|
|
Satu
dan Dua Tesalonika
Pelajaran Ke-Sebelas Kwartal 3,
Janji Kepada
Yang Dianiaya
18—14 September
2012
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Editor: Daniel Saputra dan Yonata
Bastian
Sirkulasi:
Janette Sepang
|
Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita
menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan
kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu (2 Tes.
1:11)
Sabbath
8 SEPTEMBER
|
2 Tesalonika 1
|
Pendahuluan
Janji
Kepada Yang Dianiaya
|
“Kembalikan kuncinya!” teriak ibuku pada waktu kami
mengejar orang mabuk yang baru saja mencabut kunci kontak mobil kami. Mungkin umurku sekitar delapan tahun, tetapi
ketakutan hebat menghinggapi kami karena tak berdaya. Yang lebih menakutkan lagi dia melarikan diri
ke semak-semak, dan hujan lebat. Pada
waktu kami mengejarnya, saya tetap berpikir, Apa yang akan kami lakukan bila orang ini berubah jadi ganas? Saya
tahu bahwa saya dan ibuku tidak mungkin melawan. Syukurlah, seorang pria yang entah datang
dari mana, dengan cepat menangkap orang mabuk itu, mendorongnya ke tanah, dan
merampas kunci dari tangannya.
Allah tidak pernah tertidur melihat anak-anakNYA dianiaya
Situasi di gereja Tesalonika tidak banyak berbeda dari
apa yang saya dan ibuku alami pada hari hujan itu. Karena orang Kristen di sana berada dalam
ketakutan terus menerus akan penganiayaan, pastilah mereka sekali-sekali merasa
tak berdaya. Karenanya Paulus menulis
surat.
Ayat-ayat pendahuluan 2Tesalonika 1 berusaha untuk
menghibur anggota gereja. Dalam
ayat-ayat ini, Paulus menarik perhatian kepada dua fakta. Pertama, penderitaan mereka tak akan
selamanya. Allah senang untuk
mengintervensi dan mengakhiri penderitaan mereka. Kedua, mereka yang menyebabkan penderitaan
kepada pengikut Kristus pada waktunya nanti akan menerima kesulitan akibat
perbuatan mereka. Kabar keadilan Allah
adalah pekabaran kasih. Allah tidak
pernah tertidur melihat anak-anakNYA dianiaya.
Penganiyaan yang diderita gereja Tesalonika mungkin tidak
mirip pada setiap aspek penderitaan yang dihadapi orang Kristen saat ini. Tetapi, kita semuanya telah pernah mengalami
beberapa bentuk ketidak adilan pada suatu waktu atau lebih. Pekabaran pelajaran minggu ini adalah: Allah akan mengakhiri penganiyaan, dan
anak-anakNYA yang menderita ditangan orang lain akan menerima keadilan. Karenanya, kita tidak perlu menjangkarkan
kebencian dihati kita terhadap orang-orang yang menganiaya kita.
Obed Soire, Coffs Harbour, New South Wales,
Australia
Minggu
9 SEPTEMBER
|
Logos
Ketak Bercelaan Allah dan UmatNYA
|
Yohn 1:18;
14:1–3;
Rom. 2:5;
12:19;
2 Tes 1;
Wahyu. 16:4–7; 20:1–6
|
Bagi orang-orang yang dianiaya
karena Kristus, Paulus menuliskan kata-kata yang memberikan pengharapan untuk
pemulihan, suatu janji keadilan, dan pengertian akan bagaimana masalah saat ini
masuk kedalam gambaran yang besar.
Janganlah
Takut (Yohn 1:18; 2Tes. 1:1-4)
Paulus mulai dengan salam yang
menghibur orang-orang Kristen Tesalonika yang teraniaya kepada Allah Bapa
mereka yang karenaNYA mereka telah menderita.
Rasul Yohanes mengingatkan kita bahwa kita mengenal Allah melalui Tuhan
Yesus Kristus (Yoh. 1:18). Mengetahui
bahwa Allah adalah Bapa mereka dan pelindung, bahwa DIA adil dan peduli kepada
mereka adalah inti dari pengharapan yang mesti dimilik orang Kristen
Tesalonika. Paulus berbicara kepada
mereka tentang kasih karunia dan kedamaian Allah, kasihNYA dalam tindakan-kasih
yang menguntungkan mereka seperti suatu obat penyembuh di tengah penderitaan
mereka.
kasih karunia Allah memampukan umatNYA untuk tetap
kuat pada situasi yang sulit
Pengalaman
orang Tesalonika dapat juga menjadi pengalaman kita. Penderitaan kita juga menawarkan kesempatan
bagi kita untuk melihat kasih Allah yang bekerja didalam dan bagi kita. Kemudian, pada waktu kita mengenal kasihNYA,
kita mempunyai kedamaian dihati dan pikiran—suatu kedamaian yang merupakan
penciri pengikut Kristus.
Penderitaan
Menghasilkan Buah (2Tes. 1:3, 4, 1)
Ada sesuatu yang mesti dipuji
tentang orang Tesalonika pada waktu mereka mengalami penganiayaan. Sesuatu itu adalah daya tahan mereka. Paulus tidak bersuka akan penderitaan mereka. Dia bersuka karena terlepas dari penderitaan
mereka, mereka tetap setia kepada Kristus.
Mereka tidak menjadi getir tetapi bertumbuh dalam iman dan kasih. Mereka tidak hanya menerita karena
penderitaan itu saja. Gantinya,
penderitaan mereka menghasilkan buah.
Adalah berharga untuk mencatat bahwa penderitaan mereka tidak
mengakibatkan perpisahan diantara mereka.
Gantinya, kasih mereka terhadap satu sama lain meningkat pada waktu
kesusahan ini.
Suatu
Janji Pemulihan (Yoh. 14:1—3; 2Tes. 1:5, 10—12)
Ketahan
ujian yang diperlihatkan orang Tesalonika selama penderitaan mereka menunjukan
kebenaran Allah. Hal ini menunjukan
kasih karunia Allah memampukan umatNYA untuk tetap kuat pada situasi yang
sulit. Lebih lanjut, ketahan ujian
mereka merupakan respon akan kuasa Allah.
Mereka menghargai DIA yang mereka percayai, dan karenanya mereka
dikuatkanNYA. Sementara mereka menahan
pencobaan, Paulus membantu mereka untuk mengalihkan perhatian mereka akan
situasi saat ini kepada janji kembalinya Kristus (Yoh. 14:1—3)
Apa yang dikatakan Paulus adalah
penderitaan mereka tidak kekal dan DIA yang karenanya mereka menderita akan
datang untuk mengakhiri semua penderitaan mereka. Inilah suatu janji dan obat akan penganiyaan
mereka. Sebuah janji yang dapat kita
bagikan pada waktu kita menghadapi masa-masa kesukaran. Kita juga perlu diingatkan bahwa pencobaan
kita tidaklah kekal, walaupun kadangkala tampaknya lama sekali.
Kata-kata penutup 2Tesalonika
memberikan kita pandangan kepada sifat luarbiasa Allah yang tidak mementingkan
diriNYA. Sementara Kristus dimuliakan
didalam mereka, mereka dimuliakan di dalam DIA.
Allah
yang adil dan benar (Rom 2:5; 12:19; 2Tes. 1:6-9; Wahyu 16:4-7)
Paulus juga menjanjiian keadilan
kepada orang Tesalonika—bahwa kejahatan akan diakhiri. Pengadilan Allah tidak pernah bias dan
setengah-setengah. Tidak terbatasa oleh
pikiran. keadilanNYA bukahn hanya
pengadilan terhadap tindakan, juga pengadilan kepada pikiran dan motif
hati. Syukurnya, penghakiman para
penuntut dan penyangkal kebenaran hanya dapat adil di tangan Allah, karena Dia
mengetahui segala sesuatunya—yang terlihat maupun tak terlihat. Karenanya, DIA mampu mengadili dengan
adil. Karena orang yang dianiaya lebih
cenderung untuk merasakan tekanan setan dalam hidup mereka, Paulus mengingatkan
orang di Tesalonika untuk membawa kesukaran mereka kepada Allah, karena hanya
DIA saja yang benar dan adil.
Kesukaan
Kekal (2Tes. 1:6-10; Wahyu 20:1-6)
Bagi
mereka yang menderita, Paulus dan Yohanes memberikan suatu pekabaran penting
dua sisi:
1. Orang-orang
yang selalu menganiaya orang Kristen akan menghadapi kehilangan kekal.
2. Orang
Kristen yang bertahan terhadap penganiayaan akan mendapatkan penghiburan dan
akan dituntun ke pada kesukaan kekal.
Paulus menekankan bahwa
orang Tesalonika adalah bagian dari orang percaya yang akan diterima oleh
Kristus pada waktu Dia kembali. Marilah
kita hidupkan janji-janji ini dan hidup dalam pengharapan menjadi bagian dari
kelompok yang sama.
REAKSI
1. Bentuk
iman yang bagaimana yang menuntun kita mengasihi orang lain? Bentuk iman yang
bagaimana yang membuat kita tidak menyukai orang lain? Bentuk iman yang bagaimana yang anda punyai?
2. Bagaimana
penghakiman dan murka Allah berbeda dari penghakiman dan kemurkaan manusia?
Elvis Mogoi, Wilmington, Delaware, U.S.A.
Senin
10 SEPTEMBER
|
2 Thess. 1:11
|
Kesaksian
Berlatih Untuk
Berlomba
|
Beberapa program tersedia untuk
melatih orang berlomba di suatu perlombaan.
Semua program mensyaratkan prosedur untuk kesuksesan. Mereka yang telah menggunakan prosedur ini bersaksi
bahwa yang berpartisipasi mempunyai tanggung jawab untuk mengikuti prosedur
ini. Misalnya, beberapa program
mengatakan anda mesti minum air seliter sehari.
Apabila
pikiran manusia dibawa dalam persekutuan dengan pikiran Allah, .....,
pengaruhnya kepada tubuh, pikiran dan jiwa tidak akan terbayangkan
Dalam
tulisan kepada gereja Tesalonika, Paulus membagikan program latihan seperti
itu. Dua elemen penting dalam program
ini mencakup tetap terhubung dengan Kristus dan kerinduan kebaikan yang lebih
besar dari Injil. Ellen G. White
berkata, “Apabila pikiran manusia dibawa dalam persekutuan dengan pikiran
Allah, yang fana dengan yang kekal, pengaruhnya kepada tubuh, pikiran dan jiwa
tidak akan terbayangkan. Dalam
persekutuan seperti itu ditemukan pendidikan yang lebih tinggi. Inilah metode pengembangan Illahi. ‘Hendaklah engkau berdamai dengan DIA’ (Ayub
22:21).”* Hal ini tidak menyiratkan
bahwa keikut sertaan dalam kelompok gereja akan mudah. Juga tidak menyiratkan bahwa orang Kristen
yang memupuk ladang baru untuk mengabarkan benih-benih Injil akan menemukan
waktu yang mudah.
Suatu
hari, seorang ayah sedang melatih putra kembarnya yang berumur tiga tahun untuk
mengendarai sepedanya dengan aman disuatu jalan kecil. Setiap kali mereka sampai ke bukit yang
terjal, salah satu anak itu mampu untuk tetap mendayung waktu ayahnya
berteriak, “kayuh, kayuh, kayuh!” Putra
yang satunya takut akan tanjakan, jadi dia hanya maju sampai-sampai hampir
termundur karena dia tidak bisa mengayuh lagi.
Ayahnya, berjalan dibelakangnya, mendorongnya naik ke bukit sementara
tetap membujuknya untuk tetap mengayuh.
Perjalanan
kerohanian kita penuh dengan bukit-bukit dan gunung-gunung. Terhubung dengan Allah dalam segala aspek
kehidupan kita membuat perjalanan ini membuat kita selalu mempunyai sumber
dorongan dan pengaharapan. Hal ini bukan
berarti bahwa perlombaan itu akan menjadi mudah, tetapi ini akan membantu kita
tetap fokus kepada hadiah yang dijanjikan (Ibr. 12:1, 2).
Reaksi:
1.
Jika
bersama Yesus adalah hadiahmu, dan kehidupan KeKristenan adalah perlombaanmu,
bagaimana anda berlatih untuk perlombaan itu?
2.
Apakah
ada alasan yang valid untuk tidak berlatih?
Terangkan jawabmu.
*The Acts of the Apostles, p. 126.
Zacharia Atinda, San Antonio, Texas, U.S.A
Selasa
11 SEPTEMBER
|
Bukti
Penghakiman Allah Yang Benar
|
2Tes.
1:3−7
|
Paulus
mendirikan gereja di Tesalonika pada perjalanannya yang kedua (Kisah
17:1-9). Walaupun dia tidak dapat
meluangkan lebih banyak waktu bersama mereka karena dia dianiaya oleh
orang-orang Yahudi, gereja yang ditinggalkannya di belakang tetap hidup dan
aktif. Bahkan penganiayaan dari luar dan
dalam tidak dapat meredam kesukaan mereka.
Perhatian Paulus yang dalam akan jemaat ini membuat dia menuliskan surat
yang kedua kepada mereka. Dia menguatkan
iman orang-orang percaya dengan menarik perhatian mereka kepada pengadilan
Allah yang benar dan kemuliaan yang akan datang yang menanti semua orang
percaya.
Pada waktu
Kristus datang dengan kemuliaanNYA bersama semua malaikat, kita akan ditemukan
tanpa cacat cela dihadapanNYA.
Biasanya,
pada waktu kita melihat orang sejahtera walau melawan kehendak Allah, kita
berpikir Allah itu tidak ada, dan kita mempertanyakan penghakimanNYA yang
adil. Paulus, Silvanus, dan Timotius,
bagaimanapun, mempunyai sudut pandang yang menarik. Mereka percaya bahwa respon seseorang yang
sabar dan setia terhadap penganiayaan merupakan bukti penghakiman Allah yang
adil. Walaupun penghakiman Allah yang
adil mencakup pembalasan atau hukuman (2Tes. 1:6), kita tidak boleh lupa bahwa
penghakiman Allah yang adil dimulai kepada umatNYA (1Pet. 4:17). Penghakiman Allah yang adil terbukti di
gereja Tesalonika dengan semakin meningkatnya penganiayaan menuntun mereka
bertumbuh dalam iman dan kasih yang melimpah.
Gantinya iman yang meredup, penganiyaan menjadi latihan bagi mereka,
memisahkan kotoran dari emas, menghasilkan logam yang murni dan berharga.
Karenanya,
ditengah penganiayaan, harapan kita mesti tetap tinggi karena Allah akan
membalas penderitaan kita; dan pada waktu Kristus datang dalam kemuliaanNYA
bersama semua malaikat, kita akan ditemukan tanpa cacat cela dihadapanNYA
karena darahNYA telah dialirkan bagi kita.
REAKSI
1.
Sebagai
orang Kristen yang menunggu kedatangan Kristus yang kedua kali, bagaimana kita
merespon segala bentuk penganiayaan baik dari dalam maupun dari luar gereja?
2.
Prinsip
Alkitabiah apa yang membantu kita tetap teguh pada waktu dianiaya?
Yaw
Adu-Gyamfi, Newark, Delaware, U.S.A
Rabu
12 SEPTEMBER
|
2 Tes. 1: 3
|
Bagaimana
Peneguhan Orang Kristen
|
Paulus
mempunyai talenta dalam mendorong orang percaya yang ditemuinya dalam
perjalanan misionarinya. Dari
teladannya, kita dapat belajar untuk melakukan hal yang sama. Pertama, dia mengambil waktu untuk berdoa
bagi mereka dan menuliskan surat-surat kepada mereka untuk menguatkan iman
mereka. Terlepas dari fakta bahwa metode
komunikasi itu lambat dan kadang dia juga mengalami kesulitannya sendiri, dia
tidak pernah putus asa. Dalam hatinya,
dia mempertimbangkan jiwa-jiwa orang percaya itu lebih penting daripada apapun.
Mengambil tugas meneguhkan orang Kristen amat
menyenangkan.
Baru
didalam iman kadangkala seperti seorang asing di negara asing. Dapat berarti kehilangan sahabat-sahabat,
meninggalkan kebiasaan dan praktek yang lama, dan kadangkala anggota keluarga
yang dikasihi. Sebagai tambahan, orang
Kristen yang baru mesti belajar untuk hidup selaras dengan nilai-nilai dan
kepercayaan orang Kristen. Dalam
suratnya kepada orang Tesalonika, Paulus mengajar orang Kriten untuk bertemu
secara reguler bersama-sama dan mengajar setiap kita dengan kesaksiannya, kata-kata
lemah lembut, dan membagikan iman. Kita
juga dapat melakukan hal yang sama.
Tekad
Paulus menghasilkan tuaian yang besar.
Demikian pula, kita perlu untuk memupuk jiwa-jiwa yang baru yang
diberikan Tuhan kepada kita. Marilah
kita dorong mereka, mendoakan mereka dan bersama dengan mereka, dan mengasihi
mereka untuk menunjukan bahwa mereka telah menjadi bagian kita.
Mengambil
tugas meneguhkan orang Kristen amat menyenangkan. Hal ini membuat kita menjadi bagian dari
rencana keselamatan. Membantu kita untuk
menghargai bagaimana Allah bekerja melalui kita terlepas dari
kelemahan-kelemahan kita. Menyejukan
bagi hati yang duka dengan membawa kita kepada tugas yang besar. Sebagai tambahan kepada semua ini, kita
menjadi garam dan terang dunia. Apabila
orang melihat kita, mereka melihat Kristus dalam kita dan rindu untuk mempunyai
apa yang kita miliki.
Kita
hidup pada zaman akhir. Tuaian
banyak. Pekerja sedikit. Marilah kita pergi ke jalan-jalan dan
lorong-lorong dan memproklamirkan kabar baik akan kedatangan Kristus yang Kedua
Kali. Semoga Tuhan memberikan kita
kedamaian dan kekuatan untuk melakukan pekerjaanNYA sehingga DIA boleh datang
dan membawa kita pulang.
REAKSI
1.
Jika
anda adalah orang percaya yang baru, dalam cara apa anda ingin diteguhkan?
2.
Kenapa
peneguhan tidak menjadi praktek yang lazim?
Betty and Justin Bonuke, Jersey City, New Jersey, U.S.A
Kamis
13 SEPTEMBER
|
Pendapat
Salib atau Mahkota
|
2 Thessalonians 1;
Rev. 2:10
|
Buku
Dua Tesalonika 1 penuh dengan pengharapan dan penghiburan kepada orang percaya:
(1) Kesabaran dan iman mereka menghasilkan daya tahan (ayat 4). (2)
Penganiayaan mereka merupakan tanda pengadilan Allah yang adil (ayat 5). (3)
Mereka dihitung berharga untuk mewarisi kerajaan Allah (ayat 5). (4) Allah akan
membalas kepada yang menganiaya mereka dengan suatu pembalasan (ayat 6). (5)
Mereka akan diberi istirahat dari penderitaan mereka pada waktu kedatangan
Tuhan (ayat 7). (6) Kristus akan dimuliakan melalui orang-orang suciNYA (ayat
10). (7). Paulus, Silvanus, dan Timotius akan berdoa agar “Allah kita
menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan
kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu” (ayat
11).
“Dalam Kerajaan Allah, salib
akan hilang dan kita akan menerima mahkota.”
Hadiah
ini akan membangkitkan memori akan pertempuran besar yang dimulai di sorga
antara Lusifer dan Allah. Pertempuran ini
berada dibelakang semua kuasa kegelapan yang menghasilkan waktu kesukaran
sebelum penutupan pintu kasihan. Kita
akan segera menghadapi yang paling buruk dari apa yang dikatakan Paulus. Walaupun begitu, Yesus menghibur kita melalui
Yohanes pewahyu: “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!
Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam
penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh
hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu
mahkota kehidupan” (Wahuu 2:10).
Allah mampu menggunakan penderitaan
yang dihadapi orang-orang suciNYA untuk menghasilkan baginya sebuah gereja
tanpa cacat cela. Penganiayaan akan
mengumpulkan umat-umatNYA yang setia menjadi suatu barisan yang melawan sijahat
sama seperti Yesus Panglima yang Hebat akan menuntun mereka kepada
kemenangan. “Apabila kita menahan
penderitaan, jika kita setia sampai mati, kita dijanjikan suatu mahkota
kehidupan. Hanya bangsawan yang boleh
memakai mahkota. Yesus adalah raja
diatas segala raja dan pewaris takhta kerajaan Allah, kita tidak punya mahkota
di dunia ini, tetapi kita akan mempunyai salib.
Salib akan membawa penderitaan dan mungkin kematian tetapi dalam
kerajaan Allah salib akan hilang dan kita akan menerima mahkota.”*
REAKSI
1. Persiapan apa yang mesti kita buat untuk
datangnya penganiayaan? Janji-janji Alkitab apa yang bisa kita pegang selama
pencobaan ini?
2. Pada waktu musuh menyerang, bagaimana
respon kita?
3. Bagaimana sikap kita terhadap penganiayaan
ini?
*William L. Barclay, By His Spirit (Washington, D.C.: Review and Herald®, 1972), p. 288.
Thomas Makini, Bethlehem, Pennsylvania, U.S.
Jum’at
14
SEPTEMBER
|
Eksplorasi
Suatu Fakta Kehidupan
|
Yoh. 16:33
|
SIMPULAN
Selama masa perang dunia
II, Corrie ten Boom dan keluarganya ditahan oleh Nazi karena menyembunyikan
orang Yahudi di rumahnya. Corrie and
saudarinya Betsie dikirimkan ke Ravensbruck, suatu kamp konsentrasi di Jerman. Betsie mati di sana, tetapi Corrie dilepaskan
karena kesalahan cetak, tidak lama sebelum wanita seumur dia dibunuh. Setelah perang, Corrie mencari cara untuk
melayani orang lain yang menderita penganiayaan Nazi. Dia membuka rumah peristirahatan khususnya
bagi mereka yang mengalami trauma. Melalui
orang-orang yang dilayaninya, Corrie mempelajari suatu pelajaran penting. Mereka yang mampu untuk mengampuni
musuh-musuhnya mampu untuk kembali ke masyarakat dan membuat hidup baru bagi
diri mereka. Tetapi, mereka yang tetap
menyimpan kepahitan tidak pernah sembuh.
Penganiayaan adalah fakta
kehidupan bagi orang Kristen, tetapi kita dapat memilih bagaimana kita
bereaksi. Kita dapat menyimpan
perlawanan, mengulang-ngulang kejahatan yang dilakukan kepada kita, atau kita
dapat berfokus kepada Allah dan janji-janjiNYA untuk melakukan yang terbaik
bagi kita pada waktu DIA kembali.
Pengampunan bukanlah suatu kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain,
tetapi itu juga suatu hadiah bagi diri kita sendiri.
PERTIMBANGKAN
·
Merancang suatu poster
berdasarkan 2Timotius 1:7, “Sebab
Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang
membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
·
Hafalkan suatu perikop
Alkitab, seperti Mazmur 91, yang memberi keyakinan kepada kita akan janji Allah
untuk bersama umatNYA dalam segala sesuatu.
·
Lakukan riset tentang
penganiayaan agama. Dimana hal ini
terjadi saat ini? Berdoa bagi mereka
yang mengalaminya.
·
Nyanyiakn lagu “Sampai
Nanti” di Seventh-day Adventist Hymnal no. 632.
·
Buat daftar waktu anda
diperlakukan tidak adil oleh orang lain.
Pintalah Allah untuk membantumu melupkan sakit hati yang masih
terasa. Kemudian secara simbolik
lepaskan kepedihan itu dengan cara membakarnya atau menguburunya, atau atau
melewatkannya pada mesin pencincang kertas.
·
Wawancarai seseorang yang
mengalami penganiayaan. Nasehat apa yang
mereka berikan untuk reaksi terhadap perlakuan tidak adil?
·
Renungkan apa yang mesti
dilakukan orang Kristen sekarang untuk mempersiapkan diri bagi penganiayaan
pada zaman akhir. Tuliskan jurnal idemu.
HUBUNGKAN.
Kebahagiaan
Sejati, “Ukuran Pengampunan.”
Renee Coffee, Gobles, Michigan, U.S.A.
No comments:
Post a Comment