Saturday, 24 October 2009

SSCQ Pelajaran 5 Kwartal IV tahun 2009

SSCQ Edisi bahasa Indonesia, Triwulan IV, Pelajaran 5, 24-31 Oktober 2009

DARI KELUHAN KE MURTAD
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,” (Fil. 2:14, 15, NKJV).


Sabbath 24 Oktober
Naik Bus 24 Jam
PENDAHULUAN
Fil. 2:12−18; 4:4−7

Bagi kebanyakan kita perjalanan missi kedengarannya amat menarik, advontorus, dan bahkan sedikit mewah—naik pesawat jet melintasi Eropa membantuk membangun rumah sakit dan menjalankan klinik di Afrika—mimpi jadi kenyataan bagi kelompok pahlawan Kristen yang berdedikasi.
Tetapi, tak ada yang mengatakan kepada kita tentang naik bus 24 jam? Mungkin tidak benar-benar 24 jam; tetapi rasanya seperti itu, duduk diatas barang-barang dan satu sama lain, berkeringat di panas yang tak tertahankan, rasanya seperti sarden dalam oven sementara berjalan mil demi mil. Kapan sampainya? Keluhan mengalir seperti sungai yang bergelora.
“Kapan kita sampai?” “Kenapa panas sekali?” Kenapa saya ikut trip ini ya? Itu adalah beberapa kata-kata yang terdengar dalam bus yang membawa kelompok pemuda Barat pada waktu kami melakukan perjalanan misionari dari Accra, ibukota Ghana, di selatan, ke kota utara, Tamale.
Walaupun akhirnya sampai juga. Ini berakhir sebagai pengalaman hidup berharga—yaitu kita belajar menghargai kesenangan hidup yang kita ambil secara otomati dan juga yang kita alami Roh Kudus bekerja melalui pelayanan kita. Yang terpenting, kita belajar ada orang, yang miskin sekali, tetapi mengucap syukur kepada Tuhan akan apa yang mereka punyai.
Banyak perjalanan yang akan kita alami dalam hidup in, dan tidak semuanya menyenangkan. Ada kalanya jauh lebih mudah bersungut-sungut dengan kasar daripada memuji Tuhan seperti yang diharapkan. Sebagai umatNYA, Dia ingin kita “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Fil. 4:4) tak peduli bagaimanapun situasinya.
Kita tidak pernah tahu arah perjalanan itu; tetapi jika kita percaya Allah yang mengendalikan, kita dapat mengizinkan DIA mengendalikan secara total. Hanya setelah itu kita bisa melalui kondisi buruk ke berkat yang menunggu kita.
Orang Israel yang keluar dari Mesir menghabiskan waktu alam perjalan ke Tanah Perjanjian bersungut-sungut tentang kondisi, dan karena itu, generasi tidak pernah melihat warisan mereka. Sementara kita belajar akan pengalaman mereka minggu ini, pertimbangkan kita mempunyai kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka, untuk berhenti mengeluh, dan menikmati perjalanan.

Angeline Shillingford, Grand Cayman, Cayman Islands

Minggu 25 Oktober
Umat PEmberontak
LOGOS
Bilangan 11–14

Orang Israel telah membongkar kemah mereka di Sinai dan telah memulai perjalanan 11 hari mereka ke Kadesh, tidak jauh dari perbatasan Kanaan. Di Sinai mereka telah melakukan suatu perjanjian dengan Allah yang berjanji akan mematuhi Sepuluh Hukum (Kel. 19:8). Tetapi Bilangan 11-14 menceritakan mereka melakukan kebalikannya. Pasal-pasal ini mencatat bangsa itu melakukan pemberontakan kepada Allah.

Ketidak Puasan di Kemah (Bilangan 11)
Mereka hanya tiga hari dalam perjalanan pada waktu mereka mulai bersungut-sungut. Mereka tidak senang dengan rute yang diambil dan ketidak nyamanan sepanjang perjalanan, walaupun mereka tahu bahwa mereka dituntun Allah, seperti yang diperlihatkan oleh tiang awan di depan mereka. Mereka dengan cepat melupakan bahwa mereka bisa sejauh ini hanya karena belas kasihan dan perlindunganNYA.
Mereka juga bersungut-sungut tentang manna, makanan yang diberikan Allah. “Tuhan Murka” (Bilangan 11:10) karena mereka menolak makana yang setiap hari disediakan Allah bagi mereka. “Jika saja mereka rela untuk menyangkal nafsu makannya dan patuh dengan kendaliNYa yang bijaksana, kelemahan dan penyakit mungkin tidak akan mereka kenal. Tetapi ketegaran tengku mereka untuk patuh pada larangan dan syarat Allah, mencegah mereka untuk mencapai standar yang lebih tinggi yang diinginkanNYA untuk mereka punyai, dan dari berkat yang dipersiapkanNYA bagi mereka.”1

Perseteruan Persaudaraan? (Bilangan 12)
Dalam Bilangan 11, Allah mengizinkan pengangkatan 70 tua-tua untuk berbagi beban tanggung jawab pada waktu Musa berseru dalam kesesakan. Saudara Musa yang lebih tua Mariam dan Harun, tidak menjadi bagian dari kelompok ini. Mereka telah memainkan peran penting dalam pembentukan bangsa ini dan selama Keluar dari Mesir; dan Harun dalam kasus ini, tetap melakukannya dalam pelayanan keimamatan. Tetapi, Tuhan telah meletakan Musa dalam posisi otoritas pada mereka, dan dia mempunyai hubungan khusus dengan Allah. Musa, berbeda dari yang lain di kemah, mempunyai keistimewaan untuk berbicara dengan Allah muka dengan muka dan melihat bentukNYA (Bilangan 12:8)
Mariam dan Harun dengki dengan Musa dan merasa punya cukup alasan untuk membanding mereka dengan dia. Kedengkian mereka dilampiaskan kepada istri Musa orang Kush. Mariam dan Harun memberontak terhadap Allah dengan berbicara melawan Pemimpin Pilihan Allah. Mereka menyerah kepada roh pemuasan diri dan menganggap mereka lebih baik daripada yang dipilih Allah.

Kekuatan Kita, Kuasa Kita (Bilangan 13)
Orang Israel akhirnya sampai di perbatasan Kanaan. Apa yang dijanjikan Allah sudah dalam pemandangan. Sekali lagi, walaupun begitu, mereka menderita apa yang sebelumnya telah menjadi kebobrokan mereka—amnesia kolektif. Mereka lupa akan mujizat luarbiasa yang disediakan Allah untuk membebaskan mereka dari kuk Mesir. Mereka lupa akan pengalaman Laut Merah. Mereka lupa bahwa Allah telah menyediakan dan memelihara mereka di padang gurun; dan mereka lupa bahwa Allah lah yang telah membuat mereka mendapatkan apa yang dijanjikan Allah.
Adalah ide umat untuk mengirimkan pengintai untuk mensurvei tanah itu, bukanlah ide Allah.2 Ini merupakan indikasi jelas bahwa mereka meragukan janji-janjiNYA. Allah telah secara khusus bertemu dan membuat perjanjian dengan mereka yang dimengerti oleh Balaam, apa yang dinubuatkan seorang nabi kafir; “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19)
Bagian pertama dari laporan pengintai itu adalah bahwa kelimpahan tanah itu benar adanya; tetapi dibayang-bayangi oleh ketakutan mereka akan kekuatan orang yang mereka temui di sana. Mereka memilih untuk memandang melalui ketakutan, mata tak beriman daripada mata yang diisi dengan pengharapan dan iman yang dikuatkan oleh bagaimana Allah telah menuntun mereka selama ini. Hanya Yoshua da Kaleb yang memberikan laporan yang diisi dengan iman kepada Allah. Kanaan adalah hadiah dari Allah, dan dengan menjelek-jelekannya, orang-orang itu berbicara melawan Allah dan menolak apa yang dengan penuh kasih karunia ditawarkan Allah kepada mereka. Jika saja mereka ingat akan tangan Tuhan yang tidap pernah terlampau pendek (Bilangan 11:23). Apabila kekuatan dan kuasa manusia gagal itu adalah hal yang sempurna bagi Allah yang penuh kasih mendemonstrasikan kemahakuasaanNYA yang tak terbandingkan.

Kekuatan Kita, Kekuasaan Kita (Bilangan 14)
Kaleb dan Yoshua memohon kepada mereka untuk tidak memberontak kepada Allah (Bilangan 14:9); tetapi permohonan mereka menabrak telinga yang tuli. Orang-orang itu bersiap untuk melempari mereka dengan batu. Sikap mereka merupakan salah satu penghinaan kepada Allah. Mereka terus menerus meragukanNYA dan kuasaNYA (Bilangan 14:11).
Pemberontakan mereka yang terus menerus terhadap Allah berakibat hukuman pengembaraan 40 tahun lagi di padang gurun, satu tahun untuk setiap hari yang digunakan pengintai itu menjelajahi tanah itu. Mereka berduka akan dekrit itu. EG White menyatakan bahwa mereka berduka karena hukuman itu lebih daripada dosa mereka. Perintah Allah untuk kembali (retreat) merupakan ujian akan penyerahan mereka kepada kehendakNYA.3 Walaupun begitu, orang Israel tetap membandel dalam pemberontakan mereka. Pada waktu Allah memerintahkan mereka untuk mengambil tanah itu, mereka menolak dan bila diperitahkan untuk mundur mereka melakukan kebalikannya. Tentara Israel kalah karena mereka gagal untuk menyadari bahwa Allah akan memenuhi apa yang dijanjikanNYA, bukan dengan kuat dan kuasa mereka; tetapi dengan patuh dan taat kepada perintahNYA.

REAKSI
1. Mungkinkah saat ini kita memberontak terhapa Allah melalui tindakan atau kediaman kita?
2. Perubahan apa yang anda perlukan dalam perjalananmu ke Tanah Perjanjian?
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 378.
2. Ibid., p. 387.
3. Ibid., p. 391.

Rockella Smith, Savannah, Grand Cayman, Cayman Islands

Senin 26 Oktober
“Taat Kepada Kehendak Allah”
KESAKSIAN
Bilangan 11:4—6

“Allah membawa orang Israel keluar dari Mesir, agar Dia dapat menempatkan mereka di tanah Kanaan, suatu bangsa yang murni, suci, dan bahagia. Untuk mencapai hal ini Dia memberikan kepada mereka suatu perjalanan disiplin, baik bagi mereka dan untuk kesejahteraan mereka. Kalau saja mereka mau menyangkal nafsu makan, patuh kepada laranganNYA yang bijaksana, kelemahan, dan penyakit tidak akan dikenal diantara mereka.”1
“Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israel pun menangislah pula serta berkata: "Siapakah yang akan memberi kita makan daging?” (Bilangan 11:4).
“Allah bisa saja dengan mudahnya memberikan mereka daging sama seperti manna, tetapi larangan diberikan kepada mereka untuk kebaikan mereka. Adalah tujuanNYA untuk memberikan kepada mereka makanan yang lebih baik kepada keinginan mereka daripada diet yang tidak baik yang telah biasa mereka makan di Mesir. Nafsu makan mereka yang salah dibawa kembali ke keadaan yang lebih sehat, agar mereka dapat menikmati makanan yang pada awalnya disediakan bagi manusia—buah-buahan, yang telah disediakan Allah bagi Adam dan Hawa di Eden.”2
“Dengan menyimpang dari rencana yang telah disediakan Allah untuk makanan mereka, Orang Israel menderita kerugian besar. Mereka mengingingkan daging, dan mereka menuai hasilnya. Mereka tidak mencapai ideal Allah dalam karakter atau memenuhi kehendakNYA. “Diberikan-Nya kepada mereka apa yang mereka minta, dan didatangkan-Nya penyakit paru-paru di antara mereka.” (Maz. 106:15). Mereka lebih menghargai hal-hal duniawi diatas hal-hal sorgawi dan supremasi suci yang Allah kehendaki supaya mereka punyai, yang tidak mereka ingin capai.”3
Jika saja kita rela mengizinkan Tuhan bekerja dalam hidup kita dan melakukan kehendakNya, banyak kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam hidup dapat dicegah. Kadangkala Dia mengizinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita agar kita memandang kepadaNYA dan menyadari bahwa jalan-jalanNYA adalah yang terbaik.

REAKSI
1. Bagaimana cerita Daniel dalam Daniel 1:8—20 berhubungan dengan pelajaran yang didiskusikan pada hari ini?
2. Pernahkah anda mengikuti rencana diet Allah untuk hidupmu? Jika tidak, pintalah Dia membantumu untuk membuat perubahan itu.
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 378.
2. Ibid.
3. The Ministry of Healing, p. 312.

Alecia Kidd-Francis, Grand Cayman, Cayman Islands

Selasa 27 Oktober
Umat Kuno, Pelajaran Moderen
BUKTI
Bilangan 11; Efe. 6:11; Ibrani. 11:1

Apakah ada bukti arkeologi untuk perjalanan orang Israel di padang belantara selama 40 tahun? Hanya ada sedikit bukti penemuan di Semenanjung Sinai untuk mendukung cerita alkitab tentang 600.000 laki-laki dan keluarganya menghabiskan tahun-tahun disana. Tetapi beberapa ahli justru menunjukan bahwa kekurangan bukti arkelolgi ini merupakan bukti tersendiri akan keakuratan sejarah dan cerita itu. Bahkan pada zaman moderen ini, orang nomaden Bedouin meninggalkan sedikit jejak akan keberadaan mereka pada waktu mereka pindah ke tempat lain. Jadi kenapa kita mengharapakn untuk menemukan “sisa-sisa dari perkemahan besar setelah 3000 tahun?”* Ini adalah salah satu cerita Alkitab yang mesti kita terima dengan iman (Ibrani 11:1).
Walaupun kita mungkin tidak mempunyai bukti jelas akan apa yang kita harapkan, ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari uraian alkitab. Bacaan Bilangan 11-14 mengingatkan kita akan orang tua yang menghadapi anaknya yang nakal. Orang Israel telah berulang-ulang menyatakan bahwa mereka akan patuh 9Kel. 19:7, 8; 24:3, 7). Bila kita balik beberapa halaman kedepan, maka kita lihat mereka bersungut-sungut pada waktu mereka tidak mendapatkan daging untuk dimakan (Bil. 11:4). Dan ini setelah pemberian mujizat manna yang diberikan setiap hari. Saya jadi tersenyum melihat respon Allah. “Kau mau daging? Aku berikan kau daging sampai ia keluar dari hidungmu!” (Bil. 11:18-20, diparafrase ulang).
Kembali lagi, Allah mesti mendisiplin umatNYA. Hukuman utama adalah yang bersungut-sungut dilarang masuk Tanah Perjanjian, dan perjalanan 11 hari dibalikan menjadi 40 tahun. Pada akhir pengembaraan mereka, tak ada yang berumur 60 keatas diizinkan masuk ke Kanaan. Pengecualiaan hanya untuk Kaleb dan Joshua, yang menunjukan iman luarbiasa kepada Tuhan pada saat yang lain tidak menunjukan imannya. Suatu komentar yang menyedihkan bagi umat yang telah sering melihat kuasa Allah yang luarbiasa.
Adalah mudah untuk memandang kembali akan pengalaman mereka dan mengkritik pilihan yang dibuat orang Israel. Tetapi pengalaman mereka mesti menjadi peringatan bahwa kita tidak kebal kepada kuasa setan yang mencobai kita untuk berkeluh kesah dan mengomel—bahkan diantara bukti-bukti besar akan tuntunan dan perlindungan Allah . Satu-satunya obat untuk hal ini adalah berpegang teguh kepada Allah dan memperlengkapi diri kita dengan perlengkapan senjataNYA (Efesus 6:11)

REAKSI
1. Apakah penting untuk mempunyai bukti arkeologi untuk semua cerita Alkitab? Bagaimana ketidak adaan bukti yang jelas meningkatkan iman kita?
2. Memikirkan kembali akan keliaran yang telah engkau alami, bagaimana Allah telah membantumu selama ini?
___________
*Rabbi Dovid Lichtman. Archaeology and the Bible, Part 2. http://www.aish.com/societyWork/
sciencenature/Archaeology_and_the_Bible_-_Part_2.asp. Retrieved October 13, 2008.

Abigail Blake Parchment, Savannah, Grand Cayman, Cayman Islands

Rabu 28 Oktober
Menjadi Bahagia
BAGAIMANA
Bilangan 11−14; Fil. 4:10−12

Minggu ini, kita telah melihat persungutan yang terus menerus telah mengakibatkan satu generasi bangsa Israel kehinglan hidupnya di padang belantara, jadi tidak masu ke Tanah Perjanjian (Bilangan 11—14).
Persungutan muncul akibat ketidak puasan dengan lingkungan yang biasanya diluar kendali kita. Selalu tampak susah untuk menghindari membuat suatu komentar mengecewakan, karena melakukan hal itu sudah merupakan sifat alami manusia berdosa Sedihnya dari persungutan adalah hal itu amat jarang sekali memperbaiki kondisi, bahkan sering memperburuknya.
Sama seperti anak-anak Israel, orang-orang saat ini mempunyai kecendrungan besar untuk mengomel tentang banyak hal. Sebagai manusia kadang kita mengomel bila kita tidak bisa lewat, bila orang-orang sekeliling kita tampaknya lebih baik dari kita, dan banyak hal lainnya. Dibawah ini ada beberapa langkah yang dapat membantu kita untuk membalikan gelombang sifat persungutan.
Belajar untuk puas dengan kemampuan dan apa yang anda miliki (Fil. 4:10-12). Paulus mengingatkan kita bahwa kita mesti selalu gembira tidak peduli apapun situasinya; apakah kita sedang dalam kesesakan dan bahkan bila semuanya berjalan mulus.
Selalu pertahankan sikap bersyukur (Maz. 105:1). Memberikan ucapan syukur merupakan salah satu cara untuk melawan ketidak puasan. Hitung berkat-berkatmu dan sampaikan puji syukur kepada Allah untuk segala sesuatu yang diberkatinya, bahkan untuk hal yang tampaknya sepele. Dengan selalu bersyukur membuat anda sibuk dan tidak punya waktu untuk mengeluh.
Cegah untuk membanding-bandingkan situasimu dengan situasi orang lain. Mereka juga punya kelemahan. Sebagai gantinya, identifiksi kesalah-kesalahanmu dan bergantung pada Yesus untuk membantumu memindahkan hal itu dari hidupmu.

REAKSI
Pikirkan beberapa cara sifat persungutan dapat mencegah seseorang dari hubungan rohani.

Michael-Henry Parchment, Grand Cayman, Cayman Islands

Kamis 29 Oktober
Huruf “S” untuk Sindroma
PENDAPAT
Bilangan 11-14

Dalam penjajahan selama empat ratus tahun (Kej. 15:13), persungutan dan mengeluh sudah merupakan cara hidup orang Israel. Hilang sudah hari-hari pada saat kesukaan untuk mencerminkan sifat Allah kepada orang tak percaya di Mesir. Pengajaran tentang kedatangan Mesisa telah menjadi hal yang samar-samar dalam pikiran orang muda dan tua. Tetapi, adalah kerinduan Allah untuk membawa perhatian mereka kembali kepadaNYA. Melalui hambaNya Musa, suatu tipe Kristus, dan kaabah, yang merupakan pola kaabah sorgawi (Ibrani 8:16-19), Allah menginginkan umatNYA untuk mengetahui bahwa ada satu-satunya jalan, dan itu hanya melalui Mesias.
Huruf “S” pada kata Sindroma (mementingkan diri) telah mengakibatkan orang Israel menjadi ambisius dan berdikari secara berbahaya. Mereka telah menjadi merdeka dari Allah dengan memalingkan punggung mereka kepada hukum-hukumNYA. Ironisnya, mereka berpikir Allah lah yang telah meninggalkan mereka.
Sang penipu utama bersungut dan mengomel akan posisi Yesus di sorga; dan sebagai akibatnya, dia memulaikan pemberontakan dan kemurtadan diantara sepertiga malaikat.* Ngutluh (persilangan antara persungutan dan mengeluh) mengakibatkan lebih banyak usaha daripada hanya mendengar kepada Allah. Sama seperti cembetut pada saat kita semestinya bisa tersenyum. Allah kehilangan umatNYA sedemikian rupa sehingga hal yang ingin dilakukanNYA adalah memperdamaikan diriNYA sendiri dengan mereka melalui Yesus. Ngutluh mereka merupakan suatu indikasi mereka akan menolak Yesus pada kedatanganNYA yang pertama.
Siapa yang tidak pernah ngutluh boleh angkat tangan . . . . . saya rasa tidak. Kita merasa adalah tugas kita untuk “menggebuk” orang Israel, tetapi apakah kita berbeda? Pikirkan. Kita ngutluh jika seseorang fals waktu nyanyi atau jika pelajaran Sekolah Sabat tidak diterangkan sesuai dengan khayalan kita. Ngutluh mengakibatkan kita menjadi hamba kepada bos “S” si Setan.
Amsal 6:16 mengatakan, “Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya”. Lima dari hal itu adalah penyebab Ngutluh (Ayat 17-19). Musuh telah mencetuskan kepada orang Israel bahwa mereka mempunyai hak. Jadi mereka tumbuh untuk percaya bahwa mereka dapat hadir tanpa hukum-hukum Allah, melupakan bahwa Ngutluh kepadaNya akan mengakibatkan kekacauan dan anarki. Huruf “S” pada sindroma adalah hubungan satu arah. Setan mengatakan, “Saya akan,” Allah berkata, “Marilah kita . . . . .” Perlu berdua dalam jalan Tuhan—Yesus dan saya.

REAKSI
1. Kenapa Allah memilih orang Israel sebagai umatNYA padahal sudah tahu mereka akan murtad?
2. Apa yang dapat kita lakukan untuk jatuh dalam kemurtadan; dan jika kita melakukannya, bagaimana kita ditebus?
____________
*The Story of Redemption, pp. 13−17.

Donna Dennis, West Bay, Grand Cayman, Cayman Islands

Jum’at 30 Oktober
“Kamu Mau Kembali Ke Mesir”
EKSPLORASI
Keluaran 14, 15, 17, 31

SIMPULAN

Berkeluh kesah, mengomel, dan segala tindakan yang mengarah kepada cinta diri, bahkan ditengah intervensi langsung mujizat Allah yang langsung dalam hidup mereka, menghapus kemungkinan orang Israel yang langsung keluar dari Mesir untuk masuk Tahan Perjanjian. Kita tidak berbeda saat ini. Solusi kita terletak pada mempertahankan hubungan percaya dan bertumbuh kepada Allah setiap hari (bahkan bisa lebih sering).

PERTIMBANGKAN

■ Bacalah lirik lagu Keith Green di lagu “Jadi kamu mau kembali ke Mesir” di http://www.lyricsfreak.com/k/keith+green/so+you+wanna+go+back+to+egypt_20077386.html. Carilah hubungannya dengan bahan pada pelajaran minggu ini.
■ Posisikan dirimu sendiri di kemah Israel dengan Musa dan keluargamu. Buatlah catatan harian untuk perjalanan waktu berikut: Keluaran 14:5–31; 15:22–25; 17:1–7; 32:1–35 (asumsikan dirimu selamat).
■ Adopsi lagu Pembebasan dari Keluaran 15 kepada kerja Allah dalam hidupmu. Bagikan kepada teman terpercayamu pada suatu waktu engkau memberontak kepada Allah dan bagaimana Dia menunjukan kasihNYA kepadamu tak peduli apapun.
■ Siangi suatu taman yang bersemak, kemudian pelihara bunya lainnya. Pikirkan bagaimana tempat yang dulunya indah ini bisa jadi sedemikian tidak menariknya dan usaha untuk merestorasinya.
■ Facing a small source of heat (space heater, camp fire, etc.). Enjoy the warmth you feel. Describe it out loud. Turn your back and walk some distance away. Speak out loud what you feel now, and how it has changed. What part did your words play in the differences you noticed? What does this teach you about the relationship between complaining and your relationship with God? Arahkan wajahmu ke suatu sumber panas (pemanas ruangan, api unggun, dsb). Nikmati kehangatannya. Uraikan dengan suara keras. Berpaling dan menjauhlah. Ucapkan sekarang bagaimana rasanya, dan bagaimana itu telah berobah. Kata-kata apa yang engkau gunakan dalam perbedaannya? Apa pelajaran yang didapat dari berkeluh kesah dan hubunganmu dengan Allah?

HUBUNGKAN

Lihat Matius 23 di The Visual Bible: Matthew. Perhatikan dengan seksama nada suara yang memerankan Yesus.
Bacalah dalam hari-hari berikut di Oswald Chambers’ My Utmost for His Highest: June 26 and 27, November 1 and 11. Bacaan tersebut dapat diakses secara online di http://www.rbc.org/utmost/ index.php.

Gill Bahnsen, Auburn, Washington, U.S.A.

No comments:

Post a Comment