Sunday, 1 July 2012

SSCQ Indonesia, Pelajaran 11 Triwulan III 2012


Satu dan Dua Tesalonika
Pelajaran Ke-Sebelas Kwartal 3,
Janji Kepada Yang Dianiaya
18—14 September 2012
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang


Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu (2 Tes. 1:11)


Sabbath
8 SEPTEMBER
2 Tesalonika 1
Pendahuluan
Janji Kepada Yang Dianiaya

            “Kembalikan kuncinya!” teriak ibuku pada waktu kami mengejar orang mabuk yang baru saja mencabut kunci kontak mobil kami.  Mungkin umurku sekitar delapan tahun, tetapi ketakutan hebat menghinggapi kami karena tak berdaya.  Yang lebih menakutkan lagi dia melarikan diri ke semak-semak, dan hujan lebat.  Pada waktu kami mengejarnya, saya tetap berpikir, Apa yang akan kami lakukan bila orang ini berubah jadi ganas? Saya tahu bahwa saya dan ibuku tidak mungkin melawan.  Syukurlah, seorang pria yang entah datang dari mana, dengan cepat menangkap orang mabuk itu, mendorongnya ke tanah, dan merampas kunci dari tangannya.

Allah tidak pernah tertidur melihat anak-anakNYA dianiaya

            Situasi di gereja Tesalonika tidak banyak berbeda dari apa yang saya dan ibuku alami pada hari hujan itu.  Karena orang Kristen di sana berada dalam ketakutan terus menerus akan penganiayaan, pastilah mereka sekali-sekali merasa tak berdaya.  Karenanya Paulus menulis surat.
            Ayat-ayat pendahuluan 2Tesalonika 1 berusaha untuk menghibur anggota gereja.  Dalam ayat-ayat ini, Paulus menarik perhatian kepada dua fakta.  Pertama, penderitaan mereka tak akan selamanya.  Allah senang untuk mengintervensi dan mengakhiri penderitaan mereka.  Kedua, mereka yang menyebabkan penderitaan kepada pengikut Kristus pada waktunya nanti akan menerima kesulitan akibat perbuatan mereka.  Kabar keadilan Allah adalah pekabaran kasih.  Allah tidak pernah tertidur melihat anak-anakNYA dianiaya.
            Penganiyaan yang diderita gereja Tesalonika mungkin tidak mirip pada setiap aspek penderitaan yang dihadapi orang Kristen saat ini.  Tetapi, kita semuanya telah pernah mengalami beberapa bentuk ketidak adilan pada suatu waktu atau lebih.  Pekabaran pelajaran minggu ini adalah:  Allah akan mengakhiri penganiyaan, dan anak-anakNYA yang menderita ditangan orang lain akan menerima keadilan.  Karenanya, kita tidak perlu menjangkarkan kebencian dihati kita terhadap orang-orang yang menganiaya kita.


Obed Soire, Coffs Harbour, New South Wales, Australia

Minggu
9 SEPTEMBER
Logos
Ketak Bercelaan Allah dan UmatNYA
Yohn 1:18; 14:1–3;
Rom. 2:5; 12:19;
2 Tes 1;
Wahyu. 16:4–7; 20:1–6

            Bagi orang-orang yang dianiaya karena Kristus, Paulus menuliskan kata-kata yang memberikan pengharapan untuk pemulihan, suatu janji keadilan, dan pengertian akan bagaimana masalah saat ini masuk kedalam gambaran yang besar.

Janganlah Takut (Yohn 1:18; 2Tes. 1:1-4)
            Paulus mulai dengan salam yang menghibur orang-orang Kristen Tesalonika yang teraniaya kepada Allah Bapa mereka yang karenaNYA mereka telah menderita.  Rasul Yohanes mengingatkan kita bahwa kita mengenal Allah melalui Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 1:18).  Mengetahui bahwa Allah adalah Bapa mereka dan pelindung, bahwa DIA adil dan peduli kepada mereka adalah inti dari pengharapan yang mesti dimilik orang Kristen Tesalonika.  Paulus berbicara kepada mereka tentang kasih karunia dan kedamaian Allah, kasihNYA dalam tindakan-kasih yang menguntungkan mereka seperti suatu obat penyembuh di tengah penderitaan mereka.

kasih karunia Allah memampukan umatNYA untuk tetap kuat pada situasi yang sulit

            Pengalaman orang Tesalonika dapat juga menjadi pengalaman kita.  Penderitaan kita juga menawarkan kesempatan bagi kita untuk melihat kasih Allah yang bekerja didalam dan bagi kita.  Kemudian, pada waktu kita mengenal kasihNYA, kita mempunyai kedamaian dihati dan pikiran—suatu kedamaian yang merupakan penciri pengikut Kristus.

Penderitaan Menghasilkan Buah (2Tes. 1:3, 4, 1)
            Ada sesuatu yang mesti dipuji tentang orang Tesalonika pada waktu mereka mengalami penganiayaan.  Sesuatu itu adalah daya tahan mereka.  Paulus tidak bersuka akan penderitaan mereka.  Dia bersuka karena terlepas dari penderitaan mereka, mereka tetap setia kepada Kristus.  Mereka tidak menjadi getir tetapi bertumbuh dalam iman dan kasih.  Mereka tidak hanya menerita karena penderitaan itu saja.  Gantinya, penderitaan mereka menghasilkan buah.  Adalah berharga untuk mencatat bahwa penderitaan mereka tidak mengakibatkan perpisahan diantara mereka.  Gantinya, kasih mereka terhadap satu sama lain meningkat pada waktu kesusahan ini.

Suatu Janji Pemulihan (Yoh. 14:1—3; 2Tes. 1:5, 10—12)
            Ketahan ujian yang diperlihatkan orang Tesalonika selama penderitaan mereka menunjukan kebenaran Allah.  Hal ini menunjukan kasih karunia Allah memampukan umatNYA untuk tetap kuat pada situasi yang sulit.  Lebih lanjut, ketahan ujian mereka merupakan respon akan kuasa Allah.  Mereka menghargai DIA yang mereka percayai, dan karenanya mereka dikuatkanNYA.  Sementara mereka menahan pencobaan, Paulus membantu mereka untuk mengalihkan perhatian mereka akan situasi saat ini kepada janji kembalinya Kristus (Yoh. 14:1—3)
            Apa yang dikatakan Paulus adalah penderitaan mereka tidak kekal dan DIA yang karenanya mereka menderita akan datang untuk mengakhiri semua penderitaan mereka.  Inilah suatu janji dan obat akan penganiyaan mereka.  Sebuah janji yang dapat kita bagikan pada waktu kita menghadapi masa-masa kesukaran.  Kita juga perlu diingatkan bahwa pencobaan kita tidaklah kekal, walaupun kadangkala tampaknya lama sekali.
            Kata-kata penutup 2Tesalonika memberikan kita pandangan kepada sifat luarbiasa Allah yang tidak mementingkan diriNYA.  Sementara Kristus dimuliakan didalam mereka, mereka dimuliakan di dalam DIA.

Allah yang adil dan benar (Rom 2:5; 12:19; 2Tes. 1:6-9; Wahyu 16:4-7)
            Paulus juga menjanjiian keadilan kepada orang Tesalonika—bahwa kejahatan akan diakhiri.  Pengadilan Allah tidak pernah bias dan setengah-setengah.  Tidak terbatasa oleh pikiran.  keadilanNYA bukahn hanya pengadilan terhadap tindakan, juga pengadilan kepada pikiran dan motif hati.  Syukurnya, penghakiman para penuntut dan penyangkal kebenaran hanya dapat adil di tangan Allah, karena Dia mengetahui segala sesuatunya—yang terlihat maupun tak terlihat.  Karenanya, DIA mampu mengadili dengan adil.  Karena orang yang dianiaya lebih cenderung untuk merasakan tekanan setan dalam hidup mereka, Paulus mengingatkan orang di Tesalonika untuk membawa kesukaran mereka kepada Allah, karena hanya DIA saja yang benar dan adil.

Kesukaan Kekal (2Tes. 1:6-10; Wahyu 20:1-6)
            Bagi mereka yang menderita, Paulus dan Yohanes memberikan suatu pekabaran penting dua sisi:
1.      Orang-orang yang selalu menganiaya orang Kristen akan menghadapi kehilangan kekal.
2.      Orang Kristen yang bertahan terhadap penganiayaan akan mendapatkan penghiburan dan akan dituntun ke pada kesukaan kekal.
Paulus menekankan bahwa orang Tesalonika adalah bagian dari orang percaya yang akan diterima oleh Kristus pada waktu Dia kembali.  Marilah kita hidupkan janji-janji ini dan hidup dalam pengharapan menjadi bagian dari kelompok yang sama.

REAKSI
1.      Bentuk iman yang bagaimana yang menuntun kita mengasihi orang lain? Bentuk iman yang bagaimana yang membuat kita tidak menyukai orang lain?  Bentuk iman yang bagaimana yang anda punyai?
2.      Bagaimana penghakiman dan murka Allah berbeda dari penghakiman dan kemurkaan manusia?


Elvis Mogoi, Wilmington, Delaware, U.S.A.

Senin
10 SEPTEMBER

2 Thess. 1:11
Kesaksian
Berlatih Untuk Berlomba

            Beberapa program tersedia untuk melatih orang berlomba di suatu perlombaan.  Semua program mensyaratkan prosedur untuk kesuksesan.  Mereka yang telah menggunakan prosedur ini bersaksi bahwa yang berpartisipasi mempunyai tanggung jawab untuk mengikuti prosedur ini.  Misalnya, beberapa program mengatakan anda mesti minum air seliter sehari.

Apabila pikiran manusia dibawa dalam persekutuan dengan pikiran Allah, ....., pengaruhnya kepada tubuh, pikiran dan jiwa tidak akan terbayangkan

            Dalam tulisan kepada gereja Tesalonika, Paulus membagikan program latihan seperti itu.  Dua elemen penting dalam program ini mencakup tetap terhubung dengan Kristus dan kerinduan kebaikan yang lebih besar dari Injil.  Ellen G. White berkata, “Apabila pikiran manusia dibawa dalam persekutuan dengan pikiran Allah, yang fana dengan yang kekal, pengaruhnya kepada tubuh, pikiran dan jiwa tidak akan terbayangkan.  Dalam persekutuan seperti itu ditemukan pendidikan yang lebih tinggi.  Inilah metode pengembangan Illahi.  ‘Hendaklah engkau berdamai dengan DIA’ (Ayub 22:21).”*  Hal ini tidak menyiratkan bahwa keikut sertaan dalam kelompok gereja akan mudah.  Juga tidak menyiratkan bahwa orang Kristen yang memupuk ladang baru untuk mengabarkan benih-benih Injil akan menemukan waktu yang mudah.
            Suatu hari, seorang ayah sedang melatih putra kembarnya yang berumur tiga tahun untuk mengendarai sepedanya dengan aman disuatu jalan kecil.  Setiap kali mereka sampai ke bukit yang terjal, salah satu anak itu mampu untuk tetap mendayung waktu ayahnya berteriak, “kayuh, kayuh, kayuh!”  Putra yang satunya takut akan tanjakan, jadi dia hanya maju sampai-sampai hampir termundur karena dia tidak bisa mengayuh lagi.  Ayahnya, berjalan dibelakangnya, mendorongnya naik ke bukit sementara tetap membujuknya untuk tetap mengayuh.
            Perjalanan kerohanian kita penuh dengan bukit-bukit dan gunung-gunung.  Terhubung dengan Allah dalam segala aspek kehidupan kita membuat perjalanan ini membuat kita selalu mempunyai sumber dorongan dan pengaharapan.  Hal ini bukan berarti bahwa perlombaan itu akan menjadi mudah, tetapi ini akan membantu kita tetap fokus kepada hadiah yang dijanjikan (Ibr. 12:1, 2).

Reaksi:
1.      Jika bersama Yesus adalah hadiahmu, dan kehidupan KeKristenan adalah perlombaanmu, bagaimana anda berlatih untuk perlombaan itu?
2.      Apakah ada alasan yang valid untuk tidak berlatih?  Terangkan jawabmu.
*The Acts of the Apostles, p. 126.

Zacharia Atinda, San Antonio, Texas, U.S.A

Selasa
11  SEPTEMBER

Bukti
Penghakiman Allah Yang Benar
2Tes. 1:3−7

            Paulus mendirikan gereja di Tesalonika pada perjalanannya yang kedua (Kisah 17:1-9).  Walaupun dia tidak dapat meluangkan lebih banyak waktu bersama mereka karena dia dianiaya oleh orang-orang Yahudi, gereja yang ditinggalkannya di belakang tetap hidup dan aktif.  Bahkan penganiayaan dari luar dan dalam tidak dapat meredam kesukaan mereka.  Perhatian Paulus yang dalam akan jemaat ini membuat dia menuliskan surat yang kedua kepada mereka.  Dia menguatkan iman orang-orang percaya dengan menarik perhatian mereka kepada pengadilan Allah yang benar dan kemuliaan yang akan datang yang menanti semua orang percaya.

Pada waktu Kristus datang dengan kemuliaanNYA bersama semua malaikat, kita akan ditemukan tanpa cacat cela dihadapanNYA.

            Biasanya, pada waktu kita melihat orang sejahtera walau melawan kehendak Allah, kita berpikir Allah itu tidak ada, dan kita mempertanyakan penghakimanNYA yang adil.  Paulus, Silvanus, dan Timotius, bagaimanapun, mempunyai sudut pandang yang menarik.  Mereka percaya bahwa respon seseorang yang sabar dan setia terhadap penganiayaan merupakan bukti penghakiman Allah yang adil.  Walaupun penghakiman Allah yang adil mencakup pembalasan atau hukuman (2Tes. 1:6), kita tidak boleh lupa bahwa penghakiman Allah yang adil dimulai kepada umatNYA (1Pet. 4:17).  Penghakiman Allah yang adil terbukti di gereja Tesalonika dengan semakin meningkatnya penganiayaan menuntun mereka bertumbuh dalam iman dan kasih yang melimpah.  Gantinya iman yang meredup, penganiyaan menjadi latihan bagi mereka, memisahkan kotoran dari emas, menghasilkan logam yang murni dan berharga.
            Karenanya, ditengah penganiayaan, harapan kita mesti tetap tinggi karena Allah akan membalas penderitaan kita; dan pada waktu Kristus datang dalam kemuliaanNYA bersama semua malaikat, kita akan ditemukan tanpa cacat cela dihadapanNYA karena darahNYA telah dialirkan bagi kita.

REAKSI
1.      Sebagai orang Kristen yang menunggu kedatangan Kristus yang kedua kali, bagaimana kita merespon segala bentuk penganiayaan baik dari dalam maupun dari luar gereja?
2.      Prinsip Alkitabiah apa yang membantu kita tetap teguh pada waktu dianiaya?


Yaw Adu-Gyamfi, Newark, Delaware, U.S.A

Rabu
12 SEPTEMBER

2 Tes. 1: 3
Bagaimana
Peneguhan Orang Kristen

            Paulus mempunyai talenta dalam mendorong orang percaya yang ditemuinya dalam perjalanan misionarinya.  Dari teladannya, kita dapat belajar untuk melakukan hal yang sama.  Pertama, dia mengambil waktu untuk berdoa bagi mereka dan menuliskan surat-surat kepada mereka untuk menguatkan iman mereka.  Terlepas dari fakta bahwa metode komunikasi itu lambat dan kadang dia juga mengalami kesulitannya sendiri, dia tidak pernah putus asa.  Dalam hatinya, dia mempertimbangkan jiwa-jiwa orang percaya itu lebih penting daripada apapun.

Mengambil tugas meneguhkan orang Kristen amat menyenangkan.

            Baru didalam iman kadangkala seperti seorang asing di negara asing.  Dapat berarti kehilangan sahabat-sahabat, meninggalkan kebiasaan dan praktek yang lama, dan kadangkala anggota keluarga yang dikasihi.  Sebagai tambahan, orang Kristen yang baru mesti belajar untuk hidup selaras dengan nilai-nilai dan kepercayaan orang Kristen.  Dalam suratnya kepada orang Tesalonika, Paulus mengajar orang Kriten untuk bertemu secara reguler bersama-sama dan mengajar setiap kita dengan kesaksiannya, kata-kata lemah lembut, dan membagikan iman.  Kita juga dapat melakukan hal yang sama.
            Tekad Paulus menghasilkan tuaian yang besar.  Demikian pula, kita perlu untuk memupuk jiwa-jiwa yang baru yang diberikan Tuhan kepada kita.  Marilah kita dorong mereka, mendoakan mereka dan bersama dengan mereka, dan mengasihi mereka untuk menunjukan bahwa mereka telah menjadi bagian kita.
            Mengambil tugas meneguhkan orang Kristen amat menyenangkan.  Hal ini membuat kita menjadi bagian dari rencana keselamatan.  Membantu kita untuk menghargai bagaimana Allah bekerja melalui kita terlepas dari kelemahan-kelemahan kita.  Menyejukan bagi hati yang duka dengan membawa kita kepada tugas yang besar.  Sebagai tambahan kepada semua ini, kita menjadi garam dan terang dunia.  Apabila orang melihat kita, mereka melihat Kristus dalam kita dan rindu untuk mempunyai apa yang kita miliki.
            Kita hidup pada zaman akhir.  Tuaian banyak.  Pekerja sedikit.  Marilah kita pergi ke jalan-jalan dan lorong-lorong dan memproklamirkan kabar baik akan kedatangan Kristus yang Kedua Kali.  Semoga Tuhan memberikan kita kedamaian dan kekuatan untuk melakukan pekerjaanNYA sehingga DIA boleh datang dan membawa kita pulang.

REAKSI
1.      Jika anda adalah orang percaya yang baru, dalam cara apa anda ingin diteguhkan?
2.      Kenapa peneguhan tidak menjadi praktek yang lazim?

Betty and Justin Bonuke, Jersey City, New Jersey, U.S.A

Kamis
13 SEPTEMBER
Pendapat
Salib atau Mahkota
2 Thessalonians 1;
Rev. 2:10

            Buku Dua Tesalonika 1 penuh dengan pengharapan dan penghiburan kepada orang percaya: (1) Kesabaran dan iman mereka menghasilkan daya tahan (ayat 4). (2) Penganiayaan mereka merupakan tanda pengadilan Allah yang adil (ayat 5). (3) Mereka dihitung berharga untuk mewarisi kerajaan Allah (ayat 5). (4) Allah akan membalas kepada yang menganiaya mereka dengan suatu pembalasan (ayat 6). (5) Mereka akan diberi istirahat dari penderitaan mereka pada waktu kedatangan Tuhan (ayat 7). (6) Kristus akan dimuliakan melalui orang-orang suciNYA (ayat 10). (7). Paulus, Silvanus, dan Timotius akan berdoa agar “Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu” (ayat 11).
“Dalam Kerajaan Allah, salib akan hilang dan kita akan menerima mahkota.”

            Hadiah ini akan membangkitkan memori akan pertempuran besar yang dimulai di sorga antara Lusifer dan Allah.  Pertempuran ini berada dibelakang semua kuasa kegelapan yang menghasilkan waktu kesukaran sebelum penutupan pintu kasihan.  Kita akan segera menghadapi yang paling buruk dari apa yang dikatakan Paulus.  Walaupun begitu, Yesus menghibur kita melalui Yohanes pewahyu: “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahuu 2:10).
            Allah mampu menggunakan penderitaan yang dihadapi orang-orang suciNYA untuk menghasilkan baginya sebuah gereja tanpa cacat cela.  Penganiayaan akan mengumpulkan umat-umatNYA yang setia menjadi suatu barisan yang melawan sijahat sama seperti Yesus Panglima yang Hebat akan menuntun mereka kepada kemenangan.  “Apabila kita menahan penderitaan, jika kita setia sampai mati, kita dijanjikan suatu mahkota kehidupan.  Hanya bangsawan yang boleh memakai mahkota.  Yesus adalah raja diatas segala raja dan pewaris takhta kerajaan Allah, kita tidak punya mahkota di dunia ini, tetapi kita akan mempunyai salib.  Salib akan membawa penderitaan dan mungkin kematian tetapi dalam kerajaan Allah salib akan hilang dan kita akan menerima mahkota.”*

REAKSI
1.      Persiapan apa yang mesti kita buat untuk datangnya penganiayaan? Janji-janji Alkitab apa yang bisa kita pegang selama pencobaan ini?
2.      Pada waktu musuh menyerang, bagaimana respon kita?
3.      Bagaimana sikap kita terhadap penganiayaan ini?
*William L. Barclay, By His Spirit (Washington, D.C.: Review and Herald®, 1972), p. 288.

Thomas Makini, Bethlehem, Pennsylvania, U.S.

Jum’at
14 SEPTEMBER
Eksplorasi
Suatu Fakta Kehidupan
Yoh. 16:33

SIMPULAN
            Selama masa perang dunia II, Corrie ten Boom dan keluarganya ditahan oleh Nazi karena menyembunyikan orang Yahudi di rumahnya.  Corrie and saudarinya Betsie dikirimkan ke Ravensbruck, suatu kamp konsentrasi di Jerman.  Betsie mati di sana, tetapi Corrie dilepaskan karena kesalahan cetak, tidak lama sebelum wanita seumur dia dibunuh.  Setelah perang, Corrie mencari cara untuk melayani orang lain yang menderita penganiayaan Nazi.  Dia membuka rumah peristirahatan khususnya bagi mereka yang mengalami trauma.  Melalui orang-orang yang dilayaninya, Corrie mempelajari suatu pelajaran penting.  Mereka yang mampu untuk mengampuni musuh-musuhnya mampu untuk kembali ke masyarakat dan membuat hidup baru bagi diri mereka.  Tetapi, mereka yang tetap menyimpan kepahitan tidak pernah sembuh.
            Penganiayaan adalah fakta kehidupan bagi orang Kristen, tetapi kita dapat memilih bagaimana kita bereaksi.  Kita dapat menyimpan perlawanan, mengulang-ngulang kejahatan yang dilakukan kepada kita, atau kita dapat berfokus kepada Allah dan janji-janjiNYA untuk melakukan yang terbaik bagi kita pada waktu DIA kembali.  Pengampunan bukanlah suatu kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain, tetapi itu juga suatu hadiah bagi diri kita sendiri.

PERTIMBANGKAN
·         Merancang suatu poster berdasarkan 2Timotius 1:7, Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
·         Hafalkan suatu perikop Alkitab, seperti Mazmur 91, yang memberi keyakinan kepada kita akan janji Allah untuk bersama umatNYA dalam segala sesuatu.
·         Lakukan riset tentang penganiayaan agama.  Dimana hal ini terjadi saat ini?  Berdoa bagi mereka yang mengalaminya.
·         Nyanyiakn lagu “Sampai Nanti” di Seventh-day Adventist Hymnal no. 632.
·         Buat daftar waktu anda diperlakukan tidak adil oleh orang lain.  Pintalah Allah untuk membantumu melupkan sakit hati yang masih terasa.  Kemudian secara simbolik lepaskan kepedihan itu dengan cara membakarnya atau menguburunya, atau atau melewatkannya pada mesin pencincang kertas.
·         Wawancarai seseorang yang mengalami penganiayaan.  Nasehat apa yang mereka berikan untuk reaksi terhadap perlakuan tidak adil?
·         Renungkan apa yang mesti dilakukan orang Kristen sekarang untuk mempersiapkan diri bagi penganiayaan pada zaman akhir.  Tuliskan jurnal idemu.

HUBUNGKAN.
Kebahagiaan Sejati, “Ukuran Pengampunan.”


Renee Coffee, Gobles, Michigan, U.S.A.

No comments:

Post a Comment