Sunday, 7 February 2010

SSCQ Pelajaran 7 Kwartal I tahun 2010

SSCQ4Q09DESEMBER 2009—Maret 2010

Pelajaran Tujuh Kwartal 1, 6—13 Februari 2010

Diterjemahkan Oleh: Google Translator (Daniel Saputra)

Buah Roh Adalah

KEBAIKAN

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efe. 2:10,).


Sabbath

6 FEBRUARI

Titus 2:11–13

Pendahuluan

Apakah Orang Lain Tahu?

Jam delapan pagi. Saya sudah sarapan oatmeal. Sepatuku kira-kira sudah mengkila, dan Alkitab bersamaku. Saya menghidupkan mobil, dan semua kami masuk. Hari Sabtu, dan kami dalam perjalanan ke gereja. Sebelum masuk mobil, saya perhatikan tetangga memandang kami dengan raut wajah bertanya-tanya dan terkejut. Saya bertanya apa yang dia pikirkan. Siapa kami baginya? Kami tidak ada masalah. Dan minggu lalu, saya mengembalik paket kepadanya yang telah ditinggalkannya di halaman parkir kompleks apartemen kami.

Tetapi pertanyaan lebi dari itu. Apakah dia tahu kami ke gereja? Apakah dia tahu kami orang Kristen? Pasti dia tahu, saya katakan pada diriku sendiri. Tetapi jika dia tahu kami orang Kristen, bagaimana dia tahu? Apakah karena kami membawa Alkitab pada waktu keluar rumah hari Sabat pagi? Apakah karena tindak tanduk kami? Apakah karena saya orang yang baik? Siapa yang mendefinisikan seseoran baik atau jahat? Karena, dalam faktanya, dia adalah tetangga yang baik, atau mungkin dia yang terbaik dalam lingkungan; tetapi sejauh yang saya tahu, dia sama sekali tidak ke gereja.

Kepada apa sebenarnya bergantung “jadi baik”? Apa sumbernya?

Pada waktu kami berjalan, saya melambaikan tangan untuk menyampaikan salam, dan bertanya pada diriku sendiri, Apakah dia tahu bahwa saya benar-benar mencari hubungan khusus dengan Allah?

Tampak jelas bahwa terdapat hubungan yang dekat antara kebaik dan tindak-tanduk luar. Bagaimanapun, kita mesti mempertanyakan apakah kita mempunyai konsep yang benar. Kepada apa sebenarnya bergantung “jadi baik”? Apa sumbernya? Apa motif dalam berbuat baik? Apakah konsep kita merupakan konsep dunia? Apakah ini dekat dengan kebaikan Yesus? Hal ini khususnya penting, karena kebaik Yesus selah menunjukan hubungan intimnya dengan Bapa?

Ringkasannya, kita mesti mempertanyakan diri kita sendiri apakah “kebaikan” kita ditunjukan dalam tindakan, agama, atau hubungan kita yang sebenarnya dengan Allah. “Bukan hanya dengan mengkhotbahkan kebenaran, bukan hanya membagikan literatur, kita menjadi saksi Allah. Marilah kita mengingat bahwa hidup yang serupa dengan Kristus adalah argumen yang paling berkuasa yang dapat dimaujukan untuk kemajuan kekristenan, dan bahwa karakter Kristen murahan akan menjadi bahaya bagi dunia daripada sifat duniawi yang sebenarnya.”* Sementara anda belajar tentang kebaikan minggu ini, tanyakan dirimu sendiri apa yang memotivasi anda untuk membesarkan buah Roh.

____________

*Testimonies for the Church, vol. 9, p. 21

Patty Lopez, Arlington, Texas, U.S.A.

Minggu

7 FEBRUARI

Logos

Mengalahkan Musuh

Maz. 51:10, 11;

Yohn 14:9;

Rom. 3:12−20; 7:7−12;

Titus 2:14;

Ibr. 1:2, 3

Masalah Hati (Maz. 51:10, 11)

Pada waktu Daud menyadari bahwa dia “dibuang” oleh nabi Natan karena tindakan perzinahannya dengan Bathseba, dia melakukan sesuatu yang agak aneh untuk dilakukan oleh pimpinan pemerintahan manapun yang tertangkap tangan untuk situasi yang sama saat ini. Dia mengakui dosanya. Saya membayangkan, saat ini mungkin, dia memandang ke kamera dan mengakui semua yang telah dilakukannya dalam “affairs” tersebut.

Pada waktu Daud dikonfrontasi dengan dosanya, dia mengakui apa yang telah dilakukannya daripada mencari-cari cara untuk memaafkan kesalahan. Dia bahkan tidak masuk ke pusat rehabilitasi untuk mengatasi beberapa zat yang telah mengkaburkan pikirannya. Disana terlihat manifestasi jelas dari pekerjaan Roh Kudus. Apabila buah kasih penebusan Illahi mulai berkembang dalam kita, kita dimampukan untuk melihat secara jelas siapakah kita, dan kita kemudian mampu untuk mengakui tanpa rasa takut. Lebih lanjut, kita mampu untuk menyadari bahwa dosa kita lebih daripada hanya pelanggaran yang dilakukan kepada orang lain. Pastinya, itu adalah dosa kepada Allah.

Daud bahkan tidak masuk ke pusat rehabilitasi untuk mengatasi beberapa zat yang telah mengkaburkan pikirannya.

Daud menyadari kejadian ini yang terlihat dari pengakuannya. “Hanya kepadaMU, kepadaMu sahaja, aku telah berdosa,/ dan telah melakukan hal yang jahat ini dihadapanmu” (Maz. 51:4). Dia tidak mengaku bahwa dia telah berdosa kepada Batseba, yang telah dirayunya dan ditiduri, atau kepada suaminya Uriah, yang telah diaturnya agar terbunuh di medan perang. Dia berseru kepada Allah dan meminta pengampunanNYA.

Pada waktu Daud meminta hati yang baru, dia menggunakan kata Ibrani bara, yang artinya “ciptakan” (Maz. 51:10). Ini adalah kata yang sama yang digunakan dalam narasi penciptaan di Kejadian 1. Secara tegas, Daud meminta kepada Allah untuk menciptakan sesuatu yang secara menyeluruh baru dari yang tidak ada, sama seperti pada waktu Allah menciptakan dunia? Dia tidak mau Allah hanya mengambil kejahatan yang ada dan memperbaikinya. Dia menginginkan suatu hati yang baru yang mau mengikuti Allah.

Pada waktu dihadapkan dengan realitas hati kita yang penuh dosa, kita tidak perlu berlari dan bersembunyi karena malu. Kita dapat dengan bebas mengakui dosa-dosa kita tanpa meratap, “Apa yang akan dilakukan Allah padaku?” Kita dengan bebas dapat mengizinkan Roh Kudus mentransformasi kita, untuk menciptakan suatu hati yang baru didalam tubuh kita yang mirip sekali dengan hati Kristus.

Melihat Bapa, Melihat Diri Kita Sendiri (Yohn 14:9)

Pada suatu ketika, murid Yesus bertanya untuk menunjukan Bapa kepadanya dan para murid yang lain. Bacalah apa jawaban Yesus dalam Yohanes 14:9. Hal ini kemudian ditekankan kembali oleh penulis Ibrani yang menguraikan Yesus sebagai Wakil Yang Sama dari Allah dan sebagai Pencipta segala sesuatu. Bacalah Ibrani 1:1-3.

Kira perlu mengerti bahwa untuk dapat mengenal Yesus, dan karenanya mengenal Bapak, Roh Kudus mesti bekerja di dalam kita. Roh memainkan peran yang tak dapat dicampakan dalam menyatakan kepada kita jalan Allah, dan karenanya karakter Allah (Yohanes 16:5-15)

Kita Semuanya dalam Bahaya (Rom. 3:12−20; 7:7–12)

Jika kita bisa menerima fakta bahwa kita semua adalah orang berdosa, akan jauh lebih mudah untuk mengembangkan suatu roh kasih karunia yang lebih besar satu sama lain. Kebanyakan orang Kristen siap untuk mengakui bahwa mereka adalah orang berdosa. Masalanya adalah terlampau sering kita memandang dengan kebencian yang besar dan ketidak sukaan kepada orang lain karena kita mengasumsikan dosa mereka lebih besar dari dosa kita (Mati. 7:1-6)

Kita memaafkan diri senidri dan membayangkan bahwa apa yang kita hadapi tidak sedekat kejahatan yang orang lain. Kitab suci, bagaimanapun, secara kategori menolah kepalsuan ini (Roma 3:12). Kita secara alami merespon dengan cara ini bila menghadapi dosa. Adam dan Hawa secara cepat melemparkan tuduhan pada waktu Allah mengkonfrontasi mereka. Semua orang telah melakukan hal yang sama sejak itu. Tetapi Roh mampu mematahkan siklus ini dan memberikan kita hidup yang seutuhnya yang dijanjikan Yesus.

Perhatikan buah kebaikan, dan pikirkan tentang bagaimana hidup akan jauh lebih baik jika kebaikan Allah mengobahkan hati anda. Jangan keluar dari jalur seperti yang lain lakukan pada waktu mereka berpikir bahwa anda sedemikian jahatnya sehingga tidak ada yang dapat dilakukan Allah padamu. Bila kita menerima bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia Allah, yang didemonstrasikan oleh Kristus, dan dilaksanakan didalam kita melalui Roh Kudus, kita dapat mulai mengalami kedamaian yang dijanjikan Kristus dalam Matius 11:29-30.

REAKSI

1. Dalam cara apa anda mungkin masih menyembunyikan sedikit dirimu dari Allah?

2. Bagaimana hidupmu akan diperbaiki jika anda memberikan bagian itu kepada DIA?

3. Seberapa berbedanya anda memperlakukan orang lain jika anda memberikan bagian itu kepadaNYA?

Paul Kevin Wells, Grand Prairie, Texas, U.S.A.

Senin

8 FEBRUARI

Kesaksian

Ya Tuhan bukannyaAstaga Tuhan

Yohn 14:9

“Kemuliaan Allah adalah karakternya. Sementara Musa di gunung, bersungguh-sungguh berperantara dengan Allah, dia berdoa, “aku memohon kepadaMU, tunjukanlah kemulianMU.” Allah menjawab, "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani." Kemuliaan Allah—KarakterNYA—kemudian dinyatakna: “Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman." (Keluaran 33:18, 19; 34:6, 7).

Dalam cerita orang Samaria yang baik, Kristus mengilustrasikan tentang agama yang benar

“Kristus merindukan para pengikutNYA untuk menyatakan dalam hidup mereka karakter yang sama. Dalam doa perantaraanNYA untuk para murid Dia menyatakan: “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu; Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. (Yohanes 17:22, 23)”1

“Gereja amat berharga dalam pemandangan Allah. Dia menghargainya, bukan karena keuntungan luar, tetapi demi kebaikan tulus yang membedakannya dari dunia. Dia menilainya sesuai dengan pertumbuhan anggota dalam pengetahuan akan Kristus, sesuai dengan kemajuan pengalaman rohani.

“Kristus lapar menerima dari kebun anggurNYA buah kesucian dan ketidak tamakan. Dia mencari prinsip kasih dan kebaikan. Tidak semua keindahan seni dapat dibandingkan dengan keindahan temperamen dan karakter yang akan dinyatakan dalam orang yang menjadi perwakilan Kristus. Atmosfir kasih karunia yang mengelilingi jiwa orang percaya, Roh Kudus bekerja dipikiran dan hati, yang membuat dia menjadi kesedapan hidup untuk hidup, dan membuat Allah memberkati pekerjaanNya.”2

“Dalam cerita orang Samaria yang baik, Kristus mengilustrasikan tentang agama yang benar. Dia menunjukan bahwa hal itu tidak terdiri dalam sistem, peraturan, atau ritual, tetapi dalam penampilan kerja yang penuh kasih, dalam membawa kebaikan terbesar kepada orang lain, dalam kebaikan yang asli.”3

____________

1. God’s Amazing Grace, p. 322.

2. Christ’s Object Lessons, p. 298.

3. The Desire of Ages, p. 497.

Carlos A. Quintana, Arlington, Texas, U.S.A. Selasa

9 FEBRUARI

Efe. 2:19–22

Bukti

Melakukan yang Benar

Karena itu Benar

“Orang yang mencoba memelihar hukum Allah berdasarkan kewajiban saja—karena dia dipersyaratkan melakukannya—tidak akan pernah memasuki kesukaan penurutan. Dia tida menurut . . . . . .Penurutan yang benar adalah penampilan luar dari prinsip yang ada di dalam. Bersumber dari kasih kebenaran, kasih akan hukum Allah. Inti dari semua kebenaran adalah kesetiaan kepada Penebus. Hal ini akan menuntun kita melakukan yang benar karena itu benar—karena melakukan yang benar merupakan kesenangan bagi Allah.”*

Penghormatan yang benar tidak dapat diperintah. Mesti didapatkan. Demikian pula, penurutan yang benar tidak dapat dipaksa. Melakukan hal yang benra mesti datang dari suatu tempat dimana seseorang tahu bahwa melakukan hal tertentu tersebut adalah hal yang benar untuk dilakukan dan merupakan hal terbaik bagi yang melakukannya. Untuk sampai pada hal tersebut mensyaratkan pengembangan suatu syarat kritis yaitu—Percaya.

Usaha orang tuamu untuk mengajarmu menggosok gigi tidak ditujukan untuk membatasi kebebasanmu

Setiap orang tua dari anak kecil menghadapi tugas kritis—mengajar anak untuk menggosok giginya dan mengajarkan mengapa menggosok gigi adalah hal yang baik. Jika seorang anak tidak mengembangkan kesehatan gigi sejak awal hidupnya, adalah sulit untuk menegakannya pada masa depan. Idealnya, suatu hari anak itu akan menyadari bahwa menggosok giginya adalah hal yang baik untuk dilakukan. Tanyai dirimu sendiri kenapa anda menggosok gigimu setiap hari. Saya yakin bahwa jawabannya bukanlah “karena orang tuaku menyuruhnya.” Usaha orang tuamu untuk mengajarmu menggosok gigi tidak ditujukan untuk membatasi kebebasanmu tetapi untuk meyakinkanmu mempunyai mulut dengan gigi yang lengkap sampai lanjut usiamu.

Mengembangkan suatu karakter yang baik sama benar dengan transaksi. Bapamu di sorga bekerja dengan rajin untuk mengajarkanmu apa yang mesti dan tidak mesti dilakukan, bukan untuk mengekang atau mengaturmu, tetapi untuk melindungimu dan mengobahkanmu menjadi sesuatu yang luarbiasa—orang yang mencerminkan karakterNYA dan keindahanNYA. Bila anda percaya bahwa ini adalah satu-satunya motifNYA, perobahan ini akan terjadi.

REAKSI

1. Teladan lain apa yang menunjukan apa yang dilakukan itu benar karena itu benar?

2. Bagaimana anda menggunakan teladan ini untuk menyebarkan pekabaran kasih Kristus?

____________

*Christ’s Object Lessons, pp. 97, 98.

Timothy A. Whitley, Houston, Texas, U.S.A.

Rabu

10 FEBRUARI

Bagaimana

Berhenti Mencoba Menjadi Baik

Fil. 2:13

Tidak ada resep manusia apapun yang dapat membantu kita menjadi baik. Menjadi baik bukanlah bagian dari sifat manusia yang berdosa (Yer. 13:23; Rom. 3:10—12; 7:18-25). Banyak sistem keagamaan didasarkan pada usaha manusia untuk menjadi baik. Hal ini amat menarik tetapi berbahaya karena kita tidak mesti memberikan kendali hidup kita kepada kuasa yang lebih tinggi. Tetapi, mengembangkan buah kebaikan adalah masalah mengizinkan Roh Kudus Allah bekerja di dalam kita (Yehez. 11:19, 20). Rahasianya terletak pada berserah pada Roh Kudus. Penyerahan ini membutuhkan iman. Bila anda mempunyai iman kepada Allah, Dia akan mulai mengembangkan karakter didalammu. Kemudian kebaikan akan mulai bertumbuh didalam hatimu. Berikut adalah beberapa hal yang dapat anda lakukan yang dapat membantumu yang menyerahkan hidupmu kepada Allah.

Pengalaman yang amat berkesan menunggumu bila engkau menjadi tanah liat ditanganNYA

Kenalilah kebutuhanmu. Dunia mengajarkan kita bahwa kita mesti bersandar pada diri sendiri untuk mencapai sukses. Tetapi, sebagai orang Kristen, kita perlu mengakui bahwa sifat berdosa kita mengendalikan kita lebih dari pada yang kita pikirkan. Kita tidak bisa bersandar pada diri sendiri untuk menyerah kepada Allah. Solusinya adalah bergantung padaNYA. Buatlah menyadari kebutuhanmu akan DIA menjadi prioritas utamamu (1Yohanes 3:4—7).

Pertahankan hubungan. Mengikuti metoda Doa-Belajar-Taat-Berbagi-Memuji adalah cara Roh Kudus mengetahui anda berpartisipasi dalam perobahan karakter. Hal ini juga berarti Dia menggunakanmu untuk membantu kita memberikan makanan iman kita (Yoh. 15:4).

Jujur dengan Allah. Diobahkan ke rupaNYA dapat mengecewakan sebagaimana juga dapat menjadi amat menarik. Kadang Dia membawa kita ke arah yang tidak kita mau. Jujurlah dengan Dia. Katakan bagaimana perasaan anda tentang hal seperti itu. Akhirnya bukankah Dia sahabat terbaikmu (Maz. 77; 88:6, 9).

Berikan dirimu secara menyeluruh. Rencanamu, idemu, proyekmu, dan mimpi-mimpimu. Pengalaman yang amat berkesan menunggumu bila engkau menjadi tanah liat ditanganNYA (Efesus 3:20, 21; Yer. 29:11).

REAKSI

1. Apa peran kebebasan memilih jika kita memberikan kepada Allah kendali hidup agar dapat mengobahkan sifat kita?

2. Allah telah memberikan kita kebebasan memilih. Jadi apa yang mesti menjadi sikap kita kepada mereka yang tidak melakukan kebaikan seperti yang kita mengerti.

3. Apakah hukum-hukum yang melarang hal-hal seperti eutanasia atau aborsi berlawanan dengan kebebasan memilih yang diberikan Allah? Kenapa ya, kenapa tidak?

Patricia Flores Sauza, Del Iztapalapa, Mexico

Kamis

11 FEBRUARI

Maz. 14:3;

Rom. 3:12

Pendapat

Missi Dua Sisi.

Banyak orang di dunia ini memilih untuk tidak berhubungan sama sekali dengan agama. Mereka bahkan mempertanyakan berbagai jenis agama dan orang-orang yang mengikutinya. Hukum keempat dari Sepuluh Hukum dari Etika Ateis menyatakan, “Kamu TIDAK BOLEH LUPA akan pembunuhan masal/suku bangsa atas nama allah.”1 Mereka mendasari perintah ini atas perlakuan mengerikan yang terjadi pada waktu perang salib. “Bagaimana mungkin”, tanya mereka, “Allah yang penuh kasih mengizinkan pembunuhan massal seperti itu?”

Hal ini membuatku berpikir akan Mazmur 14:3, “Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak”. Apakah kita secara total telah gagal mewakili karakter dan sifat Allah yang benar? Paling tidak kita mesti ingat akan dua hal:

berbuat baik jauh lebih penting daripada bersikap baik

1. “Argumen terguat yang sesuai dengan injil adalah seorang Kristen yang mengasihi dan dapat dikasihi.”2 Hal ini bukanlah retorika ataupun teologi kita tetapi hidup kita yang membawa orang lain kepada Allah. Agama yang benar membantu kita menjadi serupa dengan Kristus. Agama yang benar adalah agama yang dihidupkan dan diajarkan Yesus, suatu agama dimana berbuat baik jauh lebih penting daripada bersikap baik, suatu agama yang membuat kita menjadi duta Kristus dan surat terbuka yang menyaksikan kasih karuniaNYA.

2. Intinya, hukum keempat orang ateis itu benar. Kita tidak boleh melupakan pembunuhan massal atas nama Allah. Kita perlu mengingat mereka agar hal ini tidak terulang. Kekejaman seperti itu memberikan citra jelek akan apa yang kita percayai dan misi serta pekerjaan Yesus, “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Titus 2:14).

Missi menjadi baik adalah dua sisi. Menjadi baik memberi pengaruh positif kepada dunia yang amat membutuhkan kebaikan dan menyampaikan sifat Allah yang benar, yang diatas segalanya adalah kasih. Adalah melalui Roh Kudus yang diam di dalam hati kita yang akan membuat kita diobahkan menjadi orang yang benar-benar baik. Seperti apa yang dituliskan pemazmur dengan indahnya, “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! (Maz. 51:12, 13).

Bukankah sekarang masanya bagi kita untuk mengguncang dunia dengan kebaikan kita?

____________

1. Ethical Atheist, “The Ten Commandments,” http://www.ethicalatheist.com/docs/ten_commandments.html (accessed December 2008).

2. The Ministry of Healing, p. 470.

Miguel A. Lopez, Arlington, Texas, U.S.A.

Jum’at

12 FEBRUARI 2010

Eksplorasi

Kelimpahan Rohani

2 Pet. 1:2–11

SIMPULAN

Kebaikan bukan hanya didefinisikan sebagai tingkah laku yang benar. Ada banyak keterangan tentang tingkah laku yang benar. Seseorang dapat bertindak benar berdasarkan motif mementingkan diri sendiri. Beberapa telah bertindak baik agar dapat memenangkan suatu warisan atau memberi impresi baik kepada orang tua akan suatu daya tarik romantis. Yang lain dapat berbuat baik karena kendala luar membuatnya lebih mudah untuk berbuat baik daripada mengikuti insting dasarnya. Apabila kendala itu dilepaskan, karakter sebenarnya dari orang itu akan dinyatakan, seringkali dengan hal yang mengejutkan, hasil yang mengecewakan. Kebaikan yang benar, bagaimanapun, mengalir dari hati yang diobahkan, hati yang telah ditransformasikan oleh Allah. Hal ini merupakan suatu perobahan yang terjadi karena orang itu telah merasakan kasih
Allah yang tak terbandingkan.

PERTIMBANGKAN

  • Berdoalah agar Allah mengembangkan didalam dirimu sifat-sifat yang disebutkan dalam 2Petrus 1. Berdoalah secara spesifik akan satu hal pada setiap hari yang berbeda sepanjang minggu sampai anda fokus hanya pada satu hal. Pintalah Allah untuk memberikan kepadamu suatu kelimpahan rohani.
  • Berjalanlah di alam pada suatu hari Sabat sore dan sementara melakukan itu anda mendaftarkan berbagai cara Allah mengungkapkan kasihNYA kepada dunia kita melalui ciptaanNYA. Pertimbangkan bagaimana anda memantulkan sifat-sifat Illahi ini sementara anda memberi perhatian kepada lingkungan yang diberikan Allah kepadamu.
  • Dengarkan atau nyanyikan lagu Kelly Willard. “Willing Heart” Pikirkan hal-hal yang perlu anda lakukan agar seluruh penghalang dalam pekerjaan Allah dalam hidupmu dapat dicampakan dan hati batumu bisa menjadi hati yang mengalirkan kebaikan.
  • Tuliskan secara anonim suatu seri catatan dorongan kepada orang-orang yang tindakan kebaikannya telah menginspirasimu untuk menjadai baik.
  • Buat analisa suatu pengaruh perlakuan baik yang diarahkan kepada orang lain. Konstraskan tingkah/raut wajah/sikap sebelum dan sesudah tindakan itu.
  • Gambar atau buat patung suatu kornipia yang berisi paling sedikit tujuh buah yang berbeda. Diskusikan dengan teman buah apa yang paling baik dalam mengilustrasikan sifat-sifat dalam 2Petrus 1.

HUBUNGKAN

Steps to Christ, chapter 9.

Billy Graham, chapters 14–17, The Holy Spirit (Nashville, Tenn.: Thomas Nel­son, 2000); René Pache, chapter 9, The Person and Work of the Holy Spirit (Chicago: Moody, 1979).

Dan Solís, College Place, Washington, U.S.A.

No comments:

Post a Comment