|
|
Satu
dan Dua Tesalonika
Pelajaran Ke-Tujuh Kwartal 3,
Menghidupkan
Hidup Yang Kudus
11-17 Agustus
2012
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Editor: Daniel Saputra dan Yonata
Bastian
Sirkulasi:
Janette Sepang
|
Allah memanggil kita bukan untuk
melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Tes 4:7)
Sabbath
11 AGUSTUS
|
Kej. 38:12-26; 1 Tes 4:3; Ibr. 13:4; Wahyu 21:8
|
Pendahuluan
Distrik
Lampu Merah
|
Kebanyakn kota-kota mempunyai “distrik
lampu merah.” Terminologi ini menyatakan
bagian kota tempat berlangsungnya bursa sex.
Istilah itu datang dari bola lampu merah di jendela atau teras yang menyatakan
apa yang ada di dalam. DeWallen, distrik
lampu merah di Amsterdam, sedemikian terkenalnya sehingga menjadi atraksi turis
walaupun yang berkunjung tidak ingin membayar jasa apapun. Pemerintah Belanda telah mengatur dan
melegalkan aktivitas di DeWallen.
Thailand juga telah melakukan hal yang sama dinegaranya. Dengan melakukan itu, kedua negara berharap
untuk mengatur dan bahkan mencegah menyebarnya penyakit kelamin.
“Hendaklah kamu semua penuh hormat
terhadap perkawinan.........
Perzinahan
telah menjadi masalah sejak adanya dunia ini.
Yehuda berhubungan dengan PSK, yang ternyata adalah menantunya (Kej.
38:12-26). Didunia kafir biarawti
bersama-sama dengan biarawan dalam melakukan upacara ritual juga berfungsi
sebagai PSK. Dipercaya bahwa agar
manusia dapat berhubungan dengan illahnya, para pria mesti berhubungan sex dengan
para biarawati.
Tetapi,
Allah tidak menyetujui hal itu. bagiNYA,
“Hendaklah kamu semua penuh hormat
terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab
orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibr. 13:4). Mereka yang tidak setia dalam hal ini dan
tidak mencari pengampunan tidak akan memasuki kerajaan sorga (Wahyu 21:8).
Situasi di Tesalonika pada masa
Paulus tidak berbeda dengan distrik lampu merah saat ini dan sikap masyarakat
luas terhadap aktivitas seksual ini. Paulus,
karenanya, meminta kepada orang Kristen Tesalonika yang baru bertobat untuk
bertarak dari ketidak sucian seksual ini (1 Tes. 4:3)
Minggu ini, kita akan mempelajari
kata-kata Paulus kepada orang Tesalonika, dan kepada kita, tentang pentingnya
menghidupakan suatu kehidupan yang dikuduskan bebas dari imoralitas seksual
yang tidak sah. Panggilan ini merupakah
panggilan untuk menghidupkan suatu kehidupan kudus.
Daniel Saputra,
Palembang, South Sumatra, Indonesia
Minggu
12 AGUSTUS
|
Logos
Gaya Hidup Umat Yang Sisa di Tesalonika
|
Kej.39:9; Mat.
25:34-46; Yoh. 13:34, 35; 1 Tes. 4:1-12
|
Tesalonika
adalah ibukota Makedonia, dan terletak 99 mil Barat Daya Filip. Gereja di Tesalonika didirikan oleh Paulus
pada perjalanan misionari keduanya.
Tetapi karena ditentang orang Yahudi, dia pindah (Kis. 17:::1-10)
Setelah Paulus
tiba di Korintus kira-kira tahun 51 Masehi, dia menerima surat dari Timotius
yang mengatakan yang menceritakan kondisi gereja Tesalonika. Paulus kemudian menulis kepada gereja itu
untuk menyatakan kegembiraannya akan keteguhan iman mereka ditengah-tengah
pergumulan yang mereka derita. Dia juga
ingin mengajar mereka lebih lanjut tentang suatu kehidupan yang kudus, dan
menerangkan kepada mereka tujuan orang benar yang mati sebelum kedatang Kristus1. Berikut adalah beberapa pelajaran penting
yang ingin disampaikan Paulus kepada Umat Allah digereja Tesalonika. Hal ini masih relevan kepada kita saat ini.
Hidup dapat dibagi
menjadi empat bagian, setiap bagiannya merupakan karunia Allah
Kekudusan Pernikahan (1 Tes. 4:1-8)
Dunia yang kita tinggali mempunyai
banyak pencobaan, jadi Paulus secara eksplisit mengingatkan kita akan
pentingnya menghidupkan hidup yang kudus, yang mencakup mempertahankan
kesakralan pernikahan. “Menghidupkan hidup
yang kudus mesti menjadi idealisme setiap orang percaya, dan gereja tidak akan
berkuasa jika tidak mempunyai hidup yang suci.2” Teladan Yusuf merupakan suatu teladan yang
bagus untuk kita tiru pada waktu dia mengatakan, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang
besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kej. 39:9)
Paulus
rindu untuk setiap pasangan yang menikah untuk menjaga persatuan mereka kudus,
dan tidak dipengaruhi oleh praktek tidak tepat orang-orang Tesalonika. (juga
lihat Efesus 5:3 dan Kolose 3:5). Allah
mendirikan suatu lembaga pernikahan kudus di Eden dan menyatakan bahwa setiap
pria mesti mempunyai istrinya sendiri, dan setiap pria mesti mempunyai suaminya
sendiri (1 Kor. 7:2).
“Pilihlah kemisikinan, cacian, dan
perpisahan dari sahabat, atau penderitaan lainnya daripada mencemari jiwa
dengan dosa. Lebih baik mati daripada
melanggar hukum Allah mesti menjadi motto setiap orang Kristen.”3
Kasih Bersaudara (1 Tess. 4:9, 10)
Paulus mengingatkan anggota gereja di
Tesalonika untuk saling mengasihi. Hal
ini akan menjadi kesaksian kepada orang-orang diluar gereja. Adalah baik bagi kita untuk tinggal diantara
orang yang papa, miskin, dan tidak mendapat cukup perhatian, dengan melakukan
itu akan memberikan kita kesempatan untuk mengajarkan Allah yang kasih. Benar, Allah memanggil kita untuk menjadi
yang pertama dalam menunjukan kasih kepada orang miskin. Yakobus menuliskan bahwa mengasihi orang lain
merupakan bagian dari mengikuti hukum Allah (Yakobus 2:8; 4:17)
Kasih Illahi, yang dikembangkan dengan hadirnya Roh Kudus Allah, memotivasi
pelayanan kita kepada orang lain sementara pada saat yang sama mempromosikan
dan menyatukan gerja. “Pengetahuan,
kebajikan, pernyataan, rasa syukur, dan keteguhan semuanya adalah kegiatan yang
baik; tetapi tanpa kasih Yesus di dalam hati, pekerjaan orang Kristen merupakan
suatu kegagalan.”4
Pekerjaan Jujur (1 Tess. 4:11, 12)
Tampaknya
orang zaman sekarang adalah pemalas.
Mereka membuang waktu dan tidak memberikan pekerjaan yang jujur untuk
upah yang diterima. Orang Kristen,
bagaimanapun, tahu mereka adalah penatalayan Allah dan karenanya mesti bekerja
dengan jujur.
Hidup
dapat dibagi menjadi empat bagian, setiap bagiannya merupakan karunia Allah. DIA memberikan kita tubuh, kemampuan, waktu,
dan harta. Sebagai tambahan, DIA meminta
kita untuk menjaga dan merawat lingkungan kita.
Karena itulah Paulus membujuk orang di Tesalonia (dan kita saat ini)
untuk bekerja keras. Dengan melakukan
hal ini akan membuat orang kagum dan membantu kita untuk hidup secara
merdeka. Allah memanggil kita untuk
menghidupkan hidup yang kudus (ayat 7).
Menolak melakukan hal itu sama dengan menolak DIA (1Tes. 4:8). Pada awal suratnya, Paulus memberik pujian
kepada anggota gereja Tesalonika akan kesetiaan dan kerajianan mereka
menghidupkan hidup Kristiani. Kemudian,
dia menerangkan kehendak Allah kepada mereka: penyucian, menghindari imoralitas
seksual dengan menjadi setia dan menghormati pernikahan (ayat 3-5); memperlakukan
orang lain dengan jujur (ayat 6); mengasihi satu sama lain (ayat 9, 10);
menuntun hidup yang tenang, tidak mencampuri urusan orang lain, dan bekerja
dengan rajin sehingga orang lain akan memandang mereka dengan hormat (ayat 11,
12). Dia menutup suratnya dengan
mengingatkan mereka untuk mendorong satu sama lin dengan janji kedatangan
Kristus yang kedua kali.
REAKSI
Bagaimana kita
menegakan kesatuan gereja dan menjaga hidup yang suci? Apa yang mendorong kita melakukannya?
2. Apa yang akan membantu kita mempersiapkan kedatangan Yesus yang kedua kali?
____________
1. Merril C. Tenney, New Testament Survey (Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997,
[Indonesian language edition]).
2. R. Kent Hughes, Disciplines of a Godly Man (Yayasan Kalam Hidup: Bandung, 1991,
[Indonesian language edition]).
3. Testimonies
for the Church, vol. 5, p. 147.
4. The
Desire of Ages, p. 815.
Victor Joe Sinaga, Palembang, South Sumatra, Indonesia
Senin
13 AGUSTUS
|
1 Yoh 2:6
|
Kesaksian
“Suci, Suci”
|
“Buatlah orang yang telah mengantuk dan
tidak sadar dibangunkan. Kita dipanggil
untuk menjadi suci, dan kita mesti dengah hati-hati mesti mencegah memberi
kesan bahwa tidak peduli apakah kita mempertahankan atau acuh saja dengan iman
kita yang khusus. Kepada kita diberikan
tanggung jawab kudus untuk suatu keputusan tegas akan hal yang baik dan benar
daripada yang telah kita lakukan pada masa lalu. Garis bata antara yang memegang teguh hukum
Allah dan yang tidak akan dinyatatakan dengan jernih. Kita mesti secara sadar menghormati Allah,
secara sungguh-sungguh menggunakan segala cara untuk mempertahankan hubungan
kudus kita denganNYA, agar kita boleh menerima berkat—berkat yang sedemikian
pentingnya bagi orang-orang yang dicobai dengan berat. Memberikan kesan bahwa iman kita, agama kita,
tidak mempunyai pengaruh dalam hidup sama dengan melecehkan Allah. Dengan melakukan itu kita berpaling dari
perintahNYA, yang merupakan hidup kita, menyangkal bahwa DIA adalah Allah kita
dan kita adalah umatNYA.”1
Semenjak awal Allah telah memilih manusia untuk menjadi suci
“Semenjak awal Allah telah memilih manusia
untuk menjadi suci. Inilah kehendak
Allah, agar kita menjadi suci. Hukum
Allah tidak bisa mentoleransi dosa, tetapi menuntut kesetiaan sempurna. Gaung suara Allah datang kepada kita secara
terus menerus berbunyi Suci, suci. Dan
jawaban manusia semestinyalah, Ya, Tuhan kami tetap suci. Kesucian selalu berada dalam jangkauan orang
yang karena iman, bukan karena kelakuan baiknya, tetapi karena kasih karunia
Kristus. Kuasa Illahi diberikan bagi
setiap jiwa yang bergumul untuk menang dari kuasa dosa dan setan.
“Pembenaran berarti menyelamatkan jiwa
dari kutukan, agar dia bisa mendapatkan kesucian, dan melalui penyucian,
kehidupan sorga. Pembenaran berarti
bahwa hati nurani, dibersihkan dari pekerjaan sia-sia, ditempatkan pada tempat
yang dapat menerima berkat penyucian.”2
“Kebenaran mesti menyucikan manusia
seutuhnya—hatinya, pikirannya, otaknya, kekuatannya. Kekuatan vitalnya tidak akan dikuasai oleh
praktek badanyinya. Hal ini mesti
diatasi atau mereka akan menguasai dirinya.”3
REAKSI
Dibawah kasih karunia Kristus, apa perbedaan
antara yang menghidukan hidup suci dan kelakuan baik?
___________________
1. Counsels on Health, pp. 238, 239.
2. Ellen G. White
Comments, The SDA Bible Commentary, vol.
7, 2nd ed., p. 908.
3. Ibid., p. 909.
Roy Maju Hutasoit, Bandung, Indonesia
Selasa
14 AGUSTUS
|
Bukti
Panggilan jadi Suci
|
1 Tes. 4:3—7
|
“Tesalonika
adalah suatu kota yang penting, dan ibukota bagian kedua Makedonia. Lokasi yang terpilih dan pelabuhan Tesalonika
yang hebat menjadikannya kota dagang yang penting.”1 Penduduk Tesalonika terdiri dari orang Yahudi
dan Yunani (Kisah 17:1,4), Roma, dan orang kafir. Paulus pergi kesana pada perjalanan misionary
keduanya (Kisah 17:2,4).
melalui kasih karunia
Allah . . . . . . kita disucikan
Tema
kedua surat Paulus kepada gereja Tesalonika adalah “kekudusan praktis dari
sudut pandang kedatangan Kristus.
Kemuliaan kedatangan TUHAN adalah doktrin utama yang disampaikan pada
surat ini (1 Tes 1:10; 2:19; 3:13; 4:13-18; 5:23). Doktrin lain yang disebutkan adalah kematian
dan kebangkitan Kristus (4:14), kebangkitan orang benar yang mati (13—16),
hadiah dan hukuman masa depan (4:17; 5:3), keberadaan dan pekerjaan aktif setan
(2:18), doktrin penebusan, yang mencakup pemilihan dan penyucian (1:4; 4:3—7)”2
Semua
kita secara alami tidak suci. Tetapi
melalui kasih karunia Allah, dengan menerima DIA ke dalam hati kita, kita
disucikan. Kita mempertahankan kesucian
ini dengan menuruti DIA siang dan malam.
Alkitab mencatat beberapa ide tentang bagaimana hal ini dilaksanakan:
1. Kendalikan tubuhmu (1Tess. 4:4).
2. Makan makanan yang sehat (Daniel 1).
3. Fokus pikiran dan hatimu pada hal-hal yang baik dan kudus (Fil. 4:8).
4. Persembahkan tubuhmu kepada Allah sebagai persembahan kudus (Rom.12:1).
Sementara
Allah menyucikan kita, Dia memberikan kita kuasa untuk mentaati hukum-hukumNYA
dan bekerjasama dengan Dia dalam segala aspek kehidupan harian kita. Kemudian kita akan menyatu denganNYA agar
kita dapat berdiri denganNYA dalam suatu persekutuan kudus, baik sekarang dan
sampai kekekalan.
REACT
1. Pikirkan tiga
alasan kenapa kita mesti menerima kekudusan Allah sebagai kekudusan kita.
2. Allah akan
melakukan bagiannya untuk membuat hidup kita suci. Apa bagianmu dalam proses?
3. Apakah hadir di
Sekolah Sabat dan gereja setiap Sabat sudah cukup membuat kita suci? Terangkan jawabanmu.
____________
1. The
SDA Bible Commentary, vol. 7, p. 223.
2. Ibid., p. 225.
Mesnick M. W. Ataupah, Kupang, Nusa Tenggara,
Indonesia
Rabu
15 AGUSTUS
|
Pengkhotbah 11:9; Kol 3:2
|
Bagaimana
Iman, Fokus, Sahabat, dan Bersuka
|
Dunia
memberikan pencobaan seksual dalam berbagai cara. Tetapi, Allah mempunyai berbagai cara agar
kita dapat tetap setia kepadaNYA melalui:
Iman.
Penelitian menunjukan bahwa orang muda yang meninternalisasikan
kepercayaan mereka dalam agama termasuk kepercayaan yang berhubungan dengan
kesucian seksual, “lebih kecil peluannya untuk mengambil resiko bahkan dalam
lingkungan yang memotivasi mereka untuk melakukannya.”* Jadi dahulukan Allah. Teguhkan imanmu kepadaNYA.
fokus kepada apa yang Allah ingin anda lakukan dan capai
Fokus. Ingatlah selalu untuk berfokus
kepada apa yang Allah ingin anda lakukan dan capai. Paulus mengingatkan kita untuk “meletakan
keinginan kita pada hal-hal diatas, bukan pada hal-hal di dunia” (Kol 3:2).
Sahabat. Kadangkala kita jatuh karena
kita memilih teman yang salah. Bacalah
apa yang ditulis Yakobus tentang persahabatan di Yakobus 4:4,5.
Gembira.
Akhirnya, nikmati waktu luangmu dengan aktivitas yang menyenangkan dan
cocok bagi orang Kristen. Jangan lupakan
proyek pelayanan misionari di lingkungan rumah dan kotamu selain menyenangkan
juga bermanfaat kepada orang lain.
REAKSI
1.
Kenapa
memilih teman yang baik penting untuk menghidari dirimu melalukan pelanggaran
seksual? Jika menonton film di rumah
adalah salah satu hobbymu, apa yang akan anda lakukan untuk mencegah
penyimpangan seksual?
2.
Alkitab secara jelas mengilustrasikan
apa yang terjadi pada waktu kita memilih untuk mengizinkan Kristus menjadi
Tuhan bagi kehidupan kita. Bacalah
setiap set ayat-ayat berikut. Set mana
yang paling berarti bagimu, dan kenapa? Set Pertama: Roma 6:1‒13; 7:4‒6; 1 Petrus 2:24. Set Kedua: Roma 6:6; Kolose 3:9, 10. Set Ketiga: Roma 6:4, 11; Kolose 2:12, 13; 3:1, 3.
3.
Cara apa lagi yang adapat anda pikirkan yang dapat membuatmu setia kepada
Kristus?
____________
*Geoffrey L. Ream, Cornell University, “Religion’s Role in the
Development of Youth,” http://www.human.cornell.edu/hd/circ/publications/upload/HE-CIRC-pb-ReamPDF.pdf (accessed August
22, 2011).
Osvald D. Taroreh, Cibubur, West Java, Indonesia
Kamis
16 AGUSTUS
|
Pendapat
ProKreasi dan
Prorekreasi
|
1 Tes. 4:-12
|
Tampaknya salah satu masalah yang
dihadapi gereja yang baru terbentuk di Tesalonika adalah imoralitas
seksual. Tak banyak yang berubah. Kebanyakan dunia terobsesi dengan seks. Kebanyakan dari pertunjukan populer TV, film,
dan musik terkenal dengan pornoaksinya.
Allah menciptakan pengalaman
seksual . . . . . . sebagai ungkapan kasih antara suami dan istri
Faktanya, pencobaan untuk berhubungan seksual diluar
pernikahan semakin hebat sejak dosa masuk ke dunia ini. Menyerah terhadap pencobaan itu akan
berakibat mengerikan. Dosa seksual
secara umum selalu menyakitkan individu, keluarga, bisnis, gereja, dan
masyarakat. Disamping konsekuensi fisik,
juga terdapat konsekuensi rohani.
Keinginan dan aktivitas seksual mesti diletakan dibawah kendali
Kristus. Allah menciptakan pengalaman
seksual untuk prokreasi dan prorekreasi, dan sebagai ungkapan kasih antara
suami dan istri. Pengalaman seksual
mesti dibatasi pada hubungan pernikahan untuk mencegah menyakiti diri sendiri,
hubungan kita dengan Allah, dan dengan orang lain.1
Alkitab mengajarkan kita bahwa “kasih antara suami dan
istri tanpa kondisi, afeksi, dan tekad devosi intim kepada satu sama lain yang
mendorong pertumbuhan satu sama lain dalam rupa Allah dalam segala aspek
pribadi: fisikal, emosional, intelektual, dan rohani. Tipe kasih yang berbeda terdapat dalam
pernikahan: romantis, waktu-waktu merindukan; waktu-waktu menyenangkan; dan
waktu persahabatan dan rasa memiliki.
Tetapi kasih agape yang
diuraikan dalam Perjanjian Baru—kasih tidak mementingkan diri dan untuk
semua—yang menjadi fondasi dari kasih pernikahan kekal.”2
REAKSI
1. Kenapa dosa seksual selalu lebih menyakitkan bukan hanya kepada satu orang
tetapi kepada seluruh keluarga, bisnis,
dan gereja?
2. Bagaimana caranya kita meletakan keinginan dan aktivitas seksual kita
dibawah kendali Kristus?
3. Bagaimana Yesus mengungkapkan kasih agape sewaktu DIA didunia ini?
4. Bandingkan/kontraskan konsepmu akan definisi kasih Paulus dalam 1 Korintus
13:4—8. Tingkah laku spesifik apa yang
akan dieliminasi jika orang meminta Allah membantu mereka mengembangkan tipe
kasih ini? Tingkah laku spesifik apa
yang mesti dilalui gantinya?
____________
1. Life Application Study Bible−Personal Size. Commentary on 1
Thessalonians 4:1−8, part 1, and 1 Thessalonians 4:1−8, part 2, pages 1915 and
1916 (Wheaton, Ill.: Tyndale House Pub. Inc., 2004).
2. Seventh-day Adventists Believe
(Silver Spring, Md.: Ministerial Association of the General Conference of
Seventh-day Adventists, 2005), p. 334.
Fritz and Joice Manurung, Jakarta, Indonesia
Jum’at
17
AGUSTUS
|
Eksplorasi
Hidup Menyenangkan Allah
|
1 Tes. 4:1-12
|
SIMPULAN
Paulus memerintahkan orang Kristen
di Tesalonika untuk hidup dalam cara yang akan menyenangkan Allah. Instruksi ini berlaku juga untuk kita. Faktanya, jika kita secara tulus menyatakan
sebagai pengikut Kristus, kita tidak dapat hidup dengan cara lain. Bila kita menermia pembenaran Kristus bagi
kita, kita mulai proses suatu hidup yang suci.
Proses ini disebut penyucan dan terjadi melalui pengaruh Roh Kudus
didalam hati dan pikiran. Anggota ketiga
KeAllahan bekerja didalam kita untuk mengobahkan cara kehidupan lama kita
sehingga kita mengembangkan suatu karakter seperti JuruSelamat kita. Jadi keKristenan tidak mencakup banyak daftar
lakukan dan jangan lakukan karena mencakup suatu hubungan saling memenuhi
dengan Kristus.
PERTIMBANGKAN
- Tuliskan dalam jurnalmu reaksi terhadap apa yang dikatakan Paulus dalam 1 Tesalonika 4:1—12. Pikirkan tentang bagaimana anda bereaksi untuk apa yang anda lakukan dan apa reaksimu katakan tentang apa yang anda rasa dan pikirkan tentang hidup yang menyenangkan Allah.
- Lakukan penelitian di Web site Biblical Research Institute of the General Conference GMAHK tentang topik berikut yang berhubungan dengan 1 Tesalonika 4:1—12: pernikahan, perzinahan, penyucian, kekudusan, Roh Kudus, kasih persaudaraan, kemurnian.
- Gambarkan, lukiskan, atau patungkan bagaiman aspek khusus suatu kehidupan kudus.
- Perangkan dengan sekelompok sahabat atau teman kelas Sekolah Sabatmu berbagai cerita dalam Alkitab yang menunjukan kita apa yang Paulus katakan tentang suatu kehidupan kudus.
- Forming a choral reading group to perform the following Scripture Readings from The Seventh-day Adventist Hymnal for either a Sabbath School program, a church service, or a visit to a nursing home: No. 787—Christianity in Practice; No. 789—Growing in Christ; No. 812—Christian Relationships. Bentuklah suatu kelompok album bacaan untuk memerankan Bacaan Alkitab berikut dari The Seventh-day Adventist Hymnal atau program Sekolah Sabat, atau suatu kunjungan ke rumah jompo: No. 787—keKristenan secara Praktis; No. 789—Bertumbuh dalam Kristus; No. 812—Hubungan Kristen.
- Pantulkan bagaimana kehidupan “tampaknya” dalam 1 Tesalonika 4:1—12 dan bacaan Alkitab diatas. Pintalah Roh Kudus menunjukanmu dimana kekuranganmu dan untuk membantu memperkuat hal itu.
HUBUNGKAN
1 Korintus 6:18‒20; Galatia 5:13‒26; Epesus, Bab 4‒6.
Seventh-day Adventists Believe, 2nd ed. (General Conference
Ministerial Association, 2005), pp. 149‒162.
Mary
Beth Smythe, London, England
No comments:
Post a Comment