah persahabatan saudara merubah hidup saudara?
- Mengingat kembali teman-teman yang Yesus kasihi di Betani (Lukas 10:38-42; Yoh 11:1-44). Apakah yang harus dibuat dalam rumah ini? Apakah yang saudara dapat lakukan untuk menjadi teman dengan pendeta dan guru saudara?
- Meluangkan waktu santai dengan Yesus. Apakah yang dapat saudara lakukan? Luangkanlah waktu dengan Yesus sebagai seorang teman dalam minggu yang akan datang.
- Mencari teman-teman lama yang sudah tidak berkomunikasi dalam tahun-tahun akhir ini. Kirimkanlah satu kartu atau email. Lebih baik, menelpon mereka.
- Mengundang seseorang yang saudara kenal lagi sendirian dalam aktivitas di alam seperti camping atau hiking.

HUBUNGKAN
Patriarchs and Prophets (Para Rasul dan Nabi), pp. 649, 652–660, 713; My Life Today (Hidup Saya Hari Ini), pp. 210.

Cheryl Des Jarlais, Ronan, Montana, Amerika Serikat

SSCQ Pelajaran 3 Kwartal IV 2010

Latar Belakang dan Karakter dalam Perjanjian Lama
Hanna: Belajar Menjadi Seseorang
Pelajaran Ketiga Kwartal 4,
9—16 Oktober 2010
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian

“Lalu berdoalah Hana, katanya: "Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu. Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita” (1 Sam. 2:1, 2)


Sabbath
9 Oktober
1 Samuel 1; 2:1–26 Pendahuluan
Mendefinisikan Diri Sendiri Melalui Allah

Perhatikan perumpamaan ini. Seorang pria berjalan masuk ke gereja suatu Sabat pagi. Dia berpakaian sederhana dan bersih. Dia berjalan melewati penerima tamu dan berjalan sepanjang gang ke mimbar didepan gereja. Kemudian dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan segepok uang tunai. Dia memberikan uang ini kepada pendeta, menerangkan bahwa selama bertahun-tahun dia telah ingin memenangkan lotere. Dia baru saja tahu bahwa dengan melakukannya hidupnya akan jauh lebih mudah. Kemudian pada suatu malam dia berdoa bahwa jika dia menang lotere, dia akan memberikan semua kemenangannya kepada gereja.

Hanna . . . . . langsung tenang dan percaya

Seberapa jauh imanmu akan diuji? Apakah anda, seperti Abraham, diminta untuk mengorbankan putra tunggalmu? Apakah anda seperti Ayub, harta dan anak-anakmu diambil darimu? Atau seperti Hanna? Dia adalah orang yang baik; dan percaya akan Allah yang esa. Dia juga adalah orang yang merasa tidak ada gunanya karena tidak mempunyai anak. Sementara dia berdoa di kaabah untuk mendapatkan anak, air mata meleleh dipipinya. Nafasnya keluar masuk satu persatu. Walaupun mulutnya komat-kamit, tak ada kata-kata yang keluar. Faktanya, imam Eli menganggap dia mabuk. Pada saat dia menerangkan kepada imam Eli apa yang dia doakan, imam menjawab dengan mengatakan, “Pulanglah dengan damai, Allah Israel akan mengabulkan apa yang engkau pinta” (1 Samuel 1:17). Segera, Hanna tahu bahwa Allah telah mendengar dia.
Satu hal yang membuat cerita Hanna berbeda dari Abraham dan Ayub adalah Hanna mengatakan kepada Allah pengorbanan apa yang rela dilakukannya. Dalam kasus Abraham, Allah mengatakan kepadanya untuk mengorbankan putranya. Dalam situasi Ayub, Allah mengizinkan harta milik dan anak-anaknya diambil. Hanna, berbeda, menawarkan untuk memberikan putranya kembali kepada Allah. Hal lain yang menarik tentang Hanna adalah setelah imam Eli mengatakan kepadanya untuk pulang dengan damai, dia langsung tenang dan percaya. Dia tidak bertanya secara rinci kepada Eli. Dia langsung pulang dan tidak lagi bersedih. Imannya dihargai dengan kelahiran Samuel; dan dia menepati janjinya kepada Allah. Segera setelah Samuel cukup umur untuk dipisahkan daripadanya, dia membawanya ke kaabah. Setelah Samuel, Allah memberkatinya dengan beberapa orang anak lagi.
Sementara kita mempelajari cerita Hanna minggu ini, marilah kita juga belajar bagaimana mendefinisikan diri kita sendiri melalui Allah

Andrea Jackson, Bishop, California, U.S.A.

Minggu
10 Oktober
Logos
Mengembalikan Hadiah 1 Samuel 1; 2:1–11, 21; 2:12, 13; Maz. 46:1, 10; Matt. 6:19, 20; Mark 14:32–44; Lukas 12:16–21

Percaya dan Dedikasi (1 Samuel 1; 2:1—11, 21)
Anda mungkin menyebut ini adalah suatu keluarga khusus pada waktu itu. Seorang pria, Elkana, dengan dua orang istri, Penina dan Hanna. Alkitab mengatakan bahwa Elkana lebih sayang kepada Penina, mungkin karena dia memberinya anak, tetapi dia mengasihi Hanna, yang belum memberikannya anak. Pokok cerita dalam lakon ini adalah Hanna, yang selalu dihina oleh Penina akan ketidak mampuannya mempunyai anak. Cerita ini tidak secara khusus bercerita tentang kekurangan tipe struktur keluarga ini. Cerita ini lebih kepada iman Hanna kepada Allah. Ceritanya mengingatkan kita akan DIA yang dapat kita datangi apabila tidak ada seorangpun tempat memohon pertolongan. Cerita ini mengajarkan kita akan pentingnya menepati janji yang kita buat kepada Allah. Dan cerita ini menunjukan agar kita mau dan rela mendedikasikan semua yang kita miliki kepada Allah yang memberikan segalanya kepada kita.

Dalam waktu-waktu tergelap hidup kita, sahabat terbaik yang dapat kita miliki adalah Yesus

Sahabat Terbaik (1 Sam. 2:12, 13; Mazmur. 46:1, 10)
Ada kalanya bahkan sahabat terdekat kita—saudari, saudara, anak-anak, orang tua, pasangan hidup—tidak dapat memberikan kata-kata penghiburan yang kita perlukan pada saat hati kita sakit. Bahkan, kata-kata seorang sahabat dapat memperparah kemarahan kita. Dalam situasi yang kecewa, kadangkala satu-satunya hal yang dapat dilakukan sahabat terbaik adalah tinggal diam.
Sahabat Ayub pada mulanya menyadari akan hal ini. Tetapi pada waktu akhirnya mereka berbicara kepada Ayub, kata-kata mereka lebih memperparah kesedihannya. Elkana juga tidak mengerti pada waktu dia bertanya kepada Hanna,”bukankah aku lebih berharga kepadamu dari seorang putra?” (1 Sam. 1:8). Jawaban Hanna adalah berbicara kepada Satu-satunya Dia yang benar-benar mau mendengar dia.
Bahakn imam Eli sekalipun tidak menyadari akan hati yang terluka ini. Sama seperti teman-teman Ayub, dia menegur Hanna sebagai orang berdosa yang tidak layak menghadap Allah. Tetapi dengan roh yang tenang dan lemah lembut, Hanna menjawab Imam Besar, yang, digerakan oleh Roh Kudus, meneguhkan persetujuan Allah akan permohonannya.
Bacalah Mazmur 46:1. Dalam waktu-waktu tergelap hidup kita, sahabat terbaik yang dapat kita miliki adalah Yesus. Hanya Dia yang memberikan jawaban dan menyembuhkan apa yang dirindukan hati yang menderita. Apa yang kita perlukan adalah melepaskan masalah itu dan membiarkan Allah menyelesaikannya.

Berpegang kepada Apa yang Penting (Matt. 6:19, 20)
Filantropis menyebutnya “pemberian charity”. Orang Kristen menyebutnya “mengembalikan”. Menyadari bahwa Allah lah yang telah memberikan segala sesuatunya kepada kita sehingga kita berdedikasi untuk mengembalikannya kepada Dia. Orang Kristen yang tulus mengalami kesukaan yang lebih besar dalam memberi darpada menerima. Hanna senang pada waktu dia melahirkan seorang putra. Tetapi hal ini tidak sebanding dengan kesukaannya pada waktu dia memberikan Samuel kepada Eli agar putranya dapat melayani Tuhan. Bacalah 1 Samuel 2:1.
Allah tidak semakin kaya dengan pemberian kita. Gantinya, pemberian kita yang tidak mementingkan diri sendirilah yang membuat kita lebih dekat kepada si Pemberi Hadiah. Kerelaan kita untuk terus menerus memberi membantu kita untuk menyempurnakan karakter ke Kristenan kita. “Meletakan harta di sorga akan memberikan kita kemuliaan karakter; akan memperteguh kebajikan; mendorong belas kasihan; menumbuhkan simpati, kebajikan persaudaraan, dan charity.”*
Pemberian yang dipersyaratkan Allah bukanlah uang ekstra atau waktu kita yang tak berguna. Pemberian seperti Hanna, yang secara rela mengembalikan kepada Tuhan apa yang paling diinginkannya di dunia ini.

Jangan Terlampau Bersedih (Lukas 12:15–21; 21:1, 2)
Hanya Tuhan saja yang kadangkala mengizinkan seseorang mendapat lebih banyak dan yang lain lebih sedikit. Tidak peduli berapa banyak atau sedikit yang kita kumpulkan, kita semuanya mempunyai tanggung jawab yang sama.
Pada waktu Yesus duduk di kaabah pada suatu hari, Dia mengamati orang Yahudi memberikan persembahan di kaabah. Pertama datanglah orang yang kaya yang memberikan persembahan yang banyak. Kemudian datanglah seorang janda, yang hanya memberikan dua picis. Bacalah apa yang dikatakan Yesus tentang kedua bentuk persembahan ini dalam Lukas 21:1, 2. Yesus menginginkan murid-muridNya mengerti bahwa bukan nilai dunia persembahan kita yang menunjukan kasih kita kepada Allah. Gantinya, kerelaan kita untuk mengembalikan semua yang telah diberikanNya yang membuat Dia bersuka.
Sebagai perbandingan akan janda itu, Yesus menceritakan suatu cerita orang kaya yang bodoh yang diberkati luarbiasa sekali. Gantinya mengembalikan kepada Allah bahkan sebagian saja, dia memilih untuk membangun gudang yang lebih besar untuk menyimpan hartanya agar semua orang dapat melihat seberapa suksenya dia. “Tetapi Allah mengatakan kepadanya, “: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (Lukas 12:20). Maksud Yesus adalah: orang yang menumpuk segalanya untuk dirinya sendiri tidak akan mempunyai tempat di kerajaanNYA. Penina adalah seperti orang kaya yang bodoh. Dia diberkati dengan banyak anak. Tetapi, gantinya mendedikasikan anak-anaknya untuk pelayanan Tuhan, dia memilih untuk menggunakannya merendahkan Hanna. Dilain pihak Hanna yang sama seperti janda dalam Lukas 12. Dia memilih untuk mengembalikan semua yang telah diberikan Allah. Roh yang tidak mementingkan diri inilah yang membuat dia berharga dimata Allah.

REAKSI
1. Kenapa Allah menangguhkan memberi Hanna anak sampai dia sedemikian berdukanya?
2. Apakah anda pernah berdoa untuk menerima sesuatu agar dapat memberikannya kepada orang lain? Kenapa ya dan kenapa tidak?
____________
*Our High Calling, p. 195.

Melvin Tolson, Brampton, Ontario, Canada

Senin
11 Oktober
Kesaksian
Berhubungan Dengan Hanna 1 Samuel 1

“Kemudian istri kedua, dibakar oleh kecemburuan, mengklaim presedens itu sebagai bukti disenangi Allah, dan menghina Hanna yang tanpa anak sebagai bukti ketidak senangan Tuhan. Hal ini diulangi tahun demi tahun, sampai Hanna tidak dapat menanggungnya lagi. Tak mampu menyembunyikan kesediahannya, dia menangis tanpa berkeputusan, dan menghindar dari pesta. Suaminya berusaha keras menghiburnya. ‘Kenapa menangis? Dan kenapa tidak makan? Dan apa yang menyedihkanmu?’ katanya; ‘bukankah aku lebih baik daripada sepuluh putra?’

dia membuat suatu sumpah suci . . . . . . . . . akan mendedikasikan anaknya bagi Allah, bahkan sejak sedari kecil

“Hanna tidak mengucapkan apa-apa. Beban yang tidak dapat dibagikannya kepada sahabat duniawinya dia tumpahkan kepada Allah. Dengan sungguh-sungguh dia memohon agar DIA mengambil kegundahannya dan menganugrahinya hadiah berharga seorang putra yang akan dididik dan diajar untuk melayaniNYA. Dan dia membuat suatu sumpah suci bahwa jika permohonannya dikabulkan, dia akan mendedikasikan anaknya bagi Allah, bahkan sejak sedari kecil. Hanna tiba didepan pintu kaabah, dan dalam kesedihan hatinya dia ‘berdoa, . . . . . dan menangis sendu.’ Tetapi dia bersekutu dengan Allah dalam kesunyiannya, tidak bersuara. Dalam zaman jahat seperti itu pemandangan perbaktian seperti itu amat jarang sekali terlihat. Pesta yang tak menghormati Tuhan dan bahkan mabuk-mabukan bukanlah hal yang aneh, bahkan pada upacara keagamaan; dan Eli imam besar, mengamati Hanna, menyangka dia dipengaruhi anggur. Berpikir untuk memberikan teguran, dia berkata dengan tegas, ‘Berapa lama lagi kamu akan mabuk? Campakan anggurmu.’?
“Terluka dan terkejut, Hanna menjawab dengan lemah lembut, ‘Saya tidak mabuk ataupun minum alkohol, tetapi menumpahkan jiwaku kepada Tuhan. Janganlah menganggap hambamu ini sebagai putri Belial: karena dari kedukaan yang sangat dan kesedihan yang luarbiasalah aku datang berbicara disini.’
“Imam besar amat tergugah, karena dia adalah hamba Allah; dan gantinya menegur dia mengucapkan berkat: ‘Pulanglah dengan damai: dan Allah Israel akan mengabulkan apa yang engkau pinta.’
“Doa Hanna dikabulkan; dia menerima hadiah yang amat diidam-idamkannya. Sementara dia memandangi anak itu, dia menamainya Samuel—‘diminta dari Allah.’ Sesegera mungkin anak kecil itu cukup besar untuk dipisahkan dari ibunya, Hanna memenuhi sumpahnya.”*

REAKSI
Pernahkah anda merasa bahwa Allah tidak mengasihimu sebanyak orang lain karena mereka mempunyai lebih banyak daripadamu?
____________
*Patriarchs and Prophets, pp. 569–571.

Jeff Jackson, Bishop, California, U.S.A.

Selasa
12 Oktober
Bukti
Kondisi Bangsa 1 Sam. 1:13, 14

Cerita Hanna terjadi beberapa saat setelah buku Hakim-hakim, pada “saat tidak ada raja di Israel,” dan “semua orang melakukan apa yang baik dipandangan mata mereka” (Hakim-hakim 21:25). Masyarakat pada saat itu menganggap poligami adalah hal yang dapat diterima—khususnya bila sipria cukup kaya untuk mempunyai lebih dari satu istri. Israel mengikuti praktek ini. Hal bahkan sampai pada Elkana, seorang Lewi dan imam Tuhan—mempunyai dua orang istri. Walaupuh Hanna tidak mempunyai anak, dia adalah istri favorit Elkana. Jadi dia diolok-olok Pennina, istri kedua. Pada saat Elkana memberikan perhatian dan kasih sayang lebih kepada Hanna, penghinaan itu semakin menjadi-jadi, sampai suatu hari, bahkan merusak pesta Paskah.

Putra-putra Eli ini terkenal tukang korupsi

Walaupun Elkana tidak mengikuti instruksi ideal Allah untuk pernikahan, dia adalah iman yang setia dan orang yang rohani. Dalam iklim kejahatan dan korupsi, dia mengambil posisinya dengan serius dan hidup untuk menjadi pengantara atas nama umat. Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk Hopni dan Pinehas. Putra-putra Eli ini terkenal tukang korupsi. Mereka mencurangi umat dan melakukan imoralitas seksual didalam kaabah (1 Samuel 2:11-25). Hopni dan Pinehas tidak cocok untuk menjadi pengantara umat Israel. “Sejak sedari anak-anak mereka telah terbiasa dengan upacara di kaabah; tetapi gantinya menjadi hormat, mereka kehilangan semua rasa kesucian dan pentingnya acara kaabah.”1
Kejahatan putra-putra Eli amat terkenal. Ditambah pula dengan pencampur adukan praktek keagamaan dari bangsa lain kedalam upacara kaabah. Jadi tidak heran bahwa pada saat Eli melihat bibir Hanna komat-kamit tetapi tidak ada suara terdengar, dia mengasumsikan Hanna mabuk. Dia segera menegurnya karena tidak bisa berhenti minum pada waktu masuk ke kaabah Allah. Hanna mencurahkan hatinya kepada Allah pada saat-saat krisis pribadinya, dan Allah meneguhkan kepadanya melalui imam yang tidak sempurna bahwa doanya bukan hanya didengar tetapi juga dijawab.

REAKSI
1. Hal-hal apa yang kita sebagai orang Kristen “anggap benar dimata kita”?
2. Dengan mempertimbangkan segala sesuatu yang berjalan salah di duia ini, apakah Allah punya perhatian kepada kebutuhan kita? Terangkan.
3. Pertimbangkan pandanganmu akan upacara gerejani. Pernahkah anda dalam cara apapun “kehilangan rasa kesucian dan maknanya”?
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 575.
2. The SDA Bible Commentary, vol. 2, p. 455.

Geddes Stewart, Pickering, Ontario, Canada

Rabu
13 Oktober

1 Sam. 1:1, 2; 2:1–11, 19–21 Bagaimana
Model Utama Kita: Hanna

Walaupun cerita Hanna terjadi ribuan tahun lalu, kita masih dapat mengambil pelajaran darinya. Sejak zaman awal, manusia telah mengalami masa susah dan merasakan tidak ada pengharapan. Hanna merasakan seperti itu. Tetapi, dia tidak hanya duduk disitu seperti kebanyakan yang kita lakukan. Dia membawa masalahnya kepada Allah. Pada saat sekarang, kita akan membahas bagaimana menghadapi masa sulit dengan model yang diberikan Hanna kepada kita.

Allah akan selalu menyediakan jalan bagi kita untuk hidup dalam damai

Permasalahan. Elkana punya dua istri, Hanna dan Penina. Penina punya anak, tetapi Hanna tidak. Pada masa itu, merupakan suatu aib bagi seorang perempuan untuk tidak punya putra, apalagi tidak punya anak sama sekali. Karenanya, Hanna merasa seolah-olah dia tidak berharga.
Solusi Hanna. Dia menyadari bahwa meratapi kemalangannya tidak akan memecahkan masalah. Jadi dia memutuskan untuk membicarakan hal ini kepada Allah. Dia membuat suatu perjanjian dengan Allah, mengatakan kepadaNYA bahwa jika dia diberkati dengan seorang anak, dia akan mendedikasikan dirinya dan anak itu untuk tujuan melayani Tuhan.
Hasilnya. Allah mendengar doa Hanna dan memberkati dia dengan seorang anak yang dinamainya Samuel.
Respon. Hannya membawa Samuel ke kaabah dan mendedikasikannya kepada Tuhan. Dia mengucap syukur dengan doa. Doa-doa ini menunjukan aspek kunci tentang Allah: (1) Dia layak mendapatkan semua pujian kita. (2). Kita tak berdaya tanpa Dia. (3). Allah memberikan kepada orang yang setia kepadaNYA. (4). Tuhan yang tahu akan awal dan akhir. Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. (5). Dia memberikan kebahagiaan dan kekuatan bagi mereka yang rela menerimanya. (6). Musuh/perjugangan terbesar kita tidak akan dapat mengalahkan kita jika kita percaya dan berpegang kepada Allah. (7). Allah tidak pernah menjanjikan bahwa hidup akan mudah. Tetapi Dia berjanji bahwa Dia akan selalu disana jika kita berseru kepadaNYA. Sama seperti Hanna, hidup tidak akan pernah lepas dari ke-takberdayaan, tak berguna, lelah, lemah, dan tertekan. Gantinya membiarkan masalah kita menguasai kita, kita perlu meminta Tuhan melepaskan kita dari situasi kita. Allah akan selalu menyediakan jalan bagi kita untuk hidup dalam damai. Apa yang dimintanya dari kita hanyalah kita dengan penuh syukur hidup sebagai saksi akan kuasaNYA.
Lakukan. Berdoalah setiap pagi untuk kelepasan dari situasimu, dan dedikasikan hidupmu bagi Allah.

REAKSI:
1. Apa pergumulan anda?
2. Bagaimana Hanna memberi anda inspirasi?
3. Apa yang dapat anda lakukan bagi Allah?

Kymberly Tolson, Brampton, Ontario, Canada

Kamis
14 Oktober
1 Samuel 1:1–19, 1 Korintus 12
Pendapat
Bersinar di Latar Belakang

Sebagai anak kecil yang berumur sepuluh atau sebelas tahun, Joel tidak mengetahui apa yang ada didepannya. Dia hanya tahu bahwa dia menyenangi kamera, jadi dia akan menghabiskan waktu akhir pekannya menyiapkan peralatan itu siap untuk acara gereja. Pada waktu remaja, Joel bekerja dibelakang kamera selama acara perbaktian. Mungkin tidak disadai olehnya pada waktu berumur seperti itu, bahwa suatu hari berdiri didepan kamera, mengkhotbahnkan suatu pekabaran kasih Allah yang luarbiasa bukan hanya kepada jemaatnya di Gereja Lakewood tetapi juga kepada seluruh dunia.1

Anda akan bersinar kepada seluruh dunia

Kadangkala adalah mudah bagi kita untuk melupakan yang bekerja dibelakang layar. Tetapi pekerjaan mereka sama pentingnya dengan yang ada didepan layar. Dapatkan seorang pemenang acara musik mempunyai penampilan yang luarbiasa seperti itu tanpa pembantu dibelakang panggung? Dapatkah seorang penyanyi utama bernyanyi tanpa penyanyi latar ataupun band pengiring?
Allah masih mengakui orang-orang yang bekerja dibelakang, sama seperti Dia mengakui Hanna. Dia mungkin berada dibayang-bayang Penina, karena tidak mempunyai anak. Sementara dia mungkin merasa diabaikan dan dilupakan, Allah tidak melupakan dia. Dia mempunyai iman dan keberanian, mengetahui dalam hatinya bahwa Allah mempunyai rencana baginya.
Gereja mempunyai banyak peranan bagi orang Kristen untuk ambil bagian. Seringkali, kita sedemikian terpakunya dengan khotbah atau acara musik spesial sehingga kita lupa bahwa semuanya bukan tentang yang didepan. “Bagi setiap orang telah diberikan peran, dan tidak ada orang yang dapat menggantikan peran orang lain.”2 Masing-masing kita mempunyai peranan yang berbeda yang membuat kita mahir dalam hal itu. Kadangkala Allah menggunakan kita ditempat kita. Walaupun orang lain mungkin mengakui pekerjaan yang anda lakukan, Allah melihat; dan hadiahNYA jauh lebih besar dari apapun yang pernah dibayangkan diberikan oleh manusia.
Apabila digunakan, talenta yang telah diberikan Allah kepada masing-masing kita akan membantu gereja berjalan dengan efisien. Masing-masing kita mempunyai panggilan hidupnya. Apakah diatas panggung bernyanyi atau duduk dikursi dan memberikan salam dorongan kepadan pengunjung yang duduk disampingmu, anda melakukan pekerjaan Allah, dan terang akan memancar dari dalammu. Anda akan bersinar kepada seluruh dunia.

REAKSI
1. Bagaimana anda melayani orang lain sementara anda bekerja dilatar belakang?
2. Bagaimana anda menggunakan talentamu untuk memuliakan Allah?
____________
1. Joel Osteen, Become a Better You (New York: Simon and Schuster, 2007), pp. 72, 73.
2. Christian Service, p. 10.

Alexandra Yeboah, Brampton, Ontario, Canada

Jum’at
15 Oktober
Eksplorasi
Yang Kalah Mengambil Semuanya 1 Samuel 1

SIMPULKAN

Mimpi buruh Hanna dimulai dengan pemecahan pragmatis Elkana akan pernikahan tanpa anak: istri kedua. Didorong diluar batas yang ditanggungnya, Hanna menumpahkan permasalahannya, kepedihan, dan permohonan dikaabah hanya disalah mengerti sebagai mabuk. Tetapi, teguran berobah menjadi berkat. Hanna melahirkan seorang putra—suatu pemberian dari Allah. Setelah menerima hadiah itu, dia dengan rela, dengan gembira memberikan kembali putranya kepada Allah, mendedikasikannya bagi pelayanan Tuhan. Sikap Hanna yang tidak mementingkan diri membuat dia menjadi besar dihadapan Tuhan. Dengan kehilangan, dalam pandangan dunia, atau mengembalikan pemberian itu kembali kepada Allah, kita mengalami suatu kebahagiaan dan kepenuhan yang sebenarnya.


PERTIMBANGAN
• Guntinglah gambar-gambar dari majalah atau gunakan foto yang menunjukan emosi yang berbeda untuk menciptakan suatu “album emosi.” Pikirkan suatu kejadian pada saat anda mengalami emosi itu. Bagaimana reakasi anda? Dapatkah anda bereaksi berbeda? Bagaimana Allah cocok untuk untuk setiap rekasi emosional itu?
• Lakukan interview kepada beberapa orang dengan pertanyaan berikut: apa yang paling anda hargai? Dalam situasi apa anda rela memberikan hal itu kepada orang lain?
• Tuliskan dalam suatu kartu hal yang anda anggap paling berharga. Letakan kartu itu dalam kotak, dan bungkuslan kotak itu untuk menunjukan nilai isinya. Doakan, dan berikan hal yang paling berharga itu atau mimpi kepada Allah. Letakan kotak itu ditempat yang akan selalu mengingatkanmu akan hal itu.
• Pantulkan bagaimana perasaan setiap partisipan dalam pelajaran minggu ini. Beberapa kemungkinan emosi adalah: Elkana—suami yang mengasihi, ayah yang bangga; Hanna—dikasihi, disakiti, tertindas, bahagia; Eli—lemah tak berdaya; Penina—arogan, tak aman, menyakiti; Samuel—bahagia, sedih, percaya, mengasihi. Dengan teman-teman, lakukan peran itu atau pantomimkan bagaimana orang ini berinteraksi satu sama lain. Yang mana yang dapat anak kenali, dan kenapa?
• Dengarlah suatu lagu pujian, kemudian tulislah suatu lagu atau puisi akan pujian yang telah diberikan Allah kepadamu. Bagikan lagu atau puisimu kepada orang lain.
• Tulis email atau telepon seseorang yang bergumul dengan suatu masalah. Carilah jalan untuk membagikan janji-janji Allah kepada mereka yang berada dalam masa sulit.

HUBUNGKAN
Patriarchs and Prophets, chapter 55; Stuart Tyner, Grace Notes (Nampa, Id.: Pacific Press©, 2007); Mike Jones, Sometimes I Don’t Feel Like Praying (Nampa, Id.: Pacific Press©, 2008).

Audrey Andersson, Lindesberg, Sweden

SSCQ PElajaran 2 Kwartal IV 2010

Latar Belakang dan Karakter dalam Perjanjian Lama
Kaleb: Hidup Dalam Penantian
Pelajaran Kedua Kwartal 4,
2—9 Oktober 2010
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian


“Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan” (Mazmur 130:6, 7)



Sabbath
2 Oktober
Bilangan. 13:1–30; 14:1–38 Pendahuluan
Kaleb Si Pemberani

Apa yang membuat seseorang jadi pembarani? Apakah kekuasaan, harta milik, atau kepopuleran? “Apabila kekuasaan dapat melakukannya, Joseph Stalin tidak akan takut tidur pada malam hari, atau tidak akan sedemikian paranoid sehingga dia mesti menyediakan penjaga hanya untuk menjagi minuman tehnya! Jika harta dapat melakukannya, ketakuan tidak akan menyebabkan Milyarder, Howard Hughes, untuk hidup seperti marmut dan mati sendirian. Jika popularitas dapat melakukannya, penulis biografi John Lennon pastilah tidak akan menuliskan bahwa dia adalah seorang penakut yang tidur dan lampu dihidupkan dan amat ketakutan dengan kuman.”1

memang betul mereka adalah belalang

Keberanian yang sejati datang dari percaya sepenuhkan kepada Allah, yang memberikan kita kuasa terhadap musuh (Lukas 10:19) dan yang selalu menepati kata-kataNYA! Kaleb mengenal Allah. Itulah sumber keberaniannya. Pada saat kebanyakan orang mengambil jalan yang lain, Kaleb tetap pada keyakinannya dan mengabil pilihan yang berbeda. Dia sadar bahwa Allah ditambah yang lain, bahkan hanya satu, adalah suara mayoritas; sehingga terlepas dari laporan negatif yang diberikan oleh mata-mata lainnya, dia tetap teguh.
Kaleb mempunyai pengalaman melintasi Laut Merah. Dia menyaksikan bagaimana tentara Firaun tenggelam. Dia juga menyaksikan bagaimana air memancar dari batu dan minum dari mata air yang sama. Dia makan manna yang turun dari langit. Dia mengukur raksasa melawan Allah dan melihat bahwa mereka bukanlah lawannya! Bahkan memang betul mereka adalah belalang.
Kaleb dipersiapkan untuk menjadi—memimpin. Jawabannya adalah, “Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30). Orang ramai, masih terintimidasi oleh mahluk raksasa ini. Ketakutan mereka menjadi kepanikan, dan mereka ingin melempari batu pemimpin yang mendorong untuk tetap maju dengan iman. Tetapi, Kaleb memilih untuk maju terus dengan optimis, iman, dan keberanian.
Sementara kita fokus pada Kaleb sepanjang minggu ini, marilah kita renungkan bagaimana kita sebagai orang muda dapat mendemonstrasikan keberanian, gagah berani, dan beriman sementara kita menghadapi raksasa-raksasa dalam perjalanan kita.
____________
*Bob and Debby Gass, The Word for You Today (Feb.–Apr., 2004). Reconciliation Ministries, p. 56.

Shirley Roberts, Mount Rose, St. Patrick, Grenada, West Indies

Minggu
3 Oktober
Logos
Apa Yang Anda Lihat?. Bilangan 13, 14; Yosua 14

Dapatkah Kamu Memecahkan Sandi?
Membut kode secara rahasia adalah suatu persepsi dasar proses menterjemahkan stimulus yang datang. Hal ini mencakup ciri-ciri yang relevan dan mencampkan yang tidak relevan. Orang-orang yang berangkat bersama Joshua dan Kaleb untuk menyelidiki tanah tersebut tidaklah buta. Demikian pula Joshua dan Kaleb. Perbedaan antara kedua mata-mata ini dibanding yang lainnya adalah kemampuan mereka memecahkan sandi. Perhatikan apa yang dikatakan mata-mata dengan jumlah yang lebih banyaka: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat . . . . (Bilangan 13:27, 28). Kata penghubung “tetapi” mengalahkan semua yang sebelumnya dikatakan dan ditunjukan. Dengan kata lain, “Lupakan tentang susu dan madu; dan jangan lihat buah yang telah kami bawa.”
Syukurnya, Joshua dan Kaleb memandang orang dan hamparan tanah yang sama dan memberikan kesimpulan yang berbeda karena mereka tahu apa yang penting. Bagaimana?

Apakah mata anda dilatih untuk melihat Allah bekerja dalam hidupmu?

Mata yang terlatih (Bil. 13:30)
Sama seperti orang Israel lainnya, Kaleb berada disana dari perhambaan di Mesir sampai kepada awal keluaran dan pada perbatasan tanah perjanjian. Selama rentang waktu ini, dia, bersama yang lainnya menyaksikan Allak melakukan yang tidak mungkin. Mereka menyaksikan Paskah yang pertama, pembelahan laut merah, manna, dan banyak lagi mujizat. Jadi kenpa dia percaya bahwa mereka akan menguasai Kanaan (Bilangan 13:30)? Apa yang menjadi penting bagi Kaleb bukanlah tantangan yang ada didepannya tetapi SIAPA yang bersama dia menghadapi tantangan tersebut.
Adalah baik untuk mempertimbangkan apakah mata kita terlatih untuk fokus pada hal-hal yang relevan sementara mengabaikan yang tak penting. Dapatkah kita mengambil kesimpulan dari pengalaman kita atau pengalaman orang lain? Banyak orang Kristen merasa sulit untuk mengingat kembali waktu-waktu Allah mengintervensi mereka dalam cara-cara yang luar biasa. Biasanya ini bukanlah karena Allah tidak mengintervensi. Tetapi lebih kepada karena , sama seperti mata-mata yang lain yang menyaksikan mujizatNYA, mujizat itu sandinya tidak pernah mereka pecahkan. Mereka tidak pernah mengambil waktu untuk memperhatikan, untuk mengambil catatan mental akan pekerjaan Allah. Apakah mata anda dilatih untuk melihat Allah bekerja dalam hidupmu?

Hebron Diberikan Kepada Kaleb (Yosua 14:6-15)
Allah memberikan penghargaan akan umatNYA yang percaya. Ada banyak teladan dalam Alkitab yang menunjukan DIA setia kepada orang yang percaya kepadaNYA diluar apa yang kelihatan. Karena Kaleb melihat apa yang tidak dilihat orang lain, dan karena dia mengikut Allah dengan sepenuh hati, dia dapat mewarisi Hebron. Walaupun perlu 45 tahun, Kaleb mempunyai sesuatu yang dapat diwariskannya.
“Kaleb setia sejak awalnya. Sebagai mata-mata awal yang dikirimkan ke tanah perjanjian (Bilangan 13:30-33), dia melihat kota yang besar dan raksasa, tetapi dia tahu bahwa Allah akan membantu umatNYA menaklukan tanah itu. Karena imannya, Allah menjanjikan tanah warisan khusus untuk dia . . . . .. Disini, 45 tahun kemudian, tanah itu diberikan kepadanya. Imannya tak pernah goyah. Walaupun tanah yang tanah warisannya masih mempunyai raksasa, Kaleb tahu bahwa Tuhan akan membantu dia mengalahkan mereka.”*
Pelajaran ini dituliskan pada suatu masa dimana banyak orang mengalami banyak kesulitan diseluruh dunia. Resesi ekonomi menghantam setiap negara dan setiap orang dalam bentuk satu dan lainnya. Banyak orang kuatir bagaimana membiayai pendidikan mereka, sementara yang lainnya kehilangan rumah mereka. Dapatkah kita melihat apa yang dilakukan orang lain? Dapatkah kita melihat “raksasa ditanah tersebut” tetapi tetap berpegang kepada “buah” yang dijaminkan Allah? Kemampuan kita membuka sandi apa yang penting dalam waktu sulit, untuk melihat apa yang dilihat Allah, mungkin akan dapat menentukan warisan untuk kita.

REAKSI
1. Seperti apa ekonomi saat ini? Apakah masih sulit untuk melihat “buah” yang terus dijaminkan Allah bagi kita? “Raksasa apa” yang saat ini menghalangi pandangan anda akan “buah”?
2. Bagaimana caranya kita melatih diri kita sendiri untuk menjadi sensitif akan pekerjaan Allah dalam hidup kita?
____________
*NIVLife Application Study Bible, (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 1984), p. 356.

Devon Superville, Bowling Green, Ohio, U.S.A.

Senin
4 Oktober
Kesaksian
Kaleb: Dipilih dan Setia Amsal 23:26; Efesus 6:11

Sebagai umat pilihan Allah, adalah penting untuk mendeteksi tipuan Setan. Untuk melakukannya, kita mesti hidup setiap hari dengan firman Allah. Kaleb sebagai hambaNYA yang setia menjadi teladan bagi kita. Dia “mengamati situasi, dan, berpegang untuk mempertahankan firman Allah, dia melakukan apa yang dalam kekuasaannya untuk mengalahkan pengaruh setan kepada teman-temannya yang tidak setia.”1 Tetapi sepuluh mata-mata memberontak dengan menyerang mereka yang percaya. Mata-mata ini, “setelah memasuki arah yang salah, dengan keras kepala memutuskan untuk melawan Kaleb dan Yosua, melawan Musa, dan melawan Allah. Setiap langkah yang diberikan membuat mereka lebih keras lagi. Mereka memutuskan untuk menurunkan keberanian dengan segala upanya untuk memiliki Kanaan. Mereka mencemari kebenaran untuk menancapkan pengaruh mereka. “Ini adalah tanah yang memakan penduduknya sendiri”, kata mereka. Ini bukan saja kabar yang jahat, tetapi juga suatu pembohongan.”2

Allah muncul untuk menghentikan rencana jahat mereka

“Mata-mata yang tidak setia bersuara keras untuk mengalahkan apa yang dikatakan Kaleb dan Yosua, dan mereka berseru untuk melempari mereka dengan batu. Orang yang panik segera mencari senjata untuk membunuh orang yang setia ini. Mereka cepat maju dengan teriakan dan kegilaan, ketika tiba-tiba batu-batu itu berjatuhan dari tangan mereka, suatu teguran tiba-tiba muncul, dan mereka gemetar. Allah muncul untuk menghentikan rencana jahat mereka.”3
Orang Israel, termasuk yang setia, mesti menunggu selama 40 tahun sebelum memasuki Tanah Perjanjian, dan orang Israel yang mula-mula keluar dari Mesir mati semuanya sebelum mereka sampai kesana. Tetapi Allah berjanji bahwa Kaleb akan hidup untuk mewarisi Kanaan. Lebih lagi, orang Israel yang lahir setelah Keluaran diberikan kesempatan kedua untuk bertobat dari jalan mereka yang salah. Tetapi hanya sebagian saja yang menyerah, karena sebagian mereka mencoba untuk mengalahkan Kanaan dengan kekuatan mereka sendiri dan kalah mutlak.
Usaha untuk memajukan agenda kita yang bertentangan dengan Allah jarang berhasil. Pertama-tama kita mesti percaya kepadaNYA. Kita mesti berserah secara total. “Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, biarlah matamu senang dengan jalan-jalanku.” (Amsal 23:26). Inilah apa yang dilakukan Musa, Harun, Kaleb, dan Yosua. “Tanpa mengomel mereka menerima apa yang diputuskan Tuhan.”5 Kita mesti mengizinkan Tuhan memimpin kita dan menunggu dengan sabar akan berkat yang tentu.

1. Patriarchs and Prophets, p. 388.
2. Ibid., p. 389.
3. Ibid.
4. Ibid., p. 390.
5. Ibid., p. 392.

Raul Peters, Fort Worth, Texas, U.S.A.


Selasa
5 Oktober
Bukti
Tidak Belajar dari Ketak Berdayaan Bilangan 13; 14

Psikolog Amerika, Martin Selighman dan Steven Maier telah meneliti bagaimana mahluk inteligen merespon tantangan. Dalam salah satu percobaan, anjing-anjing menerim kejutan listrik secara random tetapi juga diberikan tuas untukmengontrolnya. Anjing-anjing lain tidak punya tuas. Anjing-anjing yang dilatih dengan tuas belajar untuk menghadapi trauma acak, mengurangi kenyerian bila mungkin, dan meloncat mundur bila ada sengatan. Anjing-anjing yang dilatih tanpa tuas belajar untuk jadi tak berdaya. Menghadapi trauma yang tak terkontrol, mereka berharap untuk gagal, dan tidak pernah mencoba untuk sukses.*

Kaleb . . percaya bahwa Allah akan membuat mereka menang

Pada waktu Kaleb dari misi pengintaian selama 40 hari, dia dan teman-temannya membagikan apa yang telah mereka lihat. Mereka juga membawa bukti fisik akan kesuburan tanah tersebut, termasuk tandan buah anggur yang sedemikian besarnya sehingga diperlukan dua orang untuk memikulnya. Tetapi dengan pencobaan dipadan belantara ditambah bertahun-tahun dalam perhambaan Mesih, orang Israel ini sedemikian terkungkungnya akan pemikiran kebebasan dan usaha yang mesti dibuat untuk mendapatkannya. Mereka terlampau memandang tingginya halangan, dan merendahkan kuasa mereka dibawah perlindungan Allah, dan mengancam untuk berkemas dan kembali ke Mesir (Bilangan 13:27—14:3).
Orang-orang yang cepat mengatakan “tidak” ini tidak pernah menguasai tanah yang diuraikan Joshua dan Kaleb kepada mereka; dan duar orang yang punya visi kedepan ini mesti menunggu selama 40 tahun sebelum preview mereka menjadi realitas. Kaleb telah mengalami kesusahan perbudakan yang sama dengan orang lainnya, tetapi Kaleb dan Joshua percaya bahwa komitmen Allah akan membuat mereka menang melawan lingkungannya. Mereka tidak memisahkan tujuan pribadinya dengan tujuan bangsa itu. Pada umur 80 tahun, Kaleb masih menjadi tentara yang mampu dan berani. Jika ada siapapun yang memisahkan diri dan mencota untuk mengambil tanah perjanjian dengan usaha mereka sendiri, mungkin mereka mampu. Tetapi Kaleb tidak melakukannya (Bilangan 14:38-45). Dia tahun bahwa dia merupakan bagian tak terpisahkan dari bangsa itu, dan dia menolak untuk mencampakan harapan kepada orang-orang Israel atau Allah yang punya rencan untuk mereka semua.

REAKSI:
Perasaan Kaleb akan komitmen Allah membantu dia melepaskan ketidak berdayaan perbudakan dan membuat dia termotivasi di padang belantara. Jika anda merasa putus asa, “tuas” apa yangmembantu anda melambung kembali dan maju terus dengan hidupmu?
____________
*Christopher Peterson, Steven Maier, & Martin Seligman, Learned Helplessness: A Theory for the Age of Personal Control (Oxford University Press, 1995).

Keisha McKenzie, Lubbock, Texas, U.S.A.

Rabu
6 Oktober

Bilangan 13:30; Yosua 14 Bagaimana
Hidup Dalam Penantian

Kaleb menunjukan teladan yang besar akan keberanian, keyakinan, dan iman kepaa Allah terlepas dari gunung-gunung kesulitan yang dihadapinya. Sebagai anak, ibuku sering berkata, “Jangan bertumbuh terlampau cepat.” Saat ini, semuanya berjalan dengan cepat. Orang mengalami kesulitan akan cepatnya kemajuan teknologi; dan kadang, kesabaran tampaknya tidak ada. Allah meminta kita untuk sabar dan melayaniNYA. Teladan Kaleb dalam hal ini berharga untuk direnungkan. Berikut adalah beberapa hal yang dapat membantu kita untuk menunggu Allah:

kuatkan pikiranmu dengan firmanNYA sehingga engkau dapat mengetahui kehendakNYA dan dengan segera mengikuti tuntunanNYA pada saat Dia memanggilmu

Serahkan semua bebanmu kepada Allah (1 Pet. 5:7). Dengan keberanian dan keyakinan, serahkan hal yang menjadi perhatianmu, pedulimu, dan tugas dihadapanNYA. Dia mendemonstrasikannya kepada Kaleb bahwa Dia peduli. Dia akan melakukan hal yangsama bagimu. Hadapi raksasamu dengan keberanian, dan anda akan menjadi lebih kuat dalam melakukan kehendak Tuhan.
Bertindak dalam cara yang pasti, walaupun itu berarti berlawanan dengan orang banyak (Bilangan 13:30). Sementara menunggu, dengarkan suara Allah dan bertindak segera pada saat anda mendengarNYA. Banyak kali kita berlambat-lambat. Akibatnya kita kehilangan banyak berkat yang disediakan Allah bagi kita. Saat ini, buatlah komitmen untuk segera mengikuti suaraNYA.
Izinkan Allah menuntunmu, dan rela untuk mengikutNYA (Yosua 14:8). Dalam dunia yang terdapat instruksi yang berlawanan dan bersaing dengan jalan Allah, kuatkan pikiranmu dengan firmanNYA sehingga engkau dapat mengetahui kehendakNYA dan dengan segera mengikuti tuntunanNYA pada saat Dia memanggilmu.
Latih dan perkuat imanmu (Yosua 14:14). Kaleb hidup untuk mewarisi apa yang telah dijanjikan Allah, karena imannya kepada Allah tidak pernah goyah. Kaleb dapat menunjukan keberanian dan keteguhan sementara menghadapi tantangan, gunung kesulitan, dan raksasa-raksasa dalam jalannya karena dia mempunyai iman yang berakar pada Kristus.
Sabar (Mazmur 37:7). Pengembaraan selama 40 tahun di padang belantara pastilah rasanya seperti selamanya. Tetapi kepercayaan Kaleb yang tak goyah dan komitmennya kepada Allah selama tahun-tahun pergumulan itu (bukan karena salahnya Kaleb) merupakan suatu pernyataan karakternya sebagai anak Allah.

REAKSI
1. Bagaimana lagi kita menghadapi raksasa yang mungkin kita hadapi sementara menunggu kedatangan Kristus kedua kali?
3. Bagaimana caranya untuk pelan, sehingga lebih mudah untuk mendengar suara Allah?

Helyne Frederick, Mount Rose, St. Patrick, Grenada, West Indies

Kamis
7 Oktober
Yosua 14:11 Pendapat
Selalu Berani Sampai Tua

Kaleb berumur 85 tahun pada waktu dia mengalahkan anak-anak Anak. Membaca komentar tentang Kaleb, kita baca bahwa, “Kaleb dilahirkan sebagai budak di tanah Mesir, dia tahu bagaimana pedih dan susahnya, dikalahkan, dan penghinaan terus menerus akan perhambaan. Dia lelah ditendang, dikutuk, dipukuli, dan disakiti. Dia lelah diperlakukan sebagai hewan, dan karenanya dia bertekad untuk menaklukan dan mencapai apa yang tak terpikirkan.”1

Tak ada musuh yang dapat membuat kita takut, tak ada ketakutan yang dapat menghantui kita

Salah satu pelajaran penting dari kehidupan Kaleb adalah: tidak pernah terlambat untuk mulai mengalahkan raksasa. Tetapi, adalah penting untuk memulainya pada waktu anda masih muda. Pelajaran penting lainnya untuk dipertimbangkan adalah: mungkin tubuh kita bisa lemah, tetapi kita dapat selalu kuat dalam kerohanian, cukup kuat untuk mengatakan kepada Allah sama seperti yang dikatakan Kaleb, “Berikan kepadaku gunun ini.”
Dalam perjuangan hidup, biarlah kaki yang lemah dan lembut dilatih dengan jalan yang mudah. Tetapi semua tentara yang benar mesti siap untuk mengambil gunung sebelum mati. Pelayanan Kaleb yang luarbiasa sekali dikarenakan oleh filosofi hidupnya dan keputusannya untuk mengikuti Tuhan. Sebagai mata-mata, Kaleb melihat kota-kota dihancurkan menjadi puing-puing, sementara yang lainnya melihatnya diri mereka sendiri sebagai belalang dimata musuh. Seorang pemenang mesti selalu mempunyai pandangan yang optimis akan tantangan yang mereka hadapi. Jika kita sebagai gereja mau menang dan mengalahkan, kita mesti mengikuti Tuhan sepenuhnya, setia dan tidak pernah takut. Tak ada musuh yang dapat membuat kita takut, tak ada ketakutan yang dapat menghantui kita, dan tidak boleh ada yang dapat menggerser kita. Kita mesti rela untuk pergi kemanapun Allah pergi.
Filosofi hidup Kaleb ditumbuhkan dalam berpegang teguh pada Tuhan. “Dia sukses karena dia bergantung pada kuasa Tuhan; dia benar-benar sukses karena dia berserah pada janji-janji Tuhan. Imannya tak pernah goyah. Bahkan dihadapan kemungkinan kegagalan, dia tetap berpegang teguh.”2
Pertempuran pribadi dan kelompok kita mungkin sulit, terus meneruh, dan bahkan kadang berbahaya. Tetapi jika kita mengambil keputusan, jika kita menolak digoyahkan, kita akhirnya akan menikmati buah-buah Tanah Perjanjian.

REAKSI
1. Apakah anda berpendapat bahwa kehidupan dan tindakan Kaleb menyarankan bahwa pensiun mesti tidak direncanakan atau dipertimbangkan?
2. Elemen penting apa dalam hidup yang mesti dimiliki agar dapat mencapai kesuksesan?
____________
1. John Phillips, Introducing People of the Bible, vol. 1 (Neptune, NJ; Loizeauz Brothers).
2. Ibid.

Enoch Isaac, St. Davids, Grenada, West Indies

Jum’at
8 Oktober
Eksplorasi
Kesetiaan adalah Masalah Pikiran Bilangan 13, 14, Yosua 14, 15

SIMPULKAN
Kehidupan Kaleb yang penuh kesetiaan menginspirasi kita. Dia mengalami perbudakan di tanah Mesir dan pembebasan dan empat puluh tahun mengembara di padang belantara. Imannya yang absolut dalam Allah membentuk perspektifnya akan apa yang dilihatnya sebagai mata-mata. Orang dengan ukuran yang luarbiasa tak ada apa-apanya bagi Allah yang telah menenggelamkan tentara Firaun. Sayangnya, sepuluh mata-mata lainnya bukanlah pemimpin dan orang percaya yang sungguh. Akibatnya, orang-orang yang meninggalkan Mesir dan masuk ke tanah perjanjian hanyalah Kaleb dan Joshua. Pada umur 85 tahun, Kaleb diberikan Hebron yang ditinggali oleh raksasa-raksasa Anak. Dia menunggu selama 45 tahun sebelum kembali melihat raksasa-raksasa itu kembali, dan dia langsung memutuskan untuk mengalahkan mereka.

PERTIMBANGKAN
● Tuliskan prinsip pedoman hidupmu yang mendemonstrasikan komitmenmu kepada fleksibilitas, misalnya, “Bila anda mendapat jeruk nipis dalam hidupmu, buatlah air jeruk nipis.”
● Kunjungi suatu taman yang baru bagimu. Ambilah foto atau buat gambar sketsa akan hal-hal dan elemen yang dapat membantumu menerangkan kepada teman-temanmu kenapa mereka mesti mengunjungi taman itu.
● Buatlah penelitian akan cerita-cerita tentang keteguhan hati yang telah diturunkan dalam warisan budaymu.
● AmbilaH setangkai besar buah anggur ungu dan beberapa korma dan memakan mereka sementara anda menuliskan gari besar suatu drama yang menggambarkan Kaleb.
● Lakukan penelitian Internet akan seni alkibiah. Carilah lukisan yang menggambarkan Kaleb dan mata-mata dan pembagian tanah perjanjian diantara suku-suku Israel.
● Tuliskan kembali Mazmur 37:1—9 dalam bentuk orang pertama, masukan namamu dan rincian lainnya untuk membuat perikop ini lebih pribadi. Bagaimana hal ini merobah perspektifmu? Bantuan apa dari Allah yang anda perlukan untuk mengalahkan Raksasa hidupmu?
● Buatlah daftar kesulitan-kesulitan yang anda hadapi. Gambarkan kembali kesulitan ini dalam kata-kata positif, sehingga memudahkan untuk mendefinisikan tindakan yang menghadapi tantangan ini.

HUBUNGKAN
Patriarchs and Prophets, pp. 388–392, 511–13, 664, 697; V. Gilbert Beers, The Book of Life, vol. 5, p. 123, 126–129; vol. 7, p. 135, 138–141; Life Application Bible, NIV version, Wheaton, Ill.: Tyndale House), p. 239; Search Caleb, Fausset’s Bible Dictionary (Bible History Online) at http://www.bible-history.com/.

Norma Sahlin, Springboro, Ohio, U.S.A