Sunday, 1 July 2012

SSCQ Indonesia, Pelajaran 9 Triwulan III 2012


Satu dan Dua Tesalonika
Pelajaran Ke-Sembilan Kwartal 3,
Kejadian-Kejadian Terakhir
25 Agustus—1 September 2012
Diterjemahkan Oleh: Rachel dan Danny Handoko
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang


Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.” (1 Tes. 5:8).

Sabbath
25 AGUSTUS
Mat. 5:14−16; 1 Tes. 5:1−11
Pendahuluan
Menantikan Fajar

Pada pukul 6:30 wekermu berbunyi.  Engkau tahu bahwa seharusnya engkau bangun, tetapi engkau tidak sanggup mengumpulkan tenaga untuk itu.  Akhirnya, engkau sampai pada satu titik di mana engkau tidak bisa lagi mematikan weker itu – kelas sudah akan dimulai dalam sepuluh menit.  Jadi engkau meloncat bangun dari tempat tidur, bergegas berpakaian, menyapu kertas-kertas dan buku-buku ke dalam tas, dan lari keluar.  Setelah sehari penuh dengan kelas, tugas-tugas, pekerjaan rumah, dan pekerjaan sambilan, engkau pulang ke tempat tinggalmu dengan kelelahan.  Jadi engkau bermain musik sebentar, membaca buku, menjelajah Web.  Kemudian matamu mulai tertutup.  Engkau jatuh tertidur, hanya untuk mengulangi siklus itu keesokan harinya. 

Jadilah terang sebagaimana Tuhan memanggilmu.  Bagi orang-orang di sekitarmu.

Di dalam kesibukan kehidupan adalah mudah untuk mengabaikan waktu pribadi dengan Tuhan.  Pelajaran minggu ini berfokus untuk bersiap bagi kedatangan Kristus kembali.  Paulus membandingkan dua kelas manusia:  mereka yang akan siap dan mereka yang tidak.  Adalah mudah untuk menjadi tidak siap.  Orang-orang y
ang demikian digambarkan sebagai anak-anak malam, yang menjadi mabuk dan tertidur.  Indera mereka menjadi tumpul, dan mereka tidak akan bisa melihat bahwa waktunya sudah di ambang pintu.  Bagi mereka saat itu akan tiba seperti pencuri yang memasuki rumah mereka di malam hari – mustahil untuk diramalkan dan meninggalkan akibat yang menghancurkan.  .
Kelas yang kedua adalah anak-anak terang.  Seperti wanita yang sedang mengandung, mereka sadar bahwa waktunya sudah dekat.  Bila rasa sakit untuk melahirkan itu mulai, mereka sudah siap untuk satu hasil yang penuh sukacita.  Mereka terjaga, sadar, dan menanti.  Sebagaimana hukum Pathfinder nyatakan, mereka telah melakukan “penunggu pagi”.  Penunggu pagi di zaman dahulu berakhir antara pukul tiga sampai pukul enam pagi.  Itu adalah saat yang sunyi di mana kebanyakan orang masih tidur.  Di dalam kegelapan rohani dunia kita, adalah sangat penting bahwa kita tinggal di dalam terang Firman Tuhan.  Kita harus membuat komitmen untuk satu jadwal waktu bersama dengan Tuhan karena bila tidak kita akan mendesak Dia keluar dari kehidupan kita yang sibuk. 
Sebagai tambahan, kita adalah “terang dunia.”  Kita harus membagikan terang itu kepada mereka dengan siapa kita bertemu (Mat 5:14-16).  Kita bukanlah terang dari dunia, tetapi dari Tuhan kepada dunia.  Bulan adalah satu contohnya yang klasik.  Kebanyakan orang sadar bahwa bulan memantulkan terang matahari di malam hari, membuat malam kita menjadi sedikit lebih terang.  Tuhan adalah Terang yang terutama, dan kita memantulkan terang itu ke dunia yang gelap sampai fajar (kedatangan-Nya yang kedua) merekah. 
Sementara engkau belajar minggu ini, perhatikanlah bagaimana engkau bisa siap bagi kedatangan Kristus yang kedua.  Juga, jadilah terang bagi orang-orang di sekitarmu sebagaimana Tuhan telah memanggilmu untuk itu. 

Rachelle Nelson, Lincoln, Nebraska, U.S.A.

Minggu
26 AGUSTUS
Logos
Bersiap Bagi Sang Pencuri
1 Tes. 5:1−11

Betapa seringnya saya telah membaca tentang pencuri-pencuri yang membobol rumah dan mencuri harta milik pribadi.  Betapa seringnya reaksi saya yang mula-mula adalah kritis – si pemilik rumah seharusnya lebih berhati-hati;  mereka seharusnya mengunci pintu-pintu mereka.  Saya tahu hal itu tidak pernah akan terjadi terhadap saya – sampai hal itu terjadi!  Hanya satu pintu garasi yang dibiarkan terbuka;  satu-satunya hal yang masih bisa dilakukan adalah membersihkan garasi itu, menghitung kehilanganku, dan menghadapi perasaan dilanggar oleh seseorang yang sekarang memiliki barang-barang yang adalah milik saya.  Menjadi terlena itu mahal harganya bagiku. 

Pencuri itu datang!  Kenyataannya, dia sudah berada di sini.

Betapa seringnya aku telah membaca di Kitab Suci tentang si setan – seekor singa yang meraung-raung mencari orang yang bisa dimangsanya, tentang gadis-gadis yang tidak siap untuk pesta pernikahan dan tidak bisa masuk ke pesta yang mereka rindukan itu.  Betapa seringnya reaksiku yang mula-mula adalah mengkritik orang-orang “Laodikea” yang sekarang tampaknya dininabobokan oleh apa yang tampaknya adalah penundaan dari Yesus.  Aku tahu itu tidak pernah akan terjadi terhadapku – sampai hal itu terjadi!  Aku belumlah dimangsa, atau ditolak masuk ke perjamuan nikah itu, tetapi ada saat-saat di mana saya bertanya-tanya apakah semangat bagi kembalinya Tuhan itu mungkin terlalu ditekankan. 
            Di sanalah tampaknya juga di mana orang-orang Tesalonika berada.  Di dalam suratnya yang pertama kepada mereka, Paulus merincikan hari besar Tuhan itu dan memberikan pada mereka satu peringatan tentang bahayanya teologi “damai dan aman” yang bisa meninabobokan mereka keluar dari Kerajaan Tuhan.  Itulah pelajaran kita minggu ini. 

Masalahnya (1 Tes. 5:2)
Pencuri itu akan datang!  Kenyataannya, dia sudah berada di sini, memangsa, menghancurkan, menipu, dan mengalihkan perhatian dari Tuhan menuju kekuatiran dunia ini.  Bila aku melupakan hal ini, aku berada dalam bahaya untuk melewatkan pesta pernikahan itu.  Aku tidak mengenal terlalu banyak orang Kristen yang tidak ingin Tuhan untuk datang.  Aku mengenal cukup banyak orang yang teralih perhatiannya ketika, atau bahkan jika, Dia akan bisa datang.  Mempertahankan pengharapan untuk waktu yang lama itu sulit. 

Janjinya (1 Tes. 5:5)
Engkau tidak berada dalam kegelapan.  Tuhan telah menyediakan segala sesuatu yang perlu bagi keselamatan dan untuk memahami kenyataan kedatangan-Nya.  Fakta dari kedatangan-Nya yang pertama dan kenaikan-Nya ke sorga yang dihubungkan langsung dengan pernyataan jaminan untuk kedatangan-Nya yang kedua meneguhkan janji itu bagiku (Kis 1:7-11).  Janji-janji Tuhan, yang terkandung di dalam Firman-Nya dan dikelilingi oleh fakta-fakta, bisa membantuku untuk memperhatikan kegenapan-kegenapannya. 

Penjagaannya  (1 Tes. 5:8)
Ayat ini adalah satu pengingat bahwa perlindungan dari menjadi terlena mengenai Kedatangan-Nya yang kedua itu dimulai dengan pengendalian diri – melakukan atau memikirkan hal-hal yang benar tidak peduli apapun yang terjadi.  Aku menudungi hatiku dengan iman dan kasih.  Aku menudungi kepalaku dengan pengharapan.  Menggunakan perumpamaan dari seorang pejuang yang melindungi bagian-bagian tubuhnya yang paling vital, Paulus menggambarkan seorang Kristen yang sukses sebagai dia yang menutupi daerah-daerah yang paling rawan untuk serangan rohani.  Focus emosionalku adalah pada kebaikan dan kasih Tuhan di mana aku mempertahankan imanku.  Tidak peduli apa yang terjadi, adalah lebih baik untuk percaya kepada Yesus, bahkan bila Dia tidak benar, daripada untuk tidak mempercayai Dia dan terlambat menyadari bahwa Dia itu benar. 

Persediaannya (1 Tes. 5:9)
Ada banyak yang tidak kupahami tentang kehendak Tuhan, tetapi ada satu hal mengenai kehendak-Nya itu yang sangat jelas – aku diselamatkan oleh Yesus dan tidak oleh apapun yang lain.  Bila kita percaya kepada-Nya, kita akan diselamatkan.  Pertobatan dan pengampunan, yang keduanya adalah kriteria bagi kehidupan kekal, adalah karunia dari Sang Juruselamat.  Adalah mudah bagi perhatian kita untuk dialihkan dari persediaan-persediaan Tuhan ini, yang biasanya menghasilkan satu jenis keselamatan yang berpusat pada diri sendiri yang harus aku usahakan tanpa ada jaminan.  Tidak heran aku tidak mempertahankan satu semangat kerinduan bagi kedatangan Yesus yang kedua.  Bila aku berpikir bahwa semua itu tergantung pada diriku sendiri, sudah jelas bahwa aku tidak siap!

Proposalnya (1 Tes. 5:10)
Kristus mati supaya aku bisa hidup.  Rencana itu sederhana – mungkin terlalu sederhana, karena tampaknya kesederhanaan itu justru paling banyak membawa frustrasi.  Bila saja aku bisa berbuat lebih banyak bagi keselamatanku, maka ada tujuan ke mana aku bisa berusaha.  Bagaimanapun juga, Kristus mati supaya aku bisa hidup.  Aku menantikan kedatangan-Nya bukan sebagai puncak imbalan bagi usaha-usahaku tetapi sebagai kegenapan janji-Nya.  Apa yang bisa kulakukan hanyalah berterima kasih.  Karena itulah kebenarannya, aku tidak perlu menguatirkan apapun, tidak ada yang bisa menghentikan aku dari merindukan kesempatan untuk mengucapkan Terima Kasih, Terima Kasih kepada Yesus, muka dengan muka. 

Prosesnya  (1 Tes. 5:11)
Hiburkan dan ajarlah.  Inilah arti dari mempertahankan satu tingkat pengharapan yang tinggi untuk kedatangan Yesus kembali.  Konsep dari kehidupan kekal dari Yesus semata-mata seharusnya membawa penghiburan;  dan keadaan damai secara emosional itu bisa menjadi pekabaran yang aku ajarkan kepada orang-orang lain.  Memperoleh keyakinan dan jaminan bagi diriku sendiri dan kemudian memberikan jaminan itu kepada orang-orang lain adalah cara aku bisa mempertahankan kerinduan untuk janji kedatangan-Nya.  Intinya adalah memberi gantinya menerima.  Bila aku menerima jaminan ini dari Tuhan dan tidak melakukan apa-apa dengannya, berarti aku tinggal diam seperti sebuah danau tanpa jalan keluar.  Tetapi, bila aku memberikan kepada orang-orang lain apa yang aku sendiri sudah terima, aku mempertahankan satu kegairahan hidup dan satu pengharapan yang baru untuk kedatangan Yesus. 

REAKSI
1. Bagaimana engkau kehilangan hal itu?  Bagaimana engkau menemukannya kembali?  (Lihat Wahyu 2:1‒7)._
2. Apakah hal terburuk yang bisa terjadi bila engkau menjadi terlalu bergairah tentang kedatangan Yesus kembali?

Rich Carlson, Lincoln, Nebraska, U.S.A.

Senin
27 AGUSTUS

Lukas 12:16−21
Kesaksian
Bersiap Sedia? Aku Siap . . Menurutku?

Orang-orang Laodikea berpikir bahwa mereka memiliki segalanya (Why 3:17).  Mereka melambangkan orang banyak yang berpikir bahwa mereka memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri, jadi mereka menantikan “hukum Hari Minggu” atau satu “chip computer” sebelum bersiap-siap (Luk 12:16-21).  Tetapi menjadi terlena dan merasa diri cukup adalah mematikan.  Gantinya, kita harus siap dalam Roh dan kebenaran gantinya berfokus pada “bersiap-siap”.  Orang-orang Farisi dan Saduki berpikir bahwa mereka mengetahui semuanya, tetapi mereka tidak bisa ambil bagian dalam Kerajaan Tuhan karena kesombongan mereka dan karena mereka merasa diri cukup.  Mereka menolak Sang Juruselamat sama seperti kita akan berbuat demikian bila kita berfokus pada usaha dan bukan pada karunia yang adalah Yesus.

Hidup kita sehari-hari sedang menentukan tujuan nasib kita

Seperti orang kaya di dalam buku Lukas, banyak dari kita yang bisa sekonyong-konyong dituntut nyawanya.  Tetapi “Tuhan … sabar terhadap kamu, … Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa” (2 Pet 3:9).  Tetapi, ini bukan alasan untuk menjadi terlena.  Kita harus bertobat dari dosa-dosa kita (Kis 17:30) dan bekerja sama dengan Tuhan dalam memilih untuk melayani Dia (Fil 2:12, 13; Yos 24:15).   “Sifat-sifat tabiat yang engkau sayangi di dalam kehidupan ini tidak akan diubah oleh kematian atau oleh kebangkitan…. Yesus tidak mengubah tabiat pada saat kedatangan-Nya.  Pekerjaan perubahan itu harus dilakukan sekarang.  Kehidupan kita sehari-hari sedang menentukan tujuan nasib kita.  Kita harus bertobat dari cacat tabiat dan mengalahkannya melalui kasih karunia Kristus, dan satu tabiat yang seimbang harus dibentuk sementara berada dalam masa percobaan ini, supaya kita boleh dilayakkan untuk rumah-rumah di atas sana.”1
            Berdirilah sekarang bagi Tuhan dan percayalah kepada kuasa Ilahi-Nya.  Hanya Dia yang bisa mengubah engkau dari kemuliaan kepada kemuliaan.  “Adalah tugas yang pertama dan tertinggi bagi setiap makhluk berakal budi untuk belajar dari Kitab Suci apakah kebenaran itu, dan kemudian untuk berjalan di dalam terang dan menguatkan orang-orang lain untuk mengikuti teladannya.” 2 Inilah artinya untuk bersiap secara rohani.  Umat yang sisa memiliki satu panggilan yang istimewa.  Maukah engkau mendengar panggilan ini?  Bersiaplah sekarang, karena “waktunya sudah dekat” (Why 1:3) “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri.  Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya” (Why. 16:15).
____________
1. Manuscript Releases, vol. 13, 1891, hlm. 82.
2. The Great Controversy (Kemenangan Akhir), hlm. 598.

Russ Huggins, Lincoln, Nebraska, U.S.A.

Selasa
28 AGUSTUS

Bukti
Tentang Pencuri, Tidur, Bangun, dan Pakaian Perang
Kis 17:1−17; 1 Tes. 5:1−8

Di dalam Kisah 17:1−17 kita melihat apa yang terjadi ketika Paulus berada di Tesalonika, “kota yang paling banyak penduduknya di Macedonia dan metropolis dari propinsi itu.”1 Beberapa orang Yahudi tertentu mengumpulkan orang-orang yang bereputasi buruk dan membangkitkan satu kerusuhan melawan Paulus, yang membuatnya pergi ke Berea di mana orang-orang Yahudi yang sama pergi untuk membuat kerusuhan di sana.  Jadi Paulus pergi ke Athena, di mana dia menunggu di sana untuk kabar dari Silas dan Timotius yang masih tinggal.

Ini adalah satu peperangan.  Kita tidak bisa berperang dengan cara bermain gereja-gerejaan

            Di dalam 1 Tesalonika 1-3, Paulus menulis  betapa leganya dia untuk mendengar bahwa Injil telah berakar di sana.  Pasal 4 dan 5 menguatkan orang-orang Kristen yang baru dalam perjalanan mereka.  Paulus berkata kepada mereka untuk menghidupkan satu kehidupan Kristen yang patut diteladani, dan untuk tidak menghabiskan banyak waktu meratapi mereka yang sudah pergi.  Sementara dia menjelaskan pengharapan yang mereka miliki untuk melihat kembali orang-orang yang mereka kasihi, dia menceritakan kepada mereka tentang kedatangan yang kedua.  Seolah-olah tahu bahwa beberapa orang akan merasa cemas, dia mengingatkan mereka akan satu kenyataan yang menyadarkan:  karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.” (1 Tes 5:2).2
            Paulus mengulangi ide itu beberapa kali:  “Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri,    Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar” (1 Tes 5:4, 6).  Kata untuk “tidur” di sini adalah καθεύδω, “katheudo,” yang secara harafiah berarti “berbaring untuk beristirahat.”  Saya tidak bisa menghindarkan untuk berpikir tentang tidur siang di hari Sabat, dan bagaimana kita tahu tanda-tanda kedatangan Kristus, tetapi masih tetap berbaring untuk beristirahat.  Kita bukan berasal dari kegelapan, tetapi kadang-kadang kita berlaku seolah-olah demikian.  Apa yang lebih menarik lagi adalah bahwa di ayat 8, Paulus menyarankan orang-orang Kristen supaya mengenakan pakaian perang supaya mereka tetap siap.  Ini adalah satu peperangan.  Kita tidak bisa berperang dengan cara bermain gereja-gerejaan, dengan setengah tidur, supaya jangan hari itu datang seperti seorang pencuri di tengah malam.      

REAKSI
1. Bandingkan antara 1 Tesalonika 5 dan Efesus 6:10-18 dan 2 Petrus 3:8.  Apakah beberapa tema yang berulang di sana?
____________
1. Orr, James, M.A., D.D., general editor. Masukan untuk THESSALONICA, International Standard Bible Encyclopedia, http://www.searchgodsword.org/enc/isb/view.cgi?number=T8731 (accessed May 11, 2011). 
2. J. M. Powis Smith, Edgar Goodspeed, The Complete Bible: An American Translation (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 15th Impression.

Pablo Colindres-Moreno, Lincoln, Nebraska, U.S.A.

Rabu
29 AGUSTUS

Lukas 21:34−36
Bagaimana
Keadaan Siap Siaga

 “Tuhan akan datang segera!”  Berapa seringkah kita mendengar hal itu?  Di dalam Matius 24, Yesus membicarakan tentang tanda-tanda akhir zaman.  Tetapi tidakkah tanda-tanda ini telah terjadi sejak dosa memasuki dunia ini?  Saya mengenal orang-orang yang begitu yakin bahwa Yesus akan datang dalam masa hidup mereka karena semua kejadian-kejadian yang sedang berlangsung, tetapi sedihnya mereka telah pergi sekarang dan Dia masih belum juga datang.  Saya diberi tahu bahwa di tahun 2000 Hukum Hari Minggu akan diterapkan, dan tentulah Tuhan sungguh-sungguh akan datang segera.  Sebelas tahun kemudian, saya masih berada di atas bumi.  Saya yakin kita semua bisa mengenali hal-hal seperti ini.  Tetapi bagaimanapun juga, kita perlu untuk bersiap bagi kedatangan Yesus, karena adalah mudah untuk bersantai dan kehilangan perasaan yang mendesak itu mengenai Kedatangan yang Kedua.  Jadi bagaimana kita bisa menghindari kehilangan perasaan mendesak untuk bersiap bagi kedatangan Kristus kembali?  Berikut ini adalah beberapa ide.

Kita perlu tinggal bersama Yesus setiap hari.  Dialah yang akan mempersiapkan hati kita.

Sadarilah bahwa kita bisa mati sebelum akhir itu datang. Adalah menakjubkan untuk bisa melihat Kedatangan yang Kedua.  Tapi tidak semua orang akan mengalaminya.  Pertanyaannya adalah, akankah kita siap bila kehidupan kita diambil sebelum saat itu tiba?  Kecelakaan, bencana alam, penyakit-penyakit baru, pembunuhan, dan peperangan meliputi seluruh bumi.  Bahkan nyamuk membawa penyakit malaria dan virus Nil Barat.  Dunia sedang melawan kita.  Lebih dari segala sesuatu, Setan ingin mencegah kita untuk memiliki kehidupan kekal.  Itu menakutkan, tetapi benar.  Dalam pengertian itu, kita tidak memegang nyawa kita di tangan kita sendiri.
            Ingatlah bahwa kita tidak bisa bersiap dalam seketika. Engkau tidak menungu sampai bulan atau hari sebelum wisuda atau pernikahan untuk mulai bersiap bagi peristiwa-peristiwa itu.  Kita tahu bahwa bersiap untuk satu konser atau pertunjukan menuntut banyak hari dan banyak jam untuk berlatih vokal, menghafal, berlatih tampil.  Untuk mempersiapkan hati bagi kedatangan Yesus, kita perlu mulai berserah kepada-Nya sekarang.  Kita perlu untuk tinggal bersama Dia setiap hari.  Dialah yang akan mempersiapkan hati kita.

REAKSI
1. Bila engkau tahu bahwa engkau hanya memiliki satu tahun lagi untuk hidup, apakah yang akan engkau ubah tentang kehidupanmu?  Apakah yang menghentikanmu sekarang untuk membuat perubahan itu? 

Shy Conopio, Lincoln, Nebraska, U.S.A.

Kamis
30 AGUSTUS
Pendapat
Bersiap
Lukas 21:34; Efe. 2:8, 9; 1 Tes. 5:8, 9, 11

Saya sudah lama selalu menyukai acara radio “Petualangan dalam Pengembaraan” (“Adventures in Odyssey”).  Saya mendengarkannya setiap malam ketika saya masih muda.  Satu episode menceritakan kisah dari Simon dan Sunny.  Sunny adalah seorang yang jahat.  Dia menipu orang, mencuri mobil, dan menjadi boss satu gerombolan.  Simon adalah orang yang baik.  Dia mengadakan malam dana, berdoa dengan lancar, dan mengajukan diri dalam pemilihan presiden.  Tampaknya jelas ke mana tujuan masing-masing mereka.  Tetapi, baik Sunny maupun Simon akhirnya tiba di neraka. 

Kita harus berpegang erat-erat kepada Tuhan

Sejenak mengesampingkan teologi drama di sana, episode itu membuat satu poin yang valid: menjadi baik dan melakukan segala hal yang benar tidak akan membawa kita masuk ke sorga.  Syukurlah, keselamatan kita tidak tergantung pada apapun yang kita harus lakukan, tetapi gantinya pada apa yang Tuhan telah lakukan bagi kita di atas kayu salib.  “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efe 2:8,9).  Karena kita tidak bisa melakukan apapun sendiri untuk bisa siap bagi kedatangan Kristus kembali, kita harus berpegang erat-erat kepada Tuhan dan mempercayai bahwa Dia akan membawa kita ke seberang.
Walaupun kebanyakan orang Kristen memahaminya, konsep itu tampaknya terselip dari pikiran kita bila memikirkan masalah kedatangan Kristus kembali.  Gantinya menanti dengan bergairah supaya Sahabat terbaik kita itu datang, kita gemetar dalam ketakutan.  Kita berusaha sekuat tenaga untuk mencari apa artinya untuk bersiap sedia dan seberapa baikkah kita seharusnya.  Jalan untuk menjadi siap bagi kedatangan Kristus adalah dengan terus menerus memelihara hubungan dengan Dia.  Meninggalkan hubungan seperti itu untuk keinginan-keinginan hati kita akan menghalangi kita masuk ke sorga.  Kita tidak bisa menghabiskan kekekalan bersama Dia bila kita tidak mengenal Dia.
            Bagian yang lain dari bersiap sedia adalah membangun orang-orang percaya yang lain.  Karena “Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan” (1 Tes 5:9), kita diberi tahu supaya mengenakan baju zirah iman – hubungan kita dengan Tuhan – dan kasih – hubungan kita dengan orang-orang lain.  Ayat 11 mengatakan supaya kita “[menasihati] seorang akan yang lain dan saling membangun.” Lukas 21:34 menggambarkan beberapa hal yang bisa muncul untuk mengalihkan perhatian kita:  “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” Kita akan siap bagi kedatangan Kristus kembali bila kita berfokus untuk bertumbuh bersama Dia dan belajar dari satu sama lain.

REAKSI
1. Apakah yang mengalihkan perhatianmu dari bersiap sedia untuk kedatangan Kristus kembali?

Serena Stevens, Lincoln, Nebraska, U.S.A.

Jum’at
31 AGUSTUS
Eksplorasi
Berjagalah dan Bersiaplah
Markus 13:32‒33; 35‒37

SIMPULAN
Sementara kedatangan kembali Yesus mendekat, perlu ada satu perasaan mendesak di dalam hati kita – kerinduan untuk mempersiapkan diri kita dan untuk menolong orang-orang lain untuk bersiap supaya bila Dia datang kita tidak akan didapati tidak bersedia.  Ini tidak berarti bahwa kita hanya berbuat segala “hal yang baik”.  Kita juga harus berada dalam komunikasi yang konstan dengan Tuhan, membangun hubungan kita dengan Dia, supaya kita bisa pulang ke sorga.  Kita tidak bisa menunggu sampai saat yang terakhir untuk bersiap-siap.  Kita harus dengan sengaja membentuk kehidupan dan hati kita untuk memantulkan kemuliaan-Nya.  Dengan cara ini, kita akan bisa bersiap bagi kedatangan-Nya kembali.   

PERTIMBANGKAN
  • Bertukar pikiran mengenai cara-cara di mana anggota-anggota kelas Sekolah Sabatmu bisa secara individu bersiap bagi Kedatangan yang Kedua dan cara-cara di mana engkau bisa menolong orang-orang lain di masyarakatmu untuk juga merasakan bahwa waktunya sudah mendesak.  (Ini bisa membawa kepada kesempatan-kesempatan yang besar untuk jangkauan ke masyarakat!)
  • Menghafalkan ayat-ayat Alkitab yang membicarakan persiapan bagi kedatangan Yesus kembali.  Kapan saja engkau merasa terlena, engkau bisa mengulang-ulangi ayat-ayat ini.
  • Merenungkan cara-cara yang Tuhan inginkan supaya kita gunakan untuk bersiap bagi kedatangan-Nya. 
  • Menggambar atau melukis seperti apa Kedatangan yang Kedua itu  (Tidakkah fantastis bahwa peristiwa itu akan melampaui bahkan bayangan kita yang tertinggi?)
  • Membuat satu daftar dari cara-cara engkau secara pribadi bisa bersiap bagi kedatangan Kristus kembali.  Jangan takut untuk berterus terang dan jujur, karena engkau adalah satu-satunya orang yang perlu melihat daftar itu.
  • Bertanya kepada sahabat-sahabat dan keluarga apakah mereka sudah siap untuk Kedatangan yang Kedua.  Ini mungkin terasa tidak nyaman bagi kita, tetapi Kristus tidak meminta kita untuk mengambil jalan yang paling mudah!
  • Pikirkan tentang suara-suara yang engkau akan dengar pada Kedatangan yang Kedua.  Musik seperti apakah yang akan ada di sana?  Apakah yang akan dikatakan orang-orang, dan sebagainya?
  • Berdoa supaya Tuhan memberi kesan ke atas dirimu bagaimana engkau bisa tetap siap bagi kedatangan-Nya, demikian juga orang-orang yang engkau mungkin perlu layani supaya mereka bisa bersiap.

HUBUNGKAN
Matius 24.
Maranatha, hlm. 12, 15; The Great Controversy (Kemenangan Akhir), hlm. 677, 678.
Dennis Smith, 40 Days: Prayers and Devotions to Prepare for the Second Coming (40 Hari: Doa dan Renungan untuk Bersiap bagi Kedatangan yang Kedua (Hagerstown, Md.: Review and Herald Publishing Assoc., 2010).

Allison Sauceda, Centerville, Ohio, U.S.A.

No comments:

Post a Comment