PERBAKTIAN
Pelajaran ke-DUA Kwartal 3,
Perbaktian dan Keluaran:
Mengerti Siapa Allah itu
2—9 Juli 2011
Diterjemahkan Oleh: Glenn Simanjuntak
Editor: Daniel Saputra dan Yonata Bastian
Sirkulasi: Janette Sepang
"Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Kel. 20:2, 3, LAI)
Sabbath
2 Juli
Keluaran 20:2, 3 Pendahuluan
Satu-satunya atau Allah Diantara Para Illah lain
Kata seorang atau satu-satunya sering kali digunakan dengan tidak benar, walaupun saya bukanlah seorang profesor bahsa Inggris. Saya tahu kalau yang satu digunakan sebelum satu kata benda yang jumlah dapat dihitung satu, sedangkan yang lain digunak untuk kata benda yang memang hanya tidak ada duanya. Contohnya, ketika seorang anak muda bertemu dengan seorang wanita yang ia mau menghabis hidup seumur hidupnya, ia biasa menyebut wanita tersebut sebagai “the one/ wanita satu-satunya.” Bila ia menyebut wanita tersebut sebagai seseorang yang tidak eklusif, ia menyebutnya seperti “ia adalah seorang wanita special.” Pria tersebut akan menunjukkan bahwa adalah lebih dari satu wanita yang ia sukai. Bayangkan masalah apa saja yang dapat dialaminya!
Mengerti akan siapa Allah itu sangat penting agar tahu bagaimana kita menyembahNya
Ketika orang Israel meninggalkan Mesir, mereka tidak berbakti kepada Tuhan sebagaimana mestinya. Bahkan banyak di antara mereka yang sudah lupa, oleh karena lama waktunya mereka tinggal di Mesir, di mana banyak allah lain yang disembah. Kekhususan atas satu-satunya Tuhan telah hilang. Oleh karena itu, satu proses perlu terjadi untu Tuhan kembali memperkenalkan diriNya. Kita saksikan mulainya proses ini, bersama dengan penderitaan yang ada, di dalam buku Keluaran.
Salah satu konsep yang Allah tunjukkan kepada pikiran orang Israel adalah Ialah satu-satunya Allah. Ia melakukan ini dnegan menunjukkan akan bagaimana Ia jauh lebih beda dari siapa saja yang pernah menyatakan dirinya sebagai allah.
Hari ini, masih banyak orang, obyek, dan ide yang mengambil pikiran kita untuk menjadi yang paling utama dalam kehidupan kita, yang dengan mudah menyatakan dirinya sebagai seorang allah. Mengerti akan siapa Tuhan itu,sangat penting agar tahu bagaimana kita memujiNya. Beberapa mengatakan Ia adalah satu tempat. Yang lain menyatakan adalah satu pengalaman atau perasaan. “Di dalam hati setiap agama ada satu komitmen yang tidak dapat dikompromi untuk menggambarkan akan siapa Allah itu dan tujuan dari hidup.”*
Minggu ini kita akan melihat kembali pengalaman orang Israel dan bagaimana interaksi mereka dengan Allah dapat menujukkan kita akan Allah yang kita sembah dan puji.
____________
*Ravi Zacharias, Jesus Among Other Gods/Yesus di Antara allah Lain
Adam Ramdin, Nottingham, England
.
Minggu
3 Juli
Bukti
Dimensi Allah Ulangan 29:29
Yoh. 4:23
Judul minggu ini luar biasa. Bagaimana bisa kita mengerti siapa Allah itu ketika Alkitab menunjukkan bahwa keadaan Ia sepenuhnya ada di dalam surga, di mana tidak ada dosa. Allah itu jauh di atas kita dan di luar pengetahuan kita, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada yang dapat kita pelajari tentang Dia kecuali Ia memilih untuk menunjukkan diriNya pada kita.
Dalam buku Mere Christianity/Cukup Kristen, C.S. Lewis menjelaskan akan keadaan Allah yang “tidak dapat dijelaskan” dengan menyatakan tentang dimensi Allah. Seperti kita hidup dalam dunia dua dimensi – dapat mengerti akan segala sesuatu mulai dari satu garis ke bujursangkar dalam satu kertas – di mana Allah diam dalam dunia tiga dimensi, kenyataan yang lebih kompleks. Bujursangkar kita sama dengan kotakNya. Kita hanya dapat melihat satu sisi, tetapi kenyataannya ada enam sisi. Dengan “ketidakjelasan”Nya, apakah perlu untuk mengerti siapa Allah supaya bisa menyembahNya?
Apakah perlu untuk mengerti siapa Allah supaya bisa menyembahNya?
Ketika Paulus berkunjung ke Athena, hal ini menjadi lebih jelas kepadanya ketika melihat penduduk Athena memuji berbagai macam tuhan, paling sedikit salah satunya mereka tidak tahu sama sekali (Kisah 17:23). Beberapa ilmuwan, seperti Einstein2, percaya akan satu kekuatan khusus yang dapat disebut sebagai “tuhan” yang berada di belakang semua hal-hal yang terjadi di dunia ini. Mungkin engkau mempunya beberapa teman yang percaya terhadap satu “tuhan” dalam bentuk tertentu dan berdoa kepadanya walaupun tidak ada bentuk nyatan kecuali kepercayaannya masing-masing. Oleh karena itu, bisa saja beribadah kepada sesuatu yang kita tidak mengerti. Masalahnya di sini adalah Allah kita mau untuk dapat dimengerti (Yohanes 4:22, 23).
Pengalaman dalam buku Keluaran berisi dengan kehadiran Allah sendiri, yang nyata terdapat dalam sepuluh hokum. Ia mendengar tangisan orang Israel. Ia melepaskan orang Israel dari perbudakan. Ia menunjukkan mereka kekuatanNya di Laut Merah dan di Sinai, Ia menunjukkan arti dari kerajaanNya. Ia dapat saja memilih untuk menerima cara mereka beribadah sewaktu mereka tahu Ia sebagai tiang awan, atau api yang bersinar, anging kencang, atau angin yang membelah laut, tetapi itu bukanlah Tuhan. Ia mau disembah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23) karena kita dapat mempunyai hubungan yang nyata denganNya sekarang dan selama-lamanya – terutama untuk selama-lamanya, ketika bersama denganNya dalam kemuliaan 3-dimensi di surge (I Korintus 13:12).
1. C. S. Lewis. Mere Christianity, chapter 24 “The Three-Personal God.” /Cukup Kristen, Bab 2 “Tiga Kepribadian Tuhan”,
http://www.philosophyforlife.com/mc24.htm (accessed February 24, 2010)
2. Evidence for God. Did Einstein believe in a personal god? Rich Deem / Bukti untuk Tuhan. Apakah Einsten percaya terhdap seorang tuhan?, http://www.godandscience.org/apologetics/einstein.html#FovJAuNxEQ6G (accessed February 24, 2010).
Maroria Oroko, Glasgow, Scotland
Senin
4 Juli
Keluaran 3:1-15: 12:1-36, 20:4, 5; 32:1-6: 33:12-23 Logos
Mengerti Siapakah Allah
Banyak sekali tema yang menarik dalam mempelajari buku Keluaran. Di bawah ini adalah beberapa di antaranya:
Ia adalah Allah yang Patut Disembah (Keluaran 3:1-5)
Allah patut disembah karena tidak ada yang sama seperti Dia. Oleh karena itu Ia memerintah Musa untuk melepaskan sepatunya supaya tidak membawa dunia ke tanah yang unik dan suci di mana Ia berada pada saat itu. Sama dengan hari ini, merupakan hal yang sangat bijaksana untuk mendekati Allah dengan cara yang unik, karena Ia adalah yang paling unik dari segalanya. Biarlah kita menunjukkan penghormatan sepatutnya (Pengkhotbah 5:1, 2). Biarlah kita mengikuti segalah perintahNya, karena penurutan adalah salah satu bentuk dari penyembahan (Pengkhotbah 12:13).
Kita dapat percaya tidak akan pernah dilupakan atau diabaikan
Allah adalah Tuhan yang Melihat dan Mendengar (Keluaran 3:7-9)
Dalam kehidupan Abraham, ketika Hagar dan Ismael dikeluarkan dari tempat tinggal dan lari di tengah-tengah padang gurun, Allah mendengar tangis mereka dan memberikan bantuanNya (Kejadian 21:9-21; perhatikan terutama ayat 17). Dalam Keluaran, Allah memberitahu Musa bahwa Ia adalah Allah yang melihat dan mendengar jeri tangis bangsaNya, dan Ia bermaksud untuk berbuat sesuatu terhadap itu. Ialah seorang yang dapat melakukan apa saja. Kita dapat percaya tidak akan pernah dilupakan atau diabaikan.
Allah adalah seorang Penyelamat dan Penebus orang Israel (Keluaran 3:8, 10-12)
Allah bukanlah seorang Pengamat alam semesta yang pasif yang memperhatikan alam semesta berputar mengelilingiNya. Ia adalah Allah yang meluruskan kejahatan yang terjadi. Apapun besarnya masalah, Ia berjanji untuk memerdekakan yang tertindas dan dijajah, terutama bagi mereka yang ditindas oleh dosa. Hal ini juga terjadi pada hari ini, walaupun ketindasan tersebut datang dari sesuatu seperti perbuatan ekonomi yang tidak benar atau praktek kehidupan dalam satu komunitas seperti perdagangan budak. Allah mempunyai rencana untuk memerdekakan setiap orang dari dosa yang menindas dan merusak. Ia memanggil kita untuk melakukan hal yang sama sebaik mungkin (Yesaya 58:6, 7; Amos 5:14, 15; Mikah 6:8)
Allah adalah “AKU ADALAH AKU” (Keluaran 12:1-13, 21-30)
Dalam ayat-ayat ini, Allah menyatakan akan acara ritual di mana kita menuangkan darah dari binatang yang tidak bercela. Akan tetapi, mereka yang membiar diri mereka “diselimuti dengan darah” akan dijaga dari kekuatan jahat yang mencari untuk menghancurkan mereka (Mazmur 91). Oleh karena itu acara ritual ini dimaksudkan bukan hanya menunjukkan kepercayan Allah (dengan menuruti perintahNya, kehidupan tidak akan ada yang hilang), tetapi juga merupakan bayang-bayang akan Anak Domba Allah (Yohanes 1:29; Wahyu 5:6, 9, 10), Yesus Kristus. Ini adalah darah Yesus yang satu hari kelak nanti membebaskan dunia dari pegangan dosa dan kematian yang sepertinya tidak dapat dilepas (Ibrani 2:14, 15).
Allah meminta akan penyembahan kita (Keluaran 20:4, 5; 32:1-6)
Hukum kedua mengingati kita akan hukum yang berhubungan dengan ilah lain. Keluaran 32:1-6 menunjukkan mengapa hal ini sangat penting. Ketika kita lupa akan Siapa yang membawa setiap berkat yang kita punyai, kita juga lupa satu-satunya sumber yang benar dan hidup. Sebagaimana Amsal katakan: “Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan ALLAH berkenan akan dia. Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut.” Bila kita melupakan akan kepada siapa kita sembah, kita akan lupa siapa kita, karena kita dibentuk sesuai dengan rupaNya (Kejadian 1:26, 27). Inilah yang terjadi terhadap orang Israel di padang gurun. Yang membawa mereka untuk berdosa terhadap Allah.
Allah adalah Pemberi Kentraman (Keluaran 33:14)
Kadang kita menganggap Allah sebagai satu tugas atau seorang yang harus kita tanggapi dan teliti. Kita kadang-kadang mau “lepas” dariNya. Tetapi Allah menyatakan bahwa Ia adalah sumber dan pemberi kententraman (Kejadian 2:1-3; Keluaran 20:8-11; Matius 11:28-30). Adalah sesuatu yang bodoh bila kita berusaha mencari ketentraman di tempat lain!
Allah adalah seorang yang tersembunyi; seorang yang menunjukkan diriNya (Keluaran 33:12, 13, 18-23)
Kadang-kadang hubungan kita dengan Allah terlalu tidak dapat dijelaskan. Ia seperti dikelilingi oleh “awan dan kegelapan yang tebal” (Mazmur 97:2), sehingga kita tidak dapat mengerti jalan-jalanNya. Sebagaimana kita baca dalam buku Ayub: “Dapatkah engkau mengukur dalamnya Allah?” (11:7). Rasul Paulus menerangkan Ia sebagai “tak terselidiki” (Roma 11:33). Tetapi Allah menunjukkan Musa akah kemuliaanNya. Ia juga member Yohanes buku Wahyu yang mana memberitahu kita akan karakter sebagaimana ditunjukkan melalui Kristus. Jadi kita belajar bahwa jika kita mau mengetahui tentang Dia, kita harus siap untuk mendengarNya!
REAKSI
1. Hal apa saja yang engkau pelajari mengenai Allah dari pelajaran hari ini di Alkitab?
2. Apakah engkau berpikir cara mendalami Alkitab (dengan melihat cara untuk mengerti akan Dia lebih dalam melalui apa yang ditulis) dapat berguna dalam bagian Alkitab lainnya?
Jerry Smith, London, Inggris
Selasa
5 Juli
Kesaksian
Keberadaan Kekal Keluaran 3:14
“SAYA ADALAH SAYA berarti keberadaan untuk selama-lamanya; saat lalu, saat ini, dan di kemudian hari adalah Tuhan. Dia dapat melihat kejadian apapun di saat lampau dan di jauh kemudian hari dengan pandangan yang bersih sebagaimana kita melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, karena kalau kita tahu, ini tidak akan member kenyamanan diri yang kekal.”1
“Kristus menggunakan nama Tuhan yang besar yang diberikan kepada Musa untuk menyatakan ide akan keberadaan untuk selama-lamanya.”2
“Firman Allah kepada Musa: ''AKU ADALAH AKU.'' Lagi firman-Nya: ''Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Keluaran 3:14
“Janganlah membuat uang menjadi allah.”
“Adalah kemuliaan Tuhan untuk mengasihi, sabar, baik, dan benar. Tetapi pengadilan yang ditunjukkan untuk menghukum yang berdosa adalah juga kemuliaan Tuhan sebagai manifestasi dari kasih karuniaNya.”
“Janganlah menyembah allah lain: karena Tuhan, yang namaNya adalah iri, adalah Allah yang iri. Tuhan orang Israel adalah iri akan kehormatanNya. Bagaimana jadinya, saya yang bertanya, Ia menganggap orang-orang yang hidup di dunia, yang hidup di rumahNya, diberikan makanan dan pakaian, tetapi tidak pernah menyatakan “terimakasih “ kepadaNya? Mereka tidak menghargai kebaikanNya. Mereka seperti penghuni dunia yang fana, yang dihancurkan oleh karena mereka terus melawan Penciptanya.”3
“Biarlah manusia menyembah dan memuji Tuhan Allah dan hanya Ia saja. Janganlah menyombongkan diri sendiri untuk ditinggikan dan disembah sebagai tuhan. Janganlah membuat uang sebagai allah. Bila pikiran kita tidak dikontrol oleh kekuatan yang lebih dari pikiran kita, kemauan dasar kita akan menuntun hidup kita. Apa saja yang dibentuk berdasarkan pikiran dan kesenangan pribadi, menarik pikiran, adalah allah yang dipilih sebelum Tuhan sendiri. Tuhanlah adalah seorang pencari hati. Ia dapat membedakan antara hati yang penuh dengan perbuatan yang benar dan tidak.”4
REAKSI
1. Apakah perbaktian terhadap Tuhan menunjukkan fakta akan yang terjadi di masa lampau, saat ini, dan yang akan datang dengan Dia?
2. Berikankah contoh yang praktis di mana kita berbakti dalam roh dan kebenaran.
1. That I May Know Him, p. 12./ Supaya Aku Dapat MengenalNya, hal. 12
2. Ibid./Idem
3. The Advent Review and Sabbath Herald, March 10, 1904, “Laborers Together With God.” /Pekerja Bersama dengan Tuhan
4. Sermons and Talks [2SAT], chap. 25, “The Giving of the Law,” Manuscript 126, p. 185./ “Memberi Hukum
Ruth Reider, Milton Keynes, Inggris
Rabu
6 Juli
Keluaran 3:5; 32:1-6; Mazmur 100:3; I Kor. 15:45 Bagaimana
Berdiri Di Tanah Yang Suci
Mengerti akan Allah yang kita sembah adalah bagian penting dari perbaktian. Ketika kita datang kepada hadiratNya melalui doa, di mimbar gereja, di alam, di dalam rumah, atau bahkan di tengah kesunyian pikiran kita, ada beberapa elemen penting yang membawa kita terhadap sikap dalam berbakti.
Mengerti bahwa Allah adalah Roh (I Korintus 15:45). Alkitab member tahu bahwa Allah adalah Roh. Kita tidak dapat memegang atau menyentuhNya atau melihatNya seperti kita dengan yang lainnya. Kita melihatNya di dalam mata pikiran kita dan mengenalNya dalam hati kita. Jadi kita menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23; Filipi 3:3). Ini jauh melewati fisik. Perbaktian lebih dari menunduk kepala, bertelut, melipat tangan, atau bahkan bernyanyi lagu-laguNya. Ini juga berarti melihatNya melalui pikiran spiritual, mengetahui bahwa Ia nyata, dan percaya bahwa Ia berada di tengah-tengah kita sebagaimana kita mendekatiNya.
Di mana saja kita mendekati Allah, kita berdiri di atas tanah yang suci
Mengerti bahwa Allah itu suci (Keluaran 3:5). Satu ketika saya menonton program TV di mana seseorang berbicara dengan Allah ketika memegang secangkir anggur. Ketika ia selesai berbicara, ia mencicipi anggur itu. Saya yakin penulis program ini bermaksud untuk menunjukkan ketidakpenurutan dari orang tersebut. Tetapi berapa sering kita datang di hadirat Allah tanpa memerhatikan kesucianNya? Ketika Allah mengurusi ternak mertuanya, ia tiba di semak yang berapi, tetapi tidak terbakar. Allah berkata kepadanya dari tengah-tengah semak, “Lepaskanlah sandalmu, karena tempat di mana kamu berdiri adalah tanah yang suci!” (Lihat Keluaran 3:1-6). Di mana saja kita mendekati Allah, kita berdiri di atas tanah yang suci. Ketika kita mengerti bahwa Allah itu suci, kita akan merendahkan diri dan berserah. Kita akan hati-hati terhadap kata-kata dan perbuatan.
Ingat bahwa Ia adalah Allah (Keluaran 32:1-6; Mazmur 100:3). Seketika mereka keluar dari Mesir, orang Israel berkemah dekat Gunung Sinai, dan Musa pergi ke atas gunung untuk berbicara dengan Allah. Setelah ia pergi dalam waktu yang lama, orang Israel menjadi takut kalau mereka telah ditinggal sendiri. Mereka sepertinya telah lupa bahwa Allah akan menolong mereka, dan membuat ilah dari emas. Kita juga berada dalam bahaya dengan menaruh hal lain di dalam kehidupan kita yang mana hanya Allah yang mempunyai hak. Ialah satu-satunya yang disembah dan dipuji. Bahkan di gereja, tidak ada yang dapat lebih dipuji selain Allah.
REAKSI
Bagaimana bisa kita dapat berbicara dengan Allah sungguh-sungguh tetapi masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari?
Ann Steward, Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat
Kamis
7 Juli
Pendapat
Berbakti Sampai Akhir Wahyu 4:8
Apakah yang membuat kita meninggalkan Allah? Dalam Perjanjian Lama kita sering mendapati ayat: “dan orang Israel berdosa terhadap Allah”. Saya kadang berpikir, kalau saya hidup saat itu, saya akan hidup lebih beriman. Tetapi ketika saya terus membaca Alkitab dan memperhatikan dunia modern saat ini, saya lebih sadar bahwa kita mempunyai kehidupan yang sama dengan orang Israel saat itu.
Jadi apa yang selalu membuat kita sering berpaling dari Allah? Di bawah ini ada beberapa tanggapan:
Sebagian besar dari kita saat ini, . . . . . adalah orang yang beragama dibandingkan hidup dalam kasih dengan Allah
- Kita tidak cukup sabar, dan kita cepat lupa akan apa yang Allah telah lakukan bagi kita. Kita lupa kalau jalanNya tidak selalu jalan kita dan pikiranNya bukan pikiran kita. Oleh karena itu, ketika Ia mengambil waktu yang lebih lama untuk melakukan sesuatu, bukanlah karena Ia telah lup akan kita, teatpi karena Ia adalah Allah dan waktuNyalah yang paling tepat. Juga ketika Ia melakukan sesuatu untuk kita, yang seharusnya kita berterimakasih, kita sering lupa akan kebesaranNya dan mulai bersungut.
- Perhatian kita mudah dialihkan. Salah satu contoh yang bagus adalah ketika seseorang telat datang ke gereja dan hal yang lebih jelek ketika mereka berpakaian yang tidak cocok. Sehingga kita menghabiskan waktu untuk membicarakan betapa tidak bagusnya orang tersebut. Ini terjadi karena kita berhenti untuk memikirkan akan Penyelamat kita yang baik.
- Kita bingung akan siapa Allah itu. Sebagian besar dari kita saat ini, sama seperti orang Israel, adalah orang yang beragama dibandingkan hidup dalam kasih dengan Allah. Kita sibuk untuk menuruti huruf yang ada dalam hukum dibandingkan roh di dalam hukum. Dengan berkelakuan seperti itu kita menjadi capai akan Allah dan berpikir kalau Ia sedang menunggu unuk menghukum kita ketika kita jatuh.
Tetapi, kita tidak sadar kalau kita salah! Dari mulai ke akhir Alkitab, kita melihat Allah yang cinta, baik, panjang sabar, baik dalam segala hal. Tidak ada allah lain yang seperti Allah kita! Tidak ada allah lain yang dapat melakukan apa yang Ia lakukan dan yang akan Ia lakukan!
Bukankah Allah itu luar biasa? Mengapa kita masih berpikir untuk mempunyai atau mau allah lain? Perbaktian kita jangan terhadap orang lain, tetapi Kristus!
Mulai hari ini sampai selama-lamanya, lagu saya selalu seperti ini:
“Suci, suci, suci! Allah Maha Kuasa!
Yang Memerintah selama-selamanya”
Maureen Gatharia, Banbridge, County Down, Irlandia Utara
Jum’at
8 Juli
Eksplorasi
Belajar Untuk MengenalNYA Yesaya 46:9-11
SIMPULAN
Keinginan untuk mengenal Allah adalah bagian dari perjalan hidup manusia sejak dosa memisah kita dari Pencipta kita. Menariknya, sejak hari itu, Allah juga telah berusaha untuk menolong manusia yang telah jatuh. Ia memilih anak anak Abraham untuk menerima perhatian dan penjagaanNya yang khusus. Ia memilih mereka untuk menjadi Allah mereka dan mereka bangsaNya untuk membagi-bagikan pekabaran keselamatan ke dunia. Akan tetapi, ideNya tidak terjadi. Bangsa Israel menolak rencanaNya, dan Allah memilih bangsa lain. Apakah engkau mau mengenal Allah? Matikan suara yang berisik, jauhkan hal-hal yang mengambil alih. Ia telah menunggu untuk menunjukkan diriNya bagi engkau.
PERTIMBANGKAN
- Menulis satu puisi yang menerangkan akan Allah.
- Menganalisa 10 Hukum dengan menemukannya melalui berbagai atribut Allah yang mana Ia mau menunjukkan diriNya bagi engkau.
- Bacalah janji dalam Ulangan 31:6; Yesaya 40:31; Yohanes 14:27; 2 Korintus 1:3-4, Filipi 4:19. Garis bawahi alasan mengapa Allah patut disembah.
- Mengambil waktu untuk berjalan di alam dan memperhatikan hasil ciptaan Allah.
- Mengevaluasi bagaimana sering pikiran kita menjauhi Allah. Bandingkan hasilnya dengan hal lain yang menyerap pikiran kita.
- Mendramakan Wahyu 14:6-13. Perhatikan dengan seksama cara malaikat berbakti.
- Bangun pagi sebelum matahari terbit dan meluangkan waktu untuk Yesaya 46:9-11.
HUBUNGKAN
J. I. Packer and Carolyn Nystrom, Knowing God Devotional Journal/Jurnal Mengenal Allah (Downers Grove, IL.: InterVarsity Press, 2004); A. W. Tozer, The Pursuit of God/Mengejar Allah (Christian Publications: Camp Springs, PA., 1993).
Sandra Araújo-Delgado, Apison, Tennessee, U.S.A.
Friday, 1 July 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment