PERBAKTIAN
Pelajaran ke-TIGA Kwartal 3,
Perbaktian dan
Sabat
9—16 Juli 2011
Diterjemahkan Oleh: Ezra dan Arleen Ibrahim
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang
“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!” (Maz. 95:6, 7).
Sabbath
9 Juli
Kel. 31:13; Maz. 95:6, 7; Yeh. 20:12 Pendahuluan
Inti Perbaktian
Saya ingat menyanyi di Sekolah Sabat: “Sabat hari yang senang… yang senang. Aku suka Sabat.” Semasa kecil, Saya gembira karena tidak ada tugas atau pekerjaan rumah yang harus dilakukan pada hari Sabat. Pada hari Sabat saya mengenakan pakaian terbaik dan makan makanan yang terbaik. Saat saya besar, Saya menyadari bahwa Sabat adalah hari yang senang karena Seseorang telah menebus saya dari dosa juga menciptakan dunia untuk tempat tinggal saya. Adalah suatu kesukaan mendengarkan saluran puji-pujian dan khotbah ketika matahari terbenam pada hari Jumat sore, tetapi kita bisa saja memperoleh semua keuntungan ini tetapi tidak benar-benar berbakti. Kita harus kembali kepada inti perbaktian agar mengerti bagi siapa semua ini. Semua ini hanyalah untuk Yesus! Baca Mazmur 95:6,7.
Memelihara Sabat lebih dari sekedar hadir di gereja.
Kita hanya bisa menjadikan Yesus sebagai pusat perbaktian kita ketika kita benar-benar berserah padaNya melalui penurutan dan menyatakan kepada dunia bahwa kita setia kepada Pencipta kita. Perbaktian dan pemeliharaan Sabat kita adalah perlambang penebusan dalam Dia. Perbaktian kita adalah tanda pengudusan kita, dan tanda penurutan kepada Pencipta kita. Keluaran 31:13 dan Yehezkiel 20:12 mengingatkan kita bahwa Sabat adalah tanda antara Tuhan dan umat-Nya. Ia melembagakan Sabat bagi semua orang sebagai peringatan penciptaan; dan Ia mengharuskan agar kita memelihara Sabat hari-Ketujuh sebagai hari perbaktian dan hari perhentian. Sabat haruslah sebuah hari persekutuan senang bersama Dia dan satu sama lain.
Memelihara Sabat lebih dari sekedar hadir di gereja. Hal ini adalah tentang merenungkan hubungan pribadi Anda dengan Kristus. Seringkali kita menggunakan Sabat untuk membedakan Advent Hari-Ketujuh dari denominasi lain dan maka itu gagal menghubungkan Sabat dengan perbaktian sejati dan alasan kenapa kita memelihara kekudusan hari ketujuh. Mengapa tidak menunjukkan pada dunia alasan yang benar dalam menyisihkan 24 jam hanya untuk Kristus? Mungkin bila kita lebih menunjukkan sukacita dalam pemeliharaan Sabat dan inti perbaktian sejati kepada tetangga dan teman-teman kita, mereka juga mungkin ingin mengambil bagian dalam sukacita yang telah kita temukan dalam Kristus.
Ketika anda belajar minggu ini, renungkan hal-hal berikut ini: (1) Mengapa anda memelihara Sabat? (2) Perubahan apakah yang dapat anda buat dalam diri anda agar benar-benar menghormati Kristus pada hari kudus-Nya? Dan (3) Bagaimanakah anda dapat menolong orang lain agar dapat lebih sejalan dalam bentuk perbaktian yang diharapkan dari orang-orang yang telah ditebus?
Helyne Frederick, Mt. Rose, Grenada
Minggu
10 Juli
Logos
Mengakui Sumber Kita Kel. 20:4–11; Ul. 5:15; Yes. 44:95–20; Mat. 11:23–30; Rom. 6:16–23
Baca Wahyu 14:7 dan Mazmur 100:3. Hubungan kita dengan Tuhan berakar dalam kenyataan bahwa Dia menciptakan kita, tetapi itu bukanlah keseluruhan dari cerita manusia. Semua ayat-ayat Alkitab kita minggu ini mengingatkan kita kepada sumber kita: Pencipta kita Tuhan, yang memiliki kekuasaan tertinggi atas kita dan pantas menerima perbaktian kita. Ayat-ayat pada hari ini mengungkapkan naskah lengkap hidup kita: sumber kita, jalan, ancaman terbesar bagi kita, dan jalan keluarnya.
Sumber Kita (Kel. 20:11)
Perintah Sabat dalam Keluaran membawa kita kembali ke permulaan kita ketika Pencipta kita bekerja atas bumi dan kehidupan terbentuk dari sana. “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (Kel. 20:11, IndTB). Dalam Kejadian, firman Allah itu membentuk. Firmannya menjadi kenyataan—dan segala kehidupan muncul dari pikiran kreatif-Nya. "Jadilah terang. . . Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat. . . Hendaklah tanah menumbuhkan rerumputan “Kita, juga muncul dari pikiran dan hati Tuhan, yang mengambil tanah liat dan tulang rusuk, membentuk, dan membentuk laki-laki dan perempuan (Kej 1:26, 27). Kita ada karena Tuhan menciptakan kita, dan karena Dia menciptakan kita menurut gambar-rupaNya, kita adalah kepunyaanNya.
Sabat bersaksi bahwa kita bisa beristirahat dalam Tuhan yang menciptakan kita dan terus menopang kita dan terus merawat seluruh keberadaan kita
Jalan (Ul. 5:15)
Kita adalah kepunyaan Tuhan, namun Dia tidak mengikat kita di pintu gerbang Eden. Jika kamera selang waktu kosmos mencatat sejarah kita, maka kamera itu akan menunjukkan umat manusia bergerak dari Eden ke tepi sungai dan dataran Mesopotamia dan Afrika Timur, selatan ke benua Afrika, timur ke Asia, dan utara di luar Mediterania (Kejadian 10) . Dari Taman itu, kita membawa keluar segala kreativitas dan kuasa yang dianugrahi Allah, tetapi kita juga membawa keluar rasa bersalah, rasa tidak aman, ketakutan, dan kemampuan berbuat kekerasan. Kesenian dan ilmu pengetahuan bertumbuh berdampingan dengan pembunuhan, kehancuran, dan perbudakan—bahkan dalam peradaban kita yang paling maju.
Narasi Ulangan mengingatkan kita bahwa meskipun kita lahir dari tangan Tuhan kita menjadi para pelanggar kreatif dan budak-budak berbakat. “ ‘Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.’ ” (Ulangan 5:15, IndTB). Bagi orang Ibrani yang mendengar naskah ini, hari Sabat memberikan kebebasan dari kerja paksa dan perendahan moral manusia yang menyertainya. Sebagai tanda mingguan, Sabat mengingatkan mereka akan Penebus Ilahi yang tidak hanya perduli atas kekudusan tata cara keagamaan mereka, tapi juga akan kebebasan badani mereka. “Ingat bahwa engkau dahulu budak” bukanlah jalan pintas untuk membuka luka lama atau mendendam. Sebaliknya, perintah itu memberikan umat Ibrani alasan historis untuk berhenti sebentar, mengenang Sumber akan kebebasan, dan tetap memilih jalan bebas dari penindasan badani atau pelecehan rohani (Yesaya 58, Roma 6).
Ancaman Terbesar Kita—Dan Jalan Keluarnya(Yes. 44:95–20; 58)
Ketika Yesaya menulis dalam pasal 58 tentang jalan singkat yang Tuhan telah pilih bagi umat-Nya, Dia menampilkan hari Sabat sebagai saksi melawan penindasan dan sebagai berkat bagi orang-orang yang menghormati Allah dan sesama manusia. Dalam Yesaya 44, nabi itu juga menggambarkan ancaman terbesar bagi kebebasan, kekudusan, dan kelakuan baik: penyembahan berhala. Penyembahan berhala lebih dari menyembah sesuatu yang dibuat oleh tangan manusia atau makhluk lain. Seseorang tidak dapat menyembah sesuatu sebagai tuhan tanpa mencoba untuk menggantikan Allah sebagai Pencipta, dan Yesaya mengkritik tajam semua upaya untuk melakukan itu. Mencoba untuk menggantikan Tuhan pastilah salah, tetapi seperti ditunjukan Yesaya, juga adalah kebodohan karena hal itu tidak mungkin.
Allah adalah yang terdahulu dan kemudian. Tidak ada Allah selain dari pada-Ku (Yesaya 44:6–9). Karena Dia tidak tersaingi, dan tidak ada dalam penciptaan yang memiliki Sumber lain, Yang Mahakuasa tidak dapat digantikan. Yesaya mengolok-olok pengrajin yang memotong kayu menjadi dua bagian, membentuk berhala dari satu potong, dan menggunakan bagian lain untuk panas atau untuk membakar roti. Adalah suatu kebodohan untuk memuja apapun yang Dia atau kita bentuk. Baik kayu maupun logam tidak dapat bersaing dengan Tuhan. Hanya Tuhan menciptakan, dan hanya Tuhan menyelamatkan. Hanya Dia yang patut disembah.
Melalui penyembuhan dan pengajaran, Yesus menunjukkan kebebasan penuh yang diberikan Tuhan (Matius 11:23-30). Apapun situasi kita, kita diciptakan secara utuh melalui Dia. “ ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.’ ”(ayat 28-30, IndTB). Sabat bersaksi bahwa kita bisa beristirahat dalam Tuhan yang menciptakan kita dan terus menopang kita dan terus merawat seluruh keberadaan kita. Allah kita membentuk kita, memanggil keluar dari penindasan, dan menantang kita untuk beristirahat dan berjalan dalam tangan kasihNya. Jiwa kita penuh, tetapi hanya di dalam Dia.
TANGGAPAN
1. PAULUS MENULIS BAHWA kepada siapa kita menyerahkan diri kita ia adalah tuan kita (Rom. 6:16). DALAM JENIS perbudakan apakah ORANG KRISTEN KONTEMPORER jatuh? BAGAIMANA SABBAT memberikan JAWABAN akan BENTUK perbudakan modern ini?
2. baca ulang yesaya 44 dan 58. hubungan apakah yang anda lihat dalam pasal-pasal ini antara penyembahan berhala dan penindasan?
Keisha McKenzie, Lubbock, Texas, U.S.A.
Senin
11 Juli
Yes. 66:23 Kesaksian
Sabat: Tanda Kesetiaan
Ellen White mengingatkan kita bahwa Sabat memalingkan pikiran kita kepada alam, dan membawa kita ke dalam persekutuan bersama Sang Pencipta. “Dalam kicauan burung-burung, hembusan pohon-pohon, dan musik dari laut, kita masih bisa mendengar suara-Nya yang berbicara kepada Adam di Eden pada hari yang sejuk. Dan pada saat kita menyaksikan kuasa-Nya di alam kita menemukan kenyamanan, karena firman yang menciptakan segala sesuatu juga memberikan kehidupan kepada jiwa. Dia ‘yang memerintahkan terang untuk bersinar keluar dari kegelapan, telah bersinar dalam hati kita, untuk memberikan terang pengetahuan kemuliaan Allah di wajah Yesus Kristus.’ 2 Kor. 4:6.” 1
Sabath “adalah titik kebenaran yang khususnya dipertentangkan.”
Allah kita memilki tujuan ketika Ia menciptakan dunia ini. Setelah itu, Ia menyisihkan sebuah hari bagi kita untuk beristirahat bersama-Nya, untuk menikmati alam, dan pada saat yang bersamaan mengakui kuasa-Nya. Kata White mengenai hari Sabat, “Selama langit dan bumi ada, hari Sabat akan terus sebagai tanda kekuasaan Sang Pencipta. Dan ketika Eden akan bertumbuh di bumi lagi, hari istirahat kudus Allah akan dikuduskan oleh semua orang di bawah matahari. ‘Sabat berganti Sabat,’ seluruh penduduk dunia baru yang telah diberikan kemulian akan datang “untuk menyembah di hadapan-Ku, firman Tuhan.’ Mat. 5:18; Yes. 66:23.”2
Hari Sabat juga merupakan tanda kesetiaan kita kepada-Nya, “karena itu adalah titik kebenaran yang khususnya dipertentangkan. Ketika ujian akhir dilaksanakan untuk ditangguhkan ke atas manusia, maka garis pembedaan akan ditarik antara mereka yang melayani Allah dan mereka yang tidak melayani Dia. Sementara ketaatan dari Sabat palsu sesuai dengan hukum negara, bertentangan dengan perintah keempat, akan menjadi pengakuan kesetiaan kepada kekuasaan yang bertentangan dengan Allah, pemeliharaan hari Sabat yang benar, dalam ketaatan terhadap hukum Allah , adalah bukti kesetiaan kepada Sang Pencipta. Sementara di satu sisi, dengan menerima tanda untuk tunduk pada kekuasaan duniawi, menerima tanda binatang itu, disisi lain memilih tanda setia kepada pemerintahan ilahi, menerima meterai Allah.” 3
TANGGAPAN
Bagaimana Anda bisa menyatakan kesetiaan Anda kepada Kristus saat Anda berbakti pada hari Sabat? Apa yang harus Anda lakukan untuk mempersiapkan saat ketika kesetiaan Anda kepada Allah akan diuji karena Anda memelihara Sabat?
____________
1. The Desire of Ages, pp. 281, 282.
2. Ibid., p. 283
3. The Great Controversy, p. 605.
Shirley Roberts, Mt. Rose, St. Patrick’s, Grenada
Selasa
12 Juli
Bukti
Siapa Yang Anda Hormati Kel. 20:11; Rom. 6:16
Dari Hari Kasih Sayang hingga Hari Ibu, dari Oscar ke Grammy dan hadiah Nobel Perdamaian, kita memiliki banyak cara untuk mengekspresikan penghargaan kita kepada orang-orang penting. Penganugerahan beberapa penghargaan ini didasarkan pada kriteria tertentu. Oleh karena itu, umumnya ada beberapa kontroversi saat keputusan akhir diumumkan. Alkitab mengacu pada sejumlah panggilan kehormatan, seperti raja, imam, pahlawan gagah berani, dan tuan. Tapi sama halnya seperti dengan kehormatan pada saat ini, orang yang menerimanya tidak selalu adalah orang yang pantas.
Allah yang benar adalah Allah yang bertindak.
Dalam Wahyu 14:7, malaikat menasihati dunia untuk “ ‘Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.’ ”(IndTB). Ayat ini hanya memberikan satu kriteria agar layak menerima kemuliaan dan peribadatan: “Dia yang menjadikan’. ” Sementara Alkitab tidak berusaha membuktikan keberadaan Tuhan, ayat ini memberikan sejumlah perbandingan antara Dia yang adalah Allah dan siapa atau apa yang tidak. Salah satu perbedaan utama antara Allah yang benar dan berhala adalah Allah yang benar adalah Allah yang bertindak. Misalnya, dalam konteks hari Sabat, kita harus mengingat hari Sabat dan, dengan perluasan, kepada penciptanya, karena Yahweh “menciptakan,” “berhenti” pada, “memberkati,” dan menguduskan hari itu (Kel. 20:11) . Dalam Ulangan 5:15, Israel diperintahkan untuk “mengingat” karena TUHAN “membawa” mereka keluar dari perbudakan dan “memerintahkan” mereka. Di sisi lain, kita mendapati bahwa jauh daripada sesuatu yang aktif yang memberikan kebebasan, daya kreatif, dewa-dewa palsu hanyalah ciptaan pikiran manusia. Baca Yesaya 44.
Sementara keputusan harus dibuat tentang siapa penerima Oskar aktor atau artis terbaik hal ini tidak akan mempengaruhi dalam cara apapun, pilihan kita kepada siapa kita harus menyembah dan berikan kemuliaan memiliki akibat yang kekal.
TANGGAPAN
1.Menurut Roma 6:16, betapa pentingkah keputusan yang kita ambil? Dari semua pilihan yang kita buat setiap hari, tidak ada yang lebih penting daripada pilihan kita dalam memilih tuhan. Tuhan kita bisa saja tidak terbuat dari kayu, tetapi kita semua memiliki hal-hal tertentu yang kita perbolehkan untuk mengendalikan kehidupan kita. Apa atau siapa tuhan-tuhan ini bagi anda?
2. Menurut Matius 11:28–30, apakah yang ditawarkan oleh Tuhan sebagai ganti beban-beban atau tuhan-tuhan duniawi anda?
Yogeld André, Lubbock, Texas, U.S.A.
Rabu
13 Juli
Kel. 15:2; Maz. 48:1 Bagaimana
“Keindahan Kekudusan”
Perbaktian Sabat tidaklah harus sebuah ritual belaka. Perbaktian ini harus mencerminkan hubungan kita dengan Allah. Dia adalah Pencipta kita dan “sangat terpuji” (Maz. 48:1, 96:4, 145:3). Pada hari-hari ketika semuanya berjalan lancar dan langit perasaan kita bersinar cerah, perbaktian mungkin saja adalah suatu pujian dan syukur. Namun, pada hari-hari ketika hujan badai menimpa kehidupan kita, perbaktian bisa jadi berupa seruan kepada Tuhan melalui doa dan permohonan. Tuhan menginginkan kita untuk berbicara kepada-Nya sama seperti kita berbicara dengan teman-teman kita. Dia ingin kita curahkan padaNya pikiran kita yang terdalam, kebutuhan kita yang mendalam, tantangan kita, kelemahan kita, dan sukacita kita.
Sabat harusnya memberikan kesegaran dan semangat dalam menghadapi minggu yang baru
Allah ingin kebaktian Sabat khususnya adalah sebuah pengalaman yang bermakna. Sabat harusnya memberikan kesegaran dan semangat dalam menghadapi minggu yang baru. Berikut adalah beberapa langkah yang membantu kita berbakti sedemikian rupa
Bersikaplah jujur dalam perbaktian Anda. Jika Anda mengalami minggu yang sulit, Tuhan ingin mendengar semua mengenai hal itu. Sementara memang benar Dia tahu segalanya, Dia ingin kita katakan padaNya semua tentang hal itu. Daud menulis, “Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku. ” (Maz. 57:2, IndTB). Kita bisa melakukan hal yang sama!
Selalu sertakan pujian dan puji syukur dalam kebaktian Anda. Terlepas dari apa yang sedang terjadi dalam hidup kita, faktanya bahwa kita memiliki nafas dan jalan kepada Bapa kita adalah alasan yang cukup untuk memuji-Nya, dan apa yang kita temukan adalah bahwa dalam memuji Dia roh kita diangkat. “TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia.” (Kel. 15:02, IndTB).
Sertakan variasi dalam kebaktian. Kita seharusnya tidak hanya menyertakan doa tetapi juga lagu-lagu dan bacaan yang memberikan inspirasi. Variasi membuat kita tidak merasa bosan dalam perjalanan rohani kita dan membantu kita untuk memperhatikan apa yang Tuhan sedang coba katakan kepada kita melalui perbaktian kita kepada-Nya. Sebuah doa pendek yang dimulai dengan permintaan kepada Allah untuk memimpin arah kebaktian adalah ide yang baik. Biarkan Dia memimpin, dan kita selalu akan kagum dengan apa yang Dia lakukan.
TANGGAPAN
1. Apakah yang baik mengenai tata-cara dalam kebaktian? Bagaimana tata cara tersebut dapat menghalangi sesorang dalam berbakti?
2. Bagaimanakah cara perbaktian yang ideal pada hari Sabat?
Arlette Wildman, Calivigny, St. George’s, Grenada
Kamis
14 Juli
Pendapat
Melampui Tradisi Luk 4:16
Imamat 23:3 menggambarkan peribadatan Sabat sebagai “hari pertemuan kudus” (NIV). Bagi kebanyakan kita, peribadatan hari Sabat hanyalah berarti hadir di Sekolah Sabat atau mendengarkan khotbah, lalu kembali ke rutinitas pribadi kita. Dalam gereja kita, adalah sebuah kebiasaan bagi anggota gereja untuk saling menyapa. Selain itu, kita memuji Tuhan melalui musik, doa, dan khotbah. Namun, saya percaya bahwa perbaktian Sabat jauh melampaui tradisi-tradisi ini. Pertimbangkan hal ini: “Ia [Yesus] datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat” (Lukas 4:16 IndTB). Perlu dicatat bahwa tidak hanya kebiasaan (tradisi) Yesus’ untuk berbakti di rumah ibadat pada hari Sabat, Ia juga menantang tradisi para pemimpin Yahudi tentang cara peribadatan itu. Dia sering menunjukkan tentang berbuat baik pada hari Sabat. Demikian juga halnya, kita harus mengikuti teladan Yesus. Baca ayat 17–28.
Tidaklah perlu ada cara rutin peribadatan Sabat.
Sebagai bagian dari kebaktian Sabat mereka, adalah kebiasaan para rasul untuk menghadiri pertemuan rumah ibadah dan berbicara. Kisah Para Rasul 13:14, 42, 44, dan 17:2 dan 18:4 menunjukkan kebiasaan ini. Khususnya, adalah kebiasaan Paulus untuk berbicara di rumah peribadatan orang Yahudi pada hari Sabat. Bila kita melihat lebih jauh pada contoh-contoh tersebut mengenai peribadatan Yesus dan para rasul, kita melihat peribadatan lebih dari sekedar pergi ke rumah-rumah ibadat. Hal ini adalah juga tentang menjangkau dunia, menyembuhkan orang sakit, merawat mereka yang membutuhkan, dan menghabiskan waktu di alam untuk mengamati ciptaan Allah.
Tidaklah perlu ada cara rutin dalam perbaktian Sabat. Namun, kita harus bersatu dalam satu misi, yaitu tidak pernah kehilangan tujuan bahwa kita sedang menyembah Pencipta kita dan memimpin orang lain kepada-Nya. Kita perlu mengambil langkah-langkah yang sama seperti para rasul: pergi keluar di alam, menemukan tempat yang tenang untuk berdoa (Kis 16:13), dan membagikan kabar baik Kristus pada hari Sabat. Menjadi peka dan penuh doa membolehkan kita membawa perbaktian kita kepada mereka yang memerlukan, dengan itu menyebarkan kabar baik keselamatan. Terkadang, kita dipanggil untuk melepaskan tradisi-tradisi yang telah kita buat dan mengikuti contoh-contoh dalam perbaktian Sabat yang ditetapkan bagi kita oleh Yesus dan rasul-Nya.
TANGGAPAN
1. Apa yang anda anggap penting dalam peribadatan Sabat?
2. Bentuk-bentuk peribadatan Sabat apakah yang ada dalam Alkitab?
3. Buat daftar cara-cara kreatif dimana anda dapat membuat Sabat sebuah waktu untuk bersaksi.
Raul Peters, Fort Worth, Texas, U.S.A.
Jum’at
15 Juli
Eksplorasi
Perbaktian Yang Berarti Kej. 2:1–3
Kel. 20: 8-11
SIMPULAN
Perbaktian Sabat dimaksudkan untuk menjadi sebuah perayaan sukacita yang mengakui ciptaan Tuhan, dan anugerah penebusan-Nya. Ini haruslah menjadi saksi kepada orang lain dan menjadi berkat bagi setiap mereka yang datang berbakti. Perbaktian Sabat harus menunjukkan penyerahan sepenuh kepada Firman Tuhan dan pengakuan kehadiran-Nya yang nyata di sekitar kita. Perbaktian harus mencerminkan Sabat sebagai tanda antara Allah dan manusia bahwa kita setia kepada-Nya. Dia ingin kita untuk menyampaikan ketakutan dan kegembiraan kita kepada-Nya dan mencari cara untuk membuat perbaktian berarti bagi semua orang. Sabat juga merupakan waktu untuk melakukan hal baik. Perbaktian Sabat akan diteruskan dalam surga dan Bumi yang Baru.
LAKUKAN
• Buat sketsa berbeda-beda muka, termasuk muka anda (Afrika, Amerika, Karibia, Inggris, Eskimo, India), dan bayangkan hanya “orang-orang” inilah anggota gereja anda. Buat daftar hal-hal yang akan anda lakukan untuk membuat perbaktian Sabat menyenangkan bagi mereka.
• Ingat ulang sidang General Conference di Atlanta, Georgia, Amerika. Orang-orang dari berbagai negara menceritakan kebahagian yang mereka alami pada setiap hari Sabat dan Sabat sore. Gunakan pengalaman ini untuk membayangkan pemeliharaan Sabat di surga.
• Renungkan hukum Sabat dalam Keluaran 20:8–11 dan Kejadian 2:1–3. Bagaimana hukum ini menggambarkan hubungan kita dengan Tuhan melalui perbaktian?
• Urutkan tujuh gelas minum yang sama atau tabung tes berturut-turut. Berikan Nomor 1 sampai 7 dan setengah mengisinya dengan air minum. Tambahkan gula ke salah satu dari ketujuh gelas itu dan aduk. Atur ulang gelas tabung reaksi secara acak. Jelaskan isi dari gelas ketujuh dihadapan kelas dan minta seseorang untuk menemukannya. Gunakan percobaan ini untuk menjelaskan keunikan hari Sabat.
• Anggap pintu masuk ke ruang makan untuk potluck gereja yang terkenal hanya 1 meter tingginya. Semua makanan harus dimakan di ruangan itu. Sebuah kelompok yang datang, yang percaya pada Tuhan, memiliki aturan dalam budaya mereka yang mengatakan tidak sopan membungkuk untuk masuk ke dalam ruangan. Jika ruangan merupakan berkat Sabat Tuhan, bagaimana anda akan membantu kelompok tersebut dalam memahami pentingnya menerima bagian berkat mereka?
HUBUNGKAN
Christ’s Objective lessons, pp. 25–27; Patriarchs and Prophets, pp. 48–50.
Walton J. Brown, Home At Last, pp. 83–86.
Albert A. C. Waite, Berkshire, United Kingdom
Friday, 8 July 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment