Sunday, 21 February 2010

SSCQ Pelajaran 9 Kwartal I tahun 2010

SSCQ4Q09DESEMBER 2009—Maret 2010

Pelajaran Sembilan Kwartal 1, 20—27 Februari 2010

Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra

Buah Roh Adalah

Leman Lembut

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi (Matius 5:5)


Sabbath

20 Februari

Lukas 6:43−45

Pendahuluan

Apa Yang Mereka Pikirkan Tentang?

Suatu hari Sabtu setelah gereja, sekolompok anggota GMAHK pada perjalanan pulang bertemu dengan pemeriksaan polisi di suatu jalan di Port-Au-Prince, Haiti. Pada waktu orang GMAHK ini mendekat ke polisi, salah satu polisi mengatakan bahwa tidak perlu memeriksa orang-orang ini karena mereka pakai baju rapi dan Alkitab di tangan. Dengan ucapan terimakasih, orang GMAHK ini melanjutkan perjalanannya.

Tak lama setelah itu baru saya menyadari bahwa saya pakai baju rumah sakit

Pada waktu pulang kerja suatu sore, disuatu lampu merah seorang wanita membuka pintu mobil sisi penumpang. Dia merasa kurang saht dan mulaimuntah. Karena saya dekat dengannya, saya berlari kepadanya. Pada waktu dekat, saya mendengar orang-orang berkat bahwa dia hamil dan tidak makan sepanjang hari. Saya terkejut melihat bagaimana orang lain dalam mobil itu sedemikian berterima kasihnya dengan bantuan kecilku. Tak lama setelah itu baru saya menyadari bahwa saya pakai baju rumah sakit.

Beberapa detik di lampu merah, memikirkan, siapapun berhenti untuk menolong mungkin telah cenderung untuk mencari pujian. Tetapi, satu-satu pujian yang diperlukan adalah pandangan bahwa penumpang itu memerlukan bantuan

Apa yang dipikirkan dunia pada waktu mereka melihatmu? Bagaimana orang mengklasifikasikanmu? Apakah mereka mengkalifikasikanmu sebagai orang yang menghasilkan buah-buah kristiani atau sebagai pohon yang hampa? Melakukan tindakan pelayanan sederhana yang anda tahu akan menghasilkan pujian kecil atau tidak sama sekali membantu dunia melihat dalam seseorang buah kelemah lembutan dan akan membedakanmu dari siapapun. Seperti yang dikatakan Yesus, “Pohon dikenal dari buahnya” (Lukas 6:44). Buah apa yang ada hasilkan hari ini?

Pelajaran minggu ini akan membantu kita lebih mengerti buah kelemah lembutan dan bagaimana menumbuhkannya.

Francia Bissereth, Hyattsville, Maryland, U.S.A.


Minggu

21 Februari

Logos

Kekuasaan yang Terkendali

Kej. 50:15–20;

Matt. 5:5; 11:29; Rom. 12:3;

Gal. 6:1; Fil. 2:1–3

Pengertian Lemah Lembut (Matt. 5:5; 11:29)

Kebanyakan orang bila mendengar kata lemah lembut, mempunyai gambaran akan mie rebus. Seorang temanku secara bergurau mengatakan, “Orang yang lemah lembut akan mewarisi bumi . . . . . jika itu diterima semua orang.” Tetapi bila kita lihat kata lemah lembut dalam bahasa Yunani—praus—kita melihat arti yang berbeda. Arti yang pertama menguraikan tentang keseimbangan antara emosi ekstrim. Dengan kata lain, lemah lembut akan berarti keseimbangan antara terlampau banyak marah dan tidak cukup marah. Bila Alkitab mengatakan, “Dalam kemarahanamu jangan berdosa” (Efesus 4:26), ayat ini mengatkan ada bnetuk marah yang benar dan dapat dipertannggung jawabkan. Sebagai orang Kristen kita mungkin kita merasa layak untuk marah akan ketidak adilan dunia, tetapi kita akan keluar jalur bila melakukannya dengan kepala yang panas. Arti pertama dari lemah lembut menandai antara keseimbangan emosional yang ekstrim.

Yesus bukan hanya mengkampanyekan kelemah lembutan, Dia menghidupkannya

Arti lemah lembut yang kedua dan yang lebih keras adalah dinamika kuda atau lembu jantan yang patuh dan menerima perlakuan kendali tertentu dari tuannya. Disini kita lihat suatu hewan yang kuat yang dapat saja menghancrukan tuannya tetapi mau dituntun dan dilatih, dan diarahkan sesuai kehendak tuannya. Alkitab, dalam menyatakan lemah lembut sebagai indikator kehidupan yang dipenuhi Roh, jadi menunjukan seorang Krisetn yang mempunyai kuasa tetapi menyerahkan kuasa itu kepada kehendaka Allah.

Kebencian Manusia kepada Kelemah Lembutan (1 Kor. 2:14)

Sifat berdosa membesarkan kepala jeleknya dalam bentuk keinginan sendiri. Sifat fana tidak akan mengizinkan dirinya sendiri untuk dijinakan atau dibawah kekuasaan seseorang atau apapun. Dalam Taman Eden, Hawa, mendengar perkatan ular, meragukan Allah dan menumbuhkan keinginan sendiri melawan kehendak Tuhan. Dengan melakukan itu, dia berlaku berlawanan dengan roh kelemah lembutan. Dia tidak menyerahkan diri kepada Allah. Kebanyakan orang setuju bahwa sebagai manusia, kita merasa sulit untuk menyerah. Awal musa dosa menunjukan kepada kita bahwa Allah memberikan hadiah kelemah lembutan agar manusia tetap dapat setia kepada kehendakNYA.

Jesus Berkata, “Jadilah SepertiKU” (Matt. 11:29)

Yesus, teladan sempurna kita datang ke dunia ini untuk menunjukan jalan keselamatan. Hidupnya adalah hidup yang berserah secara total dan percaya kepada Allah Bapa. Alkitab mengatakan bagaimana dia sering berdoa pada malam hari untuk mendapatkan kekuatan untuk menjalankan misiNYA. Jadi, Dia mengundang kita untuk memikul kukNYA. Pada zaman Yesus, kuk bukanlah sesuatu yang bisa anda dapatkan di toko Wal-Mart Yerusalem yang terletak pada rak-raknya. Tetapi, sebuah kuk dibuat khusus oleh tukang untuk disesuaikan dengan hewan yang menggunakannya untuk menarik beban berat. Kuk itu bukanlah beban tetapi suatu alat yang akan membuat beban mudah ditarik. Jadi, pada dasarnya, Yesus berkata, “Sepanjang engkau membawa beban, mari KUberikan kepadamu kuk yang dapat membantumu. Dan kuk KU itu mudah.” Yesus juga mengatakannya dengan cara ini, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh. 16:33)

Yesus bukan hanya mengkampanyekan kelemah lembutan, Dia menghidupkannya. Dalam usahaNYA untuk menyelamatkan umat manusia, hidupNYA memberi teladan penyerahan lemah lembut—satu-satunya cara yang mungkin untuk masuk kesuatu hubungan yang benar dengan Allah dan merasakan kesukaan yang benar dan kegembiraan tanpa akhir. Yesus bisa saja dengan mudah menggunakan kuasaNYA untuk mengalahkan musuh-musuhNYA. Tetapi, Dia menyimpan kuasa itu dibawah kendali Allah. Adalah merupakan suatu penipuan untuk berfikir bahwa kita dapat benar-benar gembira diluar kehendak Allah. Kesukaan yang benar hanya dapat ditemukan dalam penyerahan.

“Dalam kondisinya yang tak berdosa, manusia mendapatkan persekutuan yang gembira dengan Allah . . . . Setelah dosa, dia tidak lagi mendapatkan kegembiraan dalam kesucian . . . . . Seperti itulah kondisi hati yang tidak diperbaharui. . . . . . .Dapatkah dia diizinkan masuk ke sorga, tidak akan menjadi kegembiraan baginya. Roh kasih yang tidak mementingkan diri yang berkuasa disana . . . . . . . akan menyentuh senar yang tak menjawab dalam jiwanya. Pikirannya, ketertarikannya, motifnya, akan menjadi orang asing kepada mereka yang hidup tanpa dosa disana.”*

Yesus memberikan teladan penyerahan dan mengundang kita untuk mengikutiNYA dalam kelemah lembutan.

Janji Orang Yang Lemah Lembut (Kej. 1:28; Maz. 37:11; Matt. 5:5; Gal. 5:22, 23)

Jika anda pernah bertanya-tanya kenapa orang yang lemah lembut adalah pewaris bumi, anda tidak sendirian. Bila kita baca buku Kejadian, nenek moyang pertama kita diperintahkan Allah untuk memenuhi bumi dan menjaganya. Dosa mengobahkan segalanya. Tetapi, kita juga menemukan dalam Perjanjian Lama suatu permohonan kepada manusia untuk menyerahkan kembali keinginan mereka kepada Allah berdasarkan janji berikut: “Tetapi orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira” (Maz. 37:11). Kehidupan Yesus di dunia menunjukan kepada kita apa artinya lemah lembut yang benar. Dalam Galatia, janji orang yang lemah lembut mewarisi bumi diperbaharui sehingga sekarang melalui Roh kita dapat menerima buah.

REAKSI

1. Apa yang mencegahmu untuk menghidupkan kehidupan yang lemah lembut?

2. Apa implikasinya bagi orang Kristen yang lemah lembut akan mewarisi bumi? Apakah janji ini mempunyai pengaruh langsung, atau hanya untuk masa depan? Terangkan jawabmu.

____________

*Steps to Christ, pp. 17, 18.

Kendall Turcios, Houston, Texas, U.S.A.


Senin

22 Februari

Kesaksian

Kelemah Lembutan: “Bukti yang tak SalahUnmistakable Evidence”

Yohn 3:1–21; 15:1–6

“Keberadaan pasti akan kelemah lembutan merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa kita adalah cabang dari Pokok Yang Benar, dan kita menghasilkan banyak buah. Ini merupakan bukti bahwa melalui iman kita berpegang kepada Raja dalam keindahannya dan berobah menjadi semakin seperti dia. Ditempat ada kelemah lembutan, kecenderungan alami berada pada kendali Roh Kudus. Kelemah lembutan bukanlah bentuk khusus dari pengecut. Ini adalah roh yang dimanifestasikan Kristus pada saat menderita cedera, pada saat menghadapi penghinaan dan penyiksaan. Menjadi lemah lembut bukanlah menyerahkan hak kita; tetapi menjaga pengendalian diri terhadap provokasi untuk marah ataupun roh balas dendam. Kelemah lembutan tidak akan membiarkan nafsu menguasai.

Kelemah lembutan bukanlah bentuk khusus dari pengecut

“Pada waktu Kristus dituduh oleh para imam dan orang Farisi, dia melakukan pengendalian diri, tetapi dia mengambil sikap bahwa tuduhan mereka itu tidak benar. Dia mengatakan kepada mereka: “Siapa diantar kamu yang menuduhku berdosa? Bila saya mengatakan yang salah, bersaksi yang tidak benar, tetapi jika tidak, kenapa engkau mencercaku? Dia tahu posisinya benar. Pada waktu Paulus dan Silas disiksa dan dilemparkan ke penjara tanpa pengadilan atau hukuman, mereka tidak menyerahkan hak mereka untuk diperlakukan sebagai warganegara yang baik. Pada waktu terjadi gempa bumi yang besar, dan dasar penjara bergoyang, dan pintu terbuka, dan ikatan mereka terlepas, dan sipir kepala mengirimkan kabar bahwa mreka boleh pergi dengan damai, Paulus menyampaik protes, dan berkata: ‘Mereka telah menyiksa kami tanpa alasan, dan sebagai orang Roma, dan telah melemparkan kami ke penjara; dan sekarang mereka melepaskan kami begitu saja? Terimakasih; tetapi biarkan mereka sendiri yang datang menjemput kami . . . . Dan mereka datang dan mencari mereka, dan membawa mereka keluar, dan menginginkan mereka keluar darikota.’ Melalui tindakan Paulus dan Silas nama Allah ditinggikan dan otoritas direndahkan. Adalah perlu bahwa kehormatan Alah mesti dijaga pada saat sekarang.”*

REAKSI

Berkemungkinan besar anda saat ini menghadapi suatu situasi yang membutuhkan tipe kelemah lembutan yang ditampilkan Kristus pada waktu di bumi ini. Bagaimana anda bertindak dalam cara yang lemah lembut, sehingga kehormatan Allah ditinggikan dan anda tidak menyerahkan hak anda, sementara dalam semuanya itu mempertahankan kendali diri dengan bantuan Roh Kudus.

____________

*Ellen G. White, Signs of the Times, August 22, 1895.

Lauren Halstrom, Saginaw, Michigan, U.S.A.


Selasa

23 Februari

Matt 5:5

Bukti

Kelemah Lembutan atau Kelemahan

Lemah lembut tidak sama dengan kelemahan. Jika demikian, adalah tidak mungkin bagi orang yang lemah untuk mewarisi bumi. Sekilas, orang dalam Alkitab yang lemah lembut tampaknya menyerah dan takut kepada otoritas. Pandangan tentu saja menipu. Kelemah lembutan berakar pada kesetiaan hanya kepada Allah dan patuh kepadaNYA sebagai Hakim dan Raja.1 Orang Kristen mengalami pencobaan dan kesukaran karena kepatuhan mereka. Orang yang lemah lembut akan merasa kuatir, tetapi mereka mengkomunikasikannya dengan Allah dan menemukan kenyamanan dan kekuatan dari FirmanNYA. Membaca Alkitab dan berdoa akan menuntun mereka. Orang-orang seperti itulah yang mampu untuk mewarisi bumi.

Kekuatan Allah sempurna, dan Dia akan memberi kita kekuatan jika kita mengizinkan Dia melakukannya

Satu definisi lemah lembut adalah “mengalah”. Menyiratkan ide kekuatan yang terkendali. “Apabila seekor kuda didomestikasi, dia terlatih sehingga orang dapat menunggangnya atau dapat menarik bajak. Terminologi yang tepat untuk proses ini adalah hewan ini telah ”dijinakan”. Mengikuti arahan ataupun kuk. Hewan tersebut sekarang menunjukan kekuatan yang terkendali.”2 Abraham lemah lembut. Apabila saja dia bergantung kepada kekuatannya sendiri, pastilah dia tidak akan mau menurut dalam mengorbankan putranya, tidak juga dia akan meninggalkan negerinya ke tempat yang tidak dikenalnya. Ayub mungkin akan mempertanyakan atau meragukannya pada waktu mendapat kesulitan, tetapi dengan kelemah lembutan, dia mampu mengatakan, “terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21). Jika saja Ayub bergantung pada kekuatannya sendiri, dia akan mengutuk Allah dan langsung mati (Ayub 2:9). Kelemah lembutan menuntun Yohanes pembabptis untuk mengatakan, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Bukankah itu arti dari kelemah lembutan? Kekuatan Allah sempurna, dan Dia akan memberi kita kekuatan jika kita mengizinkan Dia melakukannya.

Petrus memberi arahan kepada orang Kristen dengan peringatan seperti ini: “Kamulah umat pilihan Allah, immamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNYA yang ajaib. (1 Pet. 2:9). Orang-orang seperti Abraham dan Petrus tahu mereka adalah imamat yang rajani. Mereka dapat bersukaria dalam keistimewaan status mereka. Sebelumnya mereka berada dalam kegelapan, tetapi sekali mereka menyerahkan dalam kelemah lembutan kepada kehendak Allah mereka menjadi terang Allah. Mereka mempunyai kerinduan untuk kerajaan yang telah dijanjikan kepada mereka.

Jadi, sobatku, jadilah lemah lembut.

____________

1. God’s Word to Women, “What Is Meekness?” http://www.godswordtowomen.org/Lesson 52.htm (accessed December 4, 2008)

2. “What Is Meekness?” http://healtheland.wordpress.com/2007/11/15/what-is-meekness (accessed December 4, 2008)

Samuel Pegus, Adelphi, Maryland, U.S.A.


Rabu

24 Februari

Bagaimana

Suatu huruf Vokal Yang Membuat Segalanya Berbeda

Fil. 2:3−5;

1 Pet. 3:4

Ada suatu pepatah Spanyol yang mengatakan “Manso pero no menso (Lemah Lembut tetapi tidak tolol). Dalam bahasa Spanyol, satu huruf vokal membuat segalanya berbeda antara dua kata manso dan menso. Tetapi secara praktis, terdapat kevakuman diantaranya. Bagi kebanyakan orang Kristen, pemberian Kristus untuk menjadi “lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29) adalah salah pemberian yang paling sulit untuk diterima dan dihidupkan. Kemungkinan, alasannya bukan ketidak inginan tetapi pengertian apa yang diminta atau termasuk dalam kelemah lembutan.

Kamus The Merriam-Webster Dictionary mendefinisikan kelemah lembutan sebagai “kurang dalam semangat dan keberanian: menyerah” dan “tidak kuat”. Definisi ini berkonotasi negatif. Ini membuat tampaknya orang yang lemah lembut adalah keset pintu yang diam untuk diinjak oleh orang yang kuat dan kompeten. Dan jika kita semuanya jujur, tidak ada satupun dari kita mau secara sukarela menjadi keset dipintu.

Roh Allah yang hidup dalam kita memberikan keseimbangan dan membuat semuanya berbeda

Walaupun begitu, dalam 1 Petrus 3, Yesus mengatakan bahwa kelemah lembutan merupakan nilai yang besar dimata Allah. Karenanya, sudah selayaknya kita mengambilnya. Melalui teladan Yesus, kita dapat belajar bahwa kelemah lembutan dinyatakan bukan hanya pada hal-hal yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita melakukannya. Sikap kita menentukan apakah kita lemah lembut ataukah kita si tolol. Menjadi lemah lembut menunjukan kita mempunyai kemampuan untuk bereaksi secara kasar tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan mengikuti teladan kelemah lembutan Yesus. Berikut adalah cara bagaimana kita dapat melakukannya:

Berserah secara total kepada Allah (Yoh. 5:30). Walaupun Yesus merupakan Bagian yang setara dari KeAllahan, Dia berserah sepenuhnya kepada Bapa dan Roh Kudus. Bila kita menghadapi situasi yang sulit, hubungan kita dengan Allah memainkan peranan kunci dalam bagaimana kita bereaksi.

Mengutamakan orang lain (Fil. 2:5-7). Yesus menawarkan semua yang dimilikiNYA demi kita. Bila kita melihat orang lain melewati situasi yang menantang dan mempunyai sumber daya untuk menolong mereka, maka kita mesti melakukannya, walaupun itu membuat kita berada dalam posisi yang tidak nyaman.

Berjalan dengan rendah hati bersama Allah (Mika 6:8). Bila kita mengikuti persyaratan dalam Mika 6:8, kita mengizinkan diri kita sendiri untuk menjadi agen perobahan kepada kehidupan orang lain.

Allah menginginkan kita menjadi sabar dan rendah hati tetapi selalu siap untuk melakukan pertempuran iman yang baik. Berdasarkan standar dunia, kita mungkin terlihat tolol. Tetapi Roh Allah yang hidup dalam kita memberikan keseimbangan dan membuat semuanya berbeda.

Gladys S. Kelley, Laurel, Maryland, U.S.A.


Kamis

25 Februari

Matt. 11:29, 30

Pendapat

Kedamaian yang Benar Ditemukan dalam Kerendahan Hati

Seringkali kita merasa ragu untuk menerima nasihat orang lain. Dan jika kita melakukannya, kita terlebih dahulu ingin mengetahui tentang pengalaman, latar belakang, kepercayaan, dan seterusnya. Karena, setelah semuanya, apakah mereka tahu apa yang mereka katakan? Apakah mereka telah melewati apa yang telah anda lewati? Apakah mereka benar-benar telah mengerti tentang anda?

Adalah sulit bagi kita untuk hanya percaya dan mengikuti, mencampakan semua pengalaman hidup kita dan berpikir bahwa seseorang dapat menuntun kita melalui suatu krisis atau kesulitan. Sebagai tambahan terhadap itu, bayangkan jika orang itu memberikan nasehat dan juga mengatakan, “Lakukan apa yang kukatakan, dan bawalah bebanku.” Berat sekali permintaan itu bukan? Mensyaratkan kita untuk merendahkan hati kita sendiri dan benar-benar percaya bahwa orang yang memberikan nasihat benar-benar dapat dipercaya, setia, dan yang paling penting, benar-benar memperhatikan kepentingan anda.

Kita tidak akan mendapatkan kedamaian yang benar dengan mendapatkan harta, uang, atau kekuasaan.

Yesus Kristus—Juruselamat kita, Guru, dan Sahabat, dan Tuhan—mengatakan dalam Matius 11:29, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-KU, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”. Dalam ayat 30 Yesus lebih lanjut mengatakan bahwa bebanya ringan. Saya membayangkan bahwa Yesus menambahkan ini karena Dia mengetahui hatimu. Dia tahu bahwa reaksi pertama kita akan, “memikul kukmu? Sorry aja ya! Bebanku sudah cukup berat.”

Yesus mengetahui “beban” kita dan itu tidak sebanding dengan “beban”NYA sebagai Pencipta dan Penjaga. Dia juga tahu bahwa bila kita menerima kukNYa, beban kita akan semakin ringan. Dari Dia kita mempelajari bahwa untuk mendapatkan peristirahatan bagi jiwa kita adalah dengan menjadi lemah lembut dan rendah hati, daripada membenarkan diri sendiri dan mengkritik orang lain.

Kita tidak akan mendapatkan kedamaian yang benar dengan mendapatkan harta, uang, atau kekuasaan. Ada banyak bukti di kehidupan para selebritis Hollywood. Dunia dapat mengambil harta materi dari kita secepat dunia memberikannya kepada kita. Sifat alami kita yang selalu ingin adalah bunuh diri dan hanya menuntun kita kepada kesakitan dan masalah yang lebih banyak. Tetapi Yesus menuntun dengan teladan dan menunjukan kepada kita bahwa hanya dengan merendahkan diri kita sendiri baru kita dapat mewarisi kerajaan Allah.

Yesus adalah Teladan hidup kita. Kedamaian yang diberikanNYA adalah hadiah. Kita tidak bisa mendapatkannya dengan perbuatan baik atau harta berlimpah di bank. Apa yang dapat kita lakukanlah merendahkan hati kita sendiri, puji Tuhan, dan menumbuhkan buat kelemah lembutan yang telah dimodelkan oleh Tuhan kita dan Juruselamat, Raja, dan Sahabat. Hanya dengan itu, kita menemukan damai dan hidup yang kekal.

Andrew Gregory Stoner, Frederick, Maryland, U.S.A.


Jum’at

26 Februari 2010

Eksplorasi

Kelemah Lembutan—Suatu Kata yang Keras

Phil. 2:5-8

SIMPULAN

Menjadi lemah lembut menjadi banyak hal. Menjadi ramah dan baik. Menjadi lemah lembut berarti tidak memenangkan suatu argumen. Menjadi lemah lembut menjadi kurang defensif. Menjadi memikirkan orang lain terlebih dulu dan melayani orang yang berada disekelilingmu. Menjadi lemah lembut adalah menyerahkan untuk menjadi yang benar. Menjadi lemah lembut adalah mengetahui dan melakukan kebenaran bahwa semua orang adalah berharga. Menjadi lemah lembut adalah menjadi seperti Kristus. Tidak aneh lemah lembut merupakan suatu kata yang keras.

PERTIMBANGKANCONSIDER

  • Berdoa “berbahagialah orang yang lemah lembut” untuk sepanjang minggu dan memantulkan bagaimana menjadi lemah lembut merobahkan hidupmu menjadi lebih baik.
  • Hadirilah suatu gereja dari budaya yang berbeda darimu selama sebulan dan membuat persahabatan dengan orang disana paling tidak tiga orang.
  • Tidak menekan klaksonmu selama seminggu. Tuliskan laporan apa yang perobahan yang anda lihat dalam dirimu sendiri dalam hubungannya dengan pengemudi lain dan sifat menyetirmu.
  • Luangkan waktu setiap minggu selama dua bulan dengan sekelompok orang atau dengan individu yang mempunyai kebutuhan khusus. Lakukan ini melalui organisasi pelayanan yang membutuhkan pelayanan. Apa yang engkau pelajari tentang kelemah lembutan dan bagaimana ini dapat merobah hidupmu sebagai akibat pelayanan itu? Idealnya pengalaman ini akan menjadi bagian dari hidupmu.
  • Mengalah dalam pendapat dan kebutuhan untuk menjadi benar dalam diskusi keluarga.
  • Praktekan disiplin untuk berdiam selama sepuluh menit setiap hari selama seminggu. Apa yang anda dengar dari Allah selama waktu itu?
  • Carilah cara untuk mempertahankan hak orang yang membutuhkan dan miskin dalam masyarakatmu.

HUBUNGKAN

Thoughts From the Mount of Blessing, pp. 13–18; Welfare Ministry, pp. 81–86.

Sergio Torres, Miami, Florida, U.S.A.

Tuesday, 16 February 2010

SSCQ Pelajaran 8 Kwartal I tahun 2010

SSCQ4Q09DESEMBER 2009—Maret 2010

Pelajaran Delapan Kwartal 1, 13--20 Februari 2010

Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra

Buah Roh Adalah

KESETIAAN

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah (Galatia 6:9)

Sabbath

13 FEBRUARI

Keluaran. 14:14

Pendahuluan

Iman dan Kesetiaan Diuji

Tempatnya adalah tempat perkemahan di padang gurun dekat Pi Hahiroth, antara Migdol dan Laut Merah. Orang Israel melarikan diri dari perbudakan di Mesir, dan tuan mereka tersinggung. Firaun keras kepala, dan dia telah memerintahkan tentaranya untuk mengejar budak yang melarikan diri.

Orang Israel, menyadari bahaya di belakang mereka, mulai menuduh Musa untuk ancaman yang menimpa mereka—Laut Merah didepan mereka, laskar Firaun di belakang mereka. Musa telah menelan kata-kata kasar dari umatnya sendiri; tetapi dia berpaling kepada Allah, yang telah menjadi tempat bergantungnya sejak kejadian terbakarnya semak (Kel. 3; 4). Dalam hatinya, Musa tahu bahwa Yehova dapat mengendalikan situasi ini.

Dalam hatinya, Musa tahu bahwa Yehova dapat mengendalikan situasi ini

Iman orang Israel telah terbang ke angkasa. Mereka tidak mampu mengalahkan musuh mereka yang kuat. Musa, bagaimanapun, melalui kesulitan oleh ketidak sabaran mereka, meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tentang hal ini, kita baca “Musa amat terganggu karena mereka mempunyai iman yang amat kecil kepada Allah, walaupun apa yang telah mereka saksikan akan kuasaNYA. Bagaimana mungkin mereka telah menuduhnya untuk bahaya dan kesulitan yang menimpa mereka, pada saat dia telah mengikuti perintah Allah?”1

Kesetiaan adalah suatu karakteristik yang membuat orang melakukan apa yang telah dijanjikan dan menjadi tugasnya. Sebagai orang Kristen, kita telah memasuki persekutuan dengan Kristus, dan kita telah berjanji untuk bertindak sesuai dengan firmanNYA. Walaupun kita hidup dalam dunia yang materialistik, berpusat pada diri sendiri, kemampuan kita untuk tetap setia dengan teguh, sikah yang tidak goyah bergantung seberapa besar kita mempercayai Kristus.

Minggu ini kita akan belajar tentang kesetiaan sebagai buah Roh Kudus. Kita akan belajar tentang apa itu iman dan yang bukan iman. Sementara anda mempelajari pelajaran ini, ingatlah bahwa “kita mesti dengan iman memegang tangan Kristus, dan mempercayainya secara dalam kegelapan malam . . . . .”

Kehidupan orang Kristen mestilah menjadi kehidupan iman yang hidup dan terus menerus. Keparcayaan yang tidak berkompromi, kebergantungan teguh kepada Kristus, akan membawa kedamaian dan keyakian bagi jiwa kita.”2

____________

1. Patriarchs and Prophets, p. 284.

2. The Sanctified Life, p. 90.

Alice Adhiambo, Homa Bay, Kenya

Minggu

14 FEBRUARI

Bukti

Iman + Perbuatan

= Kesetiaan

Yakobus 2:18

Alkitab membandingkan iman tanpa perbuatan sebagai tubuh tanpa roh (nafas). Tubuh yang tanpa nafas, tentu saja, mati (Yakobus 2:26). Perbuatan-perbuatan ini, atau apa yang dilakukan adalah akibat dari sistem kepercayaan seseorang. Perbuatan ini adalah bukti imannya. Misalkan, bila kita berdoa tanpa kesetiaan, permohonan kita tidak akan memberikan hasil yang positif. Tetapi, bila kita mempunyai iman bahwa Allah akan menjawab doa kita, Dia akan mendengar kita dan memberikan kita jawaban yang terbaik bagi kita.

“Sewaktu doa yang sungguh-sungguh dan rendah hati orang berdosa naik ke takhta Allah, Kristus bergabung dengan mereka dengan hak hidupNya sendiri yang patuh sempurna. Doa-doa kita menjadi keharuman dengan dupa ini.”1

perbuatan kita menunjukan apakah iman kita asli atau palsu

Alkitab mencatat banyak contoh orang yang menyatakan kesetiaannya terhadap segala tantangan dan berhasil menang. Salah satu orang itu adalah Henok, yang “berjalan dengan Allah” (Kej. 5:24). Perbuatan kecil kesetiaannya membuat dia layak. “Henok berjalan dengan Allah bukan pada saat sedang kesurupan atau khayal, tetapi dalam tugas sehari-harinya. . . . . . Dalam keluarga dan dalam hubungannya dengan manusia, sebagai suami dan ayah, sahabat, warganegara, berdiri teguh, hamba Tuhan yang tidak goyah.”2

Bahkan setanpun percaya (Yakobus 2:19). Jadi perbuatan kita menunjukan apakah iman kita asli atau palsu. Sebelum berhasil mengalahkan Baal di gunung Karmel (1 Raja 18), dia mesti belajar bergantung secara menyeluruh kepada Allah. Dia perlu mendemonstrasikannya melalui tindakan apa yang menjadi sistem imannya. Dan seperti Elia, semua pahlawan iman lainnya dalam Alkitab mesti menunjukan kesetiaan dalam hidup untuk dapat berhasil dalam masa pencobaan mereka.

“Berjalan dengan iman yang ditandaiNYA. Pencobaan akan datang, tetapi maju terus. Hal ini akan menguatkan imanmu dan cocok untuk pelayananmu. Catatan sejarah suci ditulis, bukan hanya agar dapat kita baca dan terkagum, tetapi agar iman yang sama yang membawa hamba Allah pada masa lalu bekerja di dalam kita. Dalam cara yang hampir sama Tuhan juga bekerja saat ini, dimana saja terdapat iman dihati mereka untuk menyalurkan kuasaNYA.”3

REAKSI

1. Bagaimana iman yang bekerja dapat membantu kita bersaksi bagi Kristus?

2. Dalam cara apa anda dapat memperbaiki kesetiaanmu sebagai individu?

____________

1. Sons and Daughters of God, p. 22.

2. Patriarchs and Prophets, p. 85.

3. Prophets and Kings, p. 175.

Beatrice Akinyi, Ndhiwa, Kenya

Senin

15 FEBRUARI

Logos

Minyak Kesetiaan

Matt. 25:1–13;

Luke 16:10;

1 Tess. 5:23, 24;

2 Tim. 3:1–5;

Ibrani 11

Dalam Matius 25:1—13, Kristus menggunakan ilustrasi 10 anak dara untuk menunjukan kesetiaan umat Allah pada waktu kedatangan Kristus. Mereka yang siap untuk kedatangan yang kedua kali adalah yang dengan setia bersiap untuk itu.

Loyalitas—Kesetiaan yang tak goyah (Mat. 25:1-13)

Bila kita memasuki persekutuan dengan Kristus, kita mesti melakukannya dengan perasaan loyalitas dan kebergantungan. Kedua karakteristik ini bukan hanya akan membantu kita bertumbuh didalamNYA, mereka juga membantu kita untuk mempunyai hubungan baik dengan keluarga, teman-teman, dan rekan kerja. Jika kita tidak loyal kepada Bapa sorgawi dan Juruselamat, kita tidak akan mampu berbakti seperti yang semestinya. Gantinya, kita akan sama seperti orang Farisi dan ahli taurat yang gagal untuk mendemonstrasikan kesetiaan yang tak goyah kepada Allah yang mereka nyatakan disembah (Mat. 15:1—20)

Kekonstanan—Bebas Dari Ketidak Pastian (Lukas 16:10; 1 Tess. 5:23, 24)

Dengan bertumbuhnya gereja yang mula-mula, orang-orang percaya kadangkala menjual harta milik mereka untuk berbagi dengan anggota yang miskin atau tak berpunya (Kisah 4:32-37). Tindakan seperti itu menunjukan kesetiaan yagn besar bagi Allah dan menunjukan karakter orang percaya yang benar. Di sisi lain, karakter Ananias dan istrinya Safira (Kisah 5:1—11) menunjukan dengan jelas apa yang dirindukan Setan ditanamkan dihati manusia sejak awal masa. Sering, kita dihadapkan dengan pilihan apakah berbicara atau melakukan kebenaran atau berpaling dari kebutuhan orang disekeliling kita.

Keselamatan hanyalah konsep sampai kita mempraktekannya dengan perbuatan yang tahan uji

Kristus rindu kita menunjukan kesetiaan yang konstan, bebas dari ketidak pastian, sama seperti Dia menunjukan kesetiaan yang benar kepada kita pada waktu senang dan susah. Jika kita tidak setia, kita tidak dapat menghitung kita layak mendapatkan berkat yang disiapkan untuk orang suci. Kesetiaan membantu kita untuk memurnikan hati, menggantikan yang jahat dengan kasih Kristus, yang juga merupakan bagian dari keranjang buah Roh Kudus.

“Sebegai Pemberi dari setiap berkat, Allah menuntut sebagian dari apa yang kita miliki . . . . Tetapi jika menahan dariNYA yang menjadi milikNYA, bagaimana kita menuntut berkat-berkatNYA? Jika kita menjadi pengelola yang tidak setia dari hal-hal duniawi, bagaimana kita dapat berharap Dia mempercayai kita dengan hal-hal sorgawi? Mungkin inilah rahasia doa yang tidak dijawab.”*

KeResolusianKeputusan yang tak goyah (Hebrews 11)

Di Perjanjian Lama, iman dianggap sebagai respon terhadap pernyataan Allah Sendiri dalam sejarah manusia dan kejadian-kejadian yang terjadi (Kej. 15:6; 2Tawarikh 20:20; Hab. 2:4). Karena alasan inilah para bapa dan nabi tetap menghidupkan pengharapan akan Allah. Mereka bertekad, tanpa ragu sedikitpu, bergantung pada kehendakNYA.

Di Perjanjian Lama, iman masih didasarkan pada Allah Bapa, melalui Kristus PutraNYA (Mat. 9:22, 29; Yoh. 8:30; Kisah 3:16). Bahkan untuk para murid, kesetiaan mereka disebabkan oleh tekad yang tak goyan untuk mencari apa yang mereka “harapkan, bukti yang tidak mereka lihat” (Ibrani 11:1).

Kepada semua yang mencari Tuhan untuk keselamatan, iman menerima hadiah kasih karunia Allah (Efesus 2:8). Dan melalui iman kita dapat mengerti lebih baik akan karakterNYA dan menjadi seperti Dia. Seperti waktu para nabi dan rasul yang maju dalam iman, waktu kita juga ditandai dengan dekadensi moral dan rohani, dan kita, juga, dipanggil untuk menunjukan tipe iman yang membantu kita untuk mengatasi pergumulan melawan dosa.

KesetiaanSuatu Kondisi untuk Keselamatan (Yohn 5:24)

Pria dan wanita dari segala jalan hidup mengatakan mereka selamat. Tetapi, sebelum kita bangkit mengatakan itu, kita mesti melakukan penelaahan berdasarkan Alkitab akan diri sendiri. Apakah kita akan lepas dari ujian itu? Dengarkan kata-kata Kristus, kita menerima kepastian bahwa siapapun yang mengimani firmanNYA, demikian pula Allah Bapa, telah “melintas dari kematian kepada hidup”. (Yohanes 5:24)

Semakin mendekatnya kedatangan Kristus, iman kita mesti ditunjukan dalam pekerjaan yang baik. Keselamatan hanyalah konsep sampai kita mempraktekannya dengan perbuatan yang tahan uji, berdedikasi, dan layak untuk diuji. Inilah apa yang diproklamirkan Paulus kepada orang Roma, mengatakan, “segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa” (Roma 14:23). Ibrani 11:6 mengatakan “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6). Tidak terdapat iman yang asli tanpa tindakan kesetiaan; dan ditempat tidak terdapat kesetiaan, tidak terdapat loyalitas , ketidak pastian, kekurangan determinasi, dan kutukan.

REAKSI

1. Bagaimana mencegah menjadi tidak setia?

2. Apa persyaratan untuk menjadi setia?

3. Bagaimana kita menyaksikan kesetiaan iman kepada orang diluar kepercayaan kita?

____________

*Christ’s Object Lessons, p. 144.

Saline Khavetsa, Nairobi, Kenya

Selasa

16 FEBRUARI

James 5:17

Kesaksian

Kepercayaan Yang Tak Goyah

“Karena Elia adalah orang yang mempunyai iman yang amat besarlah Allah dapat menggunakan dia dalam krisis maut dalam sejarah orang Israel . . . . . .

“Iman seperti inilah yang ditubuhkan di dunia saat ini—iman yang berpegang teguh pada janji-janji firman Allah dan menolak untuk berpaling sampai Sorga mendengar. Iman seperti ini menghubungkan kita sedemikian dekatnya dengan Sorga, dan meberikan kita kekuatan untuk menghadapi kuasa kegelapan . . . . . Dan melalui iman saat ini kita mesti menjangkau ketinggian dari tujuan Allah bagi kita. “Jikan engkau tidak percaya, semua hal mungkin bagi dia yang percaya” (Markus 9:23)

Iman merupakan elemen utama dalam doa yang sungguh-sungguh

“Iman merupakan elemen utama dalam doa yang sungguh-sungguh . . . . Dengan iman Yakub yang teguh, ketegaran Elia yang tak goyah, kita bisa menyampaikan permohonan kita kepada Bapa, mengklaim semua yang telah dijanjikanNYA. Kehormatan takhtaNYA dipertaruhkan dalam pemenuhan firmanNYA.”1

Kata-kata diatas dituliskan oleh Ellen White untuk mengajarkan kita bagaimana pentingnya kesetiaan. Kata-kata tersebut menunjukan bahwa kita tidak boleh hanya belajar tentang iman, kita juga mesti setia. Agara supaya iman kita dapat bekerja dan memberikan hasil, menunjukan kesetiaan dalam perbuatan mesti menjadi dasar utama kehidupan kita. Perbuatan seperti itu mendemonstrasikan iman kita. Mereka adalah mortar yang mempersatukan kepercayaan dan tingkah laku kita secara bersama-sama. Jika kita setia kepada Kristus dengan menjadi setia dalam hal-hal kecil, Dia akan menjadikan iman kita berdiri teguh seperti orang Yahudi yang mulia.

“Orang-orang mulia itu mempunyai suatu derajat iman; karena dia telah datang untuk menanyakan apa yang tampak baginya sebagai hal yang paling berharga dari semua berkat. Yesus mempunyai hadiah terbesar untuk diberikan. Dia rindu, bukan hanya menyembuhkan anak-anak, tetapi membuat perwira itu dan seluruh keluarganya menjadi pembagi berkat keselamatan . . . . . .

“Bukan karena kita melihat atau merasakan bahwa Allah mendengar kita makanya kita beriman. Kita mesti mempercayai janji-janjiNYA. Bila kita datang kepadaNYA dalam iman, setiap permohonan masuk ke hati Allah. Bila kita telah meminta berkat-berkatNYA, kita mesti mempercayainya bahwa kita menerimanya . . . . . Kemudian kita mesti melaksanakan tugas-tugas harian kita (dalam kesetiaan iman), diyakinkan bahwa berkat-berkat itu akan menjadi nyata pada saat kita benar-benar memerlukannya.”2

REAKSI

Definisikan iman dan kesetiaan iman dalam kata-katamu sendiri.

____________

1. Prophets and Kings, pp. 156–158.

2. The Desire of Ages, pp. 198, 200.

Jackline Achieng, Nairobi, Kenya

Rabu

17 FEBRUARI

Bagaimana

Iman Seutuhnya

Rom. 10:4

Kesetiaan (Faithfullness) diperlukan untuk suatu hubungan yang tak goyah, dan berdasar dengan Allah dan dengan sesama. Agar dapat merasakan kesetiaan yang menghasilkan perbuatan baik, kita mesti percaya Allah baik dalam keadaan baik maupun buruk. Sama seperti Sahabat yagn benar, Dia rindu berada disamping kita pada waktu suka dan duka. Bagaimana kita mendapatkan kesetiaan seperti itu?

Hati yang biasa mengucapkan “terimakasih” baik dalam perkataan maupun perbuatan adalah hati yang diberkati

F-Follow—Ikuti Firman Tuhan. Alkitab adalah Pedoman terbaik yang kita milik. Kita tidak bisa merasakan kesetiaan dalam hidup kita jika kita tidak mengikuti Firman Allah.

A-Akui dan kenali Roh Kudus. Sebagai Pribadi Ketiga dari KeAllah, Roh Kudus adalah kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Jika kita tidak menyambutNYA dalam hidup kita, kita tidak akan menerima bantuan dalam hidup keseharian kita. Salah satu fungsi Roh Kudus adalah membantu kita meletakan iman dalam bentuk praktis.

I-Insist—Teguh dalam kebenaran. Kristus sendiri adalah Kebenaran (Yoh. 14:6). Agar dapat mengembangkan kesetiaan, kita perlu menerima Dia sebagai Penebus pribadi dan mengizinkanNYA mengobahkan kita dengan kebernaranNYA. Bila ini terjadi, iman kita akan berkembang dengan tindakan kesetiaan.

T—Terimakasih untuk segala sesuatu dalam hidupmu. Hati yang biasa mengucapkan “terimakasih” baik dalam perkataan maupun perbuatan adalah hati yang diberkati. Kita tidak bisa setia dan tidak mengucapkan syukur pada saat yang sama. Bapa kita di sorga rindu kita menghargai semau yang dilakukanNYA bagi kita.

H-Hidupkan iman dalam Kristus. Iman dalam Juruselamat kita dan kesetiaan dalam hidup berhubungan erat. Tak ada yang satu tanpa satunya. Iman dalam Kristus akan menghasilkan hidup yang setia. Dan sementara kita belajar mempunyai hidup yang setia, iman kita dalam Kristus akan bertumbuh. Dengan mengikuti pedoman diatas, kita akan mampu untuk merasakan iman seutuhnya, yaitu kebijaksanaan untuk dihidupkan, khususnya pada masa-masa sulit dalam hidup kita.

REAKSI

1. Terangkan bagaimana anda bisa setia, dengan menambahkan apa yang telah didiskusikan dalam pelajaran hari ini.

2. Apa buah kesetiaan?

Rose Oguttu, Dagoretti, Nairobi, Kenya

Kamis

18 FEBRUARI

Ibrani. 11:23−29

Pendapat

Suatu Hidup Yang Penuh Iman

Pada waktu masih remaja di SMA, saya menandatangani surat dengan, Yours faithfully. Ini adalah cara sederhana saya mengakhiri suratku, tak ada lebih dari itu. Tetapi, dengan meningkatnya pengetahuanku, saya mulai belajar untuk lebih setia. Salah satu cerita Alkitab yang mengajarkanku tentang hal yang paling setia adalah Musa.

Terlahir sebagai orang Lewi, kehidupan Musa penuh dengan iman dan kesetiaan sejak awalnya. Dia lahir pada masa dekrit Firaun untuk membuhun semua bayi laki-laki budak Ibrani sedang ketat-ketatnya dilaksanakan. Selama masa itu, pastilah amat sulit bagi para ibu-ibu Ibrani; tetapi iman dalam Allah menguatkan hati mereka “dan mereka tidak takut akan perintah raja” (Ibrani 11:23). Jadinya Musa selama untuk melepaskan umatNYA dari perbudakan.

Kejadian yang mengelilingi hidup Musa, pada dasarnya tidak berbeda dari kita

Melalui kesetiaan orang tuanya, Musa dilahirkan—dan selamat! Melalui kesetiaan, dia diadopsi oleh putri Firaun. Dengan iman, dia menolak disebut anak putri Firaun pada waktu dewasa. Melalui kesetiaan dia memilih untuk menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesukaan setan yang pendek. Dengan setia, dia menganggap suatu kehinaan demi Kristus jauh lebih berharga daripada harta pusaka Mesir. Dengan iman, dia mencoba yang belum dicoba, maju terus sampai orang Israel akhirnya terbebas dari perbudakan.

Melalui iman dan kesetiaan, Musa mengatasi kemungkinan terburuk. Bagaimana dengan kita? Kejadian yang mengelilingi hidup Musa, pada dasarnya tidak berbeda dari kita. Kita bergumul dengan setan dalam berbagai bagian hidup kita: keluarga, pendidikan, keuangan, pekerjaan, dan seterusnya. Bahkan di gereja kita kadangkala bergumul dengan setan. Kita memerlukan iman dan kesetiaan Musa untuk membantu kita menyeberangi Laut Merah ke tanah perjanjian sorgawi.

REAKSI

1. Apakah iman seperti Musa mungkin pada zaman kita? Jika ya, bagaimana kita mengembankan iman seperti itu?

2. Bagiamana pendapatmu tentang orang yang menyebut dirinya Kristen tetapi memelihari ketidak setiaan? Bagaimana anda mencegah ini untuk terjadi

3. Terangkan bagaimana anda bereaksi terhadap guru yang tidak setia, rekan kerja, atau pendeta.

Samson Oguttu, Dagoretti, Nairobi, Kenya

Jum’at

19 FEBRUARI 2010

Eksplorasi

Seberapa Besar

Kesetiaanku?

Yakobus 2:18

SIMPULAN

Kesetiaan adalah hadiah yang diberikan oleh Roh Kudus kepada pengikut Kristus. Tetapi, hadiah itu bukanlah sesuatu yang hanya dapat diambil begitu saja oleh orang Kristen. Mereka mesti memperlihatkan kesetiaan melalui tindakan. Seperti yang kita pelajari pada pelajaran 1 “melalui buahnya anda akan mengenal mereka” (Mat. 7:16), sehingga mereka yang menyatakan orang Kristen yang benar menunjukan kesetiaan mereka melalui kehidupannya. Kesetiaan merupakan hal yang sederhana bila segala sesuatunya berjalan dengan baik. Adalah mudah mempertahankan kepercayaan kepada Tuhan bila hidup berjalan sesuai kehendak kita. Pada waktu hidup mulai berantakanlah kesetiaan benar-benar diuji.

PERTIMBANGKAN

  • Tuliskan suatu jurnal yang berisikan pengalaman hidup pada saat anda meragukan Tuhan dan bagaimana Dia datang kepadamu. Fokus pada emosi dan reaksimu pada semau fase pengalaman itu.
  • Tuliskan suatu jurnal tentang pengalaman hidup pada waktu anda meragukan Tuhan dan bagaimana Dia datang melalui anda. Fokus pada emosi dan reaksimu selama fase itu.
  • Buatlah suatu pelajaran untuk sekolah sabat anak-anak yang menerangkan konsep kesetiaan. Rancang suatu aktivitas langsung yang mengajarkan tentang percaya atau mempunyai iman kepada seseorang.
  • Karanglah suatu lagu pendek yang menerangkan tentang kesetiaan . ajarkan lagu itu kepada kelas sekolah sabatmu.
  • Diskusikan dengan teman dekatmu pada saat imanmu lemah. Bagikan bagaimana menjaga imanmu kuat pada saat anda tergoda meragukan rencana Tuhan.
  • Ciptakan suatu gambar yang menggambarkan suatu waktu anda menunjukan kesetiaanmu kepada Tuhan pada waktu sulit.
  • Hitunglah hasil logika pengalaman hidup, kemudian pantulkan pda cara Tuhan melakukan hal yang berbeda dari logika. Luangkan waktu untuk memikirkan reaksimu kepada kejadian ini dan bagaimana reaksinya pada imanmu.
  • Bacalah buku Ayub. Buatlah daftar waktu-waktu dimana iman Ayub mestinya lemah tetapi tidak. Buatlah dafta lain waktu anda dicobai. Bandingkan pengalamanmu dan reaksimu dengan Ayub.

HUBUNGKAN

Steps to Christ, chapter 6, “Faith and Acceptance.”

Max Lucado, Facing Your Giants (Nashville, Tenn.: WORD Publishing Group, 2006).

Allison Zollman, Fort Oglethorpe, Georgia, U.S.A.