|
|
Satu
dan Dua Tesalonika
Pelajaran Ke-Tigabelas Kwartal 3,
Menjaga Gereja
Tetap Setia
22—29 September
2012
Diterjemahkan Oleh: Victor Hutabarat
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi:
Janette Sepang
|
“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah
pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara
tertulis.” (2 Tes. 2:15).
Sabbath
22 SEPTEMBER
|
Lukas 12:42-48
|
Pendahuluan
Refleksi
Masa Kecil
|
Ketika aku berusia tujuh tahun, ibuku sering
memintaku merawat adikku yang berumur 3 tahun pada saat ibu pergi untuk
mendapatkan air dari sumur terdekat. Dia memberikan instruksi yang jelas kepadaku mengenai apa yang harus
dilakukan pada saat dia pergi. Namun, segera setelah dia pergi, aku mulai
melakukan persis apa yang aku senangi. Pertama, aku akan membawa adikku ke
tempat tidurnya dan menyuruhnya tidur. Lalu aku akan pergi bermain dengan
teman-temanku. Ketika Ibu kembali, ia akan menemukan adikku sedang sendirian
dan menangis. Ketika aku mendengar ibu memanggilku dengan marahnya, aku pulang
ke rumah secepat mungkin, mencoba memikirkan apa yang akan kukatakan padanya apabila
aku tiba di sana.
Janganlah kita
pernah terbagi. Janganlah kita pernah kehilangan jalan kita
Namun, intinya
adalah ini: aku tidak setia. Ibuku mempercayakanku untuk menjaga adikku, tetapi
aku tidak melakukannya. Kesetiaan manusia selalu diuji. Kadang-kadang mereka gagal.
Kadang-kadang mereka lulus. Kesetiaan melintasi spektrum kehidupan manusia, hubungan,
keuangan, sekolah, perguruan tinggi, dan bahkan gereja. Sebagai orang Kristen
Advent, kita memiliki pekabaran yang unik untuk dibawakan kepada dunia. Kita diberkahi
dengan tugas untuk menjadi pelayan yang setia dari pekabaran ini sebagaimana
kita dengan sabarnya menunggu kedatangan Kristus. Kita melakukan ini untuk
mengabadikan misi yang Kristus Sendiri telah tetapkan.
Pelajaran minggu ini membahas bagaimana
gereja dapat tetap setia. Di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi sebagai
sebuah gereja, itu adalah kesempatan yang luar biasa bagi kita sebagai orang Advent
untuk mencurahkan lebih banyak cahaya ke dalam jalan yang gelap dari dunia kita
ini. Solidaritas dari orang Advent di seluruh dunia merupakan ciri dari gereja kita.
Janganlah kita pernah terbagi. Janganlah kita pernah kehilangan jalan kita. Sebagaimana
kita mempelajari kata yang terakhir dari Paulus kepada orang Kristen di
Tesalonika, mari kita diinspirasikan untuk tetap setia sampai Kristus kembali
tidak peduli tantangan apa yang kita hadapi.
Jacqueline Achieng, Homa-bay, Kenya
Minggu
23 SEPTEMBER
|
Logos
Menjaga
Gereja Tetap Setia
|
Mat. 7:24−27; 18:15–17; Lukas 10:25−37; Kisah
17:11; 2 Tes. 2:13−3:18
|
Memberitakan Pekabaran Kebenaran Masa Kini (Matius
7:24-27)
Banyak orang percaya bahwa perubahan
biasanya membawa kabar yang baik. Umumnya sebagai orang Kristen dan secara
khusus sebagai orang Advent, kita perlu melihat perubahan-perubahan itu dari
perspektif yang berbeda. Bagaimana perubahan itu mempengaruhi iman kita dan
sifat keseluruhan dari kekristenan? Perumpamaan tentang tukang bangunan yang bijaksana dan bodoh menggambarkan
dua skenario yang kontras. Sebagai seorang Kristen abad kedua puluh satu yang
sedang bergulat dengan perubahan yang beragam dalam bidang sosial, ekonomi,
budaya, dan agama, ujiannya adalah apakah Anda secara efektif menerapkan Firman
Tuhan untuk kehidupan Anda.
kita harus
mendorong satu sama lain dan membangun diri dalam setiap perbuatan dan
kata-kata yang baik
Apa yang firman
Allah lakukan dalam diri Anda dan untuk Anda? Bagaimana orang lain melihat
Kristus dalam tindakan Anda dan mendengar-Nya dalam kata-kata Anda? Apakah
tindakan Anda sesuai dengan iman Anda? Jika tidak, kita sedang bergerak dengan
pasang surutnya dunia, dan kita akan tersapu oleh arus perubahan sosial. Biarlah
Tukang Bangunan yang bijaksana itu menjadi contoh kita, jangan sampai kita
tenggelam dalam badai yang mengalahkan kita terus menerus.
Mangasihi Aturan-aturan (Matius 18:15-17, Lukas
10:25-37)
Ketika kita mengasihi Allah (empat yang pertama
dari Sepuluh Perintah Allah) kita akan belajar untuk mengasihi orang lain (enam
yang terakhir dari Sepuluh Perintah Allah). Di dalam gereja, perbedaan pendapat
cenderung berlimpah. Namun, ketika kasih ada di antara kita, tindakan dan
kata-kata kita akan menunjukkannya. Jika kita merendahkan pentingnya cinta,
kita akan kehilangan identitas kita sebagai orang Kristen dan memberikan
reputasi yang buruk bagi denominasi kita.
Kasih kita atau kurangnya akan kasih itu
yang dilihat dan didengar dalam cara kita menyelesaikan perselisihan baik di
dalam dan di luar gereja. Aspek lain dari kasih Kristen termasuk bagaimana kita
memperlakukan orang secara umum. Perkataan dan perbuatan Kristus menekankan bahwa kita harus memperlakukan
semua orang dengan kasih. Oleh karena itu, kita hanya bisa tetap setia sebagai
gereja jika kita memiliki kasih bagi Allah dan sesama manusia. Mengasihi dengan
cara seperti Kristus melakukannya berarti bahwa kita tidak memperhitungkan mereka
yang telah menyakiti kita, karena hal-hal tersebut sudah diselesaikan oleh
Kristus di kayu salib. Hal ini memungkinkan kita untuk bergerak maju sebagai
sebuah keluarga yang bersatu dalam Kristus tidak perduli di mana pun kita
berada di dunia. Hal ini juga memungkinkan kita untuk memiliki hubungan baik
dengan tetangga dan masyarakat kita.
Menguji Kebenaran (Kisah
17:11)
Pilar-pilar
tertentu dari kebenaran mendefinisikan Gereja Advent. Kita percaya bahwa
Alkitab adalah Firman Allah, bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat kita,
bahwa hari yang ketujuh Sabat adalah suatu pengingat akan kasih-Nya yang terus
menerus, dan bahwa Yesus suatu hari nanti akan kembali untuk membawa pulang
pengikut-Nya.
Adalah penting untuk mempelajari pilar-pilar
ini, karena kebenaran yang palsu berkembang biak hampir setiap hari. Bahkan di
dalam gereja kita sendiri guru-guru palsu menimbulkan perbedaan pendapat dan
menyebabkan orang mempertanyakan doktrin-doktrin dasar dari Alkitab. Untuk alas
an-alasan ini kita perlu mengetahui apa yang kita yakini. Kita perlu menguji
keyakinan yang lain dengan Firman Tuhan. "Akan hukum dan kesaksian! Jika
mereka tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, mereka tidak memiliki
cahaya fajar "(Yesaya 8:20, NIV).
Tidak seperti
orang-orang Yahudi di Tesalonika, orang Yahudi di Berea, yang dalam "kesiapan
mereka untuk melihat apa yang diusulkan sebagai kebenaran," diuji dengan apa
yang mereka dengar dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Alkitab adalah menjadi alat
penguji untuk semua doktrin. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang
bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16).
Tantangan yang kita hadapi saat sebagaimana
kita menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali adalah banyak dan beragam.
Namun, dalam hati kita, kita tahu Allah telah memanggil kita untuk tugas yang mulia
memberitahukan dunia yang gelap ini akan kebenaran di dalam Yesus. Pekerjaan
menjaga gereja untuk tetap setia sampai Kristus kembali tergantung pada
kesediaan kita untuk berjalan di atas jejak Kristus, yang adalah teladan kita.
Untuk mencapai tingkat kesetiaan ini, kita
harus mendorong satu sama lain dan membangun diri dalam setiap perbuatan dan
kata-kata yang baik. Kristus dapat kembali setiap saat. Tapi apakah itu harus
membuat kita meninggalkan setiap hal baik yang kita lakukan sekarang dan hanya
menunggu? Tidak. Perbuatan baik kita yang terus menerus adalah bagian dari apa
artinya menjadi setia kepada kebenaran. Selain itu, kita perlu berdoa tanpa
henti, teguh dalam keyakinan kita, dan hidup menurut hukum kasih Allah yang
kudus.
REAKSI
1. Bagaimana dengan berbuat baik dapat
membawa orang lain kepada kebenaran?
2. Dalam hal apakah gereja kita berbeda? Mengapa penting supaya hal-hal ini dimengerti dengan benar?
3. Bagaimanakah gereja telah menjaga
kesetiaannya sepanjang zaman?
____________
* The
SDA Bible Commentary, vol. 6, 1st ed., p. 344.
Alice Adhiambo, Nairobi,
Kenya
Senin
24 SEPTEMBER
|
Mat.
24:36–39
|
Kesaksian
Kapankan Yesus
Akan Kembali?
|
"Gereja dibangun di atas Kristus
sebagai pondasinya; gereja harus taat kepada Kristus sebagai kepalanya. Hal ini
tidak bergantung pada manusia, atau dikendalikan oleh manusia. Banyak yang
mengaku bahwa sebuah posisi yang dipercayakan dalam gereja memberi mereka
wewenang untuk mendikte apa yang orang lain harus percayai dan apa yang mereka harus
lakukan. Allah tidak memberikan sanksi kepada pengakuan ini. Juruselamat
menyatakan, "Kamu semua bersaudara.' Semua terpapar terhadap godaan, dan
bertanggung jawab terhadap kesalahan. Tidak ada makhluk yang terbatas di mana kita
dapat bergantung untuk bimbingannya. Batu karang iman itu adalah kehadiran Kristus yang hidup di dalam gereja. Di
atas ini, seorang yang paling lemah boleh bergantung, dan mereka yang merasa
diri paling kuat akan terbukti menjadi yang paling lemah, kecuali mereka menjadikan
Kristus sebagai sumber kekuatan mereka "1
Batu karang iman
itu adalah kehadiran Kristus yang hidup di dalam gereja.
"Guru-guru kebohongan akan muncul untuk menarik anda menjauh jalan
yang sempit dan pintu gerbang sesak. Berhati-hatilah dengan mereka, meskipun
diselubungi bulu domba, di dalam hati, mereka adalah serigala yang sedang
mengaum. Yesus memberikan tes di mana guru-guru palsu dapat dibedakan dari guru
yang benar. 'Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka," kata Dia.
"Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari
rumput duri?'
"Kita tidak diperintahkan untuk membuktikan mereka melalui
kothbah-kothbah mereka yang bagus dan profesi mereka yang tinggi. Mereka harus
dihakimi dengan Firman Allah. "Akan hukum dan kesaksian, apabila mereka
tidak berkata/kata sesuai dengan itu, itu adalah karena tidak ada terang di
dalam mereka.'' Berhentilah, anakku, untuk mendengarkan didikan yang menyimpang
dari kata-kata yang memberi pengetahuan' Yesaya. 8:20; Amsal 19:27. Pesan
apakah yang dibawa oleh guru-guru ini? Apakah itu membawa Anda kepada hormat
dan takut akan Allah? Apakah
itu menuntun Anda untuk mewujudkan cinta Anda bagi-Nya dengan setia kepada
perintah-Nya?2
Banyak orang telah meninggalkan gereja karena mereka berpikir bahwa
kedatangan Kristus telah tertunda. Namun kita semakin dekat kepada peristiwa
besar itu. Itulah sebabnya mengapa tetap penting bagi kita untuk terus mengatakan
kepada orang lain tentang kedatangan-Nya.
REAKSI
1. Dalam komunitas Anda, apa yang dapat
membuat Anda berubah pikiran dari kebenaran? Bagaimana Anda melawan perubahan
ini sebagai individu dan sebagai satu gereja agar setia sampai akhir?
____________
1. Desire of Ages, p. 414.
2. Thoughts From the Mount of
Blessing, p. 145.
Esther
Aoko, Kisumu, Kenya
Selasa
25 SEPTEMBER
|
Bukti
Tetap Setia
|
Daniel
1:1‒18; 6:1‒23
|
Daniel adalah
contoh yang terbaik dari kesetiaan. Hidup sebagai
tawanan di negeri asing, ia menghadapi banyak tantangan untuk imannya. Namun
melalui kasih karunia Allah, ia mampu untuk tetap teguh. Karena kesetiaannya, raja mengakui kekuatan Daniel
dan menempatkan dia dalam posisi penguasa.
Namun, menerima
kekuatan ini bukan berarti tanpa risiko. Dia bertemu oposisi yang berat dan
tantangan yang dapat menyebabkan dia untuk mengkompromikan imannya,
membengkokkan prinsip-prinsipnya. Namun, ia tetap teguh menghadapi setiap badai.
Selama lebih dari enam dekade dia tetap bekerja di Babel, dengan menggunakan talenta
yang diberikan Tuhan selama ia bekerja untuk serangkaian raja-raja kafir. Ya,
ada tantangan. Namun ia tetap sopan, rajin, dan di atas semua, setia kepada
Allah.
Oh, andai saja
masing-masing kita bisa memiliki iman dan keberanian seperti itu
Meskipun ancaman
kematian, Daniel tidak mau tunduk pada patung yang dibuat oleh
raja. "Ada perintah atau tidak ada perintah, hamba Allah ini merasa bahwa
dia harus tetap menjalankan kebiasaan rutinnya berdoa. Allah baginya adalah sumber
dari segala kebijaksanaan dan keberhasilan dalam hidup. Pekerjaan Surga lebih berharga
baginya daripada kehidupan itu sendiri. Perilakunya adalah hasil alami dari
kepercayaannya kepada Allah "*.
Pada saat Daniel
dilemparkan ke kandang singa, dia tidak pernah mengkompromikan imannya. Dia
tidak akan tunduk bahkan ketika diancam akan dibunuh. Oh,
andai saja masing-masing kita bisa memiliki iman dan keberanian seperti itu.
Dengan tantangan yang kita hadapi saat ini sebagai gereja, kita juga
membutuhkan imannya Daniel dan tekad untuk tidak menajiskan diri dengan
jalan-jalan yang penuh dosa dari dunia saat ini. Iman seperti itu dimungkinkan
hanya melalui kekuatan yang luar biasa dari doa dan hadirnya Roh Kudus Allah.
____________
*The
SDA Bible Commentary, vol. 4, p. 812.
REAKSI
1. Apa saja tantangan utama dan oposisi
yang sedang dihadapi oleh gereja kita saat ini?
2. Bagaimana supaya kita tetap setia
sebagai individu dan gereja?
3. Peran apa yang bisa diharapkan dari kedatangan
Kristus yang kedua dalam memperkuat iman kita?
4. Sambil berpikir mempertimbangkan
kebiasaan doa Anda. Apa yang ayat-ayat dari Alkitab berikut ini ajarkan tentang
doa? Mz. 62:8; Filipi 4:6; Ibrani 4:15, 16; Yakobus 1:5, 6; 1 Pet. 4:7.
Bob Collins, Nairobi, Kenya
Rabu
26 SEPTEMBER
|
Yohanes
14:1
|
Bagaimana
Menjaga Kesetiaan
|
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Nama
gereja kita sangat mengacu pada Kedatangan Yesus yang Kedua kali. Sejak awal
gereja kita, Kedatangan Yesus yang Kedua kali telah menjadi salah satu terang
yang menuntun gereja kita, yang membedakannya dari agama lainnya. Terlepas dari perubahan yang kita temukan
dalam masyarakat, kita tidak boleh hilang pandangan terhadap terang ini. Di
bawah ini adalah hal-hal, yang melalui pertolongan Tuhan, yang bisa kita
lakukan untuk tetap setia dan terfokus pada kedatangan Kristus.
Terlepas dari
dilemma yang kita hadapi, mari kita ingat selalu bahwa Allah ada di pihak kita
Waspada. Kita terus menghadapi perubahan dari satu jenis ke jenis lainnya yang
dapat mengguncang dasar rohani kita. Ini adalah panggilan untuk waspada,
sehingga saat kita terus hidup dalam dunia yang penuh dosa, kita akan
mempertahankan identitas kita sebagai gereja Allah yang sisa. Pandangan yang membedakan antara perubahan yang baik dan buruk
adalah sebuah keharusan.
Menyadari
kehadiran Tuhan. Terlepas dari dilemma yang kita
hadapi, mari kita ingat selalu bahwa Allah ada di pihak kita. Doa, belajar Alkitab,
merenungkan Firman Allah, dan melayani orang lain membantu kita untuk tetap
terhubung dengan-Nya.
Jangan
pernah menyerah. Janganlah kita bosan menunggu
Kristus untuk kembali. Janganlah kita menjadi seperti anak gadis yang kehabisan
minyak sambil menunggu pengantin laki-laki (Matius 25:1-13). Marilah kita berdoa
bagi Roh Kudus untuk memberikan kita minyak rohani untuk menopang kita sampai
Mempelai Pria Surgawi kita datang.
Mengandalkan
Firman Allah. "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku / Dan
terang bagi jalanku" (Mazmur 119:105). Sebagaimana kita melawan semua perubahan
yang terjadi di dunia sebelum Kristus kembali, biarlah keputusan kita dibimbing
oleh cahaya konstan dari Kitab Suci.
REAKSI
1. Bagaimana gereja lokal Anda menghadapi perubahan negatif dalam
komunitas Anda? Menurut Anda, bagaimana gereja sedunia harus menghadapi
perubahan dianggapnya negatif?
2. Sambil mengingat situasi saat ini, apakah Anda pikir adalah
mungkin bagi gereja kita untuk mempertahankan imannya? Jelaskan jawaban Anda.
George
Otieno, Mbita Point, Kenya
Kamis
27 SEPTEMBER
|
Pendapat
Akankah Kita Membangun
di Atas Batu Karang
|
Mat. 7:24‒27
|
Saat saya menulis artikel ini, saya mendengarkan lagu “My Life is in
Your Hands” oleh Kirk Franklin.* Saya melakukan ini untuk
merefleksikan gempa dan tsunami yang menewaskan lebih dari 20.000 orang. Bagi saya
pribadi, saya telah kehilangan lebih dari tiga keluarga dekat dalam sembilan
bulan terakhir. Baru-baru ini saya mendengar rekan kantor saya membahas nubuat
yang mereka baca di Internet. Salah satu nubuat yang mereka sebutkan
berhubungan dengan kedatangan Kristus yang kedua kali.
Sekarang,
lebih dari sebelumnya, gereja membutuhkan pria dan wanita yang setia
Berdasarkan semua yang terjadi di sekitar kita, kita harus bertanya
kepada diri sendiri apakah kita bisa tetap setia. Apakah iman kita cukup kuat
untuk menahan semua peristiwa yang sedang bergolak di dunia dan bahkan pada
waktu-waktu kehidupan pribadi kita? Bagaimana kaum muda yang sedang berjuang
melawan pengangguran tetap setia? Bagaimana mereka bisa mempercayai Tuhan untuk
menjaga mereka?
Sekarang, lebih dari sebelumnya, gereja membutuhkan pria dan wanita
yang setia dan yang akan tetap setia kepada Allah, yang tidak akan
terintimidasi atau terjual dengan harga berapapun. Aku bertanya-tanya apa
sebenarnya yang harus saya lakukan untuk terhitung dalam kategori pria dan
wanita yang akan berdiri teguh dalam iman mereka sampai Kristus datang.
Satu hal yang Paulus ingatkan kepada jemaat Tesalonika adalah tentang
kemalasan. Kemalasan yang berhubungan dengan pekerjaan fisik
dan mental dapat menjadi musuh dari kesetiaan. Kita perlu mengadopsi semangat
dari pembangun yang bijaksana. Kita perlu memilih Kristus sebagai Juruselamat
kita dan tetap setia kepada-Nya sampai akhir. Dengan menghindari pikiran
yang menganggur dan tangan kosong dan dengan merangkul kebiasaan doa yang gigih
dan aktivitas yang positif, kita dapat mencapai tujuan kita dari kesetiaan.
Saya setuju dengan nasihat Paulus kepada jemaat Tesalonika tentang
tidak malas. Setan dapat dengan cepat mengisi pikiran yang
menganggur dengan segala macam rencana dan ide jahat. Dia tahu bahwa waktunya
semakin pendek dan lebih pendek seiring kedatangan Kristus yang semakin dekat
dan lebih dekat. Musuh kita selalu mencoba untuk menyesatkan kita. Namun,
ketika kita mengisi pikiran kita dengan janji-janji dan kebenaran Allah, ketika
kita menggunakan sebagian besar karunia rohani kita, maka kita akan memiliki
alasan untuk tersenyum ketika Juruselamat kita tampak untuk membawa kita
pulang.
REAKSI
1. Langkah apa yang harus Anda ambil secara pribadi untuk memastikan
bahwa imanmu tetap teguh dalam Kristus?
2. Bagaimana seharusnya gereja memainkan perannya sebagai pembawa obor
kebenaran masa kini di komunitas Anda dan seterusnya? Bagaimana Anda secara
pribadi memainkan peran itu?
____________
*Untuk membaca liriknya, kunjungi: http://www.azlyrics.com/lyrics/kirkfranklin/mylifeisinyourhands
.html.
Ann Adoyo, Kisumu, Kenya
Jum’at
28
SEPTEMBER
|
Eksplorasi
Berdiri Teguh
|
1 Tes. 3:13
|
SIMPULAN
Allah adalah setia. Manusia? Tidak selalu. Kita menjadi terganggu
atau menjadi kecil hati. Di beberapa waktu kita tidak mau menjadi setia, atau
kita pikir kita bisa beristirahat dari kesetiaan dan mengambilnya lagi nanti.
Kadang-kadang kita mungkin akan dihadapkan dengan situasi ambigu yang tampaknya
membuat kita untuk merasionalisasi perilaku kita yang kita ketahui salah di
dalam hati kita. Tapi sebagai orang Kristen lintasan kehidupan kita harus
menyaksikan bahwa kita menjadi lebih setia kepada Allah dan kehendak-Nya bagi
kita. Kuasa untuk menjadi setia tersedia bagi kita dalam doa dan belajar,
dorongan batin dari Roh Kudus, dan persekutuan umat percaya. Janganlah kita
pernah lupa untuk menyediakan diri untuk hal-hal ini.
PERTIMBANGKAN
·
Menggambar atau melukis adegan
yang dibawa ke pikiran dalam Mazmur 119:105. Ketika Anda melakukannya, pikirkan
bagaimana Firman-Nya telah membimbing Anda di masa lalu dan akan melakukannya
di masa depan.
·
Berpikir tentang jenis situasi
di mana kesetiaan kepada Allah dan apa yang Anda ketahui benar adalah sebuah
tantangan. Rencanakan bagaimana Anda bisa membentengi diri sendiri untuk
menghadapi situasi ini dan muncul sebagai pemenang, atau bagaimana Anda bisa
menghindari mereka sama sekali.
·
Mencari janji-janji Alkitab
bagi mereka yang tetap setia. Parafrasekan mereka dalam kata-katamu sendiri
baik dalam notebook atau file komputer.
·
Mendengarkan atau menyanyikan
lagu yang disebutkan oleh penulis pelajaran hari Kamis, My Life Is in Your
Hands. Diskusikan pesan lagu ini dengan orang lain.
·
Berpikir
langkah nyata yang dapat Anda ambil untuk menempatkan iman Anda dalam praktek. Misalnya, pelayanan dalam bidang apa di gereja atau sekolah yang dapat
menggunakan bakat Anda? Bagaimana komunitas Anda dapat menggunakan bakat Anda?
·
Memulai kebiasaan baik, seperti
berolahraga setiap hari. Membangun disiplin dan meminta pertolongan Tuhan untuk
tetap setia pada kebiasaan itu. Jika memungkinkan meminta teman-teman untuk
mendorong Anda.
HUBUNGKAN
2 Tes. 2:13‒17.
The
Seventh-day Adventist Bible Commentary, vol.7, pp.
275, 276, mulai dengan ayat 13.
Patriarchs
and Prophets, pp. 213‒223.
Alan Hecht, Takoma Park,
Maryland, U.S.A.