![]()
DESEMBER 2009—Maret 2010
Pelajaran 2 Kwartal 1, 2—9 Januari 2010
Diterjemahkan Oleh: Daniel Saputra
Buah Roh Adalah
KASIH
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1 Kor. 13:13)

Sabbath
2 JANUARI
| 1 Yohanes 4:8, 16 | Pendahuluan Allah itu Kasih |
Kota Gilgil, di Rift Valley, Kenya, adalah Koloni Inggris. Kota ini terletak diutara Nairobi, mempunyai penduduk 19.000 orang. Aktivitas ekonomi di Gilgil umumnya merupakan perusahaan tingkat menengah dan tambang diatomit, “berbentuk bubuk, mineral non-metal yang terdiri dari sisa-sisa tanaman sel tunggal mikroskopik air yang disebut diatomik”1 Pertanian kurang baik karena daerah Kenya ini kering dan tidak subur.
Gilgil lebih lanjut dikenal oleh cerita tragik: “Alice de Janze (1899-1941), juga dikenal dengan Alice de Trafford, seorang pewaris putri kaya Amerika yang menghabiskan waktunya di Kenya sebagai anggota koloni Happey Valley. Dia terkait dengan berbagai skandal, termasuk percobaan pembunuhan kekasihnya tahun 1927, dan juga pembunuhan Joslyn Hay tahun 1941, seorang Earl dari Erol di Kenya. Kehidupannya yang penuh skandal, penyalah gunaan obat, dan berbagai usaha bunuh diri. Dia mati bunuh diri dengan menembak dirinya tahun 1941.”2
Ironisnya, surat-surat dan kenangan yang muncul dalam nama Gilgil dapat dianggap sebagai sebuah anagram berikut: Allah itu Kasih, Allah itu Kasih. Minggu ini kita belajar tentang kasih sebagai Buah Roh yang kita kembangkan pada waktu kita bertumbuh dalam Kristus. Akan kita lihat, dari berbagai subtopik pelajaran kita, bahwa kasih inilah yang merupakan pusat dari karakter KeKristenan kita sewaktu kita bergumul dengan dosa. Subtopik pelajaran minggu ini menunjukan kepada kita bahwa kasih Illahi ini merupakan elemen terpenting dari buah Roh Kudus. Dengan mengetahui bahwa Roh Kudus adalah bagian dari TriTunggal Allah (Yohanes 4:24), Allah, adalah KASIH. Dengan belajar kita akan menghasilkan buah kasih, pastikan setiap hari kita belajar pelajaran minggu ini.
____________
1. IMA
Diatomitefactsheet.pdf (accessed November 12, 2008).
2. Wikipedia Online Encyclopedia. Alice de Janzé. http://en.wikipedia.org/wiki/
Alice_de_Janze (accessed November 12, 2008).
Bob Collins,
Minggu
3 JANUARI
| Bukti Buah Roh | Galatia 5: 13 |
Roh Kudus, pribadi ke tiga dari KeAllahan, adalah Guru, Instruktur, dan Penghibur. Sebagai anak-anakNYA, Allah mensyaratkan kita menghidupkan kehidupan yang mulia bebas dari dosa. Kehidupan seperti itu memberikan Kemuliaan kepada Tuhan. Untuk membantu kita menghidupkan kehidupan seperti itu, Dia memberikan kita Roh Kudus.
Roh Kudus mempunyai berbagai sifat yang bila diserap oleh hati kita, akan menghasilkan perubahan hidup yang menyeluruh. Salah satu sifat itu adalah kasih Illahi. Bila ada kasih seperti ini, ada damai, ketenangan, dan kesukaan. Jika kasih belum merupakan kasih Roh Kudus, buah yang lain tidak akan tumbuh, karena kasih illahi menuntun buah yang lain.
Paul menyebarkan injil selama pelayanannya di Galatia, dan bekerja keras untuk menerangkan kepada mereka buah Roh. Galatia adalah privinsi Romawi di Asia tanpa penduduk Yahudi. Pikiran mereka terbagi apakah akan ikut atau tidak Kristus. Walaupun begitu, Paulus menolak kepercayaan itu, dan meyakin mereka bahwa satu-satunya iman, disertai kegiatan baik, akan menjadikan seseorang menjadi seorang Kristen yang benar.
Dalam masyarakat kita saat ini, kita saksikan berbagai kasus dimana hidup tanpa kasih illahi menghasilkan kehancuran mengerikan. Misalkan, Rwanda di pertengahan tahun 90an, Irak pada awal 90an, dan kembali lagi pada bagian pertama abad ke 21, dan bahkan kampung halamanku Kenya tahun 2008. Ketiadaan kasih Illahi menghasilkan kebencian, kehancuran, dan kematian yang disukai Setan.
Dalam Galatia 5:15, Paulus mengingatkan bahwa kurangnya kasih Illahi dapat membuat kita bertindak liar seperti hewan, yang hasilnya dituliskan di Galatia 5:19-21. Walaupun dalam ayat 22-24, dia memberikan garis besar Roh Kudus yang bertumbuh yang merupakan lawan menyeluruh dosa yang dikembangkan.
Marilah kita ingat bahwa Paul tidak menasehati orang Galatia saja. Dia meletakan suatu dasar yang kuat bagi orang Kristen yang benar untuk generasi mendatang. Karena itu, kita juga bertanggung jawab untuk menghidupkan kasih illahi. Kasih seperti itulah yang merupakan langkah pertama dalam mengembangkan karakter seperti Kristus.
REAKSI
Dalam cara apa anda telah berfungsi sebagai agen kasih illahi di sekolah, gereja, masyarakat, dan negaramu?
George Otieno,
Senin
4 JANUARI
| Logos Wajah-wajah Kasih | Ulangan 6:5 Matius 5:43—48; 7:12; 22:35-40 Lukas 10:25-37; 1 Kor. 13:4-8 |
Saat ini, orang berpikir bahwa kasih atau cinta diartikan ke berbagai hal. Kita mencintai berbagai makanan. Kita mencitai olah raga. Kita mencintai warna-warna tertentu atau berbagai jenis pakaian favorit. Tetapi Alkitab mendefinisikan cinta dengan cara yang berbeda.
Kasih Kepada Pencipta (Ulangan 6:5).
Selama pelayananNYA di dunia ini, Kristus telah bertemu banyak kali dengan orang Farisi, yang selalu berusaha mencari berbagai cara untuk memerangkap DIA. Satu hari, mereka bertanya kepadaNYA hukum apa yang terbesar. Daripada berdebat dengan mereka, Dia merujuk mereka ke hukum yang telah diberikan kepada nenek moyang mereka pada waktu Musa menulis buku Ulangan. Bacalah Ulangan 6:5. Ini adalah suara Kristus melalui Musa, kepada orang Farisi. Kegagalan orang Farisi untuk mengindahkan suara Allah melalui utusan-utusanNYA menyebabkan mereka bertumbuh membenci Kristus. Mencintai Pencipta kita mesti memenuhi hati dan pikiran kita, kalau tidak kita akan menjadi seperti orang Farisi yang malang yang menganggap mereka adalah guru dari hukum dan aturan, tetapi gagal mengenal hukum yang terbesar.
Apa yang diperlukan untuk mengasihi Allah dengan segenap pikiran dan hati? “Manusia dilarang untuk memberikan perhatian utama kepada objek apapun dalam penghormatan dan pelayanan. Apapun yang kita utamakan mempunyai kecendrungan untuk melemahkan kasih kita kepada Allah atau berpengaruh terhadap pelayanan kita kepadaNYA, dengan begitu kita membuat illah lain.”1
Kasih kita kepada Allah mesti konsisten dengan prinsip Sepuluh Hukum. Bacalah bagaimana 1 Kor. 13:4-8 memberikan garis besar akan kasih seperti ini. Orang Farisi sama sekali tidak mempertimbangkan hal ini. Bahkan saat ini orang lebih peduli dengan penerjemahannya sendiri akan arti kasih. Mereka melupakan kasih yang sebenarnya kepada Pencipta, yang mencakup penurutan akan Hukum-hukumNYA. Bacalah Yohanes 14:15
Kasihi Sesama Manusia (Matt. 22:39; Lukas 10:25−37)
Sepuluh Hukum benar-benar harmonis satu sama lain. Misalkan, hukum ini menggaris bawahi pentingnya hubungan antara manusia dan Allah, dan juga hubungan antar manusia. Hukum-hukum ini mendorong kita untuk mengasihi Allah dan sesama manusia.
Bacalah Imamat 19:18. Ini adalah kata-kata yang sama yang diucapkan Yesus kepada orang Farisi pada waktu Dia menyampaikan hukum terbesar—kasih kepada Allah dan sesama manusia. Kehidupana manusia menyiratkan saling bergantungan. Kita tidak bisa berhasil tanpa orang lain. Kita membutuhkan kasih Allah dan dukungan teman dan keluarga untuk berhasil. Cerita tentang orang Samaria yang baik (Lukas 10:25—37) menanyakan satu pertanyaan penting. Siapakah sesamaku manusia? Yesus menceritakan hal ini untuk mengilustrasikan bahwa kita mesti membantu orang yang membutuhkan, dan ini menyatakan tidak peduli apakah orang ini merupakan keluarga, teman sekolah, gereja, atau satu kota.
Kasihilah Musuhmu (Matius. 5:43−48; 7:12)
Agar dapat mencapai kesempurnaan yang dikarakterisasi oleh Bapa sorgawi kita, kita perlu mengadopsi sudut pandangNYA. Di kaki salib, adalah tempat rata bagi semua orang. Semua mempunyai kesempatan yang sama. Bacalah Matius 7:12. Hukum ini mendorong setiap kita untuk mengembangkan kasih illahi, yang “tidak bersukacita karena ketidak adilan tetapi karena kebenaran” (1Kor 13:6)
Bila kita menunjukan kasih kepada orang yang membenci kita, kita melampui batas kasih cinta diri ke kasih yang sama dengan kasih Allah. “Dalam ceirta orang Samaria yang baik, Yesus memberikan gambaran diriNYA dan missiNYA. Manusia telah ditipu, dicederai, dirampok, dan dihancurkan oleh Setan dan ditinggalkan binasa. Tetapi Juruselamat mempunyai belas kasihan akan kondisi kita yang tak berdaya. Dia meninggalkan kemulianNYA untuk datang menolong kita . . . . . menunjuk kepada teladanNYA sendiri, Dia mengatakan kepada pengikutNYA, ‘Hal ini kuperintahkan kepadamu, kasihilah satu sama lain’ (Yohanes 15:17). Satu perintah baru aku berikan kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34) 2
REAKSI
1. Dari ketiga wajah kasih diatas, yang mana yang telah gagal anda lakukan.
2. Siapakah musuhmu? Apa yang dapat anda lakukan untuk menunjukan kepada mereka kasih illahi?
3. Selidikilah dirimu sendiri untuk menemukan apa yang mengambil kasihmu kepada Allah. Apa yang dapat anda lakukan untuk membuang hal-hal tersebut?
4. Kapan kali terakhir anda bertindak seperti orang Samaria yang baik? Apa yang mendorong anda melakukan hal itu? Bersiaplah untuk membagikan hal itu di kelas Sekolah Sabatmu.
____________
1. Patriarchs and Prophets, p. 240.
2. The Desire of Ages, p. 441.
Tony Philip Oreso,
Selasa
5 JANUARI
| 1 Yohn 3: 18 | Kesaksian Kasih Dalam Iman dan Tindakan |
“Nasib manusia akan ditentukan oleh kepatuhannya kepada hukum seutuhnya. Kasih yang terutama kepada Allah dan yang kedua kepada manusia merupakan prinsip yang mesti dipantulkan dalam hidup”1
Kasih seperti itu mensyaratkan kita mengenal kemaha luarbiasaan Pencipta kita dan berjalan sesuai dengan hukumNYA. Hukum kedua menyiratkan pelayanan tidak cinta diri kepada sesama manusia dalam Kritus, dan juga musuh kita. Kristus menceritakan suatu cerita untuk mengilustrasikan hal ini.
“Dalam perjalanan dari Jerusalem ke Jeriko, seseorang mesti melalui belantara Yudea. Jalan menurun ke suatu daerah liar berbatu yang dipenuh oleh para perampok, dan sering menjadi tempat kekerasan. Ditempat inilah orang itu disergap, dilucuti semua benda berharganya, dilukai dan memar, dan ditinggalkan setengah mati di pinggir jalan. Pada waktu terbaring disana, seorang imam lewan; tetapi dia hanya melirik ke orang yang terluka. Kemudian seorang Lewi muncul. Ingin tahu apa yang terjadi, dia berhenti dan memandang keorang yang menderita itu. Dia terdorong untuk melakukan apa yang mesti dilakukannya; tetapi itu bukanlah tugasnya. Dia berharap dia tidak melewati jalan itu, sehingga tidak melihat orang yang terluka itu. Dia menetapkan dalam hatinya bahwa hal itu bukanlah urusannya.”2
Aspek terpenting dalam cerita ini adalah kurang perhatian yang diperlihatkan kepada orang yang menderita oleh imam dan orang Lewi. “Kedua orang ini memegang jabatan suci, dan berjanji untuk menjunjung Kitab Suci. Mereka berasal dari kelompok khusus yang dipilih menjadi wakil Allah kepada manusia. Mereka “harus dapat mengerti orang-orang yagn jahil dan orang-orang yang sesat” (Ibrani 5:2), agar mereka dapat menuntun manusia mengerti akan kasih Allah yang besar kepada umat manusia.”3
Saat kini, kita dipanggil untuk mempraktekan tipe kasih yang disyaratkan oleh Roh Allah. Orang Lewi dan imam mendengar akan pengajaran Yesus akan kasih, tetapi mereka tidak mempraktekan apa yang diajarkanNYA. Dengan cara yang sama kita sering menyalah artikan kata kasih. Tetapi, “kasih Allah dalam hati merupakan satu-satunya sumber kasih kepada sesama manusia . . . . . . . “Jika kita mengasihi sesama manusia, Allah tinggal didalam kita, dan kasihNYA yang ada di dalam kita akan disempurnakan.”4
____________
1. The Desire of Ages, p. 498.
2. Ibid., p. 499.
3. Ibid., pp. 499, 500.
4. Ibid., p. 505.
Esther Aoko, Kendu Bay, Kenya
Rabu
6 JANUARI
| Bagaimana Apa Hubungan Kasih Dengan Itu? | 1 John 4:18 |
Saya ingat sekali hari seseorang memberikan kami berita bahwa ibu kami yang sedang melakukan perjalanan telah meninggal. Berita duka ini merupakan pil pahit yang mesti ditelan sementara kami bertanya-tanya bagaimana kami bisa menghadapi dunia ini tanpa dia. Beberapa jam kemudian, kami ketahui bahwa berita itu adalah kesalahan identitas. Tetapi, amat sulit bagi kami untuk menghapus perasaan dan pikiran yang telah berkembang dalam pikiran kami sebagai akibat berita itu. Kami mencari “bimbingan dan nasehat” untuk membantu kami kembali kepada kondisi pikiran yang normal. Semua ini terjadi karena kasih yang terdapat antara kami dan ibu.
Tetapi bagaimana dengan kasih illahi, buah dari Roh? Sebagai orang Kristen, kita mesti tahu apa yang menjadikan kasih. Berikut adalah beberapa bagian yang akan kita tumbuhkan bila kita mulai mengerti dan mengalaminya secara langsung buah Roh.
Tindakan (1 Yohanes 3:18). Kasih illahi akan mengobahkan tindakan kita dari tingkah laku duniawi ke gaya hidup yang dituntun oleh Roh—dengan pengharapan, iman, dan kesabaran yang tidak pernah gagal (1 Kor. 13:7). Kasih illahi akan menginspirasi kita untuk mengasihi bahkan musuh kita sekalipun seperti Yesus mengasihi musuh-musuhNYA, dan akan mendorong kita melakukan kebajikan kepada yang membutuhkan.
Perkataan (Efesus 4:29). Perkataan dapat membangun dan menghancurkan. Bila kita bertumbuh dalam kasih illahi, perkataan kita akan mendorong orang lain dan mengangkat mereka kepada Allah.
Hubungan (2 Kor. 5:17). Paulus menulis kepara orang Korintus bahwa menumbuhkan buah roh mensyaratkan perubahan, suatu transformasi gaya hidup, yang lama akan dibuang dan yang baru akan tumbuh (2 Kor. 5:17). Karenanya, kasih Roh akan membantu kita menjauh dari hubungan yang berbahaya dan mengembangkan suatu hubungan yang sehat dengan orang lain yang akan membantu kita lebih dekat kepada Kristus.
REAKSI
1. Dalam hal apa anda perlu lebih mengembangkan kasih illahi.
2. Bagaimana kasih yang sejati membantu kita dalam kehidupan sehari-hari seperti dating, belajar, dan dana keluarga?
Joash Oketch, Nairobi, Kenya
Kamis
7 JANUARI
| 1 Tim 1:5 | Pendapat Kasih di luar Batasan |
Allah tidak merobah Sepuluh Hukum. Hukum ini belum berobah sejak Dia memberikannya kepada orang Israel. Berdiri teguh dihadapan serangan sijahat. Dalam 1 Timotius 1:5, Paulus menuliskan bahwa “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” Disini kata nasehat merujuk kepada perintah yang diberikan Paulus kepada Timotius dalam ayat 3. Tetapi, dapat kita katakan bahwa tujuan Sepuluh Hukum adalah juga kasih—kasih kepada Allah (empat hukum yang pertama) dan kasih kepada sesama manusia (enam hukum yang terakhir). Hukum ini mempengaruhi kita pada tingkatan pribadi, panggilan kepada setiap kita untuk melakukan kasih dari hati yang murni, nurani yang baik,dan iman yang tulus. Kebanyakan kita tahu bahwa adalah mudah unutk mengasihi orang yang berada dalam lingkungan pengaruh kita. Ini mungkin anggota keluarga, famili, dan juga sahabat-sahabat. Tetapi, banyak orang juga tahu adalah sulit untuk mengasihi musuk kita.
Alkitab mengajarkan bahwa jika kita ingin benar-benar menjadi saksi Kristus, kita mesti “janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” (1 Petrus 3:9). Mengasihi musuh adalah suatu tindakan yang mensyarakat banyak pengorbanan; tetapi dengan pertolongan Tuhan akan akan dapat melakukannya. Kita ingin mengikuti langkah Kristus, yang merupakan Pionir dalam tindakan ini.
“Pengejewantahan kasih Allah dimanifestasikan dalam AnakNYA akan menggugah hati dan membangkitkan kuasa jiwa yang tidak bisa dibangkitkan oleah siapapun. Kristus datang agar Dia dapat menciptakan kembali rupa Allah dalam manusia; dan siapapun yang mempalingkan manusia dari Kristus adalah mempalingkan mereka dari sumber yang benar.”*
Tujuan utama kita sebagai orang Kristen adalah menumbuhkan iman kita dalam Kristus dengan hati yang tulus, sehingga kita dalam menjadi pelaku Firman, dan tidak hanya mendengar saja (Yakobus 1:22). Satu-satunya cara mengasihi Allah adalah menurut FirmanNYA. Bila kita meneruskan kasih illahi kepada keluarga, teman-teman, tetangga, dan bahkan musuh kita, kita hanya dapat melakukannya dengan cara yang dirincikan dalam Kitab Suci. Semoga Allah membantu kita semua.
REAKSI
1. Dapatkah anda mengasihi musuhmu tanpa mengampuni mereka? Terangkan.
2. Jika kita mesti memiliha antara Allah, dirimu sendiri, keluarga, teman-teman, tetangga, atau musuh, siapa yang akan anda kasihi pertama, dan kenapa?
____________
*The Desire of Ages, p. 478.
Flora Kurema, Kakamega, Kenya
Jum’at
1 JANUARI 2010
| Eksplorasi Yang Anda Perlukan Adalah Kasih | Roma 13:10 |
SIMPULAN
“Yang and perlukan adalah kasih” adalah kata-kata terkenal dari lagu Beatles; dan itu benar, yang kita perlukan adalah kasih. Tetapi, seringkali agak susah bagi kita untuk menerima kebenaran, karena kita mengerti bahwa kasih bukanlah sifat alami manusia yang berdosa. Rasul Paulus menulis bahwa “kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10). Jadi, bila anda mengasihi, anda menggenapi (mematuhi) hukum. Kita mengungkapkan kasih kepada Allah melalui bagaimana kita mengasihi tetangga, musuh kita, teman kita, dan keluarga kita.
PERTIMBANGKAN
- Hafalkan 1 Korintus 13:4–8.•
- Berdoalah doa 1 Korintus 13:4–8 selama tujuhhari dan buatlah catatan perubahan yang anda lihat, sebagai akibatnya, dalam hubunganmu dengan orang lain.
- Bacalah beberapa 100 soneta Pablo Neruda’s dan tuliskan suatu paragraf akan definisinya tentang cinta.
- Bergabunglah dengan Prints of Hope, suatu agen pelayanan yang mensponsori suatu proyek yang disebut “Dress a Child (Beri anak pakaian).” Periksalah situs internet mereka di http://www.dejandohuellas.org.
- Lakukan pelayanan sukarela di klinik rawat jalan AIDS paling sedikit selama satu bulan.
- Ajarlah bahasa Inggris kepada imigran di lingkunganmu. Perpustakaan daerahmu pasti mempunyai informasi bagaimana memulainya.
HUBUNGKAN
Peter Scazzero, Emotionally Healthy Spirituality: Unleash the Power of Authentic Life in Christ (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 2006);
Mother Teresa, No Greater Love (Novato, Calif.: New World Library, 2002);
Dick Tibbits, Forgive to Live and the Forgive to Live Workbook (Orlando, Fla.: Florida Hospital Publishing, 2009).
Sergio Torres, Miami, Florida, U.S.A.
No comments:
Post a Comment