Saturday, 12 December 2009

SSCQ Pelajaran 12 Kwartal IV 2009



OKTOBER—DESEMBER 2009

Pelajaran 12 Kwartal 4, 12—19 Desember 2009

Diterjemahkan Oleh: Ferdinand (Eddy) Deda

Generasi Ke Dua

Peringatan


Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu

dan dengan segenap kekuatanmu.”(Ulangan 6:4,5).




Sabbath

12 DESEMBER

1 Kor. 10:11

Pendahuluan

Perkataan bagi yang bijak

Ada yang mengatakan bahwa kita ditakdirkan untuk mengulang kesalahan sama yang telah dibuat oleh

para orang tua kita. Kadang menyalahkan faktor keturunan atas kegagalan-kegagalan kita

. Tak dapat disangkal bahwa bangsa Israel yang ditebus dari perbudakan mewarisi cacat karakter dari orang tua mereka. Semua ini mungkin saja benar. Namun, bukanlah kehendak Allah agar kita jatuh dengan cara yang sama seperti orang tua kita. Kerinduan-Nya adalah agar kita bisa bangkit dari kegagalan itu. ”Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita ”(1 Kor 10:11)

Saya sendiri mengalami kesulitan untuk belajar

dari pengalaman orang lain. Saya lebih suka untuk mencari

tahu suatu hal dengan cara

saya sendiri. Hal ini

telah menyebabkan kegagalan yang seharusnya bisa dihindari jika saya menghiraukan amaran-amaran yang telah saya terima. Sebagai seorang siswa tahun pertama di Andrews University, saya menerima banyak nasehat untuk tidur pada waktunya, pola makan yang baik dan mengambil waktu untuk belajar. Tetapi, seperti mahasiswa tahun pertama lainnya, saya benar-benar mengabaikan nasehat-nasehat tersebut. Saya terjaga hingga larut malam, menonton film dan bermain video games. Sepertinya menyenangkan pada awalnya, tetapi ketika tiba waktunya untuk ujian Dasar-dasar Biologi dan Kebudayaan Barat, baru lah saya rasakan akibatnya kalau tidak belajar.

Saya telah mengabaikan teguran-teguran dari orang tua saya, pengawas asrama, dekan dan juga guru-guru. Bangsa Israel juga memiliki permasalahan yang sama. Allah dan Musa memperingatkan mereka secara lisan. Tetapi mereka memilih untuk belajar dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Allah memberikan peringatan lisan sekali lagi kepada generasi kedua untuk mengikuti perintah-Nya agar kehidupan mereka menjadi baik. Adalah penting bagi kita untuk memperhatikan amaran-amaran itu. Pengkhotbah mengatakan adalah lebih baik anak muda miskin yang bisa menerima teguran daripada seorang raja tidak mau diberi peringatan. (Pengkhotbah 4:13)

Pada saat Anda membaca pelajaran minggu ini, saya menantang Anda untuk memeriksa hidup Anda, dan dengan hati yang terbuka, perhatikan area dimana Allah menegurmu untuk merubahnya.

REAKSI

1. Ceritakan suatu masa dimana kau tidak mendengarkan nasehat dari orang lain. Apa yang kau pelajari dari pengalaman itu?

2. Ceritakan pengalaman dimana kau memperhatikan amaran dari seorang teman dan menikmati berkat-berkat dari pengalaman tersebut.

Joe Underhill, Berrien Center, Michigan, USA

Minggu

13 DESEMBER

Bukti

Lebih Baik Pada Kali Pertama

Bilangan 26-32

Bilangan 26-32 menceritakan tentang peristiwa-peristiwa sebelum penaklukan bangsa Israel terhadap Kanaan. Semua dari generasi pertama telah meninggal (Bilangan 26), dan generasi kedua sementara bersiap untuk memasuki Kanaan. Mereka tahu sejarahnya dan masalah yang ditimbulkan oleh orang tua mereka. Anak-anak perempuan Zelafehad mengetahui bahwa ayah mereka telah berdosa (Bil. 27:3), tetapi mereka ingim memastikan bahwa dia tidak dihukum selanjutnya karena tidak memiliki anak laki-laki. Allah menyokong para perempuan itu dan memerintahkan agar mereka diberikan milik pusaka ayah mereka. Ini adalah salah satu contoh keadilan dan kasih karunia Allah.

Walaupun generasi sebelumnya telah dikutuk untuk mati di padang belantara, Allah menyelamatkan anak-anak mereka memenuhi janji-Nya sepenuhnya kepada mereka sebagai bangsa. Allah akan memberkati mereka, jika mereka setia. Dia menggunakan berbagai persembahan, hukum, pengorbanan, dan sumpah (Bil. 26-30) untuk mengingatkan mereka tentang kewajiban ritual mereka terhadap-Nya. Hal-hal tersebut adalah untuk mengajar bangsa Israel tentang prinsip kematian pengganti bagi penebusan dosa-dosa. Itu mengingatkah bahwa Allah yang menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka.

Pasal 31 dan 32 menceritakan secara detail peristiwa pertempuran terakhir bangsa Israel dan juga ikrar dari bani Ruben dan sebagian dari bani Manasye untuk bergabung dengan saudara-saudara mereka menaklukan Kanaan. Generasi kedua ini telah terbukti lebih setia daripada generasi sebelumnya, dan perjanjian itu akan segera digenapi. Terkadang mudah bagi kita untuk mempersalahkan orang-orang sebelum kita, tetapi kita seharusnya tidak melakukan hal itu. Daripada mempersalahkan mereka, kita sebaiknya belajar dari kesalahan mereka.

Apakah ada perbuatanmu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan? Apakah kau tetap mengharapkan Dia memberkatimu? Jika Dia mengampunimu dengan rahmat-Nya, apakah akan tetap ada konsekuensi perbuatanmu? Pelajaran terbesar yang dapat diambil dari kisah perjalanan bangsa Israel di padang gurun adalah bahwa lebih menurut Allah sejak awal. Namun, kita tahu bahwa walaupun kita bersalah, Allah akan membereskan semuanya, walaupun jalan kembali mungkin lebih panjang dan lebih menyakitkan.

REAKSI

  1. Janji apakah yang telah dibuat Tuhan secara pribadi kepadamu?
  2. Kapankah Allah bermurah hati kepadamu pada saat kau harus mengatasi akibat-akibat pilihan buruk yang kau ambil?

*Roy E. Gane. Leviticus, Numbers: The NIV Application Commentary (Grand Rapids, Mich.: Zondervan, 2004), pp. 740, 741.

J. Amanda McGuire, Berrien Springs, Michigan, U.S.A.

Senin

14 DESEMBER

Logos

Teman Setia Yang Terluka

Bilangan 26-32; Amsal 27:6;

Roma 5

Tertipu? (Bilangan 31, 32)

Kemenangan bangsa Israel terhadap bangsa Midian tentunya sangat impresif. Para komandan menghitung para tentaranya dan mendapati bahwa tidak ada seorangpun tentara Israel yang terluka (Bil 31:49). Nusa telah mengirimkan beribu-ribu laki-laki dari berbagai suku ke medan pertempuran (Bil. 31:5), dan semuanya telah kembali dengan kemenangan. Apakah mungkin bani Ruben dan bani Gad telah tertipu dengan pemikiran bahwa penaklukan sisi barat Yordan akan begitu mudah? Dan ketidakhadiran mereka di antara pasukan yang bertempur tidak akan berpengaruh?

Atau itu hanyalah semata-mata karena faktor keserakahan. Allah telah berfirman kepada Musa untuk membagi-bagi tanah itu dengan cara membuang undi (Bil. 24:54, 55). Apakah gambaran tentang padang rumput yang subur di sisi timur Yordan menyebabkan mereka mencoba membuat persetujuan terlebih dahulu?

Musa Yang Marah (Bil. 32:6-14)

Musa telah hampir berusia 120 tahun (Ulangan 34:12), tetapi kondisi penglihatan dan kekuatannya masih baik – mata yang menyaksikan tenggelamnya para serdadu Firaun di Laut Merah dan kekuatan yang menyanggupkan dunia menangkat loh batu yang ditulis dengan tangan Allah di atas gunung Sinai. Bahkan saat ini, dinyatakan dalam Alkitab bahwa Musa menanggapinya dengan kemarahan yang menyala-nyala terhadap bani Ruben dan Gad. Musa menuduh mereka tidak ingin maju bersama dalam pertempuran, dengan melakukan apa yang telah diperbuat oleh leluhur mereka yaitu menolak untuk mengikuti Allah dengan segenap hati,

dan menjadi ”kumpulan orang berdosa” (Bil 32:7)

Musa baru saja mengirimkan dua belas ribu pasukan Israel ke pertempuran dan mengalahkan lima raja Midian (Bil. 31:7). Di antara yang mati terdapat musuh bebuyutan bangsa Israel, Balaam anak Beor (Bil. 31:8). Puji Tuhan! Tetapi kekalahan itu bukan hanya terjadi di medan perang. Musa telah banyak kali mengalaminya. Apabila berbalik dari kehendak Allah, kematian alami di padang gurun itupun merupakan suatu keberuntungan. Musa mencintai umat-umatNya ini. Musa tahu bahwa kenyataannya Allah tetap mencintai ”kumpulan orang berdosa” ini dan itulah sebabnya dia memperingatkan mereka tentang akibat-akibat dari perbuatan mereka.”....” (Bil. 32:15)

Ya. Musa memang marah. Tetapi perhatikan bahwa dia tidak mengucapkannya seperti ini ”Apabila engkau berpaling dari mengikutiku”. Dia telah mempelajari untuk marah terhadap hal-hal yang Allah pun marah dan tidak berbuat dosa pada saat melalukannya.

Pukulan dari Seorang Teman (Bil 32: 16-41)

Seandainya saja kita asumsikan bahwa bani Ruben dan bani Gad ternyata bersalah seperti tuduhan Musa terhadap mereka. Perhatikan akibat dari perkataan Musa: ”Dan mereka naik menemui dia dan berkata...”(NIV) Apapun motif mereka yang menyebabkan mereka membuat permintaan mereka, dengan mengingat kesalahan para leluhur mereka pada masa lalu berdampak baik, mereka menjadi lebih dekat dengan Musa.

Bisa ditebak bahwa bani Ruben dan bani Gad tidak tersinggung dengan kemarahan Musa terhadap mereka. Bisa ditebak juga bahwa mereka dengan cepat menyesali kesalahan mereka dan mendapatkan solusi yang mendatangkan hormat bagi Allah. Namun, mereka tidak dengan segera meredakan kekhawatiran Musa terhadap adanya kemurtadan besar. Gantinya, mereka menyatakan keinginan mereka untuk membangun kandang domba dan kota-kota bagi keluarga mereka di sisi timur Yordan (Bil. 32:16). Kemudian tanpa ada rasa tersinggung karena tuduhan keras dari Musa, mereka mengusulkan diri untuk pergi mendahului bangsa Israel dan bertempur dalam penaklukan sisi barat Yordan.

Musa menyambut usulan mereka dengan baik, dan selanjutnya dalam Bilangan 23 dicatat tentang perjanjian resmi berisi syarat dan janji yang dinyatakan kembali secara umum dan juga tentang akibat-akibat bagi Ruben dan Gad jika tidak mengikuti perjanjian ini.

Amsal 27:6 menyatakan bahwa ”Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” (NKJV). Bani Ruben dan bani Gad membiarkan mata mereka dibukakan oleh kata-kata amarah Musa, karena mereka telah percaya kepadanya. Bahkan jika Musa itu benar-benar salah dalam pertimbangan yang terburu-buru terhadap penawaran mereka, mereka mengetahui isi hati Musa, dan mereka tidak merasa tersinggung. Betapa itu merupakan suatu perubahan dari sisi pemimpin dan siapa yang dipimpin!

REAKSI

  1. Allah telah memberikan petunjuk khusus tentang bagaimana caranya lahan itu dibagi. Apakah Dia selalu fleksibel seperti ini dan bersedia tawar menawar dengan manusia?
  2. Apakah kau memiliki seorang ”teman” seperti Musa yang perkataannya kau dengarkan sekalipun itu salah atau sangat menyakitkan hati?
  3. Berikan satu contoh dalam kehidupanmu sekarang dimana kau perlu berada di depan dalam pertempuran teman-teman Kristenmu untuk tempat di kerajaan Allah?

Alvin Glassford, Berrien Springs, Michigan, U.S.A.

Selasa

15 DESEMBER

Ulangan 6:4,5; 1 Kor 10:1,2

Kesaksian

Menulis Pasal Terakhir

Setan tahu cara terbaik menaklukan hati manusia. Dia tahu titik – titik yang mudah diserang dari setiap karakter karena dia telah mempelajarinya secara intensif selama ribuan tahun; dan dari generasi ke generasi dia telah sukses menjatuhkan orang-orang perkasa, bangsawan Israel, dengan pencobaan yang sama yang telah sukses di Baal Peor. Dari masa ke masa, kita bisa lihat kehancuran karakter yang terhempas karena pemuasan hawa nafsu. Mendekati akhir zaman, pada saat umat Allah berdiri di perbatasan Kanaan surgawi, Setan akan melipatgandakan usahanya untuk mencegah mereka masuk ke tanah yang baik itu. Dia mencobai setiap jiwa. Bukanlah orang yang bebal dan tidak terdidik yang perlu dijaga, dia akan mempersiapkan jerat pencobaannya bagi orang-orang yang memegang jabatan suci; jika dia dapat menodai jiwa mereka, dia dapat menghancurkan banyak orang. Dan dia mengkaryakan agen-agen yang sama dengan yang tiga ribu tahun sebelumnya”. 1

”Mereka (bangsa Israel) sering merasa tidak sabar dan memberontak karena perjalanan panjang mereka di padang belantara; tetapi ini bukanlah karena kesalahan Tuhan dengan penundaan untuk menduduki tanah Kanaan; Dia lebih bersedih dibandingkan mereka karena Dia tidak dapat memimpin mereka untuk lebih cepat menduduki Tanah Perjanjian dan menunjukkan kekuasaan-Nya yang perkasa dalam menuntun umat-Nya di hadapan bangsa-bangsa yang lain. Karena tidakpercayaan dan kesombongan mereka, maka mereka belum siap memasuki Kanaan. Mereka belum dapat mewakili umat-umat Allah; karena mereka tidak memiliki karakter kemurnian, kebaikan dan kebajikan. ”2

”Tantangan bagi bangsa Israel bisa terulang lagi pada masa kini. Peraturan-peraturan yang diberikan Allah bagi umat-Nya pada masa lalu lebih bijaksana, lebih baik dan lebih manusiawi dibandingkan dengan kebanyakan peradaban manusia pada masa kini. Hukum bangsa-bangsa kelemahan dan hasrat dari yang hati yang belum diperbaharui; tetapi hukum Allah dimeterai dengan keilahian. ”3

REAKSI

Dalam bagian mana dari kehidupanmu, kau siap untuk berharap pada Allah untuk membawamu dengan aman ke Tanah Perjanjian?

  1. Para Nabi dan Raja, hal. 456, 457
  2. Ibid. hal. 464
  3. Ibid. hal. 465

Susan Pellandini, Battle Creek, Michigan, U.S.A.

Rabu

16 DESEMBER

Bagaimana

Harapan Ditengah Kesalahan

Bilangan 13:1-3; 14: 1-43; 20:1-12

Dua contoh ketika kita kehilangan kepercayaan pada Tuhan dan memilih untuk tidak mengikuti tuntunan-Nya: (1) ketika Musa lupa bahwa Tuhan-lah, bukan dia, yang mengeluarkan mata air dari batu, dan (2) ketika bangsa Israel melupakan bahwa Allah sendiri bisa memenangkan pertarungan dengan bangsa Kanaan dan bahwa kemenangan ini bisa saja tanpa bantuan dari bala tentara Israel. Kedua cerita ini berakhir sama dimana umat Allah tidak menyadari masa depan yang telah disediakan Allah bagi mereka. Masih ada harapan tentunya, jika kita memperhatikan hal-hal berikut ini:

Percaya pada panggilan dan petunjuk Allah. Apabila Allah telah memanggilmu untuk melakukan sesuatu, percayalah pada pimpinan-Nya. Kadang-kadang kita merasa bahwa Dia menjanjikan sesuatu yang tak dapat kita capai. Mudah untuk tidak mempercayai-Nya, atau merasa bahwa mungkin kita yang salah mengerti maksud-Nya. Hal ini sering menyebabkan kita menentukan tujuan yang menurut kita dapat dicapai. Namun, Allah telah memberikan begitu banyak contoh kebodohan akibat mempercayai diri kita sendiri untuk mencapai sesuatu yang hanya Dia bisa lakukan.

Pelajarilah contoh-contoh yang telah ditinggalkan Allah bagimu. Bukan hanya melalui Alkitab, tetapi melalui kehidupan dan kesaksian orang-orang di sekitarmu, Allah memanggilmu untuk belajar dari kesalahan orang lain dan memilih untuk mengikuti jalan-Nya. Semua manusia pernah membuat kesalahan. Tetapi Allah meminta kita untuk belajar dari sesama kita agar kita dapat sungguh-sungguh menjadi seperti Dia.

Allah mencintaimu tidak peduli besar atau kecil dosa atau kesalahan yang kita buat. Cerita tentang respons Allah terhadap tindakan Musa memukul batu gantinya berbicara pada batu itu seperti perintah Allah memberikan gambaran jelas perasaan Allah ketika kita berbuat dosa. Dia tidak dapat mengizinkan Musa untuk memimpin bangsa Israel ke Tanah Perjanjian karena peristiwa tersebut, tetapi Dia tetap mengasihi Musa. Cobalah untuk mengerti Allah seperti ini ketika kita mempersalahkan diri kita atas kesalahan atau dosa yang kita buat. Allah menginginkan kita bertobat. Dia tidak pernah membebaskan kita dari akibat-akibat dosa kita, tetapi Dia tetap mengasihi kita. Dosa-dosa kita telah merubah keadaan dunia ini, tetapi apabila kita belajar dari pengalaman tersebut, itu akan mendekatkan kita terhadap Allah yang mencintai kita tanpa syarat.

Tantanglah dirimu. Apa yang bisa saja terjadi jika Allah mengizinkan umat-Nya meragukan Dia dan percaya pada kekuatan mereka sendiri, namum memperoleh hasil yang sama yang telah dijanjikan-Nya? Bagaimanakah kau melihat sifat Allah yang penuh kasih melalui contoh ini?

Melissa Blackmer, Burtonsville, Maryland, U.S.A.

Kamis

17 DESEMBER

Bilangan 27: 12- 23

Pendapat

Ikuti Hatimu Untuk Pulang

Dari semua indera, indera penciumanlah yang terkuat untuk memicu kenangan. Secara pribadi, bau kayu cedar mengingatkanku akan rumah di Texas. Musa telah mengembara di padang belantara selama 40 tahun bersama bangsa yang selalu mengeluh. Setelah satu usaha untuk memasuki tanah perjanjian Allah, setelah dusta dan konsekuensinya, Musa sekali lagi berdiri di perbatasan tanah tersebut. Dia dapat menciumnya. Jadi Musa meminta kemurahan Tuhan dan Tuhan menyanggupinya.

Musa tidak meminta untuk masuk ke tanah itu, untuk menyentuh batas tanah tersebut atau pergi dengan penerbangan helikopter untuk melihat wilayah tersebut. Dia tidak meminta penglihatan untuk apa yang akan terjadi atau slip deposit dari bank untuk membuktikan kesuksesan umatnya di masa mendatang. Dia hanya menanyakan siapa yang akan menggantikan pekerjaannya selama 40 tahun tersebut.

Saya tahu seandainya saya berdiri di bukit dekat rumah saya dan dilarang untuk pergi, saya membujuk dan berusaha sekuat tenaga untuk pergi kesana. Tetapi Musa tidak berpikir tentang dirinya sendiri. Dia memikirkan umatnya yang sangat dikasihi, umat yang telah dipimpin dan dibela selama berapa dekade. Rumah itu sudah sangat dekat, tetapi yang dimintanya adalah agar bangsa ini tetap dijaga walaupun dia sudah tidak memimpin mereka.

Kadang-kadang, saya ingin pulang ke rumah, tidur di bawah cahaya bintang di Texas dan menghirup aroma kayu cedar. Dan Musa? Keinginannya yang terbesar adalah agar bangsa Israel mengikuti Allah. Musa menginginkan agar bayi-bayi yang lahir di padang gurun bertumbuh yang dijanjikan bagi mereka. Musa telah dibebaskan di Mesir. Namun, dia telah berjalan tanpa arah selama bertahun-tahun, terperangkap karena kegagalan-kegagalan umatnya. Dia tetap berharap agar mereka dapat tiba di rumah. Dan bagaimana dengan Tuhan? Tuhan membimbing mereka tiba di rumah.

TANGGAPAN

1. Dalam hidupmu, siapa yang tak pernah putus asa terhadapmu? Kenapa mereka terus bertahan demi kesuksesanmu?

2. Ketika tiba akhir hidupmu dan merenungkan hidupmu, apa yang kau inginkan oaring lain ingat tentangmu?

3. Apakah kau pernah diingatkan untuk berdoa atau menguatkan seseorang yang sementara mengalami permasalahan? Apakah kau tetap melakukannya? Apa saja hasilnya?

Jenniffer Ogden, Austin, Texas, U.S.A.

Jum’at

18 DESEMBER

Eksplorasi

Pernah Kesana; Melakukan Itu?

Bilangan 13; 14; 20

SIMPULAN

Kita dapat memilih jalan kehidupan berbeda dari kehidupan orang lain. Kisah perjalanan bangsa Israel di padang belantara merupakan bahan pelajaran yang sangat baik.

RENUNGKAN

· Bandingkan laporan yang diminta Musa dalam Bilangan 13:17–20 dengan yang diterimanya dari para mata-mata di ayat 26–29. Apa sebenarnya motif dari para mata-mata tersebut ketika mereka berargumentasi untuk tindakan yang sebaiknya dilakukan bangsa Israel?

· Tulis daftar pertanyaan dan keluhan dalam Bilangan 13:28–14:4 dan 20:3-6. Apakah tema yang berulang dalam ayat-ayat itu?

· Minta lima atau enam orang yang fit untuk berdiri berjejer dalam satu baris. Mintalah mereka menghadap ke depan pada saat kau berjalan di belakang mereka. Doronglah satu atau dua orang dari barisan tersebut. Berikan komentar tentang betapa mudahnya hal itu dilaku

· kan. Berikutnya, sarankan agar mereka bergandengan tangan. Kemudian, cobalah lagi untuk mendorong satu atau dua orang keluar dari barisan. Kenapa sekarang jadi lebih sulit? Bagaimanakah hal ini bisa dikaitkan dengan sepuluh pengintai yang ketakutan?

· Diskusikan dengan sahabat-sahabat yang mana yang lebih berkuasa dalam kehidupanmu – iman atau ketakutan – dan dalam keadaan bagaimana salah satu dari kedua hal ini lebih berkuasa.

· Dengarkan album Michael Card yang berjudul “The Beginning.” Lagu “In the Wilderness,” “Lift up the Suffering Symbol,” and “A Face That Shone” sangat cocok dengan keadaan pada minggu ini.

· Selidikilah dalam catatanmu bagaimana ketakutan berperan dalam hidupmy. Pikirkan informasi yang kau terima hingga kau takut dan juga saatnya dimana kau menunjukkan imanmu. Renungkanlah perbedaan antara perbedaan pengalaman negative dan positif tersebut.. Apa yang dapat kau lakukan untuk memperkuat imanmu?

HUBUNGKAN

Hebrews 11:24–29.

Read April 19, May 11, and October 5 in Oswald Chambers’s My Utmost for His Highest. The readings can be accessed online at http://www.rbc.org/utmost/index.php.

Gill Bahnsen, Auburn, Washington, U.S.A.

No comments:

Post a Comment