Sunday, 1 July 2012

SSCQ Indonesia, Pelajaran 7 Triwulan III 2012


Satu dan Dua Tesalonika
Pelajaran Ke-Tujuh Kwartal 3,
Menghidupkan Hidup Yang Kudus
11-17 Agustus 2012
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang


Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Tes 4:7)

Sabbath
11 AGUSTUS
Kej. 38:12-26; 1 Tes 4:3; Ibr. 13:4; Wahyu 21:8
Pendahuluan
Distrik Lampu Merah

            Kebanyakn kota-kota mempunyai “distrik lampu merah.”  Terminologi ini menyatakan bagian kota tempat berlangsungnya bursa sex.  Istilah itu datang dari bola lampu merah di jendela atau teras yang menyatakan apa yang ada di dalam.  DeWallen, distrik lampu merah di Amsterdam, sedemikian terkenalnya sehingga menjadi atraksi turis walaupun yang berkunjung tidak ingin membayar jasa apapun.  Pemerintah Belanda telah mengatur dan melegalkan aktivitas di DeWallen.  Thailand juga telah melakukan hal yang sama dinegaranya.  Dengan melakukan itu, kedua negara berharap untuk mengatur dan bahkan mencegah menyebarnya penyakit kelamin.

Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan.........

            Perzinahan telah menjadi masalah sejak adanya dunia ini.  Yehuda berhubungan dengan PSK, yang ternyata adalah menantunya (Kej. 38:12-26).  Didunia kafir biarawti bersama-sama dengan biarawan dalam melakukan upacara ritual juga berfungsi sebagai PSK.  Dipercaya bahwa agar manusia dapat berhubungan dengan illahnya, para pria mesti berhubungan sex dengan para biarawati.
            Tetapi, Allah tidak menyetujui hal itu.  bagiNYA, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibr. 13:4).  Mereka yang tidak setia dalam hal ini dan tidak mencari pengampunan tidak akan memasuki kerajaan sorga (Wahyu 21:8).
            Situasi di Tesalonika pada masa Paulus tidak berbeda dengan distrik lampu merah saat ini dan sikap masyarakat luas terhadap aktivitas seksual ini.  Paulus, karenanya, meminta kepada orang Kristen Tesalonika yang baru bertobat untuk bertarak dari ketidak sucian seksual ini (1 Tes. 4:3)
            Minggu ini, kita akan mempelajari kata-kata Paulus kepada orang Tesalonika, dan kepada kita, tentang pentingnya menghidupakan suatu kehidupan yang dikuduskan bebas dari imoralitas seksual yang tidak sah.  Panggilan ini merupakah panggilan untuk menghidupkan suatu kehidupan kudus.

Daniel Saputra, Palembang, South Sumatra, Indonesia

Minggu
12 AGUSTUS
Logos
Gaya Hidup Umat Yang Sisa di Tesalonika
Kej.39:9; Mat. 25:34-46; Yoh. 13:34, 35; 1 Tes. 4:1-12

            Tesalonika adalah ibukota Makedonia, dan terletak 99 mil Barat Daya Filip.  Gereja di Tesalonika didirikan oleh Paulus pada perjalanan misionari keduanya.  Tetapi karena ditentang orang Yahudi, dia pindah (Kis. 17:::1-10)
Setelah Paulus tiba di Korintus kira-kira tahun 51 Masehi, dia menerima surat dari Timotius yang mengatakan yang menceritakan kondisi gereja Tesalonika.  Paulus kemudian menulis kepada gereja itu untuk menyatakan kegembiraannya akan keteguhan iman mereka ditengah-tengah pergumulan yang mereka derita.  Dia juga ingin mengajar mereka lebih lanjut tentang suatu kehidupan yang kudus, dan menerangkan kepada mereka tujuan orang benar yang mati sebelum kedatang Kristus1.  Berikut adalah beberapa pelajaran penting yang ingin disampaikan Paulus kepada Umat Allah digereja Tesalonika.  Hal ini masih relevan kepada kita saat ini.

Hidup dapat dibagi menjadi empat bagian, setiap bagiannya merupakan karunia Allah

Kekudusan Pernikahan (1 Tes. 4:1-8)
            Dunia yang kita tinggali mempunyai banyak pencobaan, jadi Paulus secara eksplisit mengingatkan kita akan pentingnya menghidupkan hidup yang kudus, yang mencakup mempertahankan kesakralan pernikahan.  “Menghidupkan hidup yang kudus mesti menjadi idealisme setiap orang percaya, dan gereja tidak akan berkuasa jika tidak mempunyai hidup yang suci.2  Teladan Yusuf merupakan suatu teladan yang bagus untuk kita tiru pada waktu dia mengatakan, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kej. 39:9)
            Paulus rindu untuk setiap pasangan yang menikah untuk menjaga persatuan mereka kudus, dan tidak dipengaruhi oleh praktek tidak tepat orang-orang Tesalonika. (juga lihat Efesus 5:3 dan Kolose 3:5).  Allah mendirikan suatu lembaga pernikahan kudus di Eden dan menyatakan bahwa setiap pria mesti mempunyai istrinya sendiri, dan setiap pria mesti mempunyai suaminya sendiri (1 Kor. 7:2).
 “Pilihlah kemisikinan, cacian, dan perpisahan dari sahabat, atau penderitaan lainnya daripada mencemari jiwa dengan dosa.  Lebih baik mati daripada melanggar hukum Allah mesti menjadi motto setiap orang Kristen.”3

Kasih Bersaudara (1 Tess. 4:9, 10)
            Paulus mengingatkan anggota gereja di Tesalonika untuk saling mengasihi.  Hal ini akan menjadi kesaksian kepada orang-orang diluar gereja.  Adalah baik bagi kita untuk tinggal diantara orang yang papa, miskin, dan tidak mendapat cukup perhatian, dengan melakukan itu akan memberikan kita kesempatan untuk mengajarkan Allah yang kasih.  Benar, Allah memanggil kita untuk menjadi yang pertama dalam menunjukan kasih kepada orang miskin.  Yakobus menuliskan bahwa mengasihi orang lain merupakan bagian dari mengikuti hukum Allah (Yakobus 2:8; 4:17)
Kasih Illahi, yang dikembangkan dengan hadirnya Roh Kudus Allah, memotivasi pelayanan kita kepada orang lain sementara pada saat yang sama mempromosikan dan menyatukan gerja.  “Pengetahuan, kebajikan, pernyataan, rasa syukur, dan keteguhan semuanya adalah kegiatan yang baik; tetapi tanpa kasih Yesus di dalam hati, pekerjaan orang Kristen merupakan suatu kegagalan.”4

Pekerjaan Jujur (1 Tess. 4:11, 12)
            Tampaknya orang zaman sekarang adalah pemalas.  Mereka membuang waktu dan tidak memberikan pekerjaan yang jujur untuk upah yang diterima.  Orang Kristen, bagaimanapun, tahu mereka adalah penatalayan Allah dan karenanya mesti bekerja dengan jujur.
            Hidup dapat dibagi menjadi empat bagian, setiap bagiannya merupakan karunia Allah.  DIA memberikan kita tubuh, kemampuan, waktu, dan harta.  Sebagai tambahan, DIA meminta kita untuk menjaga dan merawat lingkungan kita.  Karena itulah Paulus membujuk orang di Tesalonia (dan kita saat ini) untuk bekerja keras.  Dengan melakukan hal ini akan membuat orang kagum dan membantu kita untuk hidup secara merdeka.  Allah memanggil kita untuk menghidupkan hidup yang kudus (ayat 7).  Menolak melakukan hal itu sama dengan menolak DIA (1Tes. 4:8).  Pada awal suratnya, Paulus memberik pujian kepada anggota gereja Tesalonika akan kesetiaan dan kerajianan mereka menghidupkan hidup Kristiani.  Kemudian, dia menerangkan kehendak Allah kepada mereka: penyucian, menghindari imoralitas seksual dengan menjadi setia dan menghormati pernikahan (ayat 3-5); memperlakukan orang lain dengan jujur (ayat 6); mengasihi satu sama lain (ayat 9, 10); menuntun hidup yang tenang, tidak mencampuri urusan orang lain, dan bekerja dengan rajin sehingga orang lain akan memandang mereka dengan hormat (ayat 11, 12).  Dia menutup suratnya dengan mengingatkan mereka untuk mendorong satu sama lin dengan janji kedatangan Kristus yang kedua kali.

REAKSI
Bagaimana kita menegakan kesatuan gereja dan menjaga hidup yang suci?  Apa yang mendorong kita melakukannya?
2. Apa yang akan membantu kita mempersiapkan kedatangan Yesus yang kedua kali?
____________
1. Merril C. Tenney, New Testament Survey (Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997, [Indonesian language edition]).
2. R. Kent Hughes, Disciplines of a Godly Man (Yayasan Kalam Hidup: Bandung, 1991, [Indonesian language edition]).
3. Testimonies for the Church, vol. 5, p. 147.
4. The Desire of Ages, p. 815.

Victor Joe Sinaga, Palembang, South Sumatra, Indonesia

Senin
13 AGUSTUS

1 Yoh 2:6
Kesaksian
“Suci, Suci”

            “Buatlah orang yang telah mengantuk dan tidak sadar dibangunkan.  Kita dipanggil untuk menjadi suci, dan kita mesti dengah hati-hati mesti mencegah memberi kesan bahwa tidak peduli apakah kita mempertahankan atau acuh saja dengan iman kita yang khusus.  Kepada kita diberikan tanggung jawab kudus untuk suatu keputusan tegas akan hal yang baik dan benar daripada yang telah kita lakukan pada masa lalu.  Garis bata antara yang memegang teguh hukum Allah dan yang tidak akan dinyatatakan dengan jernih.  Kita mesti secara sadar menghormati Allah, secara sungguh-sungguh menggunakan segala cara untuk mempertahankan hubungan kudus kita denganNYA, agar kita boleh menerima berkat—berkat yang sedemikian pentingnya bagi orang-orang yang dicobai dengan berat.  Memberikan kesan bahwa iman kita, agama kita, tidak mempunyai pengaruh dalam hidup sama dengan melecehkan Allah.  Dengan melakukan itu kita berpaling dari perintahNYA, yang merupakan hidup kita, menyangkal bahwa DIA adalah Allah kita dan kita adalah umatNYA.”1

Semenjak awal Allah telah memilih manusia untuk menjadi suci

            “Semenjak awal Allah telah memilih manusia untuk menjadi suci.  Inilah kehendak Allah, agar kita menjadi suci.  Hukum Allah tidak bisa mentoleransi dosa, tetapi menuntut kesetiaan sempurna.  Gaung suara Allah datang kepada kita secara terus menerus berbunyi Suci, suci.  Dan jawaban manusia semestinyalah, Ya, Tuhan kami tetap suci.   Kesucian selalu berada dalam jangkauan orang yang karena iman, bukan karena kelakuan baiknya, tetapi karena kasih karunia Kristus.  Kuasa Illahi diberikan bagi setiap jiwa yang bergumul untuk menang dari kuasa dosa dan setan.
            “Pembenaran berarti menyelamatkan jiwa dari kutukan, agar dia bisa mendapatkan kesucian, dan melalui penyucian, kehidupan sorga.  Pembenaran berarti bahwa hati nurani, dibersihkan dari pekerjaan sia-sia, ditempatkan pada tempat yang dapat menerima berkat penyucian.”2
          “Kebenaran mesti menyucikan manusia seutuhnya—hatinya, pikirannya, otaknya, kekuatannya.  Kekuatan vitalnya tidak akan dikuasai oleh praktek badanyinya.  Hal ini mesti diatasi atau mereka akan menguasai dirinya.”3

REAKSI
Dibawah kasih karunia Kristus, apa perbedaan antara yang menghidukan hidup suci dan kelakuan baik?
___________________
1. Counsels on Health, pp. 238, 239.
2. Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, vol. 7, 2nd ed., p. 908.
3. Ibid., p. 909.

Roy Maju Hutasoit, Bandung, Indonesia

Selasa
14 AGUSTUS

Bukti
Panggilan jadi Suci
1 Tes. 4:3—7

            “Tesalonika adalah suatu kota yang penting, dan ibukota bagian kedua Makedonia.  Lokasi yang terpilih dan pelabuhan Tesalonika yang hebat menjadikannya kota dagang yang penting.”1  Penduduk Tesalonika terdiri dari orang Yahudi dan Yunani (Kisah 17:1,4), Roma, dan orang kafir.  Paulus pergi kesana pada perjalanan misionary keduanya (Kisah 17:2,4).

melalui kasih karunia Allah . . . . . . kita disucikan

            Tema kedua surat Paulus kepada gereja Tesalonika adalah “kekudusan praktis dari sudut pandang kedatangan Kristus.  Kemuliaan kedatangan TUHAN adalah doktrin utama yang disampaikan pada surat ini (1 Tes 1:10; 2:19; 3:13; 4:13-18; 5:23).  Doktrin lain yang disebutkan adalah kematian dan kebangkitan Kristus (4:14), kebangkitan orang benar yang mati (13—16), hadiah dan hukuman masa depan (4:17; 5:3), keberadaan dan pekerjaan aktif setan (2:18), doktrin penebusan, yang mencakup pemilihan dan penyucian (1:4; 4:3—7)”2
            Semua kita secara alami tidak suci.  Tetapi melalui kasih karunia Allah, dengan menerima DIA ke dalam hati kita, kita disucikan.  Kita mempertahankan kesucian ini dengan menuruti DIA siang dan malam.  Alkitab mencatat beberapa ide tentang bagaimana hal ini dilaksanakan:

1.  Kendalikan tubuhmu (1Tess. 4:4).
2.  Makan makanan yang sehat (Daniel 1).
3. Fokus pikiran dan hatimu pada hal-hal yang baik dan kudus (Fil. 4:8).
4. Persembahkan tubuhmu kepada Allah sebagai persembahan kudus (Rom.12:1).

            Sementara Allah menyucikan kita, Dia memberikan kita kuasa untuk mentaati hukum-hukumNYA dan bekerjasama dengan Dia dalam segala aspek kehidupan harian kita.  Kemudian kita akan menyatu denganNYA agar kita dapat berdiri denganNYA dalam suatu persekutuan kudus, baik sekarang dan sampai kekekalan.

REACT
1. Pikirkan tiga alasan kenapa kita mesti menerima kekudusan Allah sebagai kekudusan kita.
2. Allah akan melakukan bagiannya untuk membuat hidup kita suci.  Apa bagianmu dalam proses?
3. Apakah hadir di Sekolah Sabat dan gereja setiap Sabat sudah cukup membuat kita suci?  Terangkan jawabanmu.
____________
1. The SDA Bible Commentary, vol. 7, p. 223.
2. Ibid., p. 225.

Mesnick M. W. Ataupah, Kupang, Nusa Tenggara, Indonesia

Rabu
15 AGUSTUS

Pengkhotbah 11:9; Kol 3:2
Bagaimana
Iman, Fokus, Sahabat, dan Bersuka

            Dunia memberikan pencobaan seksual dalam berbagai cara.  Tetapi, Allah mempunyai berbagai cara agar kita dapat tetap setia kepadaNYA melalui:
            Iman.  Penelitian menunjukan bahwa orang muda yang meninternalisasikan kepercayaan mereka dalam agama termasuk kepercayaan yang berhubungan dengan kesucian seksual, “lebih kecil peluannya untuk mengambil resiko bahkan dalam lingkungan yang memotivasi mereka untuk melakukannya.”*  Jadi dahulukan Allah.  Teguhkan imanmu kepadaNYA.

fokus kepada apa yang Allah ingin anda lakukan dan capai

            Fokus. Ingatlah selalu untuk berfokus kepada apa yang Allah ingin anda lakukan dan capai.  Paulus mengingatkan kita untuk “meletakan keinginan kita pada hal-hal diatas, bukan pada hal-hal di dunia” (Kol 3:2).
            Sahabat. Kadangkala kita jatuh karena kita memilih teman yang salah.  Bacalah apa yang ditulis Yakobus tentang persahabatan di Yakobus 4:4,5.
            Gembira.  Akhirnya, nikmati waktu luangmu dengan aktivitas yang menyenangkan dan cocok bagi orang Kristen.  Jangan lupakan proyek pelayanan misionari di lingkungan rumah dan kotamu selain menyenangkan juga bermanfaat kepada orang lain.

REAKSI
1.      Kenapa memilih teman yang baik penting untuk menghidari dirimu melalukan pelanggaran seksual?  Jika menonton film di rumah adalah salah satu hobbymu, apa yang akan anda lakukan untuk mencegah penyimpangan seksual?
2.      Alkitab secara jelas mengilustrasikan apa yang terjadi pada waktu kita memilih untuk mengizinkan Kristus menjadi Tuhan bagi kehidupan kita.  Bacalah setiap set ayat-ayat berikut.  Set mana yang paling berarti bagimu, dan kenapa?  Set Pertama: Roma 6:1‒13; 7:4‒6; 1 Petrus 2:24. Set Kedua: Roma 6:6; Kolose 3:9, 10. Set Ketiga: Roma 6:4, 11; Kolose 2:12, 13; 3:1, 3.
3.      Cara apa lagi yang adapat anda pikirkan yang dapat membuatmu setia kepada Kristus?
____________
*Geoffrey L. Ream, Cornell University, “Religion’s Role in the Development of Youth,” http://www.human.cornell.edu/hd/circ/publications/upload/HE-CIRC-pb-ReamPDF.pdf (accessed August 22, 2011).

Osvald D. Taroreh, Cibubur, West Java, Indonesia

Kamis
16 AGUSTUS
Pendapat
ProKreasi dan Prorekreasi
1 Tes. 4:-12

            Tampaknya salah satu masalah yang dihadapi gereja yang baru terbentuk di Tesalonika adalah imoralitas seksual.  Tak banyak yang berubah.  Kebanyakan dunia terobsesi dengan seks.  Kebanyakan dari pertunjukan populer TV, film, dan musik terkenal dengan pornoaksinya.

Allah menciptakan pengalaman seksual . . . . . . sebagai ungkapan kasih antara suami dan istri

Faktanya, pencobaan untuk berhubungan seksual diluar pernikahan semakin hebat sejak dosa masuk ke dunia ini.  Menyerah terhadap pencobaan itu akan berakibat mengerikan.  Dosa seksual secara umum selalu menyakitkan individu, keluarga, bisnis, gereja, dan masyarakat.  Disamping konsekuensi fisik, juga terdapat konsekuensi rohani.  Keinginan dan aktivitas seksual mesti diletakan dibawah kendali Kristus.  Allah menciptakan pengalaman seksual untuk prokreasi dan prorekreasi, dan sebagai ungkapan kasih antara suami dan istri.  Pengalaman seksual mesti dibatasi pada hubungan pernikahan untuk mencegah menyakiti diri sendiri, hubungan kita dengan Allah, dan dengan orang lain.1
Alkitab mengajarkan kita bahwa “kasih antara suami dan istri tanpa kondisi, afeksi, dan tekad devosi intim kepada satu sama lain yang mendorong pertumbuhan satu sama lain dalam rupa Allah dalam segala aspek pribadi: fisikal, emosional, intelektual, dan rohani.  Tipe kasih yang berbeda terdapat dalam pernikahan: romantis, waktu-waktu merindukan; waktu-waktu menyenangkan; dan waktu persahabatan dan rasa memiliki.  Tetapi kasih agape yang diuraikan dalam Perjanjian Baru—kasih tidak mementingkan diri dan untuk semua—yang menjadi fondasi dari kasih pernikahan kekal.”2

REAKSI
1. Kenapa dosa seksual selalu lebih menyakitkan bukan hanya kepada satu orang tetapi kepada seluruh keluarga,  bisnis, dan gereja?
2. Bagaimana caranya kita meletakan keinginan dan aktivitas seksual kita dibawah kendali Kristus?
3. Bagaimana Yesus mengungkapkan kasih agape sewaktu DIA didunia ini?
4. Bandingkan/kontraskan konsepmu akan definisi kasih Paulus dalam 1 Korintus 13:4—8.  Tingkah laku spesifik apa yang akan dieliminasi jika orang meminta Allah membantu mereka mengembangkan tipe kasih ini?  Tingkah laku spesifik apa yang mesti dilalui gantinya?
____________
1. Life Application Study Bible−Personal Size. Commentary on 1 Thessalonians 4:1−8, part 1, and 1 Thessalonians 4:1−8, part 2, pages 1915 and 1916 (Wheaton, Ill.: Tyndale House Pub. Inc., 2004).
2. Seventh-day Adventists Believe (Silver Spring, Md.: Ministerial Association of the General Conference of Seventh-day Adventists, 2005), p. 334.

Fritz and Joice Manurung, Jakarta, Indonesia

Jum’at
17 AGUSTUS
Eksplorasi
Hidup Menyenangkan Allah
1 Tes. 4:1-12

SIMPULAN
            Paulus memerintahkan orang Kristen di Tesalonika untuk hidup dalam cara yang akan menyenangkan Allah.  Instruksi ini berlaku juga untuk kita.  Faktanya, jika kita secara tulus menyatakan sebagai pengikut Kristus, kita tidak dapat hidup dengan cara lain.  Bila kita menermia pembenaran Kristus bagi kita, kita mulai proses suatu hidup yang suci.  Proses ini disebut penyucan dan terjadi melalui pengaruh Roh Kudus didalam hati dan pikiran.  Anggota ketiga KeAllahan bekerja didalam kita untuk mengobahkan cara kehidupan lama kita sehingga kita mengembangkan suatu karakter seperti JuruSelamat kita.  Jadi keKristenan tidak mencakup banyak daftar lakukan dan jangan lakukan karena mencakup suatu hubungan saling memenuhi dengan Kristus.

PERTIMBANGKAN
  • Tuliskan dalam jurnalmu reaksi terhadap apa yang dikatakan Paulus dalam 1 Tesalonika 4:1—12.  Pikirkan tentang bagaimana anda bereaksi untuk apa yang anda lakukan dan apa reaksimu katakan tentang apa yang anda rasa dan pikirkan tentang hidup yang menyenangkan Allah.
  • Lakukan penelitian di Web site Biblical Research Institute of the General Conference GMAHK tentang topik berikut yang berhubungan dengan 1 Tesalonika 4:1—12: pernikahan, perzinahan, penyucian, kekudusan, Roh Kudus, kasih persaudaraan, kemurnian.
  • Gambarkan, lukiskan, atau patungkan bagaiman aspek khusus suatu kehidupan kudus.
  • Perangkan dengan sekelompok sahabat atau teman kelas Sekolah Sabatmu berbagai cerita dalam Alkitab yang menunjukan kita apa yang Paulus katakan tentang suatu kehidupan kudus.
  • Forming a choral reading group to perform the following Scripture Readings from The Seventh-day Adventist Hymnal for either a Sabbath School program, a church service, or a visit to a nursing home: No. 787—Christianity in Practice; No. 789—Growing in Christ; No. 812—Christian Relationships.  Bentuklah suatu kelompok album bacaan untuk memerankan Bacaan Alkitab berikut dari The Seventh-day Adventist Hymnal atau program Sekolah Sabat, atau suatu kunjungan ke rumah jompo: No. 787—keKristenan secara Praktis; No. 789—Bertumbuh dalam Kristus; No. 812—Hubungan Kristen.
  • Pantulkan bagaimana kehidupan “tampaknya” dalam 1 Tesalonika 4:1—12 dan bacaan Alkitab diatas.  Pintalah Roh Kudus menunjukanmu dimana kekuranganmu dan untuk membantu memperkuat hal itu.

HUBUNGKAN
1 Korintus 6:18‒20; Galatia 5:13‒26; Epesus, Bab 4‒6.
Seventh-day Adventists Believe, 2nd ed. (General Conference Ministerial Association, 2005), pp. 149‒162.

Mary Beth Smythe, London, England

No comments:

Post a Comment