Sunday, 1 July 2012

SSCQ Indonesia, Pelajaran 8 Triwulan III 2012


Satu dan Dua Tesalonika
Pelajaran Ke-Delapan Kwartal 3,
Kematian Dalam Kristus
18—25 Agustus 2012
Diterjemahkan Oleh: Joice dan Fritz Manurung
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang


Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (I Tesalonika 4:16)

Sabbath
18 AGUSTUS
I Korintus 15:51, 52; I Tesalonika 4:15, 16
Pendahuluan
Satu Alasan Untuk Tersenyum

Di rumah kami, kematian adalah hal yang bebas untuk dibicarakan sama halnya dengan apa yang biasa anda diskusikan saat makan siang. Kematian adalah sesuatu yang terjadi setiap hari.  Anda mendengarnya di berita atau membacanya di surat kabar, dan ayah saya seringkali memimpin acara penguburan.  Anda sudah tahu kalau anda harus mempersiapkan kematian.  Kita sudah tahu bahwa kita akan mati karena hal tersebut adalah satu proses yang normal dalam siklus kehidupan.  Binatang peliharaan kita mati dan kita menangisinya, dan kita bertanya mengapa mereka harus mati.  Namun demikian, hidup dan mati menjadi pandangan yang sama sekali berbeda manakala seseorang yang anda kasihi meninggal.

Janji kedatangan Kristus membuat kita tersenyum dan memberikan kepada kita pengharapan dan suka cita

Kematian pertama kali betul-betul menyerang keluarga kami bagi saya adalah ketika ayah saya meninggal.  Ia, saudara-saudara laki-laki saya, dan saya sendiri menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama.  Kami pergi ke banyak tempat sebagai satu keluarga, dan kami melakukan banyak pekerjaan “para lelaki” bersama-sama.  Kami membetulkan ban yang bocor, memisahkan peralatan listrik milik ibu dan memperbaikinya sehingga bekerja kembali, memotong dan menata rumput di halaman, memanjat pohon, dan belajar banyak hal.  Kemudian tiba-tiba, ayah saya jatuh sakit.  Dokter spesialis melakukan banyak tes dan menyimpulkan bahwa ia hanya punya sedikit waktu untuk hidup.  Ayah saya menasihati kami untuk menjadi anak-anak yang patuh dan ia akan bertemu lagi dengan kami ketika Yesus datang kembali.
Akan tetapi, pembicaraan tentang kematian dan yang tengah sekarat tidaklah benar-benar dimengerti.  Kami terlalu muda untuk memahami maksudnya.  Namun kami terus-menerus diingatkan adalah bahwa Yesus akan datang di awan-awan untuk menjemput kita ke surga di tempat di mana kita akan hidup bersama Dia selama-lamanya!  Cerita-cerita di Alkitab secara nyata menulis di dalam pikiran kita.  Lagu pujian kita seperti “Angkat Nafiri”, menggemakan apa yang kita percayai.  Dan ayah saya seringkali mengkhotbahkan kepastian kedatangan Kristus kedua kali (I Tesalonika 4: 15,16).  Jadi kita tahu bahwa sesuatu akan terjadi dan bahwa kita semua akan menjadi bagian dari reuni besar itu (I Korintus 15:51, 52).
Ya, kematian membuat kita sedih.  Namun, janji kedatangan Kristus, ketika Ia akan menghapus seluruh tangisan dari mata kita dan menghentikan kematian untuk selamanya, membuat kita tersenyum dan memberikan kepada kita pengharapan dan suka cita yang tiada tergambarkan (Wahyu 21:4).  Hal itu tentunya akan menjadi satu waktu yang berharga untuk melakukan reuni ketika Ia datang kembali.  Kita harus memberikan kepada setiap orang pekabaran tentang kepastian akan kedatangan Yesus Kristus, dan kita harus bersiap untuk hidup bersama Dia selamanya.

Carl Henry, Biloxi, Mississippi, U.S.A.

Minggu
19 AGUSTUS
Bukti
Hapuskan Air Matamu
I Tesalonika 4:13-18

Tesalonika merupakan sebuah kota yang penting pada jama Paulus.  Lokasinya sangat strategis di pelabuhan yang tumbuh alami dan jalan raya yang dibangun dengan baik yang disebut Jalan Egnatia.  Jalan ini menghubungkan Kerajaan Romawi di sebelah barat dengan daerah teritorinya di sebelah timur dan utara.1  Penduduknya beragam dan karena itu perdagangan tumbuh pesat, pedagang-pedagang dari berbagai negara datang ke sana untuk melakukan usaha.  Di sana juga banyak orang-orang Yahudi2 yang sudah menetap sebagaimana pedagangnya dan juga pelancongnya.3

Paulus mengatakan kepada para pembacanya bahwa mereka tidak perlu berduka atas kehilangan orang-orang yang mereka kasihi.

Dengan penduduk yang saling berbaur timbul juga kebiasaan, filosofi dan kepercayaan agama yang beragam.  Gereja memancarkan keberagaman dalam komposisi jemaatnya.  “Orang-orang Yunani yang taat” (Kisah Para Rasul 17:4) berasal dari latar belakang politeisme dan tidak memiliki pengertian yang jelas akan agama Yahudi.  Walaupun bangsa Yahudi percaya akan satu Tuhan, mereka semua tidak memiliki kesamaan dalam kepercayaan.  Orang-orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan (Matius 22:23).  Hal ini mempengaruhi orang-orang kafir yang baru jadi pemercaya dan bisa mengakibatkan duka cita yang berlebihan bagi kematian orang-orang yang dikasihi – suatu laporan yang menjadi perhatian Paulus.
Dalam I Tesalonika 4:1-12, Paul mendorong orang-orang percaya untuk menghidupkan kehidupan yang kudus.  Namun, dalam ayat 13, ia tiba-tiba mulai membicarakan kematian dan kebangkitan.  Di sini ia mengatakan kepada para pembacanya bahwa mereka tidak perlu berduka atas kehilangan orang-orang yang mereka kasihi seolah-olah mereka tidak akan bertemu mereka kembali; dan ia mengingatkan mereka bahwa karena kebangkitan Yesus, mereka yang mati di dalam Dia akan juga dibangkitkan.  Kemudian, bersama dengan mereka yang masih hidup, semuanya akan diangkat ke awan-awan untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa ketika Ia datang kembali.

REAKSI
1.         Kekeliruan apakah yang engkau yakin dapat Paulus jelaskan dalam I Tesalonika 4:13-18?
2.         Menunjukkan pentingnya Tesalonika, bagaimanakah surat Paulus mampu mempengaruhi satu masyarakat yang cukup besar?
____________
1. An Overview of the Book of 1 Thessalonians, http://www.christianinconnect.com/1thess.htm
(accessed February 21, 2011).
2. Julian Spriggs, Thessalonians, http://julianspriggs.com/thess.aspx  (accessed February 27, 2011).
3. Thessalonica—Upside Down, http://www.gospelteacher.org/articles /Thessalonica _Upside _Down_JL.htm (accessed February 27, 2011).

O. Patricia  Haakmat, Mandeville, Jamaica, West Indies

Senin
20 AGUSTUS

Yohanes 5:28, 29; Kisah Para Rasul 17:3; I Korintus 15:20–23; 51–58; I Tesalonika 4:13–18; Wahyu 20:4–6
Logos
Realitas Kebangkitan

Dalam I Tesalonika 4:13-18, Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika tentang orang-orang Kristen yang sudah mati dan apa yang akan terjadi kepada mereka.  Mungkin Timotius, yang baru saja kembali dari Tesalonika menceritakan kepada Paulus bahwa banyak anggota gereja di sana begitu rindu untuk mengetahui bagaimana orang-orang ini akan dapat membagikan kemuliaan kerajaan Kristus ketika Ia datang kembali.

Kematian dalam Kitab Kejadian (Kejadian 2:17; 3:1-19; Roma 6:23; Ibrani 11)
Alkitab pertama kali menyebutkan kata kematian dalam Kejadian 2, di mana Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk tidak makan dari pohon pengetahuna yang baik dan jahat – jika mereka melakukannya, mereka akan mati.  Ini adalah perintah yang sederhana, karena Allah telah memberikan kepada mereka banyak pohon yang merupakan makanan yang baik.  Apa yang terjadi sesudah mereka makan dari pohon yang salah menyebabkan mereka kehilangan pemberian satu hidup yang kekal yang merupakan awal dari apa yang mereka mulai.  Pertama Yohanes 3:4 menyatakan bahwa dosa adalah pelanggaran hukum-hukum Allah.  Paulus mengatakan dalam Roma 6:23 bahwa “upah dosa adalah maut” (NIV).

Kebangkitan Adalah Kenyataan.  Kematian bukanlah Akhir segalanya.

Saat ini bahkan orang-orang percaya yang paling taat dan yang paling tidak percaya pun harus menghadapi hukuman atas ketidaktaatan itu.  Namun, tidak semuanya binasa.  Pemberian Allah yang terindah melalui PuteraNya adalah kehidupan kekal (Roma 6:23).  Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Sara, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, dan Rahab, semuanya diingat dalam catatan pahlawan iman Allah (Ibrani 11).  Mereka semua hidup karena iman sampai mereka mati, tanpa menerima apa yang Allah janjikan.  Tetapi, karena iman mereka dalam sang Penebus, mereka sekali lagi akan merengkuh kehidupan.

Harapan bagi Orang Mati (Matius 9:11; Yohanes 9:18; 11:25,26)
Kenyataan mengenai kematian adalah sesuatu yang kita semua gumulkan.  Setiap orang tahu bahwa jika dunia ini hidup cukup lama, mereka juga akan mati.  Kita tahu tentang kematian dan kita membicarakan betapa rapuhnya kehidupan, namun ketika menghadapi kenyataan akan kematian, perasaan kehilangan dan duka cita adalah yang sulit untuk diatasi.  Tanpa menghiraukan perasaan-perasaan ini, Yesus meyakinkan kembali untuk mengatakan kepada kita hal-hal berikut mengenai diriNya sendiri. “ ‘Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.’ ” (Yohanes 11:25,26, NKJV).
            Di dalam Alkitab kita melihat bahwa Yesus menunjukkan kuasaNya atas dosa dan kematian berkali-kali.  Dalam Matius 9:18 kita membaca bagaimana Dia membangkitkan putri Yairus dari kematian.  Kemudian dalam Yohanes 11 kita mendapatiNya mengembalikan kehidupan Lazarus.  Ketika mendengar kematian Lazarus, ia berkatan kepada murid-muridnya bahwa “ ‘Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya’ ” (ayat 11, NKJV).  Umat percaya yang mati dalam Kristus dapat menemukan kepastian akan janji Kristus dan dalam kuasaNya untuk membangkitkan mereka pada saat Ia datang kembali.

Kematian dan Kebangkitan (Matius 20:18,19)
Kematian Yesus betul-betul menggoyahkan mereka yang mengenal dan mengasihiNya.  Selama hampir tiga tahun para murid makan, bepergian, dan melakukan komuni dengan Dia setiap hari.  Ia telah menyembuhkan orang sakit, mengubah air menjadi anggur, dan membangkitkan orang mati.  Kemudian Ia mati?  Bagaimana ini bisa terjadi?  Dalam mempersiapkan murid-muridNya akan akhir dari kematianNya, Yesus berkata kepada mereka bahwa “Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat ... dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati ... dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan (Matius 20:18, 19; kalimat yang dimiringkan adalah tambahan).
            Para murid telah lebih dahulu diingatkan.  Mereka menyaksikan sendiri Lazarus dibangkitkan dari kematiannya, tetapi mereka tidak percaya bahwa Manusia yang kepadanNya mereka begitu setia akan mati.  Jam-jam yang mengikuti kematianNya bagi mereka adalah masa-masa paling gelap.  Namun, Yesus tidak tinggal terus dalam kubur.  Ia bangkit dan memerintahkan mereka untuk, : “ ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.  Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.’ ” (Markus 16: 15,16, NKJV).  Jika kita percaya akan kata-kata ini dan membangun kehidupan kita seturut dengan hal tersebut, maka jika kita harus mati sebelum Yesus datang, kita akan dibangkitkn untuk bersama dengan Dia selamanya.

Kebangkitan Orang-orang Benar (Lukas 24:5, 6; Yohanes 11:25, 26; I Korintus 15:55−57)
Apa yang terjadi manakala seseorang mati?  Pertanyaan ini telah ditanyakan selama berabad-abad oleh para filsuf, ilmuwan, ahli perbintangan, dan juga para rohaniwan. Namun, jawabannya sangat jelas diberikan dalam Alkitab.  Yohanes 11:25,26 mengatakan bahwa mereka yang mati dalam Yesus akan hidup kembali.  Ini karena Yesus menaklukkan kematian melalui kebangkitanNya.  Saat ini kita akan mengucapkannya bersama dengan Paulus, “Hai maut, di manakah sengatmu? Hai maut di manakah kemenanganmu?  Sengat kematian adalah dosa . . . . Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Jerome Wilson and Jermaine Burrowes, Sandys, Bermuda, British Territory

Selasa
21 AGUSTUS

Kesaksian
Aku Menemukan Satu Kehidupan Yang Baru
I Korintus 15:51−55; I Tesalonika 4:13−18

Paulus menyurati para pentobat di Tesalonika untuk mengarahkan mereka kepada kebenaran tentang yang mereka cintai di mana mereka berpikir tidak akan mereka lihat lagi jika mereka juga mati.  Mereka “memiliki pengharapan bahwa semua akan menyaksikan kedatangan Kristus yang kedua kali; tetapi mereka berada dalam duka yang besar karena satu persatu orang percaya itu mati, sepertinya tidak mungkin untuk bertemu mereka pada saat yang diharapkan itu – kedatangan Kristus di awan-awan surga.  Kemudian Paulus berusaha keras untuk memberitahukan saudara-saudaranya di Tesalonika tentang hal-hal yang benar berkaitan dengan kematian.  Ia mengatakan bahwa mereka itu sedang tertidur – dalam keadaan tidak sadar ... ”1

“Apakah ada alasan lain mengapa pengharapan yang hidup ini tidak akan diberikan kepada kita sama pastinya . . . suka cita ?”

“Pengharapan dan suka cita yang mana jaminan ini diberikan kepada gereja yang masih muda di Tesalonika hampir tidak dapat kita mengerti.  Kegelapan yang telah melingkupi makam dari orang-orang mati telah dibinasakan; karena mereka sekarang tahu bahwa sahabat-sahabat yang dikasihi akan dibangkitkan dari kubur dan menikmati kehidupan kekal di dalam kerajaan Allah.”2
“Apakah ada alasan lain mengapa pengharapan yang hidup ini tidak akan diberikan kepada kita sama pastinya dan penuh suka cita pada waktu diberikan kepada murid-murid di gereja mula-mula?  Kristus . . . bangkit dan naik ke surga, dan kita harus melakukan iman kita sehingga dunia dapat melihat bahwa kita memiliki pengharapan yang hidup.”3
Manakala Anak Allah kembali, orang-orang mati dibangkitkan secara utuh dan yang hidup diubahkan.  Kristus mengubah ketidakkekalan atas umatNya.  Kemudian Ia akan memanggil mereka untuk mewarisi kerajaan Allah yang sebelumnya mereka hanyalah ahli waris.
“Pengajaran rasul tentang hal ini terutama sangat penting bagi gereja di jaman kita.  Sahabat-sahabat dari orang-orang benar yang sudah mati seharusnya tidak berduka karena mereka kehilangan orang yang mereka kasihi dan tidak memiliki pengharapan dalam Kristus Yesus, dan siapa yang tidak bersuka cita dengan masa depan kekal yang melampaui kebangkitan orang-orang benar.”5

REAKSI
1.         Apa alasanmu untuk tidak mengingatkan sesamamu?
2.         Apa yang dapat kau lalukan untuk mengingatkan sesamamu setiap hari?
____________
1. Sketches From the Life of Paul, p. 111.
2. Ibid., p. 112.
3. In Heavenly Places, p. 45.
4. To Be Like Jesus, p. 252.
Mark Henry, Phillipsburg, New Jersey, U.S.A.

Rabu
22 AGUSTUS

I Korintus 15:20; I Tesalonika 4:16−18
Bagaimana
Bersiap, Mati, dan Hidup

Walaupun dasar dari Kekristenan dijangkarkan pada kepastian Firman Tuhan, beberapa kebenaran lebih sulit untuk dianalisa.  Orang-orang Kristen di Tesalonika merasa tidak jelas tentang nasib mereka yang mati sebelum kedatangan Yesus.  Firman Tuhan memerintahkan kita untuk tidak terlalu memikirkan mereka yang telah mati dalam Yesus.  Sebelumnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan sekarang pun demikian.  Yang penting adalah bahwa ktia harus bersiap dengan melakukan hal-hal berikut:

Biarlah kita hidup bagi Kristus sehingga kita dapat hidup bersama dengan Dia di dunia yang baru

Memperlajari Firman Tuhan dengan seksama.  Untuk membahas kebangkitan, pelajari yang engkau bisa tentang misteri kematian.  Kristus menjadi “buah pertama bagi mereka yang telah tertidur” (I Korintus 15:20, NKJV).  Kuasa kebangkitan berdiam hanya di lengan Allah dan adalah kuasa yang akan memanggil kesadaran mereka yang mati dalam Tuhan.  Ini memberikan kepada kita keyakinan bahwa kita dan orang-orang setia yang kita kasihi akan bangkit pada Kedatangan yang Kedua Kali.
Tunjukkan kepada orang lain kebenaran Firman Tuhan.  Kuasa Kristus yang mengubahkan itu merubah seorang yang percaya dari keadaan yang mati dalam dosa menjadi keadaan yang hidup dalam Kristus.  Ketika kita menjadi hidup dalam Dia, kita mulai merasakan satu perasaan bersemangat, energi yang meluap-luap untuk membagikan janji-janjinya kepada orang lain.
Pastikan bahwa kita tetap berada dalam keadaan siap.  Karena “jiwa yang berdosa akan mati” (Yehezkiel 18:4), kita seharusnya jika diperlukan mengakui dosa-dosa dan berdamai dengan Tuhan.  Janji Yesus untuk kembali (Kisah Para Rasul 1:9-11) akan digenapi.  Yesus yang sama yang murid-murid lihat naik ke surga akan turun pada Kedatangan Kedua Kali.  Yesus tidak akan mengirimkan seorang wakil untuk melakukan satu pekerjaan bagiNya. Ia sendiri yang turun dari surga dengan suara nyaring dan mereka yang mati dalam Kristus akan bangkit pertama kali (I Tesalonika 4:6).  Ia datang sebagai “Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala Tuhan” (I Timotius 6:15) bagi mereka yang mengasihi Dia.  Sebagaimana kita sedang menunggu Peristwia Advent yang kedua, biarlah kita hidup bagi Kristus sehingga kita dapat hidup bersama dengan Dia di dunia yang baru.

REAKSI
1.         Apakah kita cukup melakukan sesuatu untuk menolong orang lain siap? Jelaskan jawabanmu.
2.         Mengapa kita mungkin ditolak untuk bersaksi?  Apa yang dapat kita lakukan jika kita ditolak?

Lilith R. Scarlett, Mandeville, Jamaica, West Indies

Kamis
23 AGUSTUS
Pendapat
Terimakasih Tuhan Untuk Kebangkitan
I Tesalonika 4:16-18; Wahyu 21:4

Pembawa berita menunjukkan awan debu dan asap semakin naik.  Orang-orang berlarian seolah-olah sedang linglung, bahasa tubuh mereka mengatakan, “Apa yang sedang terjadi?  Tidak mungkin ini terjadi!”  Kekagetan mengikuti 6.3 SR gempa bumi pada pukul 12.51 tanggal 22 Februari 2011, di Christchurch, Selandia Baru, kurang lebih enam bulan setelah gempa 7.0 SR yang menghancurkan negara tersebut pada bulan September 2010.  Sebelum pikiran-pikiran dunia dapat menyelesaikan bencana itu, dua tragedi yang lain menghantam pada tanggal 11 Maret 2011 – gempa bumi di Sendai Jepang dan berakibat tsunami.  Saya menahan nafas manakala menyaksikan gulungan air menghancurkan segalanya dan setiap orang yang ada di sekitarnya.  Mungkinkah ini penggenapan dari nubuatan yang diterangkan dalam Alkitab sebelum kedatangan Kristus kedua kali (Lukas 21:11)?  Berapa banyak manusia yang mati?  Apakah mereka memiliki pengharapan akan kebangkitan?

Saya berdoa agar regu penyelamat akan menemukan mereka yang masih hidup

Saksi mata menggambarkan dan klip video mengisahkan ketakutan yang tergambar dalam wajah orang-orang ketika mereka berhamburan keluar dari gedung-gedung yang bergoyang.  Persediaan air meledak, jalan-jalan hancur dan api memancar.  Ketakutan memenuhi semua penduduk.  Apakah ini satu gambaran dari ketakutan yang akan terlihat pada wajah orang-orang ketika mereka bertanya kepada batu-batu dan gunung-gunung yang berjatuhan atas mereka (Wahyu 6:15-17)?
Sementara orang-orang bergantung pada atap-atap rumah yang terapung, apakah mereka bertanya-tanya jika ada harapan untuk selamat?  Apakah ada dari antara mereka yang memikirkan apa yang akan terjadi kepada mereka pada hari kebangkitan?  Apakah mereka juga percaya akan kebangkitan?
Saya berdoa agar regu penyelamat akan menemukan mereka yang masih hidup.  Bagaimana dengan orang-orang yang anda kasihi dan keputusan mereka terhadap kekekalan?  Apakah kita harus selalu panik berhubungan dengan keluarga dan teman-teman kita untuk mencek keselamatan mereka?  Gereja haruslah gigih dalam mengamarkan yang hilang.  Puji Tuhan, jika kita setia, apakah kita mati sebelum Tuhan datang atau tetap hidup pada Kedatangan Kedua Kali, kita akan tetap selamat (I Tesalonika 4:16,17).

REAKSI
1.         Apakah Allah benar-benar tidak membiarkan beberapa orang masuk ke dalam surga, atau hanya utnuk menakut-nakuti kita supaya menurut?  Bukankah neraka untuk Setan dan para malaikatnya?
2.         Karena Allah akan menyelamatkan kita jika kita bertobat, mengapa kita tidak dapat menanti sampai kita memiliki seluruh pengalaman dan kesenangan yang kita butuhkan sebelum membuat keputusan?

Beverly I. Henry, Mandeville, Jamaica, West Indies

Jum’at
24 AGUSTUS
Eksplorasi
Tidur Dalam Yesus
I Korintus 15:51, 52; I Tesalonika 4:13‒18

SIMPULAN
Jemaat Tesalonika seperti Jemaat Kristen mula-mula lainnya, sangat menantikan kedatangan Kristus.  Namun manakala waktu berlalu dan orang-orang peercaya tersebut tertidur dalam kematian, Paulus ingin meyakinkan kembali orang-orang yang mereka kasihi bahwa mereka tidak perlu berduka seperti mereka yang tidak memiliki pengharapan.  Yesus telah mendapatkan kemenangan atas maut dan menghapuskan semua duka yang disebabkan oleh dosa.  Mereka yang mati dalam keadaan percaya pada apa yang telah Dia lakukan bagi mereka akan tertidur sampai Ia memanggil mereka untuk bangun dalam kebangkitan dan bangkit untuk bertemu Dia di udara bersama-sama dengan mereka yang masih hidup ketika Ia kembali.  Mereka yng telah mati tidak akan kehilangan suka cita kedatangan Kristus, dan mereka yang hidup dapat saling menghibur dan menguatkan satu sama lain dengan pengharapan.

PERTIMBANGKAN
·         Hafalkan lagu “Gleams of the Golden Morning,” (no. 205 in The Seventh-day Adventist Hymnal; atau di http://www.hymntime.com/tch/htm/g/l/e/gleamsgm.htm), atau  tuliskan puisimu sendiri atau lagu tentang Kemenangan Kristus atas kematian.
·         Buatlah sebuah kartu, lukisan atau karya seni lainnya yang menggambarkan pengharapan yang tidur dan berjalan dalam Yesus, kemudian berikan itu kepada seorang kawan yang telah kehilangan seorang yang mereka kasihi, atau yang sedang sedang menghadapi kematian.
·         Tuliskan tentang pengharapan dan penghiburan dari pengalamanmu bersama Kristus yang dapat dibacakan pada waktu penguburanmu.
·         Buatlah sesi wawancara dengan beberapa mentor yang hubungan mereka dengan Kristus telah menjadi satu berkat bagimu.  Tanyakan mereka apa artinya bagi mereka tidur dalam Kristus.
·         Buatlah satu scrapbook  tentang hal-hal penting dalam perjalananmu bersama Kristus.  Renungkan perkataan Paul bahwa “entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.” (I Tesalonika 5:10, NIV).
·         Renungkan bagaimana  alam dapat menjadi satu metafora atau gambaran untuk pengalaman lahir kembali dalam Kristus, hidup dalam Dia, mati dalam Dia, dan bangkit kembali dalam kebangkitan pertama.

HUBUNGKAN
Dan M. Appel, The Choice (Hagerstown, Md.: Review and Herald® Publishing Assoc., 2008); Gerald Wheeler, Beyond Death’s Door (Hagerstown, Md.: Review and Herald® Publishing Assoc., 2009).

Cheryl Des Jarlais, Ringgold, Georgia, U.S.A.

No comments:

Post a Comment