Latar Belakang dan Karakter dalam Perjanjian Lama
Cerita Dan Sejarah
Pelajaran Pertama Kwartal 4,
25 Sept.—2 Okt. 2010
Diterjemahkan Oleh: Victor Hutabarat
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Tim. 3:16,17)
Sabbath
25 September
Roma 15: 4 Pendahuluan
Sisi-sisi Lain Cerita
Tidak semua orang menyukai pelajaran sejarah. Tetapi kelihatannya sedikit aneh ketika sejumlah anak-anak muda nakal harus memilih pelajaran sejarah atau dimasukkan ke dalam penjara. Karena dinyatakan bersalah karena mengagungkan paham Nazisme, ekstrimis-ekstrimis muda itu diajarkan pelajaran sejarah tentang Holocaust gantinya dihukum penjara. Dasar pemikirannya adalah bahwa melihat ke belakang dapat membuka mata kita dan memotivasi kita untuk berubah. 1
Pernahkah engkau melihat salah satu dari foto mosaic?
Untuk melaksanakan itu, bagaimanapun juga sejarah harus lebih dari sekedar bukti-bukti mati. Di dalam banyak bahasa, kata cerita (story) dan sejarah (history) adalah kata yang sama. Bahkan dalam bahasa Inggris, kata yang satu tidak kentara bersembunyi di kata yang lainnya, kata yang kedua memiliki arti yang sama dengan kata yang pertama.
Kebenarannya adalah cerita dan sejarah saling membutuhkan. Sejarah lebih dari pada nama-nama dan tanggal-tanggal. “Belajar sejarah adalah dengan cara membawa masa lalu kepada kehidupan, dalam tradisi terbaik dari seorang pendongeng.” Ketika sejarah diberikan kehidupan semacam itu, sejarah menjadi lebih dari sekedar gundukkan fakta-fakta.”3 Inilah mungkin sebabnya mengapa Allah memberikan kita lebih dari sekedar fakta-fakta dalam Firman-Nya. Alkitab dipenuhi dengan cerita-cerita nyata dari orang-orang yang nyata. Setiap catatan dari FirmanNya layak menjadi bahan pertimbangan kita.
Lebih dari itu kadang-kadang perhatian kita terfokus hanya pada hal-hal yang menarik mata, sementara kita jarang melihat detil-detilnya yang kecil. Pernahkah engkau melihat salah satu dari foto mosaic? Dari jarak tertentu, itu kelihatan seperti potret; tetapi ketika engkau semakin dekat, engkau akan melihat bahwa itu dibuat dari ratusan gambar-gambar sesuatu atau seseorang yang berhubungan dengan subyek utamanya. Alkitab sama seperti foto mosaic yang besar. Ketika kita mempertimbangkan konteksnya, ketika kita melihat gambar yang lebih besar, semuanya menunjuk kepada Yesus. Untuk membuatnya secara keseluruhan, bagaimanapun juga banyak gambar individu dan perjalanan hidup mereka dengan Allah. Kadangkala kita fokus kepada gambar yang sama, mengabaikan beberapa yang kurang jelas yang ada di antara atau di sekitar sudut-sudut. Pada saat kita lakukan hal yang demikian, kita dapat kehilangan pelajaran penting yang Allah sudah letakkan sebagai pewahyuanNya kepada kita.
Kita mungkin saja belum pernah dihadapkan kepada mata kuliah yang dapat menjauhkan kita selalu dari penjara, tetapi di dalam penyelidikan kita, untuk menjadi bebas dari penjara dosa, kita dapat juga diubahkan dengan melihat apa yang terjadi di masa lalu. Minggu ini kita akan mempertimbangkan latar belakang beberapa catatan di dalam Alkitab, manakala kita bersiap untuk memperbesar bagian kecil-kecil dari cerita Allah dan menemukan pelajaran sejarahnya bagi kita hari ini.
_____________
1. The Times Higher Education, “Go to jail or study history, Nazis told.” February 9, 2001. http://wwwtimeshighereducation.co.uk.story.asp?storyCode=157221§ioncode=26 (accessed June 21, 2009).
2. The Basics of History. http://www.ed.gov/pubs/parents/History/Basics.html (accessed June 21, 2009.
Tamara Bloom, Heathwood Gardens, Swanley, Kent, United Kingdom
Minggu
26 September
Logos
Apakah itu Pilihan atau Kebetulan?. Kej. 39:6–12; Yos. 3:9–17; 1 Sam. 24:1–6; 1 Raja 12:1–16; Ayub 1:1–12
Ketaatan sang Pemimpi (Kejadian 39:6-12)
Kita semua merespon berbeda-beda terhadap pengalaman-pengalaman hidup yang bervariasi. Pertanyaannya adalah apakah kita merespon pengalaman kita dengan pilihan atau dengan reaksi yang dalam. Seseorang mungkin saja akan berpikir bahwa setelah memperhitungkan sejumlah tantangan di dalam kehidupannya sebelum dijual sebagai budak, Yusuf mungkin sudah mengembangkan tingkah laku yang negatif. Bahkan kelakuan ini dapat saja berkembang kepada hubungan antara budak dan tuan, karena mungkin dia sudah terbiasa menjadi orang bebas ketika dia masih bersama-sama dengan keluarganya. Walaupun demikian Yusuf pasti sudah memilih sedikit perilaku yang positif dalam menghadapi keadaan-keadaannya berdasarkan kepada kenyataan bahwa Potifar, tuannya, mempercayakan semua apa yang menjadi miliknya kepada Yusuf.
pilihan dapat mempengaruhi posisi kekal seseorang
Kita juga tahu betul bahwa bahkan di dalam penjara, Yusuf diberikan tanggung jawab. Bagaimanapun, bahkan sampai pada titik perjalanan hidupnya ini, dia menghadapi tantangan yang lain, yaitu godaan dari istri Potifar. Dia menolak untuk menghina bukan saja tuannya, tetapi lebih penting lagi adalah Allahnya (Kej. 39:8-10). Istri Potifar secara terus menerus menggoda Yusuf, tetapi puji Tuhan, anak muda ini berulang kali menolak godaannya. Sebagai akibatnya kita melihat Yusuf kembali lagi dipenjara. “Di dalam peran yang dimainkannya dalam sejarah bangsa Israel, dan kehidupan yang dihidupkannya, Yusuf adalah contoh dari seorang Israel sejati.” 1 Sebuah cerita lain yang menarik untuk diselidiki adalah Simson, ketika dia menghadapi tantangan yang serupa, dia kalah dua kali (Baca Hakim 14:16). Apakah itu berdasarkan pilihan ataukah kesempatan?
Seorang Prajurit dalam Pasukan (Yos 3:9–17)
Yosua juga ditempatkan di dalam posisi yang memiliki otoritas di mana dia memimpin umat Allah menyeberangi sungai Yordan. Di dalam Yosua 3:9-13, kita melihat dia berbicara dengan tegas dan jelas sehubungan bagaimana seharusnya perilaku dari orang Israel yang hendak memasuki tanah perjanjian. Apakah mungkin terdapat di sana orang-orang yang lebih berpengalaman dan dewasa untuk mengemban tugas yang luar biasa ini? Mungkin ada orang yang memiliki gelar doktor dalam kepemimpinan? Apakah keberadaan Yosua hanya berdasarkan kesempatan, ataukah hal itu adalah karena keputusan yang hati-hati dari dirinya? Dapatkah kita katakan bahwa Allah-lah yang menempatkan anak muda ini dalam posisi yang sangat berpengaruh itu?
Mengejar Kambing Gunung (1 Sam. 24:1–7)
Setelah kemenangan Daud melawan orang Filistin, kita lihat dia dikejar-kejar oleh Raja Saul sampai harus bersembunyi di gunung-gunung. Ketika Saul, tanpa menyadari kehadiran Daud, ia melepas lelah di gua yang sama dengan Daud “Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam” (ayat 5). Tentu bertentangan dengan kecenderungan hati manusia, Daud memilih untuk menghormati Allah. Dengan memanggil Saul “orang yang diurapi Tuhan,” dia tetap setia kepada rajanya. Daud tahu bahwa suatu saat nanti dia akan duduk di atas takhta. Dia tidak mempercepat hari itu, karena dia juga tahu bahwa “adalah tidak benar memukul jatuh orang yang Allah telah tempatkan di atas takhta. Jika ia membunuh Saul, dia sedang mempersiapkan contoh kepada lawan-lawannya cara untuk menyingkirkan dia suatu hari nanti.” 1
Menuruti Para Tua-tua Kita (1 Raja 12:1-15)
Ketika Raja Rehabeam mencari nasihat untuk bagaimana memerintah secara efektif, dia pertama-tama pergi kepada para tua-tua yang pernah duduk dalam pemerintahan Salomo. Nasihat yang diberikan akan memberikan keuntungan yang terbaik baik untuk Rehabeam dan rakyatnya, apalagi dia memilih untuk menuruti nasihat yang diberikan dari mereka yang pernah membesarkan dia dan yang sekarang duduk sebagai penasihatnya. Hasil akhirnya? Pemisahan diri suku-suku bagian utara. Di ayat 14, Rehabeam mengeluarkan keputusannya yang keras. Seperti kalajengking sebenarnya di mana “cambuk dilengkapi dengan duri besi, sengatan yang luar biasa hebatnya.” 2 Gagasannya adalah bahwa sebagaimana permintaan Negara menjadi lebih berat bagi rakyat, demikian juga penghukuman menjadi lebih berat bagi yang tidak memenuhi permintaan itu.
Pertanyaannya di sini adalah apakah pernyataan Rehabeam adalah kesempatan atau bagian dari rencana ilahi? Pada akhirnya diketahui dalam konteks ini bahwa terdapat penghukuman yang disebutkan sebelumnya penghukuman kepada rumah Daud karena penyembahan berhala yang dilakukan oleh Salomo dan melanggar perjajnjian dengan Allah. (Lihat 1 Raja 11:9-13; 12:15)
Kutuklah Allah dan Mati (Ayub 1:1-12)
Cerita Ayub mengajarkan kita bagaimana pilihan dapat mempengaruhi posisi kekal seseorang. Di dalam Ayub 1:1-15, karakter dan berkat-berkat yang menyertainya mempersiapkan panggung pertunjukan bagi serangan Setan. Kunci terpenting dari ini adalah kenyataan bahwa Allah percaya kepada Ayub. Dia pada kenyataannya mengijinkan Setan untuk menyerangnya, tetapi hanya dengan beberapa batasan (ayat 12). Sebagaimana kita merenungkan cerita ini, kita harus ingat bahwa Ayub takut akan Allah (ayat 1) dan Allah menyebut Ayub sebagai “hamba-Ku” (ayat 8). Dalam hal ini, dengan menjadi hamba Allah secara ridak langsung menyatakan bahwa Allah memilih Ayub untuk memiliki hubungan yang khusus dengan Dia. 3
Semua tokoh-tokoh yang kita pelajari pada pelajaran hari ini ditempatkan pada situasi-situasi di mana mereka memiliki pilihan untuk dibuat yang akan menentukan nasib kekal mereka. Tidak ada bedanya dengan kita. Pertanyaannya bagi kita untuk direnungkan adalah apakah kita akan meresponnya berdasarkan pilihan atau hanya sekedar bereaksi.
REAKSI
1. Peran apakah yang dimainkan oleh kepintaran kita dalam memutuskan bagaimana kita akan merespon situasi-situasi yang berhubungan dengan diri kita sendiri?
2. Apakah Allah mengatur suasana sekitar kita? Jelaskan jawabanmu. Bagaiamana kita seharusnya menciptakan suasana sekitar kita sehingga kita dapat memberikan reaksi oleh karena pilihan?
___________
1. Life Application Study Bible, New International Version, (Wheaton, Ill.: Tyndale House, 1991).
2. The SDA Bible Commentary, vol. 2, p. 790.
3. The SDA Bible Dictionary, “Servant,” p. 985.
Winslow Benn, Welch Town, St. Peter, Barbados
Senin
27 September
Kesaksian
Hal Kecil Yang Besar: Apa Citarasamu Mat. 5:13–16
“Integritas, keadilan, dan kebaikan Kristiani, bercampur membentuk sebuah kombinasi yang indah. Kesopanan adalah salah satu dari karunia Roh. Itu adalah ciri-ciri Surga. Malaikat-malaikat tidak pernah terbang di dalam nafsu, tidak pernah dengki, mementingkan diri, dan cemburu. Tidak ada kata-kata kasar atau jahat keluar dari mulut mereka. Dan jika kita nantinya adalah teman-teman dari para malaikat itu, kita juga harus disucikan dan menjadi sopan.” 1
Penyucian adalah sebuah proses yang memiliki tujuan, di mana pilihan-pilihan kita menit demi menit menentukan kualitas dan pengaruhnya kepada orang lain. Di dalam perjalanan seorang Kristen, apa yang kita lakukan memiliki dasar ke mana orang lain akan berakhir untuk selamanya. Pertimbangkan kutipan-kutipan berikut:
Ambillah waktu untuk menghibur hati seseorang
“Ujilah hatimu dan kasihmu kepada Allah dengan seksama. Bertanyalah, sudahkah saya menyediakan waktu yang berharga pada hari ini untuk menyenangkan diri sendiri, mencari hiburan untuk diri sendiri? Atau sudahkah saya membuat orang lain bahagia? Sudahkah saya menolong mereka yang memiliki hubungan dengan daya untuk memiliki kasih kepada Allah yang lebih besar dan untuk menghargai hal-hal yang abadi? Sudahkah saya membawa agama saya masuk ke dalam rumah, dan menyatakan kasih karunia Kristus melalui kata-kata saya dan dalam tingkah laku saya? Dengan menurut dengan penuh hormat, sudahkah saya menghormati orang tua saya, dan menuruti hukum ke lima? Sudahkah saya dengan senang hati mengambil bagian dari kewajiban saya tiap hari, mempertunjukkannya dengan ketaatan, melakukan apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban sesama? Sudahkah saya menjaga bibir saya dari kejahatan, dan lidah saya dari perkataan yang penuh tipu muslihat? Sudahkah saya menghormati Kristus sebagai penebusku, yang telah memberikan hidupNya yang berharga sehingga kehidupan kekal dapat aku raih? 2
“Ambillah waktu untuk menghibur hati seseorang, untuk memberikan berkat melalui kebaikan, kata-kata yang menyenangkan hati kepada seseorang yang sedang berjuang dengan cobaan-cobaan dan mungkin dengan penderitaan. Dengan memberkati sesama melalui keceriaan, kata-kata yang penuh pengharapan, mengarahkan dia kepada Pemikul Beban itu, tanpa diharapkan bahwa engkau akan menemukan kedamaian, kegembiraan, dan penghiburan untuk dirimu sendiri.”3
REAKSI
1. Apakah engkau mempertimbangkan hal-hal kecil yang engkau lakukan atau katakan, bahkan dalam situasi yang sangat sederhana, sebagai kesaksian tentang bagaimana para pengikut Kristus itu selalu dirindu-rindukan?
____________
1. Our High Calling, p. 229.
2. Messages to Young People, p. 122.
3. Our High Calling, p. 64.
Eleanor Meki, Leeds, England
Selasa
28 September
Bukti
Apa Hubungan Kehidupan Dengan Hal itu? Kejadian 37:23–36
Pearl Harbor! Thirteen Days! The Passion of the Christ! Ini adalah film-film Hollywood yang berdasarkan sejarah. Beberapa orang mungkin berargumentasi bahwa jalan ceritanya tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tetapi apapun itu, manusia selalu terpesona untuk mengintip masa lalu kita dan belajar dari tindakan-tindakan para pendahulu kita dan konsekuensinya dari tindakan-tindakan tersebut. Untuk beberapa orang, film-film sejarah hanyalah hiburan. Dan masih banyak pemirsa yang lainnya datang dengan cara pandang dan pengetahuan baru yang membuat mereka sadar bahwa dunia seperti benang kusut ini adalah karena tindakan-tindakan yang dilakukan pada masa lalu.
Apa yang manusia modern dan berpengetahuan seperti kita dapat pelajari dari Yusuf pada saat ia “terdampar” di Mesir kuno?
Mengapa belajar sejarah? Mengapa membuat museum-museum yang besar? Mengapa catatan keuangan tetap terjaga? Mengapa menulis buku harian dan membaca biografi? Karena kita belajar dari masa lalu kita. Karena masa lalu kita mempengaruhi masa depan kita.
Ketika dunia sekular menggunakan masa lalu demi keuntungan sekular, Allah memiliki alasan rohani bagi kita semua untuk belajar dari peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam Alkitab. Sebagai contoh, bayangkan seorang remaja yang ditakdirkan untuk tidak menjadi apapun selain sebagai gembala. Dia hidup berpindah-pindah dengan tenda; tetapi setelah dipenjara di sebuah sumur, dia tiba-tiba menjadi milik seorang yang bereputasi tinggi, sorang yang berbicara dalam bahasa Arab. Anak remaja ini harus beradaptasi dengan makanan yang berbeda, bangunan-bangunan batu, jalan raya, kemewahan Mesir. Kebanyakan dari kita dalam situasi ini akan merasa ditekan dan mungkin ingin melompat kembali ke dalam sumur. Anak remaja ini dapat saja menyanyikan lagu sedih dan jatuh sebagai mangsa dari kehidupan yang penuh dengan perzinahan dan kebohongan. Tetapi dia tidak jatuh. Pada akhirnya dia menjadi seorang yang sangat berpengaruh di Mesir. Itu adalah cerita mengenai Yusuf. (Lihat Kejadian 39:6–12; 41:41–46)
Apa yang kehidupan lakukan dengan kita? Apa yang manusia modern dan berpengetahuan seperti kita dapat pelajari dari Yusuf pada saat ia “terdampar” di Mesir kuno? Pertama, pertimbangkan bahwa Mesir adalah ancaman seperti keadaan Mesir modern saat ini. Adalah sama mudahnya meninggalkan Allah di Mesir kuno maupun di Mesir modern kita. Yusuf mengalami perasaan ditinggalkan, takut, dan kesendirian seperti yang kita rasakan di dunia kita. Karena kisah ceritanya, kita belajar bahwa walaupun dikelilingi oleh ketakutan atau masa depan yang suram, kita masih dapat tetap tidak berkompromi dengan kejahatan di sekitar kita.
Jadi tidaklah hal yang mengejutkan bahwa kebijaksanaan Allah yang ilahi itu menyanggupkan Musa mencatat cerita tentang Yusuf dan cerita yang sama lainnya. Allah melihat sebuah dunia yang penuh dengan keegoisan diri, tapi entah bagaimanapun diketahui bahwa cerita yang sederhana dari tindakan-tindakan anak-anak muda yang tidak berpengalaman dapat menganjurkan kita untuk melakukan hal yang benar.
Paul Collymore, Grand View, St. Thomas, Barbados
Rabu
29 September
Filipi 3:13, 14; Ibrani 12:1–3 Bagaimana
Hidup Seperti Yesus
Setiap bangsa menyombongkan keunikan dari sebuah sejarah, walaupun dipenuhi dengan cerita-cerita perdamaian dan perang, kebebasan dan perbudakan, kejayaan kemenangan dan kepahitan akan kekalahan, adalah sesuatu yang dihargai. Monumen-monumen nasional menceritakan tentang cerita yang penuh kebanggaan untuk berabad-abad ke depan dan menciptakan perasaan sebagai identitas nasional sebagaimana ceritanya menjadi cerita saya, dan sesudah itu menjadi cerita kita.
Pada saat Dia katakan maju terus, jangan pedulikan hal-hal yang bergelora di sekitarmu
Sebagai umat Allah, kita memiliki sejarah yang kaya di dalam Firman Allah. Hal itu menyegarkan dengan mengetahui bahwa Yesus sendiri – seorang yang memberikan kita identitas rohani, seorang yang menjamin keselamatan kita – adalah pusat dari sejarah ini. Setiap hari kita menuliskan bab-bab baru dalam cerita ini. Apakah dengan melihat ke belakang menolong kita untuk menggambarkan jalan selanjutnya dan menuliskan catatan yang berharga untuk dibaca? Ya! Dan semuanya itu tergantung kepada cara pandang kita. Di dalam 1 Samuel 7, Israel dikalahkan oleh orang Filistin. Kelihatannya tidak ada pengharapan. Tabut perjanjian Allah telah dicuri dan untuk 20 tahun lamanya berada di Kiryat-Yearim. Pada saat hari di mana Samuel membangun monument Eben Haezer, kemenangan diraih. Kemenangan itu tidak datang dengan memusatkan perhatian kepada orang Filistin. Malahan itu datang melalui seruan mereka kepada Allah yang maha kuasa. Sehingga Samuel dapat mengatakan ”Sampai di sini Tuhan menolong kita” (1 Samuel 7:12).
Sebagaimana engkau membaca dan mempelajari cerita-cerita dari Alkitab kwartal ini, lakukanlah hal-hal berikut:
Bayangkan dirimu sendiri berapada pada posisi orang yang kamu pelajari. Jangan cepat menghakimi atau mempertanyakan pilihan dan tindakan mereka. Periksa pilihan dan tindakanmu sendiri. Lihatlah Allah melalui mata mereka. Bagaimana Allah menggunakan mereka sebagaimana mereka ada? Bagaimana Dia dapat menggunakan engkau?
Ketahui bahwa ceritamu dapat menjadi salah satu kemenangan. Allah sudah melakukannya sebelumnya. Dia berjanji untuk melakukannya lagi. Pada saat Dia katakan maju terus, jangan pedulikan hal-hal yang bergelora di sekitarmu. Turuti! Kemudian kemenangan akan menjadi milikmu.
Percayalah bahwa Allah memiliki rencana yang dirancang hanya untukmu. Sebagaimana engkau merangkai cerita-cerita lama itu, mintalah Dia membukakan rencanaNya kepadamu. Hal-hal yang sedih, bahkan hal-hal yang buruk, mungkin dapat menjadi bagian dari ceritamu, tetapi yakinlah bahwa “Allah tidak pernah memimpin anak-anak-Nya kecuali mereka memilih untuk dipimpin, jika mereka dapat melihat akhir cerita itu dari permulaan, dan membedakan kemuliaan dari tujuan mereka memenuhi panggilan sebagai kawan sekerja Allah.”*
*The Ministry of Healing, p. 479.
Shawna Carter, Husbands, St. James, Barbados
Kamis
30 September
Matius 25:11 Pendapat
Siapa Sih Yang Butuh Cerita itu?
Ada nilai pendidikan yang hakiki yang diperoleh ketika melihat kembali sejarah. Seseorang belajar apa yang peradaban telah peroleh, siapa “ penggerak dan pengguncang” utama, di mana dan kesalahan-kesalahan apa yang dihindari. Saya percaya bahwa sama seperti sejarah sekular yang terpapar dihadapan kita sebagai contoh, demikian juga halnya dengan sejarah yang dipersembahkan dalam Alkitab. Melalui kesaksian dari beberapa karakter tokoh Alkitab, seseorang belajar tentang perlawanan besar mereka melawan dosa. Seseorang belajar dari kemenangan mereka, dari kejatuhan mereka, dan yang lebih penting lagi, seberapa efektifnya kasih karunia menyembuhkan “penyakit” manusia.
Cerita apa yang sedang engkau tuliskan? Dan siapa yang membutuhkannya sebenarnya?
Bagi kita saat ini, kebenaran adalah sesuatu yang berdasarkan sejarah, inti cerita kehidupan manusia yang sulit berubah. Pada kenyataannya, keberadaan kita (lama dan baru) kelihatannya terikat oleh pengulangan-pengulangan yang aneh. Di dalam semua pertentangan dari peperangan rohani, tidak ada yang benar-benar baru di bawah kolong matahari. Jadi apa sangkutannya cerita-cerita ini bagi kita saat ini? Di atas semuanya, saya percaya tujuan Allah menginspirasikan manusia untuk menulis sejarah-Nya melalui penampilan kehidupan yang nyata dari tiap-tiap orang adalah untuk mengungkapkan kepentinganNya di pergumulan kita setiap hari (akan datang dan sekarang).
Bagaimana kita dapat tahu bahwa kita dapat mempercayai cerita-cerita ini? Apa yang melayakkan mereka? “Allah tidak pernah meminta kita untuk percaya, tanpa memberikan cukup bukti atas landasan iman kita. keberadaanNya, karakter-Nya, dan kebenaran dari Firman-Nya, dibangun dengan kesaksian yang mempertimbangkan alasan kita; dan kesaksian ini sangat berlimpah. Lebih dari itu Allah tidak pernah menghilangkan kemungkinan untuk ragu-ragu. Iman kita harus diletakkan atas bukti, bukan pertunjukkan. Bagi mereka yang ragu-ragu akan memiliki kesempatan untuk ragu-ragu, sementara mereka yang benar-benar rindu mengetahui kebenaran akan menemukan banyak bukti-bukti di mana iman mereka diletakkan.*
Pertanyaan yang saya hadapkan hari ini adalah: Cerita apa yang sedang engkau tuliskan? Dan siapa yang membutuhkannya sebenarnya? Walaupun tidak akan pernah ada Alkitab lain yang akan ditulis, catatan detail kehidupan kita sedang dibuat di Surga dan bahkan saat ini. Suatu hari nanti, dalam pengadilan, setiap sejarah kita akan menjadi penting daripada sekarang. Siapa yang membutuhkan cerita ini? Allah tentunya, bagiNya untuk mengatakan “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia!” (Matius 25:21).
*Steps to Christ,(Kebahagiaan Sejati) p. 105.
Samuel Bowen, St. Lucy, Barbados
Jum’at
1 Oktober
Eksplorasi
Sumber Materi 2 Tim. 3:16, 17
SIMPULKAN
Sumber sejarah masa lalu mengandung cerita-cerita di masa lampau. Menganalisa pengalaman atau kejadian di masa lalu dapat mempengaruhi kehidupan kita saat ini. Gudang-gudang penyimpanan seperti arsip-arsip dan dan sejarah masyarakat menyediakan sumber materi yang berguna bagi kehidupan kita yang sementara ini sehingga kita tidak mengulang kebijaksanaan yang pernah gagal, atau menempatkan kembali program-program gagal, atau mencoba kembali praktek-praktek gagal. Dengan menggunakan Alkitab sebagai sumber materi yang menguntungkan kehidupan rohani kita dan memimpin kita kepada hidup yang kekal, hal itu menghubungkan kita kepada Sumber Segala Hikmat dan bermanfaat untuk ”mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” sehingga kita dapat ”diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Tim 3:16, 17).
PERTIMBANGKAN
• Wawancarai sebuah sejarah yang hidup (beberapa teman sekelas atau anggota gereja yang lebih tua) yang dapat menghubungkan satu pengalaman atau lebih bagaimana mereka menghormati Allah dengan memilih bagaimana merespon situasi yang menantang sebagai gantinya hanya dengan memberikan reaksi biasa.
• Mendiskusikan dengan teman saat-saat di dalam hidupmu engkau merespon situasi dengan memilih sebagai gantinya hanya dengan memberikan reaksi biasa.
• Menciptakan sebuah alat peraga pujian dengan membangun pelajaran hari Senin dan menggunakan tema “Membuat pilihan yang menghormati Allah”. Ilustrasikan di dalam alat peragamu bagaimana Allah dapat dihormati bahkan melalui pilihan yang sederhana.
• Mengingat kembali waktu ketika kehidupanmu dipengaruhi oleh seseorang yang memilih untuk menolongmu di waktu yang kau butuhkan.
• Membandingkan tantangan-tantangan untuk menghidupkan kehidupan yang memuliakan Allah dari dalam Alkitab dengan tantangan dalam kehidupan di abad 21 ini.
• Melihat kembali pengalaman keluargamu di dalam Kristus. Ingat kembali generasi-generasi sebelumnya sebanyak yang engkau ketahui. Urutkan jalan cerita yang engkau temui dan sampaikan hasilnya pada acara khusus keluarga.
• Mengamati alam di luar rumahmu, apartemen, ataupun asrama. Berapa banyak benda-benda alam itu menjadi seperti yang terlihat saat ini karena Adam dan Hawa memilih untuk melawan perintah Allah?
HUBUNGKAN
Berikut ini adalah sumber material yang sangat bagus sekali dari pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian yang dapat mempengaruhi kehidupan kita hari ini: Various authors, Changed: Real Lives in a Real World (Pacific Press©, 2009); Bible Characters card game (Review and Herald©, 1998); George Knight, 1844 and the Rise of Sabbatarian Adventism (Review and Herald©, 1994).
Rick Blondo, Clarksville, Maryland, U.S.A.
Thursday, 23 September 2010
Friday, 17 September 2010
SSCQ Pelajaran 13 Kwartal 3 tahun 2010
Juni – September 2010
Pelajaran Tigabelas Kwartal 3, 18—25 Sept. 2010
Diterjemahkan Oleh: Osvald Taroreh dan Teman
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Inti
KeKristenan
“Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah” (Roma 14:10)
Sabbath
18 September
Roma 14: 17-19 Pendahuluan
Bencana Makan Siang Bersama
Rasanya masih seperti kemarin. Walaupun baru berusia sekitar enam tahunan saat itu, saya dapat merasakan ketegangan yang ada. Keluarga saya berkumpul di aula gereja, menunggu untuk mengambil bagian dalam acara makan siang bersama. Gereja kami memang terkenal untuk acara makan siang yang lezat yang dilakukan setiap bulan. Bahkan, salah satu indikasi terbaik bahwa itu adalah "hari makan siang" adalah jumlah orang yang terus membengkak dalam ukuran satu jemaat! Orang-orang datang dari mana-mana hanya untuk menikmati kari, kue, roti sandwich, dan beragam masakan vegetarian terbaik yang tersedia.
Hal itu mengerikan! Bahkan sangat mengejutkan!
Tapi, pada hari itu, ada yang tidak benar. Para wanita yang bertanggung-jawab untuk memanaskan makanan terlihat sedikit bingung. Saya melihat salah satu dari mereka muncul dari dapur dan berbisik di telinga salah satu Tua-tua Jemaat. Dia dengan cepat berdiri dan menemaninya kembali ke dapur. Menjadi seorang anak yang penasaran, saya segera bergegas ke seberang ruangan dan mengikuti mereka. Saya harus melihat apa yang terjadi!
Dapatkah engkau menebak apa yang membuat mereka sangat bingung? Hal itu mengerikan! Bahkan sangat mengejutkan! Ternyata ada yang membawa sepiring mi ditaburi daging cincang halus-untuk makan siang suci kami! Saya tertawa cekikikan menyaksikan raut wajah para wanita itu!
Terus terang, saya tidak yakin bagaimana situasi itu akhirnya ditangani. Saya hanya bisa beranggapan bahwa itu ditangani dengan cara yang bijaksana dan ramah. Dalam Roma 14-16, Paulus memberikan beberapa petunjuk yang berguna tentang cara menangani situasi seperti ini. Dalam pasal-pasal indah yang telah ditulis, ia mendorong kita untuk selalu berusaha untuk menjaga keharmonisan satu sama lain. Alih-alih memfokuskan semata-mata pada perbedaan-perbedaan pendapat kecil, ia memberitahu kita untuk menerima satu sama lain, seperti Kristus yang pertama menerima kita.
Sebagai anggota GMAHK, masalah kesehatan dan diet adalah dekat dengan hati kita. Tapi terkadang, kita menjadi begitu terfokus pada detail kecil yang membuat kita lupa untuk melihat gambaran besar. Pada zaman Paulus misalnya, Roma adalah campuran berbagai kelompok etnis dan agama yang berbeda. Demikian pula, dunia kita penuh dengan etnik yang berbeda, keyakinan, dan cara hidup. Dalam rangka mencapai begitu banyak sudut masyarakat kita dengan pesan Injil yang indah, kita harus mendengarkan apa yang dikatakan Paulus tentang persatuan, harmoni, dan cinta. Itu yang menjadi fokus kita pada dalam pelajaran minggu ini.
Lesleigh Bower, Perth, Western Australia
Minggu
19 September
Logos
Menghidupkan Apa Yang Dikatakan. Roma 14, 15, 16
Jika seseorang bertanya kepada Anda, "Apa artinya menjalani kehidupan Kristen?" apa kira-kira respons Anda? Apakah mengeluarkan daftar hal-hal yang orang Kristen lakukan, atau pergi ke inti keristenan—atau Kristus sendiri? Ini adalah masalah yang mesti dihadapi Paulus pada bagian akhir suratnya kepada orang-orang Kristen di Roma. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, dan yang paling penting, sebagai duta besar-Nya, apakah kita mencerminkan gambar Kristus dalam kehidupan kita sendiri?
Gaya hidupnya adalah kesaksian yang sangat kuat
Menghakimi (Roma 14-12; 16:17-19)
Dalam beberapa ayat pertama dari Roma 14, kita melihat bahwa salah satu masalah yang terjadi adalah saling menghakimi dengan yang lain. Berkali-kali hal pertengkaran karena perbedaan pendapat muncul. Paulus mengatakan bahwa tidak peduli seberapa baik niat kita, kita harus menghindari bertengkar untuk masalah yang relatif tidak penting. Secara khusus, ia menyebutkan orang-orang yang berdebat tentang makanan apa yang mesti dimakan dan hari apa yang seharusnya dihormati lebih penting daripada yang lain. Dia secara khusus menyarankan orang-orang yang imannya telah memungkinkan mereka untuk meninggalkan ketaatan atas semua hari suci yang dirayakan dan agar tidak mencela orang-orang yang iman mereka belum begitu kuat.1 Kita semua bertanggung-jawab kepada Allah atas tindakan kita. Rasul Paulus mengharapkan kita untuk yakin sepenuhnya pada hal-hal pribadi Roh Kudus telah dinyatakan bersalah kita. Namun, kita harus berusaha untuk menciptakan persatuan bukan perpecahan dan rintangan.
Kunci Kepada Kehidupan Benar (Roma 3:23; 14:04; II Korintus 5:10)
Semua orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka, apakah baik atau jahat. Jadi, daripada melihat kesalahan masing-masing, kita harus menyadari keadaan kita sendiri dan sekitarnya, tidak merasa bangga agar kita jangan jatuh, dimana kita akan jatuh juga, karena sifat berdosa kita. Kita, bagaimanapun, memiliki harapan, dan harapan yang ada ialah Yesus! Dia memungkinkan kita untuk berdiri. Jadi apa kunci kehidupan yang benar? Bukan saling memandang, atau bahkan pada diri kita sendiri. Hanya dengan memusatkan mata pada Yesus kita akan memiliki kekuatan untuk menahan sifat berdosa kita. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kita diselamatkan oleh pekerjaan kita. Meskipun kita semua di bawah hukum Taurat, adalah melalui karunia rahmat Kristus bahwa kita memiliki keselamatan. "Dia, Yang Tidak Berdosa, diperlakukan sama seperti kita layak diperlakukan, jatuh dan berdosa, dan mungkin dapat diperlakukan layak seperti Dia." 2
Agar Mereka Tidak Tersandung (I Korintus 8:13)
Oleh karena itu, sebagai duta Kristus kita harus sangat berhati-hati akan apa yang kita lakukan, sehingga kita tidak menyebabkan orang lain jatuh, bingung, atau tersinggung. Kita tidak tahu seberapa besar pengaruh tindakan kita pada seseorang yang mengamati. Meskipun kita tidak bertanggung-jawab atas hati nurani orang lain, kita bertanggung-jawab untuk kesejahteraan mereka. Kita harus siap dan rela menyerahkan kebebasan kita dalam hal-hal yang relatif tidak penting ini daripada menyebabkan orang percaya lain jatuh.
Tujuan Keberadaan Seorang Kristen (II Korintus 9:19)
Tujuan dari keberadaan kita bukanlah hanya soal apa yang kita lakukan. Sebaliknya, adalah penyerahan kita kepada Tuhan, melakukan semua untuk kemuliaan-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, kita bukanlah budak-Nya! Hanya ketika kita menerima dan tunduk kepada-Nya kita benar-benar bebas. "Di antara para pengikut Kristus tidak boleh ada kekerasan atau paksaan. Sebuah Roh kasih dan toleransi simpatik mesti menang di setiap waktu, . . . . . Tidak ada ruang untuk kritik membenarkan diri sendiri." 3
Saya suka mengingat saat ayah menceritakan kisahnya. Dari usia yang sangat dini, ia sudah bersemangat berbicara tentang mobil. Pada usia tujuh tahun, ia sudah mengemudi truk ayahnya. Saat ia tumbuh lebih tua, cintanya untuk mobil semakin kuat. Segera setelah berusia 18, di usia dimana ia bisa mengikuti kompetisi, ayah saya menjadi orang Montenegro pertama yang menjadi juara dari negera bekas Yugoslavia di motor sport.4 Namun, selama ini, ia dan kedua saudaranya, tidak dapat dibaptis karena mereka berlomba pada hari Sabat. Banyak pendeta berusaha menekan mereka agar memberi hidup mereka kepada Tuhan, tetapi ini hanya mendorong mereka lebih jauh. Sampai suatu saat pendeta lain datang ke rumah, kemudian perubahan pun terjadi. Pendekatan pendeta yang satu ini secara drastis sangat berbeda dari yang lain. Dia menghabiskan waktu bersama mereka saat mereka bekerja pada mobil mereka, dan ketika lomba mereka tidak jatuh pada hari Sabat, ia akan hadir bersama mereka. Seperti Paulus berkata dalam I Korintus 9:19, "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang." Seperti Paulus, pendeta ini tidak pernah mencaci ayahku dan saudara-saudaranya. Gaya hidupnya adalah kesaksian yang paling kuat. Kita juga harus hidup seperti itu. Orang lain akan melihat di dalam diri kita dan ditarik kepada-Nya.
SAMBUTAN
1. Adakah sesuatu dalam hidupmu yang ingin diserahkan kepada Tuhan hari ini agar dapat menjadi sepertiNya?
2. Adakah seseorang yang telah engkau dukakan di masa lampau? Dan saat ini anda ingin mohon maaf kepadanya?
3. Apa yang dapat engkau perbuat agar gerejamu menjadi lebih harmonis?
____________
1. The SDA Bible Commentary, vol. 6, p. 637.
2. Counsels to Parents, Teachers, and Students, p. 267.
3. The SDA Bible Commentary, vol. 6, p. 637.
4. A person from Montenegro, a region of southeast Europe bordering on the Adriatic Sea.
Dalibor Acimic, Perth, Western Australia
Senin
20 September
Kesaksian
Cara Terbaik Adalah Menghidupkan Apa Yang Terbaik Roma 14:1-13
“Di negara ini (Australia) ada masyarakat vegetarian terorganisir, namun jumlahnya relatif sedikit. Di antara orang-orang pada umumnya, daging (sebagai makanan) digunakan oleh sebagian besar kelas masyarakat. Daging adalah makanan termurah, dan bahkan di mana banyak kemiskinan, daging biasanya ditemukan di atas meja. Oleh karena itu ada perlu diperhatikan dengan bijak bagaimana mengkonsumsi daging secara bijaksana. Berkaitan dengan hal ini tidak boleh ada gerakan terburu-buru. Kita harus mempertimbangkan situasi masyarakat, dan kebiasaan dan praktek yang sudah dilakukan seumur hidup, dan harus berhati-hati untuk tidak memaksakan ide-ide kita pada orang lain.” 1
Ajarlah dengan Teladan
”Jangan melihat orang lain, untuk mencari-cari salah, atau mengungkapkan kekeliruan mereka. Ajarlah dengan teladan. Biarlah penyangkalan diri dan kemenangan atas nafsu makan anda menjadi sebuah ilustrasi tentang ketaatan kepada prinsip-prinsip yang benar. Biarkan kehidupan Anda membawa kesaksian yang menguduskan, memuliakan pengaruh kebenaran." 2
"Tidak ada gunanya mencoba mereformasi orang lain dengan menyerang apa yang kita mungkin anggap sebagai kebiasaan yang salah. Upaya tersebut sering menghasilkan sesuatu yang lebih berbahaya daripada mendatangkan kebaikan. Dalam diskusiNya dengan wanita Samaria, bukannya meremehkan sumur Yakub, Kristus menyajikan sesuatu yang lebih baik. “Jawab Yesus kepadanya: ‘Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah memintaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yohanes 4:10). Dia mengalihkan percakapan kepada sesuatu yang lebih berharga yang akan diberikanNYA, menawarkan sesuatu wanita lebih baik daripada yang dimilikinya, bahkan air hidup, sukacita, dan pengharapan dari Injil.
Ini adalah sebuah ilustrasi cara kita semestinya bekerja. Kita mesti menawarkan sesuatu yang lebih baik kepada orang daripaya yang mereka punya, bahkan damai Kristus, yang melampaui segala akal budi." 3
SAMBUTAN
1. Kita tidak diselamatkan oleh apa yang kita makan atau minum. Kenapa kita sebagai orang GMAHK didorong untuk menjadi vegetaris? Dalam situasi apa tidak praktis menjadi vegetaris?
2. Yesus mengungkapkan lebih banyak kebenaran pada saat Dia tahu para murid telah siap (Yohanes 16:12, 13). Mestikah kita mengikuti metode Yesus?
____________
1. Counsels on Diet and Foods, p. 462.
2. Ibid., p. 464.
3. The Ministry of Healing, pp. 156, 157.
Marike Joubert, Perth, Western Australia
Selasa
21 September
Bukti
Karena Perut, Orang Lain Tersandung Rom. 14:1—5, 13-15, 21
Generasi pertama orang Kristen terdiri dari orang Yahudi dan orang kafir yang bertobat. Sebagian besar orang kafir tersebut, terutama yang ditujukan dalam kitab Roma adalah berlatar-belakang kafir. Kedua golongan orang-orang Kristen mula-mula memiliki kebiasaan unik, tradisi, dan budaya, dan di sinilah terletak akar kesalah-pahaman.
Roma 14 bukanlah izin ilahi yang baru yang menghalalkan makan semua jenis daging hewan
Orang Yahudi melaksanakan upacara hari-hari suci sepanjang tahun. Hal ini merujuk kepada Mesis dan terpisah dari Sabat Hari ketujuh Sepuluh Hukum. Pada saat Kristsu mati untuk membayar hukuman dosa kita, upacara ini tidak diperlukan lagi karena telah digenapi oleh Yesus. Banyak orang Yahudi yang mengakui kegenapan akan hari-hari kudus ini, tetapi yang lain bersikeras bahwa hari-hari ini masih perlu dipelihara. Yang terakhir ini secara tidak adil mendesak agar orang-orang Kristen bukan Yahudi juga melakukannya.
Sementara itu, orang-orang Kristen bukan Yahudi yang menyembah berhala sekarang menyadari kesalahan cara mereka dan jijik bahkan oleh makanan yang telah dikorbankan untuk dewa-dewa. Mereka mempertanyakan integritas orang Kristen Yahudi yang makan makanan seperti itu. Orang Yahudi, bagaimanapun, merasa bahwa ”Tentang hal makan daging persembahan berhala tahu: ’tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain daripada Allah yang esa” (I Korintus 8:4).
Roma 14 bukanlah izin ilahi yang baru yang menghalalkan makan semua jenis daging hewan, dan membatalkan prinsip kesehatan dan kebersihan yang telah secara rinci diberikan Allah. Ini bukanlah surat yang memungkinkan perubahan sewenang-wenang dari kesucian hari ketujuh ke hari lain dalam satu minggu. Dalam pasal ini, Paulus menulis kepada orang-orang Kristen di Roma, memberi mereka pertimbangan yang saleh. Saya bisa membayangkan dia berkata, "Jangan menghakimi satu sama lain. Beberapa dari anda mungkin lebih paham dari yang lain, jadi jangan mencoba untuk memaksa atau memanipulasi saudaramu jika ia memahami sesuatu yang sedikit berbeda dari Anda. Dan jangan menjadi batu sandungan bagi saudari Anda, tidak perlu menyinggung hati nuraninya dengan melakukan sesuatu menurutnya tidak nyaman.” Paulus memperkenalkan ide ini dalam Roma 13:10, ” Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” Inti dari pesannya adalah, ” Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Roma 14:13).
SAMBUTAN
1. Diskusikan hubungan antara Roma 14 dan I Korintus 10:31-33
Brayden Godfrey, Perth, Western Australia
Rabu
22 September
Rom. 14:4, 10-12, 20 Bagaimana
Menghakimi Sepantasnya
Pengadilan adalah tindakan menilai situasi, peristiwa, atau keadaan, dan kemudian diakhiri dengan kesimpulan. Ketika berbicara tentang penilaian dalam arti Alkitabiah, banyak dari kita melihat diri kita berdiri di depan Allah sementara Dia menilai semua yang kita lakukan. Jika kita telah menerima Kristus sebagai kebenaran kita sendiri dan hidup sesuai dengan tuntunan Roh Kudus, kita tidak perlu takut penghakiman Allah. Berikut adalah beberapa pertanyaan tentang apa yang kita mungkin atau mungkin tidak akan lakukan untuk mempersiapkan untuk penghakiman Allah.
apa yang Anda makan, minum, dan bicarakan harus mencerminkan hubunganmu dengan Kristus
Siapakah yang melayakan kita untuk menghakimi? (Roma 14:4). Pada sidang pengadilan, hukum atau keyakinan digunakan sebagai pedoman untuk menilai apa yang benar dan apa yang salah. Saat ini, banyak orang memiliki pedoman sendiri yang mereka ciptakan sendiri. Seringkali orang-orang ini mungkin juga mengakui hukum lain yang mereka anggap baik dan benar. Namun, bukan hak kita untuk menghakimi mereka. Baca Yakobus 4:11, 12.
Bagaimana dampak tindakan Anda terhadap dunia? (Roma 14:15, 16). Apakah contoh yang Anda hasilkan untuk orang lain? Apa yang kau makan? Apa yang Anda minum? Apa yang kamu bicarakan? Jawaban Anda dan orang lain atas pertanyaan-pertanyaan tersebut memberi gambaran karakter sejati Anda dan Allah yang Anda ikuti. Jika Anda mengaku menjadi seorang Kristen, apa yang Anda makan, minum, dan bicarakan harus mencerminkan hubunganmu dengan Kristus sehingga orang lain akan tertarik kepadaNya. Anda juga harus berhati-hati bahwa apa yang Anda lakukan tidak menyebabkan orang lain berbuat dosa.
Apa yang Anda anggap berharga? (Roma 14:20, 21). Ada begitu banyak hal yang dihargai orang. Kita harus selalu bertanya pada diri sendiri, apakah saya menghargai hal yang benar? Apakah hal yang saya anggap berharga membantu saya bertumbuh secara rohani? Apakah hal itu menunjukkan bahwa saya berjalan bersama Tuhan dan menghargai hubungan dengan Dia?
Siapakah hakim yang sempurna? (Roma 14:10). Banyak orang keliru menempatkan diri sebagai hakim. Mereka merasa senang dalam mengutuk orang lain karena itu membuat mereka merasa "suci" Namun, Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa hanya ada satu yang memenuhi syarat untuk menghakimi. Hanya ada satu yang jujur dan adil—Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kita (II Korintus 5:10).
SAMBUTAN
1. Hal-hal apakah yang terjadi ketika kita menetapkan diri sebagai hakim?
2. Daripada saling menghakimi, apakah yang sebaiknya kita lakukan?
3. Mengapa hanya Kristus satu-satunya yang dapat menjadi Hakim?
Ruvimbo M. Mubayiwa , Perth, Western Australia
Kamis
23 September
Mikha 6:8; Matius 7:1—5; Galatia 5:1, 13-26 Pendapat
Hidup dalam Kebebasan Kristen
Sebagai anggota GMAHK, penting bagi kita untuk memiliki keyakinan yang mendefinisikan diri kita. Bahkan, sesuai dengan nama, itu menyatakan sebagai kelompok individu beragam yang mengakui bahwa Yesus adalah Kristus. Beberapa unsur lain yang mempersatukan kita adalah doktrin keselamatan melalui Kristus, kepercayaan dalam kebangkitan-Nya, hari Sabat, serta menjalani kehidupan yang mencerminkan karakterNya. Bagaimanapun, terlalu sering kita membuat kesalahan dengan percaya bahwa pendapat pribadi kita juga haruslah bersifat umum. Hal ini tampaknya tidak menjadi masalah baru, seperti Paulus menghabiskan waktu yang cukup besar waktu berdebat akan apa yang disebut hukum kebebasan bagi orang-orang Roma. Saat ia mengingatkan kita bahwa semua sudah berdosa dan jauh dari kemuliaan Allah.
Mikha 6:8 tidak mengatakan … “jangan ber-internet pada hari Sabat.”
Siapakah kita, yang kemudian menghakimi orang lain menurut standar kita? Pendapat kita jelas-jelas tidak berdasarkan doktrin. Kita lupa bahwa semua yang diminta dari kita adalah untuk "berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Perhatikan bahwa Mikha 6:8 tidak mengatakan "tidak mengenakan celana jins ke gereja," "jangan memakai perhiasan," "jangan berinternet pada hari Sabat," atau "jangan makan daging." Bahkan Paulus menunjukkan bahwa keselamatan kita tidak ditentukan oleh apa yang kita makan atau minum, tetapi itu adalah karunia dari Allah. Karena itu, kita tidak menghakimi orang lain bagi siapa Kristus telah mati.
Di sisi lain, sementara tidak ada kata-kata "jangan kamu merokok," kita harus ingat bahwa karena baik waktu dan tubuh kita adalah hadiah dari Tuhan, karena itu kita harus menjaga kesehatan dan menetapkan contoh yang baik bagi mereka yang mungkin berjuang. Ini adalah satu hal untuk mengatakan "Bebas! Bebas! "dan hal lain untuk melupakan tentang kasih kepada Tuhan dan sesama manusia.
Kita dimaksudkan menjadi wakil-wakil Kristus. Adalah tidak baik untuk menjadi orang-orang yang fanatik dengan hukum (legalis) atau anarkis. Sebaliknya, kita harus menunjukkan buah-buah Roh kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, iman, kelembutan, dan kesederhanaan. Ini adalah keunggulan dari karakter Kristus. Dan tidak ada hukum yang melarang semua itu.
SAMBUTAN
1. Kepercayaan dan praktek apa yang penting kepada iman kita sebagai anggota GMAHK? Seberapa baik kelompok pemuda dewasamu mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari?
2. Kepercayaan dan praktek apa yang tidak penting kepada iman kita sebagai anggota GMAHK? Kenapa kita mempromosikan dan mempraktekan hal ini?
Michelle Luo, Perth, Western Australia
Jum’at
24 SEptember
Eksplorasi
Hakim Menghakimi Yohanes 7:24
SIMPULKAN
Kita semua lahir dengan kemampuan dan kecenderungan bawaan. Diciptakan dalam rupa Allah, kita secara alami memiliki bakat yang meningkatkan kehidupan kita, jemaat, dan masyarakat pada umumnya. Namun, lahir ke dalam dosa, kita secara alami cenderung untuk berperilaku dengan cara-cara yang merugikan orang lain. Dosa telah diprogram menjadikan kita untuk menjadi egois, membenarkan diri, dan berpendirian keras. Keinginan alami untuk duduk dalam penghakiman kebenaran segala sesuatu mulai dari iklan televisi untuk orang berasal dari kelemahan ini, tapi itu bukan alasan untuk menjadi Hakim Menghakimi, atau dikenal sebagai tahu segala hal. Kita semua memiliki pilihan yang sama: untuk diisi dengan Roh Kudus agar kita dapat menjadi seperti Yesus atau untuk menyerah pada kecenderungan kita untuk menjadi jahat.
PERTIMBANGKAN
• Melihat dan mendengarkan selama acara potluck gereja dan kemudian membuat grafik atau diagram yang menggambarkan banyaknya komentar yang menghakimi dari setiap orang.
• Menyusun suatu mazmur yang meminta Roh Kudus agar Anda dapat terbantu untuk tidak menghakimi setiap harinya.
• Mengembangkan tindakan apa yang harus dilakukan ketika Anda berada dalam situasi yang menggoda untuk menghakimi.
• Menulis dan melakukan sebuah drama komedi pendek tentang ”menghakimi” dalam konteks prinsip-prinsip kesehatan Advent.
• Mulai menabung uang di mana setiap tabungan adalah setoran saat dimana anda mulai menghakimi atau komentar bernada menghakimi yang Anda buat (gunakan mata uang dalam nilai terendah mata uang negara kita atau kisaran koin tengah). Lakukan ini selama sekitar dua minggu. Setelah selesai, hitung uang Anda, Sumbangkan uang untuk amal favorit, dan berdoa bahwa Allah akan membantu Anda untuk tidak terlalu menghakimi dan lebih bersikap menghargai.
• Memiliki teman yang dapat diandalkan—rekan Anda yang dapat dipercayai, dimana dapat memberikan dorongan—untuk membantu Anda dalam perjuangan Anda agar tidak menghakimi.
HUBUNGKAN
Herbert Douglass, Messenger of the Lord, chapt. 42, “Criticism Involving Relationships With Other People”; Laurie Beth Jones, Jesus, Life Coach: Learn From the Best (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2004); Max Lucado, Just Like Jesus: Learning to Have a Heart Like His (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2003).
Fylvia Kline, Medford, Oregon, U.S.A.
Pelajaran Tigabelas Kwartal 3, 18—25 Sept. 2010
Diterjemahkan Oleh: Osvald Taroreh dan Teman
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Inti
KeKristenan
“Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah” (Roma 14:10)
Sabbath
18 September
Roma 14: 17-19 Pendahuluan
Bencana Makan Siang Bersama
Rasanya masih seperti kemarin. Walaupun baru berusia sekitar enam tahunan saat itu, saya dapat merasakan ketegangan yang ada. Keluarga saya berkumpul di aula gereja, menunggu untuk mengambil bagian dalam acara makan siang bersama. Gereja kami memang terkenal untuk acara makan siang yang lezat yang dilakukan setiap bulan. Bahkan, salah satu indikasi terbaik bahwa itu adalah "hari makan siang" adalah jumlah orang yang terus membengkak dalam ukuran satu jemaat! Orang-orang datang dari mana-mana hanya untuk menikmati kari, kue, roti sandwich, dan beragam masakan vegetarian terbaik yang tersedia.
Hal itu mengerikan! Bahkan sangat mengejutkan!
Tapi, pada hari itu, ada yang tidak benar. Para wanita yang bertanggung-jawab untuk memanaskan makanan terlihat sedikit bingung. Saya melihat salah satu dari mereka muncul dari dapur dan berbisik di telinga salah satu Tua-tua Jemaat. Dia dengan cepat berdiri dan menemaninya kembali ke dapur. Menjadi seorang anak yang penasaran, saya segera bergegas ke seberang ruangan dan mengikuti mereka. Saya harus melihat apa yang terjadi!
Dapatkah engkau menebak apa yang membuat mereka sangat bingung? Hal itu mengerikan! Bahkan sangat mengejutkan! Ternyata ada yang membawa sepiring mi ditaburi daging cincang halus-untuk makan siang suci kami! Saya tertawa cekikikan menyaksikan raut wajah para wanita itu!
Terus terang, saya tidak yakin bagaimana situasi itu akhirnya ditangani. Saya hanya bisa beranggapan bahwa itu ditangani dengan cara yang bijaksana dan ramah. Dalam Roma 14-16, Paulus memberikan beberapa petunjuk yang berguna tentang cara menangani situasi seperti ini. Dalam pasal-pasal indah yang telah ditulis, ia mendorong kita untuk selalu berusaha untuk menjaga keharmonisan satu sama lain. Alih-alih memfokuskan semata-mata pada perbedaan-perbedaan pendapat kecil, ia memberitahu kita untuk menerima satu sama lain, seperti Kristus yang pertama menerima kita.
Sebagai anggota GMAHK, masalah kesehatan dan diet adalah dekat dengan hati kita. Tapi terkadang, kita menjadi begitu terfokus pada detail kecil yang membuat kita lupa untuk melihat gambaran besar. Pada zaman Paulus misalnya, Roma adalah campuran berbagai kelompok etnis dan agama yang berbeda. Demikian pula, dunia kita penuh dengan etnik yang berbeda, keyakinan, dan cara hidup. Dalam rangka mencapai begitu banyak sudut masyarakat kita dengan pesan Injil yang indah, kita harus mendengarkan apa yang dikatakan Paulus tentang persatuan, harmoni, dan cinta. Itu yang menjadi fokus kita pada dalam pelajaran minggu ini.
Lesleigh Bower, Perth, Western Australia
Minggu
19 September
Logos
Menghidupkan Apa Yang Dikatakan. Roma 14, 15, 16
Jika seseorang bertanya kepada Anda, "Apa artinya menjalani kehidupan Kristen?" apa kira-kira respons Anda? Apakah mengeluarkan daftar hal-hal yang orang Kristen lakukan, atau pergi ke inti keristenan—atau Kristus sendiri? Ini adalah masalah yang mesti dihadapi Paulus pada bagian akhir suratnya kepada orang-orang Kristen di Roma. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, dan yang paling penting, sebagai duta besar-Nya, apakah kita mencerminkan gambar Kristus dalam kehidupan kita sendiri?
Gaya hidupnya adalah kesaksian yang sangat kuat
Menghakimi (Roma 14-12; 16:17-19)
Dalam beberapa ayat pertama dari Roma 14, kita melihat bahwa salah satu masalah yang terjadi adalah saling menghakimi dengan yang lain. Berkali-kali hal pertengkaran karena perbedaan pendapat muncul. Paulus mengatakan bahwa tidak peduli seberapa baik niat kita, kita harus menghindari bertengkar untuk masalah yang relatif tidak penting. Secara khusus, ia menyebutkan orang-orang yang berdebat tentang makanan apa yang mesti dimakan dan hari apa yang seharusnya dihormati lebih penting daripada yang lain. Dia secara khusus menyarankan orang-orang yang imannya telah memungkinkan mereka untuk meninggalkan ketaatan atas semua hari suci yang dirayakan dan agar tidak mencela orang-orang yang iman mereka belum begitu kuat.1 Kita semua bertanggung-jawab kepada Allah atas tindakan kita. Rasul Paulus mengharapkan kita untuk yakin sepenuhnya pada hal-hal pribadi Roh Kudus telah dinyatakan bersalah kita. Namun, kita harus berusaha untuk menciptakan persatuan bukan perpecahan dan rintangan.
Kunci Kepada Kehidupan Benar (Roma 3:23; 14:04; II Korintus 5:10)
Semua orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka, apakah baik atau jahat. Jadi, daripada melihat kesalahan masing-masing, kita harus menyadari keadaan kita sendiri dan sekitarnya, tidak merasa bangga agar kita jangan jatuh, dimana kita akan jatuh juga, karena sifat berdosa kita. Kita, bagaimanapun, memiliki harapan, dan harapan yang ada ialah Yesus! Dia memungkinkan kita untuk berdiri. Jadi apa kunci kehidupan yang benar? Bukan saling memandang, atau bahkan pada diri kita sendiri. Hanya dengan memusatkan mata pada Yesus kita akan memiliki kekuatan untuk menahan sifat berdosa kita. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kita diselamatkan oleh pekerjaan kita. Meskipun kita semua di bawah hukum Taurat, adalah melalui karunia rahmat Kristus bahwa kita memiliki keselamatan. "Dia, Yang Tidak Berdosa, diperlakukan sama seperti kita layak diperlakukan, jatuh dan berdosa, dan mungkin dapat diperlakukan layak seperti Dia." 2
Agar Mereka Tidak Tersandung (I Korintus 8:13)
Oleh karena itu, sebagai duta Kristus kita harus sangat berhati-hati akan apa yang kita lakukan, sehingga kita tidak menyebabkan orang lain jatuh, bingung, atau tersinggung. Kita tidak tahu seberapa besar pengaruh tindakan kita pada seseorang yang mengamati. Meskipun kita tidak bertanggung-jawab atas hati nurani orang lain, kita bertanggung-jawab untuk kesejahteraan mereka. Kita harus siap dan rela menyerahkan kebebasan kita dalam hal-hal yang relatif tidak penting ini daripada menyebabkan orang percaya lain jatuh.
Tujuan Keberadaan Seorang Kristen (II Korintus 9:19)
Tujuan dari keberadaan kita bukanlah hanya soal apa yang kita lakukan. Sebaliknya, adalah penyerahan kita kepada Tuhan, melakukan semua untuk kemuliaan-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, kita bukanlah budak-Nya! Hanya ketika kita menerima dan tunduk kepada-Nya kita benar-benar bebas. "Di antara para pengikut Kristus tidak boleh ada kekerasan atau paksaan. Sebuah Roh kasih dan toleransi simpatik mesti menang di setiap waktu, . . . . . Tidak ada ruang untuk kritik membenarkan diri sendiri." 3
Saya suka mengingat saat ayah menceritakan kisahnya. Dari usia yang sangat dini, ia sudah bersemangat berbicara tentang mobil. Pada usia tujuh tahun, ia sudah mengemudi truk ayahnya. Saat ia tumbuh lebih tua, cintanya untuk mobil semakin kuat. Segera setelah berusia 18, di usia dimana ia bisa mengikuti kompetisi, ayah saya menjadi orang Montenegro pertama yang menjadi juara dari negera bekas Yugoslavia di motor sport.4 Namun, selama ini, ia dan kedua saudaranya, tidak dapat dibaptis karena mereka berlomba pada hari Sabat. Banyak pendeta berusaha menekan mereka agar memberi hidup mereka kepada Tuhan, tetapi ini hanya mendorong mereka lebih jauh. Sampai suatu saat pendeta lain datang ke rumah, kemudian perubahan pun terjadi. Pendekatan pendeta yang satu ini secara drastis sangat berbeda dari yang lain. Dia menghabiskan waktu bersama mereka saat mereka bekerja pada mobil mereka, dan ketika lomba mereka tidak jatuh pada hari Sabat, ia akan hadir bersama mereka. Seperti Paulus berkata dalam I Korintus 9:19, "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang." Seperti Paulus, pendeta ini tidak pernah mencaci ayahku dan saudara-saudaranya. Gaya hidupnya adalah kesaksian yang paling kuat. Kita juga harus hidup seperti itu. Orang lain akan melihat di dalam diri kita dan ditarik kepada-Nya.
SAMBUTAN
1. Adakah sesuatu dalam hidupmu yang ingin diserahkan kepada Tuhan hari ini agar dapat menjadi sepertiNya?
2. Adakah seseorang yang telah engkau dukakan di masa lampau? Dan saat ini anda ingin mohon maaf kepadanya?
3. Apa yang dapat engkau perbuat agar gerejamu menjadi lebih harmonis?
____________
1. The SDA Bible Commentary, vol. 6, p. 637.
2. Counsels to Parents, Teachers, and Students, p. 267.
3. The SDA Bible Commentary, vol. 6, p. 637.
4. A person from Montenegro, a region of southeast Europe bordering on the Adriatic Sea.
Dalibor Acimic, Perth, Western Australia
Senin
20 September
Kesaksian
Cara Terbaik Adalah Menghidupkan Apa Yang Terbaik Roma 14:1-13
“Di negara ini (Australia) ada masyarakat vegetarian terorganisir, namun jumlahnya relatif sedikit. Di antara orang-orang pada umumnya, daging (sebagai makanan) digunakan oleh sebagian besar kelas masyarakat. Daging adalah makanan termurah, dan bahkan di mana banyak kemiskinan, daging biasanya ditemukan di atas meja. Oleh karena itu ada perlu diperhatikan dengan bijak bagaimana mengkonsumsi daging secara bijaksana. Berkaitan dengan hal ini tidak boleh ada gerakan terburu-buru. Kita harus mempertimbangkan situasi masyarakat, dan kebiasaan dan praktek yang sudah dilakukan seumur hidup, dan harus berhati-hati untuk tidak memaksakan ide-ide kita pada orang lain.” 1
Ajarlah dengan Teladan
”Jangan melihat orang lain, untuk mencari-cari salah, atau mengungkapkan kekeliruan mereka. Ajarlah dengan teladan. Biarlah penyangkalan diri dan kemenangan atas nafsu makan anda menjadi sebuah ilustrasi tentang ketaatan kepada prinsip-prinsip yang benar. Biarkan kehidupan Anda membawa kesaksian yang menguduskan, memuliakan pengaruh kebenaran." 2
"Tidak ada gunanya mencoba mereformasi orang lain dengan menyerang apa yang kita mungkin anggap sebagai kebiasaan yang salah. Upaya tersebut sering menghasilkan sesuatu yang lebih berbahaya daripada mendatangkan kebaikan. Dalam diskusiNya dengan wanita Samaria, bukannya meremehkan sumur Yakub, Kristus menyajikan sesuatu yang lebih baik. “Jawab Yesus kepadanya: ‘Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah memintaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yohanes 4:10). Dia mengalihkan percakapan kepada sesuatu yang lebih berharga yang akan diberikanNYA, menawarkan sesuatu wanita lebih baik daripada yang dimilikinya, bahkan air hidup, sukacita, dan pengharapan dari Injil.
Ini adalah sebuah ilustrasi cara kita semestinya bekerja. Kita mesti menawarkan sesuatu yang lebih baik kepada orang daripaya yang mereka punya, bahkan damai Kristus, yang melampaui segala akal budi." 3
SAMBUTAN
1. Kita tidak diselamatkan oleh apa yang kita makan atau minum. Kenapa kita sebagai orang GMAHK didorong untuk menjadi vegetaris? Dalam situasi apa tidak praktis menjadi vegetaris?
2. Yesus mengungkapkan lebih banyak kebenaran pada saat Dia tahu para murid telah siap (Yohanes 16:12, 13). Mestikah kita mengikuti metode Yesus?
____________
1. Counsels on Diet and Foods, p. 462.
2. Ibid., p. 464.
3. The Ministry of Healing, pp. 156, 157.
Marike Joubert, Perth, Western Australia
Selasa
21 September
Bukti
Karena Perut, Orang Lain Tersandung Rom. 14:1—5, 13-15, 21
Generasi pertama orang Kristen terdiri dari orang Yahudi dan orang kafir yang bertobat. Sebagian besar orang kafir tersebut, terutama yang ditujukan dalam kitab Roma adalah berlatar-belakang kafir. Kedua golongan orang-orang Kristen mula-mula memiliki kebiasaan unik, tradisi, dan budaya, dan di sinilah terletak akar kesalah-pahaman.
Roma 14 bukanlah izin ilahi yang baru yang menghalalkan makan semua jenis daging hewan
Orang Yahudi melaksanakan upacara hari-hari suci sepanjang tahun. Hal ini merujuk kepada Mesis dan terpisah dari Sabat Hari ketujuh Sepuluh Hukum. Pada saat Kristsu mati untuk membayar hukuman dosa kita, upacara ini tidak diperlukan lagi karena telah digenapi oleh Yesus. Banyak orang Yahudi yang mengakui kegenapan akan hari-hari kudus ini, tetapi yang lain bersikeras bahwa hari-hari ini masih perlu dipelihara. Yang terakhir ini secara tidak adil mendesak agar orang-orang Kristen bukan Yahudi juga melakukannya.
Sementara itu, orang-orang Kristen bukan Yahudi yang menyembah berhala sekarang menyadari kesalahan cara mereka dan jijik bahkan oleh makanan yang telah dikorbankan untuk dewa-dewa. Mereka mempertanyakan integritas orang Kristen Yahudi yang makan makanan seperti itu. Orang Yahudi, bagaimanapun, merasa bahwa ”Tentang hal makan daging persembahan berhala tahu: ’tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain daripada Allah yang esa” (I Korintus 8:4).
Roma 14 bukanlah izin ilahi yang baru yang menghalalkan makan semua jenis daging hewan, dan membatalkan prinsip kesehatan dan kebersihan yang telah secara rinci diberikan Allah. Ini bukanlah surat yang memungkinkan perubahan sewenang-wenang dari kesucian hari ketujuh ke hari lain dalam satu minggu. Dalam pasal ini, Paulus menulis kepada orang-orang Kristen di Roma, memberi mereka pertimbangan yang saleh. Saya bisa membayangkan dia berkata, "Jangan menghakimi satu sama lain. Beberapa dari anda mungkin lebih paham dari yang lain, jadi jangan mencoba untuk memaksa atau memanipulasi saudaramu jika ia memahami sesuatu yang sedikit berbeda dari Anda. Dan jangan menjadi batu sandungan bagi saudari Anda, tidak perlu menyinggung hati nuraninya dengan melakukan sesuatu menurutnya tidak nyaman.” Paulus memperkenalkan ide ini dalam Roma 13:10, ” Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” Inti dari pesannya adalah, ” Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Roma 14:13).
SAMBUTAN
1. Diskusikan hubungan antara Roma 14 dan I Korintus 10:31-33
Brayden Godfrey, Perth, Western Australia
Rabu
22 September
Rom. 14:4, 10-12, 20 Bagaimana
Menghakimi Sepantasnya
Pengadilan adalah tindakan menilai situasi, peristiwa, atau keadaan, dan kemudian diakhiri dengan kesimpulan. Ketika berbicara tentang penilaian dalam arti Alkitabiah, banyak dari kita melihat diri kita berdiri di depan Allah sementara Dia menilai semua yang kita lakukan. Jika kita telah menerima Kristus sebagai kebenaran kita sendiri dan hidup sesuai dengan tuntunan Roh Kudus, kita tidak perlu takut penghakiman Allah. Berikut adalah beberapa pertanyaan tentang apa yang kita mungkin atau mungkin tidak akan lakukan untuk mempersiapkan untuk penghakiman Allah.
apa yang Anda makan, minum, dan bicarakan harus mencerminkan hubunganmu dengan Kristus
Siapakah yang melayakan kita untuk menghakimi? (Roma 14:4). Pada sidang pengadilan, hukum atau keyakinan digunakan sebagai pedoman untuk menilai apa yang benar dan apa yang salah. Saat ini, banyak orang memiliki pedoman sendiri yang mereka ciptakan sendiri. Seringkali orang-orang ini mungkin juga mengakui hukum lain yang mereka anggap baik dan benar. Namun, bukan hak kita untuk menghakimi mereka. Baca Yakobus 4:11, 12.
Bagaimana dampak tindakan Anda terhadap dunia? (Roma 14:15, 16). Apakah contoh yang Anda hasilkan untuk orang lain? Apa yang kau makan? Apa yang Anda minum? Apa yang kamu bicarakan? Jawaban Anda dan orang lain atas pertanyaan-pertanyaan tersebut memberi gambaran karakter sejati Anda dan Allah yang Anda ikuti. Jika Anda mengaku menjadi seorang Kristen, apa yang Anda makan, minum, dan bicarakan harus mencerminkan hubunganmu dengan Kristus sehingga orang lain akan tertarik kepadaNya. Anda juga harus berhati-hati bahwa apa yang Anda lakukan tidak menyebabkan orang lain berbuat dosa.
Apa yang Anda anggap berharga? (Roma 14:20, 21). Ada begitu banyak hal yang dihargai orang. Kita harus selalu bertanya pada diri sendiri, apakah saya menghargai hal yang benar? Apakah hal yang saya anggap berharga membantu saya bertumbuh secara rohani? Apakah hal itu menunjukkan bahwa saya berjalan bersama Tuhan dan menghargai hubungan dengan Dia?
Siapakah hakim yang sempurna? (Roma 14:10). Banyak orang keliru menempatkan diri sebagai hakim. Mereka merasa senang dalam mengutuk orang lain karena itu membuat mereka merasa "suci" Namun, Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa hanya ada satu yang memenuhi syarat untuk menghakimi. Hanya ada satu yang jujur dan adil—Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat kita (II Korintus 5:10).
SAMBUTAN
1. Hal-hal apakah yang terjadi ketika kita menetapkan diri sebagai hakim?
2. Daripada saling menghakimi, apakah yang sebaiknya kita lakukan?
3. Mengapa hanya Kristus satu-satunya yang dapat menjadi Hakim?
Ruvimbo M. Mubayiwa , Perth, Western Australia
Kamis
23 September
Mikha 6:8; Matius 7:1—5; Galatia 5:1, 13-26 Pendapat
Hidup dalam Kebebasan Kristen
Sebagai anggota GMAHK, penting bagi kita untuk memiliki keyakinan yang mendefinisikan diri kita. Bahkan, sesuai dengan nama, itu menyatakan sebagai kelompok individu beragam yang mengakui bahwa Yesus adalah Kristus. Beberapa unsur lain yang mempersatukan kita adalah doktrin keselamatan melalui Kristus, kepercayaan dalam kebangkitan-Nya, hari Sabat, serta menjalani kehidupan yang mencerminkan karakterNya. Bagaimanapun, terlalu sering kita membuat kesalahan dengan percaya bahwa pendapat pribadi kita juga haruslah bersifat umum. Hal ini tampaknya tidak menjadi masalah baru, seperti Paulus menghabiskan waktu yang cukup besar waktu berdebat akan apa yang disebut hukum kebebasan bagi orang-orang Roma. Saat ia mengingatkan kita bahwa semua sudah berdosa dan jauh dari kemuliaan Allah.
Mikha 6:8 tidak mengatakan … “jangan ber-internet pada hari Sabat.”
Siapakah kita, yang kemudian menghakimi orang lain menurut standar kita? Pendapat kita jelas-jelas tidak berdasarkan doktrin. Kita lupa bahwa semua yang diminta dari kita adalah untuk "berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Perhatikan bahwa Mikha 6:8 tidak mengatakan "tidak mengenakan celana jins ke gereja," "jangan memakai perhiasan," "jangan berinternet pada hari Sabat," atau "jangan makan daging." Bahkan Paulus menunjukkan bahwa keselamatan kita tidak ditentukan oleh apa yang kita makan atau minum, tetapi itu adalah karunia dari Allah. Karena itu, kita tidak menghakimi orang lain bagi siapa Kristus telah mati.
Di sisi lain, sementara tidak ada kata-kata "jangan kamu merokok," kita harus ingat bahwa karena baik waktu dan tubuh kita adalah hadiah dari Tuhan, karena itu kita harus menjaga kesehatan dan menetapkan contoh yang baik bagi mereka yang mungkin berjuang. Ini adalah satu hal untuk mengatakan "Bebas! Bebas! "dan hal lain untuk melupakan tentang kasih kepada Tuhan dan sesama manusia.
Kita dimaksudkan menjadi wakil-wakil Kristus. Adalah tidak baik untuk menjadi orang-orang yang fanatik dengan hukum (legalis) atau anarkis. Sebaliknya, kita harus menunjukkan buah-buah Roh kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, iman, kelembutan, dan kesederhanaan. Ini adalah keunggulan dari karakter Kristus. Dan tidak ada hukum yang melarang semua itu.
SAMBUTAN
1. Kepercayaan dan praktek apa yang penting kepada iman kita sebagai anggota GMAHK? Seberapa baik kelompok pemuda dewasamu mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari?
2. Kepercayaan dan praktek apa yang tidak penting kepada iman kita sebagai anggota GMAHK? Kenapa kita mempromosikan dan mempraktekan hal ini?
Michelle Luo, Perth, Western Australia
Jum’at
24 SEptember
Eksplorasi
Hakim Menghakimi Yohanes 7:24
SIMPULKAN
Kita semua lahir dengan kemampuan dan kecenderungan bawaan. Diciptakan dalam rupa Allah, kita secara alami memiliki bakat yang meningkatkan kehidupan kita, jemaat, dan masyarakat pada umumnya. Namun, lahir ke dalam dosa, kita secara alami cenderung untuk berperilaku dengan cara-cara yang merugikan orang lain. Dosa telah diprogram menjadikan kita untuk menjadi egois, membenarkan diri, dan berpendirian keras. Keinginan alami untuk duduk dalam penghakiman kebenaran segala sesuatu mulai dari iklan televisi untuk orang berasal dari kelemahan ini, tapi itu bukan alasan untuk menjadi Hakim Menghakimi, atau dikenal sebagai tahu segala hal. Kita semua memiliki pilihan yang sama: untuk diisi dengan Roh Kudus agar kita dapat menjadi seperti Yesus atau untuk menyerah pada kecenderungan kita untuk menjadi jahat.
PERTIMBANGKAN
• Melihat dan mendengarkan selama acara potluck gereja dan kemudian membuat grafik atau diagram yang menggambarkan banyaknya komentar yang menghakimi dari setiap orang.
• Menyusun suatu mazmur yang meminta Roh Kudus agar Anda dapat terbantu untuk tidak menghakimi setiap harinya.
• Mengembangkan tindakan apa yang harus dilakukan ketika Anda berada dalam situasi yang menggoda untuk menghakimi.
• Menulis dan melakukan sebuah drama komedi pendek tentang ”menghakimi” dalam konteks prinsip-prinsip kesehatan Advent.
• Mulai menabung uang di mana setiap tabungan adalah setoran saat dimana anda mulai menghakimi atau komentar bernada menghakimi yang Anda buat (gunakan mata uang dalam nilai terendah mata uang negara kita atau kisaran koin tengah). Lakukan ini selama sekitar dua minggu. Setelah selesai, hitung uang Anda, Sumbangkan uang untuk amal favorit, dan berdoa bahwa Allah akan membantu Anda untuk tidak terlalu menghakimi dan lebih bersikap menghargai.
• Memiliki teman yang dapat diandalkan—rekan Anda yang dapat dipercayai, dimana dapat memberikan dorongan—untuk membantu Anda dalam perjuangan Anda agar tidak menghakimi.
HUBUNGKAN
Herbert Douglass, Messenger of the Lord, chapt. 42, “Criticism Involving Relationships With Other People”; Laurie Beth Jones, Jesus, Life Coach: Learn From the Best (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2004); Max Lucado, Just Like Jesus: Learning to Have a Heart Like His (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2003).
Fylvia Kline, Medford, Oregon, U.S.A.
Sunday, 5 September 2010
SSCQ Pelajaran 11 Kwartal 3 tahun 2010
SSCQ Juni – September 2010
Pelajaran Sebelas Kwartal 3, 4—10 Sept. 2010
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Pemilihan
Kasih Karunia
“Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin.” (Roma 11:1).
Sabbath
4 September
Matt. 28:19, 20; Rom.10:12; 11:17, 18 Pendahuluan
Melupakan Missi Utama
Ada seorang kaya yang tinggal di desa terpencil. Dia mempunya beberapa orang anak, yang masing-masingnya mempunyai karakter yang berbeda. Orang ini adalah orang yang penuh perhatian. Dia mengajarkan kepada semua anaknya untuk bekerja,dan dia membantu mereka untuk menumbuhkan sifat dan karakter yang baik.
Salah seorang anaknya Joe, amat berbakat sekali. Joe menjadi favorit orang ini. Suatu hari orang kaya ini merencankana suatu perjalanan bisnis. Dia mengatakan kepada Joe bahwa dia mengangkat Joe untuk bertanggung jawab kepada saudara-saudaranya dan membantu mereka belajar sementara dia pergi.
peranan boleh berobah, tetapi rencana keselamatan kekal
Sayangnya, Joe tidak melakukan apa yang diharapkan bapanya. Dia memisahkan diri dari saudara-saudaranya. Daripada membantu saudaranya, di melakukan hal-hal yang membuat dia terlihat hebat pada waktu bapanya pulang. Faktanya, apabila salah seorang adiknya melakukan kesalahan, daripada membanut saudaranya, Joe malahan mengacam saudaranya dengan mengatakan akan melaporkan mereka kepada ayahnya.
Pada waktu ayahnya pulang, semua anak-anak menyambutnya. Tetapi, pada waktu dia tahu bahwa Joe tidak melakukan apa yang telah dimintanya, dia menjadi sedih dan mengatakan kepada Joe bahwa dia akan meluangkan waktu lebih banyak kepada saudaranya yang lain daripada dengan Joe.
Sementara semua perumpamaan, seperti yang ini mengarah kepada sesuatu, yang ini mengajarkan kepada kita bahwa Bapa kita yang disurga mengasihi semua orang, walaupun pada masa lalu Dia telah secara khusus memilih suatu bangsa untuk mengajarkan kasihNya kepada bangsa lain. Tetapi, bangsa ini yang dinamakan Tuhan Israel berusaha keras sekali untuk menjadi putra favorit sehingga mereka memisahkan diri mereka dari dunia yang lain. Mereka sedemikian bangganya dengan status umat pilihan sehingga mereka lupa kenapa Allah telah memilih mereka—membagikan kabar baik kebenaran melalui iman.
Pada waktu Yesus datang kedunia ini. Dia membantu mereka dan kita untuk mengerti bahwa “tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan kafir” (Roma 10:12), karena semuanya telah bedosa dan membutuhkan kasih karunia Allah yang diberikan kepada dunia melalui Yesus Kristus. Kasih karunia ini diberikan kepada semua, bukan berdasarkan nasinalitas, kelahiran, atau kerja, tetapi melalui iman dalam Yesus, yang telah mati menjadi Pengganti bagi orang berdosa dimanapun dia ada. Ya, peranan boleh berobah, tetapi rencana keselamatan kekal.
Minggu ini kita akan belajar tentang apa artinya menjadi umat pilihan atau diangkat oleh Kristus, yang tidak membedakan antara orang Yahudi dan gerika khususnya untuk keselamatan. Hari ini, Dia juga membujuk kita untuk mengabarkan ijil kepada selurh bangsa bukan hanya kepada beberapa orang saja (Mat.:12)
Daniel Saputra, Sumatra Selatan, Indonesia
Minggu
5 September
Logos
Kesempatan Kedua . . . . dan Ketiga . . .dan Ke Empat . . . .dan . . . Roma 10; 11
Perhatian Paulus (Roma 10: 1-8)
Keselamatan orang Israel—umat pilihan Tuhan—merupakan agenda tersembunyi dan pelayanan Paulus diantara orang kafir di Roma. Pada awal pasal 8, dia mengungkapan kerinduannya untuk keselamatan pemimpin Yahudi. Mereka mempunyai pengetahuan dan disiplin legalis, tetapi hal ini tidak menuntun mereka kepada kerendahan hati dan kebergantungan menyeluruh kepada Allah.
Allah tidak pernah menarik tangan belas kasihan dan kasih karuniaNYA, Kitalah yang menolakNYA
Walaupun begitu, juga di roma, Paulus mengabarkan injil kepada orang kafir. Dia berharap dengan melakukan itu akan menyebabkan orang Yahudi mencemburui mereka dan dipaksa untuk menerima belas kasihan Allah. Tetapi pemimpin orang Yahudi sebaliknya tertarik untuk menuruti secara rinci akan hukum-hukum, karena ini akan melambungkan ego mereka. Dengan melakukan itu, mereka menolak pengalaman sederhana mempunyai iman dalam Yesus dan melindungi kesombongan mereka dengan tidak mengakui bahwa mereka tidak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri.
Evangelisasi: Lebih dari Sebuah Panggilan (Rom. 10:14–21)
Apabila seseorang menerima pemberikan keselamatan Yesus, konsekuensi alaminya adalah kerinduan untuk juga menolong orang lain untuk menemukan kasih karunia dan pengharapan didalam diriNYA. Ayat 14 memprovokasi pikiran kita dengan pertanyaan yang memaksa orang Kristen untuk membagikan injil. Dalam buku renungan tentang Roma, George R. Knight membagikan suatu perspektif baru tentang ayat 14 dalam suatu kutipan dari seorang pembicara Kristen yang terkenal, John Stott: “Intisari dari argumentasi Paulus akan terlihat apabila kita menempatkan enam kata kerja dalam urutan yang terbalik: Kristus mengirimkan juru kabar; juru kabar berkhotbah; orang-orang mendengar; yang mendengar percaya; yang percaya terpangging; dan yang terpanggil diselamatkan.”* Bahkan saat ini, kita diinspirasi oleh kebenaran pekabaran ini: Bagaimana orang-orang disekeliling kita bisa mendengar apabila kita tidak membagikannya kepada mereka?
Tetapi orang yang mendengar tentang Yesus mesti mempercayaiNYA dan melanjutkan untuk mengimani kemampuanNYA untuk menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka. Orang Israel telah mendengar, tetapi mereka tidak percaya. Dalam ayat 19, Paulus menanyakan kepada kita suatu pertanyaan redundan, “Apakah orang Israel tidak tahu?” Tentu saja mereka tahu! Tetapi, pengetahuan mereka akan Allah telah menjadi illah mereka. Mereka menyembah pengetahuan ini dan hidup dalu suatu bentuk keillahian yang tidak dapat diterima dalam pandangan Allah.
Kasih Allah yang tak Pernah Gagal (Rom. 11:1–12)
Pemimpin keagamaan Yahudi dan pengikutnya menolak Yesus sebagai Mesias. Tetapi, Allah tidak pernah menolak mereka. Paulus menekankan hal ini pada waktu dia menuliskan, “Saya sendiri adalah orang Israel, turunan Abraham, anggota suku Benyamin. Allah tidak menolah umatnya yang lebih dahulu dipilihNya”(Roma 11:1,2). Allah tidak pernah menarik tangan belas kasihan dan kasih karuniaNYA, Kitalah yang menolakNYA.
Allah dapat melihat bahwa orang Yahudi mencoba untuk menghidupkan peranan mereka sebagai umat PilihanNYA. Mereka berpegang teguh dengan adat istiadat dan mempraktekan semua upacara dengan sepenuh hati. Bukalah masalah apakah mereka umat Allah atau tidak—mereka hanya mengambil jalan yang keliru. Jalan yang benar diperlihatkan dalam Yohanes 14:6, “Yesus mengatakan . . . . , Akulah jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku”.
Keselamatan untuk Orang Kafir (Rom. 11:13–26)
Paulus melanjutkan ini dengan menguraikan bahwa sebatang pohon mempunyai cabang yang asli, cabang yang patah, dan cabang yang dicangkokan. Pada saat orang Yahudi menola rencana keselamatan Allah, kekurangan iman mereka kepada Yesus menyebabkan mereka terpisah dari pohon Allah. Ketidak hadiran mereka membuat ruang untuk cabang liar orang kafir menjadi bagian dari keluarga Allah karena mereka menerima Injil. Illustrasi pohon mengingatkan kita bahwa iman orang Yahudi masih berakar pada keKristenan.
Walaupun orang Israel telah terpisah dari Allah, Dia belum membakar dan mencampakan mereka. “Tetapi mereka pun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali.” (ayat 23)
Belas Kasihan Allah untuk semua Umat Manusia (Rom. 11:29–36)
Pasal 11 menyimpulkan suatu tekanan perayaan, perbaktian, dan pujian kepda kasih karunia Allah yang tak terbatas dan kasihNya yang tanpa syarat. Paulus menyatakan bahwa Allah masih tetap memohon kepada orang Yahudi untuk menerima kasih karuniaNYA, merendahkan hati mereka sendiri, dan diselamatkan oleh iman. Kasih dan penerimaan, seperti yang terjadi pada orang-orang berdosa, bukanlah apa yang layak mereka terima. Orang Yahudi telah mencegah penyebaran injil, telah menganiaya para misionaris, dan bertanggung jawab atas penyaliban Kristus. Tetapi tetap saja Allah, menginginkan mereka diselamatkan—kalau saja mereka percaya dan menyerahkan sifat memuliakan diri sendiri dan mempunyai iman kepada Yesus sebagai juruselamat mereka.
Kita bisa saja bersyukur karena ketidak patuhan tak pernah berakhir, tetapi karena itulah Yesus datang untuk membebaskan kita. Dia adalah satu-satunya yang dapat dengan sempurna patuh kepada hukum Allah. Jalan-jalanNya jauh melampaui jalan kita. Segala sesuatu yang dapat kita berikan kepada Allah tak ada sepersekiannya dibandingkan apa yang telah dilakkannya bagi kita. Orang Yahudi bangga akan kemampuan mereka mematuhi hukum secara rinci. Tetapi, mereka tidak menyadari seberapa gawatnya mereka telah jatuh. Semua kemulian berpulang hanya kepada Allah. Hanya melalui kasih karuniaNYA kita diselamatkan.
REAKSI
1. Menurut anda, bentuk hubungan apa yang dimiliki Paulus dengan pemimpin Yahudi yang dulu dihidupkannya dan praktek legalistiknya dijalankannya?
2. Apa pendapat anda tentang cara Allah menawarkan kasih karunia kepada orang-orang yang keras tengkuk, sombong, dan fanatik? Pernahkan anda merasa seperti menolak seseorang dengan sikap mau menang sendiri dan keras tengkuk?
____________
* George R. Knight, Walking With Paul Through the Book of Romans (Hagerstown, Md.: Review and Herald® Publishing Association, 2002), p. 256.
Debbie Battin Sasser, Friendswood, Texas, U.S.A
Senin
6 September
Kesaksian
Hasil Pemilihan Yohn 15:4; Rom. 11:4–6; 2 Pet. 1:3–11
Apabila kita taat dengan kondisi yang telah dibuat Tuhan, kita mempunyai kepastiaan untuk diselamatkan. Ketaatan yang sempurna kepada hukum-hukumNya adalah bukti kita mengasihi Allah, dan tidak dikeraskan oleh dosa.
“Kristus mempunyai gereja pada setiap zaman. Ada orang-orang yang berada di dalam gereja yang tidak menjadi lebih baik dari hubungan ini. Mereka sendiri yang memutuskan hubungan ini. Kepatuhan kepada perintah Allah memberikan kita hak istimewa gerejaNYA”1
Tidak ada satupun orang yang mesti hilang
Yohanes 15:4 "adalah permata kebenaran yang paling berharga bagi setiap jiwa kita. Disinilah terletak pemilihan kita dalam Alkitab, dan kita dapat membuktikan pemilihan kita oleh Kristus karena setia; kita dapat membutkikan diri kita sendiri dipilih Kristus karena tinggal didalam Kristus.”2
“Allah memilih mereka yang telah bekerja pada rencana penambahan (2 Pet. 1:5-8). Penjelasannya diberikan pada bagian pertama dari buku 2Petrus. Untuk semua umat manusia, Kristus telah membayar ongkosnya. Tidak ada satupun orang yang mesti hilang. Semuanya telah ditebus. Bagi mereka yang menerima Kristus sebagai juruselamat pribadinya akan diberikan kuasa untuk menjadi putra dan putri Allah. Suatu polis asuransi hidup kekal telah disediakan untuk semua orang.
“Siapapun yang dipilih Allah, ditebus oleh Kristus. Juruselamat telah membayar harga penebusan untuk setiap jiwa. Kita bukanlah milik kita lagi, karena kita telah dibeli. Dari Penebus, yang dari sejak dunia dijadikan telah memilih kita, kita menerima asuransi yang memastikan hidup kekal . . . . .
“ . . . . . . .Ini bukanlah polis asuransi yang nilainya akan diterima oleh orang lain setelah kematian kita, ini adalah polis yang memastikan kita suatu hidup bersama-sama Allah—hidup kekal”3
REAKSI
1. Bagaimana ayat-ayat berikut membantu kita mendefinisikan “ketaatan sempurna”? Keluaran. 20:1–17; Yesaya. 58:5–9; Mikha. 6:8; Matt. 22:34–40; 25:31–46.
2. Allah telah memilih semua orang dalam pengertian Dia mengirimkan PutraNYA kedunia bukan untuk mengutuk dunia, tetapi agar dunia dapat diselamatkan melalui Dia (Yoh. 3:16-17). Bagaimana orang-orang bahkan anda sendiri memutuskan pemilihan ini?
____________
1. Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, vol. 6, p. 1079.
2. Ibid.
3. Ibid., vol. 7, p. 944.
Leslie J. Scholten, Amsterdam, the Netherlands
Selasa
7 September
Bukti
Pelajaran dari Orang Israel Rom. 10:16–21
Pada ayat inti hari ini, kita temui Paulus mengutip dari kata-kata nabi Yesaya untuk mengkontraskan perbedaan antara penolakan Israel sebagai bangsa akan kebenaran melalui iman dan “iman yang tak terduga” orang Kafir. Agar kita tidak memubat kesalahan yang sama seperti yang dilakukan orang Israel, adalah penting bagi kita untuk mengetahui kondisi orang Israel pada waktu Yesaya bekerja sebagai nabi Tuhan. Yesaya menekankan ketidak relaan orang Israel untuk mendengarkan suara Allah. Dia menekankan ketidak taatan dan pemberontakan bangsa itu.
Orang Israel menempatkan pengharapan mereka akan kebesaran dunia
Tetapi mari kita mundur ke zaman sebelum Yesaya yaitu pada waktu orang Israel keluar dari Mesir dan mengembara di padang belantara selama 40 tahun. Kemudian kita temukan berkali-kali ketika mereka kehilangan iman akan Allah dan janji-janji keselamatanNYA. Dari sejak mulai perjalanan mereka telah bersungut-sungut dan berkeluh kesah akan apa yang mereka anggap sebagai bermutu, atau kekurangannya, pemeliharaan Allah kepada mereka. Perhatikan akan keluh kesah mereka akan makanan mereka di Bilangan 11:4-34 dan kekurangan air di Keluaran 15:22-24 dan Bilangan 20:1-13. Kemudian pada waktu orang Israel meyakinkan Harun untuk membuat patung anak lembu jantan sementara Musa bertemu dengan Allah mewakili mereka (Kel. 32:1-6). Pada waktu mereka pertama kali meninggalkan Mesir, hati mereka pastilah dipenuhi oleh kesukaan dan iman. Tetapi alangkah cepatnya mereka lupa.
Kita baca bahwa semua hal ini dan lebih lanjutnya mengakibatkan orang Israel akhirnya kehilangan “pandangan akan hak istimewa mereka sebagai perwakilan Allah. Mereka lupa Allah dan gagal untuk memenuhi misi suciNYA. Berkat yang mereka terima tidak membawa berkat kepada dunia. Semua keistimewaan itu mereka jadikan untuk kemuliaan mereka saja. Mereka menutup diri mereka dari dunia agar terlepas dari pencobaan.”1
“Orang Israel menempatkan pengharapan mereka akan kebesaran dunia. Dari sejak mereka memasuki tanah Kanaan, mereka menyimpang dari perintah Allah, dan mengikuti jalan kekafiran. Dengan sia-sia Allah mengirimkan peringatan kepada umatNYA melalui para nabi. Dengan sia-sia mereka menderita penghinaan orang Kafir. Setiap reformasi selalu diikuti oleh kemurtadan yang lebih dalam lagi.”2.
Dari orang Israel, kita belajar bahwa tidak peduli seberapa banyak kita mengklaim sebagai umat pilihan Allah, jika kita tidak memupuk iman kita, kita akan terlepas dariNYA. Orang Israel gagal karena mereka secara konsisten tercerai dari Allah, mencari “makan” dan “air” illah lain yang tampaknya lebih menarik.
____________
1. The Acts of the Apostles, p. 14.
2. The Desire of Ages, p. 28.
Osvald Taroreh, Jakarta, Indonesia
Rabu
8 September
Rom. 10:9; 11:17–24 Bagaimana
Mempertahankan Pilihan Kita
Paulus menunjukan kepada kita bahwa keselematan didasarkan pada kasih karunia Allah dan pembenaran oleh iman, dan semua orang telah dipilih untuk menerima keselamatan jika mereka menerima pengorbanan Kristus bagi mereka. Pada waktu orang Yahudi yang tidak per caya menolah Kristus, kerajaanNYA diberikan kepada orang Kafir (Roma 11:17-24). (Hal ini bukan berarti keselamatan untuk orang Yahudi secara pribadi secara total telah ditutup). Paulus menekan hal ini dengan membandingkannya kepada suatu cabang yang patah dari pohon zaitun dan cabang liar dicangkokan menggantikan yang patah. Setiap orang saat ini yang menerima Kristus melalui iman merupakan bagian dari pencangkokan itu, dan, karenanya merupakan bagian dari pohon itu. Jadi bagaimana kita menghidupkan keselamatan yang telah diberikan Kristus kepada kita?
“Anti” ini berlanjut ke penghancuran gereja
Sadari bahwa tidak ada keselamatan bila terpisah dari pohon. Paulus secara terus menerus mengajarkan kita bahwa kita tidak dapat mempunyai pengharapan, damai, dan keselamatan kecuali kita mempertahankan hubungan iman dengan Allah melalui Kristus. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan keselamatan. Hal ini hanya dapat dicapai melalui kasih karunia Allah pada waktu kita menerima pengorbanan Kristus bagi kita.
Hindari kesombongan. Kita mesti berhati-hati akan kesombongan rohani (Amsal 16:18). “Paulus mengingatkan kita tentang perasaan superior terhadap orang lain sama berartinya saat ini seperti 2000 tahun lalu. . . . . . .Beberapa orang mungkin tidak anti Yahudi, tetapi mereka mungkin anti-Hitam, anti-Putih, anti-Hispanik, dan anti-Asia, atau anti-orang lain yang tidak mempercayai hal yang sama yang mereka percayai atau menghargai musik yang sama seperti yang mereka hargai. “Anti” ini berlanjut ke penghancuran gereja. Satu-satunya pemecahan masalah untuk mereka dengan pemikiran superior adalah bertemu dengan Kristus di kayu salib.”*
Pertahankan hubungan dengan Yesus. Keselamatan kita dipertahankan sepanjang kita mempunyai hubungna yang kuat dengan Juruselamat kita. Bagian dari mempertahankan ini termasuk melakukan kehendak Allah. Bacalah Matius 7:21. Yesus mengatakan, “Tidak semua orang yang mengatakan “Tuhan, Tuhan” akan memasuki kerajaan sorga, tetapi hanya bagi mereka yang melakukan kehendak BapaKu disorga saja.” Kita juga perlu berdoa, mempelajari Firman Allah, dan merenungkannya, dan melayani seseama manusia.
REAKSI:
1. Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kegagalan orang Israel menerima Kristus?
2. Apa yang dikatakan Alkitab tentang sifat kehendak Allah? Galatia 1:4; 1 Tessalonika 4:3–7; 5:1–22; 1 Petrus 2:15; 2 Petrus 3:9. Apalagi yang menurut anda merupakan kehendak Allah? Dukung pendapatmu dengan ayat Alkitab.
____________
*George R. Knight, Walking With Paul Through the Book of Romans, p. 272.
Victor Joe Sinaga, Palembang, South Sumatra, Indonesia
Kamis
9 September
Rom. 10:9–21 Pendapat
Meninggalkan Zona Nyaman
Dengan membuat mereka terpisah dari dunia, orang Israel secar tidak sadar telah membangun tembok yang memisahkan mereka dan orang kafir, karenanya gagal untuk menyatakan pekabaran kepada orang lain. Sebagai orang Kristen, kita juga, sering terperangkap oleh tembok yang kita ciptakan. Apabila kita merasa nyaman dengan suatu kelompok dalam gereja, kita cenderung mengabaikan hubungan yang sehat dengan teman-teman dilingkukangan dan kota kita. Hal ini mencegah kita untuk membagikan injil kepada orang lain.
kita mempunyai kesempatan yang luarbiasa untuk bersaksi bagi Allah
Allah tidak menolak orang berdasarkan adat atau suku. Dia tidak lebih menyenangi suatu bangsa dari yang lain. Tetapi Dia menganugerahkan keselamatan untuk semua (Yoh. 3:16, 17). Kita mesti meninggalkan zona nyaman kita dan membagikan injil dalam suatu cara atau lainnya dengan semua orang yang kita temui.
Injil tidak dapat dipisahkan dari kata mission dan pelayanan. “Pengikut Kristus telah ditebus untuk pelayanan. Tuhan kita mengajarkan bahwa objek kehidupan yang sebenarnya adalah pelayanan (ministry). Kristus sendiri adalah pekerja, dan kepada semua pengikutNYA Dia memberikan hukum pelayanan—pelayanan kepada Tuhan dan sesama manusia. . . . . .Hukum pelayanan menjadi rantai penghubung yang mengikat kita kepada Allah dan sesama manusia.
“Dia memberikan kepada semua orang pekerjaannya. Setiap orang mempunyai tempat dalam rencan sorga yang kekal. Setiap orang mesti bekerja dalam kerjasama dengan Kristus untuk keselamatan jiwa-jiwa. Tidak ada tempat yang lebih baik dipersiapkan bagi kita di istana sorga daripada tempat khusus dinyatakan di dunia ditempat kita bekerja bagi Allah”*
Melalui missi dan pelayanan, kita mempunyai kesempatan yang luarbiasa untuk bersaksi bagi Allah. Karena orang Israel sebagai bangsa menolah Allah, Dia membuka pintu bagi setiap orang untuk menjadi saksi-saksiNYA. Orang Kristen saat ini mesti selalu memberikan perhatian kepada rencana menyeluruh yang ditawarkan Allah—Keselamatan untuk semua orang, dan anak-anak. Apabila kita menutup dirikita sendiri dari dunia baik yang jauh dan disekitar kita, Allah mungkin juga menolah kita dan menggunakan orang lain untuk mengabarkan kebenaranNYA, bahkan alam juga (Mazmur 19:1-4)
REAKSI
Kenapa kita sebagai orang Kristen sering kehilangan fokus sampai ketitik perasaan terlampau nyaman dengan agama kita? Apa yang dapat kita lakukan untuk menghancurkan batas itu dan menjangkau orang lain?
____________
*Christ’s Object Lessons, pp. 326, 327.
Fritz and Joice Manurung, Jakarta, Indonesia
Jum’at
10 SEptember
Dalami
Keselamatan dan Identitas Roma 9
SIMPULAN
Banyak negara, propinsi, kabupaten dan kota menyelenggarakan pemilihan yang mahal untuk menentukan siapa yang akan memerintah daerah mereka. Hasil dari pemilihan ini dapat menjadi bencana atau keuntungan, bergantung siapa yang diangkat dan sudut pandang pemilih. Tetapi ada suatu proses pemilihan yang pasti—pemilihan Allah akan umatNYA. Kualifikasi untuk pemilihan mereka mencakup iman mereka, yang juga merupakan bukti pemilihan mereka. Allah telah membayar semua biaya untuk pemilihan ini melalui kematian PutraNYA, Yesus Kristus. Sepajang kita berpegang kepadaNYA kita pasti dipilih.
PERTIMBANGKAN
• Baca secara menyeluruh Yohanes 15:1-17 dan buat riset tentang penanaman pokok anggur. Bandingkan penanaman ini dengan pemilihan umat Allah dan proses pertumbuhan mereka sebagai orang Kristen.
• Pelajari sejarah gereja Kristen untuk melihat pada waktu Allah mempunyai umat yang mematuhi perintahNYA.
• Ciptakan persamaan yang menyatakan proses penambahan dalam 2Petrus 1:3-10. Bagaimana bentuk persamaan itu jika anda ingin mengurangkan?
• Tulis daftar cara-cara anda dapat menggunakan talenta untuk melayani masyarakatmu. Kemudian carilah gambar-gambar yang menunjukan benda-benda dalam daftarmu. Buatlah album dari gambar-gambar ini. Berdasarkan pelajaran minggu ini, judul apa yang akan anda berikan untuk albummu?
• Buat jaringan dengan tiga atau empat orang yang mempunyai talenta yang sama denganmu. Secara bersama buatlah dan laksanakn suatu rencana yang menggunakan talenta untuk kebaikan masyarakatmu.
• Buatlah suatu lagu yang liriknya terdiri dari paling sedikit tiga buat ayat favorit yang berhubungan dengan iman. Sementara anda menulis lagumu, ingatlah bahwa iman dalam Allah yang membuat kita diangkat.
HUBUNGKAN
George R. Knight, Walking With Paul Through the Book of Romans, pp. 261,
Marijo Van Dyke, Detroit, Michigan, U.S.A.
Pelajaran Sebelas Kwartal 3, 4—10 Sept. 2010
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Pemilihan
Kasih Karunia
“Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin.” (Roma 11:1).
Sabbath
4 September
Matt. 28:19, 20; Rom.10:12; 11:17, 18 Pendahuluan
Melupakan Missi Utama
Ada seorang kaya yang tinggal di desa terpencil. Dia mempunya beberapa orang anak, yang masing-masingnya mempunyai karakter yang berbeda. Orang ini adalah orang yang penuh perhatian. Dia mengajarkan kepada semua anaknya untuk bekerja,dan dia membantu mereka untuk menumbuhkan sifat dan karakter yang baik.
Salah seorang anaknya Joe, amat berbakat sekali. Joe menjadi favorit orang ini. Suatu hari orang kaya ini merencankana suatu perjalanan bisnis. Dia mengatakan kepada Joe bahwa dia mengangkat Joe untuk bertanggung jawab kepada saudara-saudaranya dan membantu mereka belajar sementara dia pergi.
peranan boleh berobah, tetapi rencana keselamatan kekal
Sayangnya, Joe tidak melakukan apa yang diharapkan bapanya. Dia memisahkan diri dari saudara-saudaranya. Daripada membantu saudaranya, di melakukan hal-hal yang membuat dia terlihat hebat pada waktu bapanya pulang. Faktanya, apabila salah seorang adiknya melakukan kesalahan, daripada membanut saudaranya, Joe malahan mengacam saudaranya dengan mengatakan akan melaporkan mereka kepada ayahnya.
Pada waktu ayahnya pulang, semua anak-anak menyambutnya. Tetapi, pada waktu dia tahu bahwa Joe tidak melakukan apa yang telah dimintanya, dia menjadi sedih dan mengatakan kepada Joe bahwa dia akan meluangkan waktu lebih banyak kepada saudaranya yang lain daripada dengan Joe.
Sementara semua perumpamaan, seperti yang ini mengarah kepada sesuatu, yang ini mengajarkan kepada kita bahwa Bapa kita yang disurga mengasihi semua orang, walaupun pada masa lalu Dia telah secara khusus memilih suatu bangsa untuk mengajarkan kasihNya kepada bangsa lain. Tetapi, bangsa ini yang dinamakan Tuhan Israel berusaha keras sekali untuk menjadi putra favorit sehingga mereka memisahkan diri mereka dari dunia yang lain. Mereka sedemikian bangganya dengan status umat pilihan sehingga mereka lupa kenapa Allah telah memilih mereka—membagikan kabar baik kebenaran melalui iman.
Pada waktu Yesus datang kedunia ini. Dia membantu mereka dan kita untuk mengerti bahwa “tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan kafir” (Roma 10:12), karena semuanya telah bedosa dan membutuhkan kasih karunia Allah yang diberikan kepada dunia melalui Yesus Kristus. Kasih karunia ini diberikan kepada semua, bukan berdasarkan nasinalitas, kelahiran, atau kerja, tetapi melalui iman dalam Yesus, yang telah mati menjadi Pengganti bagi orang berdosa dimanapun dia ada. Ya, peranan boleh berobah, tetapi rencana keselamatan kekal.
Minggu ini kita akan belajar tentang apa artinya menjadi umat pilihan atau diangkat oleh Kristus, yang tidak membedakan antara orang Yahudi dan gerika khususnya untuk keselamatan. Hari ini, Dia juga membujuk kita untuk mengabarkan ijil kepada selurh bangsa bukan hanya kepada beberapa orang saja (Mat.:12)
Daniel Saputra, Sumatra Selatan, Indonesia
Minggu
5 September
Logos
Kesempatan Kedua . . . . dan Ketiga . . .dan Ke Empat . . . .dan . . . Roma 10; 11
Perhatian Paulus (Roma 10: 1-8)
Keselamatan orang Israel—umat pilihan Tuhan—merupakan agenda tersembunyi dan pelayanan Paulus diantara orang kafir di Roma. Pada awal pasal 8, dia mengungkapan kerinduannya untuk keselamatan pemimpin Yahudi. Mereka mempunyai pengetahuan dan disiplin legalis, tetapi hal ini tidak menuntun mereka kepada kerendahan hati dan kebergantungan menyeluruh kepada Allah.
Allah tidak pernah menarik tangan belas kasihan dan kasih karuniaNYA, Kitalah yang menolakNYA
Walaupun begitu, juga di roma, Paulus mengabarkan injil kepada orang kafir. Dia berharap dengan melakukan itu akan menyebabkan orang Yahudi mencemburui mereka dan dipaksa untuk menerima belas kasihan Allah. Tetapi pemimpin orang Yahudi sebaliknya tertarik untuk menuruti secara rinci akan hukum-hukum, karena ini akan melambungkan ego mereka. Dengan melakukan itu, mereka menolak pengalaman sederhana mempunyai iman dalam Yesus dan melindungi kesombongan mereka dengan tidak mengakui bahwa mereka tidak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri.
Evangelisasi: Lebih dari Sebuah Panggilan (Rom. 10:14–21)
Apabila seseorang menerima pemberikan keselamatan Yesus, konsekuensi alaminya adalah kerinduan untuk juga menolong orang lain untuk menemukan kasih karunia dan pengharapan didalam diriNYA. Ayat 14 memprovokasi pikiran kita dengan pertanyaan yang memaksa orang Kristen untuk membagikan injil. Dalam buku renungan tentang Roma, George R. Knight membagikan suatu perspektif baru tentang ayat 14 dalam suatu kutipan dari seorang pembicara Kristen yang terkenal, John Stott: “Intisari dari argumentasi Paulus akan terlihat apabila kita menempatkan enam kata kerja dalam urutan yang terbalik: Kristus mengirimkan juru kabar; juru kabar berkhotbah; orang-orang mendengar; yang mendengar percaya; yang percaya terpangging; dan yang terpanggil diselamatkan.”* Bahkan saat ini, kita diinspirasi oleh kebenaran pekabaran ini: Bagaimana orang-orang disekeliling kita bisa mendengar apabila kita tidak membagikannya kepada mereka?
Tetapi orang yang mendengar tentang Yesus mesti mempercayaiNYA dan melanjutkan untuk mengimani kemampuanNYA untuk menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka. Orang Israel telah mendengar, tetapi mereka tidak percaya. Dalam ayat 19, Paulus menanyakan kepada kita suatu pertanyaan redundan, “Apakah orang Israel tidak tahu?” Tentu saja mereka tahu! Tetapi, pengetahuan mereka akan Allah telah menjadi illah mereka. Mereka menyembah pengetahuan ini dan hidup dalu suatu bentuk keillahian yang tidak dapat diterima dalam pandangan Allah.
Kasih Allah yang tak Pernah Gagal (Rom. 11:1–12)
Pemimpin keagamaan Yahudi dan pengikutnya menolak Yesus sebagai Mesias. Tetapi, Allah tidak pernah menolak mereka. Paulus menekankan hal ini pada waktu dia menuliskan, “Saya sendiri adalah orang Israel, turunan Abraham, anggota suku Benyamin. Allah tidak menolah umatnya yang lebih dahulu dipilihNya”(Roma 11:1,2). Allah tidak pernah menarik tangan belas kasihan dan kasih karuniaNYA, Kitalah yang menolakNYA.
Allah dapat melihat bahwa orang Yahudi mencoba untuk menghidupkan peranan mereka sebagai umat PilihanNYA. Mereka berpegang teguh dengan adat istiadat dan mempraktekan semua upacara dengan sepenuh hati. Bukalah masalah apakah mereka umat Allah atau tidak—mereka hanya mengambil jalan yang keliru. Jalan yang benar diperlihatkan dalam Yohanes 14:6, “Yesus mengatakan . . . . , Akulah jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku”.
Keselamatan untuk Orang Kafir (Rom. 11:13–26)
Paulus melanjutkan ini dengan menguraikan bahwa sebatang pohon mempunyai cabang yang asli, cabang yang patah, dan cabang yang dicangkokan. Pada saat orang Yahudi menola rencana keselamatan Allah, kekurangan iman mereka kepada Yesus menyebabkan mereka terpisah dari pohon Allah. Ketidak hadiran mereka membuat ruang untuk cabang liar orang kafir menjadi bagian dari keluarga Allah karena mereka menerima Injil. Illustrasi pohon mengingatkan kita bahwa iman orang Yahudi masih berakar pada keKristenan.
Walaupun orang Israel telah terpisah dari Allah, Dia belum membakar dan mencampakan mereka. “Tetapi mereka pun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali.” (ayat 23)
Belas Kasihan Allah untuk semua Umat Manusia (Rom. 11:29–36)
Pasal 11 menyimpulkan suatu tekanan perayaan, perbaktian, dan pujian kepda kasih karunia Allah yang tak terbatas dan kasihNya yang tanpa syarat. Paulus menyatakan bahwa Allah masih tetap memohon kepada orang Yahudi untuk menerima kasih karuniaNYA, merendahkan hati mereka sendiri, dan diselamatkan oleh iman. Kasih dan penerimaan, seperti yang terjadi pada orang-orang berdosa, bukanlah apa yang layak mereka terima. Orang Yahudi telah mencegah penyebaran injil, telah menganiaya para misionaris, dan bertanggung jawab atas penyaliban Kristus. Tetapi tetap saja Allah, menginginkan mereka diselamatkan—kalau saja mereka percaya dan menyerahkan sifat memuliakan diri sendiri dan mempunyai iman kepada Yesus sebagai juruselamat mereka.
Kita bisa saja bersyukur karena ketidak patuhan tak pernah berakhir, tetapi karena itulah Yesus datang untuk membebaskan kita. Dia adalah satu-satunya yang dapat dengan sempurna patuh kepada hukum Allah. Jalan-jalanNya jauh melampaui jalan kita. Segala sesuatu yang dapat kita berikan kepada Allah tak ada sepersekiannya dibandingkan apa yang telah dilakkannya bagi kita. Orang Yahudi bangga akan kemampuan mereka mematuhi hukum secara rinci. Tetapi, mereka tidak menyadari seberapa gawatnya mereka telah jatuh. Semua kemulian berpulang hanya kepada Allah. Hanya melalui kasih karuniaNYA kita diselamatkan.
REAKSI
1. Menurut anda, bentuk hubungan apa yang dimiliki Paulus dengan pemimpin Yahudi yang dulu dihidupkannya dan praktek legalistiknya dijalankannya?
2. Apa pendapat anda tentang cara Allah menawarkan kasih karunia kepada orang-orang yang keras tengkuk, sombong, dan fanatik? Pernahkan anda merasa seperti menolak seseorang dengan sikap mau menang sendiri dan keras tengkuk?
____________
* George R. Knight, Walking With Paul Through the Book of Romans (Hagerstown, Md.: Review and Herald® Publishing Association, 2002), p. 256.
Debbie Battin Sasser, Friendswood, Texas, U.S.A
Senin
6 September
Kesaksian
Hasil Pemilihan Yohn 15:4; Rom. 11:4–6; 2 Pet. 1:3–11
Apabila kita taat dengan kondisi yang telah dibuat Tuhan, kita mempunyai kepastiaan untuk diselamatkan. Ketaatan yang sempurna kepada hukum-hukumNya adalah bukti kita mengasihi Allah, dan tidak dikeraskan oleh dosa.
“Kristus mempunyai gereja pada setiap zaman. Ada orang-orang yang berada di dalam gereja yang tidak menjadi lebih baik dari hubungan ini. Mereka sendiri yang memutuskan hubungan ini. Kepatuhan kepada perintah Allah memberikan kita hak istimewa gerejaNYA”1
Tidak ada satupun orang yang mesti hilang
Yohanes 15:4 "adalah permata kebenaran yang paling berharga bagi setiap jiwa kita. Disinilah terletak pemilihan kita dalam Alkitab, dan kita dapat membuktikan pemilihan kita oleh Kristus karena setia; kita dapat membutkikan diri kita sendiri dipilih Kristus karena tinggal didalam Kristus.”2
“Allah memilih mereka yang telah bekerja pada rencana penambahan (2 Pet. 1:5-8). Penjelasannya diberikan pada bagian pertama dari buku 2Petrus. Untuk semua umat manusia, Kristus telah membayar ongkosnya. Tidak ada satupun orang yang mesti hilang. Semuanya telah ditebus. Bagi mereka yang menerima Kristus sebagai juruselamat pribadinya akan diberikan kuasa untuk menjadi putra dan putri Allah. Suatu polis asuransi hidup kekal telah disediakan untuk semua orang.
“Siapapun yang dipilih Allah, ditebus oleh Kristus. Juruselamat telah membayar harga penebusan untuk setiap jiwa. Kita bukanlah milik kita lagi, karena kita telah dibeli. Dari Penebus, yang dari sejak dunia dijadikan telah memilih kita, kita menerima asuransi yang memastikan hidup kekal . . . . .
“ . . . . . . .Ini bukanlah polis asuransi yang nilainya akan diterima oleh orang lain setelah kematian kita, ini adalah polis yang memastikan kita suatu hidup bersama-sama Allah—hidup kekal”3
REAKSI
1. Bagaimana ayat-ayat berikut membantu kita mendefinisikan “ketaatan sempurna”? Keluaran. 20:1–17; Yesaya. 58:5–9; Mikha. 6:8; Matt. 22:34–40; 25:31–46.
2. Allah telah memilih semua orang dalam pengertian Dia mengirimkan PutraNYA kedunia bukan untuk mengutuk dunia, tetapi agar dunia dapat diselamatkan melalui Dia (Yoh. 3:16-17). Bagaimana orang-orang bahkan anda sendiri memutuskan pemilihan ini?
____________
1. Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, vol. 6, p. 1079.
2. Ibid.
3. Ibid., vol. 7, p. 944.
Leslie J. Scholten, Amsterdam, the Netherlands
Selasa
7 September
Bukti
Pelajaran dari Orang Israel Rom. 10:16–21
Pada ayat inti hari ini, kita temui Paulus mengutip dari kata-kata nabi Yesaya untuk mengkontraskan perbedaan antara penolakan Israel sebagai bangsa akan kebenaran melalui iman dan “iman yang tak terduga” orang Kafir. Agar kita tidak memubat kesalahan yang sama seperti yang dilakukan orang Israel, adalah penting bagi kita untuk mengetahui kondisi orang Israel pada waktu Yesaya bekerja sebagai nabi Tuhan. Yesaya menekankan ketidak relaan orang Israel untuk mendengarkan suara Allah. Dia menekankan ketidak taatan dan pemberontakan bangsa itu.
Orang Israel menempatkan pengharapan mereka akan kebesaran dunia
Tetapi mari kita mundur ke zaman sebelum Yesaya yaitu pada waktu orang Israel keluar dari Mesir dan mengembara di padang belantara selama 40 tahun. Kemudian kita temukan berkali-kali ketika mereka kehilangan iman akan Allah dan janji-janji keselamatanNYA. Dari sejak mulai perjalanan mereka telah bersungut-sungut dan berkeluh kesah akan apa yang mereka anggap sebagai bermutu, atau kekurangannya, pemeliharaan Allah kepada mereka. Perhatikan akan keluh kesah mereka akan makanan mereka di Bilangan 11:4-34 dan kekurangan air di Keluaran 15:22-24 dan Bilangan 20:1-13. Kemudian pada waktu orang Israel meyakinkan Harun untuk membuat patung anak lembu jantan sementara Musa bertemu dengan Allah mewakili mereka (Kel. 32:1-6). Pada waktu mereka pertama kali meninggalkan Mesir, hati mereka pastilah dipenuhi oleh kesukaan dan iman. Tetapi alangkah cepatnya mereka lupa.
Kita baca bahwa semua hal ini dan lebih lanjutnya mengakibatkan orang Israel akhirnya kehilangan “pandangan akan hak istimewa mereka sebagai perwakilan Allah. Mereka lupa Allah dan gagal untuk memenuhi misi suciNYA. Berkat yang mereka terima tidak membawa berkat kepada dunia. Semua keistimewaan itu mereka jadikan untuk kemuliaan mereka saja. Mereka menutup diri mereka dari dunia agar terlepas dari pencobaan.”1
“Orang Israel menempatkan pengharapan mereka akan kebesaran dunia. Dari sejak mereka memasuki tanah Kanaan, mereka menyimpang dari perintah Allah, dan mengikuti jalan kekafiran. Dengan sia-sia Allah mengirimkan peringatan kepada umatNYA melalui para nabi. Dengan sia-sia mereka menderita penghinaan orang Kafir. Setiap reformasi selalu diikuti oleh kemurtadan yang lebih dalam lagi.”2.
Dari orang Israel, kita belajar bahwa tidak peduli seberapa banyak kita mengklaim sebagai umat pilihan Allah, jika kita tidak memupuk iman kita, kita akan terlepas dariNYA. Orang Israel gagal karena mereka secara konsisten tercerai dari Allah, mencari “makan” dan “air” illah lain yang tampaknya lebih menarik.
____________
1. The Acts of the Apostles, p. 14.
2. The Desire of Ages, p. 28.
Osvald Taroreh, Jakarta, Indonesia
Rabu
8 September
Rom. 10:9; 11:17–24 Bagaimana
Mempertahankan Pilihan Kita
Paulus menunjukan kepada kita bahwa keselematan didasarkan pada kasih karunia Allah dan pembenaran oleh iman, dan semua orang telah dipilih untuk menerima keselamatan jika mereka menerima pengorbanan Kristus bagi mereka. Pada waktu orang Yahudi yang tidak per caya menolah Kristus, kerajaanNYA diberikan kepada orang Kafir (Roma 11:17-24). (Hal ini bukan berarti keselamatan untuk orang Yahudi secara pribadi secara total telah ditutup). Paulus menekan hal ini dengan membandingkannya kepada suatu cabang yang patah dari pohon zaitun dan cabang liar dicangkokan menggantikan yang patah. Setiap orang saat ini yang menerima Kristus melalui iman merupakan bagian dari pencangkokan itu, dan, karenanya merupakan bagian dari pohon itu. Jadi bagaimana kita menghidupkan keselamatan yang telah diberikan Kristus kepada kita?
“Anti” ini berlanjut ke penghancuran gereja
Sadari bahwa tidak ada keselamatan bila terpisah dari pohon. Paulus secara terus menerus mengajarkan kita bahwa kita tidak dapat mempunyai pengharapan, damai, dan keselamatan kecuali kita mempertahankan hubungan iman dengan Allah melalui Kristus. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan keselamatan. Hal ini hanya dapat dicapai melalui kasih karunia Allah pada waktu kita menerima pengorbanan Kristus bagi kita.
Hindari kesombongan. Kita mesti berhati-hati akan kesombongan rohani (Amsal 16:18). “Paulus mengingatkan kita tentang perasaan superior terhadap orang lain sama berartinya saat ini seperti 2000 tahun lalu. . . . . . .Beberapa orang mungkin tidak anti Yahudi, tetapi mereka mungkin anti-Hitam, anti-Putih, anti-Hispanik, dan anti-Asia, atau anti-orang lain yang tidak mempercayai hal yang sama yang mereka percayai atau menghargai musik yang sama seperti yang mereka hargai. “Anti” ini berlanjut ke penghancuran gereja. Satu-satunya pemecahan masalah untuk mereka dengan pemikiran superior adalah bertemu dengan Kristus di kayu salib.”*
Pertahankan hubungan dengan Yesus. Keselamatan kita dipertahankan sepanjang kita mempunyai hubungna yang kuat dengan Juruselamat kita. Bagian dari mempertahankan ini termasuk melakukan kehendak Allah. Bacalah Matius 7:21. Yesus mengatakan, “Tidak semua orang yang mengatakan “Tuhan, Tuhan” akan memasuki kerajaan sorga, tetapi hanya bagi mereka yang melakukan kehendak BapaKu disorga saja.” Kita juga perlu berdoa, mempelajari Firman Allah, dan merenungkannya, dan melayani seseama manusia.
REAKSI:
1. Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kegagalan orang Israel menerima Kristus?
2. Apa yang dikatakan Alkitab tentang sifat kehendak Allah? Galatia 1:4; 1 Tessalonika 4:3–7; 5:1–22; 1 Petrus 2:15; 2 Petrus 3:9. Apalagi yang menurut anda merupakan kehendak Allah? Dukung pendapatmu dengan ayat Alkitab.
____________
*George R. Knight, Walking With Paul Through the Book of Romans, p. 272.
Victor Joe Sinaga, Palembang, South Sumatra, Indonesia
Kamis
9 September
Rom. 10:9–21 Pendapat
Meninggalkan Zona Nyaman
Dengan membuat mereka terpisah dari dunia, orang Israel secar tidak sadar telah membangun tembok yang memisahkan mereka dan orang kafir, karenanya gagal untuk menyatakan pekabaran kepada orang lain. Sebagai orang Kristen, kita juga, sering terperangkap oleh tembok yang kita ciptakan. Apabila kita merasa nyaman dengan suatu kelompok dalam gereja, kita cenderung mengabaikan hubungan yang sehat dengan teman-teman dilingkukangan dan kota kita. Hal ini mencegah kita untuk membagikan injil kepada orang lain.
kita mempunyai kesempatan yang luarbiasa untuk bersaksi bagi Allah
Allah tidak menolak orang berdasarkan adat atau suku. Dia tidak lebih menyenangi suatu bangsa dari yang lain. Tetapi Dia menganugerahkan keselamatan untuk semua (Yoh. 3:16, 17). Kita mesti meninggalkan zona nyaman kita dan membagikan injil dalam suatu cara atau lainnya dengan semua orang yang kita temui.
Injil tidak dapat dipisahkan dari kata mission dan pelayanan. “Pengikut Kristus telah ditebus untuk pelayanan. Tuhan kita mengajarkan bahwa objek kehidupan yang sebenarnya adalah pelayanan (ministry). Kristus sendiri adalah pekerja, dan kepada semua pengikutNYA Dia memberikan hukum pelayanan—pelayanan kepada Tuhan dan sesama manusia. . . . . .Hukum pelayanan menjadi rantai penghubung yang mengikat kita kepada Allah dan sesama manusia.
“Dia memberikan kepada semua orang pekerjaannya. Setiap orang mempunyai tempat dalam rencan sorga yang kekal. Setiap orang mesti bekerja dalam kerjasama dengan Kristus untuk keselamatan jiwa-jiwa. Tidak ada tempat yang lebih baik dipersiapkan bagi kita di istana sorga daripada tempat khusus dinyatakan di dunia ditempat kita bekerja bagi Allah”*
Melalui missi dan pelayanan, kita mempunyai kesempatan yang luarbiasa untuk bersaksi bagi Allah. Karena orang Israel sebagai bangsa menolah Allah, Dia membuka pintu bagi setiap orang untuk menjadi saksi-saksiNYA. Orang Kristen saat ini mesti selalu memberikan perhatian kepada rencana menyeluruh yang ditawarkan Allah—Keselamatan untuk semua orang, dan anak-anak. Apabila kita menutup dirikita sendiri dari dunia baik yang jauh dan disekitar kita, Allah mungkin juga menolah kita dan menggunakan orang lain untuk mengabarkan kebenaranNYA, bahkan alam juga (Mazmur 19:1-4)
REAKSI
Kenapa kita sebagai orang Kristen sering kehilangan fokus sampai ketitik perasaan terlampau nyaman dengan agama kita? Apa yang dapat kita lakukan untuk menghancurkan batas itu dan menjangkau orang lain?
____________
*Christ’s Object Lessons, pp. 326, 327.
Fritz and Joice Manurung, Jakarta, Indonesia
Jum’at
10 SEptember
Dalami
Keselamatan dan Identitas Roma 9
SIMPULAN
Banyak negara, propinsi, kabupaten dan kota menyelenggarakan pemilihan yang mahal untuk menentukan siapa yang akan memerintah daerah mereka. Hasil dari pemilihan ini dapat menjadi bencana atau keuntungan, bergantung siapa yang diangkat dan sudut pandang pemilih. Tetapi ada suatu proses pemilihan yang pasti—pemilihan Allah akan umatNYA. Kualifikasi untuk pemilihan mereka mencakup iman mereka, yang juga merupakan bukti pemilihan mereka. Allah telah membayar semua biaya untuk pemilihan ini melalui kematian PutraNYA, Yesus Kristus. Sepajang kita berpegang kepadaNYA kita pasti dipilih.
PERTIMBANGKAN
• Baca secara menyeluruh Yohanes 15:1-17 dan buat riset tentang penanaman pokok anggur. Bandingkan penanaman ini dengan pemilihan umat Allah dan proses pertumbuhan mereka sebagai orang Kristen.
• Pelajari sejarah gereja Kristen untuk melihat pada waktu Allah mempunyai umat yang mematuhi perintahNYA.
• Ciptakan persamaan yang menyatakan proses penambahan dalam 2Petrus 1:3-10. Bagaimana bentuk persamaan itu jika anda ingin mengurangkan?
• Tulis daftar cara-cara anda dapat menggunakan talenta untuk melayani masyarakatmu. Kemudian carilah gambar-gambar yang menunjukan benda-benda dalam daftarmu. Buatlah album dari gambar-gambar ini. Berdasarkan pelajaran minggu ini, judul apa yang akan anda berikan untuk albummu?
• Buat jaringan dengan tiga atau empat orang yang mempunyai talenta yang sama denganmu. Secara bersama buatlah dan laksanakn suatu rencana yang menggunakan talenta untuk kebaikan masyarakatmu.
• Buatlah suatu lagu yang liriknya terdiri dari paling sedikit tiga buat ayat favorit yang berhubungan dengan iman. Sementara anda menulis lagumu, ingatlah bahwa iman dalam Allah yang membuat kita diangkat.
HUBUNGKAN
George R. Knight, Walking With Paul Through the Book of Romans, pp. 261,
Marijo Van Dyke, Detroit, Michigan, U.S.A.
Subscribe to:
Comments (Atom)