PERBAKTIAN
Pelajaran ke-TIGA Kwartal 3,
Perbaktian dan
Sabat
9—16 Juli 2011
Diterjemahkan Oleh: Ezra dan Arleen Ibrahim
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang
“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!” (Maz. 95:6, 7).
Sabbath
9 Juli
Kel. 31:13; Maz. 95:6, 7; Yeh. 20:12 Pendahuluan
Inti Perbaktian
Saya ingat menyanyi di Sekolah Sabat: “Sabat hari yang senang… yang senang. Aku suka Sabat.” Semasa kecil, Saya gembira karena tidak ada tugas atau pekerjaan rumah yang harus dilakukan pada hari Sabat. Pada hari Sabat saya mengenakan pakaian terbaik dan makan makanan yang terbaik. Saat saya besar, Saya menyadari bahwa Sabat adalah hari yang senang karena Seseorang telah menebus saya dari dosa juga menciptakan dunia untuk tempat tinggal saya. Adalah suatu kesukaan mendengarkan saluran puji-pujian dan khotbah ketika matahari terbenam pada hari Jumat sore, tetapi kita bisa saja memperoleh semua keuntungan ini tetapi tidak benar-benar berbakti. Kita harus kembali kepada inti perbaktian agar mengerti bagi siapa semua ini. Semua ini hanyalah untuk Yesus! Baca Mazmur 95:6,7.
Memelihara Sabat lebih dari sekedar hadir di gereja.
Kita hanya bisa menjadikan Yesus sebagai pusat perbaktian kita ketika kita benar-benar berserah padaNya melalui penurutan dan menyatakan kepada dunia bahwa kita setia kepada Pencipta kita. Perbaktian dan pemeliharaan Sabat kita adalah perlambang penebusan dalam Dia. Perbaktian kita adalah tanda pengudusan kita, dan tanda penurutan kepada Pencipta kita. Keluaran 31:13 dan Yehezkiel 20:12 mengingatkan kita bahwa Sabat adalah tanda antara Tuhan dan umat-Nya. Ia melembagakan Sabat bagi semua orang sebagai peringatan penciptaan; dan Ia mengharuskan agar kita memelihara Sabat hari-Ketujuh sebagai hari perbaktian dan hari perhentian. Sabat haruslah sebuah hari persekutuan senang bersama Dia dan satu sama lain.
Memelihara Sabat lebih dari sekedar hadir di gereja. Hal ini adalah tentang merenungkan hubungan pribadi Anda dengan Kristus. Seringkali kita menggunakan Sabat untuk membedakan Advent Hari-Ketujuh dari denominasi lain dan maka itu gagal menghubungkan Sabat dengan perbaktian sejati dan alasan kenapa kita memelihara kekudusan hari ketujuh. Mengapa tidak menunjukkan pada dunia alasan yang benar dalam menyisihkan 24 jam hanya untuk Kristus? Mungkin bila kita lebih menunjukkan sukacita dalam pemeliharaan Sabat dan inti perbaktian sejati kepada tetangga dan teman-teman kita, mereka juga mungkin ingin mengambil bagian dalam sukacita yang telah kita temukan dalam Kristus.
Ketika anda belajar minggu ini, renungkan hal-hal berikut ini: (1) Mengapa anda memelihara Sabat? (2) Perubahan apakah yang dapat anda buat dalam diri anda agar benar-benar menghormati Kristus pada hari kudus-Nya? Dan (3) Bagaimanakah anda dapat menolong orang lain agar dapat lebih sejalan dalam bentuk perbaktian yang diharapkan dari orang-orang yang telah ditebus?
Helyne Frederick, Mt. Rose, Grenada
Minggu
10 Juli
Logos
Mengakui Sumber Kita Kel. 20:4–11; Ul. 5:15; Yes. 44:95–20; Mat. 11:23–30; Rom. 6:16–23
Baca Wahyu 14:7 dan Mazmur 100:3. Hubungan kita dengan Tuhan berakar dalam kenyataan bahwa Dia menciptakan kita, tetapi itu bukanlah keseluruhan dari cerita manusia. Semua ayat-ayat Alkitab kita minggu ini mengingatkan kita kepada sumber kita: Pencipta kita Tuhan, yang memiliki kekuasaan tertinggi atas kita dan pantas menerima perbaktian kita. Ayat-ayat pada hari ini mengungkapkan naskah lengkap hidup kita: sumber kita, jalan, ancaman terbesar bagi kita, dan jalan keluarnya.
Sumber Kita (Kel. 20:11)
Perintah Sabat dalam Keluaran membawa kita kembali ke permulaan kita ketika Pencipta kita bekerja atas bumi dan kehidupan terbentuk dari sana. “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (Kel. 20:11, IndTB). Dalam Kejadian, firman Allah itu membentuk. Firmannya menjadi kenyataan—dan segala kehidupan muncul dari pikiran kreatif-Nya. "Jadilah terang. . . Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat. . . Hendaklah tanah menumbuhkan rerumputan “Kita, juga muncul dari pikiran dan hati Tuhan, yang mengambil tanah liat dan tulang rusuk, membentuk, dan membentuk laki-laki dan perempuan (Kej 1:26, 27). Kita ada karena Tuhan menciptakan kita, dan karena Dia menciptakan kita menurut gambar-rupaNya, kita adalah kepunyaanNya.
Sabat bersaksi bahwa kita bisa beristirahat dalam Tuhan yang menciptakan kita dan terus menopang kita dan terus merawat seluruh keberadaan kita
Jalan (Ul. 5:15)
Kita adalah kepunyaan Tuhan, namun Dia tidak mengikat kita di pintu gerbang Eden. Jika kamera selang waktu kosmos mencatat sejarah kita, maka kamera itu akan menunjukkan umat manusia bergerak dari Eden ke tepi sungai dan dataran Mesopotamia dan Afrika Timur, selatan ke benua Afrika, timur ke Asia, dan utara di luar Mediterania (Kejadian 10) . Dari Taman itu, kita membawa keluar segala kreativitas dan kuasa yang dianugrahi Allah, tetapi kita juga membawa keluar rasa bersalah, rasa tidak aman, ketakutan, dan kemampuan berbuat kekerasan. Kesenian dan ilmu pengetahuan bertumbuh berdampingan dengan pembunuhan, kehancuran, dan perbudakan—bahkan dalam peradaban kita yang paling maju.
Narasi Ulangan mengingatkan kita bahwa meskipun kita lahir dari tangan Tuhan kita menjadi para pelanggar kreatif dan budak-budak berbakat. “ ‘Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.’ ” (Ulangan 5:15, IndTB). Bagi orang Ibrani yang mendengar naskah ini, hari Sabat memberikan kebebasan dari kerja paksa dan perendahan moral manusia yang menyertainya. Sebagai tanda mingguan, Sabat mengingatkan mereka akan Penebus Ilahi yang tidak hanya perduli atas kekudusan tata cara keagamaan mereka, tapi juga akan kebebasan badani mereka. “Ingat bahwa engkau dahulu budak” bukanlah jalan pintas untuk membuka luka lama atau mendendam. Sebaliknya, perintah itu memberikan umat Ibrani alasan historis untuk berhenti sebentar, mengenang Sumber akan kebebasan, dan tetap memilih jalan bebas dari penindasan badani atau pelecehan rohani (Yesaya 58, Roma 6).
Ancaman Terbesar Kita—Dan Jalan Keluarnya(Yes. 44:95–20; 58)
Ketika Yesaya menulis dalam pasal 58 tentang jalan singkat yang Tuhan telah pilih bagi umat-Nya, Dia menampilkan hari Sabat sebagai saksi melawan penindasan dan sebagai berkat bagi orang-orang yang menghormati Allah dan sesama manusia. Dalam Yesaya 44, nabi itu juga menggambarkan ancaman terbesar bagi kebebasan, kekudusan, dan kelakuan baik: penyembahan berhala. Penyembahan berhala lebih dari menyembah sesuatu yang dibuat oleh tangan manusia atau makhluk lain. Seseorang tidak dapat menyembah sesuatu sebagai tuhan tanpa mencoba untuk menggantikan Allah sebagai Pencipta, dan Yesaya mengkritik tajam semua upaya untuk melakukan itu. Mencoba untuk menggantikan Tuhan pastilah salah, tetapi seperti ditunjukan Yesaya, juga adalah kebodohan karena hal itu tidak mungkin.
Allah adalah yang terdahulu dan kemudian. Tidak ada Allah selain dari pada-Ku (Yesaya 44:6–9). Karena Dia tidak tersaingi, dan tidak ada dalam penciptaan yang memiliki Sumber lain, Yang Mahakuasa tidak dapat digantikan. Yesaya mengolok-olok pengrajin yang memotong kayu menjadi dua bagian, membentuk berhala dari satu potong, dan menggunakan bagian lain untuk panas atau untuk membakar roti. Adalah suatu kebodohan untuk memuja apapun yang Dia atau kita bentuk. Baik kayu maupun logam tidak dapat bersaing dengan Tuhan. Hanya Tuhan menciptakan, dan hanya Tuhan menyelamatkan. Hanya Dia yang patut disembah.
Melalui penyembuhan dan pengajaran, Yesus menunjukkan kebebasan penuh yang diberikan Tuhan (Matius 11:23-30). Apapun situasi kita, kita diciptakan secara utuh melalui Dia. “ ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.’ ”(ayat 28-30, IndTB). Sabat bersaksi bahwa kita bisa beristirahat dalam Tuhan yang menciptakan kita dan terus menopang kita dan terus merawat seluruh keberadaan kita. Allah kita membentuk kita, memanggil keluar dari penindasan, dan menantang kita untuk beristirahat dan berjalan dalam tangan kasihNya. Jiwa kita penuh, tetapi hanya di dalam Dia.
TANGGAPAN
1. PAULUS MENULIS BAHWA kepada siapa kita menyerahkan diri kita ia adalah tuan kita (Rom. 6:16). DALAM JENIS perbudakan apakah ORANG KRISTEN KONTEMPORER jatuh? BAGAIMANA SABBAT memberikan JAWABAN akan BENTUK perbudakan modern ini?
2. baca ulang yesaya 44 dan 58. hubungan apakah yang anda lihat dalam pasal-pasal ini antara penyembahan berhala dan penindasan?
Keisha McKenzie, Lubbock, Texas, U.S.A.
Senin
11 Juli
Yes. 66:23 Kesaksian
Sabat: Tanda Kesetiaan
Ellen White mengingatkan kita bahwa Sabat memalingkan pikiran kita kepada alam, dan membawa kita ke dalam persekutuan bersama Sang Pencipta. “Dalam kicauan burung-burung, hembusan pohon-pohon, dan musik dari laut, kita masih bisa mendengar suara-Nya yang berbicara kepada Adam di Eden pada hari yang sejuk. Dan pada saat kita menyaksikan kuasa-Nya di alam kita menemukan kenyamanan, karena firman yang menciptakan segala sesuatu juga memberikan kehidupan kepada jiwa. Dia ‘yang memerintahkan terang untuk bersinar keluar dari kegelapan, telah bersinar dalam hati kita, untuk memberikan terang pengetahuan kemuliaan Allah di wajah Yesus Kristus.’ 2 Kor. 4:6.” 1
Sabath “adalah titik kebenaran yang khususnya dipertentangkan.”
Allah kita memilki tujuan ketika Ia menciptakan dunia ini. Setelah itu, Ia menyisihkan sebuah hari bagi kita untuk beristirahat bersama-Nya, untuk menikmati alam, dan pada saat yang bersamaan mengakui kuasa-Nya. Kata White mengenai hari Sabat, “Selama langit dan bumi ada, hari Sabat akan terus sebagai tanda kekuasaan Sang Pencipta. Dan ketika Eden akan bertumbuh di bumi lagi, hari istirahat kudus Allah akan dikuduskan oleh semua orang di bawah matahari. ‘Sabat berganti Sabat,’ seluruh penduduk dunia baru yang telah diberikan kemulian akan datang “untuk menyembah di hadapan-Ku, firman Tuhan.’ Mat. 5:18; Yes. 66:23.”2
Hari Sabat juga merupakan tanda kesetiaan kita kepada-Nya, “karena itu adalah titik kebenaran yang khususnya dipertentangkan. Ketika ujian akhir dilaksanakan untuk ditangguhkan ke atas manusia, maka garis pembedaan akan ditarik antara mereka yang melayani Allah dan mereka yang tidak melayani Dia. Sementara ketaatan dari Sabat palsu sesuai dengan hukum negara, bertentangan dengan perintah keempat, akan menjadi pengakuan kesetiaan kepada kekuasaan yang bertentangan dengan Allah, pemeliharaan hari Sabat yang benar, dalam ketaatan terhadap hukum Allah , adalah bukti kesetiaan kepada Sang Pencipta. Sementara di satu sisi, dengan menerima tanda untuk tunduk pada kekuasaan duniawi, menerima tanda binatang itu, disisi lain memilih tanda setia kepada pemerintahan ilahi, menerima meterai Allah.” 3
TANGGAPAN
Bagaimana Anda bisa menyatakan kesetiaan Anda kepada Kristus saat Anda berbakti pada hari Sabat? Apa yang harus Anda lakukan untuk mempersiapkan saat ketika kesetiaan Anda kepada Allah akan diuji karena Anda memelihara Sabat?
____________
1. The Desire of Ages, pp. 281, 282.
2. Ibid., p. 283
3. The Great Controversy, p. 605.
Shirley Roberts, Mt. Rose, St. Patrick’s, Grenada
Selasa
12 Juli
Bukti
Siapa Yang Anda Hormati Kel. 20:11; Rom. 6:16
Dari Hari Kasih Sayang hingga Hari Ibu, dari Oscar ke Grammy dan hadiah Nobel Perdamaian, kita memiliki banyak cara untuk mengekspresikan penghargaan kita kepada orang-orang penting. Penganugerahan beberapa penghargaan ini didasarkan pada kriteria tertentu. Oleh karena itu, umumnya ada beberapa kontroversi saat keputusan akhir diumumkan. Alkitab mengacu pada sejumlah panggilan kehormatan, seperti raja, imam, pahlawan gagah berani, dan tuan. Tapi sama halnya seperti dengan kehormatan pada saat ini, orang yang menerimanya tidak selalu adalah orang yang pantas.
Allah yang benar adalah Allah yang bertindak.
Dalam Wahyu 14:7, malaikat menasihati dunia untuk “ ‘Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.’ ”(IndTB). Ayat ini hanya memberikan satu kriteria agar layak menerima kemuliaan dan peribadatan: “Dia yang menjadikan’. ” Sementara Alkitab tidak berusaha membuktikan keberadaan Tuhan, ayat ini memberikan sejumlah perbandingan antara Dia yang adalah Allah dan siapa atau apa yang tidak. Salah satu perbedaan utama antara Allah yang benar dan berhala adalah Allah yang benar adalah Allah yang bertindak. Misalnya, dalam konteks hari Sabat, kita harus mengingat hari Sabat dan, dengan perluasan, kepada penciptanya, karena Yahweh “menciptakan,” “berhenti” pada, “memberkati,” dan menguduskan hari itu (Kel. 20:11) . Dalam Ulangan 5:15, Israel diperintahkan untuk “mengingat” karena TUHAN “membawa” mereka keluar dari perbudakan dan “memerintahkan” mereka. Di sisi lain, kita mendapati bahwa jauh daripada sesuatu yang aktif yang memberikan kebebasan, daya kreatif, dewa-dewa palsu hanyalah ciptaan pikiran manusia. Baca Yesaya 44.
Sementara keputusan harus dibuat tentang siapa penerima Oskar aktor atau artis terbaik hal ini tidak akan mempengaruhi dalam cara apapun, pilihan kita kepada siapa kita harus menyembah dan berikan kemuliaan memiliki akibat yang kekal.
TANGGAPAN
1.Menurut Roma 6:16, betapa pentingkah keputusan yang kita ambil? Dari semua pilihan yang kita buat setiap hari, tidak ada yang lebih penting daripada pilihan kita dalam memilih tuhan. Tuhan kita bisa saja tidak terbuat dari kayu, tetapi kita semua memiliki hal-hal tertentu yang kita perbolehkan untuk mengendalikan kehidupan kita. Apa atau siapa tuhan-tuhan ini bagi anda?
2. Menurut Matius 11:28–30, apakah yang ditawarkan oleh Tuhan sebagai ganti beban-beban atau tuhan-tuhan duniawi anda?
Yogeld André, Lubbock, Texas, U.S.A.
Rabu
13 Juli
Kel. 15:2; Maz. 48:1 Bagaimana
“Keindahan Kekudusan”
Perbaktian Sabat tidaklah harus sebuah ritual belaka. Perbaktian ini harus mencerminkan hubungan kita dengan Allah. Dia adalah Pencipta kita dan “sangat terpuji” (Maz. 48:1, 96:4, 145:3). Pada hari-hari ketika semuanya berjalan lancar dan langit perasaan kita bersinar cerah, perbaktian mungkin saja adalah suatu pujian dan syukur. Namun, pada hari-hari ketika hujan badai menimpa kehidupan kita, perbaktian bisa jadi berupa seruan kepada Tuhan melalui doa dan permohonan. Tuhan menginginkan kita untuk berbicara kepada-Nya sama seperti kita berbicara dengan teman-teman kita. Dia ingin kita curahkan padaNya pikiran kita yang terdalam, kebutuhan kita yang mendalam, tantangan kita, kelemahan kita, dan sukacita kita.
Sabat harusnya memberikan kesegaran dan semangat dalam menghadapi minggu yang baru
Allah ingin kebaktian Sabat khususnya adalah sebuah pengalaman yang bermakna. Sabat harusnya memberikan kesegaran dan semangat dalam menghadapi minggu yang baru. Berikut adalah beberapa langkah yang membantu kita berbakti sedemikian rupa
Bersikaplah jujur dalam perbaktian Anda. Jika Anda mengalami minggu yang sulit, Tuhan ingin mendengar semua mengenai hal itu. Sementara memang benar Dia tahu segalanya, Dia ingin kita katakan padaNya semua tentang hal itu. Daud menulis, “Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku. ” (Maz. 57:2, IndTB). Kita bisa melakukan hal yang sama!
Selalu sertakan pujian dan puji syukur dalam kebaktian Anda. Terlepas dari apa yang sedang terjadi dalam hidup kita, faktanya bahwa kita memiliki nafas dan jalan kepada Bapa kita adalah alasan yang cukup untuk memuji-Nya, dan apa yang kita temukan adalah bahwa dalam memuji Dia roh kita diangkat. “TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia.” (Kel. 15:02, IndTB).
Sertakan variasi dalam kebaktian. Kita seharusnya tidak hanya menyertakan doa tetapi juga lagu-lagu dan bacaan yang memberikan inspirasi. Variasi membuat kita tidak merasa bosan dalam perjalanan rohani kita dan membantu kita untuk memperhatikan apa yang Tuhan sedang coba katakan kepada kita melalui perbaktian kita kepada-Nya. Sebuah doa pendek yang dimulai dengan permintaan kepada Allah untuk memimpin arah kebaktian adalah ide yang baik. Biarkan Dia memimpin, dan kita selalu akan kagum dengan apa yang Dia lakukan.
TANGGAPAN
1. Apakah yang baik mengenai tata-cara dalam kebaktian? Bagaimana tata cara tersebut dapat menghalangi sesorang dalam berbakti?
2. Bagaimanakah cara perbaktian yang ideal pada hari Sabat?
Arlette Wildman, Calivigny, St. George’s, Grenada
Kamis
14 Juli
Pendapat
Melampui Tradisi Luk 4:16
Imamat 23:3 menggambarkan peribadatan Sabat sebagai “hari pertemuan kudus” (NIV). Bagi kebanyakan kita, peribadatan hari Sabat hanyalah berarti hadir di Sekolah Sabat atau mendengarkan khotbah, lalu kembali ke rutinitas pribadi kita. Dalam gereja kita, adalah sebuah kebiasaan bagi anggota gereja untuk saling menyapa. Selain itu, kita memuji Tuhan melalui musik, doa, dan khotbah. Namun, saya percaya bahwa perbaktian Sabat jauh melampaui tradisi-tradisi ini. Pertimbangkan hal ini: “Ia [Yesus] datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat” (Lukas 4:16 IndTB). Perlu dicatat bahwa tidak hanya kebiasaan (tradisi) Yesus’ untuk berbakti di rumah ibadat pada hari Sabat, Ia juga menantang tradisi para pemimpin Yahudi tentang cara peribadatan itu. Dia sering menunjukkan tentang berbuat baik pada hari Sabat. Demikian juga halnya, kita harus mengikuti teladan Yesus. Baca ayat 17–28.
Tidaklah perlu ada cara rutin peribadatan Sabat.
Sebagai bagian dari kebaktian Sabat mereka, adalah kebiasaan para rasul untuk menghadiri pertemuan rumah ibadah dan berbicara. Kisah Para Rasul 13:14, 42, 44, dan 17:2 dan 18:4 menunjukkan kebiasaan ini. Khususnya, adalah kebiasaan Paulus untuk berbicara di rumah peribadatan orang Yahudi pada hari Sabat. Bila kita melihat lebih jauh pada contoh-contoh tersebut mengenai peribadatan Yesus dan para rasul, kita melihat peribadatan lebih dari sekedar pergi ke rumah-rumah ibadat. Hal ini adalah juga tentang menjangkau dunia, menyembuhkan orang sakit, merawat mereka yang membutuhkan, dan menghabiskan waktu di alam untuk mengamati ciptaan Allah.
Tidaklah perlu ada cara rutin dalam perbaktian Sabat. Namun, kita harus bersatu dalam satu misi, yaitu tidak pernah kehilangan tujuan bahwa kita sedang menyembah Pencipta kita dan memimpin orang lain kepada-Nya. Kita perlu mengambil langkah-langkah yang sama seperti para rasul: pergi keluar di alam, menemukan tempat yang tenang untuk berdoa (Kis 16:13), dan membagikan kabar baik Kristus pada hari Sabat. Menjadi peka dan penuh doa membolehkan kita membawa perbaktian kita kepada mereka yang memerlukan, dengan itu menyebarkan kabar baik keselamatan. Terkadang, kita dipanggil untuk melepaskan tradisi-tradisi yang telah kita buat dan mengikuti contoh-contoh dalam perbaktian Sabat yang ditetapkan bagi kita oleh Yesus dan rasul-Nya.
TANGGAPAN
1. Apa yang anda anggap penting dalam peribadatan Sabat?
2. Bentuk-bentuk peribadatan Sabat apakah yang ada dalam Alkitab?
3. Buat daftar cara-cara kreatif dimana anda dapat membuat Sabat sebuah waktu untuk bersaksi.
Raul Peters, Fort Worth, Texas, U.S.A.
Jum’at
15 Juli
Eksplorasi
Perbaktian Yang Berarti Kej. 2:1–3
Kel. 20: 8-11
SIMPULAN
Perbaktian Sabat dimaksudkan untuk menjadi sebuah perayaan sukacita yang mengakui ciptaan Tuhan, dan anugerah penebusan-Nya. Ini haruslah menjadi saksi kepada orang lain dan menjadi berkat bagi setiap mereka yang datang berbakti. Perbaktian Sabat harus menunjukkan penyerahan sepenuh kepada Firman Tuhan dan pengakuan kehadiran-Nya yang nyata di sekitar kita. Perbaktian harus mencerminkan Sabat sebagai tanda antara Allah dan manusia bahwa kita setia kepada-Nya. Dia ingin kita untuk menyampaikan ketakutan dan kegembiraan kita kepada-Nya dan mencari cara untuk membuat perbaktian berarti bagi semua orang. Sabat juga merupakan waktu untuk melakukan hal baik. Perbaktian Sabat akan diteruskan dalam surga dan Bumi yang Baru.
LAKUKAN
• Buat sketsa berbeda-beda muka, termasuk muka anda (Afrika, Amerika, Karibia, Inggris, Eskimo, India), dan bayangkan hanya “orang-orang” inilah anggota gereja anda. Buat daftar hal-hal yang akan anda lakukan untuk membuat perbaktian Sabat menyenangkan bagi mereka.
• Ingat ulang sidang General Conference di Atlanta, Georgia, Amerika. Orang-orang dari berbagai negara menceritakan kebahagian yang mereka alami pada setiap hari Sabat dan Sabat sore. Gunakan pengalaman ini untuk membayangkan pemeliharaan Sabat di surga.
• Renungkan hukum Sabat dalam Keluaran 20:8–11 dan Kejadian 2:1–3. Bagaimana hukum ini menggambarkan hubungan kita dengan Tuhan melalui perbaktian?
• Urutkan tujuh gelas minum yang sama atau tabung tes berturut-turut. Berikan Nomor 1 sampai 7 dan setengah mengisinya dengan air minum. Tambahkan gula ke salah satu dari ketujuh gelas itu dan aduk. Atur ulang gelas tabung reaksi secara acak. Jelaskan isi dari gelas ketujuh dihadapan kelas dan minta seseorang untuk menemukannya. Gunakan percobaan ini untuk menjelaskan keunikan hari Sabat.
• Anggap pintu masuk ke ruang makan untuk potluck gereja yang terkenal hanya 1 meter tingginya. Semua makanan harus dimakan di ruangan itu. Sebuah kelompok yang datang, yang percaya pada Tuhan, memiliki aturan dalam budaya mereka yang mengatakan tidak sopan membungkuk untuk masuk ke dalam ruangan. Jika ruangan merupakan berkat Sabat Tuhan, bagaimana anda akan membantu kelompok tersebut dalam memahami pentingnya menerima bagian berkat mereka?
HUBUNGKAN
Christ’s Objective lessons, pp. 25–27; Patriarchs and Prophets, pp. 48–50.
Walton J. Brown, Home At Last, pp. 83–86.
Albert A. C. Waite, Berkshire, United Kingdom
Friday, 8 July 2011
Friday, 1 July 2011
SSCQ Pelajaran 2 kwartal III tahun 2011
PERBAKTIAN
Pelajaran ke-DUA Kwartal 3,
Perbaktian dan Keluaran:
Mengerti Siapa Allah itu
2—9 Juli 2011
Diterjemahkan Oleh: Glenn Simanjuntak
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang
"Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Kel. 20:2, 3, LAI)
Sabbath
2 Juli
Keluaran 20:2, 3 Pendahuluan
Satu-satunya atau Allah Diantara Para Illah lain
Kata seorang atau satu-satunya sering kali digunakan dengan tidak benar, walaupun saya bukanlah seorang profesor bahsa Inggris. Saya tahu kalau yang satu digunakan sebelum satu kata benda yang jumlah dapat dihitung satu, sedangkan yang lain digunak untuk kata benda yang memang hanya tidak ada duanya. Contohnya, ketika seorang anak muda bertemu dengan seorang wanita yang ia mau menghabis hidup seumur hidupnya, ia biasa menyebut wanita tersebut sebagai “the one/ wanita satu-satunya.” Bila ia menyebut wanita tersebut sebagai seseorang yang tidak eklusif, ia menyebutnya seperti “ia adalah seorang wanita special.” Pria tersebut akan menunjukkan bahwa adalah lebih dari satu wanita yang ia sukai. Bayangkan masalah apa saja yang dapat dialaminya!
Mengerti akan siapa Allah itu sangat penting agar tahu bagaimana kita menyembahNya
Ketika orang Israel meninggalkan Mesir, mereka tidak berbakti kepada Tuhan sebagaimana mestinya. Bahkan banyak di antara mereka yang sudah lupa, oleh karena lama waktunya mereka tinggal di Mesir, di mana banyak allah lain yang disembah. Kekhususan atas satu-satunya Tuhan telah hilang. Oleh karena itu, satu proses perlu terjadi untu Tuhan kembali memperkenalkan diriNya. Kita saksikan mulainya proses ini, bersama dengan penderitaan yang ada, di dalam buku Keluaran.
Salah satu konsep yang Allah tunjukkan kepada pikiran orang Israel adalah Ialah satu-satunya Allah. Ia melakukan ini dnegan menunjukkan akan bagaimana Ia jauh lebih beda dari siapa saja yang pernah menyatakan dirinya sebagai allah.
Hari ini, masih banyak orang, obyek, dan ide yang mengambil pikiran kita untuk menjadi yang paling utama dalam kehidupan kita, yang dengan mudah menyatakan dirinya sebagai seorang allah. Mengerti akan siapa Tuhan itu,sangat penting agar tahu bagaimana kita memujiNya. Beberapa mengatakan Ia adalah satu tempat. Yang lain menyatakan adalah satu pengalaman atau perasaan. “Di dalam hati setiap agama ada satu komitmen yang tidak dapat dikompromi untuk menggambarkan akan siapa Allah itu dan tujuan dari hidup.”*
Minggu ini kita akan melihat kembali pengalaman orang Israel dan bagaimana interaksi mereka dengan Allah dapat menujukkan kita akan Allah yang kita sembah dan puji.
____________
*Ravi Zacharias, Jesus Among Other Gods/Yesus di Antara allah Lain
Adam Ramdin, Nottingham, England
.
Minggu
3 Juli
Bukti
Dimensi Allah Ulangan 29:29
Yoh. 4:23
Judul minggu ini luar biasa. Bagaimana bisa kita mengerti siapa Allah itu ketika Alkitab menunjukkan bahwa keadaan Ia sepenuhnya ada di dalam surga, di mana tidak ada dosa. Allah itu jauh di atas kita dan di luar pengetahuan kita, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada yang dapat kita pelajari tentang Dia kecuali Ia memilih untuk menunjukkan diriNya pada kita.
Dalam buku Mere Christianity/Cukup Kristen, C.S. Lewis menjelaskan akan keadaan Allah yang “tidak dapat dijelaskan” dengan menyatakan tentang dimensi Allah. Seperti kita hidup dalam dunia dua dimensi – dapat mengerti akan segala sesuatu mulai dari satu garis ke bujursangkar dalam satu kertas – di mana Allah diam dalam dunia tiga dimensi, kenyataan yang lebih kompleks. Bujursangkar kita sama dengan kotakNya. Kita hanya dapat melihat satu sisi, tetapi kenyataannya ada enam sisi. Dengan “ketidakjelasan”Nya, apakah perlu untuk mengerti siapa Allah supaya bisa menyembahNya?
Apakah perlu untuk mengerti siapa Allah supaya bisa menyembahNya?
Ketika Paulus berkunjung ke Athena, hal ini menjadi lebih jelas kepadanya ketika melihat penduduk Athena memuji berbagai macam tuhan, paling sedikit salah satunya mereka tidak tahu sama sekali (Kisah 17:23). Beberapa ilmuwan, seperti Einstein2, percaya akan satu kekuatan khusus yang dapat disebut sebagai “tuhan” yang berada di belakang semua hal-hal yang terjadi di dunia ini. Mungkin engkau mempunya beberapa teman yang percaya terhadap satu “tuhan” dalam bentuk tertentu dan berdoa kepadanya walaupun tidak ada bentuk nyatan kecuali kepercayaannya masing-masing. Oleh karena itu, bisa saja beribadah kepada sesuatu yang kita tidak mengerti. Masalahnya di sini adalah Allah kita mau untuk dapat dimengerti (Yohanes 4:22, 23).
Pengalaman dalam buku Keluaran berisi dengan kehadiran Allah sendiri, yang nyata terdapat dalam sepuluh hokum. Ia mendengar tangisan orang Israel. Ia melepaskan orang Israel dari perbudakan. Ia menunjukkan mereka kekuatanNya di Laut Merah dan di Sinai, Ia menunjukkan arti dari kerajaanNya. Ia dapat saja memilih untuk menerima cara mereka beribadah sewaktu mereka tahu Ia sebagai tiang awan, atau api yang bersinar, anging kencang, atau angin yang membelah laut, tetapi itu bukanlah Tuhan. Ia mau disembah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23) karena kita dapat mempunyai hubungan yang nyata denganNya sekarang dan selama-lamanya – terutama untuk selama-lamanya, ketika bersama denganNya dalam kemuliaan 3-dimensi di surge (I Korintus 13:12).
1. C. S. Lewis. Mere Christianity, chapter 24 “The Three-Personal God.” /Cukup Kristen, Bab 2 “Tiga Kepribadian Tuhan”,
http://www.philosophyforlife.com/mc24.htm (accessed February 24, 2010)
2. Evidence for God. Did Einstein believe in a personal god? Rich Deem / Bukti untuk Tuhan. Apakah Einsten percaya terhdap seorang tuhan?, http://www.godandscience.org/apologetics/einstein.html#FovJAuNxEQ6G (accessed February 24, 2010).
Maroria Oroko, Glasgow, Scotland
Senin
4 Juli
Keluaran 3:1-15: 12:1-36, 20:4, 5; 32:1-6: 33:12-23 Logos
Mengerti Siapakah Allah
Banyak sekali tema yang menarik dalam mempelajari buku Keluaran. Di bawah ini adalah beberapa di antaranya:
Ia adalah Allah yang Patut Disembah (Keluaran 3:1-5)
Allah patut disembah karena tidak ada yang sama seperti Dia. Oleh karena itu Ia memerintah Musa untuk melepaskan sepatunya supaya tidak membawa dunia ke tanah yang unik dan suci di mana Ia berada pada saat itu. Sama dengan hari ini, merupakan hal yang sangat bijaksana untuk mendekati Allah dengan cara yang unik, karena Ia adalah yang paling unik dari segalanya. Biarlah kita menunjukkan penghormatan sepatutnya (Pengkhotbah 5:1, 2). Biarlah kita mengikuti segalah perintahNya, karena penurutan adalah salah satu bentuk dari penyembahan (Pengkhotbah 12:13).
Kita dapat percaya tidak akan pernah dilupakan atau diabaikan
Allah adalah Tuhan yang Melihat dan Mendengar (Keluaran 3:7-9)
Dalam kehidupan Abraham, ketika Hagar dan Ismael dikeluarkan dari tempat tinggal dan lari di tengah-tengah padang gurun, Allah mendengar tangis mereka dan memberikan bantuanNya (Kejadian 21:9-21; perhatikan terutama ayat 17). Dalam Keluaran, Allah memberitahu Musa bahwa Ia adalah Allah yang melihat dan mendengar jeri tangis bangsaNya, dan Ia bermaksud untuk berbuat sesuatu terhadap itu. Ialah seorang yang dapat melakukan apa saja. Kita dapat percaya tidak akan pernah dilupakan atau diabaikan.
Allah adalah seorang Penyelamat dan Penebus orang Israel (Keluaran 3:8, 10-12)
Allah bukanlah seorang Pengamat alam semesta yang pasif yang memperhatikan alam semesta berputar mengelilingiNya. Ia adalah Allah yang meluruskan kejahatan yang terjadi. Apapun besarnya masalah, Ia berjanji untuk memerdekakan yang tertindas dan dijajah, terutama bagi mereka yang ditindas oleh dosa. Hal ini juga terjadi pada hari ini, walaupun ketindasan tersebut datang dari sesuatu seperti perbuatan ekonomi yang tidak benar atau praktek kehidupan dalam satu komunitas seperti perdagangan budak. Allah mempunyai rencana untuk memerdekakan setiap orang dari dosa yang menindas dan merusak. Ia memanggil kita untuk melakukan hal yang sama sebaik mungkin (Yesaya 58:6, 7; Amos 5:14, 15; Mikah 6:8)
Allah adalah “AKU ADALAH AKU” (Keluaran 12:1-13, 21-30)
Dalam ayat-ayat ini, Allah menyatakan akan acara ritual di mana kita menuangkan darah dari binatang yang tidak bercela. Akan tetapi, mereka yang membiar diri mereka “diselimuti dengan darah” akan dijaga dari kekuatan jahat yang mencari untuk menghancurkan mereka (Mazmur 91). Oleh karena itu acara ritual ini dimaksudkan bukan hanya menunjukkan kepercayan Allah (dengan menuruti perintahNya, kehidupan tidak akan ada yang hilang), tetapi juga merupakan bayang-bayang akan Anak Domba Allah (Yohanes 1:29; Wahyu 5:6, 9, 10), Yesus Kristus. Ini adalah darah Yesus yang satu hari kelak nanti membebaskan dunia dari pegangan dosa dan kematian yang sepertinya tidak dapat dilepas (Ibrani 2:14, 15).
Allah meminta akan penyembahan kita (Keluaran 20:4, 5; 32:1-6)
Hukum kedua mengingati kita akan hukum yang berhubungan dengan ilah lain. Keluaran 32:1-6 menunjukkan mengapa hal ini sangat penting. Ketika kita lupa akan Siapa yang membawa setiap berkat yang kita punyai, kita juga lupa satu-satunya sumber yang benar dan hidup. Sebagaimana Amsal katakan: “Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan ALLAH berkenan akan dia. Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut.” Bila kita melupakan akan kepada siapa kita sembah, kita akan lupa siapa kita, karena kita dibentuk sesuai dengan rupaNya (Kejadian 1:26, 27). Inilah yang terjadi terhadap orang Israel di padang gurun. Yang membawa mereka untuk berdosa terhadap Allah.
Allah adalah Pemberi Kentraman (Keluaran 33:14)
Kadang kita menganggap Allah sebagai satu tugas atau seorang yang harus kita tanggapi dan teliti. Kita kadang-kadang mau “lepas” dariNya. Tetapi Allah menyatakan bahwa Ia adalah sumber dan pemberi kententraman (Kejadian 2:1-3; Keluaran 20:8-11; Matius 11:28-30). Adalah sesuatu yang bodoh bila kita berusaha mencari ketentraman di tempat lain!
Allah adalah seorang yang tersembunyi; seorang yang menunjukkan diriNya (Keluaran 33:12, 13, 18-23)
Kadang-kadang hubungan kita dengan Allah terlalu tidak dapat dijelaskan. Ia seperti dikelilingi oleh “awan dan kegelapan yang tebal” (Mazmur 97:2), sehingga kita tidak dapat mengerti jalan-jalanNya. Sebagaimana kita baca dalam buku Ayub: “Dapatkah engkau mengukur dalamnya Allah?” (11:7). Rasul Paulus menerangkan Ia sebagai “tak terselidiki” (Roma 11:33). Tetapi Allah menunjukkan Musa akah kemuliaanNya. Ia juga member Yohanes buku Wahyu yang mana memberitahu kita akan karakter sebagaimana ditunjukkan melalui Kristus. Jadi kita belajar bahwa jika kita mau mengetahui tentang Dia, kita harus siap untuk mendengarNya!
REAKSI
1. Hal apa saja yang engkau pelajari mengenai Allah dari pelajaran hari ini di Alkitab?
2. Apakah engkau berpikir cara mendalami Alkitab (dengan melihat cara untuk mengerti akan Dia lebih dalam melalui apa yang ditulis) dapat berguna dalam bagian Alkitab lainnya?
Jerry Smith, London, Inggris
Selasa
5 Juli
Kesaksian
Keberadaan Kekal Keluaran 3:14
“SAYA ADALAH SAYA berarti keberadaan untuk selama-lamanya; saat lalu, saat ini, dan di kemudian hari adalah Tuhan. Dia dapat melihat kejadian apapun di saat lampau dan di jauh kemudian hari dengan pandangan yang bersih sebagaimana kita melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, karena kalau kita tahu, ini tidak akan member kenyamanan diri yang kekal.”1
“Kristus menggunakan nama Tuhan yang besar yang diberikan kepada Musa untuk menyatakan ide akan keberadaan untuk selama-lamanya.”2
“Firman Allah kepada Musa: ''AKU ADALAH AKU.'' Lagi firman-Nya: ''Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Keluaran 3:14
“Janganlah membuat uang menjadi allah.”
“Adalah kemuliaan Tuhan untuk mengasihi, sabar, baik, dan benar. Tetapi pengadilan yang ditunjukkan untuk menghukum yang berdosa adalah juga kemuliaan Tuhan sebagai manifestasi dari kasih karuniaNya.”
“Janganlah menyembah allah lain: karena Tuhan, yang namaNya adalah iri, adalah Allah yang iri. Tuhan orang Israel adalah iri akan kehormatanNya. Bagaimana jadinya, saya yang bertanya, Ia menganggap orang-orang yang hidup di dunia, yang hidup di rumahNya, diberikan makanan dan pakaian, tetapi tidak pernah menyatakan “terimakasih “ kepadaNya? Mereka tidak menghargai kebaikanNya. Mereka seperti penghuni dunia yang fana, yang dihancurkan oleh karena mereka terus melawan Penciptanya.”3
“Biarlah manusia menyembah dan memuji Tuhan Allah dan hanya Ia saja. Janganlah menyombongkan diri sendiri untuk ditinggikan dan disembah sebagai tuhan. Janganlah membuat uang sebagai allah. Bila pikiran kita tidak dikontrol oleh kekuatan yang lebih dari pikiran kita, kemauan dasar kita akan menuntun hidup kita. Apa saja yang dibentuk berdasarkan pikiran dan kesenangan pribadi, menarik pikiran, adalah allah yang dipilih sebelum Tuhan sendiri. Tuhanlah adalah seorang pencari hati. Ia dapat membedakan antara hati yang penuh dengan perbuatan yang benar dan tidak.”4
REAKSI
1. Apakah perbaktian terhadap Tuhan menunjukkan fakta akan yang terjadi di masa lampau, saat ini, dan yang akan datang dengan Dia?
2. Berikankah contoh yang praktis di mana kita berbakti dalam roh dan kebenaran.
1. That I May Know Him, p. 12./ Supaya Aku Dapat MengenalNya, hal. 12
2. Ibid./Idem
3. The Advent Review and Sabbath Herald, March 10, 1904, “Laborers Together With God.” /Pekerja Bersama dengan Tuhan
4. Sermons and Talks [2SAT], chap. 25, “The Giving of the Law,” Manuscript 126, p. 185./ “Memberi Hukum
Ruth Reider, Milton Keynes, Inggris
Rabu
6 Juli
Keluaran 3:5; 32:1-6; Mazmur 100:3; I Kor. 15:45 Bagaimana
Berdiri Di Tanah Yang Suci
Mengerti akan Allah yang kita sembah adalah bagian penting dari perbaktian. Ketika kita datang kepada hadiratNya melalui doa, di mimbar gereja, di alam, di dalam rumah, atau bahkan di tengah kesunyian pikiran kita, ada beberapa elemen penting yang membawa kita terhadap sikap dalam berbakti.
Mengerti bahwa Allah adalah Roh (I Korintus 15:45). Alkitab member tahu bahwa Allah adalah Roh. Kita tidak dapat memegang atau menyentuhNya atau melihatNya seperti kita dengan yang lainnya. Kita melihatNya di dalam mata pikiran kita dan mengenalNya dalam hati kita. Jadi kita menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23; Filipi 3:3). Ini jauh melewati fisik. Perbaktian lebih dari menunduk kepala, bertelut, melipat tangan, atau bahkan bernyanyi lagu-laguNya. Ini juga berarti melihatNya melalui pikiran spiritual, mengetahui bahwa Ia nyata, dan percaya bahwa Ia berada di tengah-tengah kita sebagaimana kita mendekatiNya.
Di mana saja kita mendekati Allah, kita berdiri di atas tanah yang suci
Mengerti bahwa Allah itu suci (Keluaran 3:5). Satu ketika saya menonton program TV di mana seseorang berbicara dengan Allah ketika memegang secangkir anggur. Ketika ia selesai berbicara, ia mencicipi anggur itu. Saya yakin penulis program ini bermaksud untuk menunjukkan ketidakpenurutan dari orang tersebut. Tetapi berapa sering kita datang di hadirat Allah tanpa memerhatikan kesucianNya? Ketika Allah mengurusi ternak mertuanya, ia tiba di semak yang berapi, tetapi tidak terbakar. Allah berkata kepadanya dari tengah-tengah semak, “Lepaskanlah sandalmu, karena tempat di mana kamu berdiri adalah tanah yang suci!” (Lihat Keluaran 3:1-6). Di mana saja kita mendekati Allah, kita berdiri di atas tanah yang suci. Ketika kita mengerti bahwa Allah itu suci, kita akan merendahkan diri dan berserah. Kita akan hati-hati terhadap kata-kata dan perbuatan.
Ingat bahwa Ia adalah Allah (Keluaran 32:1-6; Mazmur 100:3). Seketika mereka keluar dari Mesir, orang Israel berkemah dekat Gunung Sinai, dan Musa pergi ke atas gunung untuk berbicara dengan Allah. Setelah ia pergi dalam waktu yang lama, orang Israel menjadi takut kalau mereka telah ditinggal sendiri. Mereka sepertinya telah lupa bahwa Allah akan menolong mereka, dan membuat ilah dari emas. Kita juga berada dalam bahaya dengan menaruh hal lain di dalam kehidupan kita yang mana hanya Allah yang mempunyai hak. Ialah satu-satunya yang disembah dan dipuji. Bahkan di gereja, tidak ada yang dapat lebih dipuji selain Allah.
REAKSI
Bagaimana bisa kita dapat berbicara dengan Allah sungguh-sungguh tetapi masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari?
Ann Steward, Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat
Kamis
7 Juli
Pendapat
Berbakti Sampai Akhir Wahyu 4:8
Apakah yang membuat kita meninggalkan Allah? Dalam Perjanjian Lama kita sering mendapati ayat: “dan orang Israel berdosa terhadap Allah”. Saya kadang berpikir, kalau saya hidup saat itu, saya akan hidup lebih beriman. Tetapi ketika saya terus membaca Alkitab dan memperhatikan dunia modern saat ini, saya lebih sadar bahwa kita mempunyai kehidupan yang sama dengan orang Israel saat itu.
Jadi apa yang selalu membuat kita sering berpaling dari Allah? Di bawah ini ada beberapa tanggapan:
Sebagian besar dari kita saat ini, . . . . . adalah orang yang beragama dibandingkan hidup dalam kasih dengan Allah
- Kita tidak cukup sabar, dan kita cepat lupa akan apa yang Allah telah lakukan bagi kita. Kita lupa kalau jalanNya tidak selalu jalan kita dan pikiranNya bukan pikiran kita. Oleh karena itu, ketika Ia mengambil waktu yang lebih lama untuk melakukan sesuatu, bukanlah karena Ia telah lup akan kita, teatpi karena Ia adalah Allah dan waktuNyalah yang paling tepat. Juga ketika Ia melakukan sesuatu untuk kita, yang seharusnya kita berterimakasih, kita sering lupa akan kebesaranNya dan mulai bersungut.
- Perhatian kita mudah dialihkan. Salah satu contoh yang bagus adalah ketika seseorang telat datang ke gereja dan hal yang lebih jelek ketika mereka berpakaian yang tidak cocok. Sehingga kita menghabiskan waktu untuk membicarakan betapa tidak bagusnya orang tersebut. Ini terjadi karena kita berhenti untuk memikirkan akan Penyelamat kita yang baik.
- Kita bingung akan siapa Allah itu. Sebagian besar dari kita saat ini, sama seperti orang Israel, adalah orang yang beragama dibandingkan hidup dalam kasih dengan Allah. Kita sibuk untuk menuruti huruf yang ada dalam hukum dibandingkan roh di dalam hukum. Dengan berkelakuan seperti itu kita menjadi capai akan Allah dan berpikir kalau Ia sedang menunggu unuk menghukum kita ketika kita jatuh.
Tetapi, kita tidak sadar kalau kita salah! Dari mulai ke akhir Alkitab, kita melihat Allah yang cinta, baik, panjang sabar, baik dalam segala hal. Tidak ada allah lain yang seperti Allah kita! Tidak ada allah lain yang dapat melakukan apa yang Ia lakukan dan yang akan Ia lakukan!
Bukankah Allah itu luar biasa? Mengapa kita masih berpikir untuk mempunyai atau mau allah lain? Perbaktian kita jangan terhadap orang lain, tetapi Kristus!
Mulai hari ini sampai selama-lamanya, lagu saya selalu seperti ini:
“Suci, suci, suci! Allah Maha Kuasa!
Yang Memerintah selama-selamanya”
Maureen Gatharia, Banbridge, County Down, Irlandia Utara
Jum’at
8 Juli
Eksplorasi
Belajar Untuk MengenalNYA Yesaya 46:9-11
SIMPULAN
Keinginan untuk mengenal Allah adalah bagian dari perjalan hidup manusia sejak dosa memisah kita dari Pencipta kita. Menariknya, sejak hari itu, Allah juga telah berusaha untuk menolong manusia yang telah jatuh. Ia memilih anak anak Abraham untuk menerima perhatian dan penjagaanNya yang khusus. Ia memilih mereka untuk menjadi Allah mereka dan mereka bangsaNya untuk membagi-bagikan pekabaran keselamatan ke dunia. Akan tetapi, ideNya tidak terjadi. Bangsa Israel menolak rencanaNya, dan Allah memilih bangsa lain. Apakah engkau mau mengenal Allah? Matikan suara yang berisik, jauhkan hal-hal yang mengambil alih. Ia telah menunggu untuk menunjukkan diriNya bagi engkau.
PERTIMBANGKAN
- Menulis satu puisi yang menerangkan akan Allah.
- Menganalisa 10 Hukum dengan menemukannya melalui berbagai atribut Allah yang mana Ia mau menunjukkan diriNya bagi engkau.
- Bacalah janji dalam Ulangan 31:6; Yesaya 40:31; Yohanes 14:27; 2 Korintus 1:3-4, Filipi 4:19. Garis bawahi alasan mengapa Allah patut disembah.
- Mengambil waktu untuk berjalan di alam dan memperhatikan hasil ciptaan Allah.
- Mengevaluasi bagaimana sering pikiran kita menjauhi Allah. Bandingkan hasilnya dengan hal lain yang menyerap pikiran kita.
- Mendramakan Wahyu 14:6-13. Perhatikan dengan seksama cara malaikat berbakti.
- Bangun pagi sebelum matahari terbit dan meluangkan waktu untuk Yesaya 46:9-11.
HUBUNGKAN
J. I. Packer and Carolyn Nystrom, Knowing God Devotional Journal/Jurnal Mengenal Allah (Downers Grove, IL.: InterVarsity Press, 2004); A. W. Tozer, The Pursuit of God/Mengejar Allah (Christian Publications: Camp Springs, PA., 1993).
Sandra Araújo-Delgado, Apison, Tennessee, U.S.A.
Pelajaran ke-DUA Kwartal 3,
Perbaktian dan Keluaran:
Mengerti Siapa Allah itu
2—9 Juli 2011
Diterjemahkan Oleh: Glenn Simanjuntak
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang
"Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Kel. 20:2, 3, LAI)
Sabbath
2 Juli
Keluaran 20:2, 3 Pendahuluan
Satu-satunya atau Allah Diantara Para Illah lain
Kata seorang atau satu-satunya sering kali digunakan dengan tidak benar, walaupun saya bukanlah seorang profesor bahsa Inggris. Saya tahu kalau yang satu digunakan sebelum satu kata benda yang jumlah dapat dihitung satu, sedangkan yang lain digunak untuk kata benda yang memang hanya tidak ada duanya. Contohnya, ketika seorang anak muda bertemu dengan seorang wanita yang ia mau menghabis hidup seumur hidupnya, ia biasa menyebut wanita tersebut sebagai “the one/ wanita satu-satunya.” Bila ia menyebut wanita tersebut sebagai seseorang yang tidak eklusif, ia menyebutnya seperti “ia adalah seorang wanita special.” Pria tersebut akan menunjukkan bahwa adalah lebih dari satu wanita yang ia sukai. Bayangkan masalah apa saja yang dapat dialaminya!
Mengerti akan siapa Allah itu sangat penting agar tahu bagaimana kita menyembahNya
Ketika orang Israel meninggalkan Mesir, mereka tidak berbakti kepada Tuhan sebagaimana mestinya. Bahkan banyak di antara mereka yang sudah lupa, oleh karena lama waktunya mereka tinggal di Mesir, di mana banyak allah lain yang disembah. Kekhususan atas satu-satunya Tuhan telah hilang. Oleh karena itu, satu proses perlu terjadi untu Tuhan kembali memperkenalkan diriNya. Kita saksikan mulainya proses ini, bersama dengan penderitaan yang ada, di dalam buku Keluaran.
Salah satu konsep yang Allah tunjukkan kepada pikiran orang Israel adalah Ialah satu-satunya Allah. Ia melakukan ini dnegan menunjukkan akan bagaimana Ia jauh lebih beda dari siapa saja yang pernah menyatakan dirinya sebagai allah.
Hari ini, masih banyak orang, obyek, dan ide yang mengambil pikiran kita untuk menjadi yang paling utama dalam kehidupan kita, yang dengan mudah menyatakan dirinya sebagai seorang allah. Mengerti akan siapa Tuhan itu,sangat penting agar tahu bagaimana kita memujiNya. Beberapa mengatakan Ia adalah satu tempat. Yang lain menyatakan adalah satu pengalaman atau perasaan. “Di dalam hati setiap agama ada satu komitmen yang tidak dapat dikompromi untuk menggambarkan akan siapa Allah itu dan tujuan dari hidup.”*
Minggu ini kita akan melihat kembali pengalaman orang Israel dan bagaimana interaksi mereka dengan Allah dapat menujukkan kita akan Allah yang kita sembah dan puji.
____________
*Ravi Zacharias, Jesus Among Other Gods/Yesus di Antara allah Lain
Adam Ramdin, Nottingham, England
.
Minggu
3 Juli
Bukti
Dimensi Allah Ulangan 29:29
Yoh. 4:23
Judul minggu ini luar biasa. Bagaimana bisa kita mengerti siapa Allah itu ketika Alkitab menunjukkan bahwa keadaan Ia sepenuhnya ada di dalam surga, di mana tidak ada dosa. Allah itu jauh di atas kita dan di luar pengetahuan kita, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada yang dapat kita pelajari tentang Dia kecuali Ia memilih untuk menunjukkan diriNya pada kita.
Dalam buku Mere Christianity/Cukup Kristen, C.S. Lewis menjelaskan akan keadaan Allah yang “tidak dapat dijelaskan” dengan menyatakan tentang dimensi Allah. Seperti kita hidup dalam dunia dua dimensi – dapat mengerti akan segala sesuatu mulai dari satu garis ke bujursangkar dalam satu kertas – di mana Allah diam dalam dunia tiga dimensi, kenyataan yang lebih kompleks. Bujursangkar kita sama dengan kotakNya. Kita hanya dapat melihat satu sisi, tetapi kenyataannya ada enam sisi. Dengan “ketidakjelasan”Nya, apakah perlu untuk mengerti siapa Allah supaya bisa menyembahNya?
Apakah perlu untuk mengerti siapa Allah supaya bisa menyembahNya?
Ketika Paulus berkunjung ke Athena, hal ini menjadi lebih jelas kepadanya ketika melihat penduduk Athena memuji berbagai macam tuhan, paling sedikit salah satunya mereka tidak tahu sama sekali (Kisah 17:23). Beberapa ilmuwan, seperti Einstein2, percaya akan satu kekuatan khusus yang dapat disebut sebagai “tuhan” yang berada di belakang semua hal-hal yang terjadi di dunia ini. Mungkin engkau mempunya beberapa teman yang percaya terhadap satu “tuhan” dalam bentuk tertentu dan berdoa kepadanya walaupun tidak ada bentuk nyatan kecuali kepercayaannya masing-masing. Oleh karena itu, bisa saja beribadah kepada sesuatu yang kita tidak mengerti. Masalahnya di sini adalah Allah kita mau untuk dapat dimengerti (Yohanes 4:22, 23).
Pengalaman dalam buku Keluaran berisi dengan kehadiran Allah sendiri, yang nyata terdapat dalam sepuluh hokum. Ia mendengar tangisan orang Israel. Ia melepaskan orang Israel dari perbudakan. Ia menunjukkan mereka kekuatanNya di Laut Merah dan di Sinai, Ia menunjukkan arti dari kerajaanNya. Ia dapat saja memilih untuk menerima cara mereka beribadah sewaktu mereka tahu Ia sebagai tiang awan, atau api yang bersinar, anging kencang, atau angin yang membelah laut, tetapi itu bukanlah Tuhan. Ia mau disembah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23) karena kita dapat mempunyai hubungan yang nyata denganNya sekarang dan selama-lamanya – terutama untuk selama-lamanya, ketika bersama denganNya dalam kemuliaan 3-dimensi di surge (I Korintus 13:12).
1. C. S. Lewis. Mere Christianity, chapter 24 “The Three-Personal God.” /Cukup Kristen, Bab 2 “Tiga Kepribadian Tuhan”,
http://www.philosophyforlife.com/mc24.htm (accessed February 24, 2010)
2. Evidence for God. Did Einstein believe in a personal god? Rich Deem / Bukti untuk Tuhan. Apakah Einsten percaya terhdap seorang tuhan?, http://www.godandscience.org/apologetics/einstein.html#FovJAuNxEQ6G (accessed February 24, 2010).
Maroria Oroko, Glasgow, Scotland
Senin
4 Juli
Keluaran 3:1-15: 12:1-36, 20:4, 5; 32:1-6: 33:12-23 Logos
Mengerti Siapakah Allah
Banyak sekali tema yang menarik dalam mempelajari buku Keluaran. Di bawah ini adalah beberapa di antaranya:
Ia adalah Allah yang Patut Disembah (Keluaran 3:1-5)
Allah patut disembah karena tidak ada yang sama seperti Dia. Oleh karena itu Ia memerintah Musa untuk melepaskan sepatunya supaya tidak membawa dunia ke tanah yang unik dan suci di mana Ia berada pada saat itu. Sama dengan hari ini, merupakan hal yang sangat bijaksana untuk mendekati Allah dengan cara yang unik, karena Ia adalah yang paling unik dari segalanya. Biarlah kita menunjukkan penghormatan sepatutnya (Pengkhotbah 5:1, 2). Biarlah kita mengikuti segalah perintahNya, karena penurutan adalah salah satu bentuk dari penyembahan (Pengkhotbah 12:13).
Kita dapat percaya tidak akan pernah dilupakan atau diabaikan
Allah adalah Tuhan yang Melihat dan Mendengar (Keluaran 3:7-9)
Dalam kehidupan Abraham, ketika Hagar dan Ismael dikeluarkan dari tempat tinggal dan lari di tengah-tengah padang gurun, Allah mendengar tangis mereka dan memberikan bantuanNya (Kejadian 21:9-21; perhatikan terutama ayat 17). Dalam Keluaran, Allah memberitahu Musa bahwa Ia adalah Allah yang melihat dan mendengar jeri tangis bangsaNya, dan Ia bermaksud untuk berbuat sesuatu terhadap itu. Ialah seorang yang dapat melakukan apa saja. Kita dapat percaya tidak akan pernah dilupakan atau diabaikan.
Allah adalah seorang Penyelamat dan Penebus orang Israel (Keluaran 3:8, 10-12)
Allah bukanlah seorang Pengamat alam semesta yang pasif yang memperhatikan alam semesta berputar mengelilingiNya. Ia adalah Allah yang meluruskan kejahatan yang terjadi. Apapun besarnya masalah, Ia berjanji untuk memerdekakan yang tertindas dan dijajah, terutama bagi mereka yang ditindas oleh dosa. Hal ini juga terjadi pada hari ini, walaupun ketindasan tersebut datang dari sesuatu seperti perbuatan ekonomi yang tidak benar atau praktek kehidupan dalam satu komunitas seperti perdagangan budak. Allah mempunyai rencana untuk memerdekakan setiap orang dari dosa yang menindas dan merusak. Ia memanggil kita untuk melakukan hal yang sama sebaik mungkin (Yesaya 58:6, 7; Amos 5:14, 15; Mikah 6:8)
Allah adalah “AKU ADALAH AKU” (Keluaran 12:1-13, 21-30)
Dalam ayat-ayat ini, Allah menyatakan akan acara ritual di mana kita menuangkan darah dari binatang yang tidak bercela. Akan tetapi, mereka yang membiar diri mereka “diselimuti dengan darah” akan dijaga dari kekuatan jahat yang mencari untuk menghancurkan mereka (Mazmur 91). Oleh karena itu acara ritual ini dimaksudkan bukan hanya menunjukkan kepercayan Allah (dengan menuruti perintahNya, kehidupan tidak akan ada yang hilang), tetapi juga merupakan bayang-bayang akan Anak Domba Allah (Yohanes 1:29; Wahyu 5:6, 9, 10), Yesus Kristus. Ini adalah darah Yesus yang satu hari kelak nanti membebaskan dunia dari pegangan dosa dan kematian yang sepertinya tidak dapat dilepas (Ibrani 2:14, 15).
Allah meminta akan penyembahan kita (Keluaran 20:4, 5; 32:1-6)
Hukum kedua mengingati kita akan hukum yang berhubungan dengan ilah lain. Keluaran 32:1-6 menunjukkan mengapa hal ini sangat penting. Ketika kita lupa akan Siapa yang membawa setiap berkat yang kita punyai, kita juga lupa satu-satunya sumber yang benar dan hidup. Sebagaimana Amsal katakan: “Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan ALLAH berkenan akan dia. Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut.” Bila kita melupakan akan kepada siapa kita sembah, kita akan lupa siapa kita, karena kita dibentuk sesuai dengan rupaNya (Kejadian 1:26, 27). Inilah yang terjadi terhadap orang Israel di padang gurun. Yang membawa mereka untuk berdosa terhadap Allah.
Allah adalah Pemberi Kentraman (Keluaran 33:14)
Kadang kita menganggap Allah sebagai satu tugas atau seorang yang harus kita tanggapi dan teliti. Kita kadang-kadang mau “lepas” dariNya. Tetapi Allah menyatakan bahwa Ia adalah sumber dan pemberi kententraman (Kejadian 2:1-3; Keluaran 20:8-11; Matius 11:28-30). Adalah sesuatu yang bodoh bila kita berusaha mencari ketentraman di tempat lain!
Allah adalah seorang yang tersembunyi; seorang yang menunjukkan diriNya (Keluaran 33:12, 13, 18-23)
Kadang-kadang hubungan kita dengan Allah terlalu tidak dapat dijelaskan. Ia seperti dikelilingi oleh “awan dan kegelapan yang tebal” (Mazmur 97:2), sehingga kita tidak dapat mengerti jalan-jalanNya. Sebagaimana kita baca dalam buku Ayub: “Dapatkah engkau mengukur dalamnya Allah?” (11:7). Rasul Paulus menerangkan Ia sebagai “tak terselidiki” (Roma 11:33). Tetapi Allah menunjukkan Musa akah kemuliaanNya. Ia juga member Yohanes buku Wahyu yang mana memberitahu kita akan karakter sebagaimana ditunjukkan melalui Kristus. Jadi kita belajar bahwa jika kita mau mengetahui tentang Dia, kita harus siap untuk mendengarNya!
REAKSI
1. Hal apa saja yang engkau pelajari mengenai Allah dari pelajaran hari ini di Alkitab?
2. Apakah engkau berpikir cara mendalami Alkitab (dengan melihat cara untuk mengerti akan Dia lebih dalam melalui apa yang ditulis) dapat berguna dalam bagian Alkitab lainnya?
Jerry Smith, London, Inggris
Selasa
5 Juli
Kesaksian
Keberadaan Kekal Keluaran 3:14
“SAYA ADALAH SAYA berarti keberadaan untuk selama-lamanya; saat lalu, saat ini, dan di kemudian hari adalah Tuhan. Dia dapat melihat kejadian apapun di saat lampau dan di jauh kemudian hari dengan pandangan yang bersih sebagaimana kita melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, karena kalau kita tahu, ini tidak akan member kenyamanan diri yang kekal.”1
“Kristus menggunakan nama Tuhan yang besar yang diberikan kepada Musa untuk menyatakan ide akan keberadaan untuk selama-lamanya.”2
“Firman Allah kepada Musa: ''AKU ADALAH AKU.'' Lagi firman-Nya: ''Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Keluaran 3:14
“Janganlah membuat uang menjadi allah.”
“Adalah kemuliaan Tuhan untuk mengasihi, sabar, baik, dan benar. Tetapi pengadilan yang ditunjukkan untuk menghukum yang berdosa adalah juga kemuliaan Tuhan sebagai manifestasi dari kasih karuniaNya.”
“Janganlah menyembah allah lain: karena Tuhan, yang namaNya adalah iri, adalah Allah yang iri. Tuhan orang Israel adalah iri akan kehormatanNya. Bagaimana jadinya, saya yang bertanya, Ia menganggap orang-orang yang hidup di dunia, yang hidup di rumahNya, diberikan makanan dan pakaian, tetapi tidak pernah menyatakan “terimakasih “ kepadaNya? Mereka tidak menghargai kebaikanNya. Mereka seperti penghuni dunia yang fana, yang dihancurkan oleh karena mereka terus melawan Penciptanya.”3
“Biarlah manusia menyembah dan memuji Tuhan Allah dan hanya Ia saja. Janganlah menyombongkan diri sendiri untuk ditinggikan dan disembah sebagai tuhan. Janganlah membuat uang sebagai allah. Bila pikiran kita tidak dikontrol oleh kekuatan yang lebih dari pikiran kita, kemauan dasar kita akan menuntun hidup kita. Apa saja yang dibentuk berdasarkan pikiran dan kesenangan pribadi, menarik pikiran, adalah allah yang dipilih sebelum Tuhan sendiri. Tuhanlah adalah seorang pencari hati. Ia dapat membedakan antara hati yang penuh dengan perbuatan yang benar dan tidak.”4
REAKSI
1. Apakah perbaktian terhadap Tuhan menunjukkan fakta akan yang terjadi di masa lampau, saat ini, dan yang akan datang dengan Dia?
2. Berikankah contoh yang praktis di mana kita berbakti dalam roh dan kebenaran.
1. That I May Know Him, p. 12./ Supaya Aku Dapat MengenalNya, hal. 12
2. Ibid./Idem
3. The Advent Review and Sabbath Herald, March 10, 1904, “Laborers Together With God.” /Pekerja Bersama dengan Tuhan
4. Sermons and Talks [2SAT], chap. 25, “The Giving of the Law,” Manuscript 126, p. 185./ “Memberi Hukum
Ruth Reider, Milton Keynes, Inggris
Rabu
6 Juli
Keluaran 3:5; 32:1-6; Mazmur 100:3; I Kor. 15:45 Bagaimana
Berdiri Di Tanah Yang Suci
Mengerti akan Allah yang kita sembah adalah bagian penting dari perbaktian. Ketika kita datang kepada hadiratNya melalui doa, di mimbar gereja, di alam, di dalam rumah, atau bahkan di tengah kesunyian pikiran kita, ada beberapa elemen penting yang membawa kita terhadap sikap dalam berbakti.
Mengerti bahwa Allah adalah Roh (I Korintus 15:45). Alkitab member tahu bahwa Allah adalah Roh. Kita tidak dapat memegang atau menyentuhNya atau melihatNya seperti kita dengan yang lainnya. Kita melihatNya di dalam mata pikiran kita dan mengenalNya dalam hati kita. Jadi kita menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23; Filipi 3:3). Ini jauh melewati fisik. Perbaktian lebih dari menunduk kepala, bertelut, melipat tangan, atau bahkan bernyanyi lagu-laguNya. Ini juga berarti melihatNya melalui pikiran spiritual, mengetahui bahwa Ia nyata, dan percaya bahwa Ia berada di tengah-tengah kita sebagaimana kita mendekatiNya.
Di mana saja kita mendekati Allah, kita berdiri di atas tanah yang suci
Mengerti bahwa Allah itu suci (Keluaran 3:5). Satu ketika saya menonton program TV di mana seseorang berbicara dengan Allah ketika memegang secangkir anggur. Ketika ia selesai berbicara, ia mencicipi anggur itu. Saya yakin penulis program ini bermaksud untuk menunjukkan ketidakpenurutan dari orang tersebut. Tetapi berapa sering kita datang di hadirat Allah tanpa memerhatikan kesucianNya? Ketika Allah mengurusi ternak mertuanya, ia tiba di semak yang berapi, tetapi tidak terbakar. Allah berkata kepadanya dari tengah-tengah semak, “Lepaskanlah sandalmu, karena tempat di mana kamu berdiri adalah tanah yang suci!” (Lihat Keluaran 3:1-6). Di mana saja kita mendekati Allah, kita berdiri di atas tanah yang suci. Ketika kita mengerti bahwa Allah itu suci, kita akan merendahkan diri dan berserah. Kita akan hati-hati terhadap kata-kata dan perbuatan.
Ingat bahwa Ia adalah Allah (Keluaran 32:1-6; Mazmur 100:3). Seketika mereka keluar dari Mesir, orang Israel berkemah dekat Gunung Sinai, dan Musa pergi ke atas gunung untuk berbicara dengan Allah. Setelah ia pergi dalam waktu yang lama, orang Israel menjadi takut kalau mereka telah ditinggal sendiri. Mereka sepertinya telah lupa bahwa Allah akan menolong mereka, dan membuat ilah dari emas. Kita juga berada dalam bahaya dengan menaruh hal lain di dalam kehidupan kita yang mana hanya Allah yang mempunyai hak. Ialah satu-satunya yang disembah dan dipuji. Bahkan di gereja, tidak ada yang dapat lebih dipuji selain Allah.
REAKSI
Bagaimana bisa kita dapat berbicara dengan Allah sungguh-sungguh tetapi masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari?
Ann Steward, Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat
Kamis
7 Juli
Pendapat
Berbakti Sampai Akhir Wahyu 4:8
Apakah yang membuat kita meninggalkan Allah? Dalam Perjanjian Lama kita sering mendapati ayat: “dan orang Israel berdosa terhadap Allah”. Saya kadang berpikir, kalau saya hidup saat itu, saya akan hidup lebih beriman. Tetapi ketika saya terus membaca Alkitab dan memperhatikan dunia modern saat ini, saya lebih sadar bahwa kita mempunyai kehidupan yang sama dengan orang Israel saat itu.
Jadi apa yang selalu membuat kita sering berpaling dari Allah? Di bawah ini ada beberapa tanggapan:
Sebagian besar dari kita saat ini, . . . . . adalah orang yang beragama dibandingkan hidup dalam kasih dengan Allah
- Kita tidak cukup sabar, dan kita cepat lupa akan apa yang Allah telah lakukan bagi kita. Kita lupa kalau jalanNya tidak selalu jalan kita dan pikiranNya bukan pikiran kita. Oleh karena itu, ketika Ia mengambil waktu yang lebih lama untuk melakukan sesuatu, bukanlah karena Ia telah lup akan kita, teatpi karena Ia adalah Allah dan waktuNyalah yang paling tepat. Juga ketika Ia melakukan sesuatu untuk kita, yang seharusnya kita berterimakasih, kita sering lupa akan kebesaranNya dan mulai bersungut.
- Perhatian kita mudah dialihkan. Salah satu contoh yang bagus adalah ketika seseorang telat datang ke gereja dan hal yang lebih jelek ketika mereka berpakaian yang tidak cocok. Sehingga kita menghabiskan waktu untuk membicarakan betapa tidak bagusnya orang tersebut. Ini terjadi karena kita berhenti untuk memikirkan akan Penyelamat kita yang baik.
- Kita bingung akan siapa Allah itu. Sebagian besar dari kita saat ini, sama seperti orang Israel, adalah orang yang beragama dibandingkan hidup dalam kasih dengan Allah. Kita sibuk untuk menuruti huruf yang ada dalam hukum dibandingkan roh di dalam hukum. Dengan berkelakuan seperti itu kita menjadi capai akan Allah dan berpikir kalau Ia sedang menunggu unuk menghukum kita ketika kita jatuh.
Tetapi, kita tidak sadar kalau kita salah! Dari mulai ke akhir Alkitab, kita melihat Allah yang cinta, baik, panjang sabar, baik dalam segala hal. Tidak ada allah lain yang seperti Allah kita! Tidak ada allah lain yang dapat melakukan apa yang Ia lakukan dan yang akan Ia lakukan!
Bukankah Allah itu luar biasa? Mengapa kita masih berpikir untuk mempunyai atau mau allah lain? Perbaktian kita jangan terhadap orang lain, tetapi Kristus!
Mulai hari ini sampai selama-lamanya, lagu saya selalu seperti ini:
“Suci, suci, suci! Allah Maha Kuasa!
Yang Memerintah selama-selamanya”
Maureen Gatharia, Banbridge, County Down, Irlandia Utara
Jum’at
8 Juli
Eksplorasi
Belajar Untuk MengenalNYA Yesaya 46:9-11
SIMPULAN
Keinginan untuk mengenal Allah adalah bagian dari perjalan hidup manusia sejak dosa memisah kita dari Pencipta kita. Menariknya, sejak hari itu, Allah juga telah berusaha untuk menolong manusia yang telah jatuh. Ia memilih anak anak Abraham untuk menerima perhatian dan penjagaanNya yang khusus. Ia memilih mereka untuk menjadi Allah mereka dan mereka bangsaNya untuk membagi-bagikan pekabaran keselamatan ke dunia. Akan tetapi, ideNya tidak terjadi. Bangsa Israel menolak rencanaNya, dan Allah memilih bangsa lain. Apakah engkau mau mengenal Allah? Matikan suara yang berisik, jauhkan hal-hal yang mengambil alih. Ia telah menunggu untuk menunjukkan diriNya bagi engkau.
PERTIMBANGKAN
- Menulis satu puisi yang menerangkan akan Allah.
- Menganalisa 10 Hukum dengan menemukannya melalui berbagai atribut Allah yang mana Ia mau menunjukkan diriNya bagi engkau.
- Bacalah janji dalam Ulangan 31:6; Yesaya 40:31; Yohanes 14:27; 2 Korintus 1:3-4, Filipi 4:19. Garis bawahi alasan mengapa Allah patut disembah.
- Mengambil waktu untuk berjalan di alam dan memperhatikan hasil ciptaan Allah.
- Mengevaluasi bagaimana sering pikiran kita menjauhi Allah. Bandingkan hasilnya dengan hal lain yang menyerap pikiran kita.
- Mendramakan Wahyu 14:6-13. Perhatikan dengan seksama cara malaikat berbakti.
- Bangun pagi sebelum matahari terbit dan meluangkan waktu untuk Yesaya 46:9-11.
HUBUNGKAN
J. I. Packer and Carolyn Nystrom, Knowing God Devotional Journal/Jurnal Mengenal Allah (Downers Grove, IL.: InterVarsity Press, 2004); A. W. Tozer, The Pursuit of God/Mengejar Allah (Christian Publications: Camp Springs, PA., 1993).
Sandra Araújo-Delgado, Apison, Tennessee, U.S.A.
Subscribe to:
Comments (Atom)