SSCQ Edisi bahasa Indonesia, Triwulan IV, Pelajaran 6, 31 Oktober - 7 November 2009
DIRENCANAKAN JAUH HARI
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Maka Aku berkata kepada anak-anak mereka di padang gurun: Janganlah kamu hidup menurut ketetapan-ketetapan ayahmu dan janganlah berpegang pada peraturan-peraturan mereka dan janganlah menajiskan dirimu dengan berhala-berhala mereka. Akulah TUHAN, Allahmu: Hiduplah menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan lakukanlah peraturan-peraturan-Ku dengan setia, kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu. (Yehez. 20:18-20)
Sabbath 31 Oktober
Apakah Saya Tidur Berjalan
PENDAHULUAN
Bil. 15:37-41; 2 Kor. 2:15,16
Saya bersukarela melakukan pekerjaan paling tidak populer di tempat kerjaku. Ada di bawah, dingin, kotor, dan bising. Tetapi saya akan sendirian, dan saya tahu bahwa saya membutuhkan waktu sendirian bersama Allah. Saya selalu meminta Allah untuk selalu bersamaku, tetapi saya menghabiskan hari-hariku seolah-olah Dia amat jauh.
“Apakah anda disini Tuhan?” tanyaku pada saat sampai di bawah. Segenap bagian tubuhku siap untuk kehadiranNYA.
Tak lama kemudian, Kesavan, rekan sekerjaku yang beragama Hare Krishna, singgah. Dia adalah orang yang ramah, lemah lembut, dan baik, dan kami menikmati banyak percakapan tentang Tuhan. Kali ini dia bertanya padaku apakah saya bersukarela kerja ditempat ini agar dapat membaca dan berdoa! Kami mulai mengobrol tentang Allah. Saya bertanya-tanya apakah kami dapat menikmati percakapan tiga arah—Kesavan, diriku, dan Tuhan.
Kami terangkat dengan pemikiran ini, dan pada waktu permisi, dia berkata, “Saya sekarang tahu Tuhan mengirimku ke bawah ini untuk berbicara denganmu, karena saya telah diberkati.”
Tuhan! Mengambil hikmah dan sadar akan kehadiranNYA amat menyenangkat. Kemaren, saya meloncat keluar rumah, berlari terlambat ke perbaktian malam di gereja. Suara musik mobil dengan lembut bernyanyi—“Ingatlah kan daku.”* Kemudian saya melihatnya—bulan, keemasan dan mulia, naik di atas bukit dikejauhan . Saya berhenti. Ya, Tuhan, ampuni saya, doaku. Tolonglah daku untuk selalu mengingatmu setiap saat dalam hidupku. Alangkah pelupanya aku!
Kaabah pastilah merupakan pemandangan yang luarbiasa di padang gurun, mewakili kemuliaan Allah dan menceritakan kisah keselamatan melalui upacara, korban, dan lambang-lambang. Pastilah itu akan mengangkat mata umat kearah sorga pada waktu mereka berjalan di padang pasir yang mengerikan ke Tanah Perjanjian. Tetapi walaupun dengan semuanya itu, Allah memerintahkan anak-anak Israel untuk memakai rumbai-rumbai di pakaian mereka mengingatkan mereka untuk mematuhi hukum-hukumNYA.
Saat ini kita hidup dalam dunia yang penuh dengan gangguan, tetapi Allah tetap hadir. Dia berbicara kepada kita melalui terbit dan tenggelamnya matahari, lautan, terang bulan, dan persahabatan. Tetapi, tetapi sesuatu mengatakan kepaku bahwa mungkin saya perlu pakai rumbai-rumbai. Paulus mengatakan, “Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. (1Tes 5:4,5)
Minggu ini kita akan belajar buku Bilangan yang telah mengajar kita tentang pentingnya mengingat Allah dan bagaimana kita dapat melakukannya.
____________
*Leann Rimes, “Please Remember.”
Jenelle Hockley, Perth, Australia
Minggu 1 Nopember
Kebersamaan Melaui Rumbai
BUKTI
Bilangan 15, Yo. 14:21; Efesus 5:1,2
Padamulanya, hukum-hukum di Bilangan 15 tampak diluar konteks ditengah uraian lainnya. Hukum-hukum ini, tentu saja, mengungkapkan Allah yang setia yang ingin bersekutu dengan anak-anakNYA dan memanggil mereka untuk patuh setelah kejadian mengerikan Pasal 14.
Panggilan Allah untuk patuh datang dalam bentuk peringatan fisik kepada orang Israel. Mereka mesti membuat satu simpul biru (keunguan) dalam rumbai yang mesti mereka tempatkan diujung baju mereka. Rumbai-rumbai ini “akan mengingatkan kamu,. . kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan . . . . menjadi kudus bagi Allahmu.” (ayat 39, 40).
Ketaatan kepada perintah Allah merupakan tanda kecintaan kita kepadaNYA. Sabat adalah ujian, atau tanda kepatuhan.1 Yohanes 14:21 mengatakan “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
Adalah penting untuk meletakan rumbai tersebut diujung pakaian mereka. Pada zaman dahulu kala, ujung baju merupakan perpanjangan orang tersebut.2 Dengan cara ini, kepatuhan kepada Allah merupakan kepanjangan orang tersebut. Sifat-sifat apakah dan prioritas apakah yang merupakan kepanjangan kita?
Kita hidup dalam masa Keluaran rohani. Kita memandang ke depan ke tanah perjanjian sorga. Dan sama seperti orang Israel, Allah rindu bersekutu dengan kita.
Persekutuan dengan Allah meletakan dasar kepatuhan dan membentuk sikap kita ke memberi.3 Tidak memberikannya setengah hati, tetapi (seperti persembahan yang disebutkan dalam Bilangan 15), memberikan hasil yang murni tanpa cacat, yang menunjuk kearah Yesus yang memberikan hidupNYA sendiri tanpa cacat kepada Allah (Ibr. 9:13,14)
Bila kita mengikuti hukum-hukum yang diinginkan Allah ditanampkan dalam pikiran kita dan menulisnya dihati kita, Dia memberikan hidup yang berkelimpahan. Dia memanggil kita untuk “dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Efe. 5:2).
REAKSI
1. Apa bentuk praktis dari “hidup dalam kasih”?
2. Kenapa penting untuk memelihara hukum-hukum Tuhan? Khususnya Sabat hari ketujuh? Bagaimana memelihara Sabat mempengaruhi hubungan kita dengan Allah?
____________
1. M. L. Andreasen, The Sanctuary Service (Hagerstown, Maryland: Review and Herald Pub. Assoc., 2006), p. 272.
2. Iain M. Duguid, Numbers: God’s Presence in the Wilderness (Wheaton, Ill.: Crossway Books, 2006), p. 195.
3. Ibid., p. 185.
Suzanne McDonald, Perth, Australia
Senin 2 Nopember
Mengangkat Interjeksi Legal
LOGOS
Bilangan 15; 2 Kor. 2:15, 16; Gal. 3:26−29; Efe. 5:2; Kol. 3:1−11
Memecah Kesunyian (Bilangan 15:1, 2, 17, 18, 37, 38)
Merupakan suatu kejadian terbesar bagi orang Israel selama ini dnegan Allah Bapa dan Pemimpin Rohani mereka. Setelah pemberontakan kolektif dan kemudian kegilaan untuk mengklaim kembali hadiah mereka, orang Israel mengacaukan segalanya. Sementara mereka setengah hati mengumpulkan barang-barangnya, kesunyian rohani pastilah telah memekakan. Siapa yang akan memecahnya?
Kejutan bagi mereka, Allah yang memulainya. Walaupun, faktanya Allah yang memecah kesunyian bukanlah satu-satunya kejutan, sebagai ganti kata-kata teguaran ataupun kata-kata hiburan, Allah memberikan rencana rinci tentang korban dan rumbai-rumbai!.
Sementara orang Israel mendengar kepada Allah, semestinya telah tertanam ke dalam hati mereka bahwa Dia mempertegas janjiNYA yang mula-mula untuk memberikan kepada mereka tanah tersebut. Dengan risiko yang pasti akan masyarakat mereka jatuh kembali ke depresi rohani akan tujuan mereka, Allah memecah kesunyian untuk memastikan kembali kepada mereka janji-janjiNYA, dan realitas bahwa tanah tersebut adalah sesuatu yang diberikanNYA, bukan sesuatu yang hilang dari mereka. Kedua, pengulangan akan hukum-hukum Allah mengingatkan orang Israel bahwa Dia masih aktif mengarahkan mereka kepada hidup yang lebih baik.
Persembahan Pengharapan Wangi-wangian (Imamat. 7:28−36; Bilangan. 15:1−13; 2 Kor. 2:15, 16; Efe. 5:2)
Tampaknya seperti resep yang rinci, hukum-hukum ini tentang persembahan bakaran dan sukarela. Dicampur bersama dengan seperpuluh epod tepung dengan seperempat bumbung anggur, and sepotong daging domba yang dibumbui untuk menghasilkan suatu persembahan yang harum daripada rasa yang enak.
Pengarahan tentang korban-korban mengagumkan dan, mengejutkan , memberi dorongan. Baik tepung dan anggur menyiratkan bahwa orang yang ikut serta dalam upacara merupakan suatu masyarakat yang sudah menetap, masyarakat pertanian, memanen gandum dan memeras anggur. Jadi, hukum-hukum ini secara tidak langsung mempertegas janji bahwa orang Israel akan berdiam di tanah subur Tanah Perjanjian. Bukan hanya itu, korban ini menggambarkan bahwa Allah mengundang umatNYA untuk berbagi makanan yang lezat denganNYA dan para imam.1 Korban-korban ini mewakili pengampunan dan restorasi akan hubungan mereka.
Mungkin ini mengidentifikasi alasan sebenarnya mengapa korban-korban mestilah suatu keharuman kepada Allah. Daripada Allah secara khusus menikmati harumnya daging bumbu, Dia lebih gembira dengan prospek perbaikan hubungan dengan kita. Inilah alasan kenapa kehidupan Yesus merupakan suatu wangi-wangian kepada Allah; dan itulah kenapa kita juga dipanggung untuk menyebarkan wangi-wangian Kristus yang sama kemanapun kita pergi.
Status Sebenarnya Orang Asing (Bilangan 15:14−16; Gal. 3:26−29; Kol. 3:1−11)
Menyegarkan untuk mencatat bagaiman inklusifnya Allah dalam hukum-hukum yang dibagikanNYA kepada orang Israel. Pada banyak tempat di pasal 15, Dia mengatakan kepada orang Israel bahwa hukum-hukum yang sama tentang korban pendamaian dan bebas berlaku kepada orang asing dalam kelompok itu, sama seperti itu juga berlaku bagi mereka. Damai di perpanjangkan kepada mereka, oleh Allah, sama seperti kepada orang Israel.
Bagaimanapun, adalah mungkin untuk melihat ke inklusifan ini melalui kaca mata yang lebih optimistik lebih daripada kasus yang sebenarnya. Faktanya, orang asing sebenarnya tidak benar-benar memegang status yang sama seperti orang Israel. Sementara mereka dapat menikmati status sipil yang sama dengan orang Yahudi asli (Imamat 24:22; Bilangan 35:15), orang asing tidak mempunyai hak yang sama benar dalam status keagamaan.2
Hanya dalam Yesus Kristus status rasial, kelamin, dan ketidak samaan ekonomi dibuang. Sementara hukum-hukum manusia dapat menunjukan ketidak seimbangan sosial dapat diperbaiki, ketidak seimbangan seperti itu hanya dalam dieliminasi secara penuh melalui jembatan yang dibangun Kristus.
Peringatan Kecil akan Identitas (Bilangan 15:37−40; 1 Pet. 2:1−9; Wahyu 1:4−6)
Akhirnya kita sampai pada akhir dari hukum-hukum ini dan apa yang tertinggal? Hukum tentang rumbai-rumbai! Ini pastilah merupakan suatu teladan sempurna dari hukum-hukum yang tidak signifikan tentang hal-hal pinggiran. Tetapi berhentilah untuk mempertimbangkan apa yang diwakili rumbai-rumbai. Allah menyadari bagaimana mudahnya orang Israel melupakanNYA dan jalan-jalanNYA, jadi Dia memberikan kepada mereka cara yang mengikta untuk mengingatkan. Tujuan rumbai-rumbai ini mirip dengan slogan AYYAL (Apa Yang Yesus Akan Lakukan) saat ini.
Allah juga memberi spesifikasi bahwa rumbai-rumbai mesti mempuyi garis biru melintasinya. Pada zaman Perjanjian Lama, warna biru dan ungu dihasilkan dari keong Murex trunculus yang hidup dilaut Lebanon. Orang perlu mengumpulan 12000 keong untuk membuat 1,4 gram pewarna biru-ungu, jadi pastilah pewarna yang amat mahal!3 Anda mesti kaya dan terkenal untuk bisa memakai baju biru keunguan.4 Menariknya, kita menemukan Allah meminta umatNYA untuk imam dan mendekorasi kaabah dengan bahan berwarna biru keunguan (Keluaran 26:1; 28:5-8; 39:1). Jadi, pada waktu Allah memerintahkan umatNYA untuk memaki rumbai biru, Dia mengatakan, “Anda berharga dan spesial!. Kamulah Imamat yang Rajani!” Ditengah pemberontakan dan potensi depresi rohani, Allah mengangkat umatNYA dengan warna kesejahteraan.
REAKSI
1. Siapa yang memecahkan kesunyian rohani dalam hubunganmu dengan Allah-anda atau DIA?
2. Bagaimana pendapat anda masyarakat disekitarmu menguraikan “wangi rohani” umat Advent yang mereka kenal?
3. Apakah pemberontakan rohani merupakan masalah di gereja Advent saat ini? Jika ya, dalam area apa?
4. Seberapa sadar anda akan pelayanan kerajaan yang telah diurapi Allah bagimu? Apa yang mengingatkanmu fakta penting ini tentang hidupmu?
____________
1. The New American Commentary, vol. 3-B: Numbers (Nashville, Tenn.: Broadman & Holman Publishers, 2000), p. 245.
2. Jacob Milgrom, The JPS Torah Commentary: Numbers (Philadelphia: Jewish Publication Society, 1990), Excursus 34, p. 399.
3. Ibid., p. 127.
4. Remember that Lydia was a seller of blue-purple clothes in Acts 16:14.
Sven Ă–string, Perth, Australia
Selasa 3 November
Sifat Manusia—Tidak Berubah!
KESAKSIAN
Bilangan 15; Efesus 6:11-18
Temanya berulang, memantul seperti lagu yang mengganggu sepanjang masa, apakah di Kejadian, Keluaran, atau saat ini—“Dengan caraku.” Awalnya hanya pemanis mulut cara Allah, tetapi caraku akan menguasai. Pertimbangkan, kemudian, hasilnya:
“Campuran orang ramai yang keluar dari Mesir bersama-sama orang Israel merupakan sumber masalah dan pencobaan terus menerus. Mereka telah mengaku mencampakan berhala dan berbakti kepada Allah yang benar, tetapi pendidikan awal dan pelatihan awal mereka telah membentuk sifat dan karakter mereka, dan mereka telah menjadi terbiasa dengan berhala dan ketidak hormatan kepada Allah. Merekalah yang sering membangkitkan keributan, dan yang pertama mengomel, dan mereka menginfeksi kemah dengan praktek berhala mereka dan persungutan mereka kepada Allah.
“Tak lama setelah kembali ke padang belantara, segera terjadi pelanggaran Sabat, dalam lingkungan yang dinyatakan kasus pelanggaran yang aneh. Pengumuman Tuhan bahwa Dia akan membangkitkan semangat pemberontakan. Salah satu dari mereka, marah dikeluar dari Kanaan, dan memutuskan untuk menunjukan akan ketidak sukaannya terhadap hukum Allah, menunjukannya dengan melanggar hukum ke empat dengan mengumpulkan kayu bakar pada hari Sabat . . . Tindakan orang ini adalah pelanggaran Sabat yang direncanakan dan merupakan pelanggaran langsung akan hukum ke empat—suatu dosa, buka karena kealpaan atau kelalaian, tetapi direncanakan . . . . Dosa penghujatan dan pelanggaran Sabat yang disengaja menerima hukuman yang sama, menjadi sama dengan ungkapan penghinaan akan otoritas Allah.”1
Berkali-kali terjadi—pertama benci, kemudian kasihan, kemudian merangkul. Penggodaan mungkin menarik, tetapi hal ini membuat kita menjauh dari Alla. Memilih untuk berjalan sendiri dapat mengakibatkan pemberontakan terbuka kepada Allah dan jalan-jalanNYA. Tidak aneh kita dinasehati untuk “untuk menjadi dengan baik perjalanan rohani kita.”2 Kita mesti secara terus menerus menyadari bahwa musuh Allah akan menyerang dalam cara yang diam-diam dan licik. Kita perlu memakaikan seluruh perlengkapan senjata Allah, setiap waktu setiap hari.
REAKSI
1. Seberapa sulit merobah cara berpikir kita? Jika kita dibesarkan dengan satu cara, bagaimana kita berobah?
2. Pernahkah anda berada dalam posisi melakukan sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan akan anda lakukan? Bagaimana anda melindungi dirimu untuk tidak mengulanginya?
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 408.
2. The Adventist Home, p. 404.
Yvonne L. Johnson, Perth, Australia
Rabu, 4 Nopember
Bagaimana Mengingat Untuk Tidak Lupa
BAGAIMANA
Bilangan. 15:37−41; Ulangan. 4:9; 11:16−21; Yer. 2:32
Selilit benang di jari, beker di jam. Ini adalah alat yang membantu kita untuk ingat; tetapi semua kita berkali-kali lupa. Kadangkala kita lupa tidak menentu, kadang kita melupakan hal yang penting seperti ulang tahu yang kita cintai, batas akhir kerja, atau janji ke dokter. Kita perlu diingatkan untuk membantu kita melalui hidup setiap harinya.
Orang Israel lupa mengingat hal yang paling penting, seperti Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir, perintah-perintah yang diberikanNYA, tanah yang dijanjikanNYA kepada mereka. Allah tahu mereka akan lupa, jadi seperti seikat benang di jari, Dia memberikan suatu alat peringatan—sesuatu untuk mengingatkan mereka untuk tidak lupa.
Simpul serangkai benang, diikat bersama dengan suatu simpul benang beru dicantolkan diujung setiap pakaian sehingga kemanapun orang Israel pergi mereka diingatkan. Jangan lupa Allah yang mengasihimu. Suatu lautan biru diatas kuning padang pasir. Jangan lupa rencana yang diberikanNya kepadamu. Suatu rumbai berayun dari suatu sudut. Jangan lupa apa yang telah AKU janjikan.
Empat hal yang dapat kita lakukan untuk ingat supaya tidak lupa akan hal penting:
Ikatkan firman Tuhan ke tanganmu (Ulangan 11:18). Kebanyakan kita menggunakan tangan untuk mencari nafkah. Apakah mengetik pakai komputer atau membalik lembaran kayu, tangan merupakan yang hal penting untuk mencari nafkah. Bagaimana jika setiap tindakan, setiap yang dilakukan oleh tanganmu, merupakan milik Allah?
Tempelkan firman Allah di keningmu (Ulangan 11:18). Berikan Allah pikiranmu. Apa yang masuk kedalam kepalamu akan menentukan fokusmu dan kemana tenaga akan anda letakan. Bayangkan bagaimana masa depanmu akan dibentuk jika anda mendisiplin dirimu sendiri untuk selalu memeriksakannya kepada DIA sepanjang hari, jika, seperti Paulus, “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2 Kor. 10:5).
Buar Prioritas dalam hidupmu (Yer. 2:32). Apakah anda lebih menghargai hal-hal duniawi diatas hal-hal sorgawi? Maka anda akan terperangkap melupakan Allah. Pilihlah hari ini untuk membuat Allah jadi prioritas paling atas dalam daftarmu.
Ceritakan kepada generasi berikut (Mazmur 78:4). Sama seperti guru yang baik akan mengatakan kepadamu, jika anda ingin tahu bahwa anda telah belajar sesuatu, cobalah mengajarkannya kepada orang lain. Dengan menurunkan pengetahuanmu, iman, dan pengertian, anda secara tidak sadar akan memperkuat pengalaman keKristenanmu.
REAKSI
1. Pengacau apa yang mencegah anda untuk mengingat rencana yang diberikan Allah kepadamu?
2. Rumbai-rumbai apa yang anda miliki dalam hidupmu yang mengingatkanmu akan Allah yang ajaib yang anda sembah?
Karen Collum, Brisbane, Australia
Kamis 5 Nopember
Keluar Dari Lobang Jebakan
PENDAPAT
Bilangan. 15:37−41
Orang Israel telah jatuh ke lobang. Mereka telah mengembara sedemikian lamanya di padang gurun, sehingga orang dapat bertanya-tanya apakah mereka dapat melakukan sesuatu yang lain. Tetapi Allah mendorong mereka untuk memandang ke rencana yang dijanjikanNya bagi mereka. Sebagai ganti merasa kasihan dan melihat penderitaan mereka, mereka mesti memandang ke depan ke masa depan yang gemilang dan merasa teransang untuk hal itu!
Orang Israel melambangkan bagaimana tindakan umat Tuhan di gereja saat ini. Allah mendorong orang Israel untuk melihat kedepan dan bersiap untuk masa depan yang gemilang. DIA menginginkan kita untuk melakukan hal yang sama. Tetapi lebih mudah melihat sekeliling dan menjadi depresi dengan semua hal-hal buruk yang kita lihat di gereja. Kali berikut anda dicobai untuk melakukan hal yang sama, pikirkan tentang apa yang Allah sediakan bagimu. Anda mungkin akan mendapatkan bahwa Allah akan menjadikannya apabila anda siap untuk itu.
Bila kita memilih jalan kita sendiri, lihat catatan pelanggar Sabat yang dilempari batu sampai mati (Bilangan 15:32-36). Allah hanya menginginkan yang terbaik bagi kita, dan Sepuluh Hukum adalah aturan hidup yang akan menuntun kita ke kebahagiaan dan umur panjang yang sejahtera. Tetapi pentingnya Allah menempatkan hukum-hukum ini ditekankan disini dengan hukuman mati. Bukan saja pelanggaran orang ini berbahaya bagi dirinya sendiri, bisa saja hal ini akan membuat orang lain juga binasa. Pelanggaran seperti ini dengan mudah akan menyebar ke seluruh kemah, menuntun umta Tuhan turun ke jalan pemberontakan dan tidak percaya. Beberapa mungkin berpikir Allah kejam membunuh seseorang untuk melanggar hukum Sabat, tetapi pada saat itu dalam perjalanan mereka adalah penting bagi setiap orang mengerti pentingnya memelihara perintah-perintah Tuhan.
Allah tahu bagaimana mudahnya kita lupa, jadi Dia menciptakan banyak peringatan visual akan diriNYa dan jalan-jalanNYA. Dia mengatakan kepada orang Israel untuk melakukan hal yang sama agar mereka tidak lupa bagaimana Dia telah menuntun mereka pada masa lalu. Dalam Bilangan 15:37—41 Dia memerintahkan mereka untuk memasang rumbai-rumbai diujung baju mereka agar mereka ingat akan perintah-perintahNYA dan penghormatan mereka kepadaNYA.
Mungkin akan membantu jika kita memasangkan peringatan seperti itu dalam setiap langkah kita? Apakah hukum-hukum Tuhan penting bagimu?
REAKSI
1. Apa yang akan anda lakukan bila anda masuk lobang jebakan rohani?
2. Bagaimana agar kita tetap segar dan fokus dengan hubungan kita dengan Allah?
Joy Thomson, Perth, Australia
Jum’at 6 Nopember
Suatu Peringatan yang Perlu Diingat
Eksplorasi
Bilangan 15:37-41
SIMPULAN
Pernahkan anda mengenal orang yang selalu tampaknya mempunyai ide atau cara yang lebih baik dalam melakukan sesuatu? Secar tak sadar akan apa yang masa lalumu ajarkan atau apapun saran atau instruksi yang anda berikan kepada mereka, mereka memaksa melakukanya dengan cara mereka. Semua kita kadang-kadang seperti itu dalam hal-hal rohani. Allah mengatakan lakukan dengan cara INI, tetapi kita ingin melakukannya dengan cara yang ITU. Sayangnya, sebanyak yang telah diketahui orang sepanjang sejarah, melakukannya dengan cara kita sebagai gantinya cara Allah akan berakhir dengan kehancuran. Dengan mengetahui ini, dan dimotivasi oleh kasih dan perhatian akan anak-anakNYA, Allah memberikan kepada orang Israel peringatan visual untuk mengingatkan agar mereka (dan juga kita) akan selalu ingat caraNYA selalu yang terbaik.
PERTIMBANGKAN
● Dengan menggunakan mediamu yang artistik, ciptakan suatu pengingat bagi rumahmu untuk mengingatkanmu memelihar hukum Tuhan. Misalnya, jika anda menikmati kaligrafi, anda dapat menuliskan sepuluh hukum dan selembar kertas, bingkai, dan gantungkan didinding.
● Berkumpul dengan kelompok dari gerejamu dan bagikan kopi buku berjudul sepuluh hukum dua kali dihapuskan oleh Danny Shelton dan Shelley Quinn.
● Buatlah suatu tembang yang anda pilih dari ayat-ayat Mazmur 119 yang ada hubungannya dengan menjaga hukum, peraturan, dan perintah Allah. Bila telah selesai, jumlahkan semua reference yang anda temukan.
● Hapalkan Keluaran 20:1—17, dan kemudian ucapkan itu kepada teman atau ulangi sekeras anda bekerja di sekeliling rumah
● Undanglah beberapa teman pada malam Minggu untuk menonton film klasik The Ten Commandments. Lakukan diskusi kelompok setelah itu.
Hubungkan
The Art of Making Sabbath Special (DVD) by Nancy Van Pelt.
The Seventh Day DVD set by LLT Productions.
What the Bible Says About the Sabbath (special Signs of the Times issue for sharing),
Pat Humphrey, Keen, Texas, U.S.A.
Saturday, 31 October 2009
Saturday, 24 October 2009
SSCQ Pelajaran 5 Kwartal IV tahun 2009
SSCQ Edisi bahasa Indonesia, Triwulan IV, Pelajaran 5, 24-31 Oktober 2009
DARI KELUHAN KE MURTAD
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,” (Fil. 2:14, 15, NKJV).
Sabbath 24 Oktober
Naik Bus 24 Jam
PENDAHULUAN
Fil. 2:12−18; 4:4−7
Bagi kebanyakan kita perjalanan missi kedengarannya amat menarik, advontorus, dan bahkan sedikit mewah—naik pesawat jet melintasi Eropa membantuk membangun rumah sakit dan menjalankan klinik di Afrika—mimpi jadi kenyataan bagi kelompok pahlawan Kristen yang berdedikasi.
Tetapi, tak ada yang mengatakan kepada kita tentang naik bus 24 jam? Mungkin tidak benar-benar 24 jam; tetapi rasanya seperti itu, duduk diatas barang-barang dan satu sama lain, berkeringat di panas yang tak tertahankan, rasanya seperti sarden dalam oven sementara berjalan mil demi mil. Kapan sampainya? Keluhan mengalir seperti sungai yang bergelora.
“Kapan kita sampai?” “Kenapa panas sekali?” Kenapa saya ikut trip ini ya? Itu adalah beberapa kata-kata yang terdengar dalam bus yang membawa kelompok pemuda Barat pada waktu kami melakukan perjalanan misionari dari Accra, ibukota Ghana, di selatan, ke kota utara, Tamale.
Walaupun akhirnya sampai juga. Ini berakhir sebagai pengalaman hidup berharga—yaitu kita belajar menghargai kesenangan hidup yang kita ambil secara otomati dan juga yang kita alami Roh Kudus bekerja melalui pelayanan kita. Yang terpenting, kita belajar ada orang, yang miskin sekali, tetapi mengucap syukur kepada Tuhan akan apa yang mereka punyai.
Banyak perjalanan yang akan kita alami dalam hidup in, dan tidak semuanya menyenangkan. Ada kalanya jauh lebih mudah bersungut-sungut dengan kasar daripada memuji Tuhan seperti yang diharapkan. Sebagai umatNYA, Dia ingin kita “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Fil. 4:4) tak peduli bagaimanapun situasinya.
Kita tidak pernah tahu arah perjalanan itu; tetapi jika kita percaya Allah yang mengendalikan, kita dapat mengizinkan DIA mengendalikan secara total. Hanya setelah itu kita bisa melalui kondisi buruk ke berkat yang menunggu kita.
Orang Israel yang keluar dari Mesir menghabiskan waktu alam perjalan ke Tanah Perjanjian bersungut-sungut tentang kondisi, dan karena itu, generasi tidak pernah melihat warisan mereka. Sementara kita belajar akan pengalaman mereka minggu ini, pertimbangkan kita mempunyai kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka, untuk berhenti mengeluh, dan menikmati perjalanan.
Angeline Shillingford, Grand Cayman, Cayman Islands
Minggu 25 Oktober
Umat PEmberontak
LOGOS
Bilangan 11–14
Orang Israel telah membongkar kemah mereka di Sinai dan telah memulai perjalanan 11 hari mereka ke Kadesh, tidak jauh dari perbatasan Kanaan. Di Sinai mereka telah melakukan suatu perjanjian dengan Allah yang berjanji akan mematuhi Sepuluh Hukum (Kel. 19:8). Tetapi Bilangan 11-14 menceritakan mereka melakukan kebalikannya. Pasal-pasal ini mencatat bangsa itu melakukan pemberontakan kepada Allah.
Ketidak Puasan di Kemah (Bilangan 11)
Mereka hanya tiga hari dalam perjalanan pada waktu mereka mulai bersungut-sungut. Mereka tidak senang dengan rute yang diambil dan ketidak nyamanan sepanjang perjalanan, walaupun mereka tahu bahwa mereka dituntun Allah, seperti yang diperlihatkan oleh tiang awan di depan mereka. Mereka dengan cepat melupakan bahwa mereka bisa sejauh ini hanya karena belas kasihan dan perlindunganNYA.
Mereka juga bersungut-sungut tentang manna, makanan yang diberikan Allah. “Tuhan Murka” (Bilangan 11:10) karena mereka menolak makana yang setiap hari disediakan Allah bagi mereka. “Jika saja mereka rela untuk menyangkal nafsu makannya dan patuh dengan kendaliNYa yang bijaksana, kelemahan dan penyakit mungkin tidak akan mereka kenal. Tetapi ketegaran tengku mereka untuk patuh pada larangan dan syarat Allah, mencegah mereka untuk mencapai standar yang lebih tinggi yang diinginkanNYA untuk mereka punyai, dan dari berkat yang dipersiapkanNYA bagi mereka.”1
Perseteruan Persaudaraan? (Bilangan 12)
Dalam Bilangan 11, Allah mengizinkan pengangkatan 70 tua-tua untuk berbagi beban tanggung jawab pada waktu Musa berseru dalam kesesakan. Saudara Musa yang lebih tua Mariam dan Harun, tidak menjadi bagian dari kelompok ini. Mereka telah memainkan peran penting dalam pembentukan bangsa ini dan selama Keluar dari Mesir; dan Harun dalam kasus ini, tetap melakukannya dalam pelayanan keimamatan. Tetapi, Tuhan telah meletakan Musa dalam posisi otoritas pada mereka, dan dia mempunyai hubungan khusus dengan Allah. Musa, berbeda dari yang lain di kemah, mempunyai keistimewaan untuk berbicara dengan Allah muka dengan muka dan melihat bentukNYA (Bilangan 12:8)
Mariam dan Harun dengki dengan Musa dan merasa punya cukup alasan untuk membanding mereka dengan dia. Kedengkian mereka dilampiaskan kepada istri Musa orang Kush. Mariam dan Harun memberontak terhadap Allah dengan berbicara melawan Pemimpin Pilihan Allah. Mereka menyerah kepada roh pemuasan diri dan menganggap mereka lebih baik daripada yang dipilih Allah.
Kekuatan Kita, Kuasa Kita (Bilangan 13)
Orang Israel akhirnya sampai di perbatasan Kanaan. Apa yang dijanjikan Allah sudah dalam pemandangan. Sekali lagi, walaupun begitu, mereka menderita apa yang sebelumnya telah menjadi kebobrokan mereka—amnesia kolektif. Mereka lupa akan mujizat luarbiasa yang disediakan Allah untuk membebaskan mereka dari kuk Mesir. Mereka lupa akan pengalaman Laut Merah. Mereka lupa bahwa Allah telah menyediakan dan memelihara mereka di padang gurun; dan mereka lupa bahwa Allah lah yang telah membuat mereka mendapatkan apa yang dijanjikan Allah.
Adalah ide umat untuk mengirimkan pengintai untuk mensurvei tanah itu, bukanlah ide Allah.2 Ini merupakan indikasi jelas bahwa mereka meragukan janji-janjiNYA. Allah telah secara khusus bertemu dan membuat perjanjian dengan mereka yang dimengerti oleh Balaam, apa yang dinubuatkan seorang nabi kafir; “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19)
Bagian pertama dari laporan pengintai itu adalah bahwa kelimpahan tanah itu benar adanya; tetapi dibayang-bayangi oleh ketakutan mereka akan kekuatan orang yang mereka temui di sana. Mereka memilih untuk memandang melalui ketakutan, mata tak beriman daripada mata yang diisi dengan pengharapan dan iman yang dikuatkan oleh bagaimana Allah telah menuntun mereka selama ini. Hanya Yoshua da Kaleb yang memberikan laporan yang diisi dengan iman kepada Allah. Kanaan adalah hadiah dari Allah, dan dengan menjelek-jelekannya, orang-orang itu berbicara melawan Allah dan menolak apa yang dengan penuh kasih karunia ditawarkan Allah kepada mereka. Jika saja mereka ingat akan tangan Tuhan yang tidap pernah terlampau pendek (Bilangan 11:23). Apabila kekuatan dan kuasa manusia gagal itu adalah hal yang sempurna bagi Allah yang penuh kasih mendemonstrasikan kemahakuasaanNYA yang tak terbandingkan.
Kekuatan Kita, Kekuasaan Kita (Bilangan 14)
Kaleb dan Yoshua memohon kepada mereka untuk tidak memberontak kepada Allah (Bilangan 14:9); tetapi permohonan mereka menabrak telinga yang tuli. Orang-orang itu bersiap untuk melempari mereka dengan batu. Sikap mereka merupakan salah satu penghinaan kepada Allah. Mereka terus menerus meragukanNYA dan kuasaNYA (Bilangan 14:11).
Pemberontakan mereka yang terus menerus terhadap Allah berakibat hukuman pengembaraan 40 tahun lagi di padang gurun, satu tahun untuk setiap hari yang digunakan pengintai itu menjelajahi tanah itu. Mereka berduka akan dekrit itu. EG White menyatakan bahwa mereka berduka karena hukuman itu lebih daripada dosa mereka. Perintah Allah untuk kembali (retreat) merupakan ujian akan penyerahan mereka kepada kehendakNYA.3 Walaupun begitu, orang Israel tetap membandel dalam pemberontakan mereka. Pada waktu Allah memerintahkan mereka untuk mengambil tanah itu, mereka menolak dan bila diperitahkan untuk mundur mereka melakukan kebalikannya. Tentara Israel kalah karena mereka gagal untuk menyadari bahwa Allah akan memenuhi apa yang dijanjikanNYA, bukan dengan kuat dan kuasa mereka; tetapi dengan patuh dan taat kepada perintahNYA.
REAKSI
1. Mungkinkah saat ini kita memberontak terhapa Allah melalui tindakan atau kediaman kita?
2. Perubahan apa yang anda perlukan dalam perjalananmu ke Tanah Perjanjian?
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 378.
2. Ibid., p. 387.
3. Ibid., p. 391.
Rockella Smith, Savannah, Grand Cayman, Cayman Islands
Senin 26 Oktober
“Taat Kepada Kehendak Allah”
KESAKSIAN
Bilangan 11:4—6
“Allah membawa orang Israel keluar dari Mesir, agar Dia dapat menempatkan mereka di tanah Kanaan, suatu bangsa yang murni, suci, dan bahagia. Untuk mencapai hal ini Dia memberikan kepada mereka suatu perjalanan disiplin, baik bagi mereka dan untuk kesejahteraan mereka. Kalau saja mereka mau menyangkal nafsu makan, patuh kepada laranganNYA yang bijaksana, kelemahan, dan penyakit tidak akan dikenal diantara mereka.”1
“Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israel pun menangislah pula serta berkata: "Siapakah yang akan memberi kita makan daging?” (Bilangan 11:4).
“Allah bisa saja dengan mudahnya memberikan mereka daging sama seperti manna, tetapi larangan diberikan kepada mereka untuk kebaikan mereka. Adalah tujuanNYA untuk memberikan kepada mereka makanan yang lebih baik kepada keinginan mereka daripada diet yang tidak baik yang telah biasa mereka makan di Mesir. Nafsu makan mereka yang salah dibawa kembali ke keadaan yang lebih sehat, agar mereka dapat menikmati makanan yang pada awalnya disediakan bagi manusia—buah-buahan, yang telah disediakan Allah bagi Adam dan Hawa di Eden.”2
“Dengan menyimpang dari rencana yang telah disediakan Allah untuk makanan mereka, Orang Israel menderita kerugian besar. Mereka mengingingkan daging, dan mereka menuai hasilnya. Mereka tidak mencapai ideal Allah dalam karakter atau memenuhi kehendakNYA. “Diberikan-Nya kepada mereka apa yang mereka minta, dan didatangkan-Nya penyakit paru-paru di antara mereka.” (Maz. 106:15). Mereka lebih menghargai hal-hal duniawi diatas hal-hal sorgawi dan supremasi suci yang Allah kehendaki supaya mereka punyai, yang tidak mereka ingin capai.”3
Jika saja kita rela mengizinkan Tuhan bekerja dalam hidup kita dan melakukan kehendakNya, banyak kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam hidup dapat dicegah. Kadangkala Dia mengizinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita agar kita memandang kepadaNYA dan menyadari bahwa jalan-jalanNYA adalah yang terbaik.
REAKSI
1. Bagaimana cerita Daniel dalam Daniel 1:8—20 berhubungan dengan pelajaran yang didiskusikan pada hari ini?
2. Pernahkah anda mengikuti rencana diet Allah untuk hidupmu? Jika tidak, pintalah Dia membantumu untuk membuat perubahan itu.
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 378.
2. Ibid.
3. The Ministry of Healing, p. 312.
Alecia Kidd-Francis, Grand Cayman, Cayman Islands
Selasa 27 Oktober
Umat Kuno, Pelajaran Moderen
BUKTI
Bilangan 11; Efe. 6:11; Ibrani. 11:1
Apakah ada bukti arkeologi untuk perjalanan orang Israel di padang belantara selama 40 tahun? Hanya ada sedikit bukti penemuan di Semenanjung Sinai untuk mendukung cerita alkitab tentang 600.000 laki-laki dan keluarganya menghabiskan tahun-tahun disana. Tetapi beberapa ahli justru menunjukan bahwa kekurangan bukti arkelolgi ini merupakan bukti tersendiri akan keakuratan sejarah dan cerita itu. Bahkan pada zaman moderen ini, orang nomaden Bedouin meninggalkan sedikit jejak akan keberadaan mereka pada waktu mereka pindah ke tempat lain. Jadi kenapa kita mengharapakn untuk menemukan “sisa-sisa dari perkemahan besar setelah 3000 tahun?”* Ini adalah salah satu cerita Alkitab yang mesti kita terima dengan iman (Ibrani 11:1).
Walaupun kita mungkin tidak mempunyai bukti jelas akan apa yang kita harapkan, ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari uraian alkitab. Bacaan Bilangan 11-14 mengingatkan kita akan orang tua yang menghadapi anaknya yang nakal. Orang Israel telah berulang-ulang menyatakan bahwa mereka akan patuh 9Kel. 19:7, 8; 24:3, 7). Bila kita balik beberapa halaman kedepan, maka kita lihat mereka bersungut-sungut pada waktu mereka tidak mendapatkan daging untuk dimakan (Bil. 11:4). Dan ini setelah pemberian mujizat manna yang diberikan setiap hari. Saya jadi tersenyum melihat respon Allah. “Kau mau daging? Aku berikan kau daging sampai ia keluar dari hidungmu!” (Bil. 11:18-20, diparafrase ulang).
Kembali lagi, Allah mesti mendisiplin umatNYA. Hukuman utama adalah yang bersungut-sungut dilarang masuk Tanah Perjanjian, dan perjalanan 11 hari dibalikan menjadi 40 tahun. Pada akhir pengembaraan mereka, tak ada yang berumur 60 keatas diizinkan masuk ke Kanaan. Pengecualiaan hanya untuk Kaleb dan Joshua, yang menunjukan iman luarbiasa kepada Tuhan pada saat yang lain tidak menunjukan imannya. Suatu komentar yang menyedihkan bagi umat yang telah sering melihat kuasa Allah yang luarbiasa.
Adalah mudah untuk memandang kembali akan pengalaman mereka dan mengkritik pilihan yang dibuat orang Israel. Tetapi pengalaman mereka mesti menjadi peringatan bahwa kita tidak kebal kepada kuasa setan yang mencobai kita untuk berkeluh kesah dan mengomel—bahkan diantara bukti-bukti besar akan tuntunan dan perlindungan Allah . Satu-satunya obat untuk hal ini adalah berpegang teguh kepada Allah dan memperlengkapi diri kita dengan perlengkapan senjataNYA (Efesus 6:11)
REAKSI
1. Apakah penting untuk mempunyai bukti arkeologi untuk semua cerita Alkitab? Bagaimana ketidak adaan bukti yang jelas meningkatkan iman kita?
2. Memikirkan kembali akan keliaran yang telah engkau alami, bagaimana Allah telah membantumu selama ini?
___________
*Rabbi Dovid Lichtman. Archaeology and the Bible, Part 2. http://www.aish.com/societyWork/
sciencenature/Archaeology_and_the_Bible_-_Part_2.asp. Retrieved October 13, 2008.
Abigail Blake Parchment, Savannah, Grand Cayman, Cayman Islands
Rabu 28 Oktober
Menjadi Bahagia
BAGAIMANA
Bilangan 11−14; Fil. 4:10−12
Minggu ini, kita telah melihat persungutan yang terus menerus telah mengakibatkan satu generasi bangsa Israel kehinglan hidupnya di padang belantara, jadi tidak masu ke Tanah Perjanjian (Bilangan 11—14).
Persungutan muncul akibat ketidak puasan dengan lingkungan yang biasanya diluar kendali kita. Selalu tampak susah untuk menghindari membuat suatu komentar mengecewakan, karena melakukan hal itu sudah merupakan sifat alami manusia berdosa Sedihnya dari persungutan adalah hal itu amat jarang sekali memperbaiki kondisi, bahkan sering memperburuknya.
Sama seperti anak-anak Israel, orang-orang saat ini mempunyai kecendrungan besar untuk mengomel tentang banyak hal. Sebagai manusia kadang kita mengomel bila kita tidak bisa lewat, bila orang-orang sekeliling kita tampaknya lebih baik dari kita, dan banyak hal lainnya. Dibawah ini ada beberapa langkah yang dapat membantu kita untuk membalikan gelombang sifat persungutan.
Belajar untuk puas dengan kemampuan dan apa yang anda miliki (Fil. 4:10-12). Paulus mengingatkan kita bahwa kita mesti selalu gembira tidak peduli apapun situasinya; apakah kita sedang dalam kesesakan dan bahkan bila semuanya berjalan mulus.
Selalu pertahankan sikap bersyukur (Maz. 105:1). Memberikan ucapan syukur merupakan salah satu cara untuk melawan ketidak puasan. Hitung berkat-berkatmu dan sampaikan puji syukur kepada Allah untuk segala sesuatu yang diberkatinya, bahkan untuk hal yang tampaknya sepele. Dengan selalu bersyukur membuat anda sibuk dan tidak punya waktu untuk mengeluh.
Cegah untuk membanding-bandingkan situasimu dengan situasi orang lain. Mereka juga punya kelemahan. Sebagai gantinya, identifiksi kesalah-kesalahanmu dan bergantung pada Yesus untuk membantumu memindahkan hal itu dari hidupmu.
REAKSI
Pikirkan beberapa cara sifat persungutan dapat mencegah seseorang dari hubungan rohani.
Michael-Henry Parchment, Grand Cayman, Cayman Islands
Kamis 29 Oktober
Huruf “S” untuk Sindroma
PENDAPAT
Bilangan 11-14
Dalam penjajahan selama empat ratus tahun (Kej. 15:13), persungutan dan mengeluh sudah merupakan cara hidup orang Israel. Hilang sudah hari-hari pada saat kesukaan untuk mencerminkan sifat Allah kepada orang tak percaya di Mesir. Pengajaran tentang kedatangan Mesisa telah menjadi hal yang samar-samar dalam pikiran orang muda dan tua. Tetapi, adalah kerinduan Allah untuk membawa perhatian mereka kembali kepadaNYA. Melalui hambaNya Musa, suatu tipe Kristus, dan kaabah, yang merupakan pola kaabah sorgawi (Ibrani 8:16-19), Allah menginginkan umatNYA untuk mengetahui bahwa ada satu-satunya jalan, dan itu hanya melalui Mesias.
Huruf “S” pada kata Sindroma (mementingkan diri) telah mengakibatkan orang Israel menjadi ambisius dan berdikari secara berbahaya. Mereka telah menjadi merdeka dari Allah dengan memalingkan punggung mereka kepada hukum-hukumNYA. Ironisnya, mereka berpikir Allah lah yang telah meninggalkan mereka.
Sang penipu utama bersungut dan mengomel akan posisi Yesus di sorga; dan sebagai akibatnya, dia memulaikan pemberontakan dan kemurtadan diantara sepertiga malaikat.* Ngutluh (persilangan antara persungutan dan mengeluh) mengakibatkan lebih banyak usaha daripada hanya mendengar kepada Allah. Sama seperti cembetut pada saat kita semestinya bisa tersenyum. Allah kehilangan umatNYA sedemikian rupa sehingga hal yang ingin dilakukanNYA adalah memperdamaikan diriNYA sendiri dengan mereka melalui Yesus. Ngutluh mereka merupakan suatu indikasi mereka akan menolak Yesus pada kedatanganNYA yang pertama.
Siapa yang tidak pernah ngutluh boleh angkat tangan . . . . . saya rasa tidak. Kita merasa adalah tugas kita untuk “menggebuk” orang Israel, tetapi apakah kita berbeda? Pikirkan. Kita ngutluh jika seseorang fals waktu nyanyi atau jika pelajaran Sekolah Sabat tidak diterangkan sesuai dengan khayalan kita. Ngutluh mengakibatkan kita menjadi hamba kepada bos “S” si Setan.
Amsal 6:16 mengatakan, “Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya”. Lima dari hal itu adalah penyebab Ngutluh (Ayat 17-19). Musuh telah mencetuskan kepada orang Israel bahwa mereka mempunyai hak. Jadi mereka tumbuh untuk percaya bahwa mereka dapat hadir tanpa hukum-hukum Allah, melupakan bahwa Ngutluh kepadaNya akan mengakibatkan kekacauan dan anarki. Huruf “S” pada sindroma adalah hubungan satu arah. Setan mengatakan, “Saya akan,” Allah berkata, “Marilah kita . . . . .” Perlu berdua dalam jalan Tuhan—Yesus dan saya.
REAKSI
1. Kenapa Allah memilih orang Israel sebagai umatNYA padahal sudah tahu mereka akan murtad?
2. Apa yang dapat kita lakukan untuk jatuh dalam kemurtadan; dan jika kita melakukannya, bagaimana kita ditebus?
____________
*The Story of Redemption, pp. 13−17.
Donna Dennis, West Bay, Grand Cayman, Cayman Islands
Jum’at 30 Oktober
“Kamu Mau Kembali Ke Mesir”
EKSPLORASI
Keluaran 14, 15, 17, 31
SIMPULAN
Berkeluh kesah, mengomel, dan segala tindakan yang mengarah kepada cinta diri, bahkan ditengah intervensi langsung mujizat Allah yang langsung dalam hidup mereka, menghapus kemungkinan orang Israel yang langsung keluar dari Mesir untuk masuk Tahan Perjanjian. Kita tidak berbeda saat ini. Solusi kita terletak pada mempertahankan hubungan percaya dan bertumbuh kepada Allah setiap hari (bahkan bisa lebih sering).
PERTIMBANGKAN
■ Bacalah lirik lagu Keith Green di lagu “Jadi kamu mau kembali ke Mesir” di http://www.lyricsfreak.com/k/keith+green/so+you+wanna+go+back+to+egypt_20077386.html. Carilah hubungannya dengan bahan pada pelajaran minggu ini.
■ Posisikan dirimu sendiri di kemah Israel dengan Musa dan keluargamu. Buatlah catatan harian untuk perjalanan waktu berikut: Keluaran 14:5–31; 15:22–25; 17:1–7; 32:1–35 (asumsikan dirimu selamat).
■ Adopsi lagu Pembebasan dari Keluaran 15 kepada kerja Allah dalam hidupmu. Bagikan kepada teman terpercayamu pada suatu waktu engkau memberontak kepada Allah dan bagaimana Dia menunjukan kasihNYA kepadamu tak peduli apapun.
■ Siangi suatu taman yang bersemak, kemudian pelihara bunya lainnya. Pikirkan bagaimana tempat yang dulunya indah ini bisa jadi sedemikian tidak menariknya dan usaha untuk merestorasinya.
■ Facing a small source of heat (space heater, camp fire, etc.). Enjoy the warmth you feel. Describe it out loud. Turn your back and walk some distance away. Speak out loud what you feel now, and how it has changed. What part did your words play in the differences you noticed? What does this teach you about the relationship between complaining and your relationship with God? Arahkan wajahmu ke suatu sumber panas (pemanas ruangan, api unggun, dsb). Nikmati kehangatannya. Uraikan dengan suara keras. Berpaling dan menjauhlah. Ucapkan sekarang bagaimana rasanya, dan bagaimana itu telah berobah. Kata-kata apa yang engkau gunakan dalam perbedaannya? Apa pelajaran yang didapat dari berkeluh kesah dan hubunganmu dengan Allah?
HUBUNGKAN
Lihat Matius 23 di The Visual Bible: Matthew. Perhatikan dengan seksama nada suara yang memerankan Yesus.
Bacalah dalam hari-hari berikut di Oswald Chambers’ My Utmost for His Highest: June 26 and 27, November 1 and 11. Bacaan tersebut dapat diakses secara online di http://www.rbc.org/utmost/ index.php.
Gill Bahnsen, Auburn, Washington, U.S.A.
DARI KELUHAN KE MURTAD
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,” (Fil. 2:14, 15, NKJV).
Sabbath 24 Oktober
Naik Bus 24 Jam
PENDAHULUAN
Fil. 2:12−18; 4:4−7
Bagi kebanyakan kita perjalanan missi kedengarannya amat menarik, advontorus, dan bahkan sedikit mewah—naik pesawat jet melintasi Eropa membantuk membangun rumah sakit dan menjalankan klinik di Afrika—mimpi jadi kenyataan bagi kelompok pahlawan Kristen yang berdedikasi.
Tetapi, tak ada yang mengatakan kepada kita tentang naik bus 24 jam? Mungkin tidak benar-benar 24 jam; tetapi rasanya seperti itu, duduk diatas barang-barang dan satu sama lain, berkeringat di panas yang tak tertahankan, rasanya seperti sarden dalam oven sementara berjalan mil demi mil. Kapan sampainya? Keluhan mengalir seperti sungai yang bergelora.
“Kapan kita sampai?” “Kenapa panas sekali?” Kenapa saya ikut trip ini ya? Itu adalah beberapa kata-kata yang terdengar dalam bus yang membawa kelompok pemuda Barat pada waktu kami melakukan perjalanan misionari dari Accra, ibukota Ghana, di selatan, ke kota utara, Tamale.
Walaupun akhirnya sampai juga. Ini berakhir sebagai pengalaman hidup berharga—yaitu kita belajar menghargai kesenangan hidup yang kita ambil secara otomati dan juga yang kita alami Roh Kudus bekerja melalui pelayanan kita. Yang terpenting, kita belajar ada orang, yang miskin sekali, tetapi mengucap syukur kepada Tuhan akan apa yang mereka punyai.
Banyak perjalanan yang akan kita alami dalam hidup in, dan tidak semuanya menyenangkan. Ada kalanya jauh lebih mudah bersungut-sungut dengan kasar daripada memuji Tuhan seperti yang diharapkan. Sebagai umatNYA, Dia ingin kita “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Fil. 4:4) tak peduli bagaimanapun situasinya.
Kita tidak pernah tahu arah perjalanan itu; tetapi jika kita percaya Allah yang mengendalikan, kita dapat mengizinkan DIA mengendalikan secara total. Hanya setelah itu kita bisa melalui kondisi buruk ke berkat yang menunggu kita.
Orang Israel yang keluar dari Mesir menghabiskan waktu alam perjalan ke Tanah Perjanjian bersungut-sungut tentang kondisi, dan karena itu, generasi tidak pernah melihat warisan mereka. Sementara kita belajar akan pengalaman mereka minggu ini, pertimbangkan kita mempunyai kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka, untuk berhenti mengeluh, dan menikmati perjalanan.
Angeline Shillingford, Grand Cayman, Cayman Islands
Minggu 25 Oktober
Umat PEmberontak
LOGOS
Bilangan 11–14
Orang Israel telah membongkar kemah mereka di Sinai dan telah memulai perjalanan 11 hari mereka ke Kadesh, tidak jauh dari perbatasan Kanaan. Di Sinai mereka telah melakukan suatu perjanjian dengan Allah yang berjanji akan mematuhi Sepuluh Hukum (Kel. 19:8). Tetapi Bilangan 11-14 menceritakan mereka melakukan kebalikannya. Pasal-pasal ini mencatat bangsa itu melakukan pemberontakan kepada Allah.
Ketidak Puasan di Kemah (Bilangan 11)
Mereka hanya tiga hari dalam perjalanan pada waktu mereka mulai bersungut-sungut. Mereka tidak senang dengan rute yang diambil dan ketidak nyamanan sepanjang perjalanan, walaupun mereka tahu bahwa mereka dituntun Allah, seperti yang diperlihatkan oleh tiang awan di depan mereka. Mereka dengan cepat melupakan bahwa mereka bisa sejauh ini hanya karena belas kasihan dan perlindunganNYA.
Mereka juga bersungut-sungut tentang manna, makanan yang diberikan Allah. “Tuhan Murka” (Bilangan 11:10) karena mereka menolak makana yang setiap hari disediakan Allah bagi mereka. “Jika saja mereka rela untuk menyangkal nafsu makannya dan patuh dengan kendaliNYa yang bijaksana, kelemahan dan penyakit mungkin tidak akan mereka kenal. Tetapi ketegaran tengku mereka untuk patuh pada larangan dan syarat Allah, mencegah mereka untuk mencapai standar yang lebih tinggi yang diinginkanNYA untuk mereka punyai, dan dari berkat yang dipersiapkanNYA bagi mereka.”1
Perseteruan Persaudaraan? (Bilangan 12)
Dalam Bilangan 11, Allah mengizinkan pengangkatan 70 tua-tua untuk berbagi beban tanggung jawab pada waktu Musa berseru dalam kesesakan. Saudara Musa yang lebih tua Mariam dan Harun, tidak menjadi bagian dari kelompok ini. Mereka telah memainkan peran penting dalam pembentukan bangsa ini dan selama Keluar dari Mesir; dan Harun dalam kasus ini, tetap melakukannya dalam pelayanan keimamatan. Tetapi, Tuhan telah meletakan Musa dalam posisi otoritas pada mereka, dan dia mempunyai hubungan khusus dengan Allah. Musa, berbeda dari yang lain di kemah, mempunyai keistimewaan untuk berbicara dengan Allah muka dengan muka dan melihat bentukNYA (Bilangan 12:8)
Mariam dan Harun dengki dengan Musa dan merasa punya cukup alasan untuk membanding mereka dengan dia. Kedengkian mereka dilampiaskan kepada istri Musa orang Kush. Mariam dan Harun memberontak terhadap Allah dengan berbicara melawan Pemimpin Pilihan Allah. Mereka menyerah kepada roh pemuasan diri dan menganggap mereka lebih baik daripada yang dipilih Allah.
Kekuatan Kita, Kuasa Kita (Bilangan 13)
Orang Israel akhirnya sampai di perbatasan Kanaan. Apa yang dijanjikan Allah sudah dalam pemandangan. Sekali lagi, walaupun begitu, mereka menderita apa yang sebelumnya telah menjadi kebobrokan mereka—amnesia kolektif. Mereka lupa akan mujizat luarbiasa yang disediakan Allah untuk membebaskan mereka dari kuk Mesir. Mereka lupa akan pengalaman Laut Merah. Mereka lupa bahwa Allah telah menyediakan dan memelihara mereka di padang gurun; dan mereka lupa bahwa Allah lah yang telah membuat mereka mendapatkan apa yang dijanjikan Allah.
Adalah ide umat untuk mengirimkan pengintai untuk mensurvei tanah itu, bukanlah ide Allah.2 Ini merupakan indikasi jelas bahwa mereka meragukan janji-janjiNYA. Allah telah secara khusus bertemu dan membuat perjanjian dengan mereka yang dimengerti oleh Balaam, apa yang dinubuatkan seorang nabi kafir; “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19)
Bagian pertama dari laporan pengintai itu adalah bahwa kelimpahan tanah itu benar adanya; tetapi dibayang-bayangi oleh ketakutan mereka akan kekuatan orang yang mereka temui di sana. Mereka memilih untuk memandang melalui ketakutan, mata tak beriman daripada mata yang diisi dengan pengharapan dan iman yang dikuatkan oleh bagaimana Allah telah menuntun mereka selama ini. Hanya Yoshua da Kaleb yang memberikan laporan yang diisi dengan iman kepada Allah. Kanaan adalah hadiah dari Allah, dan dengan menjelek-jelekannya, orang-orang itu berbicara melawan Allah dan menolak apa yang dengan penuh kasih karunia ditawarkan Allah kepada mereka. Jika saja mereka ingat akan tangan Tuhan yang tidap pernah terlampau pendek (Bilangan 11:23). Apabila kekuatan dan kuasa manusia gagal itu adalah hal yang sempurna bagi Allah yang penuh kasih mendemonstrasikan kemahakuasaanNYA yang tak terbandingkan.
Kekuatan Kita, Kekuasaan Kita (Bilangan 14)
Kaleb dan Yoshua memohon kepada mereka untuk tidak memberontak kepada Allah (Bilangan 14:9); tetapi permohonan mereka menabrak telinga yang tuli. Orang-orang itu bersiap untuk melempari mereka dengan batu. Sikap mereka merupakan salah satu penghinaan kepada Allah. Mereka terus menerus meragukanNYA dan kuasaNYA (Bilangan 14:11).
Pemberontakan mereka yang terus menerus terhadap Allah berakibat hukuman pengembaraan 40 tahun lagi di padang gurun, satu tahun untuk setiap hari yang digunakan pengintai itu menjelajahi tanah itu. Mereka berduka akan dekrit itu. EG White menyatakan bahwa mereka berduka karena hukuman itu lebih daripada dosa mereka. Perintah Allah untuk kembali (retreat) merupakan ujian akan penyerahan mereka kepada kehendakNYA.3 Walaupun begitu, orang Israel tetap membandel dalam pemberontakan mereka. Pada waktu Allah memerintahkan mereka untuk mengambil tanah itu, mereka menolak dan bila diperitahkan untuk mundur mereka melakukan kebalikannya. Tentara Israel kalah karena mereka gagal untuk menyadari bahwa Allah akan memenuhi apa yang dijanjikanNYA, bukan dengan kuat dan kuasa mereka; tetapi dengan patuh dan taat kepada perintahNYA.
REAKSI
1. Mungkinkah saat ini kita memberontak terhapa Allah melalui tindakan atau kediaman kita?
2. Perubahan apa yang anda perlukan dalam perjalananmu ke Tanah Perjanjian?
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 378.
2. Ibid., p. 387.
3. Ibid., p. 391.
Rockella Smith, Savannah, Grand Cayman, Cayman Islands
Senin 26 Oktober
“Taat Kepada Kehendak Allah”
KESAKSIAN
Bilangan 11:4—6
“Allah membawa orang Israel keluar dari Mesir, agar Dia dapat menempatkan mereka di tanah Kanaan, suatu bangsa yang murni, suci, dan bahagia. Untuk mencapai hal ini Dia memberikan kepada mereka suatu perjalanan disiplin, baik bagi mereka dan untuk kesejahteraan mereka. Kalau saja mereka mau menyangkal nafsu makan, patuh kepada laranganNYA yang bijaksana, kelemahan, dan penyakit tidak akan dikenal diantara mereka.”1
“Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israel pun menangislah pula serta berkata: "Siapakah yang akan memberi kita makan daging?” (Bilangan 11:4).
“Allah bisa saja dengan mudahnya memberikan mereka daging sama seperti manna, tetapi larangan diberikan kepada mereka untuk kebaikan mereka. Adalah tujuanNYA untuk memberikan kepada mereka makanan yang lebih baik kepada keinginan mereka daripada diet yang tidak baik yang telah biasa mereka makan di Mesir. Nafsu makan mereka yang salah dibawa kembali ke keadaan yang lebih sehat, agar mereka dapat menikmati makanan yang pada awalnya disediakan bagi manusia—buah-buahan, yang telah disediakan Allah bagi Adam dan Hawa di Eden.”2
“Dengan menyimpang dari rencana yang telah disediakan Allah untuk makanan mereka, Orang Israel menderita kerugian besar. Mereka mengingingkan daging, dan mereka menuai hasilnya. Mereka tidak mencapai ideal Allah dalam karakter atau memenuhi kehendakNYA. “Diberikan-Nya kepada mereka apa yang mereka minta, dan didatangkan-Nya penyakit paru-paru di antara mereka.” (Maz. 106:15). Mereka lebih menghargai hal-hal duniawi diatas hal-hal sorgawi dan supremasi suci yang Allah kehendaki supaya mereka punyai, yang tidak mereka ingin capai.”3
Jika saja kita rela mengizinkan Tuhan bekerja dalam hidup kita dan melakukan kehendakNya, banyak kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam hidup dapat dicegah. Kadangkala Dia mengizinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita agar kita memandang kepadaNYA dan menyadari bahwa jalan-jalanNYA adalah yang terbaik.
REAKSI
1. Bagaimana cerita Daniel dalam Daniel 1:8—20 berhubungan dengan pelajaran yang didiskusikan pada hari ini?
2. Pernahkah anda mengikuti rencana diet Allah untuk hidupmu? Jika tidak, pintalah Dia membantumu untuk membuat perubahan itu.
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 378.
2. Ibid.
3. The Ministry of Healing, p. 312.
Alecia Kidd-Francis, Grand Cayman, Cayman Islands
Selasa 27 Oktober
Umat Kuno, Pelajaran Moderen
BUKTI
Bilangan 11; Efe. 6:11; Ibrani. 11:1
Apakah ada bukti arkeologi untuk perjalanan orang Israel di padang belantara selama 40 tahun? Hanya ada sedikit bukti penemuan di Semenanjung Sinai untuk mendukung cerita alkitab tentang 600.000 laki-laki dan keluarganya menghabiskan tahun-tahun disana. Tetapi beberapa ahli justru menunjukan bahwa kekurangan bukti arkelolgi ini merupakan bukti tersendiri akan keakuratan sejarah dan cerita itu. Bahkan pada zaman moderen ini, orang nomaden Bedouin meninggalkan sedikit jejak akan keberadaan mereka pada waktu mereka pindah ke tempat lain. Jadi kenapa kita mengharapakn untuk menemukan “sisa-sisa dari perkemahan besar setelah 3000 tahun?”* Ini adalah salah satu cerita Alkitab yang mesti kita terima dengan iman (Ibrani 11:1).
Walaupun kita mungkin tidak mempunyai bukti jelas akan apa yang kita harapkan, ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari uraian alkitab. Bacaan Bilangan 11-14 mengingatkan kita akan orang tua yang menghadapi anaknya yang nakal. Orang Israel telah berulang-ulang menyatakan bahwa mereka akan patuh 9Kel. 19:7, 8; 24:3, 7). Bila kita balik beberapa halaman kedepan, maka kita lihat mereka bersungut-sungut pada waktu mereka tidak mendapatkan daging untuk dimakan (Bil. 11:4). Dan ini setelah pemberian mujizat manna yang diberikan setiap hari. Saya jadi tersenyum melihat respon Allah. “Kau mau daging? Aku berikan kau daging sampai ia keluar dari hidungmu!” (Bil. 11:18-20, diparafrase ulang).
Kembali lagi, Allah mesti mendisiplin umatNYA. Hukuman utama adalah yang bersungut-sungut dilarang masuk Tanah Perjanjian, dan perjalanan 11 hari dibalikan menjadi 40 tahun. Pada akhir pengembaraan mereka, tak ada yang berumur 60 keatas diizinkan masuk ke Kanaan. Pengecualiaan hanya untuk Kaleb dan Joshua, yang menunjukan iman luarbiasa kepada Tuhan pada saat yang lain tidak menunjukan imannya. Suatu komentar yang menyedihkan bagi umat yang telah sering melihat kuasa Allah yang luarbiasa.
Adalah mudah untuk memandang kembali akan pengalaman mereka dan mengkritik pilihan yang dibuat orang Israel. Tetapi pengalaman mereka mesti menjadi peringatan bahwa kita tidak kebal kepada kuasa setan yang mencobai kita untuk berkeluh kesah dan mengomel—bahkan diantara bukti-bukti besar akan tuntunan dan perlindungan Allah . Satu-satunya obat untuk hal ini adalah berpegang teguh kepada Allah dan memperlengkapi diri kita dengan perlengkapan senjataNYA (Efesus 6:11)
REAKSI
1. Apakah penting untuk mempunyai bukti arkeologi untuk semua cerita Alkitab? Bagaimana ketidak adaan bukti yang jelas meningkatkan iman kita?
2. Memikirkan kembali akan keliaran yang telah engkau alami, bagaimana Allah telah membantumu selama ini?
___________
*Rabbi Dovid Lichtman. Archaeology and the Bible, Part 2. http://www.aish.com/societyWork/
sciencenature/Archaeology_and_the_Bible_-_Part_2.asp. Retrieved October 13, 2008.
Abigail Blake Parchment, Savannah, Grand Cayman, Cayman Islands
Rabu 28 Oktober
Menjadi Bahagia
BAGAIMANA
Bilangan 11−14; Fil. 4:10−12
Minggu ini, kita telah melihat persungutan yang terus menerus telah mengakibatkan satu generasi bangsa Israel kehinglan hidupnya di padang belantara, jadi tidak masu ke Tanah Perjanjian (Bilangan 11—14).
Persungutan muncul akibat ketidak puasan dengan lingkungan yang biasanya diluar kendali kita. Selalu tampak susah untuk menghindari membuat suatu komentar mengecewakan, karena melakukan hal itu sudah merupakan sifat alami manusia berdosa Sedihnya dari persungutan adalah hal itu amat jarang sekali memperbaiki kondisi, bahkan sering memperburuknya.
Sama seperti anak-anak Israel, orang-orang saat ini mempunyai kecendrungan besar untuk mengomel tentang banyak hal. Sebagai manusia kadang kita mengomel bila kita tidak bisa lewat, bila orang-orang sekeliling kita tampaknya lebih baik dari kita, dan banyak hal lainnya. Dibawah ini ada beberapa langkah yang dapat membantu kita untuk membalikan gelombang sifat persungutan.
Belajar untuk puas dengan kemampuan dan apa yang anda miliki (Fil. 4:10-12). Paulus mengingatkan kita bahwa kita mesti selalu gembira tidak peduli apapun situasinya; apakah kita sedang dalam kesesakan dan bahkan bila semuanya berjalan mulus.
Selalu pertahankan sikap bersyukur (Maz. 105:1). Memberikan ucapan syukur merupakan salah satu cara untuk melawan ketidak puasan. Hitung berkat-berkatmu dan sampaikan puji syukur kepada Allah untuk segala sesuatu yang diberkatinya, bahkan untuk hal yang tampaknya sepele. Dengan selalu bersyukur membuat anda sibuk dan tidak punya waktu untuk mengeluh.
Cegah untuk membanding-bandingkan situasimu dengan situasi orang lain. Mereka juga punya kelemahan. Sebagai gantinya, identifiksi kesalah-kesalahanmu dan bergantung pada Yesus untuk membantumu memindahkan hal itu dari hidupmu.
REAKSI
Pikirkan beberapa cara sifat persungutan dapat mencegah seseorang dari hubungan rohani.
Michael-Henry Parchment, Grand Cayman, Cayman Islands
Kamis 29 Oktober
Huruf “S” untuk Sindroma
PENDAPAT
Bilangan 11-14
Dalam penjajahan selama empat ratus tahun (Kej. 15:13), persungutan dan mengeluh sudah merupakan cara hidup orang Israel. Hilang sudah hari-hari pada saat kesukaan untuk mencerminkan sifat Allah kepada orang tak percaya di Mesir. Pengajaran tentang kedatangan Mesisa telah menjadi hal yang samar-samar dalam pikiran orang muda dan tua. Tetapi, adalah kerinduan Allah untuk membawa perhatian mereka kembali kepadaNYA. Melalui hambaNya Musa, suatu tipe Kristus, dan kaabah, yang merupakan pola kaabah sorgawi (Ibrani 8:16-19), Allah menginginkan umatNYA untuk mengetahui bahwa ada satu-satunya jalan, dan itu hanya melalui Mesias.
Huruf “S” pada kata Sindroma (mementingkan diri) telah mengakibatkan orang Israel menjadi ambisius dan berdikari secara berbahaya. Mereka telah menjadi merdeka dari Allah dengan memalingkan punggung mereka kepada hukum-hukumNYA. Ironisnya, mereka berpikir Allah lah yang telah meninggalkan mereka.
Sang penipu utama bersungut dan mengomel akan posisi Yesus di sorga; dan sebagai akibatnya, dia memulaikan pemberontakan dan kemurtadan diantara sepertiga malaikat.* Ngutluh (persilangan antara persungutan dan mengeluh) mengakibatkan lebih banyak usaha daripada hanya mendengar kepada Allah. Sama seperti cembetut pada saat kita semestinya bisa tersenyum. Allah kehilangan umatNYA sedemikian rupa sehingga hal yang ingin dilakukanNYA adalah memperdamaikan diriNYA sendiri dengan mereka melalui Yesus. Ngutluh mereka merupakan suatu indikasi mereka akan menolak Yesus pada kedatanganNYA yang pertama.
Siapa yang tidak pernah ngutluh boleh angkat tangan . . . . . saya rasa tidak. Kita merasa adalah tugas kita untuk “menggebuk” orang Israel, tetapi apakah kita berbeda? Pikirkan. Kita ngutluh jika seseorang fals waktu nyanyi atau jika pelajaran Sekolah Sabat tidak diterangkan sesuai dengan khayalan kita. Ngutluh mengakibatkan kita menjadi hamba kepada bos “S” si Setan.
Amsal 6:16 mengatakan, “Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya”. Lima dari hal itu adalah penyebab Ngutluh (Ayat 17-19). Musuh telah mencetuskan kepada orang Israel bahwa mereka mempunyai hak. Jadi mereka tumbuh untuk percaya bahwa mereka dapat hadir tanpa hukum-hukum Allah, melupakan bahwa Ngutluh kepadaNya akan mengakibatkan kekacauan dan anarki. Huruf “S” pada sindroma adalah hubungan satu arah. Setan mengatakan, “Saya akan,” Allah berkata, “Marilah kita . . . . .” Perlu berdua dalam jalan Tuhan—Yesus dan saya.
REAKSI
1. Kenapa Allah memilih orang Israel sebagai umatNYA padahal sudah tahu mereka akan murtad?
2. Apa yang dapat kita lakukan untuk jatuh dalam kemurtadan; dan jika kita melakukannya, bagaimana kita ditebus?
____________
*The Story of Redemption, pp. 13−17.
Donna Dennis, West Bay, Grand Cayman, Cayman Islands
Jum’at 30 Oktober
“Kamu Mau Kembali Ke Mesir”
EKSPLORASI
Keluaran 14, 15, 17, 31
SIMPULAN
Berkeluh kesah, mengomel, dan segala tindakan yang mengarah kepada cinta diri, bahkan ditengah intervensi langsung mujizat Allah yang langsung dalam hidup mereka, menghapus kemungkinan orang Israel yang langsung keluar dari Mesir untuk masuk Tahan Perjanjian. Kita tidak berbeda saat ini. Solusi kita terletak pada mempertahankan hubungan percaya dan bertumbuh kepada Allah setiap hari (bahkan bisa lebih sering).
PERTIMBANGKAN
■ Bacalah lirik lagu Keith Green di lagu “Jadi kamu mau kembali ke Mesir” di http://www.lyricsfreak.com/k/keith+green/so+you+wanna+go+back+to+egypt_20077386.html. Carilah hubungannya dengan bahan pada pelajaran minggu ini.
■ Posisikan dirimu sendiri di kemah Israel dengan Musa dan keluargamu. Buatlah catatan harian untuk perjalanan waktu berikut: Keluaran 14:5–31; 15:22–25; 17:1–7; 32:1–35 (asumsikan dirimu selamat).
■ Adopsi lagu Pembebasan dari Keluaran 15 kepada kerja Allah dalam hidupmu. Bagikan kepada teman terpercayamu pada suatu waktu engkau memberontak kepada Allah dan bagaimana Dia menunjukan kasihNYA kepadamu tak peduli apapun.
■ Siangi suatu taman yang bersemak, kemudian pelihara bunya lainnya. Pikirkan bagaimana tempat yang dulunya indah ini bisa jadi sedemikian tidak menariknya dan usaha untuk merestorasinya.
■ Facing a small source of heat (space heater, camp fire, etc.). Enjoy the warmth you feel. Describe it out loud. Turn your back and walk some distance away. Speak out loud what you feel now, and how it has changed. What part did your words play in the differences you noticed? What does this teach you about the relationship between complaining and your relationship with God? Arahkan wajahmu ke suatu sumber panas (pemanas ruangan, api unggun, dsb). Nikmati kehangatannya. Uraikan dengan suara keras. Berpaling dan menjauhlah. Ucapkan sekarang bagaimana rasanya, dan bagaimana itu telah berobah. Kata-kata apa yang engkau gunakan dalam perbedaannya? Apa pelajaran yang didapat dari berkeluh kesah dan hubunganmu dengan Allah?
HUBUNGKAN
Lihat Matius 23 di The Visual Bible: Matthew. Perhatikan dengan seksama nada suara yang memerankan Yesus.
Bacalah dalam hari-hari berikut di Oswald Chambers’ My Utmost for His Highest: June 26 and 27, November 1 and 11. Bacaan tersebut dapat diakses secara online di http://www.rbc.org/utmost/ index.php.
Gill Bahnsen, Auburn, Washington, U.S.A.
Saturday, 17 October 2009
SSCQ Pelajaran 4 Kwartal IV tahun 2009
SSCQ Edisi bahasa Indonesia, Triwulan IV, Pelajaran 4, 17-24 Oktober 2009
TROMPET, DARAH, AWAN, DAN API
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” (1 Kor. 5:7)
Sabbath 17 Oktober
Kode Merah
PENDAHULUAN
Kel. 12:11,27; Bilangan 9:10; Matius 26:41
Tahun baru imlek merupakan suatu festival orang China. Menurut legenda, suatu monster datang setiap malam menjelang Tahun Baru Imlek dan membunuh banyak orang. Hal ini terjadi untuk waktu yang cukup lama sampai suatu saat suatu mahluk kayahngan datang dan mengajarkan baha monster itu takut akan warna merah dan suara yang ribut. Tahun baru Imlek berikutnya, orang-orang membunuh hewan-hewan mereka dan memercikan dan menggosokan darah di rangka pintu mereka. Pada saat monster itu melihat warna merah ia melarikan diri. Saat ini, orang China menempelkan kertas atau kain merah dipintu mereka dan membakar mercon pada Tahun baru Imlek. Pada malam menjelang tahun baru Imlek, semua keluarga berkumpul untuk memakan ikan dan ayam, yang dihidangkan secara utuh, tidak boleh ada yang dipotong-potong.
Allah memerintahkan orang Israel untuk memotong domba dan memercikan dan mencatkan darahnya dirangka pintu rumah mereka pada hari sebelum kelepasan mereka dari Mesir. Itu adalah korban Paskah Tuhan. Mereka mesti memakan dombanya setelah dibakar diatas api (Kel. 12:9). Mereka mesti memakan domba Paskah mereka dalam kesiagaan untuk berlari dan berperang (Kel. 12:11). Paskah Tuhan menandai kebebasan orang Israel dari perhambaan dan penganiayaan di Mesir.
Sebelum meninggalkan perkemahan mereka di Sinai, orang Israel melakukan perayaan Paskah dalam kebebasan. Tuhan tidak akan melupakan penebusan mereka yang ajaib dari perbudakan Mesir. Dalam perjalanan umat tersebut selama tiga hari, bangsa itu dituntun Tuhan dengan pilar awan dan api. Awan itu menuntun mereka ke Timur dan Utara di padang Paran.
Yesus Kristus, adalah Domba Paskah, yang telah membebaskan kita dari perhambaan dosa. Perjamuan Tuhan adalah Paskah Kristiani. Sama seperti orang Israel, setelah memakan Domba Paskah kita menerima instruksi untuk mengabarkan injil dan untuk “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Mat. 26:41). Sama seperti orang Israel di Padang Paran, kita juga mesti mengikuti perintahNya tanpa kuatir akan apa yang terjadi dengan kita. Kuncinya adalah percaya Dia, Bapa kita yang maha bijaksana.
Minggu, ini kita akan belajar tentang Perjamuan Tuhan, suatu peringatan akan pengorbananNya dan apa yang mesti kita lakukan dalam namaNYA
Daniel Saputra, Palembang, South Sumatra, Indonesia
Minggu 18 Oktober
Tuntunan Sorga Untuk Perjalanan
BUKTI
Bilangan 9:13, 16; 10:1-10
“Buku Bilangan adalah buku ujian. Bilangan (Number L. Numeri, Gr. Arithmoi) disebut demikian karena orang Israel dua kali dihitung (Pasal 1 dan 26), yang pertama pada awal perjalanan mereka, dan yang kedua pada akhir pengembaraan 38 tahun di padan belantara. Bilangan adalah buku padang belantara yang mencakup rentang waktu dari bulan kedua tahun kedua setelah keluar dari Mesir sampai bulan ke sepuluh tahun ke empat puluh.”1
Minggu ini kita belajar Bilangan 9 dan 10. Pasal-pasal ini menceritakan kepada orang Israel persiapan perjalanan ke Tanah Perjanjian. Di Bilangan, Allah memberikan pedoman ketat kepada orang Israel. “Dia menginginkan mereka mempunyai gaya hidup yang berbeda dari orang sekitar mereka. Dia menginginkan mereka jadi suci. Allah mempersiapkan umatnya baik rohani dan badani untuk menerima warisan.”2
Kita juga mesti bersiap untuk memasuki tanah perjanjian sorga. Allah memberikan kita pedoman ketat untuk mempunyai hidup yang murni di gereja. Gereja adalah kemah kita. Allah mempersiapkan kita dengan memurnikan dan menyucikan hidup kita sehingga kita dapat menerima warisan sorga.
Bilangan 9:15, 16 menggambarkan bagaimana Allah melindungi orang Israel pada perjalanan mereka ke tanah Perjanjian. “Tiang awan pada siang dan tiang api pada malam menuntun dan melindungi orang Israel pada waktu perjalanan di padang gurun. Awan dan api bukan hanya suatu fenomena alam; mereka adalah alat untuk menunjukan Allah dan sebagai bukti yang terlihat dari pergerakan dan pengarahanNYA kepada umatNya.”3
Allah juga memberikan terompet perak sebagai penuntun. Tiang awan dan api terlihat dengan mata, sementara terompet untuk menunjukan kehadiran Tuhan dalam bentuk suara.
Sebelum memasuki sorga, kita mesti mengikuti tuntunan Allah untuk mengetahui kehendakNYA dalam hidup kita sementara kita bergerak ke tanah perjanjian.
REAKSI
1. Bagaimana Allah melindung kita hari ini?
2. Apakah lebih penting tentang apa yang Allah inginkan bagi kita, atau apa yang dilakukanNYA berikutnya? Kenapa.
____________
1. Merrill F. Unger, Unger’s Bible Handbook: An Essential Guide to Understanding the Bible, 1st edition (Chicago: Moody Press, 1967), p. 121.
2. New Living Translation: Life Application Study Bible (Wheaton, Ill.: Tyndale House Publishers, Inc., 1996), pp. 196, 197.
3. Ibid., p. 211.
Fritz and Joice Manurung, Jakarta, Indonesia
Senin 19 Oktober
Paskah Perjamuan Tuhan
LOGOS
Keluaran 12:1¬−29; Bilangan 9; Matt. 26:36−43; Lukas 22:14−20; Yohn 1:29
Yesus adalah Imam Allah yang sebenarnya. Kita tidak memerlukan siapapun lagi untuk tujuan itu. Korban domba adalah pendahuluan kepada korban Yesus di kayu salib untuk dosa-dosa kita. Karena itulah Yesus disebut sebagai Domba Allah: “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” (Yoh. 1:29).
Saat ini, pada saat banyak orang Kristen merayakan Perjamuan Suci, mereka merayakan Paskah. Perjamuan Suci, seperti paskah, merayakan pengorbanan Yesus sebagai “Domba Allah”. Roti tak beragi melambangkan tubuhnya, dan anggur melambangkan darahnya.
“Walaupun dimengerti dan dipraktekan secara berbeda oleh Kristen yang beragam, Perjamuan Kudus merupakan tema penting bagi semua orang percaya. Upacara yang dimulaikan pada Perjamuan Terakhir dinamakan dengan berbagai nama: Eukaris, ucapan syukur atas hadiah dari Allah; Komune (Communion) menekankan persekutuan dengan Kristus; dan Perjamuan Tuhan, menandai awal upacara tersebut.”1
“Pada hari ke empat belas bulan, Paskah dirayakan, upacaranya yang solem dan impresi menandai kelepasan dari perbudakan Mesir, dan menunjuk kepada pengorbanan yang mesti melepaskan dari perbudakan dosa. Pada waktu Juruselamat memberikan hidupNya di Kayu Salib, signifikansi Paskah menjadi hilang, dan upacara Perjamuan Tuhan dilembagakan sebagai peringatan akan hal yang sama yang dilambangkan oleh Paskah.”2
Perjamuan Kudus pada Perjanjian Lama (Kel.. 12:1−29; Bilangan 9)
Tuhan melembagakan Paskah sesaat sebelum Dia membebaskan orang Israel dari Mesir. Hal ini dimaksudkan sebagai bayangan akan Domba Allah, yang membebaskan Israel rohani dari perbudakan dosa.
Musa memerintahkan orang Israel untuk membunuh domba Paskah dan mengoleskan darahnya di rangka pintu. Malam itu malaikat Tuhan akan membunuh anak sulung laki-laki rumah yang tidak mempunyai olesan darah di rangka pintunya (Kel. 12:21-24).
“Paskah menunjuk ke belakang ke pelepasan anak-anak Israel, dan juga merupakan tipe menunjuk ke depan kepada Kristus, Domba Allah, yang dibunuh untuk menebus manusia yang jatuh ke dosa. Darah yang dipercikan ke tiang pintu melambangkan darah penebusan Kristus dan juga kebergantungan terus menerus orang berdosa kepada anugrah darah itu untuk keselamatan dari kuasa Setan, dan untuk penebusan final. Yesus memakan perjamuan Paskah dengan murid-muridnya sesaat sebelum penyaliban, dan pada malam yang sama, melembagakan upacara Perjamuan Kudus untuk memperingati kematianNya. Paskah telah dirayakan untuk memperingati pelepaan anak-anak Israel dari Mesir. Ini merupakan perlambang peringatan. Yang dilambangkan telah tiba pada waktu Kristus, Domba Allah tanpa cacat cela mati di kayu salib. Dia meninggalkan upacara untuk memperingati acara penyalibanNya.”3
Perjamuan Kudus di Perjanjian Baru (Lukas 22:14−20)
Orang Kristen merayakan Paskah dalam cara mereka yang khusus. Tentu saja, ada perbedaan signifikan untuk perayaan acara ini. Di Perjanjian Baru, Yesus dinyatakan sebagai Domba Paskah dikorbankan untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa. Bagi orang Kristen, Perjamuan Kudus adalah suatu peringatan dan tanda setia kepada Yesus untuk apa yang telah ditanggungnya atas nama kita. Orang Advent Hari Ketujuh mengikuti upacara ini Perjamuan Kudus seperti dinyatakan Yesus kepada murid-muridNYA.
Pada ayat berikut, kita baca tentang Perjamuan Kudus: “Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita . . . . . . Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” (Lukas 22: 15, 19, 20)
Tentang pentingnya Perjamuan Tuhan kita membaca bahwa “Keselamatan bagi manusia bergantung pada penerapan terus menerus kepada hati mereka pada darah pembersih Kristus. Ordinansi upacara solem ini melambangkan hal yang jauh lebih besar dari pembebasan orang Israel dari Mesir. Pembebasan itu merupakan tipe dari penebusan besar yang dibuat Kristus dengan mengorban nyawaNya untuk penebusan final umat manusia.”4
REAKSI
1. Uraikan hubungan Paskah Perjanjian Lama dan Perjamuan Kudus di Perjanjian Baru.
2. Apakah anda tinggi dirumah pada hari Sabat gerejamu merayakan Perjamuan Kudus? Jika ya kenapa?
3. Pertimbangkan bagaimana gerejamu merayakan Perjamuan Kudus. Bagaimana hal itu bisa dirayakan dalam cara yang lebih rohani, cara yang lebih menggugah?
4. Kenapa kita perlu diingatkan akan pengorbanan Kristus kepada kita?
____________
1. Commentary Reference Series, vol. 12 – SDA Theology, p. 595.
2. Patriarchs and Prophets, p. 539.
3. Spirit of Prophecy, vol. 1, p. 201.
4. The Signs of the Times, March 25, 1880.
Henky Wijaya, Malang, Indonesia
Selasa 20 Oktober
“Lihatlah Anak Domba Allah”
KESAKSIAN
1 Kor. 5:7
“Paskah mestilah menjadi hal peringatan dan khusus, bukan hanya menunjuk ke belakang ke pembebasn dari Mesis, tetapi juga kedepan kelepasan yang lebih besar yang dicapi Yesus dengan membebaskan umat manusia dari perbudakan dosa. Korban domba melambangkan “Anak Domba Allah” pada siapa hanya pengharapan kita. Kata Rasul, “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, “ (1 Kor. 5:7). Tidak cukup hanya domba itu disembelih; darahnya mesti dipercikan di tiang pintu; sehingga faedah darah Kristus mesti diterapkan kepada jiwa . . . . . Kita mesti tepat kepada diri kita sendiri tentang korban penebusan.”1
“Keselamatan Manusia bergantung pada penerapan terus menerus ke hati mereka dara penebusan Kristus. Karenanya, Perjamuan Kudus tidak hanya dilakukan sekali-sekali atau sekali setahun, tetapi lebih sering dari paskah tahunan . . . Ordinansi solem ini melambangkan hal yang lebih besar daripada kelepasan anak-anak Israel dari Mesir. Pembebasan itu merupakan lambang dari penebusan besar yang dilakukan Kristus dengan mengorbankan hidupNya sebagai pembebasan final umatNYA.”2
“Teladan Kristus melarang kita akan ekslusivitas dalam Perjamuan Kudus.”3 Kenapa? Karena (a) “Kristus dengan bantuan Roh Kudus ada disana untuk memeteraikan aturanNYA sendiri. Dia disana untuk menggugah dan melembutkan hati. Setiap murid dipanggil untuk berpartisipasi secara publik, dan menyaksikan bahwa dia menerima Kristus sebagai juruselamat pribadi . . . semua yang datang dengan iman mereka terpaku kepadaNya akan diberkati dengan limpahnya.”4 (b) “Upacara perjamuan kudus menunjuk kepada kedatangan Kristus yang kedua kali. Dirancang untuk membuat harapannya tetap hidup di hati murid-murid . . . . Dalam perjuangan mereka menemukan penghiburan dalam pengharapan akan kedatangan Tuhan. Tak terucapkan nilainya bagi mereka adalah melalui Dia”5 (c) “Jiwa kita akan menerima kekuatan rohani dari setiap perjamuan. Upacara itu membentuk hubungan yang hidup yang membuat orang percaya terikat dengan Kristus, dan selanjutnya dengan Bapa.”6
1. Patriarchs and Prophets, p. 277.
2. Spirit of Prophecy, vol. 3, p. 228.
3. The Desire of Ages, p. 656.
4. Ibid.
5. Ibid., p. 659.
6. Ibid., p. 661.
7. Ibid., p. 659.
Roy Maju Hutasoit, Bandung, Indonesia
Rabu 21 Oktober
Suatu Peringatan akan PenebusanNYA
BAGAIMANA
Kel. 12:1−29; Matt. 26:36−43
Paskah mengingatkan kita akan kemampuan Allah menyelamatkan orang Israel dan janjiNya untuk memberikan mereka tanah yang baru. Dalam Perjanjian Baru, Yesus membeirkan peringatan penebusan lain kepada muridnya (Mat. 26:36-43). Dari uraian kedua kejadian ini, kita dapat belajar bagaimana memperkaya pengalaman Perjamuan kita untuk memperkuat kehidupan rohani kita:
Ingatlah bagaimana anda menerima keselamatan Allah (Kel. 12:17). Allah menginstruksikan orang Israel setiap tahun merayakan Paskah, karena Dia menuntun mereka keluar dari Mesir. Yesus menuntun kita keluar dari dosa. Perjamuan kudus, karenanya, adalah waktu untuk mengingat bahwa Dia adalah Juruselamat kita dan bagaimana Dia menyelamatkan kita.
Persiapkan korban khusus (Kel. 12:3-6). Orang Israel mengorbankan domba tanpa cacat cela. Korban khusus apa yang dapat kita buat? Persembahan syukur? Pengorbanan waktu untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan atau membantu aktivitas gereja? Gunakan pengorbananmu untuk memantulkan seberapa besar korban yang telah dibuat Kristus.
Lakukan sesuatu yang khusus hari itu (Kel. 12:7, 26, 27). Orang Israel mesti memercikan darah di rangka pintu mereka. Ini adalah kesaksian umum akan iman mereka dan lambang akan darah penebusan Kristus. Anda juga juta boleh meletakan “suatu tanda” di pintumu. Tanda ini dapat mencetus suatu kesempatan untuk menyaksikan imanmu. Juga pikirkan suatu karakter Kristen yang kasih sebagai tanda akan penebusan Kristus bagi dosa.
Buatlah makan khusus (Kel. 12:8-11). Berbagi makanan setelah Perjamuan Kudus adalah waktu yang baik untuk bersekutu dan berbagi akan ucapan syukurmu kepada anggota gereja. Atau membagi “makanan” dengan “memakan” dari Firman Allah, baik dengan belajar sendiri atau bersama teman.
Ulangi janji-janji Allah. Allah berjanji kepada orang Israel bahwa Dia akan memberikan mereka Tanah Pernjanjian (Kel. 12:25). Dia berjanji kepada kita bahwa Dia akan memberikan kita sorga.
REAKSI
1. Bagaimana anda secara pribadi menerapkan langkah-langkah ini kali berikut gerejamu merayakan Perjamuan Kudus?
2.
Apakah bahayanya membiarkan Perjamuan Kudus hanyalah “salah satu acara keamaan rutin lainnya”?
Danny and Rachel Handoko, Eindhoven, the Netherlands
Kamis 22 Oktober
Percaya PadaNya dan Selamat
PENDAPAT
Yohn 3:16, 17; Kisah 4:12; Ibrani. 5:9
Putraku Patrik, umur lima tahun, duduk disampingku waktu Perjamuan Kudus. Dia bertanya, “Kenapa anak-anak tidak boleh makan roti dan minum anggur? Saya terangkan padanya bahwa dia akan ikut bila telah dibaptiskan. Akhir-akhir ini, saya jadi sadar bahwa jawaban yang kuberikan padanya bukanlah yang benar.
Tiga bulan kemudian, pada perjamuan kudus berikut, istri pendeta mempersiapkan roti mirip dengan roti perjamuan. Dia juga menyediakan air anggur yang mirip untuk anak-anak. Kemudian mereka menghadiri suatu upacara di kelas mereka sehingga guru-guru ini mengajarkan mereka akan pengorbanan Yesus di kayu salib bagi mereka. Patrick gembira ikut serta dan belajar suatu pelajaran penting dalam perjamuan pertamanya.
“Anak-anak perlu dilatih sedari dini untuk mendapatkan pengertian akan upacara ini,” kata Pendeta. Dua pelajaran penting bagiku adalah penebusan adalah untuk semua orang dan anak-anak kita mesti diajarkan tentang Yesus sejak usia dini mereka.
Semua orang boleh berpartisipasi dalam Perjamuan Kudus, tidak peduli dari denominasi Kristen apa asal mereka, karena janji keselamatan Allah diberikan kepada semua orang (Yoh.3:16, 17; Ibr 5:9).
Bila pada masa lalu, dosan dapat diampuni dengan membawa Domba yang dikorbankan dihadapan Tuha, dan jika sekarang dosa diampuni dengan mengklaim pengorbanan Kristus di salib, maka kita bisa bertobat dan diselamatkan. “Krituslah satu-satunya harapan kita. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."* (Kisah 4:12).
Sama seperti putraku yang belajar mengerti bagaimana Allah menyediakan bagi kita melalui janji-janjiNya yang ajaib akan pengampunan dan keselamatan, karenanya kita dapat belajar untuk mempercayai janji ajaib yang sama yang diberikan kepada kita.
____________
*Patriarch and Prophets, p. 73.
Osvald Taroreh, Jakarta, Indonesia
Jum’at 23 Oktober
Persiapan untuk Kerajaan
EKSPLORASI
Bilangan 9: 1,2
SIMPULAN
Pada waktu Allah melepaskan umat Israel dari perhambaan Mesir, Dia mengambil mereka melalui serangkaian mujizat di kaki gunung Sinai. Disana mereka berkemah kira-kira dua tahun sementara Dia mempersiapkan mereka untuk tinggal di Tanah Perjanjian. Dia secara pribadi memberikan kepada mereka hukum moral, dan mereka diinstruksikan dalam hukum sipil dan upacara keagamaan yang akan mreka lakukan di tanah perjanjian. Mereka menerima rencana bentuk rumah ibadah mereka dan membangunnya. Akhirnya, mereka merayakan Paskah pertama dalam kebebasan. Allah bersiap untuk menuntun mereka dengan tiang awan, tiang api, dan terompet perak, dan menempatkan mereka di tanah yang baru, dimana mereka akan membentuh suatu kerjaan baru dengan Dia sebagai Rajanya.
PERTIMBANGKAN
■ Bercermin dari hidupmu sebagai orang Kristen dan membaca jalan-jalan tuntunan Tuhan seperti tiang awan, api dan terompet.
■ Membuat diagram riwayat kejadian pada Keluaran 14 sampai Bilangan 14.
■ Dengan ke CD Michael Card, “Known By the Scars,” dan merenungkan apa yang dilalui Yesus menjadi Domba Paskah.
■ Bacalah Keluaran 12 dan daftarkan secara rinci apa yang dapat anda temui tentang perayaan Paskah, dan semua yang dipenuhi Yesus secara rinci.
■ Rayakan Perjamuan dengan keluargamu atau dengan beberapa teman dekatmu di lokasi yang unik (misalnya di pantai, mencuci kakimu di laut, di ruang keluarga seseorang dengan diiringi musik rohani).
■ Rencanakan suatu Pesta Agape di gerejamu pada Perjamuan Kudus berikutnya. Biasanya dilakukan pada malam hari dan mencakup mencuci kaki, dan makanan sederhana dengan musik yang menggugah hati, Perjamuan Kudus, dan bersaksi.
HUBUNGKAN
Ellen G. White, Patriarchs and Prophets (Para Nabi dan Bapa), pp. 374–386
Stephen N. Haskell, The Cross and Its Shadow, pp. 93–102
Leslie Hardinge, With Jesus In His Sanctuary, pp. 429–442
Sonia Huenergardt, Bishop, California, U.S.A.
TROMPET, DARAH, AWAN, DAN API
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” (1 Kor. 5:7)
Sabbath 17 Oktober
Kode Merah
PENDAHULUAN
Kel. 12:11,27; Bilangan 9:10; Matius 26:41
Tahun baru imlek merupakan suatu festival orang China. Menurut legenda, suatu monster datang setiap malam menjelang Tahun Baru Imlek dan membunuh banyak orang. Hal ini terjadi untuk waktu yang cukup lama sampai suatu saat suatu mahluk kayahngan datang dan mengajarkan baha monster itu takut akan warna merah dan suara yang ribut. Tahun baru Imlek berikutnya, orang-orang membunuh hewan-hewan mereka dan memercikan dan menggosokan darah di rangka pintu mereka. Pada saat monster itu melihat warna merah ia melarikan diri. Saat ini, orang China menempelkan kertas atau kain merah dipintu mereka dan membakar mercon pada Tahun baru Imlek. Pada malam menjelang tahun baru Imlek, semua keluarga berkumpul untuk memakan ikan dan ayam, yang dihidangkan secara utuh, tidak boleh ada yang dipotong-potong.
Allah memerintahkan orang Israel untuk memotong domba dan memercikan dan mencatkan darahnya dirangka pintu rumah mereka pada hari sebelum kelepasan mereka dari Mesir. Itu adalah korban Paskah Tuhan. Mereka mesti memakan dombanya setelah dibakar diatas api (Kel. 12:9). Mereka mesti memakan domba Paskah mereka dalam kesiagaan untuk berlari dan berperang (Kel. 12:11). Paskah Tuhan menandai kebebasan orang Israel dari perhambaan dan penganiayaan di Mesir.
Sebelum meninggalkan perkemahan mereka di Sinai, orang Israel melakukan perayaan Paskah dalam kebebasan. Tuhan tidak akan melupakan penebusan mereka yang ajaib dari perbudakan Mesir. Dalam perjalanan umat tersebut selama tiga hari, bangsa itu dituntun Tuhan dengan pilar awan dan api. Awan itu menuntun mereka ke Timur dan Utara di padang Paran.
Yesus Kristus, adalah Domba Paskah, yang telah membebaskan kita dari perhambaan dosa. Perjamuan Tuhan adalah Paskah Kristiani. Sama seperti orang Israel, setelah memakan Domba Paskah kita menerima instruksi untuk mengabarkan injil dan untuk “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Mat. 26:41). Sama seperti orang Israel di Padang Paran, kita juga mesti mengikuti perintahNya tanpa kuatir akan apa yang terjadi dengan kita. Kuncinya adalah percaya Dia, Bapa kita yang maha bijaksana.
Minggu, ini kita akan belajar tentang Perjamuan Tuhan, suatu peringatan akan pengorbananNya dan apa yang mesti kita lakukan dalam namaNYA
Daniel Saputra, Palembang, South Sumatra, Indonesia
Minggu 18 Oktober
Tuntunan Sorga Untuk Perjalanan
BUKTI
Bilangan 9:13, 16; 10:1-10
“Buku Bilangan adalah buku ujian. Bilangan (Number L. Numeri, Gr. Arithmoi) disebut demikian karena orang Israel dua kali dihitung (Pasal 1 dan 26), yang pertama pada awal perjalanan mereka, dan yang kedua pada akhir pengembaraan 38 tahun di padan belantara. Bilangan adalah buku padang belantara yang mencakup rentang waktu dari bulan kedua tahun kedua setelah keluar dari Mesir sampai bulan ke sepuluh tahun ke empat puluh.”1
Minggu ini kita belajar Bilangan 9 dan 10. Pasal-pasal ini menceritakan kepada orang Israel persiapan perjalanan ke Tanah Perjanjian. Di Bilangan, Allah memberikan pedoman ketat kepada orang Israel. “Dia menginginkan mereka mempunyai gaya hidup yang berbeda dari orang sekitar mereka. Dia menginginkan mereka jadi suci. Allah mempersiapkan umatnya baik rohani dan badani untuk menerima warisan.”2
Kita juga mesti bersiap untuk memasuki tanah perjanjian sorga. Allah memberikan kita pedoman ketat untuk mempunyai hidup yang murni di gereja. Gereja adalah kemah kita. Allah mempersiapkan kita dengan memurnikan dan menyucikan hidup kita sehingga kita dapat menerima warisan sorga.
Bilangan 9:15, 16 menggambarkan bagaimana Allah melindungi orang Israel pada perjalanan mereka ke tanah Perjanjian. “Tiang awan pada siang dan tiang api pada malam menuntun dan melindungi orang Israel pada waktu perjalanan di padang gurun. Awan dan api bukan hanya suatu fenomena alam; mereka adalah alat untuk menunjukan Allah dan sebagai bukti yang terlihat dari pergerakan dan pengarahanNYA kepada umatNya.”3
Allah juga memberikan terompet perak sebagai penuntun. Tiang awan dan api terlihat dengan mata, sementara terompet untuk menunjukan kehadiran Tuhan dalam bentuk suara.
Sebelum memasuki sorga, kita mesti mengikuti tuntunan Allah untuk mengetahui kehendakNYA dalam hidup kita sementara kita bergerak ke tanah perjanjian.
REAKSI
1. Bagaimana Allah melindung kita hari ini?
2. Apakah lebih penting tentang apa yang Allah inginkan bagi kita, atau apa yang dilakukanNYA berikutnya? Kenapa.
____________
1. Merrill F. Unger, Unger’s Bible Handbook: An Essential Guide to Understanding the Bible, 1st edition (Chicago: Moody Press, 1967), p. 121.
2. New Living Translation: Life Application Study Bible (Wheaton, Ill.: Tyndale House Publishers, Inc., 1996), pp. 196, 197.
3. Ibid., p. 211.
Fritz and Joice Manurung, Jakarta, Indonesia
Senin 19 Oktober
Paskah Perjamuan Tuhan
LOGOS
Keluaran 12:1¬−29; Bilangan 9; Matt. 26:36−43; Lukas 22:14−20; Yohn 1:29
Yesus adalah Imam Allah yang sebenarnya. Kita tidak memerlukan siapapun lagi untuk tujuan itu. Korban domba adalah pendahuluan kepada korban Yesus di kayu salib untuk dosa-dosa kita. Karena itulah Yesus disebut sebagai Domba Allah: “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” (Yoh. 1:29).
Saat ini, pada saat banyak orang Kristen merayakan Perjamuan Suci, mereka merayakan Paskah. Perjamuan Suci, seperti paskah, merayakan pengorbanan Yesus sebagai “Domba Allah”. Roti tak beragi melambangkan tubuhnya, dan anggur melambangkan darahnya.
“Walaupun dimengerti dan dipraktekan secara berbeda oleh Kristen yang beragam, Perjamuan Kudus merupakan tema penting bagi semua orang percaya. Upacara yang dimulaikan pada Perjamuan Terakhir dinamakan dengan berbagai nama: Eukaris, ucapan syukur atas hadiah dari Allah; Komune (Communion) menekankan persekutuan dengan Kristus; dan Perjamuan Tuhan, menandai awal upacara tersebut.”1
“Pada hari ke empat belas bulan, Paskah dirayakan, upacaranya yang solem dan impresi menandai kelepasan dari perbudakan Mesir, dan menunjuk kepada pengorbanan yang mesti melepaskan dari perbudakan dosa. Pada waktu Juruselamat memberikan hidupNya di Kayu Salib, signifikansi Paskah menjadi hilang, dan upacara Perjamuan Tuhan dilembagakan sebagai peringatan akan hal yang sama yang dilambangkan oleh Paskah.”2
Perjamuan Kudus pada Perjanjian Lama (Kel.. 12:1−29; Bilangan 9)
Tuhan melembagakan Paskah sesaat sebelum Dia membebaskan orang Israel dari Mesir. Hal ini dimaksudkan sebagai bayangan akan Domba Allah, yang membebaskan Israel rohani dari perbudakan dosa.
Musa memerintahkan orang Israel untuk membunuh domba Paskah dan mengoleskan darahnya di rangka pintu. Malam itu malaikat Tuhan akan membunuh anak sulung laki-laki rumah yang tidak mempunyai olesan darah di rangka pintunya (Kel. 12:21-24).
“Paskah menunjuk ke belakang ke pelepasan anak-anak Israel, dan juga merupakan tipe menunjuk ke depan kepada Kristus, Domba Allah, yang dibunuh untuk menebus manusia yang jatuh ke dosa. Darah yang dipercikan ke tiang pintu melambangkan darah penebusan Kristus dan juga kebergantungan terus menerus orang berdosa kepada anugrah darah itu untuk keselamatan dari kuasa Setan, dan untuk penebusan final. Yesus memakan perjamuan Paskah dengan murid-muridnya sesaat sebelum penyaliban, dan pada malam yang sama, melembagakan upacara Perjamuan Kudus untuk memperingati kematianNya. Paskah telah dirayakan untuk memperingati pelepaan anak-anak Israel dari Mesir. Ini merupakan perlambang peringatan. Yang dilambangkan telah tiba pada waktu Kristus, Domba Allah tanpa cacat cela mati di kayu salib. Dia meninggalkan upacara untuk memperingati acara penyalibanNya.”3
Perjamuan Kudus di Perjanjian Baru (Lukas 22:14−20)
Orang Kristen merayakan Paskah dalam cara mereka yang khusus. Tentu saja, ada perbedaan signifikan untuk perayaan acara ini. Di Perjanjian Baru, Yesus dinyatakan sebagai Domba Paskah dikorbankan untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa. Bagi orang Kristen, Perjamuan Kudus adalah suatu peringatan dan tanda setia kepada Yesus untuk apa yang telah ditanggungnya atas nama kita. Orang Advent Hari Ketujuh mengikuti upacara ini Perjamuan Kudus seperti dinyatakan Yesus kepada murid-muridNYA.
Pada ayat berikut, kita baca tentang Perjamuan Kudus: “Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita . . . . . . Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” (Lukas 22: 15, 19, 20)
Tentang pentingnya Perjamuan Tuhan kita membaca bahwa “Keselamatan bagi manusia bergantung pada penerapan terus menerus kepada hati mereka pada darah pembersih Kristus. Ordinansi upacara solem ini melambangkan hal yang jauh lebih besar dari pembebasan orang Israel dari Mesir. Pembebasan itu merupakan tipe dari penebusan besar yang dibuat Kristus dengan mengorban nyawaNya untuk penebusan final umat manusia.”4
REAKSI
1. Uraikan hubungan Paskah Perjanjian Lama dan Perjamuan Kudus di Perjanjian Baru.
2. Apakah anda tinggi dirumah pada hari Sabat gerejamu merayakan Perjamuan Kudus? Jika ya kenapa?
3. Pertimbangkan bagaimana gerejamu merayakan Perjamuan Kudus. Bagaimana hal itu bisa dirayakan dalam cara yang lebih rohani, cara yang lebih menggugah?
4. Kenapa kita perlu diingatkan akan pengorbanan Kristus kepada kita?
____________
1. Commentary Reference Series, vol. 12 – SDA Theology, p. 595.
2. Patriarchs and Prophets, p. 539.
3. Spirit of Prophecy, vol. 1, p. 201.
4. The Signs of the Times, March 25, 1880.
Henky Wijaya, Malang, Indonesia
Selasa 20 Oktober
“Lihatlah Anak Domba Allah”
KESAKSIAN
1 Kor. 5:7
“Paskah mestilah menjadi hal peringatan dan khusus, bukan hanya menunjuk ke belakang ke pembebasn dari Mesis, tetapi juga kedepan kelepasan yang lebih besar yang dicapi Yesus dengan membebaskan umat manusia dari perbudakan dosa. Korban domba melambangkan “Anak Domba Allah” pada siapa hanya pengharapan kita. Kata Rasul, “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, “ (1 Kor. 5:7). Tidak cukup hanya domba itu disembelih; darahnya mesti dipercikan di tiang pintu; sehingga faedah darah Kristus mesti diterapkan kepada jiwa . . . . . Kita mesti tepat kepada diri kita sendiri tentang korban penebusan.”1
“Keselamatan Manusia bergantung pada penerapan terus menerus ke hati mereka dara penebusan Kristus. Karenanya, Perjamuan Kudus tidak hanya dilakukan sekali-sekali atau sekali setahun, tetapi lebih sering dari paskah tahunan . . . Ordinansi solem ini melambangkan hal yang lebih besar daripada kelepasan anak-anak Israel dari Mesir. Pembebasan itu merupakan lambang dari penebusan besar yang dilakukan Kristus dengan mengorbankan hidupNya sebagai pembebasan final umatNYA.”2
“Teladan Kristus melarang kita akan ekslusivitas dalam Perjamuan Kudus.”3 Kenapa? Karena (a) “Kristus dengan bantuan Roh Kudus ada disana untuk memeteraikan aturanNYA sendiri. Dia disana untuk menggugah dan melembutkan hati. Setiap murid dipanggil untuk berpartisipasi secara publik, dan menyaksikan bahwa dia menerima Kristus sebagai juruselamat pribadi . . . semua yang datang dengan iman mereka terpaku kepadaNya akan diberkati dengan limpahnya.”4 (b) “Upacara perjamuan kudus menunjuk kepada kedatangan Kristus yang kedua kali. Dirancang untuk membuat harapannya tetap hidup di hati murid-murid . . . . Dalam perjuangan mereka menemukan penghiburan dalam pengharapan akan kedatangan Tuhan. Tak terucapkan nilainya bagi mereka adalah melalui Dia”5 (c) “Jiwa kita akan menerima kekuatan rohani dari setiap perjamuan. Upacara itu membentuk hubungan yang hidup yang membuat orang percaya terikat dengan Kristus, dan selanjutnya dengan Bapa.”6
1. Patriarchs and Prophets, p. 277.
2. Spirit of Prophecy, vol. 3, p. 228.
3. The Desire of Ages, p. 656.
4. Ibid.
5. Ibid., p. 659.
6. Ibid., p. 661.
7. Ibid., p. 659.
Roy Maju Hutasoit, Bandung, Indonesia
Rabu 21 Oktober
Suatu Peringatan akan PenebusanNYA
BAGAIMANA
Kel. 12:1−29; Matt. 26:36−43
Paskah mengingatkan kita akan kemampuan Allah menyelamatkan orang Israel dan janjiNya untuk memberikan mereka tanah yang baru. Dalam Perjanjian Baru, Yesus membeirkan peringatan penebusan lain kepada muridnya (Mat. 26:36-43). Dari uraian kedua kejadian ini, kita dapat belajar bagaimana memperkaya pengalaman Perjamuan kita untuk memperkuat kehidupan rohani kita:
Ingatlah bagaimana anda menerima keselamatan Allah (Kel. 12:17). Allah menginstruksikan orang Israel setiap tahun merayakan Paskah, karena Dia menuntun mereka keluar dari Mesir. Yesus menuntun kita keluar dari dosa. Perjamuan kudus, karenanya, adalah waktu untuk mengingat bahwa Dia adalah Juruselamat kita dan bagaimana Dia menyelamatkan kita.
Persiapkan korban khusus (Kel. 12:3-6). Orang Israel mengorbankan domba tanpa cacat cela. Korban khusus apa yang dapat kita buat? Persembahan syukur? Pengorbanan waktu untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan atau membantu aktivitas gereja? Gunakan pengorbananmu untuk memantulkan seberapa besar korban yang telah dibuat Kristus.
Lakukan sesuatu yang khusus hari itu (Kel. 12:7, 26, 27). Orang Israel mesti memercikan darah di rangka pintu mereka. Ini adalah kesaksian umum akan iman mereka dan lambang akan darah penebusan Kristus. Anda juga juta boleh meletakan “suatu tanda” di pintumu. Tanda ini dapat mencetus suatu kesempatan untuk menyaksikan imanmu. Juga pikirkan suatu karakter Kristen yang kasih sebagai tanda akan penebusan Kristus bagi dosa.
Buatlah makan khusus (Kel. 12:8-11). Berbagi makanan setelah Perjamuan Kudus adalah waktu yang baik untuk bersekutu dan berbagi akan ucapan syukurmu kepada anggota gereja. Atau membagi “makanan” dengan “memakan” dari Firman Allah, baik dengan belajar sendiri atau bersama teman.
Ulangi janji-janji Allah. Allah berjanji kepada orang Israel bahwa Dia akan memberikan mereka Tanah Pernjanjian (Kel. 12:25). Dia berjanji kepada kita bahwa Dia akan memberikan kita sorga.
REAKSI
1. Bagaimana anda secara pribadi menerapkan langkah-langkah ini kali berikut gerejamu merayakan Perjamuan Kudus?
2.
Apakah bahayanya membiarkan Perjamuan Kudus hanyalah “salah satu acara keamaan rutin lainnya”?
Danny and Rachel Handoko, Eindhoven, the Netherlands
Kamis 22 Oktober
Percaya PadaNya dan Selamat
PENDAPAT
Yohn 3:16, 17; Kisah 4:12; Ibrani. 5:9
Putraku Patrik, umur lima tahun, duduk disampingku waktu Perjamuan Kudus. Dia bertanya, “Kenapa anak-anak tidak boleh makan roti dan minum anggur? Saya terangkan padanya bahwa dia akan ikut bila telah dibaptiskan. Akhir-akhir ini, saya jadi sadar bahwa jawaban yang kuberikan padanya bukanlah yang benar.
Tiga bulan kemudian, pada perjamuan kudus berikut, istri pendeta mempersiapkan roti mirip dengan roti perjamuan. Dia juga menyediakan air anggur yang mirip untuk anak-anak. Kemudian mereka menghadiri suatu upacara di kelas mereka sehingga guru-guru ini mengajarkan mereka akan pengorbanan Yesus di kayu salib bagi mereka. Patrick gembira ikut serta dan belajar suatu pelajaran penting dalam perjamuan pertamanya.
“Anak-anak perlu dilatih sedari dini untuk mendapatkan pengertian akan upacara ini,” kata Pendeta. Dua pelajaran penting bagiku adalah penebusan adalah untuk semua orang dan anak-anak kita mesti diajarkan tentang Yesus sejak usia dini mereka.
Semua orang boleh berpartisipasi dalam Perjamuan Kudus, tidak peduli dari denominasi Kristen apa asal mereka, karena janji keselamatan Allah diberikan kepada semua orang (Yoh.3:16, 17; Ibr 5:9).
Bila pada masa lalu, dosan dapat diampuni dengan membawa Domba yang dikorbankan dihadapan Tuha, dan jika sekarang dosa diampuni dengan mengklaim pengorbanan Kristus di salib, maka kita bisa bertobat dan diselamatkan. “Krituslah satu-satunya harapan kita. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."* (Kisah 4:12).
Sama seperti putraku yang belajar mengerti bagaimana Allah menyediakan bagi kita melalui janji-janjiNya yang ajaib akan pengampunan dan keselamatan, karenanya kita dapat belajar untuk mempercayai janji ajaib yang sama yang diberikan kepada kita.
____________
*Patriarch and Prophets, p. 73.
Osvald Taroreh, Jakarta, Indonesia
Jum’at 23 Oktober
Persiapan untuk Kerajaan
EKSPLORASI
Bilangan 9: 1,2
SIMPULAN
Pada waktu Allah melepaskan umat Israel dari perhambaan Mesir, Dia mengambil mereka melalui serangkaian mujizat di kaki gunung Sinai. Disana mereka berkemah kira-kira dua tahun sementara Dia mempersiapkan mereka untuk tinggal di Tanah Perjanjian. Dia secara pribadi memberikan kepada mereka hukum moral, dan mereka diinstruksikan dalam hukum sipil dan upacara keagamaan yang akan mreka lakukan di tanah perjanjian. Mereka menerima rencana bentuk rumah ibadah mereka dan membangunnya. Akhirnya, mereka merayakan Paskah pertama dalam kebebasan. Allah bersiap untuk menuntun mereka dengan tiang awan, tiang api, dan terompet perak, dan menempatkan mereka di tanah yang baru, dimana mereka akan membentuh suatu kerjaan baru dengan Dia sebagai Rajanya.
PERTIMBANGKAN
■ Bercermin dari hidupmu sebagai orang Kristen dan membaca jalan-jalan tuntunan Tuhan seperti tiang awan, api dan terompet.
■ Membuat diagram riwayat kejadian pada Keluaran 14 sampai Bilangan 14.
■ Dengan ke CD Michael Card, “Known By the Scars,” dan merenungkan apa yang dilalui Yesus menjadi Domba Paskah.
■ Bacalah Keluaran 12 dan daftarkan secara rinci apa yang dapat anda temui tentang perayaan Paskah, dan semua yang dipenuhi Yesus secara rinci.
■ Rayakan Perjamuan dengan keluargamu atau dengan beberapa teman dekatmu di lokasi yang unik (misalnya di pantai, mencuci kakimu di laut, di ruang keluarga seseorang dengan diiringi musik rohani).
■ Rencanakan suatu Pesta Agape di gerejamu pada Perjamuan Kudus berikutnya. Biasanya dilakukan pada malam hari dan mencakup mencuci kaki, dan makanan sederhana dengan musik yang menggugah hati, Perjamuan Kudus, dan bersaksi.
HUBUNGKAN
Ellen G. White, Patriarchs and Prophets (Para Nabi dan Bapa), pp. 374–386
Stephen N. Haskell, The Cross and Its Shadow, pp. 93–102
Leslie Hardinge, With Jesus In His Sanctuary, pp. 429–442
Sonia Huenergardt, Bishop, California, U.S.A.
Saturday, 10 October 2009
SSCQ Pelajaran 3 Kwartal IV tahun 2009
SSCQ Edisi bahasa Indonesia, Triwulan IV, Pelajaran 3, 10—17 Oktober 2009
IBADAH DAN DEDIKASI
Diterjemahkan Oleh: Alwin Simanjuntak
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang member dengan sukacita.” (2 Kor 9:7)
Sabat 10 Oktober
Kepada: Semua yang senang belanja!
PENDAHULUAN
Yer. 10:23; Kol. 3:2
Setiap Sabat pagi, ketika masih remaja, saya memiliki sesuatu untuk diputuskan. Ada 72 gereja Advent dalam radius 48 kilometer dari rumah saya. Jadi pertanyaannya bukan apakah akan ke gereja atau tidak, tetapi gereja mana yang akan dikunjungi.
Dengan banyaknya gereja, terkadang sulit untuk merasa tidak merasa bahwa anda sedang berada di pusat perbelanjaan. Banyak orang menggunakan waktu dan tenaga untuk “berbelanja” memilih gereja yang tepat. Gereja mana yang memiliki perkumpulan pemuda paling aktif? Apakah khotbahnya berhubungan dengan kehidupan saya? Apakah jenis musiknya sesuai dengan yang saya mau? Apakah itu memenuhi kebutuhan saya?
Beberapa orang menjabarkan dengan lebih detail. Mereka menghadiri satu gereja untuk mengikuti Sekolah Sabat, kemudian pindah ke gereja lain untuk mendengarkan kelompok penyanyi yang merdu, kemudian pindah ke gereja lain untuk mendengarkan pendeta terkenal berkhotbah. Dan sesudah itu pergi ke gereja yang potluck-nya lezat. Menjelang sabat berakhir anda telah terberkati dengan musik yang bagus, khotbah yang indah, dan potluck yang enak. Tetapi apa yang diri anda telah berikan?
Memang tidak salah untuk mencari gereja yang tepat. Tetapi kita juga perlu mengingatkan diri kita apa arti ibadah yang sebenarnya. Sebagai manusia, adalah wajar kalau kita mencari sesuatu yang memenuhi apa yang kita butuhkan. Tetapi ketika kita berbakti, fokusnya bukanlah apa yang kita bisa dapat dari gereja.
Tetapi ibadah adalah mengenai Tuhan.
Ibadah adalah mengenai menghormati Satu-Satunya Yang Layak Dipuji – Khalik Semesta Alam, yang memelihara kita. Ketika kita beribadah kepada Tuhan, kita mengembalikan waktu dan talenta yang telah diberikan kepada kita. Adalah tugas dan kesempatan bagi kita untuk menggunakan apa yang Tuhan telah berikan untuk melayani Tuhan, menghormati Tuhan, dan memuji Tuhan. Dia tidak pernah melupakan kita. Kitapun tidak boleh melupakan Tuhan, dalam peribadatan kita.
Ketika anda mempelajari pelajaran minggu ini mengenai ibadah dan dedikasi pada Bilangan 7 dan 8, ingatkan diri anda akan Siapa yang menjadi fokus ibadah anda.
Lisa Takahashi, Calimesa, Hiroshima, Japan
Minggu 11 Oktober
Dipanggil Untuk Beribadah
LOGOS
Kel. 25:22; Bilangan 7; 8:1−3, 5−19; Zak. 4:1−6, 11−14; Wah. 4:2−5; 11:4.
Dengan konstruksi Kemah Suci, Tuhan telah menjabarkan dengan jelas maksudNya untuk terlibat secara aktif dalam perkembangan dan pertumbuhan bangsa Israel. Meskipun Ia telah bercakap-cakap dengan Musa sebelum adanya Kemah Suci, kemungkinan Tuhan menghendaki adanya tempat pertemuan dimana Ia selalu dapat ditemui oleh setiap orang. Ia menginginkan sebuah hubungan, bukan hanya dengan Musa, tetapi dengan seluruh bangsa Israel. Dan hubungan ini harus merupakan sesuatu yang khusus dan istimewa.
Kesetiaan dan Dedikasi (Bil. 7)
Dalam penyerahan di altar, setiap pemimpin suku membawa persembahan. Setiap pemimpin dari kedua belas suku Israel membawa jenis persembahan yang sama. Bilangan adalah pasal yang agak membosankan untuk dibaca. Bagi Allah, setiap persembahan dalam ibadah adalah special dan diperhatikan, walaupun hanya dua peser. Markus 12:42-44. Allah tidak meminta peribadatan yang lebih banyak dari seseorang daripada dari orang yang lain. Nilai pemberian kita kepada Tuhan tidak ditentukan oleh nilai yang masyarakat sekeliling kita tentukan pada pemberian tersebut, melainkan pada tingkat pengorbanan diri yang dilambangkan dari pemberian tersebut.
Daftar pemberian yang panjang yang tercantum dalam Bilangan 7 juga mengingatkan kita akan pentingnya memberi dan untuk menandakan secara kasat mata kesetiaan dan dedikasi kita terhadap Pencipta dan Penebus kita.
Berbagi Tugas (Bil 7:1-10)
Setelah pengurapan dan penyerahan Kemah Suci, pemimpin dari dua belas suku Israel secara sukarela membawa lembu dan kereta ke Kemah Suci. Bani Gerson, Merari dan Kehat bertanggungjawab untuk pengangkutan tenda-tenda Kemah Suci (Bilangan 4). Ini bukanlah tugas yang mudah, tetapi mereka dibantu oleh lembu dan kereta-kereta.
Dalam persembahan yang dibawa ke gereja, kita ketahui bahwa semua anggota gereja berpartisipasi dalam cara yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa itu adalah kaabah mereka yang sesungguhnya.
Beribadah Bersama (Bil 8:5-13, 19)
Dalam Bilangan 8:5-13, kita baca mengenai dedikasi orang Lewi. Dalam ayat 10, orang Israel harus meletakkan tangannya di atas kepala orang-orang Lewi itu. “Ini merupakan tindakan simbolis. Beberapa komentator beranggapan bahwa hal ini mungkin dilakukan oleh para tua-tua, memindahkan pada kaum Lewi tugas keimamatan sehubungan dengan pelayanan dalam Kemah Suci. Kaum Lewi diserahkan kepada Allah gantinya anak sulung, dan sebagaimana satu keluarga dikuduskan dalam mempersembahkan anak sulung, demikian pula bangsa Israel dikuduskan.”1
Kaum Lewi bertanggungjawab untuk pelayanan kaabah. Hal ini bukan berarti bahwa bangsa Israel lainnya tidak perlu beribadah lagi, melainkan agar bangsa Israel dapat lebih fokus dalam peribadatannya. Salah satu tugas kaum Lewi adalah membuat korban perdamaian bagi dosa-dosa bangsa Israel, sehingga bangsa Israel dapat mendekat ke kaabah (ay 19) untuk beribadah pada Allah. Dengan mengkhususkan kaum Lewi untuk bekerja di kaabah, Allah memberikan bangsa Israel kebebasan untuk beribadah kepadaNya tanpa takut.
Lampu-Lampu (Bil. 8:1-3)
Adalah hal yang biasa bahwa lampu-lampu digunakan untuk penerangan dalam Kemah Suci untuk membantu para imam melakukan pekerjaan mereka dalam kaabah. Bagi perabotan dalam Kemah Suci, lampu-lampu adalah satu-satunya perlengkapan yang difokuskan dalam bagian ini di buku Bilangan. Instruksi yang diberikan disini tampak tidak berhubungan. Di tengah-tengah instruksi mengenai persembahan, tugas-tugas keimamatan, dan korban, pentingnya lampu, baik di dalam maupun di luar kaabah tidak dapat dikesampingkan. Dan Allah ingin memastikan bahwa kaum Lewi dapat melaksanakan pekerjaan mereka dengan baik di dalam Bait Kudus.
Dalam wahyu kepada Yohanes, kita melihat ada tujuh kaki dian, dan kita ketahui bahwa ketujuh kaki dian tersebut melambangkan ketujuh jemaat (Wah 1:20). Ini bukan kali pertama gereja dilambangkan dengan lampu. Yesus katakan agar kita menjadi terang dunia (Mat 5:14-16). Peribadatan kita adalah agar dapat menuntun orang untuk memuliakan Allah. Jika hidup kita tidak menuntun orang datang pada Tuhan kita adalah seperti sebuah lilin yang terletak di bawah mangkuk. “Kristus datang untuk melenyapkan kegelapan dan menunjukkan Bapa. Hal yang sama Kristus mintakan dari murid-muridNya. Terang bercahaya, bukan berarti supaya orang bisa melihat terang tersebut, tetapi agar mereka bisa melihat hal-hal lain, karena adanya cahaya. Terang yang kita miliki harus bercahaya, bukan supaya orang menjadi tertarik kepada diri kita, tetapi agar mereka tertarik kepada Kristus, yang adalah terang kehidupan, dan kepada hal-hal yang berguna (Mat 6:31-34, Yoh 6:27, Yes 55:1,2).”2
Dalam Keluaran 19:6, Allah katakan pada Musa bahwa bangsa Israel harus menjadi kerajaan imam, bangsa yang kudus. Dan sebagaimana tugas imam adalah menuntun orang untuk beribadah kepada Alah, bangsa Israel harus menolong bangsa-bangsa lain di dunia untuk datang kepada Allah dalam peribadatan. Pada zaman ini, hal tersebut merupakan tugas kita juga. Kita dipanggil untuk beribadah, tetapi kita tidak boleh berhenti di titik itu. Karena peribadatan sejati adalah juga menolong orang di sekitar kita memperkembang hubungan mereka dengan Allah.
REAKSI
1. Bagaimana mungkin ada sebuah bangsa yang isinya semua imam, seperti halnya sebuah pesawat yang semuanya diisi oleh pilot?
2. Tugas keimamatan apa yang Allah berikan untuk kita lakukan?
3. Bangsa Israel beribadah dengan membawa persembahan. Dalam kesempatan-kesempatan apa anda akan memberikan persembahan syukur?
4. Bagaimana anda dapat menunjukkan dengan cara yang kasat mata kesetiaan dan dedikasi anda pada Allah?
____________
1. The Seventh-day Adventist Bible Commentary, vol. 1, p. 852.
2. Ibid., vol. 5, p. 331.
Gerald Christo II, Tokuyama, Japan
Senin 12 Oktober
Mengasihi, Menghormati, dan Menghargai
KESAKSIAN
Maz 95:6
“Melalui kesetiaan dalam memelihara hari Sabat, Allah merancang agar bangsa Israel senantiasa diingatkan terhadap tanggungjawab mereka kepada Tuhan, yang adalah Pencipta dan Penebus. Ketika manusia memelihara hari Sabat dalam roh yang benar, roh penyembahan berhala tidak dapat berkuasa dalam jiwa. Tetapi jika perintah ini diabaikan dan dianggap tidak lagi berlaku, sang Pencipta akan terlupakan, dan manusia akan menyembah ilah lain.”1 Ibadah sejati diikuti dengan dedikasi yang tak terbagi dan tanpa syarat kepada Allah. Ketika menetapkan Sabat, Allah bermaksud melangsungkan sebuah perjanjian yang tak dapat dirubah. Pada dasarnya, kita diciptakan untuk menjadi orang-orang yang rohani dan berdedikasi.
“Ketika menyembah lembu emas, bangsa Israel mengaku bahwa mereka menyembah Allah, sehingga ketika Harun meresmikan penyembahan berhala tersebut, Harus berkata, “Besok adalah hari raya bagi Tuhan.” Bangsa Israel meminta agar dapat menyembah Tuhan seperti bangsa Mesir menyembah dewa Osiris, dalam wujud patung. Tetapi Alah tidak dapat menerima penyembahan seperti itu. Meskipun dibawakan dalam nama Tuhan, dewa mataharilah, bukan Yehova, yang menjadi objek sembahan mereka sesungguhnya.”2
Ibadah tanpa dedikasi dapat menipu. Objek sembahan dalam ibadah dapat hilang, bahkan di antara umat pilihan, bangsa Israel. Bangsa Israel, dalam penyembahan yang salah arah berbicara melalui kata-kata dan tindakan mereka. Tindakan mereka merupakan indikasi dimana sebenarnya hati mereka berada.
“Bangsa Israel tahu bahwa patung sembahan mereka tidak berdaya untuk menyelamatkan mereka atau untuk menghancurkan musuh. Mereka tahu bahwa ibadah kafir bertolak belakang dengan akal sehat. Namun dengan perlahan, mereka telah meninggalkan Tuhan, mereka telah memanjakan diri dengan dosa sampai akhirnya persepsi moral mereka menjadi tumpul, dan membuat mereka dituntun oleh setan.”3
Tindakan mengasihi, menghormati, dan menghargai waktu bersama Tuhan yang sesungguhnya ditunjukkan dengan kuantitas dan kualitas waktu yang kita gunakan untuk “menyembah dewa-dewa kita,” atau hal-hal sekuler lain yang menghabiskan waktu kita. Ibadah sejati menuntun kita kepada Yesus daripada kepada diri kita sendiri. Kita memiliki banyak hal yang dapat kita harapkan ketika mata kita memandang pada Yesus.
REAKSI
1. Persembahan apa yang anda berikan pada Tuhan dalam bentuk waktu, uang atau talenta?
2. Bagaimana persembahan-persembahan itu membuat anda merasa mengenai Allah? Mengapa?
3. Berapa banyak bagian dari hidup kerohanian anda yang dipersembahkan untuk ibadah dan dedikasi?
_____________
1. Lift Him Up, p. 137.
2. Patriarchs and Prophets, p. 760.
3. The Signs of the Times, August 18, 1881.
Tamar Paul, Hiroshima, Japan, and Longburn, New Zealand
Selasa 13 Oktober
Datang ke Tutup Pendamaian
BUKTI
Kel. 25:22
Setelah melepaskan bangsa Israel dari perbudakan dan menuntun mereka ke Tanah Perjanjian seperti yang Ia telah janjikan, Allah memperkenalkan diriNya lebih jauh kepada mereka. Benar bahwa hadiratnya bersama dengan bangsa Israel setiap hari melalui tiang api dan tiang awan (Kel 13:22). Akan tetapi sekarang Allah siap untuk memberikan instruksi kepada bangsa Israel mengenai cara perbaktian.
Allah melakukan ini dengan cara berbicara kepada Musa untuk menginstruksikan bangsa Israel untuk “membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Kel 25:8). Harinya tiba dimana umat pilihan Tuhan – semua yang percaya pada Tuhan – dapat datang kepadaNya setiap saat, di setiap tempat. Tetapi sekarang ini, kaabah dibangun di tempat dimana Allah dapat tinggal dengan mereka.
Dengan ketepatan yang tinggi, Allah menginstruksikan Musa mengenai bagaimana kaabah harus dibangun. Di dalam Kemah Suci, dalam bilik yang Maha Suci, ditempatkan tabut perjanjian. Di atas tabut perjanjian adalah tutup pendamaian. Tutup pendamaian dibuat dari emas murni, dengan dua kerubium emas ditempatkan di masing-masing ujung saling berhadapan satu sama lain – dengan sayap mereka yang menudungi tutup pendamaian. Tutup pendamaian ini terletak di bagian atas dari tabut perjanjian yang berisi Sepuluh Hukum (Kel 25: 17-22). 1 Sam 4:4 berkata bahwa Tuhan bersemayam di atas para kerub. Lebih jauh lagi, pada Hari Raya Perdamaian yang diadakan setiap tahun, imam besar masuk ke hadirat Tuhan di hadapan tutup pendamaian untuk mengadakan perdamaian atas dosa-dosa bangsa itu (Im 16:1-22).
Dalam tabut terdapat loh batu sepuluh hukum (Kel 25:16), segomer manna (Kel 16:32-34), dan tongkat Harun (Bil 17:10), semuanya merupakan pengingat akan pemberontakan Israel dalam perjalanan mereka ke tanah perjanjian. Dalam masa dimana kita hidup, tutup pendamaian tidak lagi berada di atas tabut perjanjian. Tutup pendamaian dapat ditemui di sisi tempat tidur, di tempat mencuci piring, di dalam mobil, di gereja, di taman, dimana saja ada kerinduan untuk beribadah pada Allah, atau ketika seorang meminta pengampunan dosa. Allah selalu dekat. Darah Anak Domba – Yesus Kristus – memungkinkan semua ini.
REAKSI
1. Bagaimana isi dari tabut perjanjian – pengingat akan pemberontakan Israel – dapat menguatkan anda mengenai kerinduan Allah untuk mengampuni pelanggaran manusia?
2. Meskipun melihat langsung kehadiran Allah, bangsa Israel seringkali gagal imannya. Bagaimana umat Kristen zaman ini dapat menghindari hal demikian?
3. 1 Korintus 3:16 mengingatkan bahwa kita adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kita. Bagaimana hal ini menolong kita untuk setiap hari berfokus pada Allah?
Calene Williams, Yokosuka, Kanagawa, Japan
Rabu 14 Oktober
Ketika Anda Ingin Memberi Lebih Banyak
BAGAIMANA
Bil 8:21, 22; Yer. 29:11−13
Mempelajari mengenai pelayanan dalam Kemah Suci membantu kita mengerti bagaimana Allah rindu akan kesetiaan dan dedikasi kita. Hal ini juga menolong kita mengerti apa yang diminta dari kita untuk memiliki hubungan denganNya dan untuk mengerti pentingnya memiliki komitmen dengan Tuhan. Pada mulanya, hati bangsa Israel dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan, bahkan persembahan mereka melebihi apa yang diminta. Mereka hanya ingin untuk memberi kepada Tuhan (Kel 36:3-7)! Salib Kristus menunjukkan berapa banyak Tuhan ingin berikan pada kita. Bagaimana kita dapat mengaplikasikan konsep ini dalam kehidupan kita?
Ambil waktu untuk mengerti tujuan anda. Ini bukan hal yang mudah, namun jika kita minta Tuhan yang menuntun, mempersiapkan, dan menggunakan kita, Tuhan akan menunjukkan rencananya bagi kita (Yer 29:11-13). Luangkan beberapa saat setiap hari untuk memastikan tujuan hidup anda, bukan hanya untuk hari itu saja, tetapi seumur hidup.
Ambil waktu untuk mempertimbangkan komitmen anda. Apakah komitmen pada Tuhan adalah sesuatu yang bersifat santai, hanya satu kali seumur hidup? Atau itu adalah sesuatu yang berkesinambungan, dinamis, dan bertumbuh? Ketika kita mencari Tuhan dengan segenap hati (Yer 29:13), dedikasi kita akan diperdalam, kepercayaan kita pada Tuhan akan diperkuat, dan kerinduan kita untuk menyebarkan kabar keselamatan akan bertumbuh.
Ambil waktu untuk mengetahui kebaikan Tuhan. Jika anda sungguh-sungguh mencintai seseorang, anda akan ingin untuk memberi lebih banyak lagi. Ketika anda menggunakan waktu untuk mempertimbangkan dan mengalami hidup berkelimpahan yang Tuhan tawarkan (Yoh 10:10) dan hidup yang kekal (Yoh 3:16) – hati anda akan memproduksi rasa syukur kepada Tuhan.
Kesimpulannya adalah, kita harus menyediakan waktu bagi Tuhan. Ketika kita melakukannya, sukacita, kedamaian dan ketenangan akan menjadi bagian kita.
REAKSI
1. Apakah kita harus membiarkan perasaan/emosi berperan kita ketika kita mempertimbangkan tingkat komitmen kita kepada Tuhan?
2. Dalam cara bagaimana kita dapat menyelaraskan tujuan kita dengan tujuan dan misi dari gereja Tuhan (Mat 28:19, 20)?
3. Hubungan yang intim dan sehat tidak terjadi secara tiba-tiba. Kalau begitu bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita menyediakan cukup waktu bersama Tuhan?
Brad Warden, Hiroshima, Japan
Kutipan: Salib Kristus menunjukkan berapa banyak Tuhan ingin berikan pada kita.
Kamis 15 Oktober
Perbaktian: Sebuah Gaya Hidup
OPINI
Kol. 1:15, 16
Pada suatu saat seorang teman saya memuja seorang penyanyi dari kelompok rock yang sedang terkenal. Dia berpakaian seperti penyanyi tersebut, menata rambutnya seperti penyanyi tersebut, dan bahkan memakai nama keluarga penyanyi tersebut. Mengapa sepertinya lebih mudah untuk memuja seorang manusia yang penuh cacat, tetapi sukar untuk membaktikan diri kita bagi Seseorang yang merupakan satu-satunya yang layak dipuja?
Allah memberikan instruksi yang spesifik mengenai bagaimana Ia ingin Kemah Suci dan tata cara perbaktiannya dilaksanakan. Instruksi yang detail tersebut adalah untuk menunjukkan kepada bangsa Israel dan bagi kita akan pentingnya dan khususnya perbaktian pada Allah.
Buku Bilangan menceritakan mengenai sekelompok orang yang dalam perjalanan, bukan hanya untuk mencari Tuhan, tetapi untuk mencari jati diri mereka sendiri. Kemah Suci memberi mereka rasa kekeluargaan dan rasa memiliki. Melalui lambang-lambang dalam Kemah Suci, mereka dapat belajar menjadi jenis keluarga yang Tuhan inginkan.
Perbaktian kita pada zaman ini tidak hanya dalam berkumpul bersama dan menyanyi lagu pujian. Perbaktian kita juga harus merupakan sesuatu yang bersifat pribadi. Perbaktian kita harus mencerminkan bahwa segenap aspek kehidupan kita adalah milik Tuhan. Kita harus menghidupkan kehidupan yang merupakan respons yang berkesinambungan terhadap Allah dan segala sesuatu yang Ia telah berikan bagi kita. Dengan demikian kita memiliki gaya hidup yang senantiasa berbakti kepada Allah.
Sangat disayangkan oleh karena banyak dari kita telah belajar untuk membagi-bagi hidup kita sedemikian rupa dimana perbakitan hanya masuk kedalam bagian kehidupan tertentu, terpisah dari aspek kehidupan lainnya. Kolose 1:16 menulis, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Allah tidak bermaksud agar sebagian dari kehidupan kita bersifat duniawi dan sebagian lagi bersifat religius. Ia menciptakan semua dalam hidup kita bagi kemuliaan-Nya. Kita seringkali lupa bahwa Allahlah alasan mengapa kita ada, dan bahwa Ia peduli dengan setiap aspek dari kehidupan kita. Kita harus senantiasa mengingat bahwa segala sesuatu dalam hidup kita berasal dari Tuhan. Dari sinilah ibadah yang sejati dimulai.
REAKSI
1. Apakah menghidupkan kehidupan yang beribadah secara berkesinambungan berarti bahwa tidak ada lagi tempat untuk aktivitas duniawi? Jelaskan.
2. Haruskah ada pembedaan antara apa itu sekuler dan apa itu religius? Jelaskan
3. Bagaimana kita memastikan bahwa berada dalam kehidupan yang beribadah secara berkesinambungan bukan berarti mengucilkan diri dari lingkungan sekitar kita?
Naphirisa Christo, Tokuyama, Japan
Jumat 16 Oktober
Perwakilan Raja
PENDALAMAN
Maz. 63:1–8; Maz 99
SIMPULKAN
Dalam cerita fiktif anak-anak, Bintang Kuning: Legenda Raja Kristen X dari Denmark, Raja Kristen memberontak terhadap rezim Nazi dalam usahanya untuk membedakan orang Yahudi dari penduduk Denmark lain dengan cara mengenakan sebuah bintang pada bajunya. Raja ini mengenakan sebuah bintang pada bajunya sendiri, dengan demikian memberi inspirasi kepada bangsanya untuk melakukan hal yang sama.
Bagaimana orang-orang mengetahui bahwa kita adalah milik Yesus? Kita memiliki kesempatan untuk membaktikan waktu dan talenta kita setiap hari bagi Raja Segala Raja. Dengan demikian karakter kita akan menjadi serupa dengan karakter Yesus. Ketika kita melayani, menghormati, mensyukuri, dan menuruti Allah, orang lain akan terinspirasi untuk mengenal satu-satunya Allah yang benar, Terang Dunia, dan orang lain bisa mengikut jejak kita untuk berbakti pada Allah. Peribadatan kita dapat menjadi saksi bagi orang di sekitar kita.
PERTIMBANGKAN
■ Melihat gambar orang-orang dan hal-hal yang merupakan ciptaan Allah. Gunakan waktu untuk bersyukur atas berkat-berkatNya.
■ Bandingkan tanaman yang sehat dengan tanaman yang mati. Bayangkan kehidupan dalam suasana yang sempurna.
■ Temukan sebuah tempat terbuka dimana anda dapat menghafal atau membaca Mazmur 23.
■ Susun sebuah karya musik dengan nada yang megah. Mainkan musik itu bagi orang lain dan perhatikan bagaimana musik itu mempengaruhi orang tersebut.
■ Berjalan atau naik gunung dan puji nama Tuhan atas segala yang anda lihat dan dengar yang menunjukkan kebaikan Tuhan.
■ Rayakan hari ulang tahun atau baptisan seorang teman. Minta teman tersebut untuk membagi kesaksian dari pengalaman hidupnya.
■ Catat perubahan dari musim ke musim. Perhatikan pertumbuhan tanaman dan binatang dan lihat pekerjaan tangan Tuhan dengan lebih detail.
HUBUNGKAN
Chris Blake, Searching for a God to Love.
“Sanctuary,”Praise Time, Nampa, ID: Pacific Press® Publishing Association, 2001), p. 89.
Romans 12:1, 2.
Kelly Harden, Los Alamos, New Mexico
IBADAH DAN DEDIKASI
Diterjemahkan Oleh: Alwin Simanjuntak
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang member dengan sukacita.” (2 Kor 9:7)
Sabat 10 Oktober
Kepada: Semua yang senang belanja!
PENDAHULUAN
Yer. 10:23; Kol. 3:2
Setiap Sabat pagi, ketika masih remaja, saya memiliki sesuatu untuk diputuskan. Ada 72 gereja Advent dalam radius 48 kilometer dari rumah saya. Jadi pertanyaannya bukan apakah akan ke gereja atau tidak, tetapi gereja mana yang akan dikunjungi.
Dengan banyaknya gereja, terkadang sulit untuk merasa tidak merasa bahwa anda sedang berada di pusat perbelanjaan. Banyak orang menggunakan waktu dan tenaga untuk “berbelanja” memilih gereja yang tepat. Gereja mana yang memiliki perkumpulan pemuda paling aktif? Apakah khotbahnya berhubungan dengan kehidupan saya? Apakah jenis musiknya sesuai dengan yang saya mau? Apakah itu memenuhi kebutuhan saya?
Beberapa orang menjabarkan dengan lebih detail. Mereka menghadiri satu gereja untuk mengikuti Sekolah Sabat, kemudian pindah ke gereja lain untuk mendengarkan kelompok penyanyi yang merdu, kemudian pindah ke gereja lain untuk mendengarkan pendeta terkenal berkhotbah. Dan sesudah itu pergi ke gereja yang potluck-nya lezat. Menjelang sabat berakhir anda telah terberkati dengan musik yang bagus, khotbah yang indah, dan potluck yang enak. Tetapi apa yang diri anda telah berikan?
Memang tidak salah untuk mencari gereja yang tepat. Tetapi kita juga perlu mengingatkan diri kita apa arti ibadah yang sebenarnya. Sebagai manusia, adalah wajar kalau kita mencari sesuatu yang memenuhi apa yang kita butuhkan. Tetapi ketika kita berbakti, fokusnya bukanlah apa yang kita bisa dapat dari gereja.
Tetapi ibadah adalah mengenai Tuhan.
Ibadah adalah mengenai menghormati Satu-Satunya Yang Layak Dipuji – Khalik Semesta Alam, yang memelihara kita. Ketika kita beribadah kepada Tuhan, kita mengembalikan waktu dan talenta yang telah diberikan kepada kita. Adalah tugas dan kesempatan bagi kita untuk menggunakan apa yang Tuhan telah berikan untuk melayani Tuhan, menghormati Tuhan, dan memuji Tuhan. Dia tidak pernah melupakan kita. Kitapun tidak boleh melupakan Tuhan, dalam peribadatan kita.
Ketika anda mempelajari pelajaran minggu ini mengenai ibadah dan dedikasi pada Bilangan 7 dan 8, ingatkan diri anda akan Siapa yang menjadi fokus ibadah anda.
Lisa Takahashi, Calimesa, Hiroshima, Japan
Minggu 11 Oktober
Dipanggil Untuk Beribadah
LOGOS
Kel. 25:22; Bilangan 7; 8:1−3, 5−19; Zak. 4:1−6, 11−14; Wah. 4:2−5; 11:4.
Dengan konstruksi Kemah Suci, Tuhan telah menjabarkan dengan jelas maksudNya untuk terlibat secara aktif dalam perkembangan dan pertumbuhan bangsa Israel. Meskipun Ia telah bercakap-cakap dengan Musa sebelum adanya Kemah Suci, kemungkinan Tuhan menghendaki adanya tempat pertemuan dimana Ia selalu dapat ditemui oleh setiap orang. Ia menginginkan sebuah hubungan, bukan hanya dengan Musa, tetapi dengan seluruh bangsa Israel. Dan hubungan ini harus merupakan sesuatu yang khusus dan istimewa.
Kesetiaan dan Dedikasi (Bil. 7)
Dalam penyerahan di altar, setiap pemimpin suku membawa persembahan. Setiap pemimpin dari kedua belas suku Israel membawa jenis persembahan yang sama. Bilangan adalah pasal yang agak membosankan untuk dibaca. Bagi Allah, setiap persembahan dalam ibadah adalah special dan diperhatikan, walaupun hanya dua peser. Markus 12:42-44. Allah tidak meminta peribadatan yang lebih banyak dari seseorang daripada dari orang yang lain. Nilai pemberian kita kepada Tuhan tidak ditentukan oleh nilai yang masyarakat sekeliling kita tentukan pada pemberian tersebut, melainkan pada tingkat pengorbanan diri yang dilambangkan dari pemberian tersebut.
Daftar pemberian yang panjang yang tercantum dalam Bilangan 7 juga mengingatkan kita akan pentingnya memberi dan untuk menandakan secara kasat mata kesetiaan dan dedikasi kita terhadap Pencipta dan Penebus kita.
Berbagi Tugas (Bil 7:1-10)
Setelah pengurapan dan penyerahan Kemah Suci, pemimpin dari dua belas suku Israel secara sukarela membawa lembu dan kereta ke Kemah Suci. Bani Gerson, Merari dan Kehat bertanggungjawab untuk pengangkutan tenda-tenda Kemah Suci (Bilangan 4). Ini bukanlah tugas yang mudah, tetapi mereka dibantu oleh lembu dan kereta-kereta.
Dalam persembahan yang dibawa ke gereja, kita ketahui bahwa semua anggota gereja berpartisipasi dalam cara yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa itu adalah kaabah mereka yang sesungguhnya.
Beribadah Bersama (Bil 8:5-13, 19)
Dalam Bilangan 8:5-13, kita baca mengenai dedikasi orang Lewi. Dalam ayat 10, orang Israel harus meletakkan tangannya di atas kepala orang-orang Lewi itu. “Ini merupakan tindakan simbolis. Beberapa komentator beranggapan bahwa hal ini mungkin dilakukan oleh para tua-tua, memindahkan pada kaum Lewi tugas keimamatan sehubungan dengan pelayanan dalam Kemah Suci. Kaum Lewi diserahkan kepada Allah gantinya anak sulung, dan sebagaimana satu keluarga dikuduskan dalam mempersembahkan anak sulung, demikian pula bangsa Israel dikuduskan.”1
Kaum Lewi bertanggungjawab untuk pelayanan kaabah. Hal ini bukan berarti bahwa bangsa Israel lainnya tidak perlu beribadah lagi, melainkan agar bangsa Israel dapat lebih fokus dalam peribadatannya. Salah satu tugas kaum Lewi adalah membuat korban perdamaian bagi dosa-dosa bangsa Israel, sehingga bangsa Israel dapat mendekat ke kaabah (ay 19) untuk beribadah pada Allah. Dengan mengkhususkan kaum Lewi untuk bekerja di kaabah, Allah memberikan bangsa Israel kebebasan untuk beribadah kepadaNya tanpa takut.
Lampu-Lampu (Bil. 8:1-3)
Adalah hal yang biasa bahwa lampu-lampu digunakan untuk penerangan dalam Kemah Suci untuk membantu para imam melakukan pekerjaan mereka dalam kaabah. Bagi perabotan dalam Kemah Suci, lampu-lampu adalah satu-satunya perlengkapan yang difokuskan dalam bagian ini di buku Bilangan. Instruksi yang diberikan disini tampak tidak berhubungan. Di tengah-tengah instruksi mengenai persembahan, tugas-tugas keimamatan, dan korban, pentingnya lampu, baik di dalam maupun di luar kaabah tidak dapat dikesampingkan. Dan Allah ingin memastikan bahwa kaum Lewi dapat melaksanakan pekerjaan mereka dengan baik di dalam Bait Kudus.
Dalam wahyu kepada Yohanes, kita melihat ada tujuh kaki dian, dan kita ketahui bahwa ketujuh kaki dian tersebut melambangkan ketujuh jemaat (Wah 1:20). Ini bukan kali pertama gereja dilambangkan dengan lampu. Yesus katakan agar kita menjadi terang dunia (Mat 5:14-16). Peribadatan kita adalah agar dapat menuntun orang untuk memuliakan Allah. Jika hidup kita tidak menuntun orang datang pada Tuhan kita adalah seperti sebuah lilin yang terletak di bawah mangkuk. “Kristus datang untuk melenyapkan kegelapan dan menunjukkan Bapa. Hal yang sama Kristus mintakan dari murid-muridNya. Terang bercahaya, bukan berarti supaya orang bisa melihat terang tersebut, tetapi agar mereka bisa melihat hal-hal lain, karena adanya cahaya. Terang yang kita miliki harus bercahaya, bukan supaya orang menjadi tertarik kepada diri kita, tetapi agar mereka tertarik kepada Kristus, yang adalah terang kehidupan, dan kepada hal-hal yang berguna (Mat 6:31-34, Yoh 6:27, Yes 55:1,2).”2
Dalam Keluaran 19:6, Allah katakan pada Musa bahwa bangsa Israel harus menjadi kerajaan imam, bangsa yang kudus. Dan sebagaimana tugas imam adalah menuntun orang untuk beribadah kepada Alah, bangsa Israel harus menolong bangsa-bangsa lain di dunia untuk datang kepada Allah dalam peribadatan. Pada zaman ini, hal tersebut merupakan tugas kita juga. Kita dipanggil untuk beribadah, tetapi kita tidak boleh berhenti di titik itu. Karena peribadatan sejati adalah juga menolong orang di sekitar kita memperkembang hubungan mereka dengan Allah.
REAKSI
1. Bagaimana mungkin ada sebuah bangsa yang isinya semua imam, seperti halnya sebuah pesawat yang semuanya diisi oleh pilot?
2. Tugas keimamatan apa yang Allah berikan untuk kita lakukan?
3. Bangsa Israel beribadah dengan membawa persembahan. Dalam kesempatan-kesempatan apa anda akan memberikan persembahan syukur?
4. Bagaimana anda dapat menunjukkan dengan cara yang kasat mata kesetiaan dan dedikasi anda pada Allah?
____________
1. The Seventh-day Adventist Bible Commentary, vol. 1, p. 852.
2. Ibid., vol. 5, p. 331.
Gerald Christo II, Tokuyama, Japan
Senin 12 Oktober
Mengasihi, Menghormati, dan Menghargai
KESAKSIAN
Maz 95:6
“Melalui kesetiaan dalam memelihara hari Sabat, Allah merancang agar bangsa Israel senantiasa diingatkan terhadap tanggungjawab mereka kepada Tuhan, yang adalah Pencipta dan Penebus. Ketika manusia memelihara hari Sabat dalam roh yang benar, roh penyembahan berhala tidak dapat berkuasa dalam jiwa. Tetapi jika perintah ini diabaikan dan dianggap tidak lagi berlaku, sang Pencipta akan terlupakan, dan manusia akan menyembah ilah lain.”1 Ibadah sejati diikuti dengan dedikasi yang tak terbagi dan tanpa syarat kepada Allah. Ketika menetapkan Sabat, Allah bermaksud melangsungkan sebuah perjanjian yang tak dapat dirubah. Pada dasarnya, kita diciptakan untuk menjadi orang-orang yang rohani dan berdedikasi.
“Ketika menyembah lembu emas, bangsa Israel mengaku bahwa mereka menyembah Allah, sehingga ketika Harun meresmikan penyembahan berhala tersebut, Harus berkata, “Besok adalah hari raya bagi Tuhan.” Bangsa Israel meminta agar dapat menyembah Tuhan seperti bangsa Mesir menyembah dewa Osiris, dalam wujud patung. Tetapi Alah tidak dapat menerima penyembahan seperti itu. Meskipun dibawakan dalam nama Tuhan, dewa mataharilah, bukan Yehova, yang menjadi objek sembahan mereka sesungguhnya.”2
Ibadah tanpa dedikasi dapat menipu. Objek sembahan dalam ibadah dapat hilang, bahkan di antara umat pilihan, bangsa Israel. Bangsa Israel, dalam penyembahan yang salah arah berbicara melalui kata-kata dan tindakan mereka. Tindakan mereka merupakan indikasi dimana sebenarnya hati mereka berada.
“Bangsa Israel tahu bahwa patung sembahan mereka tidak berdaya untuk menyelamatkan mereka atau untuk menghancurkan musuh. Mereka tahu bahwa ibadah kafir bertolak belakang dengan akal sehat. Namun dengan perlahan, mereka telah meninggalkan Tuhan, mereka telah memanjakan diri dengan dosa sampai akhirnya persepsi moral mereka menjadi tumpul, dan membuat mereka dituntun oleh setan.”3
Tindakan mengasihi, menghormati, dan menghargai waktu bersama Tuhan yang sesungguhnya ditunjukkan dengan kuantitas dan kualitas waktu yang kita gunakan untuk “menyembah dewa-dewa kita,” atau hal-hal sekuler lain yang menghabiskan waktu kita. Ibadah sejati menuntun kita kepada Yesus daripada kepada diri kita sendiri. Kita memiliki banyak hal yang dapat kita harapkan ketika mata kita memandang pada Yesus.
REAKSI
1. Persembahan apa yang anda berikan pada Tuhan dalam bentuk waktu, uang atau talenta?
2. Bagaimana persembahan-persembahan itu membuat anda merasa mengenai Allah? Mengapa?
3. Berapa banyak bagian dari hidup kerohanian anda yang dipersembahkan untuk ibadah dan dedikasi?
_____________
1. Lift Him Up, p. 137.
2. Patriarchs and Prophets, p. 760.
3. The Signs of the Times, August 18, 1881.
Tamar Paul, Hiroshima, Japan, and Longburn, New Zealand
Selasa 13 Oktober
Datang ke Tutup Pendamaian
BUKTI
Kel. 25:22
Setelah melepaskan bangsa Israel dari perbudakan dan menuntun mereka ke Tanah Perjanjian seperti yang Ia telah janjikan, Allah memperkenalkan diriNya lebih jauh kepada mereka. Benar bahwa hadiratnya bersama dengan bangsa Israel setiap hari melalui tiang api dan tiang awan (Kel 13:22). Akan tetapi sekarang Allah siap untuk memberikan instruksi kepada bangsa Israel mengenai cara perbaktian.
Allah melakukan ini dengan cara berbicara kepada Musa untuk menginstruksikan bangsa Israel untuk “membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Kel 25:8). Harinya tiba dimana umat pilihan Tuhan – semua yang percaya pada Tuhan – dapat datang kepadaNya setiap saat, di setiap tempat. Tetapi sekarang ini, kaabah dibangun di tempat dimana Allah dapat tinggal dengan mereka.
Dengan ketepatan yang tinggi, Allah menginstruksikan Musa mengenai bagaimana kaabah harus dibangun. Di dalam Kemah Suci, dalam bilik yang Maha Suci, ditempatkan tabut perjanjian. Di atas tabut perjanjian adalah tutup pendamaian. Tutup pendamaian dibuat dari emas murni, dengan dua kerubium emas ditempatkan di masing-masing ujung saling berhadapan satu sama lain – dengan sayap mereka yang menudungi tutup pendamaian. Tutup pendamaian ini terletak di bagian atas dari tabut perjanjian yang berisi Sepuluh Hukum (Kel 25: 17-22). 1 Sam 4:4 berkata bahwa Tuhan bersemayam di atas para kerub. Lebih jauh lagi, pada Hari Raya Perdamaian yang diadakan setiap tahun, imam besar masuk ke hadirat Tuhan di hadapan tutup pendamaian untuk mengadakan perdamaian atas dosa-dosa bangsa itu (Im 16:1-22).
Dalam tabut terdapat loh batu sepuluh hukum (Kel 25:16), segomer manna (Kel 16:32-34), dan tongkat Harun (Bil 17:10), semuanya merupakan pengingat akan pemberontakan Israel dalam perjalanan mereka ke tanah perjanjian. Dalam masa dimana kita hidup, tutup pendamaian tidak lagi berada di atas tabut perjanjian. Tutup pendamaian dapat ditemui di sisi tempat tidur, di tempat mencuci piring, di dalam mobil, di gereja, di taman, dimana saja ada kerinduan untuk beribadah pada Allah, atau ketika seorang meminta pengampunan dosa. Allah selalu dekat. Darah Anak Domba – Yesus Kristus – memungkinkan semua ini.
REAKSI
1. Bagaimana isi dari tabut perjanjian – pengingat akan pemberontakan Israel – dapat menguatkan anda mengenai kerinduan Allah untuk mengampuni pelanggaran manusia?
2. Meskipun melihat langsung kehadiran Allah, bangsa Israel seringkali gagal imannya. Bagaimana umat Kristen zaman ini dapat menghindari hal demikian?
3. 1 Korintus 3:16 mengingatkan bahwa kita adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kita. Bagaimana hal ini menolong kita untuk setiap hari berfokus pada Allah?
Calene Williams, Yokosuka, Kanagawa, Japan
Rabu 14 Oktober
Ketika Anda Ingin Memberi Lebih Banyak
BAGAIMANA
Bil 8:21, 22; Yer. 29:11−13
Mempelajari mengenai pelayanan dalam Kemah Suci membantu kita mengerti bagaimana Allah rindu akan kesetiaan dan dedikasi kita. Hal ini juga menolong kita mengerti apa yang diminta dari kita untuk memiliki hubungan denganNya dan untuk mengerti pentingnya memiliki komitmen dengan Tuhan. Pada mulanya, hati bangsa Israel dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan, bahkan persembahan mereka melebihi apa yang diminta. Mereka hanya ingin untuk memberi kepada Tuhan (Kel 36:3-7)! Salib Kristus menunjukkan berapa banyak Tuhan ingin berikan pada kita. Bagaimana kita dapat mengaplikasikan konsep ini dalam kehidupan kita?
Ambil waktu untuk mengerti tujuan anda. Ini bukan hal yang mudah, namun jika kita minta Tuhan yang menuntun, mempersiapkan, dan menggunakan kita, Tuhan akan menunjukkan rencananya bagi kita (Yer 29:11-13). Luangkan beberapa saat setiap hari untuk memastikan tujuan hidup anda, bukan hanya untuk hari itu saja, tetapi seumur hidup.
Ambil waktu untuk mempertimbangkan komitmen anda. Apakah komitmen pada Tuhan adalah sesuatu yang bersifat santai, hanya satu kali seumur hidup? Atau itu adalah sesuatu yang berkesinambungan, dinamis, dan bertumbuh? Ketika kita mencari Tuhan dengan segenap hati (Yer 29:13), dedikasi kita akan diperdalam, kepercayaan kita pada Tuhan akan diperkuat, dan kerinduan kita untuk menyebarkan kabar keselamatan akan bertumbuh.
Ambil waktu untuk mengetahui kebaikan Tuhan. Jika anda sungguh-sungguh mencintai seseorang, anda akan ingin untuk memberi lebih banyak lagi. Ketika anda menggunakan waktu untuk mempertimbangkan dan mengalami hidup berkelimpahan yang Tuhan tawarkan (Yoh 10:10) dan hidup yang kekal (Yoh 3:16) – hati anda akan memproduksi rasa syukur kepada Tuhan.
Kesimpulannya adalah, kita harus menyediakan waktu bagi Tuhan. Ketika kita melakukannya, sukacita, kedamaian dan ketenangan akan menjadi bagian kita.
REAKSI
1. Apakah kita harus membiarkan perasaan/emosi berperan kita ketika kita mempertimbangkan tingkat komitmen kita kepada Tuhan?
2. Dalam cara bagaimana kita dapat menyelaraskan tujuan kita dengan tujuan dan misi dari gereja Tuhan (Mat 28:19, 20)?
3. Hubungan yang intim dan sehat tidak terjadi secara tiba-tiba. Kalau begitu bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita menyediakan cukup waktu bersama Tuhan?
Brad Warden, Hiroshima, Japan
Kutipan: Salib Kristus menunjukkan berapa banyak Tuhan ingin berikan pada kita.
Kamis 15 Oktober
Perbaktian: Sebuah Gaya Hidup
OPINI
Kol. 1:15, 16
Pada suatu saat seorang teman saya memuja seorang penyanyi dari kelompok rock yang sedang terkenal. Dia berpakaian seperti penyanyi tersebut, menata rambutnya seperti penyanyi tersebut, dan bahkan memakai nama keluarga penyanyi tersebut. Mengapa sepertinya lebih mudah untuk memuja seorang manusia yang penuh cacat, tetapi sukar untuk membaktikan diri kita bagi Seseorang yang merupakan satu-satunya yang layak dipuja?
Allah memberikan instruksi yang spesifik mengenai bagaimana Ia ingin Kemah Suci dan tata cara perbaktiannya dilaksanakan. Instruksi yang detail tersebut adalah untuk menunjukkan kepada bangsa Israel dan bagi kita akan pentingnya dan khususnya perbaktian pada Allah.
Buku Bilangan menceritakan mengenai sekelompok orang yang dalam perjalanan, bukan hanya untuk mencari Tuhan, tetapi untuk mencari jati diri mereka sendiri. Kemah Suci memberi mereka rasa kekeluargaan dan rasa memiliki. Melalui lambang-lambang dalam Kemah Suci, mereka dapat belajar menjadi jenis keluarga yang Tuhan inginkan.
Perbaktian kita pada zaman ini tidak hanya dalam berkumpul bersama dan menyanyi lagu pujian. Perbaktian kita juga harus merupakan sesuatu yang bersifat pribadi. Perbaktian kita harus mencerminkan bahwa segenap aspek kehidupan kita adalah milik Tuhan. Kita harus menghidupkan kehidupan yang merupakan respons yang berkesinambungan terhadap Allah dan segala sesuatu yang Ia telah berikan bagi kita. Dengan demikian kita memiliki gaya hidup yang senantiasa berbakti kepada Allah.
Sangat disayangkan oleh karena banyak dari kita telah belajar untuk membagi-bagi hidup kita sedemikian rupa dimana perbakitan hanya masuk kedalam bagian kehidupan tertentu, terpisah dari aspek kehidupan lainnya. Kolose 1:16 menulis, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Allah tidak bermaksud agar sebagian dari kehidupan kita bersifat duniawi dan sebagian lagi bersifat religius. Ia menciptakan semua dalam hidup kita bagi kemuliaan-Nya. Kita seringkali lupa bahwa Allahlah alasan mengapa kita ada, dan bahwa Ia peduli dengan setiap aspek dari kehidupan kita. Kita harus senantiasa mengingat bahwa segala sesuatu dalam hidup kita berasal dari Tuhan. Dari sinilah ibadah yang sejati dimulai.
REAKSI
1. Apakah menghidupkan kehidupan yang beribadah secara berkesinambungan berarti bahwa tidak ada lagi tempat untuk aktivitas duniawi? Jelaskan.
2. Haruskah ada pembedaan antara apa itu sekuler dan apa itu religius? Jelaskan
3. Bagaimana kita memastikan bahwa berada dalam kehidupan yang beribadah secara berkesinambungan bukan berarti mengucilkan diri dari lingkungan sekitar kita?
Naphirisa Christo, Tokuyama, Japan
Jumat 16 Oktober
Perwakilan Raja
PENDALAMAN
Maz. 63:1–8; Maz 99
SIMPULKAN
Dalam cerita fiktif anak-anak, Bintang Kuning: Legenda Raja Kristen X dari Denmark, Raja Kristen memberontak terhadap rezim Nazi dalam usahanya untuk membedakan orang Yahudi dari penduduk Denmark lain dengan cara mengenakan sebuah bintang pada bajunya. Raja ini mengenakan sebuah bintang pada bajunya sendiri, dengan demikian memberi inspirasi kepada bangsanya untuk melakukan hal yang sama.
Bagaimana orang-orang mengetahui bahwa kita adalah milik Yesus? Kita memiliki kesempatan untuk membaktikan waktu dan talenta kita setiap hari bagi Raja Segala Raja. Dengan demikian karakter kita akan menjadi serupa dengan karakter Yesus. Ketika kita melayani, menghormati, mensyukuri, dan menuruti Allah, orang lain akan terinspirasi untuk mengenal satu-satunya Allah yang benar, Terang Dunia, dan orang lain bisa mengikut jejak kita untuk berbakti pada Allah. Peribadatan kita dapat menjadi saksi bagi orang di sekitar kita.
PERTIMBANGKAN
■ Melihat gambar orang-orang dan hal-hal yang merupakan ciptaan Allah. Gunakan waktu untuk bersyukur atas berkat-berkatNya.
■ Bandingkan tanaman yang sehat dengan tanaman yang mati. Bayangkan kehidupan dalam suasana yang sempurna.
■ Temukan sebuah tempat terbuka dimana anda dapat menghafal atau membaca Mazmur 23.
■ Susun sebuah karya musik dengan nada yang megah. Mainkan musik itu bagi orang lain dan perhatikan bagaimana musik itu mempengaruhi orang tersebut.
■ Berjalan atau naik gunung dan puji nama Tuhan atas segala yang anda lihat dan dengar yang menunjukkan kebaikan Tuhan.
■ Rayakan hari ulang tahun atau baptisan seorang teman. Minta teman tersebut untuk membagi kesaksian dari pengalaman hidupnya.
■ Catat perubahan dari musim ke musim. Perhatikan pertumbuhan tanaman dan binatang dan lihat pekerjaan tangan Tuhan dengan lebih detail.
HUBUNGKAN
Chris Blake, Searching for a God to Love.
“Sanctuary,”Praise Time, Nampa, ID: Pacific Press® Publishing Association, 2001), p. 89.
Romans 12:1, 2.
Kelly Harden, Los Alamos, New Mexico
Saturday, 3 October 2009
SSCQ Pelajaran 2 Kwartal IV tahun 2009
SSCQ Edisi bahasa Indonesia, Triwulan IV, Pelajaran 2, 3—10 Oktober 2009
MEMPERSIAPKAN SUATU UMAT
Diterjemahkan oleh: Daniel Saputra
“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” (3 Yohn 1:2, NKJV).
Sabbath 3 Oktober
Persiapan untuk Perjalanan Utama
PENDAHULUAN
Bilangan 5, 6
Seberapa sering orang tuamu, profesor, atau pemimpin gereja membujukmu untuk bersiap akan sebuah kejadian khusus? Kita semua mungkin setuju bahwa untuk suatu tujuan besar yang telah ditetapkan diperlukan suatu persiapan. Kita bersiap untuk kuliah, bersiap untuk pernikahan dan berbagai perayaan hari keagamaan. Kita bekerja tanpa lelah bila sebuah kejadian besar akan terjadi atau bahkan hanya untuk acara hari ke hari. Tidakkah kita juga mesti bersiap untuk bertemu dengan Tuhan? Kita dapat menikmati momen khusus kehidupan bila segalanya teratur. Tidak ada hal yang lebih penting dalam momen khusus dan kejadian daripada beraudiensi dengan Tuhan dan menjadi bagian dari KerajaanNYA.
Minggu ini kita akan mempelajari beberapa perikop Alkitab yang menantang kita untuk mempersiapkan diri kita untuk kedatangan Kerajaan Allah. Sebagai umat yang tujuan utamanya adalah memasuki Kerajaan Allah, kita telah diperlengkapi dengan kompas moral dan juga rohani untuk menuntun kita dalam persiapan. Bilangan 5 dan 6 mengandung beberapa kodeks etika dan moral yang dapat kita pelajari.
Hal-hal besar membutuhkan persiapan! Tanggung jawab utama kita adakah memastikan kita secara rohani benar dengan Allah. Karenanya, kita mesti mencampkan imoralitas, hati yang tak mau mengampuni, ketidak setiaan dan lain-lain. Sementara kita bersiap, kita dipanggil untuk Berhenti! Berbalik 180 derajat ke arah Allah. Jika kita tidak mempersipakan pikiran dan tubuh kita untuk bertindak, kita tidak akan mempunyai kekuatan rohani untuk mengendalikan tubuh kita, untuk memuliakan Allah, dan menghadapi badai dalam perjalanan kita.
Minggu ini, kita mesti berpikir tentang persiapan mental dan fisik yang dibutuhkan untuk memasuki kerajaan Allah. Jika kita mengabaikan gizi tubuh dan pikiran, kita akan kalah dalam pertempuran dengan dosa. Sama seperti seorang tentara yang tidak siap untuk berperang, kita akan kalah dalam pertempuran; kita akan kehilangan kerajaan. Adalah jelas sebagai umat yang bergerak, sebagai umat yang mencari jalan ke Tanah Perjanjian, sebagai umat yang dipanggil Allah, kita dapat belajar dari buku Bilangan.
Sama seperti kebanyakan momen spesial yang kita persiapkan untuk tema spesial (pesta, pernikahan, dsb) dan perlengkapan yang ingin kita masukan, demikianlah pula persiapan untuk Kerajaan Allah. Bacalah Galatia 5:22-24. Marilah kita bersiap untuk hari khusus Yesus dengan memenuhi hidup kita dengan perlengkapan spesial ini.
Karena kita sekarang sedang menuju ke persiapan terbesar dalam hidup, tanyailah sepanjang minggu ini apa yang menjadi penghalang dalam hidupmu untuk mempersiapkan diri bagi kerajaan itu. Pintalah Allah untuk menunjukan lebih banyak cara untukmu mempersiapkan diri.
Helyne Frederick, Lubbock, Texas, U.S.A.
Minggu 4 Oktober
Keranjang Sehat, Apel Sehat
BUKTI
Bilangan 5, 6; Yohanes 17:20-23
Setelah Dia menuntun orang Israel keluar dari Mesir, Allah mulai mentransformasi umatnya yang bebas dan terfragmentasi menjadi suatu bangsa dengan hati yang satu dan bersaksi (Keluaran 13-17). Dari Keluaran sampai Ulangan, Dia mengajarkan orang Israel secara tepat bagaimana mengatur masyarakat mereka yang baru. Setiap hukum upacara dan sosial mengingatkan orang Israel akan tanggung jawab mereka kepada Allah dan mengikat hubungan mereka satu sama lain. Dengan menerapkan prinsip-prinsipNYA kepada semua aspek hidup mereka, umat Allah belajar bagaimana menghormati Allah, menjadikan masyarakat mereka sehat, dan kesaksian mereka menjadi murni.
Hukum yang Allah berikan kepada Musa menunjukan perhatianNya yang mendalam kepada orang Israel, kesehatan medis mereka, hubungan sosial, kesetiaan pernikahan, dan sumpah pribadi mereka kepada Dia. Dalam Bilangan 5, Allah mengajarkan Musa untuk menghentikan penyakit berbahaya menular dengan mengkarantina orang yang terinfeksi. Allah kemudian lebih mempertegas peraturan sosial dengan memecahkan konfliks.
Peraturan Karantina orang Israel menghentikan penyakit fisik menguasai mereka, tetapi aturang penggantian mereka bahkan dirancang untuk membunuh parasit yang bahkan lebih berbahaya. Cemburu, marah, kebencian, keluh kesah akan secara menurunkan masyarakat ke yang lebih buruk lagi. Karena itulah setiap anggota masyarakat mesti bekerjasama dengan aturan yang dibuat Allah. Peraturan itu mendukung kesehatan kolektif masyarakat. Jika setiap apel dalam keranjang tetap tinggal bersama, semau apel sehat.* Tetapi jika orang Israel mengacuhkan prinsip yang diterapkan Allah, pembusukan akan menyebar dari orang ke orang dan kesaksian bangsa tentang Allah akan menderita.
Tidak seperti memar pada apel, bagaimanapun, memar sosial dan rohani kita dapat disembuhkan (Yehezkial 18:33). Setelah “menerima Yesus dengan gembira” Zakeus mulai melayani tetangga, orang miskin, dan orang yang disakitinya (Lukas 19:1-10). Dengan cara yang sama, bila Allah menyembuhkan kita, kita terinspirasi untuk menyembuhkan masyarakat kita, mengakui dosa-dosa kita, mengganti kerugian mereka, dan membantu mereka membangun kembali apa yang rusak. Orang Israel tidak bisa secara setia menyaksikan Allah sementara mereka tidak saling mengasihi satu sama lain, dan aturan yang sama berlaku bagi kita hari ini. Doa Yesus bagi kita adalah agar kita menjadi satu, dan persekutuan kita akan menjadi saksi bahwa Allah telah mengirim DIA (Yoh 17). Jika kita benar-benar saksiNya, maka akan terlihat dalam kehidupan rohani dan sosial kita.
REAKSI
1. Kita dapat menghentikan apel yang memar menulari apel lain dengan membuangnya. Dalam berhubungan satu sama lain, alternative apa yang kita punyai dalam membuang?
2. Prinsip Alkitab apa untuk kesehatan rohani dan sosial dapat kita terapkan di gereja dan masyarakat minggu ini?
________
* Spora jamur dari apel yang busuk dengan cepat menyebar ke apel lain dalam keranjang dan merusak yang lainnya.
Keisha McKenzie, Lubbock, Texas, U.S.A.
Senin 5 Oktober
Pasukan Berhenti: Apakah Anda Siap?
LOGOS
Bilangan 5, 6; Yehez. 33:15; Lukas 19:8, 9; Kisah 17:28; 1 Kor. 6:19, 20
Bersihkan Sikapmu (Bilangan 5,6)
Orang Israel bergerak menuju tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka melalui bapa mereka Abraham. Tetapi sebelum mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka mereka mesti memeriksa diri mereka sendiri dan mematuhi perintahNYA. Di Bilangan 5 kita baca bahwa yang tidak suci dicampakan dari kemah dan pengakuan dosa amat didorong. Tambahannya, Allah mengingatkan umatNya bahwa buah pertama dan persembahan-persembahan lainnya menjadi milik imam, dan penggantian mesti dibuat untuk pelanggaran. Dia memerintahkan apabila seseorang berdosa kepada yang lainnya, “maka haruslah ia mengakui dosa yang telah dilakukannya itu; kemudian membayar tebusan sepenuhnya dengan menambah seperlima, lalu menyerahkannya kepada orang terhadap siapa ia bersalah” (Bilangan 5:7). Buku Bilangan menuliskan pedoman-pedoman bagaimana orang Israel mesti hidup. Faktanya, Tuhan memerintahkan baha semua orang yang secara upacara tidak bersih mesti dipindahkan dari pandangan di kemah. Prosedur tetap (PROTAP) mesti diikuti dalam ketidak setiaan pernikahan. Sayangnya, anak-anak Israel tidak konsisten mengikuti apa yang telah ditetapkan Tuhan untuk mereka lakukan, dan mereka akhirnya dihakimi oleh hukum yang diberikan kepada mereka. Mereka tidak boleh berbuat sesukanya. Tuhan amat perhatian akan Hukum-hukum dan PerintahNya.
Sumpah Nazar (Bilangan 6; 1 Kor. 6:19,20).
Kata Nazar berarti “dipisahkan”. Beberapa Nazir, seperti Yohanes pembaptis, dipilih oleh Allah bahkan sebelum mereka dilahirkan dan mesti melayani seumur hidup. Tetapi, pria dan wanita lain secara sukarela menjadi Nazir dan melayani untuk periode waktu tertentu.1
Sementara kita bersiap untuk kerajaan, kita juga mesti mengikuti peraturan tertentu. Misalnya, bacalah 1 Korintus 6:19,20. Penekanan yang diberikan dalam perikop ini merupakan komplemen (pengganti) prinsip dalam Bilangan 6. Misalnya, seorang Nazir “tidak boleh memakan sesuatu apapun dari pokok anggur, mengajarkan kita dengan penuh perhatian dan kehati-hatian untuk menghindari dosa dan segala sesuatu yang membatasi dan menuntun kita kepadanya, atau bahkan menggoda kita.”2 Sama seperti yang dilakukan seorang Nazir, kita mesti menyangkal kerinduan diri sendiri dan menyatakan diri kita sendiri dipisahkan sementara kita bersiap untuk KedatanganNYA yang kedua kali.
Restorasi (Lukas 19:8,9)
Zakeus mempunyai reputasi yang jelek. Sebagai pemungut cukai, dia mengutip lebih tinggi dari apa yang semestinya dan mengambilnya untuk dirinya sendiri. Dengan cara ini, dia menjadi kaya diatas penderitaan rekan senegaranya, dan orang-orang membencinya.
Bacalah Yehezkiel 33:15, 16. Mungkin Zakeus mengenali ayat ini, karena pada waktu dia bertemu dengan Yesus, dia mengatakan, "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (Lukas 19:8).
Restorasi bersifat sukarela, karena Hukum Musa hanya mengambil yang utamanya saja. Penggantian empat kali ganda hanyalah hukuman ekstrim untuk perampokan yang diikuti dengan kehilangan harta (lihat Keluaran 22:1). Biasanya jumlah penggantian dua kali lipat, jika harta yang semula atau uangnya masih ditemukan (Kel. 22:4, 7). Jumlah yang dijanjikan Zakeus untuk penggantian merupakan bukti bahwa dia telah menjalani perubahan hati.3 Bila Kristus didalam hati, KehadiaranNya akan ditunjukan dalam tingkah laku orang Kristen. Alkitab mengatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5:17).
Perbaikan Menyeluruh (Bilangan 5, 6; Kisah 17:28; 1 Kor 6:19, 20)
Saya senang menonton fitur rumah pada acara TV, “Perbaikian Menyeluruh”. Kadang rumahnya terlihat seperti dicampakan dan tidak dipelihara; tetapi pada akhir acara terlihat transformasi yang menyeluruh. Sementara kita bersiap melayani Allah, kita mesti menjadi suatu transformasi. Bila Kristus mengobah hati hal itu mesti terlihat dalam tindak tanduk kita. Semua aktivitas kita—apakah mental, fisikal, atau rohani—akan memantulkan Kristus yang hidup dalam kita. Alkitab mengatakan bahwa sementara kita bersiap untuk misi dan kerajaan Allah kita perlu memepersiapkan hati kita dan mematuhi hukum-hukum yang mengatur tubuh kita. Ada satu titik dimana kita mesti memisahkan diri kita sendiri untuk Tuhan (Bilangan 6:1-8).
Kita dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian. Pertanyaan terbesar adalah: Apakah saya sedang diobahkan, atau apakah saya masih terperangkap dalam cara-caraku yang lama? Siapakah yang perlu saya maafkan? Sifat-sifat apa yang perlu saya campakan? Marilah kita belajar dari teladan Zakeus.
REAKSI
1. Bagaimana anda menerapkan prinsip “sumpah Nazir” kepada hidupmu?
2. Jika anda diminta untuk membuat sumpah untuk menunjukan persiapanmu menuju kerajaanNYA, prinsip apa yang akan anda masukan?
____________
1. The SDA Bible Dictionary, p. 781.
2. Matthew Henry’s Commentary (New York: Fleming H. Revell Company, n.d.), p. 586.
3. The SDA Bible Commentary, vol. 5, p. 853.
Shirley J. Roberts, Grenada, West Indies
Selasa 6 Oktober
Persiapan Orang Muda untuk Suatu Misi
KESAKSIAN
Bilangan 5, 6
Ellen G. Whites telah menyediakan beberapa pemikiran tentang bagaimana mempersiapkan diri kita sendiri untuk suatu misi dan untuk kerajaan Allah. Tulisan-tulisannya mencerminkan persiapan mencakup lebih daripada berpesta pada kata-kata Allah. Dia memperingatkan kita akan menempatkan standar yang tinggi. “Kehidupan Kristen lebih daripada yang dinyatakan orang. Tidak hanya terdiri dari kelemah lembutan, kesabaran, kelembutan, dan kebaikan. Kasih karunia ini penting; tetapi juga dibutuhkan keberanian, kekuatan, energi, panjang sabar. Langkah yang Kristus tandai adalah jalan yang sempit, dan penyangkalan diri. Untuk memasuki jalan itu dan bertahan terus melalui kesulitan dan kekecewaan membutuhkan orang yang lebih daripada hanya yang bermalas-malasan.”1
Sementara kita mereview Bilangan 5 dan 6 minggu ini, kita dapat melihat bahwa persiapan untuk kerajaan menjangkau jauh lebih daripada kesehatan fisik dan emosi, sebagaimana juga kesehatan rohani. “Kesehatan adalah berkat yang sedikit dihargai orang; tetapi disitulah terletak efisiensi dari kekuatan fisik dan mental. Denyut dan kerinduan diri kita terletak di tubuh, dan karenanya mesti dijaga dalam kondisi fisik prima dan dibawah pengaruh rohani terbaik agar talenta kita dapat digunakan pada penggunaan terbaiknya. Segala sesuatu yang mengurangi kekuatan fisik melemahkan pikiran, dan membuatnya kurang mampu untuk membedakan antara yang baik dan salah.”2
Kita juga dipanggil untuk mempunyai keteguhan karakter. “Beberapa tidak mempunyai keteguhan karakter. Rencana dan tujuan-tujuan mereka tidak mempunyai bentuk yang jelas dan konsistensi. Mereka ada tetapi hanya mempunyai sedikit kegunaan didunia ini. Kelemahan ini, ketidak jelasan dalam pengambilan keputusan, dan inefisiensi mesti diatasi. Dalam seorang Kristen yang benar terdapat karakter yang tak dapat dikalahkan yang tidak dapat dibentuk atau digulingkan oleh lingkungan yang beragam. Kita mesti mempunyai tulang punggung moral, suatu integritas yang tidak goyah, dapat disogok, atau ditakut-takuti.
“Allah merindukan kita untuk menggunakan setiap kesempatan untuk mengamankan persiapan bagai pekerjaanNYA. Dia mengharapkan kita untuk menggunakan semua energi kita untuk penampilan dan untuk membuat hati kita hidup bagi kesuciannya dan tanggung jawabnya yang menakutkan.”3
“Janganlah puas hanya mencapai standar yang rendah. Kita mungkin bukanlah apa kita yang sebenarnya, atau apakah itu kehendak Allah yang semestinya. Allah telah memberikan kita kuasa berpikir, tidak untuk tetap tidak aktif, atau digoyahkan oleh pencarian keduniawian dan pencarian sia-sia, tetapi hal itu dapat dikembangkan kepada yang terhebat, termurni, suci, mulia, dan digunakan untuk kemajuan kerajaanNYA.”4
REAKSI
Bagaimana anda membelokan persiapanmu bagi Allah untuk memaksimumkan potensimu pelayanan?
____________
1. The Ministry of Healing, p. 497.
2. Messages to Young People, p. 235.
3. The Ministry of Healing, p. 498.
4. Ibid., p. 499.
Celia Griffith, Dallas, Texas, U.S.A.
Rabu 7 Oktober
BAgaimana Meredakan Badai Sementara Anda Bersiap
BAGAIMANA
Bilangan. 6:22−27; Ps. 107:1−3; Isa. 25:4
“Cuaca hari ini akan berawan biru jernih dan sedikit angin sepoi.” Ironisnya, itulah hari langit terbuka mencurahkan hujan, kilat dan petir memecah langit; dan anda terperangkap tanpa payung. Jika anda seperti saya, dalam perjalananmu ke kerajaan, anda mempunyai pengalaman yang sama denganku. Beberapa jatuh dengan keras dan cepat dan sama sekali tak terduga, semantara yang lain kita masuk tanpa menduga sama sekali akan kegelapan di depan. Allah tidak pernah berjanji hidup tanpa badai. Tetapi, Dia telah menjanjikan akan selalu beserta kita melewati badi itu dan membawa kita dengan selamat ke kerajaan. Bagaimana kita meredakan badai sementara badai datang dan tetap maju terus?
Berdoa dan belajar Alkitab. Serahkan dirimu setiap hari kepada penjagaanNYA. Bacalah 1 Petrus 5:7. Karena Dia peduli, Dia telah mengatakan dalam Alkitab bagaimana bersiap untuk kerajaanNYA dan bagaimana bekerja bagiNYA.
Panjatkan puji syukur. Bersyukurlah senantiaasa (Efe. 5:20). Kadang ini lebih mudah dikatakan dari dilakukan; tetapi saya selalu menemukan pelangi setiap ada badai (1 Tes. 5:18). Berterimakasih kepada Allah yang telah membantumu mengalahkan pencobaan dan mengembalikanmu kepadaNya. Berterimakasih kepadaNYA karena menunjukan jalan yang benar pada waktu tersesat (Bilangan 5). Berterimakasih kepadaNYA karena menjadi pedoman dan kompas sementara anda bersiap bertemu denganNYA.
Berseru nyaring. “Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah, ...., supaya Ia mendengarkan aku.” (Mazmur 77:2). Saya percaya bahwa Allah menciptakan air mata untuk dua alasan: menyembuhkan frustasi kita dan menyembuhkan jiwa. Apabila persiapan tampaknya melambat atau berhenti, jangkaulah Dia. Berserulah kepadaNYA untuk bantuan. Apabila seolah-olah anda pada jalan yang benar, berserulah untuk kesukaan. Janganlah takut menjadi emosional dalam perjalanan.
Tolonglah orang lain. Jangkaulah orang lain yang membutuhkan pertolongan. Saya menemukan bahwa dengan menolong orang lain, kita memberikan Allah waktu untuk menenangkan gelora angin dan hujan kita. Kita juga dapat menguatkan orang lain dalam perjalanan jika kita mendorong dan mengangkat orang lain. Kita adalah mahluk sosial dan 1 Tesalonika 5:11 membujuk kita untuk mendorong satu sama lain dan membangun satu sama lain!
REAKSI
1. Bagaimana anda membantu orang lain untuk bersiap bertemu dengan Allah?
2. Nasehat dan dorongan apa yang akan anda berikan ke seseorang yang mencoba untuk bersiap bagi kerajaan tetapi selalu dilemahkan oleh badai pribadinya?
Arlette Wildman, Grenada, West Indies
Kamis 8 Oktober
Berbalik 180o Untuk Hal Lebih Baik
PENDAPAT
Yehez. 33:15; Matt. 16:24; Lukas 19:8, 9; Yohn 10:10; Gal. 3:29
Allah tertarik dengan kesehatan fisik dan rohani anak-anak Israel (Bilangan 5, 6). Dia juga tertarik dengan kesejahteraan kita saat ini. Perintah yang diberikanNya kepada orang Israel memalui Musa merupakan cara untuk memastikan suatu bangsa yang sehat juga akan mempunyai hidup yang suci. Semuanya bermuara kepada kasih kita kepada Allah dan sesama manusia. Sama seperti orang Israel kuno, kita mesti berbalik arah 180o dari jalan kita ke jalan Allah dan tetap dijalanNYA selamanya. Moto kita mestilah Filipi 4:8 “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”
Bila kita mengasihi Allah, kita tidak akan menajiskan tubuh kita dengan makan haram dan zat-zat berbahaya; kita akan mematuhi hukum kesehatan Alkitab. Elder J.N. Andrews* menyarankan “kita tinggalkan semua makanan berbahaya, dan hidup dengan bertarak dibawah pengaruh perintah baik dan hati nurani kepada Allah, adalah diantara hal-hal yang paling penting dan terutama bagi kesehatan yagn baik. Tubuh kita adalah kaabah Roh Kudus. Agar kita benar-benar dapat memuliakan Allah dengan tubuh dan juga roh, adalah dengan bagaimana kita mensyaratkan mempunyai kebugaran dan kekuatan kesehatan fisik!” sementara kita bersiap untuk KedatanganNya yang Kedua kali, dan sementara kita mengkhotbahkan injil, kita mesti ingat bahwa kekuatan rohani dan fisik adalah penting untuk menghadapi masa akhir.
Bila kita mendahulukan Yesus, upah kita adalah hidup kekal. Sama seperti Zakeus, kita mesti merobah jalan kita yang lama (Lukas 19:8, 9). Bacalah Matius 16—24. Jika kita memilih mengikut Kristus, kita “adalah benih Abraham dan berhak menerima janji warisan Allah” (Gal. 3:29). Kerendahan hati mestilah menjadi aturan harian. Hasil akhirnya adalah ikut serta dalam aktivitas keillahian. Ini tidak mencakup daftar apa yang mesti kita lakukan; lebih dari itu, penyerahan nafsu pribadi kita kepada Allah.
Dia memerintahkan kita mengasihiNYa dan orang lain (Mat. 22:34-40). Dia rela mengampuni kita jika kita menyerahkan jalan kita yang salah dan membenarkan yang salah (Yehez. 33:15). Jika Allah mengampuni, kenapa kita tidak dapat melakukannya juga? Apakah kita hanya mengasihi yang layak dikasihi?
Allah menginginkan kita segaris dengan Dia secara rohani dan fisik. Adalah penting bagi kita untuk tetap menjaga Yesus tetap menyala dalam kita.
REAKSI
Bagaiamana anda secara fisik mempersiapkan dirimu sendiri bagi kerajaan Allah?
____________
*Advent Review and Sabbath Herald, October 25, 1864.
Raul M. Peters, Fort Worth, Texas, U.S.A.
Jum’at 9 Oktober
Perjalanan Final
EKSPLORASI
Yohn 14:2–4
SIMPULAN
Bersiap untuk suatu perjalanan, bahkan yang biasa saja, memerlukan persiapan. Pakaian mesti dikemas, surat-surat ditunda pengantarannya, hewan peliharaan dititipkan. Seberapa besar lagi usaya yang mesti kita berikan untuk perjalanan galaksi pada perjalanan terakhir dan terbesar yang akan pernah kita ambil? Tetapi, Allah menyediakan segalanya. Dia akan menyediakan semua yang kita butuhkan pada waktu sampai di sorga. Tak ada yang bisa kita bawa dari dunia ini. Tetapi masih banyak yang perlu kita persiapkan. Kita mesti mempersiapkan pikiran dan tubuh kita siap untuk hidup bersama Yesus.
PERTIMBANGKAN
■ Buatlah album lukisan atau apapun tentang seperti apa sorga itu. Gantunglah disuatu tempat yang membantumu pada waktu anda berjuang dengan tantangan rohani.
■ Bandingkan dan kontraskan tantangan fisik yang dihadapi orang Israel di pengasingan dengan yang kita hadapi hari ini.
■ Bacalah Bilangan 6:1—21, kemudian tuliskan ringkasannya tentang bagaimana seorang Nazir mesti hidup saat ini.
■ Ciptakan atau cari musik yang mendampingi kata-kata yang ditemukan pada Bilangan 6:24-26. Nanyikan lagu itu setelah anda menemukan atau menciptakannya.
■ Berolahraga secara teratur membantu tubuhmu bersiap untuk sorga. Buatlah tujuan untuk dirimu sendiri yang akan memampukanmu bersiap untuk kedatangan Kristus kedua kali.
■ Seperti dinyatakan pelajaran hari Rabu, menolong orang lain adalah salah satu cara baik untuk membuat Allah menolong kita meredakan badai.
■ Buatlah jurnal tentang tindakan konkrit yang dapat anda ambil untuk merubah hidupmu, seperti yang dilakukan Zakeus setelah bertemu dengan Yesus.
HUBUNGKAN
Matius 16–24.
Kerinduan Segala Zaman, bab 61.
Lynette Georgeson, Spokane, Washington, U.S.A.
MEMPERSIAPKAN SUATU UMAT
Diterjemahkan oleh: Daniel Saputra
“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” (3 Yohn 1:2, NKJV).
Sabbath 3 Oktober
Persiapan untuk Perjalanan Utama
PENDAHULUAN
Bilangan 5, 6
Seberapa sering orang tuamu, profesor, atau pemimpin gereja membujukmu untuk bersiap akan sebuah kejadian khusus? Kita semua mungkin setuju bahwa untuk suatu tujuan besar yang telah ditetapkan diperlukan suatu persiapan. Kita bersiap untuk kuliah, bersiap untuk pernikahan dan berbagai perayaan hari keagamaan. Kita bekerja tanpa lelah bila sebuah kejadian besar akan terjadi atau bahkan hanya untuk acara hari ke hari. Tidakkah kita juga mesti bersiap untuk bertemu dengan Tuhan? Kita dapat menikmati momen khusus kehidupan bila segalanya teratur. Tidak ada hal yang lebih penting dalam momen khusus dan kejadian daripada beraudiensi dengan Tuhan dan menjadi bagian dari KerajaanNYA.
Minggu ini kita akan mempelajari beberapa perikop Alkitab yang menantang kita untuk mempersiapkan diri kita untuk kedatangan Kerajaan Allah. Sebagai umat yang tujuan utamanya adalah memasuki Kerajaan Allah, kita telah diperlengkapi dengan kompas moral dan juga rohani untuk menuntun kita dalam persiapan. Bilangan 5 dan 6 mengandung beberapa kodeks etika dan moral yang dapat kita pelajari.
Hal-hal besar membutuhkan persiapan! Tanggung jawab utama kita adakah memastikan kita secara rohani benar dengan Allah. Karenanya, kita mesti mencampkan imoralitas, hati yang tak mau mengampuni, ketidak setiaan dan lain-lain. Sementara kita bersiap, kita dipanggil untuk Berhenti! Berbalik 180 derajat ke arah Allah. Jika kita tidak mempersipakan pikiran dan tubuh kita untuk bertindak, kita tidak akan mempunyai kekuatan rohani untuk mengendalikan tubuh kita, untuk memuliakan Allah, dan menghadapi badai dalam perjalanan kita.
Minggu ini, kita mesti berpikir tentang persiapan mental dan fisik yang dibutuhkan untuk memasuki kerajaan Allah. Jika kita mengabaikan gizi tubuh dan pikiran, kita akan kalah dalam pertempuran dengan dosa. Sama seperti seorang tentara yang tidak siap untuk berperang, kita akan kalah dalam pertempuran; kita akan kehilangan kerajaan. Adalah jelas sebagai umat yang bergerak, sebagai umat yang mencari jalan ke Tanah Perjanjian, sebagai umat yang dipanggil Allah, kita dapat belajar dari buku Bilangan.
Sama seperti kebanyakan momen spesial yang kita persiapkan untuk tema spesial (pesta, pernikahan, dsb) dan perlengkapan yang ingin kita masukan, demikianlah pula persiapan untuk Kerajaan Allah. Bacalah Galatia 5:22-24. Marilah kita bersiap untuk hari khusus Yesus dengan memenuhi hidup kita dengan perlengkapan spesial ini.
Karena kita sekarang sedang menuju ke persiapan terbesar dalam hidup, tanyailah sepanjang minggu ini apa yang menjadi penghalang dalam hidupmu untuk mempersiapkan diri bagi kerajaan itu. Pintalah Allah untuk menunjukan lebih banyak cara untukmu mempersiapkan diri.
Helyne Frederick, Lubbock, Texas, U.S.A.
Minggu 4 Oktober
Keranjang Sehat, Apel Sehat
BUKTI
Bilangan 5, 6; Yohanes 17:20-23
Setelah Dia menuntun orang Israel keluar dari Mesir, Allah mulai mentransformasi umatnya yang bebas dan terfragmentasi menjadi suatu bangsa dengan hati yang satu dan bersaksi (Keluaran 13-17). Dari Keluaran sampai Ulangan, Dia mengajarkan orang Israel secara tepat bagaimana mengatur masyarakat mereka yang baru. Setiap hukum upacara dan sosial mengingatkan orang Israel akan tanggung jawab mereka kepada Allah dan mengikat hubungan mereka satu sama lain. Dengan menerapkan prinsip-prinsipNYA kepada semua aspek hidup mereka, umat Allah belajar bagaimana menghormati Allah, menjadikan masyarakat mereka sehat, dan kesaksian mereka menjadi murni.
Hukum yang Allah berikan kepada Musa menunjukan perhatianNya yang mendalam kepada orang Israel, kesehatan medis mereka, hubungan sosial, kesetiaan pernikahan, dan sumpah pribadi mereka kepada Dia. Dalam Bilangan 5, Allah mengajarkan Musa untuk menghentikan penyakit berbahaya menular dengan mengkarantina orang yang terinfeksi. Allah kemudian lebih mempertegas peraturan sosial dengan memecahkan konfliks.
Peraturan Karantina orang Israel menghentikan penyakit fisik menguasai mereka, tetapi aturang penggantian mereka bahkan dirancang untuk membunuh parasit yang bahkan lebih berbahaya. Cemburu, marah, kebencian, keluh kesah akan secara menurunkan masyarakat ke yang lebih buruk lagi. Karena itulah setiap anggota masyarakat mesti bekerjasama dengan aturan yang dibuat Allah. Peraturan itu mendukung kesehatan kolektif masyarakat. Jika setiap apel dalam keranjang tetap tinggal bersama, semau apel sehat.* Tetapi jika orang Israel mengacuhkan prinsip yang diterapkan Allah, pembusukan akan menyebar dari orang ke orang dan kesaksian bangsa tentang Allah akan menderita.
Tidak seperti memar pada apel, bagaimanapun, memar sosial dan rohani kita dapat disembuhkan (Yehezkial 18:33). Setelah “menerima Yesus dengan gembira” Zakeus mulai melayani tetangga, orang miskin, dan orang yang disakitinya (Lukas 19:1-10). Dengan cara yang sama, bila Allah menyembuhkan kita, kita terinspirasi untuk menyembuhkan masyarakat kita, mengakui dosa-dosa kita, mengganti kerugian mereka, dan membantu mereka membangun kembali apa yang rusak. Orang Israel tidak bisa secara setia menyaksikan Allah sementara mereka tidak saling mengasihi satu sama lain, dan aturan yang sama berlaku bagi kita hari ini. Doa Yesus bagi kita adalah agar kita menjadi satu, dan persekutuan kita akan menjadi saksi bahwa Allah telah mengirim DIA (Yoh 17). Jika kita benar-benar saksiNya, maka akan terlihat dalam kehidupan rohani dan sosial kita.
REAKSI
1. Kita dapat menghentikan apel yang memar menulari apel lain dengan membuangnya. Dalam berhubungan satu sama lain, alternative apa yang kita punyai dalam membuang?
2. Prinsip Alkitab apa untuk kesehatan rohani dan sosial dapat kita terapkan di gereja dan masyarakat minggu ini?
________
* Spora jamur dari apel yang busuk dengan cepat menyebar ke apel lain dalam keranjang dan merusak yang lainnya.
Keisha McKenzie, Lubbock, Texas, U.S.A.
Senin 5 Oktober
Pasukan Berhenti: Apakah Anda Siap?
LOGOS
Bilangan 5, 6; Yehez. 33:15; Lukas 19:8, 9; Kisah 17:28; 1 Kor. 6:19, 20
Bersihkan Sikapmu (Bilangan 5,6)
Orang Israel bergerak menuju tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka melalui bapa mereka Abraham. Tetapi sebelum mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka mereka mesti memeriksa diri mereka sendiri dan mematuhi perintahNYA. Di Bilangan 5 kita baca bahwa yang tidak suci dicampakan dari kemah dan pengakuan dosa amat didorong. Tambahannya, Allah mengingatkan umatNya bahwa buah pertama dan persembahan-persembahan lainnya menjadi milik imam, dan penggantian mesti dibuat untuk pelanggaran. Dia memerintahkan apabila seseorang berdosa kepada yang lainnya, “maka haruslah ia mengakui dosa yang telah dilakukannya itu; kemudian membayar tebusan sepenuhnya dengan menambah seperlima, lalu menyerahkannya kepada orang terhadap siapa ia bersalah” (Bilangan 5:7). Buku Bilangan menuliskan pedoman-pedoman bagaimana orang Israel mesti hidup. Faktanya, Tuhan memerintahkan baha semua orang yang secara upacara tidak bersih mesti dipindahkan dari pandangan di kemah. Prosedur tetap (PROTAP) mesti diikuti dalam ketidak setiaan pernikahan. Sayangnya, anak-anak Israel tidak konsisten mengikuti apa yang telah ditetapkan Tuhan untuk mereka lakukan, dan mereka akhirnya dihakimi oleh hukum yang diberikan kepada mereka. Mereka tidak boleh berbuat sesukanya. Tuhan amat perhatian akan Hukum-hukum dan PerintahNya.
Sumpah Nazar (Bilangan 6; 1 Kor. 6:19,20).
Kata Nazar berarti “dipisahkan”. Beberapa Nazir, seperti Yohanes pembaptis, dipilih oleh Allah bahkan sebelum mereka dilahirkan dan mesti melayani seumur hidup. Tetapi, pria dan wanita lain secara sukarela menjadi Nazir dan melayani untuk periode waktu tertentu.1
Sementara kita bersiap untuk kerajaan, kita juga mesti mengikuti peraturan tertentu. Misalnya, bacalah 1 Korintus 6:19,20. Penekanan yang diberikan dalam perikop ini merupakan komplemen (pengganti) prinsip dalam Bilangan 6. Misalnya, seorang Nazir “tidak boleh memakan sesuatu apapun dari pokok anggur, mengajarkan kita dengan penuh perhatian dan kehati-hatian untuk menghindari dosa dan segala sesuatu yang membatasi dan menuntun kita kepadanya, atau bahkan menggoda kita.”2 Sama seperti yang dilakukan seorang Nazir, kita mesti menyangkal kerinduan diri sendiri dan menyatakan diri kita sendiri dipisahkan sementara kita bersiap untuk KedatanganNYA yang kedua kali.
Restorasi (Lukas 19:8,9)
Zakeus mempunyai reputasi yang jelek. Sebagai pemungut cukai, dia mengutip lebih tinggi dari apa yang semestinya dan mengambilnya untuk dirinya sendiri. Dengan cara ini, dia menjadi kaya diatas penderitaan rekan senegaranya, dan orang-orang membencinya.
Bacalah Yehezkiel 33:15, 16. Mungkin Zakeus mengenali ayat ini, karena pada waktu dia bertemu dengan Yesus, dia mengatakan, "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (Lukas 19:8).
Restorasi bersifat sukarela, karena Hukum Musa hanya mengambil yang utamanya saja. Penggantian empat kali ganda hanyalah hukuman ekstrim untuk perampokan yang diikuti dengan kehilangan harta (lihat Keluaran 22:1). Biasanya jumlah penggantian dua kali lipat, jika harta yang semula atau uangnya masih ditemukan (Kel. 22:4, 7). Jumlah yang dijanjikan Zakeus untuk penggantian merupakan bukti bahwa dia telah menjalani perubahan hati.3 Bila Kristus didalam hati, KehadiaranNya akan ditunjukan dalam tingkah laku orang Kristen. Alkitab mengatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5:17).
Perbaikan Menyeluruh (Bilangan 5, 6; Kisah 17:28; 1 Kor 6:19, 20)
Saya senang menonton fitur rumah pada acara TV, “Perbaikian Menyeluruh”. Kadang rumahnya terlihat seperti dicampakan dan tidak dipelihara; tetapi pada akhir acara terlihat transformasi yang menyeluruh. Sementara kita bersiap melayani Allah, kita mesti menjadi suatu transformasi. Bila Kristus mengobah hati hal itu mesti terlihat dalam tindak tanduk kita. Semua aktivitas kita—apakah mental, fisikal, atau rohani—akan memantulkan Kristus yang hidup dalam kita. Alkitab mengatakan bahwa sementara kita bersiap untuk misi dan kerajaan Allah kita perlu memepersiapkan hati kita dan mematuhi hukum-hukum yang mengatur tubuh kita. Ada satu titik dimana kita mesti memisahkan diri kita sendiri untuk Tuhan (Bilangan 6:1-8).
Kita dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian. Pertanyaan terbesar adalah: Apakah saya sedang diobahkan, atau apakah saya masih terperangkap dalam cara-caraku yang lama? Siapakah yang perlu saya maafkan? Sifat-sifat apa yang perlu saya campakan? Marilah kita belajar dari teladan Zakeus.
REAKSI
1. Bagaimana anda menerapkan prinsip “sumpah Nazir” kepada hidupmu?
2. Jika anda diminta untuk membuat sumpah untuk menunjukan persiapanmu menuju kerajaanNYA, prinsip apa yang akan anda masukan?
____________
1. The SDA Bible Dictionary, p. 781.
2. Matthew Henry’s Commentary (New York: Fleming H. Revell Company, n.d.), p. 586.
3. The SDA Bible Commentary, vol. 5, p. 853.
Shirley J. Roberts, Grenada, West Indies
Selasa 6 Oktober
Persiapan Orang Muda untuk Suatu Misi
KESAKSIAN
Bilangan 5, 6
Ellen G. Whites telah menyediakan beberapa pemikiran tentang bagaimana mempersiapkan diri kita sendiri untuk suatu misi dan untuk kerajaan Allah. Tulisan-tulisannya mencerminkan persiapan mencakup lebih daripada berpesta pada kata-kata Allah. Dia memperingatkan kita akan menempatkan standar yang tinggi. “Kehidupan Kristen lebih daripada yang dinyatakan orang. Tidak hanya terdiri dari kelemah lembutan, kesabaran, kelembutan, dan kebaikan. Kasih karunia ini penting; tetapi juga dibutuhkan keberanian, kekuatan, energi, panjang sabar. Langkah yang Kristus tandai adalah jalan yang sempit, dan penyangkalan diri. Untuk memasuki jalan itu dan bertahan terus melalui kesulitan dan kekecewaan membutuhkan orang yang lebih daripada hanya yang bermalas-malasan.”1
Sementara kita mereview Bilangan 5 dan 6 minggu ini, kita dapat melihat bahwa persiapan untuk kerajaan menjangkau jauh lebih daripada kesehatan fisik dan emosi, sebagaimana juga kesehatan rohani. “Kesehatan adalah berkat yang sedikit dihargai orang; tetapi disitulah terletak efisiensi dari kekuatan fisik dan mental. Denyut dan kerinduan diri kita terletak di tubuh, dan karenanya mesti dijaga dalam kondisi fisik prima dan dibawah pengaruh rohani terbaik agar talenta kita dapat digunakan pada penggunaan terbaiknya. Segala sesuatu yang mengurangi kekuatan fisik melemahkan pikiran, dan membuatnya kurang mampu untuk membedakan antara yang baik dan salah.”2
Kita juga dipanggil untuk mempunyai keteguhan karakter. “Beberapa tidak mempunyai keteguhan karakter. Rencana dan tujuan-tujuan mereka tidak mempunyai bentuk yang jelas dan konsistensi. Mereka ada tetapi hanya mempunyai sedikit kegunaan didunia ini. Kelemahan ini, ketidak jelasan dalam pengambilan keputusan, dan inefisiensi mesti diatasi. Dalam seorang Kristen yang benar terdapat karakter yang tak dapat dikalahkan yang tidak dapat dibentuk atau digulingkan oleh lingkungan yang beragam. Kita mesti mempunyai tulang punggung moral, suatu integritas yang tidak goyah, dapat disogok, atau ditakut-takuti.
“Allah merindukan kita untuk menggunakan setiap kesempatan untuk mengamankan persiapan bagai pekerjaanNYA. Dia mengharapkan kita untuk menggunakan semua energi kita untuk penampilan dan untuk membuat hati kita hidup bagi kesuciannya dan tanggung jawabnya yang menakutkan.”3
“Janganlah puas hanya mencapai standar yang rendah. Kita mungkin bukanlah apa kita yang sebenarnya, atau apakah itu kehendak Allah yang semestinya. Allah telah memberikan kita kuasa berpikir, tidak untuk tetap tidak aktif, atau digoyahkan oleh pencarian keduniawian dan pencarian sia-sia, tetapi hal itu dapat dikembangkan kepada yang terhebat, termurni, suci, mulia, dan digunakan untuk kemajuan kerajaanNYA.”4
REAKSI
Bagaimana anda membelokan persiapanmu bagi Allah untuk memaksimumkan potensimu pelayanan?
____________
1. The Ministry of Healing, p. 497.
2. Messages to Young People, p. 235.
3. The Ministry of Healing, p. 498.
4. Ibid., p. 499.
Celia Griffith, Dallas, Texas, U.S.A.
Rabu 7 Oktober
BAgaimana Meredakan Badai Sementara Anda Bersiap
BAGAIMANA
Bilangan. 6:22−27; Ps. 107:1−3; Isa. 25:4
“Cuaca hari ini akan berawan biru jernih dan sedikit angin sepoi.” Ironisnya, itulah hari langit terbuka mencurahkan hujan, kilat dan petir memecah langit; dan anda terperangkap tanpa payung. Jika anda seperti saya, dalam perjalananmu ke kerajaan, anda mempunyai pengalaman yang sama denganku. Beberapa jatuh dengan keras dan cepat dan sama sekali tak terduga, semantara yang lain kita masuk tanpa menduga sama sekali akan kegelapan di depan. Allah tidak pernah berjanji hidup tanpa badai. Tetapi, Dia telah menjanjikan akan selalu beserta kita melewati badi itu dan membawa kita dengan selamat ke kerajaan. Bagaimana kita meredakan badai sementara badai datang dan tetap maju terus?
Berdoa dan belajar Alkitab. Serahkan dirimu setiap hari kepada penjagaanNYA. Bacalah 1 Petrus 5:7. Karena Dia peduli, Dia telah mengatakan dalam Alkitab bagaimana bersiap untuk kerajaanNYA dan bagaimana bekerja bagiNYA.
Panjatkan puji syukur. Bersyukurlah senantiaasa (Efe. 5:20). Kadang ini lebih mudah dikatakan dari dilakukan; tetapi saya selalu menemukan pelangi setiap ada badai (1 Tes. 5:18). Berterimakasih kepada Allah yang telah membantumu mengalahkan pencobaan dan mengembalikanmu kepadaNya. Berterimakasih kepadaNYA karena menunjukan jalan yang benar pada waktu tersesat (Bilangan 5). Berterimakasih kepadaNYA karena menjadi pedoman dan kompas sementara anda bersiap bertemu denganNYA.
Berseru nyaring. “Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah, ...., supaya Ia mendengarkan aku.” (Mazmur 77:2). Saya percaya bahwa Allah menciptakan air mata untuk dua alasan: menyembuhkan frustasi kita dan menyembuhkan jiwa. Apabila persiapan tampaknya melambat atau berhenti, jangkaulah Dia. Berserulah kepadaNYA untuk bantuan. Apabila seolah-olah anda pada jalan yang benar, berserulah untuk kesukaan. Janganlah takut menjadi emosional dalam perjalanan.
Tolonglah orang lain. Jangkaulah orang lain yang membutuhkan pertolongan. Saya menemukan bahwa dengan menolong orang lain, kita memberikan Allah waktu untuk menenangkan gelora angin dan hujan kita. Kita juga dapat menguatkan orang lain dalam perjalanan jika kita mendorong dan mengangkat orang lain. Kita adalah mahluk sosial dan 1 Tesalonika 5:11 membujuk kita untuk mendorong satu sama lain dan membangun satu sama lain!
REAKSI
1. Bagaimana anda membantu orang lain untuk bersiap bertemu dengan Allah?
2. Nasehat dan dorongan apa yang akan anda berikan ke seseorang yang mencoba untuk bersiap bagi kerajaan tetapi selalu dilemahkan oleh badai pribadinya?
Arlette Wildman, Grenada, West Indies
Kamis 8 Oktober
Berbalik 180o Untuk Hal Lebih Baik
PENDAPAT
Yehez. 33:15; Matt. 16:24; Lukas 19:8, 9; Yohn 10:10; Gal. 3:29
Allah tertarik dengan kesehatan fisik dan rohani anak-anak Israel (Bilangan 5, 6). Dia juga tertarik dengan kesejahteraan kita saat ini. Perintah yang diberikanNya kepada orang Israel memalui Musa merupakan cara untuk memastikan suatu bangsa yang sehat juga akan mempunyai hidup yang suci. Semuanya bermuara kepada kasih kita kepada Allah dan sesama manusia. Sama seperti orang Israel kuno, kita mesti berbalik arah 180o dari jalan kita ke jalan Allah dan tetap dijalanNYA selamanya. Moto kita mestilah Filipi 4:8 “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”
Bila kita mengasihi Allah, kita tidak akan menajiskan tubuh kita dengan makan haram dan zat-zat berbahaya; kita akan mematuhi hukum kesehatan Alkitab. Elder J.N. Andrews* menyarankan “kita tinggalkan semua makanan berbahaya, dan hidup dengan bertarak dibawah pengaruh perintah baik dan hati nurani kepada Allah, adalah diantara hal-hal yang paling penting dan terutama bagi kesehatan yagn baik. Tubuh kita adalah kaabah Roh Kudus. Agar kita benar-benar dapat memuliakan Allah dengan tubuh dan juga roh, adalah dengan bagaimana kita mensyaratkan mempunyai kebugaran dan kekuatan kesehatan fisik!” sementara kita bersiap untuk KedatanganNya yang Kedua kali, dan sementara kita mengkhotbahkan injil, kita mesti ingat bahwa kekuatan rohani dan fisik adalah penting untuk menghadapi masa akhir.
Bila kita mendahulukan Yesus, upah kita adalah hidup kekal. Sama seperti Zakeus, kita mesti merobah jalan kita yang lama (Lukas 19:8, 9). Bacalah Matius 16—24. Jika kita memilih mengikut Kristus, kita “adalah benih Abraham dan berhak menerima janji warisan Allah” (Gal. 3:29). Kerendahan hati mestilah menjadi aturan harian. Hasil akhirnya adalah ikut serta dalam aktivitas keillahian. Ini tidak mencakup daftar apa yang mesti kita lakukan; lebih dari itu, penyerahan nafsu pribadi kita kepada Allah.
Dia memerintahkan kita mengasihiNYa dan orang lain (Mat. 22:34-40). Dia rela mengampuni kita jika kita menyerahkan jalan kita yang salah dan membenarkan yang salah (Yehez. 33:15). Jika Allah mengampuni, kenapa kita tidak dapat melakukannya juga? Apakah kita hanya mengasihi yang layak dikasihi?
Allah menginginkan kita segaris dengan Dia secara rohani dan fisik. Adalah penting bagi kita untuk tetap menjaga Yesus tetap menyala dalam kita.
REAKSI
Bagaiamana anda secara fisik mempersiapkan dirimu sendiri bagi kerajaan Allah?
____________
*Advent Review and Sabbath Herald, October 25, 1864.
Raul M. Peters, Fort Worth, Texas, U.S.A.
Jum’at 9 Oktober
Perjalanan Final
EKSPLORASI
Yohn 14:2–4
SIMPULAN
Bersiap untuk suatu perjalanan, bahkan yang biasa saja, memerlukan persiapan. Pakaian mesti dikemas, surat-surat ditunda pengantarannya, hewan peliharaan dititipkan. Seberapa besar lagi usaya yang mesti kita berikan untuk perjalanan galaksi pada perjalanan terakhir dan terbesar yang akan pernah kita ambil? Tetapi, Allah menyediakan segalanya. Dia akan menyediakan semua yang kita butuhkan pada waktu sampai di sorga. Tak ada yang bisa kita bawa dari dunia ini. Tetapi masih banyak yang perlu kita persiapkan. Kita mesti mempersiapkan pikiran dan tubuh kita siap untuk hidup bersama Yesus.
PERTIMBANGKAN
■ Buatlah album lukisan atau apapun tentang seperti apa sorga itu. Gantunglah disuatu tempat yang membantumu pada waktu anda berjuang dengan tantangan rohani.
■ Bandingkan dan kontraskan tantangan fisik yang dihadapi orang Israel di pengasingan dengan yang kita hadapi hari ini.
■ Bacalah Bilangan 6:1—21, kemudian tuliskan ringkasannya tentang bagaimana seorang Nazir mesti hidup saat ini.
■ Ciptakan atau cari musik yang mendampingi kata-kata yang ditemukan pada Bilangan 6:24-26. Nanyikan lagu itu setelah anda menemukan atau menciptakannya.
■ Berolahraga secara teratur membantu tubuhmu bersiap untuk sorga. Buatlah tujuan untuk dirimu sendiri yang akan memampukanmu bersiap untuk kedatangan Kristus kedua kali.
■ Seperti dinyatakan pelajaran hari Rabu, menolong orang lain adalah salah satu cara baik untuk membuat Allah menolong kita meredakan badai.
■ Buatlah jurnal tentang tindakan konkrit yang dapat anda ambil untuk merubah hidupmu, seperti yang dilakukan Zakeus setelah bertemu dengan Yesus.
HUBUNGKAN
Matius 16–24.
Kerinduan Segala Zaman, bab 61.
Lynette Georgeson, Spokane, Washington, U.S.A.
Subscribe to:
Comments (Atom)
