Friday, 8 January 2010

SSCQ Pelajaran 3 Kwartal I tahun 2010

DESEMBER 2009—Maret 2010

Pelajaran Tiga Kwartal 1, 9—16 Januari 2010

Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra

Buah Roh Adalah

SUKACITA

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-KU ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh (Yoh. 15:11)


Sabbath

9 JANUARI

Gal. 5:22

Pendahuluan

Sumber Kesukaan: Suatu Perumpamaan

Setiap hari, dua orang sahabat bekerja keras dari pagi sampai magrib. Sepanjang waktu mereka dengan lelah bekerja, tetapi mereka mampu menghadirkan atap di kepala dan makanan untuk memenuhi perut mereka.

Text Box: Denting uang logam  . . . . . . menghabiskan waktu merekaWalaupun hidup merupakan suatu tantangan, mereka menikmati matahari yang memancar terik diladang mereka. Mereka menikmati baik hujan dan matahari, karena keduanya menjadi berkat bagi bumi. Kicauan burung memenuhi kuping mereka, dan setiap musim menghasilkan berkat tertentu. Musim semi, bunga-bunga mulai bermekaran, dan rumput serta pepohonan mulai menghijau. Musim panas memperlihatkan sayuran dan pohon-pohon dengan buah yang mulai matang. Musim dingin membekukan mereka, menyiratkan rasa untuk istirahat dan pembaruan. Seperti keheningan sebelum subuh, musim dingin membuat kedatangan musim semi lebih menakjubkan lagi.

Suatu malam, sementara berjalan pulang dari bekerja, mereka menumukan suatu kantong berisi barang berharga dibawah semak-semak. Setelah memberitahukan pihak berwenang, mereka menunggu yang punya selama dua bulan, dan kemudian satu bulan berikutnya untuk memastikan. Pada saat tidak ada yang datang, pihak berwenang memberikan harta itu kepada kedua sahabat ini. Mereka memuji Tuhan dan mengadakan pesta kelingkungan tinggalnya. Dengan kata lain, mereka memberitahu bahwa mereka tidak perlu kerja keras lagi. Hidup itu nikmat!

Dengan berjalannya waktu, kehebatan menyediakan apa saja yang diinginkan keluarga menjadi hal membosankan. Kehidupan harian telah berobah ke pola berbeda dari sebelumnya. Mereka masih memberi ucapan selamat setiap musim dengan berbagai cara. Mereka mengembalikan perpuluhan dan tetap memuji Tuhan di gereja. Denting uang logam yang dihitung, tentu saja menghabiskan waktu mereka. Tentu saja bukan lagi kerja keras. Tetapi kesukaan itu telah mulai pudar menjadi sesuatu yang rutin.

Kesukaan muncuk kembli, pada waktu mereka mulai membuat hadiah kejutan kepada orang lain. Kesukaan besar meninggalkan sekantong sayur mayur didepan pintu seorang janda atau melunasi cicilan rumah yang hampir disita. Tetapi mereka memperhatikan suatu peningkatan hal-hal yang membutuhkan “bantuan ekstrs”. Secara perlahan, kesukaan itu mulai menghilang lagi.

Suatu minggu, pelajaran Alkitab di gereja adalah Galatia 5:22, “Tetapi buah Roh ialah, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan dan penguasaan diri”. Tiba-tiba, perspektif mereka berobah. Sukacita dalam dasar jiwa mereka tidak dapat dicapai melalui usaha mereka. Sukacita yang sebenarnya merupakan bagian dari kehadiran Roh Kudus dalam hidup mereka—bukti transformasi kasih Kristus.

Sementara anda mempelajari pelajaran minggu ini, tanyailah dirimu sendiri bagaimana sukacita yang benar mentransformasi hidupmu?

Norma Sahlin, Springboro, Ohio, U.S.A.


Minggu

10 JANUARI

Logos

Allah Kita Suka Berpesta

Psalm 139; Luke 15:4–24; John 15:10, 11; Heb. 11:16

Lukas 15 menuliskan tiga cerita yang kita kenal: domba yang hilang, koin yang hilang, dan dua anak yang hilang. Kita bisa menyamakan dengan ketiganya pada satu waktu atau lainnya, kita semuanya merasa hilang. Dalam bab ini, Yesus menguraikan manusia sebagai yang tersesat, bukannya sebagai orang berdosa. Penekanan disini adalah hilang, bukan tindakan. Dia memandang orangnya, bukan perbuatannya.

Lebih Dekat Lagi

Text Box: Kenapa Allah menghabiskan sedemikian banyaknya waktu merayakan kembalinya yang hilang?Bagaimana setiap karakter dalam ceritanya berbeda? Domba yang hilang telah mengelana. Berusaha mencari rumput yang lebih hijau, akhirnya dia kehilangan jalan ke kelompoknya. Mungkin terpeleset dan nyangkut di semat berduri. Pada waktu berseru minta tolong, dia terkejut mendapatkan dirinya sendirian. Dengan menggelapnya hari, binatang buas mulai berkeliaran.

Dalam cerita yang kedua, uang logam hilang kukan karena kesalahannya. Dia tidak melarikan diri ke sudut dan bersembunyi dibawah keranjang atau benda lainnya. Orang yang semestinya melindunginya telah menjaganya tidak hati-hati atau hilang secara tidak sengaja. Tidak peduli kenapa, itu adalah kesalahan penjaganya.

Cerita ketiga adalah tengan dua anak yang hilang—yang satu secara sengaja meninggalkan negeri dan keluarganya ke negeri jauh, dan yang satunya hilang dalam sikap sementara tinggal di rumah.

Ketiga cerita itu adalah tentang perpisahan—dari gembala dan penghibur, dari penjaga, dan dari bapa. Mereka juga mencerminkan kesepian—dari gembala dengan sembilan puluh sembilan domba, dari penjaga sembilan koin, dan dari bapa yang menunggu dan menjaga sementara anak yang dikasihi berjuang dengan suatu hubungan.

Tindakan adalah tema kuncinya. Dalam setiap cerita, yang hilang dicari. Gembala dan penjaga secara aktif mencari yang hilang, sementara bapa dengan setia menunggu kepulangan putranya. Mereka pedula dengan yang hilang dan merasakan kekosongan yang tidak dapat diisi sampai yang hilang ditemukan.

Akhir Cerita

Setiap cerita berakhir dengan suatu pesta. Lukas 15 menggambarkan suatu gambar kesukaan. “Tidak mudah bagi kita memikirkan Allah yang gembira, dan tentu saja teologi kita kaku, diam, dan tidak bergerak. Tetapi gambaran yang Yesus berikan kepada kita dalam ketiga cerita itu adalah Allah yang suka berpesta! Adalah Yesus yang mengadakan pesta bagi orang berdosa dan telah dibuang. Adalah Allah yang memulaikan perayaan itu. Lebih banyak ruang diberikan dalam teks untuk bersuka dan bergembira, dan berpesta daripada ketiga konsep lainnya (hilang, dicari, dan ditemukan). Bagaimana ini bisa bila tidak karena kasih yang tak terbatas? Bukankan buah Roh yang kedua adakah sukacita, merupakan akibat dari kasih?”1

Kenapa Allah menghabiskan sedemikian banyaknya waktu merayakan kembalinya yang hilang? “Pemilik domba, pemilik koin, dan bapa yang menunggulah yang paling menderita dari semuanya. Adalah Allah yang paling menderita bila kita hilang, tetapi Allah juga yang paling bersuka bila yang hilang ditemukan . . . . . . .Allah Suka berpesta”2

Seberapa kalikah anda telah membaca Lukas 15 dan terlewatkan intinya? Saya dapat katakan bahwa mayoritas kita, kalau tidak semuanya, kata-kata yang ditulis dalam Lukas 15 mencerminkan sudut pandang narsistik umat manusia. Amat sedikit yang memikirkan bagaian perasaan Allah tentang putra dan putriNYA yang mengembara di padang belantara negeri yang jauh, jauh dari taman Eden, dan direndahkan dengan memakan makanan yang ditolak babi. Allah memberi kelimpahan. Tetapi kita memilih sampah. Pastilah hatiNYA amat sakit sekali! Dia amat rindu memberikan kita sukacita, dan kita dengan degilnya memaksa seperti anak umur dua tahun yang selalu menginginkan dengan caranya sendiri!

C.S. Lewis (1898—1963) menulis tentang perjalanannya dari ateisme ke Kristiani. Dia mengingat dengan jelas perasaan sukacita tak terhingga pada waktu masih anak-anak dan abangnya menunjukan kepadanya suatu replika taman di kotak timah. Ada kalanya dia mengalami kerinduan akan sesuatu yang tidak dapat disebutkannya. Memandang ke belakang, dia yakin bahwa Allah menggunakan “panah-panah sukacita ini yang telah ditembakan sejak dia masih anak-anak” untuk menembus cinta dirinya, untuk menginsprirasinya memandang lebih jauh dari kondisi saat ini untuk melihat sumber sukacita kekal—Allah.

Pertobatanannya memakan waktu bertahun-tahun. Terlepas dari perasaannya yang bercampur aduk, sukacita mendominasinya. “Intinya pusat cerita hidupku tidak ada lain dari . . . . . adalah suatu kerinduan yang tidak dapat dipuaskan yang jauh lebih dirindukan daripada kepuasan lainnya. Saya menyebutnya Sukacita, yang merupakan istilah teknis dan mesti secar tegas dibedakan dari kegembiraan dan kesenangan.”3

REAKSI

1. Bagaimana kita menjadi layak untuk menerima buah Roh Kudus?

2. Jika itu adalah pesta Allah, kenapa kita selalu mengomel tentang rinciannya, seperti siapa yang mengundang dan apakah mereka layak?

3. Bagaimana “panah sukacita” dalam hidupmu telah menunjuka kepada Allah, sumber Sukacita?

____________

1. Caleb Rosado, What Is God Like? (Hagerstown, Md.: Review and Herald®, 1988), p. 46.

2. Ibid., p. 57.

3. C. S. Lewis, Surprised by Joy (New York: Harcourt, Brace & Company, 1955), pp. 214–219.

Monte Sahlin, Springboro, Ohio, U.S.A.


Text Box:   Senin

11 JANUARI

Kesaksian

Sukacita Dinyatakan Dalam Hidup

Gal. 5:22, 23

“Dia adalah cabang dari Pokok Yang Benar, dan menghasilkan rentengan buah untuk kemuliaan Allah. Apa sifat buah yang dihasilkan? Buar Roh adalah “kasih” bukan kebencian; “sukacita” bukan persungutan dan kedukaan; “damai,” bukan kemarahan, kecemasan, dan pencobaan yang dibuat-baut. “Panjang sabar, kebajikan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri.” (Galatia 5:22, 23)1

Text Box: Apakah mungkin mendapatkan sukacita dalam mematuhi Kristus? “Sukacita Kristus dalam kerendahan hatiNYA dan penderitaa agar murid-muridNYA dapat dimuliakan dengan Dia. Mereka adalah buah pengorbanan diriNYA. Kelakuan mereka yang mencerminkan karakterNYA sebagai buah kerja dan pengorbanan dilihat dihati dan kehidupan orang lain.”2

“Buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, panjang sabar, kemurahan, kelemah lembutan, kebaikan, kesetiaan, penguasaan diri. Karunia ini akan terlihat pada setiap batu yang membantu mendirikan kaabah Allah. Semua batu itu tidak dari ukuran dan bentuk yang sama, tetapi setiap batu itu mempunyai tempat di kaabah.”3

“Bekerja dengan hati yang tidak mementingkan diri sendiri, dimuliakan dalam keikutsertaan dalam penderitaan Kristus, berbagi simpatiNYA, mereka membantu mengembangkan arus sukacitaNYA, dan membawa kemuliaan dan puji-pujian bagi namanya yang tinggi.”4

“Dan sekarang aku datang kepadamu, dan hal-hal ini yang kukatakan di dalam dunia, agar mereka boleh mendapatkan sukacita yang dipenuhi dalam diri mereka sendiri. Apakah mungkin mendapatkan sukacita dalam mematuhi Kristus? Ini adalah sukacita yang sebenarnya yang dapat dipunyai setiap jiwa. Anda mungkin mempunyai apa yang anda katakan “masa yang baik,” dan tertawa dan bergurau; tetapi sukacitamu hanyalah pemenuhan tolol dari pikiran yang tidak seimbang oleh Roh Allah.”5

REACT

1. Diatas kita baca, bahwa “Semua batu itu tidak dari ukuran dan bentuk yang sama, tetapi setiap batu itu mempunyai tempat di kaabah.” Bagaimana konsep ini serupa dengan karunia roh seperti diuraikan dalam Roma 12:6? Bagaimana mereka berbeda?

2. Bagaiamana anda tahu anda dipenuhi oleh sukacita Kristus dan bukan hanya mendapatkan kesukaan dari bersekutu dengan sesama orang Kristen?

____________

1. Gospel Workers, p. 287.

2. The Desire of Ages, p. 624.

3. Reflecting Christ, p. 273.

4. Testimonies for the Church, vol. 6, p. 306.

5. The Advent Review and Sabbath Herald, September 3, 1895.

Santhosh S. Jackson, Laurel, Maryland, U.S.A.


Selasa

12 JANUARI

Yes. 35:1, 2, 10

Bukti

Sukacita Orang Yang Ditebus

Sering diberi judul “Sukacita yang ditebus,” Yesaya 35 mulai dengan, “Padang gurun dan padang kering akan bergirang; padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat; akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai.”

Text Box: sukacita lebih besar dari pengalaman seseorang.  Tidak dapat diatur atau dipaksakanGideon sedang mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur pada waktu didatangi malaikat (Hakim 6:11). Pengirikan biasanya dilakukan di tempat tinggi agar kotorannya dapat padat, tetapi karena orang Midian menjarah daerah itu, Gideon mencoba menyembunyikan pekerjaannya. Bacalah Rut 2 untuk mengetahui cara pengirikan pada waktu itu. Perhatikan para pemanen meninggalkan gandum disekitar pinggir ladang agar orang miskin dapat mengumpulkan sisa untuk makanan mereka.

Karena kebanhyakan makanan kita dihasilkan oleh perusahaan agribisnis besar, kebanyakan kita tidak mengenal bagaimana menghasilkan makanan. Kita tahu konsepnya secara umum, tetapi kebanyakan kita tidak menghasilkan sendiri makanan yang kita makan atau mengkhawatirkan kelaparan.

Pada zaman Alkitab, kerja fisik yang keras dibutuhkan untuk menghasilkan makanan—apakah itu berburu ataupun bekerja di ladang. Setiap orang setiap hari menghabiskan waktu untuk hidup. Ternak secara berkala dipindahkan disekitar daerah antara perbukitan Yudea ke Utara dan padang guru dibawah Laut Mati, dengan hewan liar yang kelaparan dan kondisi iklim yang ganas. Berjuang untuk hidup adalah perjuangan harian.

Tetapi, dalam ayat tiga dan empat buku Yesaya 35, Kuatkanlah tangan yang lemah lesu. "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!"

Dalam ayat enam, kita baca tentang alasan kuat untuk sukacita: mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara”. Pada akhir bab, hidup yang tidak sempurna akan ditransformasikan, “orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.” (ayat 10).

Jadi jelas, sukacita lebih besar dari pengalaman seseorang. Tidak dapat diatur atau dipaksakan, karena Allah sendiri yang memahkotai kita dengan sukacita.

REACT

1. Bagaimana mahkota sukacita membuat hidup kita berbeda?

2. Apakah sulit menerima sukacita Allah yang kekal dan dalam? Terangkan jawabmu.

Melissa Sahlin, Mason, Ohio, U.S.A.


Rabu

Text Box:   13 JANUARI

Bagaimana

Merasakan Sukacita?

John 14:14–17; 17:13;

Acts 2:1–4, 46;

1 John 1:3, 4

Sukacita adalah salah satu komponen Roh Kudus. Bukti kehadiran Roh Kudus dalam kita. Bagaimana kita diisi olehnya?

Buku 1 Yohanes 1:3, 4 menyediakan suatu pernyataan tesis yang baik. “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.”

Jadi bagaimana sukacita kita menjadi sempurna?

Text Box: Anda akan mendapatkan tutor pribadi dalam kelas ini yang dikenal dengan Hidup 101Pertama, sadari bahwa tanpa Yesus kita bukan apa-apa (Yohanes 6:63). Adalah Dia yang memberikan hidup kekal karena Dia membayar upah dosa kita. Tidak peduli apa yang anda lakukan, anda tidak akan pernah mencapai atau bisa memenuhi semua persyaratan.

Kedua, pindalah dalam namaNYA (Yoha. 14:14). Campakan sikap SAYA dibelakang. Ini tampaknya kotra produktif, karena budaya kita dibangun dengan pencapaian pribadi. Tetapi anda tidak dapat menyelesaikan tugas dengan usahamu sendiri, tidak peduli seberapa kerasnya anda mencoba.

Ketiga, turuti perintahNYA (Yohanes 14:15). Ini berarti anda mesti belajar, belajar, belajar. Pelajari kembali silabus kelasmu yang disebut Alkitab, khususnya yang berpusat pada kehidupan Yesus. Sebagai akibatnya, Dia akan meminta Allah Bapa untuk memberikan kita Roh Kudus, Penasehat yang akan menuntun kita kepada semua kebenaran (Yohanes 14:16, 17). Anda akan mendapatkan tutor pribadi dalam kelas ini yang dikenal dengan Hidup 101. Dengan cara ini, Yesus mengatakan kita akan dipenuhi oleh sukacitaNYA (Yohanes 17:13).

Keempat, pelajari bersama orang Kristen lainnya (Ibrani 10:25). Anda harus bertemu secara reguler jika anda ingin menyempurnakan tugas ini—suatu proyek yang mendemonstrasikan persahabatan dengan Allah (Kisah 2:1—4, 46; Roma 5:10). Kerja keras. Tidak ada waktu berleha-leha dan hanya satu orang yang kerja. Semua bagi satu, satu untuk semua—Majulah tim!

REAKSI

1. Bandingkan dan kontraskan harapan dunia akan sifatmu dengan harapan Allah bagimu. Apa kesamaannya? Apa perbedaannya?

2. Bagaimana anda menangagi suatu situasi dimana beberapa orang dalam kelompok Alkitabmu tidak menunjukan sifat Kristiani atau mempunyai penafsiran berbeda akan suatu perikop alkitab?

3. Bagaimana anda menumbuhkan suatu spirit tim yang lebih baik dalam gerejamu?

Gianluca Bruno, Mason, Ohio, U.S.A.


Kamis

14 JANUARI

John 15:11, 16

Pendapat

Tak Ada Sukacita Bagimu!

Fakultas dan Sekolah Pasca Sarjana diatur oleh struktur yang kaku. Setiap silabus berisi persyaratan mata kuliah, parameter untuk setipa tugas-tugas, buku teks yang disyaratkan, rincian penilaian, dst. Struktur seperti itu mengatur semuanya, mencakup setiap tindakan baik profesor maupun mahasiswanya. Tujuannya adalah pembelajaran diukur melalui berbagai bentuk ujian. Tidak mengejutkan, mahasiswa amat peduli dengan bagaimana kondisi mereka—bukan saja secara akademik tetapi dalam dunia yang lebih luas. Perasaan mereka naik turun. Jika mendapatkan nilai bagus, mereka gembira. Jika mereka terlambat dalam tugas, mereka panik. Dan demikianlah semester demi semester.

Text Box: Hidup penuh dengan hal-hal yang terjadi secara acak, momen yang dipenuhi kecemasanSuatu episode Seinfeld tentang suatu restoran makan di luar yang menawarkan sup. Dengan antrian panjang orang sampai ke pintu, mereka mulai memperhatikan bahwa tidak semua pelanggan keluar dengan kemasan sup. Mereka yang dengan konter melihat bahwa koki-pemilik akan memerintahkan bebera orang keluar, menolak mereka membeli sup. Sup Nazi (begitulah kokinya dikenal) akan berteriak, “Tak ada sup untukmu!” dan menolak untuk melayani pelanggan dengan alasan sembarang. Merasa cemas!

Hidup penuh dengan hal-hal yang terjadi secara acak, momen yang dipenuhi kecemasan. Ia mencampakna kegembiraan kita tanpa peringatan. Pikirkan tentang serangan di Mumbai, pusat finansial India; pemboman sistem subway London; dan 9/11 di Amerika Serikat. Bayangkan bencana alam seperti badai, gempabumi, dan tsunami. Ataupu tentang runtuhnya pasar uang perumahan yang merontokan banyak bank, perusahaan investasi, dan pasar modal; yang akhirnya membuat banyak orang kehilangan pekerjaannya. Ketidak stabilan telah mengguncang dunia, mempengaruhi semua bangsa kecil besar. Tak ada sukacita bagimu! Tetapi tunggu! Bacalah kabar baik dalam Yohanes 15:11, 16.

Ini benar-benar kabar baik. Tidak sama dengan kabar negatif dunia ini, Allah berjanji akan membagikan kesukaanNYa kepada kita. Allah yang maha tahu dan maha kuasa akan memberikan kita jaring pengaman. Tidak peduli apa yang runtuh, kita bisa bersandar kepadaNYA yang mengerti kita. Sukacita tidak acak.

REAKSI

1. Pikirkan suatu waktu pada saat seseorang berteriak, “Tak ada sukacita bagimu!” Bagaimana perasaanmu?

2. Apa perbedaan antara gaya hidup dan transfomasi oleh Roh.

.

Stephanie Sahlin Jackson, Laurel, Maryland, U.S.A.


Jum’at

15 JANUARI 2010

Eksplorasi

Suatu Hadiah Yang Mengejutkan Pemberinya

Luke 15:4–24; John 15:10–16

SIMPULAN

Sukacita bukanlah sesuatu yang dapat kita hasilkan dengan keinginan kita sendiri. Dalam cerita domba, koin, dan anak yang hilang, Yesus menerangkan bahwa Allah mendemonstrasikan sukacita bila ada jiwa yang hilang kembali kepadaNYA. Dengan cara yang saling timbal balik kasih menghasilkan sukacita. Dalam Yohanes 15, Yesus menerangkan bahwa kasih berasal dari Allah. Kita mengasihiNYA karena Dia lebih dulu mengasihi kita. Dengan cara yang sama, hidup dalam kasihNYA mentransformasi kita sehingga kita bisa mengasihi orang lain tanpa mementingkan diri. Tindakan mengasihi orang lain membawa sukacita kekal. Sama seperti saudara tua, kita dapat bergabung dengan pesta Allah hanya jika kita menikmati persekutuan dengan anak-anakNYA.

PERTIMBANGKAN

  • Ingat kembali kali terakhir anda merasakan sukacita sebenarnya. Tuliskan dalam masukan jurnalmu denga memerikan perasaan dan sumber sukacita yang benar. Apakah mengingatnya kembali membawa sukacita?
  • Buatlah daftar cara-cara anda bisa membagikan sukacitamu minggu ini. Pilih satu hal dari daftarmu dan lakukan. Bagaimana perasaanmu melakukan sukacita itu?
  • Praktekan sesuatu yang anda suka lakukan. Kemudian bagian talenta itu dengan seseorang minggu ini.
  • Tanyalah seseorang siapa yang melakukan sesuatu lebih baik daripadamu untuk membagikan talenta itu dengan mu. Beritahu orang itu bahwa anda menghargai dia.
  • Nikmatilah alam ciptaan Allah minggu ini, buatlah respon akan ciptaanNYA dengan menciptakan suatu sajak, lagu, musik, gambar, ataupun foto.
  • Carilah foto dalam koleksimu atau majalah yang menggambarkan sukacita bagimu. Atau carilah lagu yang memberikanmu sukacita. Bawalah foto atau lagu itu ke kelas Sekolah Sabatmu untuk dibagikan kepada orang lain.

HUBUNGKAN

Ellen G. White, “That Your Joy Might Be Full,” The Signs of the Times, August 11, 1909.

Carolyn Arends, “Surprised By Joy ” from the album This Much I Understand.

Brennan Manning, “ATouch of Folly,” in The Ragamuffin Gospel: Embracing the Unconditional Love of God (Portland, Ore.: Multnomah, 2005); Henri Nou­wen, Turn My Mourning Into Dancing: Finding Hope in Hard Times (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2004).

Jennifer Morgan, Newfoundland, Canada.

No comments:

Post a Comment