SSCQ Edisi bahasa Indonesia, Triwulan IV, Pelajaran 3, 10—17 Oktober 2009
IBADAH DAN DEDIKASI
Diterjemahkan Oleh: Alwin Simanjuntak
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang member dengan sukacita.” (2 Kor 9:7)
Sabat 10 Oktober
Kepada: Semua yang senang belanja!
PENDAHULUAN
Yer. 10:23; Kol. 3:2
Setiap Sabat pagi, ketika masih remaja, saya memiliki sesuatu untuk diputuskan. Ada 72 gereja Advent dalam radius 48 kilometer dari rumah saya. Jadi pertanyaannya bukan apakah akan ke gereja atau tidak, tetapi gereja mana yang akan dikunjungi.
Dengan banyaknya gereja, terkadang sulit untuk merasa tidak merasa bahwa anda sedang berada di pusat perbelanjaan. Banyak orang menggunakan waktu dan tenaga untuk “berbelanja” memilih gereja yang tepat. Gereja mana yang memiliki perkumpulan pemuda paling aktif? Apakah khotbahnya berhubungan dengan kehidupan saya? Apakah jenis musiknya sesuai dengan yang saya mau? Apakah itu memenuhi kebutuhan saya?
Beberapa orang menjabarkan dengan lebih detail. Mereka menghadiri satu gereja untuk mengikuti Sekolah Sabat, kemudian pindah ke gereja lain untuk mendengarkan kelompok penyanyi yang merdu, kemudian pindah ke gereja lain untuk mendengarkan pendeta terkenal berkhotbah. Dan sesudah itu pergi ke gereja yang potluck-nya lezat. Menjelang sabat berakhir anda telah terberkati dengan musik yang bagus, khotbah yang indah, dan potluck yang enak. Tetapi apa yang diri anda telah berikan?
Memang tidak salah untuk mencari gereja yang tepat. Tetapi kita juga perlu mengingatkan diri kita apa arti ibadah yang sebenarnya. Sebagai manusia, adalah wajar kalau kita mencari sesuatu yang memenuhi apa yang kita butuhkan. Tetapi ketika kita berbakti, fokusnya bukanlah apa yang kita bisa dapat dari gereja.
Tetapi ibadah adalah mengenai Tuhan.
Ibadah adalah mengenai menghormati Satu-Satunya Yang Layak Dipuji – Khalik Semesta Alam, yang memelihara kita. Ketika kita beribadah kepada Tuhan, kita mengembalikan waktu dan talenta yang telah diberikan kepada kita. Adalah tugas dan kesempatan bagi kita untuk menggunakan apa yang Tuhan telah berikan untuk melayani Tuhan, menghormati Tuhan, dan memuji Tuhan. Dia tidak pernah melupakan kita. Kitapun tidak boleh melupakan Tuhan, dalam peribadatan kita.
Ketika anda mempelajari pelajaran minggu ini mengenai ibadah dan dedikasi pada Bilangan 7 dan 8, ingatkan diri anda akan Siapa yang menjadi fokus ibadah anda.
Lisa Takahashi, Calimesa, Hiroshima, Japan
Minggu 11 Oktober
Dipanggil Untuk Beribadah
LOGOS
Kel. 25:22; Bilangan 7; 8:1−3, 5−19; Zak. 4:1−6, 11−14; Wah. 4:2−5; 11:4.
Dengan konstruksi Kemah Suci, Tuhan telah menjabarkan dengan jelas maksudNya untuk terlibat secara aktif dalam perkembangan dan pertumbuhan bangsa Israel. Meskipun Ia telah bercakap-cakap dengan Musa sebelum adanya Kemah Suci, kemungkinan Tuhan menghendaki adanya tempat pertemuan dimana Ia selalu dapat ditemui oleh setiap orang. Ia menginginkan sebuah hubungan, bukan hanya dengan Musa, tetapi dengan seluruh bangsa Israel. Dan hubungan ini harus merupakan sesuatu yang khusus dan istimewa.
Kesetiaan dan Dedikasi (Bil. 7)
Dalam penyerahan di altar, setiap pemimpin suku membawa persembahan. Setiap pemimpin dari kedua belas suku Israel membawa jenis persembahan yang sama. Bilangan adalah pasal yang agak membosankan untuk dibaca. Bagi Allah, setiap persembahan dalam ibadah adalah special dan diperhatikan, walaupun hanya dua peser. Markus 12:42-44. Allah tidak meminta peribadatan yang lebih banyak dari seseorang daripada dari orang yang lain. Nilai pemberian kita kepada Tuhan tidak ditentukan oleh nilai yang masyarakat sekeliling kita tentukan pada pemberian tersebut, melainkan pada tingkat pengorbanan diri yang dilambangkan dari pemberian tersebut.
Daftar pemberian yang panjang yang tercantum dalam Bilangan 7 juga mengingatkan kita akan pentingnya memberi dan untuk menandakan secara kasat mata kesetiaan dan dedikasi kita terhadap Pencipta dan Penebus kita.
Berbagi Tugas (Bil 7:1-10)
Setelah pengurapan dan penyerahan Kemah Suci, pemimpin dari dua belas suku Israel secara sukarela membawa lembu dan kereta ke Kemah Suci. Bani Gerson, Merari dan Kehat bertanggungjawab untuk pengangkutan tenda-tenda Kemah Suci (Bilangan 4). Ini bukanlah tugas yang mudah, tetapi mereka dibantu oleh lembu dan kereta-kereta.
Dalam persembahan yang dibawa ke gereja, kita ketahui bahwa semua anggota gereja berpartisipasi dalam cara yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa itu adalah kaabah mereka yang sesungguhnya.
Beribadah Bersama (Bil 8:5-13, 19)
Dalam Bilangan 8:5-13, kita baca mengenai dedikasi orang Lewi. Dalam ayat 10, orang Israel harus meletakkan tangannya di atas kepala orang-orang Lewi itu. “Ini merupakan tindakan simbolis. Beberapa komentator beranggapan bahwa hal ini mungkin dilakukan oleh para tua-tua, memindahkan pada kaum Lewi tugas keimamatan sehubungan dengan pelayanan dalam Kemah Suci. Kaum Lewi diserahkan kepada Allah gantinya anak sulung, dan sebagaimana satu keluarga dikuduskan dalam mempersembahkan anak sulung, demikian pula bangsa Israel dikuduskan.”1
Kaum Lewi bertanggungjawab untuk pelayanan kaabah. Hal ini bukan berarti bahwa bangsa Israel lainnya tidak perlu beribadah lagi, melainkan agar bangsa Israel dapat lebih fokus dalam peribadatannya. Salah satu tugas kaum Lewi adalah membuat korban perdamaian bagi dosa-dosa bangsa Israel, sehingga bangsa Israel dapat mendekat ke kaabah (ay 19) untuk beribadah pada Allah. Dengan mengkhususkan kaum Lewi untuk bekerja di kaabah, Allah memberikan bangsa Israel kebebasan untuk beribadah kepadaNya tanpa takut.
Lampu-Lampu (Bil. 8:1-3)
Adalah hal yang biasa bahwa lampu-lampu digunakan untuk penerangan dalam Kemah Suci untuk membantu para imam melakukan pekerjaan mereka dalam kaabah. Bagi perabotan dalam Kemah Suci, lampu-lampu adalah satu-satunya perlengkapan yang difokuskan dalam bagian ini di buku Bilangan. Instruksi yang diberikan disini tampak tidak berhubungan. Di tengah-tengah instruksi mengenai persembahan, tugas-tugas keimamatan, dan korban, pentingnya lampu, baik di dalam maupun di luar kaabah tidak dapat dikesampingkan. Dan Allah ingin memastikan bahwa kaum Lewi dapat melaksanakan pekerjaan mereka dengan baik di dalam Bait Kudus.
Dalam wahyu kepada Yohanes, kita melihat ada tujuh kaki dian, dan kita ketahui bahwa ketujuh kaki dian tersebut melambangkan ketujuh jemaat (Wah 1:20). Ini bukan kali pertama gereja dilambangkan dengan lampu. Yesus katakan agar kita menjadi terang dunia (Mat 5:14-16). Peribadatan kita adalah agar dapat menuntun orang untuk memuliakan Allah. Jika hidup kita tidak menuntun orang datang pada Tuhan kita adalah seperti sebuah lilin yang terletak di bawah mangkuk. “Kristus datang untuk melenyapkan kegelapan dan menunjukkan Bapa. Hal yang sama Kristus mintakan dari murid-muridNya. Terang bercahaya, bukan berarti supaya orang bisa melihat terang tersebut, tetapi agar mereka bisa melihat hal-hal lain, karena adanya cahaya. Terang yang kita miliki harus bercahaya, bukan supaya orang menjadi tertarik kepada diri kita, tetapi agar mereka tertarik kepada Kristus, yang adalah terang kehidupan, dan kepada hal-hal yang berguna (Mat 6:31-34, Yoh 6:27, Yes 55:1,2).”2
Dalam Keluaran 19:6, Allah katakan pada Musa bahwa bangsa Israel harus menjadi kerajaan imam, bangsa yang kudus. Dan sebagaimana tugas imam adalah menuntun orang untuk beribadah kepada Alah, bangsa Israel harus menolong bangsa-bangsa lain di dunia untuk datang kepada Allah dalam peribadatan. Pada zaman ini, hal tersebut merupakan tugas kita juga. Kita dipanggil untuk beribadah, tetapi kita tidak boleh berhenti di titik itu. Karena peribadatan sejati adalah juga menolong orang di sekitar kita memperkembang hubungan mereka dengan Allah.
REAKSI
1. Bagaimana mungkin ada sebuah bangsa yang isinya semua imam, seperti halnya sebuah pesawat yang semuanya diisi oleh pilot?
2. Tugas keimamatan apa yang Allah berikan untuk kita lakukan?
3. Bangsa Israel beribadah dengan membawa persembahan. Dalam kesempatan-kesempatan apa anda akan memberikan persembahan syukur?
4. Bagaimana anda dapat menunjukkan dengan cara yang kasat mata kesetiaan dan dedikasi anda pada Allah?
____________
1. The Seventh-day Adventist Bible Commentary, vol. 1, p. 852.
2. Ibid., vol. 5, p. 331.
Gerald Christo II, Tokuyama, Japan
Senin 12 Oktober
Mengasihi, Menghormati, dan Menghargai
KESAKSIAN
Maz 95:6
“Melalui kesetiaan dalam memelihara hari Sabat, Allah merancang agar bangsa Israel senantiasa diingatkan terhadap tanggungjawab mereka kepada Tuhan, yang adalah Pencipta dan Penebus. Ketika manusia memelihara hari Sabat dalam roh yang benar, roh penyembahan berhala tidak dapat berkuasa dalam jiwa. Tetapi jika perintah ini diabaikan dan dianggap tidak lagi berlaku, sang Pencipta akan terlupakan, dan manusia akan menyembah ilah lain.”1 Ibadah sejati diikuti dengan dedikasi yang tak terbagi dan tanpa syarat kepada Allah. Ketika menetapkan Sabat, Allah bermaksud melangsungkan sebuah perjanjian yang tak dapat dirubah. Pada dasarnya, kita diciptakan untuk menjadi orang-orang yang rohani dan berdedikasi.
“Ketika menyembah lembu emas, bangsa Israel mengaku bahwa mereka menyembah Allah, sehingga ketika Harun meresmikan penyembahan berhala tersebut, Harus berkata, “Besok adalah hari raya bagi Tuhan.” Bangsa Israel meminta agar dapat menyembah Tuhan seperti bangsa Mesir menyembah dewa Osiris, dalam wujud patung. Tetapi Alah tidak dapat menerima penyembahan seperti itu. Meskipun dibawakan dalam nama Tuhan, dewa mataharilah, bukan Yehova, yang menjadi objek sembahan mereka sesungguhnya.”2
Ibadah tanpa dedikasi dapat menipu. Objek sembahan dalam ibadah dapat hilang, bahkan di antara umat pilihan, bangsa Israel. Bangsa Israel, dalam penyembahan yang salah arah berbicara melalui kata-kata dan tindakan mereka. Tindakan mereka merupakan indikasi dimana sebenarnya hati mereka berada.
“Bangsa Israel tahu bahwa patung sembahan mereka tidak berdaya untuk menyelamatkan mereka atau untuk menghancurkan musuh. Mereka tahu bahwa ibadah kafir bertolak belakang dengan akal sehat. Namun dengan perlahan, mereka telah meninggalkan Tuhan, mereka telah memanjakan diri dengan dosa sampai akhirnya persepsi moral mereka menjadi tumpul, dan membuat mereka dituntun oleh setan.”3
Tindakan mengasihi, menghormati, dan menghargai waktu bersama Tuhan yang sesungguhnya ditunjukkan dengan kuantitas dan kualitas waktu yang kita gunakan untuk “menyembah dewa-dewa kita,” atau hal-hal sekuler lain yang menghabiskan waktu kita. Ibadah sejati menuntun kita kepada Yesus daripada kepada diri kita sendiri. Kita memiliki banyak hal yang dapat kita harapkan ketika mata kita memandang pada Yesus.
REAKSI
1. Persembahan apa yang anda berikan pada Tuhan dalam bentuk waktu, uang atau talenta?
2. Bagaimana persembahan-persembahan itu membuat anda merasa mengenai Allah? Mengapa?
3. Berapa banyak bagian dari hidup kerohanian anda yang dipersembahkan untuk ibadah dan dedikasi?
_____________
1. Lift Him Up, p. 137.
2. Patriarchs and Prophets, p. 760.
3. The Signs of the Times, August 18, 1881.
Tamar Paul, Hiroshima, Japan, and Longburn, New Zealand
Selasa 13 Oktober
Datang ke Tutup Pendamaian
BUKTI
Kel. 25:22
Setelah melepaskan bangsa Israel dari perbudakan dan menuntun mereka ke Tanah Perjanjian seperti yang Ia telah janjikan, Allah memperkenalkan diriNya lebih jauh kepada mereka. Benar bahwa hadiratnya bersama dengan bangsa Israel setiap hari melalui tiang api dan tiang awan (Kel 13:22). Akan tetapi sekarang Allah siap untuk memberikan instruksi kepada bangsa Israel mengenai cara perbaktian.
Allah melakukan ini dengan cara berbicara kepada Musa untuk menginstruksikan bangsa Israel untuk “membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Kel 25:8). Harinya tiba dimana umat pilihan Tuhan – semua yang percaya pada Tuhan – dapat datang kepadaNya setiap saat, di setiap tempat. Tetapi sekarang ini, kaabah dibangun di tempat dimana Allah dapat tinggal dengan mereka.
Dengan ketepatan yang tinggi, Allah menginstruksikan Musa mengenai bagaimana kaabah harus dibangun. Di dalam Kemah Suci, dalam bilik yang Maha Suci, ditempatkan tabut perjanjian. Di atas tabut perjanjian adalah tutup pendamaian. Tutup pendamaian dibuat dari emas murni, dengan dua kerubium emas ditempatkan di masing-masing ujung saling berhadapan satu sama lain – dengan sayap mereka yang menudungi tutup pendamaian. Tutup pendamaian ini terletak di bagian atas dari tabut perjanjian yang berisi Sepuluh Hukum (Kel 25: 17-22). 1 Sam 4:4 berkata bahwa Tuhan bersemayam di atas para kerub. Lebih jauh lagi, pada Hari Raya Perdamaian yang diadakan setiap tahun, imam besar masuk ke hadirat Tuhan di hadapan tutup pendamaian untuk mengadakan perdamaian atas dosa-dosa bangsa itu (Im 16:1-22).
Dalam tabut terdapat loh batu sepuluh hukum (Kel 25:16), segomer manna (Kel 16:32-34), dan tongkat Harun (Bil 17:10), semuanya merupakan pengingat akan pemberontakan Israel dalam perjalanan mereka ke tanah perjanjian. Dalam masa dimana kita hidup, tutup pendamaian tidak lagi berada di atas tabut perjanjian. Tutup pendamaian dapat ditemui di sisi tempat tidur, di tempat mencuci piring, di dalam mobil, di gereja, di taman, dimana saja ada kerinduan untuk beribadah pada Allah, atau ketika seorang meminta pengampunan dosa. Allah selalu dekat. Darah Anak Domba – Yesus Kristus – memungkinkan semua ini.
REAKSI
1. Bagaimana isi dari tabut perjanjian – pengingat akan pemberontakan Israel – dapat menguatkan anda mengenai kerinduan Allah untuk mengampuni pelanggaran manusia?
2. Meskipun melihat langsung kehadiran Allah, bangsa Israel seringkali gagal imannya. Bagaimana umat Kristen zaman ini dapat menghindari hal demikian?
3. 1 Korintus 3:16 mengingatkan bahwa kita adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kita. Bagaimana hal ini menolong kita untuk setiap hari berfokus pada Allah?
Calene Williams, Yokosuka, Kanagawa, Japan
Rabu 14 Oktober
Ketika Anda Ingin Memberi Lebih Banyak
BAGAIMANA
Bil 8:21, 22; Yer. 29:11−13
Mempelajari mengenai pelayanan dalam Kemah Suci membantu kita mengerti bagaimana Allah rindu akan kesetiaan dan dedikasi kita. Hal ini juga menolong kita mengerti apa yang diminta dari kita untuk memiliki hubungan denganNya dan untuk mengerti pentingnya memiliki komitmen dengan Tuhan. Pada mulanya, hati bangsa Israel dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan, bahkan persembahan mereka melebihi apa yang diminta. Mereka hanya ingin untuk memberi kepada Tuhan (Kel 36:3-7)! Salib Kristus menunjukkan berapa banyak Tuhan ingin berikan pada kita. Bagaimana kita dapat mengaplikasikan konsep ini dalam kehidupan kita?
Ambil waktu untuk mengerti tujuan anda. Ini bukan hal yang mudah, namun jika kita minta Tuhan yang menuntun, mempersiapkan, dan menggunakan kita, Tuhan akan menunjukkan rencananya bagi kita (Yer 29:11-13). Luangkan beberapa saat setiap hari untuk memastikan tujuan hidup anda, bukan hanya untuk hari itu saja, tetapi seumur hidup.
Ambil waktu untuk mempertimbangkan komitmen anda. Apakah komitmen pada Tuhan adalah sesuatu yang bersifat santai, hanya satu kali seumur hidup? Atau itu adalah sesuatu yang berkesinambungan, dinamis, dan bertumbuh? Ketika kita mencari Tuhan dengan segenap hati (Yer 29:13), dedikasi kita akan diperdalam, kepercayaan kita pada Tuhan akan diperkuat, dan kerinduan kita untuk menyebarkan kabar keselamatan akan bertumbuh.
Ambil waktu untuk mengetahui kebaikan Tuhan. Jika anda sungguh-sungguh mencintai seseorang, anda akan ingin untuk memberi lebih banyak lagi. Ketika anda menggunakan waktu untuk mempertimbangkan dan mengalami hidup berkelimpahan yang Tuhan tawarkan (Yoh 10:10) dan hidup yang kekal (Yoh 3:16) – hati anda akan memproduksi rasa syukur kepada Tuhan.
Kesimpulannya adalah, kita harus menyediakan waktu bagi Tuhan. Ketika kita melakukannya, sukacita, kedamaian dan ketenangan akan menjadi bagian kita.
REAKSI
1. Apakah kita harus membiarkan perasaan/emosi berperan kita ketika kita mempertimbangkan tingkat komitmen kita kepada Tuhan?
2. Dalam cara bagaimana kita dapat menyelaraskan tujuan kita dengan tujuan dan misi dari gereja Tuhan (Mat 28:19, 20)?
3. Hubungan yang intim dan sehat tidak terjadi secara tiba-tiba. Kalau begitu bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita menyediakan cukup waktu bersama Tuhan?
Brad Warden, Hiroshima, Japan
Kutipan: Salib Kristus menunjukkan berapa banyak Tuhan ingin berikan pada kita.
Kamis 15 Oktober
Perbaktian: Sebuah Gaya Hidup
OPINI
Kol. 1:15, 16
Pada suatu saat seorang teman saya memuja seorang penyanyi dari kelompok rock yang sedang terkenal. Dia berpakaian seperti penyanyi tersebut, menata rambutnya seperti penyanyi tersebut, dan bahkan memakai nama keluarga penyanyi tersebut. Mengapa sepertinya lebih mudah untuk memuja seorang manusia yang penuh cacat, tetapi sukar untuk membaktikan diri kita bagi Seseorang yang merupakan satu-satunya yang layak dipuja?
Allah memberikan instruksi yang spesifik mengenai bagaimana Ia ingin Kemah Suci dan tata cara perbaktiannya dilaksanakan. Instruksi yang detail tersebut adalah untuk menunjukkan kepada bangsa Israel dan bagi kita akan pentingnya dan khususnya perbaktian pada Allah.
Buku Bilangan menceritakan mengenai sekelompok orang yang dalam perjalanan, bukan hanya untuk mencari Tuhan, tetapi untuk mencari jati diri mereka sendiri. Kemah Suci memberi mereka rasa kekeluargaan dan rasa memiliki. Melalui lambang-lambang dalam Kemah Suci, mereka dapat belajar menjadi jenis keluarga yang Tuhan inginkan.
Perbaktian kita pada zaman ini tidak hanya dalam berkumpul bersama dan menyanyi lagu pujian. Perbaktian kita juga harus merupakan sesuatu yang bersifat pribadi. Perbaktian kita harus mencerminkan bahwa segenap aspek kehidupan kita adalah milik Tuhan. Kita harus menghidupkan kehidupan yang merupakan respons yang berkesinambungan terhadap Allah dan segala sesuatu yang Ia telah berikan bagi kita. Dengan demikian kita memiliki gaya hidup yang senantiasa berbakti kepada Allah.
Sangat disayangkan oleh karena banyak dari kita telah belajar untuk membagi-bagi hidup kita sedemikian rupa dimana perbakitan hanya masuk kedalam bagian kehidupan tertentu, terpisah dari aspek kehidupan lainnya. Kolose 1:16 menulis, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Allah tidak bermaksud agar sebagian dari kehidupan kita bersifat duniawi dan sebagian lagi bersifat religius. Ia menciptakan semua dalam hidup kita bagi kemuliaan-Nya. Kita seringkali lupa bahwa Allahlah alasan mengapa kita ada, dan bahwa Ia peduli dengan setiap aspek dari kehidupan kita. Kita harus senantiasa mengingat bahwa segala sesuatu dalam hidup kita berasal dari Tuhan. Dari sinilah ibadah yang sejati dimulai.
REAKSI
1. Apakah menghidupkan kehidupan yang beribadah secara berkesinambungan berarti bahwa tidak ada lagi tempat untuk aktivitas duniawi? Jelaskan.
2. Haruskah ada pembedaan antara apa itu sekuler dan apa itu religius? Jelaskan
3. Bagaimana kita memastikan bahwa berada dalam kehidupan yang beribadah secara berkesinambungan bukan berarti mengucilkan diri dari lingkungan sekitar kita?
Naphirisa Christo, Tokuyama, Japan
Jumat 16 Oktober
Perwakilan Raja
PENDALAMAN
Maz. 63:1–8; Maz 99
SIMPULKAN
Dalam cerita fiktif anak-anak, Bintang Kuning: Legenda Raja Kristen X dari Denmark, Raja Kristen memberontak terhadap rezim Nazi dalam usahanya untuk membedakan orang Yahudi dari penduduk Denmark lain dengan cara mengenakan sebuah bintang pada bajunya. Raja ini mengenakan sebuah bintang pada bajunya sendiri, dengan demikian memberi inspirasi kepada bangsanya untuk melakukan hal yang sama.
Bagaimana orang-orang mengetahui bahwa kita adalah milik Yesus? Kita memiliki kesempatan untuk membaktikan waktu dan talenta kita setiap hari bagi Raja Segala Raja. Dengan demikian karakter kita akan menjadi serupa dengan karakter Yesus. Ketika kita melayani, menghormati, mensyukuri, dan menuruti Allah, orang lain akan terinspirasi untuk mengenal satu-satunya Allah yang benar, Terang Dunia, dan orang lain bisa mengikut jejak kita untuk berbakti pada Allah. Peribadatan kita dapat menjadi saksi bagi orang di sekitar kita.
PERTIMBANGKAN
■ Melihat gambar orang-orang dan hal-hal yang merupakan ciptaan Allah. Gunakan waktu untuk bersyukur atas berkat-berkatNya.
■ Bandingkan tanaman yang sehat dengan tanaman yang mati. Bayangkan kehidupan dalam suasana yang sempurna.
■ Temukan sebuah tempat terbuka dimana anda dapat menghafal atau membaca Mazmur 23.
■ Susun sebuah karya musik dengan nada yang megah. Mainkan musik itu bagi orang lain dan perhatikan bagaimana musik itu mempengaruhi orang tersebut.
■ Berjalan atau naik gunung dan puji nama Tuhan atas segala yang anda lihat dan dengar yang menunjukkan kebaikan Tuhan.
■ Rayakan hari ulang tahun atau baptisan seorang teman. Minta teman tersebut untuk membagi kesaksian dari pengalaman hidupnya.
■ Catat perubahan dari musim ke musim. Perhatikan pertumbuhan tanaman dan binatang dan lihat pekerjaan tangan Tuhan dengan lebih detail.
HUBUNGKAN
Chris Blake, Searching for a God to Love.
“Sanctuary,”Praise Time, Nampa, ID: Pacific Press® Publishing Association, 2001), p. 89.
Romans 12:1, 2.
Kelly Harden, Los Alamos, New Mexico
Saturday, 10 October 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment