![]()
DESEMBER 2009—Maret 2010
Pelajaran Delapan Kwartal 1, 13--20 Februari 2010
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Buah Roh Adalah
KESETIAAN
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah (Galatia 6:9)
Sabbath
13 FEBRUARI
| Keluaran. 14:14 | Pendahuluan Iman dan Kesetiaan Diuji |
Tempatnya adalah tempat perkemahan di padang gurun dekat Pi Hahiroth, antara Migdol dan Laut Merah. Orang Israel melarikan diri dari perbudakan di Mesir, dan tuan mereka tersinggung. Firaun keras kepala, dan dia telah memerintahkan tentaranya untuk mengejar budak yang melarikan diri.
Orang Israel, menyadari bahaya di belakang mereka, mulai menuduh Musa untuk ancaman yang menimpa mereka—Laut Merah didepan mereka, laskar Firaun di belakang mereka. Musa telah menelan kata-kata kasar dari umatnya sendiri; tetapi dia berpaling kepada Allah, yang telah menjadi tempat bergantungnya sejak kejadian terbakarnya semak (Kel. 3; 4). Dalam hatinya, Musa tahu bahwa Yehova dapat mengendalikan situasi ini.
Dalam hatinya, Musa tahu bahwa Yehova dapat mengendalikan situasi ini
Iman orang Israel telah terbang ke angkasa. Mereka tidak mampu mengalahkan musuh mereka yang kuat. Musa, bagaimanapun, melalui kesulitan oleh ketidak sabaran mereka, meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tentang hal ini, kita baca “Musa amat terganggu karena mereka mempunyai iman yang amat kecil kepada Allah, walaupun apa yang telah mereka saksikan akan kuasaNYA. Bagaimana mungkin mereka telah menuduhnya untuk bahaya dan kesulitan yang menimpa mereka, pada saat dia telah mengikuti perintah Allah?”1
Kesetiaan adalah suatu karakteristik yang membuat orang melakukan apa yang telah dijanjikan dan menjadi tugasnya. Sebagai orang Kristen, kita telah memasuki persekutuan dengan Kristus, dan kita telah berjanji untuk bertindak sesuai dengan firmanNYA. Walaupun kita hidup dalam dunia yang materialistik, berpusat pada diri sendiri, kemampuan kita untuk tetap setia dengan teguh, sikah yang tidak goyah bergantung seberapa besar kita mempercayai Kristus.
Minggu ini kita akan belajar tentang kesetiaan sebagai buah Roh Kudus. Kita akan belajar tentang apa itu iman dan yang bukan iman. Sementara anda mempelajari pelajaran ini, ingatlah bahwa “kita mesti dengan iman memegang tangan Kristus, dan mempercayainya secara dalam kegelapan malam . . . . .”
Kehidupan orang Kristen mestilah menjadi kehidupan iman yang hidup dan terus menerus. Keparcayaan yang tidak berkompromi, kebergantungan teguh kepada Kristus, akan membawa kedamaian dan keyakian bagi jiwa kita.”2
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 284.
2. The Sanctified Life, p. 90.
Alice Adhiambo, Homa Bay, Kenya
Minggu
14 FEBRUARI
| Bukti Iman + Perbuatan = Kesetiaan | Yakobus 2:18 |
Alkitab membandingkan iman tanpa perbuatan sebagai tubuh tanpa roh (nafas). Tubuh yang tanpa nafas, tentu saja, mati (Yakobus 2:26). Perbuatan-perbuatan ini, atau apa yang dilakukan adalah akibat dari sistem kepercayaan seseorang. Perbuatan ini adalah bukti imannya. Misalkan, bila kita berdoa tanpa kesetiaan, permohonan kita tidak akan memberikan hasil yang positif. Tetapi, bila kita mempunyai iman bahwa Allah akan menjawab doa kita, Dia akan mendengar kita dan memberikan kita jawaban yang terbaik bagi kita.
“Sewaktu doa yang sungguh-sungguh dan rendah hati orang berdosa naik ke takhta Allah, Kristus bergabung dengan mereka dengan hak hidupNya sendiri yang patuh sempurna. Doa-doa kita menjadi keharuman dengan dupa ini.”1
perbuatan kita menunjukan apakah iman kita asli atau palsu
Alkitab mencatat banyak contoh orang yang menyatakan kesetiaannya terhadap segala tantangan dan berhasil menang. Salah satu orang itu adalah Henok, yang “berjalan dengan Allah” (Kej. 5:24). Perbuatan kecil kesetiaannya membuat dia layak. “Henok berjalan dengan Allah bukan pada saat sedang kesurupan atau khayal, tetapi dalam tugas sehari-harinya. . . . . . Dalam keluarga dan dalam hubungannya dengan manusia, sebagai suami dan ayah, sahabat, warganegara, berdiri teguh, hamba Tuhan yang tidak goyah.”2
Bahkan setanpun percaya (Yakobus 2:19). Jadi perbuatan kita menunjukan apakah iman kita asli atau palsu. Sebelum berhasil mengalahkan Baal di gunung Karmel (1 Raja 18), dia mesti belajar bergantung secara menyeluruh kepada Allah. Dia perlu mendemonstrasikannya melalui tindakan apa yang menjadi sistem imannya. Dan seperti Elia, semua pahlawan iman lainnya dalam Alkitab mesti menunjukan kesetiaan dalam hidup untuk dapat berhasil dalam masa pencobaan mereka.
“Berjalan dengan iman yang ditandaiNYA. Pencobaan akan datang, tetapi maju terus. Hal ini akan menguatkan imanmu dan cocok untuk pelayananmu. Catatan sejarah suci ditulis, bukan hanya agar dapat kita baca dan terkagum, tetapi agar iman yang sama yang membawa hamba Allah pada masa lalu bekerja di dalam kita. Dalam cara yang hampir sama Tuhan juga bekerja saat ini, dimana saja terdapat iman dihati mereka untuk menyalurkan kuasaNYA.”3
REAKSI
1. Bagaimana iman yang bekerja dapat membantu kita bersaksi bagi Kristus?
2. Dalam cara apa anda dapat memperbaiki kesetiaanmu sebagai individu?
____________
1. Sons and Daughters of God, p. 22.
2. Patriarchs and Prophets, p. 85.
3. Prophets and Kings, p. 175.
Beatrice Akinyi, Ndhiwa, Kenya
Senin
15 FEBRUARI
| Logos Minyak Kesetiaan | Matt. 25:1–13; Luke 16:10; 1 Tess. 5:23, 24; 2 Tim. 3:1–5; Ibrani 11 |
Dalam Matius 25:1—13, Kristus menggunakan ilustrasi 10 anak dara untuk menunjukan kesetiaan umat Allah pada waktu kedatangan Kristus. Mereka yang siap untuk kedatangan yang kedua kali adalah yang dengan setia bersiap untuk itu.
Loyalitas—Kesetiaan yang tak goyah (Mat. 25:1-13)
Bila kita memasuki persekutuan dengan Kristus, kita mesti melakukannya dengan perasaan loyalitas dan kebergantungan. Kedua karakteristik ini bukan hanya akan membantu kita bertumbuh didalamNYA, mereka juga membantu kita untuk mempunyai hubungan baik dengan keluarga, teman-teman, dan rekan kerja. Jika kita tidak loyal kepada Bapa sorgawi dan Juruselamat, kita tidak akan mampu berbakti seperti yang semestinya. Gantinya, kita akan sama seperti orang Farisi dan ahli taurat yang gagal untuk mendemonstrasikan kesetiaan yang tak goyah kepada Allah yang mereka nyatakan disembah (Mat. 15:1—20)
Kekonstanan—Bebas Dari Ketidak Pastian (Lukas 16:10; 1 Tess. 5:23, 24)
Dengan bertumbuhnya gereja yang mula-mula, orang-orang percaya kadangkala menjual harta milik mereka untuk berbagi dengan anggota yang miskin atau tak berpunya (Kisah 4:32-37). Tindakan seperti itu menunjukan kesetiaan yagn besar bagi Allah dan menunjukan karakter orang percaya yang benar. Di sisi lain, karakter Ananias dan istrinya Safira (Kisah 5:1—11) menunjukan dengan jelas apa yang dirindukan Setan ditanamkan dihati manusia sejak awal masa. Sering, kita dihadapkan dengan pilihan apakah berbicara atau melakukan kebenaran atau berpaling dari kebutuhan orang disekeliling kita.
Keselamatan hanyalah konsep sampai kita mempraktekannya dengan perbuatan yang tahan uji
Kristus rindu kita menunjukan kesetiaan yang konstan, bebas dari ketidak pastian, sama seperti Dia menunjukan kesetiaan yang benar kepada kita pada waktu senang dan susah. Jika kita tidak setia, kita tidak dapat menghitung kita layak mendapatkan berkat yang disiapkan untuk orang suci. Kesetiaan membantu kita untuk memurnikan hati, menggantikan yang jahat dengan kasih Kristus, yang juga merupakan bagian dari keranjang buah Roh Kudus.
“Sebegai Pemberi dari setiap berkat, Allah menuntut sebagian dari apa yang kita miliki . . . . Tetapi jika menahan dariNYA yang menjadi milikNYA, bagaimana kita menuntut berkat-berkatNYA? Jika kita menjadi pengelola yang tidak setia dari hal-hal duniawi, bagaimana kita dapat berharap Dia mempercayai kita dengan hal-hal sorgawi? Mungkin inilah rahasia doa yang tidak dijawab.”*
KeResolusian—Keputusan yang tak goyah (Hebrews 11)
Di Perjanjian Lama, iman dianggap sebagai respon terhadap pernyataan Allah Sendiri dalam sejarah manusia dan kejadian-kejadian yang terjadi (Kej. 15:6; 2Tawarikh 20:20; Hab. 2:4). Karena alasan inilah para bapa dan nabi tetap menghidupkan pengharapan akan Allah. Mereka bertekad, tanpa ragu sedikitpu, bergantung pada kehendakNYA.
Di Perjanjian Lama, iman masih didasarkan pada Allah Bapa, melalui Kristus PutraNYA (Mat. 9:22, 29; Yoh. 8:30; Kisah 3:16). Bahkan untuk para murid, kesetiaan mereka disebabkan oleh tekad yang tak goyan untuk mencari apa yang mereka “harapkan, bukti yang tidak mereka lihat” (Ibrani 11:1).
Kepada semua yang mencari Tuhan untuk keselamatan, iman menerima hadiah kasih karunia Allah (Efesus 2:8). Dan melalui iman kita dapat mengerti lebih baik akan karakterNYA dan menjadi seperti Dia. Seperti waktu para nabi dan rasul yang maju dalam iman, waktu kita juga ditandai dengan dekadensi moral dan rohani, dan kita, juga, dipanggil untuk menunjukan tipe iman yang membantu kita untuk mengatasi pergumulan melawan dosa.
Kesetiaan—Suatu Kondisi untuk Keselamatan (Yohn 5:24)
Pria dan wanita dari segala jalan hidup mengatakan mereka selamat. Tetapi, sebelum kita bangkit mengatakan itu, kita mesti melakukan penelaahan berdasarkan Alkitab akan diri sendiri. Apakah kita akan lepas dari ujian itu? Dengarkan kata-kata Kristus, kita menerima kepastian bahwa siapapun yang mengimani firmanNYA, demikian pula Allah Bapa, telah “melintas dari kematian kepada hidup”. (Yohanes 5:24)
Semakin mendekatnya kedatangan Kristus, iman kita mesti ditunjukan dalam pekerjaan yang baik. Keselamatan hanyalah konsep sampai kita mempraktekannya dengan perbuatan yang tahan uji, berdedikasi, dan layak untuk diuji. Inilah apa yang diproklamirkan Paulus kepada orang Roma, mengatakan, “segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa” (Roma 14:23). Ibrani 11:6 mengatakan “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6). Tidak terdapat iman yang asli tanpa tindakan kesetiaan; dan ditempat tidak terdapat kesetiaan, tidak terdapat loyalitas , ketidak pastian, kekurangan determinasi, dan kutukan.
REAKSI
1. Bagaimana mencegah menjadi tidak setia?
2. Apa persyaratan untuk menjadi setia?
3. Bagaimana kita menyaksikan kesetiaan iman kepada orang diluar kepercayaan kita?
____________
*Christ’s Object Lessons, p. 144.
Saline Khavetsa, Nairobi, Kenya
Selasa
16 FEBRUARI
| James 5:17 | Kesaksian Kepercayaan Yang Tak Goyah |
“Karena Elia adalah orang yang mempunyai iman yang amat besarlah Allah dapat menggunakan dia dalam krisis maut dalam sejarah orang Israel . . . . . .
“Iman seperti inilah yang ditubuhkan di dunia saat ini—iman yang berpegang teguh pada janji-janji firman Allah dan menolak untuk berpaling sampai Sorga mendengar. Iman seperti ini menghubungkan kita sedemikian dekatnya dengan Sorga, dan meberikan kita kekuatan untuk menghadapi kuasa kegelapan . . . . . Dan melalui iman saat ini kita mesti menjangkau ketinggian dari tujuan Allah bagi kita. “Jikan engkau tidak percaya, semua hal mungkin bagi dia yang percaya” (Markus 9:23)
Iman merupakan elemen utama dalam doa yang sungguh-sungguh
“Iman merupakan elemen utama dalam doa yang sungguh-sungguh . . . . Dengan iman Yakub yang teguh, ketegaran Elia yang tak goyah, kita bisa menyampaikan permohonan kita kepada Bapa, mengklaim semua yang telah dijanjikanNYA. Kehormatan takhtaNYA dipertaruhkan dalam pemenuhan firmanNYA.”1
Kata-kata diatas dituliskan oleh Ellen White untuk mengajarkan kita bagaimana pentingnya kesetiaan. Kata-kata tersebut menunjukan bahwa kita tidak boleh hanya belajar tentang iman, kita juga mesti setia. Agara supaya iman kita dapat bekerja dan memberikan hasil, menunjukan kesetiaan dalam perbuatan mesti menjadi dasar utama kehidupan kita. Perbuatan seperti itu mendemonstrasikan iman kita. Mereka adalah mortar yang mempersatukan kepercayaan dan tingkah laku kita secara bersama-sama. Jika kita setia kepada Kristus dengan menjadi setia dalam hal-hal kecil, Dia akan menjadikan iman kita berdiri teguh seperti orang Yahudi yang mulia.
“Orang-orang mulia itu mempunyai suatu derajat iman; karena dia telah datang untuk menanyakan apa yang tampak baginya sebagai hal yang paling berharga dari semua berkat. Yesus mempunyai hadiah terbesar untuk diberikan. Dia rindu, bukan hanya menyembuhkan anak-anak, tetapi membuat perwira itu dan seluruh keluarganya menjadi pembagi berkat keselamatan . . . . . .
“Bukan karena kita melihat atau merasakan bahwa Allah mendengar kita makanya kita beriman. Kita mesti mempercayai janji-janjiNYA. Bila kita datang kepadaNYA dalam iman, setiap permohonan masuk ke hati Allah. Bila kita telah meminta berkat-berkatNYA, kita mesti mempercayainya bahwa kita menerimanya . . . . . Kemudian kita mesti melaksanakan tugas-tugas harian kita (dalam kesetiaan iman), diyakinkan bahwa berkat-berkat itu akan menjadi nyata pada saat kita benar-benar memerlukannya.”2
REAKSI
Definisikan iman dan kesetiaan iman dalam kata-katamu sendiri.
____________
1. Prophets and Kings, pp. 156–158.
2. The Desire of Ages, pp. 198, 200.
Jackline Achieng, Nairobi, Kenya
Rabu
17 FEBRUARI
| Bagaimana Iman Seutuhnya | Rom. 10:4 |
Kesetiaan (Faithfullness) diperlukan untuk suatu hubungan yang tak goyah, dan berdasar dengan Allah dan dengan sesama. Agar dapat merasakan kesetiaan yang menghasilkan perbuatan baik, kita mesti percaya Allah baik dalam keadaan baik maupun buruk. Sama seperti Sahabat yagn benar, Dia rindu berada disamping kita pada waktu suka dan duka. Bagaimana kita mendapatkan kesetiaan seperti itu?
Hati yang biasa mengucapkan “terimakasih” baik dalam perkataan maupun perbuatan adalah hati yang diberkati
F-Follow—Ikuti Firman Tuhan. Alkitab adalah Pedoman terbaik yang kita milik. Kita tidak bisa merasakan kesetiaan dalam hidup kita jika kita tidak mengikuti Firman Allah.
A-Akui dan kenali Roh Kudus. Sebagai Pribadi Ketiga dari KeAllah, Roh Kudus adalah kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Jika kita tidak menyambutNYA dalam hidup kita, kita tidak akan menerima bantuan dalam hidup keseharian kita. Salah satu fungsi Roh Kudus adalah membantu kita meletakan iman dalam bentuk praktis.
I-Insist—Teguh dalam kebenaran. Kristus sendiri adalah Kebenaran (Yoh. 14:6). Agar dapat mengembangkan kesetiaan, kita perlu menerima Dia sebagai Penebus pribadi dan mengizinkanNYA mengobahkan kita dengan kebernaranNYA. Bila ini terjadi, iman kita akan berkembang dengan tindakan kesetiaan.
T—Terimakasih untuk segala sesuatu dalam hidupmu. Hati yang biasa mengucapkan “terimakasih” baik dalam perkataan maupun perbuatan adalah hati yang diberkati. Kita tidak bisa setia dan tidak mengucapkan syukur pada saat yang sama. Bapa kita di sorga rindu kita menghargai semau yang dilakukanNYA bagi kita.
H-Hidupkan iman dalam Kristus. Iman dalam Juruselamat kita dan kesetiaan dalam hidup berhubungan erat. Tak ada yang satu tanpa satunya. Iman dalam Kristus akan menghasilkan hidup yang setia. Dan sementara kita belajar mempunyai hidup yang setia, iman kita dalam Kristus akan bertumbuh. Dengan mengikuti pedoman diatas, kita akan mampu untuk merasakan iman seutuhnya, yaitu kebijaksanaan untuk dihidupkan, khususnya pada masa-masa sulit dalam hidup kita.
REAKSI
1. Terangkan bagaimana anda bisa setia, dengan menambahkan apa yang telah didiskusikan dalam pelajaran hari ini.
2. Apa buah kesetiaan?
Rose Oguttu, Dagoretti, Nairobi, Kenya
Kamis
18 FEBRUARI
| Ibrani. 11:23−29 | Pendapat Suatu Hidup Yang Penuh Iman |
Pada waktu masih remaja di SMA, saya menandatangani surat dengan, Yours faithfully. Ini adalah cara sederhana saya mengakhiri suratku, tak ada lebih dari itu. Tetapi, dengan meningkatnya pengetahuanku, saya mulai belajar untuk lebih setia. Salah satu cerita Alkitab yang mengajarkanku tentang hal yang paling setia adalah Musa.
Terlahir sebagai orang Lewi, kehidupan Musa penuh dengan iman dan kesetiaan sejak awalnya. Dia lahir pada masa dekrit Firaun untuk membuhun semua bayi laki-laki budak Ibrani sedang ketat-ketatnya dilaksanakan. Selama masa itu, pastilah amat sulit bagi para ibu-ibu Ibrani; tetapi iman dalam Allah menguatkan hati mereka “dan mereka tidak takut akan perintah raja” (Ibrani 11:23). Jadinya Musa selama untuk melepaskan umatNYA dari perbudakan.
Kejadian yang mengelilingi hidup Musa, pada dasarnya tidak berbeda dari kita
Melalui kesetiaan orang tuanya, Musa dilahirkan—dan selamat! Melalui kesetiaan, dia diadopsi oleh putri Firaun. Dengan iman, dia menolak disebut anak putri Firaun pada waktu dewasa. Melalui kesetiaan dia memilih untuk menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesukaan setan yang pendek. Dengan setia, dia menganggap suatu kehinaan demi Kristus jauh lebih berharga daripada harta pusaka Mesir. Dengan iman, dia mencoba yang belum dicoba, maju terus sampai orang Israel akhirnya terbebas dari perbudakan.
Melalui iman dan kesetiaan, Musa mengatasi kemungkinan terburuk. Bagaimana dengan kita? Kejadian yang mengelilingi hidup Musa, pada dasarnya tidak berbeda dari kita. Kita bergumul dengan setan dalam berbagai bagian hidup kita: keluarga, pendidikan, keuangan, pekerjaan, dan seterusnya. Bahkan di gereja kita kadangkala bergumul dengan setan. Kita memerlukan iman dan kesetiaan Musa untuk membantu kita menyeberangi Laut Merah ke tanah perjanjian sorgawi.
REAKSI
1. Apakah iman seperti Musa mungkin pada zaman kita? Jika ya, bagaimana kita mengembankan iman seperti itu?
2. Bagiamana pendapatmu tentang orang yang menyebut dirinya Kristen tetapi memelihari ketidak setiaan? Bagaimana anda mencegah ini untuk terjadi
3. Terangkan bagaimana anda bereaksi terhadap guru yang tidak setia, rekan kerja, atau pendeta.
Samson Oguttu, Dagoretti, Nairobi, Kenya
Jum’at
19 FEBRUARI 2010
| Eksplorasi Seberapa Besar Kesetiaanku? | Yakobus 2:18 |
SIMPULAN
Kesetiaan adalah hadiah yang diberikan oleh Roh Kudus kepada pengikut Kristus. Tetapi, hadiah itu bukanlah sesuatu yang hanya dapat diambil begitu saja oleh orang Kristen. Mereka mesti memperlihatkan kesetiaan melalui tindakan. Seperti yang kita pelajari pada pelajaran 1 “melalui buahnya anda akan mengenal mereka” (Mat. 7:16), sehingga mereka yang menyatakan orang Kristen yang benar menunjukan kesetiaan mereka melalui kehidupannya. Kesetiaan merupakan hal yang sederhana bila segala sesuatunya berjalan dengan baik. Adalah mudah mempertahankan kepercayaan kepada Tuhan bila hidup berjalan sesuai kehendak kita. Pada waktu hidup mulai berantakanlah kesetiaan benar-benar diuji.
PERTIMBANGKAN
- Tuliskan suatu jurnal yang berisikan pengalaman hidup pada saat anda meragukan Tuhan dan bagaimana Dia datang kepadamu. Fokus pada emosi dan reaksimu pada semau fase pengalaman itu.
- Tuliskan suatu jurnal tentang pengalaman hidup pada waktu anda meragukan Tuhan dan bagaimana Dia datang melalui anda. Fokus pada emosi dan reaksimu selama fase itu.
- Buatlah suatu pelajaran untuk sekolah sabat anak-anak yang menerangkan konsep kesetiaan. Rancang suatu aktivitas langsung yang mengajarkan tentang percaya atau mempunyai iman kepada seseorang.
- Karanglah suatu lagu pendek yang menerangkan tentang kesetiaan . ajarkan lagu itu kepada kelas sekolah sabatmu.
- Diskusikan dengan teman dekatmu pada saat imanmu lemah. Bagikan bagaimana menjaga imanmu kuat pada saat anda tergoda meragukan rencana Tuhan.
- Ciptakan suatu gambar yang menggambarkan suatu waktu anda menunjukan kesetiaanmu kepada Tuhan pada waktu sulit.
- Hitunglah hasil logika pengalaman hidup, kemudian pantulkan pda cara Tuhan melakukan hal yang berbeda dari logika. Luangkan waktu untuk memikirkan reaksimu kepada kejadian ini dan bagaimana reaksinya pada imanmu.
- Bacalah buku Ayub. Buatlah daftar waktu-waktu dimana iman Ayub mestinya lemah tetapi tidak. Buatlah dafta lain waktu anda dicobai. Bandingkan pengalamanmu dan reaksimu dengan Ayub.
HUBUNGKAN
Steps to Christ, chapter 6, “Faith and Acceptance.”
Max Lucado, Facing Your Giants (Nashville, Tenn.: WORD Publishing Group, 2006).
Allison Zollman, Fort Oglethorpe, Georgia, U.S.A.
No comments:
Post a Comment